Click here to load reader

KAJIAN TEORITIS MENGENAI KECERDASAN EMOSIONAL (EMOTIONAL INTELLIGENCE) DALAM PROGRAM PEMBINAAN ANAK JALANAN

  • View
    1.044

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Paper 1

Text of KAJIAN TEORITIS MENGENAI KECERDASAN EMOSIONAL (EMOTIONAL INTELLIGENCE) DALAM PROGRAM PEMBINAAN ANAK...

KAJIAN TEORITIS MENGENAI KECERDASAN EMOSIONAL (EMOTIONAL INTELLIGENCE) DALAM PROGRAM PEMBINAAN ANAK JALANAN DI RUMAH SINGGAHRika Dwi Agustiningsih Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran

ABSTRAK Kecerdasan emosi atau dikenal dengan istilah Emotional Intelligence (EI) adalah kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi serta kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain di sekitarnya. Faktor-faktor yang terdapat dalam kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi, menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial. Beberapa hal di atas digunakan sebagai landasan awal pembinaan anak jalanan di rumah singgah dalam bentuk program-program pelaksanaan pendampingan dan pembinaan anak jalanan, yang dimaksudkan untuk mengubah perilaku anak jalanan dengan menginternalisasi kembali sistem nilai dan moral di masyarakat sehingga perilaku agresif pada anak jalanan berubah atau tidak muncul. Maka dari itu, kajian ilmiah ini dimaksudkan untuk mengkaji teori kecerdasan emosional yang kemudian digunakan sebagai basic theory dalam penggagasan program pembinaan dan pendampingan anak jalanan di rumah singgah. Pengkajian dilakukan dengan mengumpulkan data dari berebagai referensi untuk memperkuat korelasi kajian kecerdasan emosi terhadap penerapannya untuk mengurangi perilaku agresif anak jalanan. Salah satu contoh, faktor empati dan keterampilan sosial dapat tercapai melalui pelaksanaan program yang berbentuk one parent, one child dimana masyarakat turut berperan menjadi orangtua asuh bagi anak jalanan sehingga afeksi orangtua dapat mereka rasakan kembali dan peran kontrol juga diberdayakan kembali. Kedepannya dalam pembuatan program pembinaan anak jalanan untuk mengurangi perilaku agresif dapat dilakukan melalui pengkajian teoritis kecerdasan emosional (EI) atau teori lainnya sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang akan dicapai.

1

PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara luas yang juga memiliki jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, dengan jumlah 237,6 juta jiwa berdasarkan data sensus penduduk 2010. Setiap tahun jumlah bayi yang dilahirkan sekitar 4,5 juta. Hal ini merupakan salah satu faktor bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang besar ini merupakan tantangan tersendiri yang harus dihadapi oleh bangsa ini. Bangsa ini harus memikirkan bagaimana upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, menciptakan kesempatan kerja, menghilangkan kemiskinan, meningkatkan pendidikan dan kesehatan, meningkatkan infrastruktur, dan memberikan pelayanan publik, semuanya ini harus dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia secara adil dan merata. Pemerintah Indonesia turut serta dalam perumusan Deklarasi Milenium yang berperan dalam mewujudkan cita-cita dunia yang terangkum dalam delapan tujuan utama dalam bentuk Millenium Development Goals (MDGs). Tujuan-tujuan tersebut harus dicapai dalam jangka waktu tertentu. Tujuan pertama yang menjadi salah satu prioritas utama penyelesaian masalah di dunia ini adalah pengentasan kemiskinan ekstrim dan kelaparan. Pemerintah Indonesia yang sudah berkomitmen untuk mencapai target pertama ini, mencanangkan akan dapat mengurangi kemiskinan dan kelaparan hingga setengahnya dari sekitar 7,5% atau 17 juta orang pada 2015. Keseriusan ini mulai diwujudkan dengan adanya beberapa program dari Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, Kementerian Hukum dan HAM serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerja sama dengan kepolisian yang bersepakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan anak secara terpadu, terarah dan berkelanjutan. Kesepakatan ini ditujukan untuk menyukseskan program bersama dalam membebaskan Indonesia dari anak jalanan pada 2014. Anak jalanan menjadi salah satu fenomena sosial di perkotaan yang belakangan ini semakin marak, terlebih akibat

