of 69 /69
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut International Labor Organization (ILO), setiap hari terjadi 1.1 juta kematian yang disebakan oleh karena penyakit atau kecelakaan akibat hubungan pekerjaan. Sekitar 300.000 kematian terjadi dari 250 juta kecelakaaan dan sisanya adalah kematian karena penyait akibat kerja dimana diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap tahunnya. Dari data ILO tahun 1999, penyebab kematian yang berhubungan dengan pekerjaan paling banyak disebabkan oleh kanker 34%.Sisanya terdapat kecelakaan sebanyak 25 %, penyakit saluran pernapasaan 21%, dan penyakit kardiovaskuler 15%. Kanker merupakan salah satu penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit tidak menular (Non-communicable diseases atau NCD). NCD merupakan penyebab kematian terbesar di dunia. Kematian akibat NCD diproyeksikan meningkat 15% secara global antara tahun 2010 dan 2020, Pada dekade mendatang, kanker diprediksi sebagai penyebab kesakitan dan kematian yang semakin penting di seluruh dunia. Tantangan untuk pengendalian kanker

Kanker Akibat Kerja - Kanker Paru - Kelompok 7

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Kanker akibat kerja

Text of Kanker Akibat Kerja - Kanker Paru - Kelompok 7

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangMenurut International Labor Organization (ILO), setiap hari terjadi 1.1 juta kematian yang disebakan oleh karena penyakit atau kecelakaan akibat hubungan pekerjaan. Sekitar 300.000 kematian terjadi dari 250 juta kecelakaaan dan sisanya adalah kematian karena penyait akibat kerja dimana diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap tahunnya. Dari data ILO tahun 1999, penyebab kematian yang berhubungan dengan pekerjaan paling banyak disebabkan oleh kanker 34%.Sisanya terdapat kecelakaan sebanyak 25 %, penyakit saluran pernapasaan 21%, dan penyakit kardiovaskuler 15%.Kanker merupakan salah satu penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit tidak menular (Non-communicable diseases atau NCD). NCD merupakan penyebab kematian terbesar di dunia. Kematian akibat NCD diproyeksikan meningkat 15% secara global antara tahun 2010 dan 2020, Pada dekade mendatang, kanker diprediksi sebagai penyebab kesakitan dan kematian yang semakin penting di seluruh dunia. Tantangan untuk pengendalian kanker sangat besar, ditambah dengan karakteristik populasi dengan usia yang semakin lanjut. Oleh karenanya, peningkatan prevalensi penyakit kanker sulit dihindari. Khusus penyakit kanker, the World Cancer Report mengestimasi bahwa terdapat 12,4 juta kasus baru dan 7,6 juta kematian pada tahun 2008 (IARC, 2008). Angka estimasi jumlah kasus baru ini sedikit lebih rendah daripada estimasi WHO (2010). Kejadian kanker yang terbanyak adalah kanker paru (1,52 juta kasus), kanker payudara (1,29 kasus) dan kanker kolorektal (1,15 juta kasus). Sedangkan kematian tertinggi disebabkan oleh karena kanker paru (1,31 juta kematian), kanker lambung (780.000 kematian) dan kanker hati (699.999 kematian) (IARC, 2008).Kanker paru memiliki prevalensi tertinggi di dunia mencapai 18% dari total kanker (WHO, 2008). Pada tahun 2010, insiden kanker paru menduduki peringkat ke-3 dari kanker di dunia memiliki angka mortalitas tertinggi di antara seluruh kejadian kanker di dunia (WHO, 2010). Selain itu, kanker paru mempunyai tingkat insidensi dan mortalitas tertinggi pada pria dan ke-4 pada wanita setelah kanker payudara, kanker serviks, kanker kolorektal (WHO, 2010).World Health Organization (WHO) pada tahun 2004 mengeluarkan pedoman tentang karsinogen di tempat kerja dan perkiraan risiko relatif terhadap kejadian kanker paru, leukemia dan mesotelioma. Berdasarkan data tersebut Indonesia termasuk daerah dengan mortaliti rendah baik pada anak maupun dewasa. Risiko relatif untuk kanker paru akibat pajanan karsinogen di tempat kerja (tidak termasuk radon) diperkirakan 1,6. Kasus mesotelioma diperkirakan akan mengalami peningkatan insidens 50-150% pada tahun 2015. Peningkatan insidens terutama pada wilayah Eropa Barat, Amerika, Australia, Afrika Selatan dan Selandia Baru yaitu 17-35 per 1 juta pertahun. Pada tahun 2004 sekitar 10.000 kasus mesotelioma pertahun untuk Eropa Barat, Amerika, Australia dan Jepang. Sedangkan untuk Eropa Timur, Asia dan Amerika Selatan tidak ada data yang akurat. