ITS Undergraduate 13519 Paper

  • View
    17

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

jurnal tentang kultur jaringan

Text of ITS Undergraduate 13519 Paper

1506100015-Paperx

PENGARUH KOMBINASI ZAT PENGATUR TUMBUH IAA DAN BAP PADA KULTUR JARINGAN TEMBAKAU Nicotiana tabacum L. VAR. Prancak 95Titin Aisyah Fatmawati*, Tutik Nurhidayati1, Nurul Jadid1Program Studi Biologi, Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan AlamInstitut Teknologi Sepuluh Nopember SurabayaABSTRAKPenelitian tentang kultur jaringan Tembakau Nicotiana tabacum L. bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP dan mengetahui kombinasi konsentrasi yang optimum dalam menginduksi tunas dan akar tembakau melalui teknik kultur jaringan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan jurusan Biologi ITS Surabaya. Sedangkan tanaman induk diperoleh dari Green House PT Sadhana Pasuruan propinsi Jawa Timur. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Faktorial. Perlakuan terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama dengan konsentrasi 4 level konsentrasi BAP yaitu 0 ppm ; 1 ppm; 2 ppm, dan 3 ppm. Sedangkan faktor kedua adalah lima level konsentrasi IAA yaitu 0 ppm; 0.5 ppm, 1 ppm, 1.5 ppm, and 2 ppm. Berdasarkan hasil analisa diketahui bahwa kombinasi BAP 1 ppm dan IAA 0,5 ppm menghasilkan jumlah tunas terbanyak yaitu dengan rata-rata jumlah tunas sebanyak 34 tunas/eksplan sedangkan jumlah akar terbanyak didapatkan dari kombinasi IAA 1 ppm and BAP 0 ppm dengan rata-rata jumlah akar sebanyak 4 akar/eksplan.

Kata kunci :, Nicotiana tabacum L. var. Prancak 95, IAA, BAP, Kultur Jaringan.

ABSTRACTThe study on Nicotiana tabacum L. var. Prancak 95 tissue culture aimed to study the effect of combination between BAP and IAA plant growth regulator substance and determine the appropriate concentration of BAP and IAA for shoot and root multiplication of tobacco Nicotiana tabacum L. var. Prancak 95 tissue culture. This study was carried out in the tissue culture laboratory, department of Biology ITS, Surabaya. The intact plant was got from PT. Sadanas Green House, Pasuruan,in East Java Province. This study used factorial experiment arranged in Factorial Design.. The treatment consisted of 2 factors. The first factor was the BAP concentration, consisted of four levels i.e. 0 ppm ; 1 ppm; 2 ppm, and 3 ppm. The second factor was IAA concentration, consisted of five levels i.e. 0 ppm; 0.5 ppm, 1 ppm, 1.5 ppm, and 2 ppm. The result showed that the combination of BAP 1 ppm and IAA 0,5 ppm gave the biggest amount of shoot multiplication is 34,25 shoot/explants while the combination of IAA 1 ppm and BAP 0 ppm gave the biggest amount of root multiplication is 4 root/explant.Key words: Nicotiana tabacum L. var. Prancak 95, IAA, BAP, Tissue Culture.*Corresponding author Phone : +6285731495576 e-mail : titin.fatmawati@gmail.com1 Alamat sekarang : Prodi Biologi, Fak MIPA,

Institut Teknologi Sepuluh Nopember, SurabayaI PENDAHULUANTembakau termasuk dalam famili Solanaceae yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Sektor tembakau memiliki peranan penting dalam roda perekonomian Indonesia. Prajoko Hadi dan Supena Priyanto (2008) melaporkan bahwa cukai hasil tembakau merupakan salah satu sumber penerimaan negara dari dalam negeri dimana tembakau menghasilkan cukai sebesar 95%. Kontribusi cukai terhadap penerimaan Negara pada tahun2000 mengalami peningkatan hingga 2004.

Fatmawati (2006) dalam Prajoko Hadi dan Supena Priyanto (2008) menyatakan bahwa pada tahun-tahun selanjutnya pemerintah akan mentargetkan penerimaan cukai rokok sekitar 98% dari total penerimaan cukai.Selain sebagai bahan baku rokok,tembakau juga dapat dimanfaatkan sebagai biopestida, Borlongan et al (1998) menyatakan bahwa penggunaan debu tembakau yang merupakan hasil samping dari industri rokok dengan dosis yang tepat dapat memberantas hama siput (Cerithidea cingulat Gmelin) pada budidaya perikananmilkfish yang berada di Filipina, dimana siput Cerithidea cingulat Gmelin merupakan kompetitor utama bagi milkfish sehingga dapat menurunkan hasil perikanan. Nikotin dalam daun tembakau memiliki potensi sebagai insektisida yang direkomendasikan penggunaannya pada tahun 1763 untuk membasmi hama aphid pada tanaman sayuran dan tanaman hias (Othmer, 1966 dalam Sutjipto, 2002 dalam Setyawati 2009). Ekstrak tembakau merupakan salah satu bahan pengawet yang digunakan untuk pemeliharaan bangunan kayu oleh masyarakat yang tinggal di daerah Kudus (Parwoto, dkk., 2003 dalam Setyawati2009). Dalam penelitian Setyowati (2009)disimpulkan bahwa ekstrak tembakau dapat digunakan sebagai pengawet bambu petung sekaligus meningkatkan kelenturan bambu karena adanya pengaruh dari konsentrasi tertentu dari larutan ekstrak tembakau yang mengandung alkaloid yang merupakan senyawa organik aktif yang mengandung unsur nitrogen (bersifat sedikit basa) yang dapat memperkuat struktur anatomi bambu.Tembakau banyak dibudidayakan di Indonesia, terutama di pulau Jawa dan Madura. Tembakau Madura merupakan salah satu tembakau lokal aromatis yang dikembangkan di pulau Madura. Tembakau Madura dapat ditanam dalam tipe tanah grumosol dan regosol pada ketinggian 50-250 m dpl (Abdullah, 1982). TembakauMadura terdiri atas berbagai varietas lokal. Dinyatakan oleh Suwarso et al (1999) bahwa pada tahun 1993 terdapat 20 macam varietas lokal tembakau Madura. Hal ini merupakan salah satu kekayaan plasma nutfah yang perlu dilestarikan. Salah satu varietas unggulan tembakau Madura adalah Prancak 95. Rachman et al (1999) melaporkan bahwa tembakau Madura varietas Prancak mempunyai sifat hasil sedang, mutu tinggi, tahan terhadap penyakit lanas dan sesuai ditanam di lahan tegal dan gunung yang pada umumnya ditanam di lahan dengan ketinggian 200-300m.Budidaya tembakau konvensional dilakukan dengan cara menyemaikan biji dimana untuk mendapatkan perkecambahan yang seragam biji harus direndam dalam air jernih selama dua hari dan diletakkan di tempat yang memiliki penyinaran dan aliran udaranya bagus. Selanjutnya air rendaman