2

krisis moneter yang berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat yang tidak merata di Indonesia. Fenomena ini harus menjadi perhatian serius karena sebagaimana diketahui bahwa anak merupakan generasi emas yang akan melanjutkan perjalanan bangsa ini. Persoalan mereka bukan saja karena persoalan seosial; berada pada wilayah kemiskinan, ketiadaan lapangan kerja, dan urbanisasi, tetapi juga permasalahan psikologis dari aspek perkembangan sosioemosionalnya; eksploitasi, manipulasi, ketidak-konsistenan terhadap cara-cara pertolongan baik oleh mereka sendiri maupun pihak lain. Persoalan psikologis dapat berdampak pada terhambatnya aspek perkembangan sosio-emosional anak. Perkembangan emosional ini berfungsi untuk menyesuaikan diri dan kelangsungan hidup anak, meregulasi, dan berkomunikasi. Perkembangan sosio-emosional akan berkembang dengan baik jika adanya dukungan dari lingkungan, seperti pola asuh yang memberikan model positif bagi anak-anak, lingkungan yang tidak diberikan kondisi yang tidak aman, lingkungan yang menimbulkan empati dan kepekaan sosial, dan adanya pemberian validasi positif pada perilaku yang baik. Namun sebaliknya, jika aspek perkembangan ini terhambat maka anak akan kesulitan untuk dapat beradaptasi dan bersosialisasi dan muncul agresivitas negatif. Agresivitas yang dilakukan anak jalanan bukan semata karena mereka hanya menyaksikan perilaku tersebut dari model tertentu, tetapi juga karena sebelumnya mereka juga mengalami langsung perlakuan seperti itu dari orang lain. Sumber dari agresivitas yang terjadi adalah orang-orang di sekitar mereka. Kembali pada kajian perwujudan MDGs, dalam rangka mencapai tujuan yang pertama maka pemberantasan anak jalanan masuk ke dalam agenda pengentasan kemiskinan ekstrim dan kelaparan. Program-program yang dibuat oleh pemerintah, seperti rumah singgah, mobil sahabat anak, dan boarding house sudah tidak terdengar lagi gaungnya dalam mengurangi jumlah anak jalanan di kota-kota besar. Program terbaru kota layak anak menjadi salah satu alternatif untuk memberantas anak-anak jalanan. Hal ini merupakan kota/kabupaten yang memberi kesan aman, nyaman bagi pertumbuhan dan perkembangan anak yang ditandai dengan tidak adanya penculikkan anak, jalan trotoar yang aman untuk tempat lalu lalang anak di pinggir jalan, tersedianya lampulampu penerangan, pengaturan jam belajar yang tepat, tersedia tempat bermain anak, tempat penitipan anak, rumah baca, dan sebagainya. Namun, hal terpenting untuk mengurangi perilaku

3

agresif dari anak jalanan adalah tersedianya pendampingan dan pelatihan yang akan meningkatkan kecerdasan emosi anak jalanan. Kecerdasan emosi atau dikenal dengan istilah Emotional Intelligence (EI) adalah kemampuan untuk mengerti dan mengendalikan emosi. Termasuk di dalamnya kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain di sekitarnya. Jika anak jalanan ini diberikan keterampilan emotional coping yang baik maka perilaku agresif tidak akan terjadi pada mereka dan pembinaan anak-anak jalanan serta pembuatan kota layak anak akan terealisasi dengan baik. Studi kasus ini berupaya meninjau pengurangan perilaku agresivitas melalui bahasan emotional intelligence pada anak jalanan yang setidaknya dapat memberikan tambahan informasi bagi masyarakat dan pemerintah dalam membuat suatu program untuk anak jalanan. Pengkajian landasan teoritis kecerdasan emosional pada program pemerintah diharapkan dapat mengubah agresivitas negatif anak jalanan menjadi lebih positif sehingga dapat membantu pemerintah dan dunia dalam upaya mencapai tujuan dalam pemberantasan kemiskinan. Kehadiran anak jalanan di wilayah tertentu acap kali dianggap sebagai cermin kemiskinan dari wilayah tersebut maka sudah menjadi hal yang mutlak bagi setiap masyarakat juga turut berperan dalam mengubah paradigma itu. Kontribusi dari setiap elemen bangsa ini akan mempercepat target realisasi tujuan pertama MDGs di Indonesia. Selain hanya memberantas, tetapi juga memperbaiki kondisi generasi emas Indonesia dengan memberikan implementasi kecerdasan emosi pada anak jalanan. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh melalui studi literatur dari berbagai referensi dan jurnal.

TINJAUAN LITERATUR Anak Jalanan 1. Definisi Anak Jalanan Menurut lisa (1996) anak jalanan adalah anak-anak yang bekerja di jalanan. Studi yang dilakukan oleh Soedijar (1989/1990) menunjukkan bahwa anak jalanan adalah anak yang berusia antara 7-15 tahun yang bekerja di jalanan dan dapat

4

mengganggu ketentraman dan keselarnatan orang lain serta mebahayakan dirinya sendiri. Sementara itu, Direktorat Bina Sosial DKI menyebutkan bahwa anak jalanan adalah anak yang berkeliaran di jalan raya sambil bekerja mengemis atau menganggur saja. Panti Asuhan klender mengatakana bahwa anak jalanan adalah anak yang sudah biasa hidup sangat tidak teratur di jalan raya, bisa diambil bekerja tetapi dapat juga hanya menggelandang sepanjang hari (Kirik Ertanto dalam www.humana.20m.com/babl/htm). Menurut Aptekar dan Lusk, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Felsman sebelumnya, pekerjaan anak jalanan terbagi menjadi tiga kategori:a. Children on the street adalah anak-anak yang mempunyai

kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga. Ada dua kelompok anak jalanan dalam kategori ini, yaitu anak-anak yang tinggal bersama orangtuanya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari, dan anak-anak yang melakukan kegiatan ekonomi dan tinggal di jalanan namun masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin.b. Children

of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya.c. Children in the street atau children from the families of the

street adalah anak-anak yang

Search related