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dengan prevalensi rate penyakit kanker yang cukup tinggi. Di wilayah ASEAN, Indonesia menempati urutan kedua setelah Vietnam dengan kasus penyakit kanker mencapai 135.000 kasus pertahun (WHO, 2008)Menurut Dario Consonni dari Foundation IRCCS Ospedale Maggiore Policlinico di Milan dan rekannya mendapati bahwa sebanyak lima persen kanker paru-paru pada pria berkaitan dengan pekerjaan dan bahan kimia di mana bahaya di tempat kerja "memainkan peran sangat besar" risiko terkena kanker paru-paru. Studi ini, meneliti hubungan antara kanker paru-paru dan pekerjaan baik yang sudah diketahui atau diduga meningkatkan risiko penyakit itu pada 2.100 orang yang didiagnosis terserang kanker paru-paru dan 2.120 orang yang sehat cocok, berdasarkan, jenis kelamin dan tempat tinggal. Sebanyak 12 persen pria yang bekerja di tempat kerja resminya diketahui menyimpan risiko kanker paru-paru. Tempat kerja itu seperti pertambangan, tempat pengolahan logam, dan jenis tertentu pekerjaan konstruksi. Pria pekerja yang tempat kerjanya berisiko 74 persen penstimulasi kanker, didiagnosis lebih mudah terserang kanker paru-paru. Kaitan paling kuat terlihat pada pekerjaan keramik dan barang tembikar dan pembuatan batu-bata, serta pekerjaan dalam pembuatan logam nonbesi. Makalah ini akan fokus membahas pada kanker akibat kerja yaitu pada penyakit kanker paru-paru. Hal ini dilatarbelakangi oleh penyebab kematian yang berhubungan dengan pekerjaan paling banyak disebabkan oleh kanker 34%. (ILO, 1999). Kejadian kanker yang terbanyak adalah kanker paru (1,52 juta kasus) (IARC, 2008). Kanker paru memiliki prevalensi tertinggi di dunia mencapai 18% dari total kanker (WHO, 2008). Pada tahun 2010, insiden kanker paru menduduki peringkat ke-3 dari kanker di dunia memiliki angka mortalitas tertinggi di antara seluruh kejadian kanker di dunia (WHO, 2010). Di Wilayah ASEAN, Indonesia menempati urutan kedua setelah Vietnam dengan kasus penyakit kanker mencapai 135.000 kasus pertahun (WHO, 2008). Sementara pekerja yang berisiko untuk terkena penyakit kanker paru akibat kerja terdapat dari berbagai sektor yang ada di Indonesia seperti pertambangan, tempat pengolahan logam, dan jenis tertentu pekerjaan konstruksi, pekerjaan keramik, barang tembikar, pembuatan batu-bata, dan pekerjaan dalam pembuatan logam nonbesi.

BAB IIPEMBAHASAN

2.1. Anatomi dan FisiologiPenyakit akibat kerja khususnya kanker dalam Oxford Handbook of Occupational disebutkan bahwa yang menjadi target organ kanker akibat kerja adalah sebagai berikut (Oxford Univesrsity, 2013):1) Gangguan sistem pernafasan : Kanker paru2) Gangguan kulit : Kanker kulit3) Gangguan sistem urinaria/perkemihan : Kanker kandung kemih4) Gangguan sistem pencernaan : Kanker gastrointestinal5) Gangguan saraf : Kanker otak

2.1.1. Anatomi dan Fisiologi Sistem PernafasanPengertian pernafasanSistem respirasi berperan untuk menukar udara kepermukaan dalam paru-paru. Udara masuk dan menetap dalam sistem pernafasan dan masuk dalam pernafasan otot sehingga trakea dapat melakukan penyaringan, penghangatan dan melembabkan udara yang masuk juga melindungi permukaan organ yang lembut. Hantaran tekanan menghasilkan udara di paru-paru melalui saluran pernafasan atas.Pernafasan merupakan pertukaran O2 dan CO2 antara sel-sel tubuh serta lingkungan. Pernafasan juga merupakan peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung O2 dan mengeluarkan CO2 sebagai sisa dari oksidasi dari tubuh. Penghisapan udara ke dalam tubuh disebut proses inspirasi dan menghembuskan udara keluar tubuh disebut proses ekspirasi.

