Click here to load reader

INJEKSI VITAMIN B6

  • View
    1.394

  • Download
    83

Embed Size (px)

Text of INJEKSI VITAMIN B6

LAPORAN INJEKSI VITAMIN B6

KELOMPOK 3 FARMASI VI-A

BAYYINAH SITI MARDIYANTI

108102000026 108102000021

Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2011

BAB I. PENDAHULUAN I.1 TUJUAN PRAKTIKUM Adapun tujuan yang hendak kami capai dalam praktikum ini adalah untuk : 1. Memperoleh gambaran mengenai preformulasi suatu zat aktif dan membuat serta mengevaluasi hasil dari sediaan yang dibuat. 2. Mengetahui dan memahami mengenai cara pembuatan, perhitungan dosis, teknik sterilisasi dan penyerahan suatu sediaan obat parenteral, khususnya injeksi.

BAB II. TINJAUAN PUSAKA

II.1 SEDIAAN INJEKSI Injeksi adalah sediaan steril yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lendir. Injeksi dapat berupa emulsi, larutan, atau serbuk steril yang dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. Obat suntik didefinisikan secara luas sebagai sediaan steril bebas pirogen yang dimaksudkan untuk diberikan secara parenteral. Istilah parenteral meneunjukkan pemberian lewat suntikan. Kata ini bersal dari bahasa yunani, para dan enteron berarti diluar usus halus dan merupakan rute pemberian lain dari rute oral. Menurut rute pemberiannya, sediaan injeksi dapat digolongkan sebagai berikut:

Injeksi Intravena (iv). Merupakan larutan, dapat mengandung cairan atau tidak menimbulkan iritasi yang dapat bercampur dengan air. Volume 1 ml sampai 10 ml. Larutan injeksi iv, harus jernih betul dan bebas dari endapan atau pertikelpadat, karena dapat menyumbat kapiler dan menyebabkan kematian. Injeksi Subkutan Umumnya larutannya isotonis, pH nya sebaiknya netral dimaksudkan untuk mengurangi iritasi jaringan dan mencegah kemungkinan terjadinya nekrosis. Jumlah larutan yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml. disuntikkanpada jaringan dibawah kulit ke dalam alveola.

2

Injeksi Intramuskular Merupakan larutan atau suspensi dalam air atau minyak atau emulsi. Disuntukkan masuk ke otot daging dan volume sedapat mungkin tidak lebih dari 4 ml. Injeksi Intradermal Biasanya berupa larutan atau suspensi dalam air, volume yang disuntikkan sedikit (0.1-0.2 ml).

Pelarut yang paling sering digunakan pada pembuatan obat suntik secara besar-besaran adalah air untuk obat suntik (water for injection, USP). Air ini dimurnikan dengan cara penyulingan atau osmosis terbalik (reverse osmosis) dan memenuhi standar yang sama dengan Purified Water, USP dalam hal jumlah zat padat yang ada yaitu tidal lebih dari 1 mg per 100 mL Water for Injection, USP dan tidak boleh mengandung zat penambah. Walaupun air untuk obat suntik tidak disyaratkan steril tetapi harus bebas pirogen. Air tersebut dimaksudkan untuk pembuatan produk yang disuntikkan yang akan disterilkan sesudah dibuat.air untuk obat suntik harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat pada temperatur di bawah atau di atas kisaran temperatur dimana mikroba dapat tumbuh. Air untuk obat suntik dimaksudkan untuk digunakan dalam waktu 24 jam sesudah penampungan. Tentunya harus ditampung dalam wadah yang bebas pirogen dan steril. Wadah umumnya dari gelas atau dilapis gelas. Steril Water for Injection,USP adalah air untuk obat suntik yang telah disterilkan dan dikemas dalam wadah-wadah dosis tunggal yang tidak lebih besar dari ukuran 1 liter.seperti air untuk obat suntik,harus bebas pirogen dan tidak boleh mengandung zat antimikroba atau zat tambahan lain. Air ini boleh menagndung sedikit lebih banyak zat pada total daripada air untuk obat suntik karena terjadinya pengikisan zat padat dari lapisan gelas tangki selama proses sterilisasi. Air ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai pelarut, pembawa atau pengencer obat suntik yang telah disteril dan dikemas.dalam penggunaannya, air ditambahkan secara aseptis ke dalam vial obat untuk membentuk obat suntik yang diinginkan. Ada keuntungan dan kelemahan pemberian obat secara parental diantaranya : Keuntungan : 1. Obat memiliki onset yang cepat. 2. Efek obat dapat diramalkan dengan pasti.

