Kajian & Sikap KM-ITB (Kenaikan BBM Per-November 2014)

  • View
    215

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

draf kajian

Transcript

  • KAJIAN ISU RENCANA KENAIKAN HARGA

    BBM BERSUBSIDI NOVEMBER 2014

    KEMENTRIAN ESDM KABINET KM-ITB 2014/2015

  • ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN, HIPSTER SEJAK DALAM PERGERAKAN

    1 | K a j i a n S u b s i d i B B M K M - I T B 2 0 1 4 / 2 0 1 5

    Akhir-akhir ini cukup ramai diberitakan bahwa Presiden RI, Joko Widodo, berencana menaikkan harga

    BBM bersubsidi sebesar Rp3.000,-/liter. Wacana ini cukup menghentak hampir di semua kalangan

    masyarakat. Bila kita cermati setidaknya ada tiga alasan yang melandasi Presiden Joko Widodo sangat

    yakin untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Pertama, Subsidi BBM yang selama ini dikeluarkan oleh

    pemerintah sudah tidak tepat sasaran karena lebih banyak dinikmati oleh kalangan menengah ke atas.

    Kedua, Subsidi BBM dinilai memberatkan APBN sehingga dengan kenaikan harga BBM dapat

    menyelamatkan APBN agar tidak jebol. Ketiga, nilai subsidi BBM dinilai tidak produktif dan hanya

    bakar-bakar uang saja. Subsidi sebesar itu seharusnya digunakan untuk sektor-sektor produktif

    lainnya seperti infrastruktur, industri, pendidikan, kesehatan, dll. Kemudian yang menjadi pertanyaan

    besar sekarang adilkah kenaikan Harga BBM bagi rakyat? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut

    alangkah baiknya kita meninjau terlebih dahulu berbagai aspek secara komprehensif menyangkut

    subsidi BBM tersebut.

    CADANGAN MINYAK BUMI INDONESIA Indonesia sekarang bukanlah Negara yang kaya akan minyak bumi. Berdasarkan data Ditjen Migas

    Kementerian ESDM RI tahun 2010, cadangan minyak bumi Indonesia hanya sebesar 3,7 Milyar barel

    dari total sumberdaya sebesar 7,4 milyar barel. Tentunya cadangan sebesar itu sangatlah sedikit

    dibandingkan dengan cadangan negara-negara kaya minyak seperti Venezuela (290 milyar barel),

    Arab Saudi (260 milyar barel), Iran (155 milyar barel), Irak (140 milyar barel), dan Kuwait (110 milyar

    barel).

  • ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN, HIPSTER SEJAK DALAM PERGERAKAN

    2 | K a j i a n S u b s i d i B B M K M - I T B 2 0 1 4 / 2 0 1 5

    KONDISI HULU MINYAK BUMI INDONESIA Lifting Minyak Bumi Indonesia dari tahun ke tahun semakin menurun, yaitu: 954.000 bph (tahun

    2010), 898.000 bph (tahun 2011), 860.000 bph (tahun 2012), dan 825.000 bph (tahun 2013). Belum

    lagi banyak dari minyak bumi yang diproduksi tersebut berasal dari blok-blok migas milik perusahaan

    asing. Sistem production sharing contract diterapkan oleh Indonesia dengan mewajibkan Negara

    membayar cost recovery untuk setiap minyak yang diproduksi. Setelah perhitungan cost recovery,

    presentase bagian tersisa untuk pemerintah adalah 85% dan 15% untuk perusahaan. Dengan

    banyaknya perusahaan asing yang beroperasi tentunya membuat minyak bumi yang diproduksi tidak

    dapat dimiliki secara maksimal oleh pemerintah untuk kebutuhan BBM.

  • ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN, HIPSTER SEJAK DALAM PERGERAKAN

    3 | K a j i a n S u b s i d i B B M K M - I T B 2 0 1 4 / 2 0 1 5

    KONSUMSI MINYAK BUMI INDONESIA Dari tahun ke tahun konsumsi minyak bumi terus meningkat. Hal itu menjadi hal yang wajar karena

    Indonesia tengah menapaki dari tahap negara berkembang menjadi negara maju dimana secara

    langsung pertumbuhan ekonomi akan diikuti dengan lonjakan kebutuhan energi yang signifikan.

    Konsumsi BBM hari ini masih didominasi oleh sektor transportasi. Volume Kendaraan dari tahun ke

    tahun semakin menanjak sehingga BBM yang digunakan semakin banyak. Berikut table volume

    kendaraan dan grafik Konsumsi BBM.

  • ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN, HIPSTER SEJAK DALAM PERGERAKAN

    4 | K a j i a n S u b s i d i B B M K M - I T B 2 0 1 4 / 2 0 1 5

    Besarnya kebutuhan BBM ini membuat pemerintah harus menyediakan minyak mentah lebih banyak

    yaitu: 1.340.000 (tahun 2010), 1.420.000 (tahun 2011), 1.470.000 (tahun 2012), dan 1.530.000 bph

    (tahun 2013).

    Dengan kebutuhan 1,5 juta bph membuat Indonesia harus berpikir bagaimana menutup defisit

    tersebut. Impor minyak mentah menjadi solusi untuk mencukupi kebutuhan BBM nasional.

    Permasalah pun ditambah dengan kapasitas kiang minyak minyak Indonesia hanya sebesar 1 juta bph.

    Kilang minyak Indonesia hanya dapat mengolah kilang minyak sebesar 1 juta bph sedangkan tuntutan

    BBM adalah sebesar 1,5 juta bph.

    Artinya, Indonesia tidak bisa hanya mendatangkan minyak mentah untuk kebutuhan BBM karena

    minyak mentah yang diimpor tidak akan mampu diolah oleh kilang minyak kita sendiri. Dengan

    hitungan matematis maka dapat kita simpulkan bahwa Indonesia harus mengimpor minyak bumi dan

    BBM dalam waktu yang bersamaan.

  • ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN, HIPSTER SEJAK DALAM PERGERAKAN

    5 | K a j i a n S u b s i d i B B M K M - I T B 2 0 1 4 / 2 0 1 5

    NERACA PERDAGANGAN MIGAS INDONESIA Defisit kebutuhan minyak bumi Indonesia harus ditutupi dengan mengimpor minyak mentah dan

    BBM. Impor minyak mentah dan BBM tersebut cukup menguras cadangan devisa Negara. Besar

    defisit perdagangan migas tiap tahunnya adalah 0.2 milyar USD (tahun 2010), 0.7 milyar USD (tahun

    2011), 5.2 milyar USD (tahun 2012), 9.7 milyar USD (tahun 2013), dan diperkirakan 11.8 milyar USD

    (tahun 2014). Defisit neraca migas ini semakin besar diakibatkan oleh produksi migas nasional

    cenderung menurun sedangkan impor khusunya berupa minyak bumi semakin besar.

    FUNGSI SUBSIDI BBM Harga minyak mentah di pasaran dunia kini menyentuh $80/barrel. Dengan harga sebesar itu

    diperkirakan biaya pokok BBM per liter sejatinya berkisar antara Rp8.500,- hingga Rp10.000,-. Daya

    beli masyarakat yang tergolong rendah membuat pemerintah harus mengeluarkan subsidi untuk

    menurunkan harga BBM yang termasuk dalam barang strategis. Oleh karena itu harga BBM bersubsidi

    yang dijual Pertamina sebesar Rp6.500,- per liter premium dan Rp5.500,- per liter solar.

  • ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN, HIPSTER SEJAK DALAM PERGERAKAN

    6 | K a j i a n S u b s i d i B B M K M - I T B 2 0 1 4 / 2 0 1 5

    Defisit harga jual dan biaya pokok BBM tersebut harus ditutupi dengan subsidi BBM yang dialokasikan

    dalam APBN Indonesia. Laju konsumsi BBM bersubsidi yang meningkat turut serta mengerek naik

    subsidi BBM yang dikeluarkan Pemerintah. Subsidi BBM dari tahun ke tahun adalah sebesar: Rp 130

    Triliun (tahun 2011), Rp 211 Triliun (tahun 2012), Rp 202 Triliun (tahun 2013), dan Rp 246 Triliun

    (tahun 2014). Subsidi BBM yang dikeluarkan ini dinilai menjadi penyebab defisit APBN tiap tahunnya.

    ANCAMAN KRISIS MINYAK DUNIA Kebutuhan Energi di masa depan kemungkinan akan terus melonjak. Pertumbuhan populasi

    penduduk dunia secara langsung akan membutuhkan pasokan energi yang lebih banyak pula. Di sisi

    lain perlombaan Negara-negara berkembang maupun Negara-negara maju untuk memacu

    pertumbuhan ekonominya turut serta mengkatrol kebutuhan energi di masa depan.

    Permasalah utama adalah tidak hanya Indonesia tetapi banyak juga Negara lain yang memiliki

    ketergantungan kepada minyak bumi. Berdasarkan studi oleh Assiciation for the study of peak oil,

    konsumsi minyak bumi seluruh Negara dunia diproyeksikan akan mencapai 120 juta bph pada tahun

    2020. Sementara produksi minyak bumi dunia jika dimaksimalkan pun tak akan mencukupi kebutuhan

    tersebut. Hal itu berarti di masa depan akan terjadi persaingan sengit antara Negara-negara

    pengimpor minyak untuk memperoleh minyak bumi. Indonesia akan bersaingan dengan Negara-

    negara maju lain seperti Amerika Serikat, China, India dalam memperebutkan minyak sisa yang

  • ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN, HIPSTER SEJAK DALAM PERGERAKAN

    7 | K a j i a n S u b s i d i B B M K M - I T B 2 0 1 4 / 2 0 1 5

    beredar di pasar internasional. Dengan kondisi pasokan terbatas maka bisa dipastikan harga minyak

    mentah di pasaran akan melonjak berkali-kali lipat. Pada saat itu hanya Negara yang memiliki

    cadangan devisa besar yang dapat membelinya.

    PENYALAHGUNAAN BBM BERSUBSIDI Subsidi pada hakikatnya diberikan agar rakyat yang memiliki daya beli rendah bisa tetap membeli

    barang tersebut. BBM merupakan salah satu barang strategis yang sangat berpengaruh pada

    perekonomian. Pada awalnya subsidi BBM dikeluarkan karena mayoritas masyarakat dulunya kurang

    mampu untuk membeli BBM. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan membuat

    daya beli masyarakat meningkat. Kini BBM bukan lagi barang yang mewah bagi kaum masyarakat

    sebagian besar.

    Konsumsi BBM paling besar terletak pada sektor transportasi. Roda transportasi pribadi sebenarnya

    sangat banyak dimiliki oleh kaum menengah ke atas. Kepemilikan mobil dan motor cukup meningkat

    signifikan. Di sisi lain kaum menengah ke bawah tidaklah banyak yang mengkonsumsi BBM bersubsidi.

    Berdasarkan data BPS tahun 2010, 70% BBM bersubsidi dinikmati oleh kaum menengah ke atas. Hal

    inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan subsidi BBM yang dikeluarkan apakah sudah tepat

    sasaran.

  • ADIL SEJAK DALAM PIKIRAN, HIPSTER SEJAK DALAM PERGERAKAN

    8 | K a j i a n S u b s i d i B B M K M - I T B 2 0 1 4 / 2 0 1 5

    Belum lagi adanya disparitas harga antara Harga BBM bersubsidi dengan BBM non-subsidi juga

    menimbulkan penyalahgunaan BBM bersubsidi. Banyak sekali terjadi penyelundupan BBM bersubsidi

    ke industry-industri yang sebenarnya tidak boleh mengkonsumsinya. Selain itu kurang pengawasan

    kawasan perbatasan wilayah Indonesia dan Negara lain tu