Saluran pernafasanSaluran pernafasan dari atas kebawah dapat dirinci sebagai berikut : rongga hidung, faring, laring, trakea, percabangan bronkus, paru-paru (bronkiolus, alveolus).Paru berada dalam rongga torak, yang terkandung dalam susunan tulang-tulang iga dan letaknya disisi kiri dan kanan medistinum yaitu struktur blok padat yang berada di belakang tulang dada. Paru menutupi jantung, arteri dan vena besar, esofagus dan trakea. Paru berbentuk seperti spons dan bersisi udara dengan pembagian ruangan sebagai berikut :a. Paru kanan, memiliki tiga lobusb. Paru kiri dua lobus

Rongga hidungNares anterior adalah saluran-saluran didalam lubang hidung. Saluran-saluran ini bermuara kedalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum hidung. Rongga hidung dilapisi selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan farink dan selaput lendir. Semua sinus yang mempunyai lubang masuk kedalam rongga hidung. Rongga hidung sendiri berfungsi sebagai berikut : Bekerja sebagai saluran udara pernafasan. Sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung. Dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa. Membunuh kuman-kuman yang masuk, bersama-sama udara pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lendir atau hidung.

FaringFaring adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan oesofagus pada ketinggian tulang rawan kirkoid. Bila radang terjadi disebut pharyngitis. Faring terbagi 3 bagian yaitu nasofaring, orofaring, dan laringofaring.

LaringLaring berperan untuk pembentukan suara dan untuk melindungi jalan nafas terhadap masuknya makanan dan cairan. Laring dapat tersumbat, antara lain oleh benda asing ( gumpalan makanan), infeksi (misalnya difteri) dan tumor.

TrakeaTrakea merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 sampai 20 cincin kartilago yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang terbentuk seperti C. Trakea dilapisi oleh selaput lendir yang terdiri atas epitelium bersilia dan sel cangkir.

Percabangan bronkusBronkus merupakan percabangan trakea. Setiap bronkus primer bercabang 9 sampai 12 kali untuk membentuk bronki sekunder dan tersier dengan diameter yang semakin kecil. Struktur mendasar dari paru adalah percabangan bronchial yang selanjutnya secara berurutan adalah bronki, bronkiolus, bronkiolus terminalis, bronkiolus respiratorik, duktus alveolar, dan alveoli.