3

3. Bioavabiltas sempurna atau hampir sempurna. 4. Kerusakan obat dalam tractus gastrointestinalis dapat dihindarkan . 5. Obat dapat diberikan kepada penderita yang sedang sakit keras ataupun koma. Kelemahan : 1. Rasa nyeri saat disuntikkan. 2. Memberikan efek psikologis pada penderita yang takut disuntik. 3. Kekeliruan pemberian obat atau dosis hampir tidak mungkin diperbaiki , teruama setelah pemberian secara intra vena. 4. Obat hanya dapat diberikan kepada penderita di rumah sakit atau di tempat praktik dokter oleh tenaga medis yang kompeten.

Persyaratan sediaan parenteral: 1. Sesuai antara kandungan bahan obat yang ada didalam sediaan dengan pernyataan tertulis pada etiket dan tidak terjadi pengurangan kualitas selama penyimpanan akibat kerusakan obat secara kimiawi dan sebagainya. 2. Penggunaan wadah yang cocok , sehingga tidak hanya memungkinkan sediaan tetap steril, tetapi juga mencegah terjadinya ineraksi antara bahn obat dengan material dinding wadah. 3. Tersatukan tanpa terjadi reaksi. 4. Bebas kuman. 5. Bebas Pirogen. 6. Isotonis. 7. Isohidris. 8. Bebas partikel melayang.

Klasifikasi sediaan parenteral : 1. Larutan sejati dengan pembawa air, contohnya injeksi vitamin C 2. Larutan ejati dengan pembawa minyak, contohnya injeksi kamfer 3. Larutan sejati dengan pembawa campuran, contohnya injeksi Phenobarbital 4. Suspensi steril dengan pembawa air, contohnya injeksi calciferol

4

5. Suspensi steril dengan pembawa minyak, contohnya injeksi Bismuthsubsalisilat 6. Emulsi steril, contohnya Infus Ivelip 20% 7. Serbuk kering dilarutkan dengan air, contohnya Injeksi Solumedrol

Komponen sediaan injeksi : 1. Zat aktif a. Memenuhi syarat yang tercantum sesuai monografinya masing-masing dalam farmakope. b. Pada etiket tercantum p.i (pro injection)

2. Zat pembawa / zat pelarut Dibedakan menjadi 2 bagian: a. Zat pembawa berair Umumnya digunakan aqua pro injeksi. Selain itu dapat digunakan NaCl pro injeksi, glukosa pro injeksi, dan NaCl compositus pro injeksi. b. Zat pembawa bukan air Umumnya digunakan minyak untuk injeksi misalnya oleum sesami, oleum olivarum, oleum arachidis.

3. Zat tambahan Ditambahkan pada pembuatan injeksi dengan maksud: a. Bahan penambah kelarutan obat. Untuk menaikkan kelarutan obat digunakan : - Pelarut organik yang dapat campur dengan air seperti etanol, propilenglikol, gliserin. - Surface active agent (s.a.a) terutama yang nonionik. - Etilendiamin untuk menambah kelarutan teofilin. - Dietilamin untuk menambah kelarbarbital. - Niasinamid dan Salisilas Natricus menambah kelarutan vit B2. - Kreatinin, niasinamid dan lecitine digunakan untuk menambah kelarutan steroid. b. Buffer / pendapar

5

Pengaturan pH dilakukan dengan penambahan asam, basa, dan dapar. Penambahan larutan dapar hanya dilakukan untuk larutan obat suntik dengan pH 5,5-9. Pada pH >9, jaringan mengalami nekrosis, pada pH