ITS Undergraduate 12584 Paper

  • View
    52

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of ITS Undergraduate 12584 Paper

PENGEMBANGAN KERANGKA PERUMUSAN DAN EVALUASI STRATEGI PENYELARASAN SISTEM PENDIDIKAN SMK DENGAN DUNIA KERJA FASE I DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) (Studi Kasus Pada SMK Negeri 5 Surabaya)Sinta Dewi, Maria Anityasari, S.T., M.E., Ph.D., Ir. Mokh. Suef, M.Sc.(Eng).Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Kampus ITS Sukolilo Surabaya 60111 Email: [email protected] ; [email protected]; [email protected]

AbstrakPenyelarasan sistem pendidikan dengan dunia kerja merupakan isu yang banyak berkembang saat ini terkait dengan peningkatan proposi SMK dibanding SMA menjadi 67 : 33 yang diprogramkan oleh pemerintah. Agar peningkatan proporsi ini dapat terserap maksimal dalam dunia kerja diperlukan adanya mekanisme atau instrumen yang dapat menerjemahkan kebutuhan dunia kerja tersebut menjadi strategi yang harus dimiliki SMK. Penelitian ini menggunakan pendekatan model Quality Function Deployment (QFD) yang banyak digunakan dalam menerjemahkan kebutuhan pelanggan kedalam langkah teknis pengembangan produk. Dalam penelitian ini QFD digunakan sebagai alat untuk membangun suatu kerangka perumusan strategi. Namun untuk menggunakan QFD tersebut untuk menyusun kerangka perumusan strategi diperlukan adanya beberapa penyesuaian. Penyesuaian yang dilakukan diantaranya adalah penyesuaian pengertian customer menjadi stakeholder, identifikasi Voice of Stakeholder (VOS), penyesuaian model pembobotan, pengelompokan respon teknis, dan penyusunan matriks House of Quality (HOQ) menjadi dua tahap. Implementasi terhadap hasil penyesuaian QFD menunjukkan bahwa QFD yang telah disesuaikan mampu digunakan sebagai alat untuk merumuskan strategi penyelarasan sistem pendidikan SMK dengan dunia kerja dengan memperhatikan beberapa konstrain dalam penerapannya. Kata kunci : respon teknis, QFD, stakeholder, VOS

AbstractAlignment of the educational system with labor market requirement is an issue that appear currently associated with the increasing proportion of vocational education (SMK) compared to high school (SMA) equal to 67: 33 percent by the government policy. In order to increase the proportion of absorbed graduate of SMK in to the labor market, it is necessary for SMK to have a mechanisms or instruments that can translate the labor market requirements in to strategy of SMK. This study uses Quality Function Deployment (QFD) approach which is widely used in translating customer requirements into technical responses. In this research, QFD is used as a tool to develop a strategy formulation framework. However, using QFD to develop strategy is required some adjustments. They are identification of the customer as stakeholder, Voice of the Stakeholder (VOS), weighting models, grouping technical responses, and construct House of Quality (HOQ) matrix into two rounds. The implementation of the framework showed that QFD adjustments that have been used as a tool to formulate and evaluate aligning strategy between educational systems and labor market can be applied by taking account into several constraints. Keywords: technical responses, QFD, stakeholders, vocational education, VOS

1.

Pendahuluan Peningkatan rasio SMK lebih besar dari pada SMA, yaitu 67% SMK dan 33% SMA (Renstra Kemendiknas 2010-2014) akan memicu peningkatan jumlah tenaga kerja terdidik dan terlatih pada level menengah yang

cukup signifikan, mengingat proporsi SMK jika dibandingkan dengan SMA sebelum diberlakukannya kebijakan ini adalah 30%:70% (GTZ, 2008). Kondisi terakhir yaitu setelah kebijakan tersebut dijalankan selama 5 tahun dengan perbandingan jumlah peserta didik SMA:SMK mencapai 50:50, angka

pengangguran dari lulusan pendidikan SMK masih menduduki peringkat tertinggi, yaitu sebesar 14,59% per Agustus 2009. Hal ini menunjukkan terdapatnya suatu gap antara target pemerintah untuk meningkatkan jumlah angkatan kerja lulusan SMK dengan daya serap dunia kerja untuk lulusan SMK. Salah satu hipotesa yang dapat ditarik berkaitan dengan adanya gap tersebut adalah adanya ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan SMK yang dihasilkan dengan kebutuhan dunia kerja. Terkait hipotesa tersebut maka pihak penyelenggara pendidikan dituntut untuk mengetahui apa saja kebutuhan dunia kerja baik ditinjau dari aspek kualitas /kompetensi, jumlah, lokasi, maupun waktu agar dapat disusun strategi penyelarasan antara kebutuhan dunia kerja dengan sistem pendidikan SMK untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan permintaan dunia kerja tersebut. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengidentifikasi apa saja tuntutan dari dunia kerja namun belum ada mekanisme atau instrumen standar yang dapat menerjemahkan kebutuhan dunia kerja tersebut menjadi strategi yang harus dimiliki SMK. Kondisi penyelenggaraan pendidikan SMK di Indonesia terbagi dalam beberapa level (Gambar 1.1). Strategi penyelenggaraan pendidikan SMK untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja dirumuskan oleh dinas pendidikan yang menaungi proses penyelenggaraan pendidikan di SMK dan diterapkan oleh level di bawahnya. Hal ini memunculkan permasalahan kedua yaitu bagaimana menjamin bahwa proses penurunan