Fungsi Paru-Parua. VentilasiGerakan dalam pernafasan adalah ekspirasi dan inspirasi. Pada inspirasi otot diafragma berkontraksi dan kubah dari diafragma menurun; pada waktu yang bersamaan otot-otot interkosta interna berkotraksi dan mendorong dinding dada sedikit ke arah luar. Dengan gerakan seperti ini ruang di dalam dada meluas, tekanan dalam alveoli menurun, dan udara memasuki paru.Pada ekspirasi diafragma dan otot-otot interkosta eksterna relaksasi. Diafragma naik, dinding dada jatuh ke dalam, dan ruang di dalam dada hilang.Pada pernafasan normal yang tenang terjadi sekitar 16 kali permenit. Ekspirasi diikuti dengan terhenti sejenak. Kedalman dan jumlah dari gerakan pernafasan sebagian besar dikendalikan secara biokimiawi, tetapi pengendalian ini dapat dimodifikasi oleh berbicara, bernyanyi dan bersiul, serta seseorang dapat menahan nafas selama satu menit.b. Difusi gasGas- gas melewati hampir secara seketika diantara alveoli dan darah dengan cara difusi. Dalam cara difusi ini gas mengalir dari tempat yang tinggi tekanan parsialnya ke tempat lain yang lebih rendah tekanan parsialnya.Oksigen dalam alveoli mempunyai tekanan parsial yang lebih tinggi dari oksigen yang berada dalam darah dan karenanya udara dapat mengalir dari alveoli masuk ke dalam darah. Karbondioksida dalam darah mempunyai tekanan parsial yang lebih tinggi dari pada yang berada dalam alveoli dan karenanya karbon dioksida dapat mengalir dari darah masuk ke dalam alveoli.c. Transportasi gas-gas dalam darahOksigen ditransportasi dalam darah dalam sel-sel darah merah, oksigen bergabung dengan haemoglobin untuk membentuk oksihaemoglobin(oksiHb), yang berwarna merah terang. Dalam plasma, sebagian oksigen terlarut dalam plasma. Karbondioksida ditransportasi dalam darah sebagai bikarbonat.a. Sebagai natrium bikarbonat dalam plasmab. Sebagai kalium bikarbonat dalam sel-sel darah merah.c. Dalam larutan, bergabung dengan haemoglobin dan protein.d. Pertukaran gas dalam jaringanOksigenBila darah yang teroksigenisasi mencapai jaringan, oksigen mengalir dari darah masuk kedalam cairan jaringan karena tekanan parsial oksigen dalam darah lebih besar daripada tekanan dalam cairan jaringan. Dari dalam cairan jaringan oksigen mengalir ke dalam sel-sel sesuai kebutuhannya masing-masing.KarbondioksidaKarbondioksida dihasilkan dalam sel mengalir ke dalam cairan jaringan. Tekanan parsial karbondioksida dalam cairan jaringan lebih besar daripada tekanan dalam darah, dan karenannya karbondioksida mengalir dari cairan jaringan ke dalam darah.e. Kontrol syaraf dan kimiawi pada pernafasanPernafasan merupakan aksi refleksi yang mudah berubah oleh pengendalian dalam korteks serebri. Pusat pernafasan yang menstimulasi inspirasi dan ekspirasi terletak dalam medula oblongata dari otak. Korpus karotikus merupakan organ-organ kecil yang mengandung sel-sel saraf dan pembuluh darah dan dihubungkan oleh persarafan ke pusat prnafasan di medula oblongata. Impuls eferen adalah mentransmisi saraf-saraf frenik dan interkostalis ke diafragma dan otot-otot interkostalis. Rangsangan pada organ-organ perasa di hidung dan trakeobronkial menybabkan refleks batuk dan bersin yang memodifikasi ventilasi dalam paru.

2.1.2. Anatomi dan Fisiologi KulitAnatomi kulit Kulit merupakan pembungkus yang elastisk yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan. Kulit juga merupakan alat tubuh yang terberat dan terluas ukurannya, yaitu 15% dari berat tubuh dan luasnya 1,50 1,75 m2. Rata- rata tebal kulit 1-2 mm. Paling tebal (6 mm) terdapat di telapak tangan dan kaki dan paling tipis (0,5 mm) terdapat di penis. Kulit terbagi atas tiga lapisan pokok, yaitu epidermis, dermis atau korium, dan jaringan subkutan atau subkutis.

Gambar 1 Lapisan Kulit

Fisiologi KulitKulit merupakan organ paling luas permukaannya yang membungkus seluruh bagian luar tubuh sehingga kulit sebagai pelindung tubuh terhadap bahaya bahan kimia, cahaya matahari mengandung sinar ultraviolet dan melindungi terhadap mikroorganisme serta menjaga keseimbangan tubuh terhadap lingkungan. Kulit merupakan indikator bagi seseorang untuk memperoleh kesan umum dengan melihat perubahan yang terjadi pada kulit. Misalnya menjadi pucat, kekuningkuningan, kemerahmerahan atau suhu kulit meningkat, memperlihatkan adanya kelainan yang terjadi pada tubuh gangguan kulit karena penyakit tertentu.Perasaan pada kulit adalah perasaan reseptornya yang berada pada kulit. Pada organ sensorik kulit terdapat 4 perasaan yaitu rasa raba/tekan, dingin, panas, dan sakit. Kulit mengandung berbagai jenis ujung sensorik termasuk ujung saraf telanjang atau tidak bermielin. Pelebaran ujung saraf sensorik terminal dan ujung yang berselubung ditemukan pada jaringan ikat fibrosa dalam. Saraf sensorik berakhir sekitar folikel rambut, tetapi tidak ada ujung yang melebaratau berselubung untuk persarafan kulit.