biji diganti dan biji didinginkan selama 2 hari, baru dilakukan penaburan benih di lahan (Chane, 1989). Sementara itu Basuki et al (1999) melaporkan bahwa tingkat pemasakan buah per individu tanaman tidak serempak. sehingga panen buah untuk dijadikan benih tidak dapat dilakukan secara serempak. Hal ini memerlukan proses yang tidak sederhana dan waktu yang relatif lama, selain itu sifat-sifat genetis yang diturunkan ke keturunannya melalui biji mungkin tidak sama persis seperti induknya. Oleh karena itu diperlukan metode kultur jaringan untuk budidaya tembakau. Melalui metode kultur jaringan tembakau dapat dibudidayakan dalam jumlah besar dengan waktu yang relatif singkat, selain itu sifat keturunan yang diperoleh akan sama persis seperti induknya.Kultur jaringan menurut Suryowinoto (1991) dalam Hendaryono (1994) berarti membudidayakan suatu jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat seperti induknya. Keberhasilan kultur jaringan tanaman dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya sterilisasi, pemilihan bahan eksplan, faktor lingkungan seperti pH, cahaya dan temperatur, serta kandungan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh ) dalam medium kultur (Hendaryono, 1994). Zulkarnain (2009) mengungkapkan bahwa dalam teknik kultur jaringan, kehadiran zat pengatur tumbuh sangat nyata pengaruhnya. Sangat sulit untuk menerapkan teknik kultur jaringan pada upaya perbanyakan tanaman tanpa melibatkan zat pengatur tumbuhnya. Hendaryono (1994) menyatakan bahwa pada hasil percobaan pada tanaman tembakau ternyata kalus tidak tumbuh pada media dengan auksin saja, tetapi untuk pertumbuhan kalus memerlukan penambahan sitokinin. Hal ini diperkuat oleh Pierik (1997) dalam Hidayat (2007) yang menyatakan bahwa auksin dan sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yang dibutuhkan dalam media budidaya jaringan dan diberikan dalam konsentrasi yang sesuai dengan pertumbuhan yang diinginkan.Ali et al. (2007) menyatakan bahwa konsentrasi hormon pertumbuhan pada medium kultur jaringan sangat berperan dalam morfogenesis. Skoog and Miller (1957) dalam Ali (2007) menyatakankeseimbangan antara sitokinin dan auksin mengatur pertumbuhan bentukan akar tunas dan kalus pada kultur invitro. Hal ini dilengkapi oleh Cline (1994), dan Tamas (1995) dalam Ali et al (2007) yang menyatakan auksin dan sitokinin berperan dalam pertumbuhan tunas aksilar dan akar lateral. Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil kultur jaringan tembakau yang optimal diperlukan kombinasi komposisi ZPT berupa hormon auksin dan sitokinin yang tepat. Perbandingan konsentrasi ZPT auksin dan sitokinin yang digunakan Ali et al (2007) dan Hendaryono (1994) pada kultur jaringan tembakau adalah 2:3.Permasalahan yang dihadapi adalah berapakah kombinasi konsentrasi IAA dan BAP yang efektif dalam morfogenesis eksplan pada medium kultur jaringan dan bagaimana pengaruh kombinasi IAA dan BAP terhadap morfogenesis eksplan Tembakau Nicotiana tabacum L. var. Prancak 95.Penelitian ini dibatasi pada efekkombinasi konsentrasi hormon IAA dan BAP terhadap morfogenesis eksplan yang meliputi pembentukan kalus, tunas dan akar serta ukuran tunas dan akar pada medium kultur jaringan tembakau Nicotiana tabacum L. var. Prancak 95.Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh kombinasi konsentrasi IAA dan BAP yang efektif dalam morfogenesis eksplan pada kultur jaringan Tembakau Nicotiana tabacum L. variatas prancak 95.Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah dengan mendapatkan konsentrasi IAA dan BAP yang efektif untuk morfogenesis eksplan Tembakau Nicotiana tabacum L. sehingga teknik kultur jaringan dapat digunakan sebagai acuan untuk teknik budidaya Tembakau Nicotiana tabacum L. Var. Pr