terjadi sinkronisasi program antar penyelenggara pendidikan. SMK yang berada pada level operasional merupakan ujung tombak implementasi strategi yang telah disusun oleh level-level penyelenggara pendidikan di atasnya, oleh karena itu tepat atau tidaknya strategi yang telah disusun oleh dinas pendidikan yang menaunginya dapat di evaluasi pada level ini. SMK juga merupakan level yang melakukan kontak langsung dengan dunia kerja atau dunia industri baik dalam proses pembelajarannya maupun dalam proses transfer output yang dihasilkan sehingga identifikasi awal kebutuhan dunia kerja yang menjadi pertimbangan dalam perumusan strategi penyelenggaraan pendidikan SMK dapat dilakukan pada level ini. Untuk memecahka permasalahanpermasalahan di atas diperlukan metode yang mampu menerjemahkan kebutuhan pelanggan kedalam langkah teknis dan strategis. Selama ini metode yang banyak digunakan adalah Quality Function Deployment (QFD). QFD yang memiliki beberapa keunggulan antara lain dapat diterjemahkan keinginan konsumen berupa What (Voice of Customer ) menjadi How (Chandra,2009) dan merupakan suatu teknik perencanaan yang dapat digunakan untuk menurunkan karakterisik kualitas tersebut menjadi beberapa beberapa level karakteristik kualitas, yaitu karakteristik teknis, karakteristik komponen, karakteristik proses, dan karakteristik produk (Brackin, 2002) yang memungkinkan QFD untuk dapat digunakan sebagai metode untuk melakukan evaluasi dan frame work perumusan strategi bagi SMK.. 2. Tinjauan Pustaka Tinjauan pustaka yang digunakan dalam peneliian ini antara lain sebagai berikut. 2.1 Model Penyelarasan Penyelarasan dalam konteks pendidikan adalah sebuah upaya komprehensif untuk mensinkronkan pendidikan nasional dengan kebutuhan dunia kerja sehingga terjadi keselarasan dalam pelaksanaannya (Tim SMK, 2010). Konsep pengembangan kerangka kerja penyelarasan pendidikan dengan dunia kerja terbagi dalam tiga bagian yaitu kerangka kerja sisi permintaan, sisi pasokan dan mekanisme penyelarasan. 2.1.1 Kerangka Kerja Sisi Permintaan

Gambar 1.1 Level Penyelenggaraan Pendidikan SMK

dan penerjemahan strategi pada Dinas Pendidikan Pusat tersebut menjadi srategi pada strategi Dinas Pendidikan Provinsi, strategi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, serta stategi SMK itu sendiri tidak keluar dari jalur sehingga

2

Sisi permintaan secara umum dapat dikategorikan dalam dua bidang utama yaitu bidang barang (manufaktur) dan jasa yang terdistribusi pada beberapa sektor baik di tingkat nasional maupun internasional. Terdapat empat dimensi utama yang perlu diperhatikan dalam membuat kerangka kerja dari sisi permintaan yaitu kualitas /kompetensi, kuantitas, lokasi dan waktu. 2.1.2 Kerangka Kerja Sisi Pasokan Berangkat dari kebutuhan saat ini dan yang akan datang, dilakukan analisis kebutuhan terhadap sejumlah fasilitas yang diperlukan untuk mengurangi kesenjangan antara kebutuhan dunia kerja dan kemampuan pasok sistem pendidikan saat ini dan di masa mendatang. Beberapa fasilitas yang sangat penting untuk menunjang dihasilkannya SDM atau calon angkatan kerja dan wirausaha yang andal adalah ketersediaan sarana/prasarana yang memadai, guru dan pendidik yang berkualitas dalam jumlah yang cukup serta model pembelajaran yang mampu membangun kompetensi dan jumlah lulusan sesuai yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Berdasarkan hasil pemetaan dan analisis kesenjangan, proses deployment perlu dilanjutkan untuk melihat apakah setiap level dan jenis pendidikan yang diselenggarakan selama ini sudah memiliki sistem yang mampu menghasilkan berbagai kebutuhan yang meliputi kualitas / kompetensi dan kuantitas / jumlah serta terdistribusi merata di setiap lokasi di Indonesia. 2.1.3 Mekanisme Penyelarasan Mekanisme penyelarasan meliputi tiga aspek utama yaitu (1) mekanisme terkait dengan eklplorasi sejumlah aktivitas dan program yang perlu dilakukan sehingga informasi kebutuhan dari sisi permintaan dapat diperoleh secara akurat dan sustainable, (2) mekanisme terkait dengan eksplorasi seluruh aktivitas dan program yang diperlukan untuk tersedianya lulusan/angkatan kerja yang siap memasuki lapangan kerja dan menciptakan lapangan kerja (wirausaha) serta (3) sebuah mekanisme yang menjamin dapat dikomunikasikannya informasi kebutuhan sisi permintaan kepada sisi pasokan/ pendidikan.

2.2 Penelitian Sebelumnya tentang SMK Beberapa penelitian menyangkut dunia kerja dan kaitannya dengan institusi pendidikan telah banyak dilakukan seperti penelitian yang dilakukan oleh Deutsche Gesellschaft fr Technische Zusammenarbeit (GTZ), International Labour Organization (ILO), Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, dan kajian-kajian mengenai SMK yang diterbitkan oleh Dir PSMK. Studi kelayakan sekolah kejuruan yang diselenggarakan oleh GTZ bertujuan untuk mendapatkan gamb