Fungsi KulitKulit pada manusia mempunyai fungsi yang sangat penting selain menjalin kelangsungan hidup secara umum yaitu : a. Proteksi Kulit menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis, misalnya terhadap gesekan, tarikan, gangguan kimiawi yang dapat menimbulkan iritasi (lisol, karbol dan asam kuat). Gangguan panas misalnya radiasi, sinar ultraviolet, gangguan infeksi dari luar misalnya bakteri dan jamur. Karena adanya bantalan lemak, tebalnya lapisan kulit dan serabutserabut jaringan penunjang berperan sebagai pelindung terhadap gangguan fisis. Melanosit turut berperan dalam melindungi kulit terhadap sinar matahari dengan mengadakan tanning (pengobatan dengan asam asetil). b. Proteksi rangsangan kimia Dapat terjadi karena sifat stratum korneum yang impermeable terhadap berbagai zat kimia dan air. Di samping itu terdapat lapisan keasaman kulit yang melindungi kontak zat kimia dengan kulit. Lapisan keasaman kulit terbentuk dari hasil ekskresi keringat dan sebum yang menyebabkan keasaman kulit antara pH 5-6,5. Ini merupakan perlindungan terhadap infeksi jamur dan selsel kulit yang telah mati melepaskan diri secara teratur.c. Absorbsi Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda padat, tetapi cairan yang mudah menguap lebih mudah diserap, begitu juga yang larut dalam lemak. Permeabilitas kulit terhadap O2, CO2 dan uap air memungkinkan kulit ikutmengambil bagian pada fungsi respirasi. Kemampuan absorbsi kulit dipengaruhi tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembapan dan metabolisme. Penyerapan dapat berlangsung melalui celah di antara sel, menembus selsel epidermis, atau melalui saluran kelenjar dan yang lebih banyak melalui selsel epidermis. d. Pengatur panas Suhu tubuh tetap stabil meskipun terjadi perubahan suhu lingkungan. Hal ini karena adanya penyesuaian antara panas yang dihasilkan oleh pusat pengatur panas, medulla oblongata. Suhu normal dalam tubuh yaitu suhu visceral 36-37,5 derajat untuk suhu kulit lebih rendah. Pengendalian persarafan dan vasomotorik dari arterial kutan ada dua cara yaitu vasodilatasi (kapiler melebar, kulit menjadi panas dan kelebihan panas dipancarkan ke kelenjar keringat sehingga terjadi penguapan cairan pada permukaan tubuh) dan vasokonstriksi (pembuluh darah mengerut, kulit menjadi pucat dan dingin, hilangnya keringat dibatasi, dan panas suhu tubuh tidak dikeluarkan). f. Ekskresi Kelenjarkelenjar kulit mengeluarkan zatzat yang tidak berguna lagi atau zat sisa metabolisme dalam tubuh berupa NaCl, urea, asam urat, dan amonia. Sebum yang diproduksi oleh kulit berguna untuk melindungi kulit karena lapisan sebum (bahan berminyak yang melindungi kulit) ini menahan air yang berlebihan sehingga kulit tidak menjadi kering. Produksi kelenjar lemak dan keringat menyebabkan keasaman pada kulit.g. Persepsi Kulit mengandung ujungujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Respons terhadap rangsangan panas diperankan oleh dermis dan subkutis, terhadap dingin diperankan oleh dermis, peradaban diperankan oleh papila dermis dan markel renvier, sedangkan tekanan diperankan oleh epidermis. Serabut saraf sensorik lebih banyak jumlahnya di daerah yang erotik. h. Pembentukan Pigmen Sel pembentukan pigmen (melanosit) terletak pada lapisan basal dan sel ini berasal dari rigi saraf. Melanosit membentuk warna kulit. Enzim melanosum dibentuk oleh alat golgi dengan bantuan tirosinase, ion Cu, dan O2 terhadap sinar matahari memengaruhi melanosum. Pigmen disebar ke epidermis melalui tangantangan dendrit sedangkan lapisan di bawahnya dibawa oleh melanofag. Warna kulit tidak selamanya dipengaruhi oleh pigmen kulit melainkan juga oleh tebal-tipisnya kulit, reduksi Hb dan karoten.i. Keratinisasi Keratinosit dimulai dari sel basal yang mengadakan pembelahan. Sel basal yang lain akan berpindah ke atas dan berubah bentuk menjadi sel spinosum. Makin ke atas sel ini semakin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Semakin lama intinya menghilang dan keratinosit ini menjadi sel tanduk yang amorf. Proses ini berlangsung terus menerus seumur hidup. Keratinosit melalui proses sintasis dan degenerasi menjadi lapisan tanduk yang berlangsung kirakira 14-21 hari dan memberikan perlindungan kulit terhadap infeksi secara mekanis fisiologik. j. Pembentukan vitamin D Dengan mengubah dehidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari. Tetapi kebutuhan vitamin D tidak cukup dengan hanya dari proses tersebut. Pemberian vitamin D sistemik masih tetap diperlukan.

2.1.3. Anatomi dan Fisiologi Sistem PerkemihanAnatomi dan fisiologi sistem perkemihanSistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih). Susunan sistem perkemihan terdiri dari: a) dua ginjal (ren) yang menghasilkan urin, b) dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih), c) satu vesika urinaria tempat urin dikumpulkan, dan d) satu uretra urin dikeluarkan dari vesika urinaria.

Fungsi sistem perkemihanEkskresi oleh ginjal memiliki peranan untuk:1. Memelihara keseimbangan air2. Memelihara keseimbangan elektrolit3. Memelihara pH darah.4. Mengeluarkan sisa-sisa limbah metabolisme yang merupakan racun bagi tubuh dan organisme

Gambar 2 Sistem Perkemihan2.1.4. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan

Gambar 3 Sistem Pencernaan (Gastrointestinal)

Berikut merupakan sistem pencernaan pada manusia:1) Rongga MulutSecara umum berfungsi untuk menganalisis makanan sebelum menelan, proses penghancuran makanan secara mekanis oleh gigi, lidah dan permukaan palatum, lubrikasi oleh sekresi saliva serta digesti pada beberapa material karbohidrat dan lemak (Simon, 2003). 2) FaringFaring merupakan jalan untuk masuknya material makanan, cairan dan udara menuju esofagus. Bagian dalam faring terdapat 3 bagian yaitu nasofaring, orofaring dan laringfaring. Nasofaring adalah bagian faring yang berhubungan ke hidung. Orofaring terletak di belakang cavum oris dan terbentang dari palatum sampai ke pinggir atas epiglotis. Sedangkan laringfaring terletak dibelakang pada bagian posterior laring dan terbentang dari pinggir atas epiglotis sampai pinggir bawah cartilago cricoidea (Richard S. Snell, 2012).3) LaringLaring adalah organ yang mempunyai sfingter pelindung pada pintu masuk jalan nafas dan berfungsi dalam pembentukan suara. Sfingter pada laring mengatur pergerakan udara dan makanan sehingga tidak akan bercampur dan memasuki tempat yang salah atau yang bukan merupakan tempatnya. Sfingter tersebut meupakan epiglotis. Epiglotis akan menutup jalan masuk udara saat makanan ingin masuk ke esofagus (Pearce, 2009).4) EsofagusEsofagus adalah saluran yang berfungsi membawa bolus makanan dan cairan menuju lambung (Richard S. Snell, 2012). Otot esofagus tebal dan berlemak sehingga moblitas esofagus cukup tinggi. Peristaltik pada esofagus mendorong makanan dari esofagus memasuki lambung. Pada bagian bawah esofagus terdapat otot-otot gastroesofagus (lower esophageal sphincter, LES) secara tonik aktif, tetapi akan melemas sewaktu menelan. Aktifasi tonik LES antara waktu makan mencegah refluks isi lambung ke dalam esofagus. Otot polos pada esofagus lebih menonjol diperbatasan dengan lambung (sfingter intrinsik). Pada tempat lain, otot rangka melingkari esofagus (sfrinter ekstrinsik) dan bekerja sebagai keran jepit untuk esofagus.5) LambungLambung terletak di bagian kiri atas abdomen tepat di bawah diafragma. Lambung terbagi atas fundus, korpus dan pilorus. Pada saat lambung kosong atau berileksasi, mukosa masuk ke lipatan yang dinamakan rugae. Rugae yang merupakan dinding lambung yang berlipat-lipat dan lipatan tersebut akan menghilang ketika lambung berkontraksi (Richard S. Snell, 2012)Lambung terdiri dari dua fungsi yaitu, fungsi motorik sebagai proses pergerakan dan fungsi pencernaan yang dilakukan untuk mensintesis zat makanan, dimana kedua fungsi ini akan bekerja bersamaan.6) Usus HalusBagian awal dar usus halus adalah duodenum, pada bagian ligamentum Treitz, duodenum berubah menjadi jejunum. Duodenum mempunyai panjang sekitar 25 cm dan berhubungan dengan lambung, jejunum mempunyai panjang sekitar 2,5 m, dimana proses digesti kimia dan absorpsi nutrisi terjadi dalam jejunum sedangkan ileum mempunyai panjang sekitar 3,5 m. Mukus usus terdiri dari berbagai macam enzim, seperti disakaridase, peptidase dan enzim lain yang terlibat dalam penguraian asam nukleat.7) Usus Besar (Kolon)Kolon terdiri atas sekum-sekum yang membentuk kantung-kantung sebagai dinding kolon (haustra). Pada kolon terjadi penyerapan air, natrium dan mineral lainnya. Kontraksi kerja massa pada kolon akan mendorong isi kolon dari satu bagian kolon ke bagian lain. Kontraksi ini juga akan mendorong isi kolon menuju ke rektum. Dari rektum gerakan zat sisa akan terdorong keluar menuju anus dengan perenggangan rektum dan kemudian mencetus refleks defekasi (Pearce, 2009).

2.1.5. Anatomi dan Fisiologi SarafAnatomi dan fisiologi otakBerat otak manusia sekitar 1400 gram dan tersusun oleh kurang lebih 100triliun neuron. Otak terdiri dari empat bagian besar yaitu serebrum (otakbesar), serebelum (otak kecil), brainsterm (batang otak), dan diensefalon(Satyanegara, 1998).Serebrum terdiri dari dua hemisfer serebri, korpus kolosum dan korteksserebri. Masing-masing hemisfer serebri terdiri dari lobus frontalis yangmerupakan area motorik primer yang bertanggung jawab untuk gerakangerakanvoluntar, lobur parietalis yang berperanan pada kegiatanmemproses dan mengintegrasi informasi sensorik yang lebih tinggitingkatnya, lobus temporalis yang merupakan area sensorik untuk impulspendengaran dan lobus oksipitalis yang mengandung korteks penglihatanprimer, menerima informasi penglihatan dan menyadari sensasi warna.Serebelum terletak di dalam fosa kranii posterior dan ditutupi olehduramater yang menyerupai atap tenda yaitu tentorium, yangmemisahkannya dari bagian posterior serebrum. Fungsi utamanya adalahsebagai pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakanotot, serta mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk mempertahankankeseimbangan sikap tubuh.Bagian-bagian batang otak dari bawak ke atas adalah medula oblongata,pons dan mesensefalon (otak tengah). Medula oblongata merupakan pusatrefleks yang penting untuk jantung, vasokonstriktor, pernafasan, bersin,batuk, menelan, pengeluaran air liur dan muntah. Pons merupakan matarantai penghubung yang penting pada jaras kortikosereberalis yangmenyatukan hemisfer serebri dan serebelum. Mesensefalon merupakan bagian pendek dari batang otak yang berisiaquedikus sylvius, beberapa traktus serabut saraf asenden dan desenden dan pusat stimulus saraf pendengaran dan penglihatan. Diensefalon di bagi empat wilayah yaitu talamus, subtalamus, epitalamusdan hipotalamus. Talamus merupakan stasiun penerima dan pengintegrasi subkortikal yang penting. Subtalamus fungsinya belum dapat dimengerti sepenuhnya, tetapi lesi pada subtalamus akan menimbulkan hemibalismusyang ditandai dengan gerakan kaki atau tangan yang terhempas kuat pada satu sisi tubuh. Epitalamus berperanan pada beberapa dorongan emosi dasar seseorang. Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari sistem susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah dan emosi.

Gambar 4 Anatomi Otak2.2. Interaksi Pajanan dan Gangguan KesehatanInteraksi pajanan dapat pula dijelaskan berdasarkan bagan diatas, dimana satu sama lain akan saling bergantung dan menyebabkan dampak jika tidak seimbang. Interaksi Pajanan dan gangguan Kesehatan adalah sebagai berikut (Kurniawidjaja, 2012):

Gambar 5 Bagan Interaksi Pajanan

1) Lingkungan KerjaLingkungan kerja merupakan lingkungan dimana pekerja melakukan usaha/aktivitas/kegiatan pekerjaan yang memiliki sumber bahaya. Sumber bahaya yang terkait dengan risiko Kanker akibat kerja adalah fisik dan kimia.

2) Alat BekerjaAlat bekerja atau peralatan kerja adalah alat yang digunakan untuk melakukan pekerjaan. Alat tersebut memiliki fungsi dan sumber bahaya. Contoh: pekerja bekerja dengan menggunakan bahan asbestos, menggunakan mesin diesel dalam waktu yang lama, serta mengandung zat radioaktif yang menghasilkan radiasi.

3) Jenis PekerjaanJenis pekerjaan sangat menentukan lingkungan dan alat bekerja. Jenis pekerjaan merupakan bentuk atau variasi pekerjaan yang memiliki cara dan pola yang khas dan memiliki sumber bahaya serta risiko terhadap gangguan kesehatan dan/atau kecelakaan yang berbeda-beda. Jenis pekerjaan yang memiliki risko mengalami gangguan kesehatan Kanker adalah pekerja yang bekerja dengan zat kimia yang bersifat karsinogenik.

Manusia terpapar pada sekumpulan zat kimia baik dalam bentuk obat-obatan, zat kimia yang ada di industri atau lingkungan, atau zat kimia yang terbentuk secara alami di alam. Semua zat berpotensi menimbulkan efek yang berbahaya yang biasa disebut efek toksik atau efek yang merugikan.Sebenarnya yang menentukan toksik tidaknya suatu zat adalah dosis/kadar zat kimia tersebut. Contoh, pada dosis yang cukup tinggi, zat kimia yang tidak berbahaya sekalipun seperti gula dapat mematikan. Sebaliknya, dalam kadar yang cukup rendah, tidak satupun zat bersifat toksik (kecuali untuk zat kimia yang tidak memenuhi ambang batas). Bahkan zat yang esensial bagi tubuh kita pun, misalnya zat besi, dapat menjadi toksik jika dosisnya tinggi. Tanpa zat besi yang cukup, secara perlahan kita akan mengalami anemia, tetapi jika terlalu banyak justru mengakibatkan abnormalitas hati.Efek yang merugikan dapat didefenisikan sebagai perubahan abnormal yang tidak diinginkan atau berbahaya akibat pemaparan terhadap zat kimia yang kemungkinan toksik. Berbagai jenis efek merugikan dapat terjadi, terlalu banyak untuk disebutkan, tetapi tingkat keparahanefek tersebut dapat berkisardari ruam kulit sampai kebutaan atau bahkan kanker dengan berbagai macam kemungkinan di antara kejadian tersebut. Organ tubuh yang spesifik dapat menjadi sasaran zat kimia tertentu atau beberapa bagian tubuh secara bersamaan akan terpengaruh. Akibat yang ditimbulkan efek merugikan tersebut bergantung tidak hanya pada zat kimia ketika seseorang terpapar terhadapnya, tetapi juga pada tipe paparan dan derajat paparan.Ada tiga tipe paparan ; akut, subkronis, dan kronis. Pemaparan akut didefenisikn sebagai pemaparan terhadap zat kimia selama kurang dari 24 jam. Paparan tersebut biasanya disebut sebagai paparan dosis tunggal zat kimia. Pemaparan jangka panjang, disebut sebagai pemaparan kronis mengacu pada pemaparan berulang atau berkelanjutan terhadap suatu zat kimia dalam waktu yang cukup lama. Pemaparan kronis dapat mengakibatkan efek merugikan yang sama sekali berbeda dengan pemaparan akut. Pemaparan subkronis berlangsung lebih lama dari pemaparan akut tetapi lebih singkat dari pemaparan kronis.Kata akut dan kronis itu juga dapat dipakai untuk menjelaskan efek merugikannya. Ada beberapa zat kimia yang dapat menyebabkan efek merugikan akut yang terjadi segera setelah pemaparan, sementara zat lain menyebabkan efek kronis, misalnya kanker, yang mungkin tidak terlihat sampai 10 atau 20 tahun kemudian setelah paparan. Tingkat paparan dapat bervariasi mulai dari jumlahyang sangat kecil sampai ke dosis yang sangat tinggi. Paparan juga dapat terjadi dari satu substansi tunggal atau beberapa zat kimia.Ada beberapa istilah yang dapat mewakili istilah efek merugikan, atau toksisistas, suatu zat kimia. Menurut pandangan umum, toksisitas dapat didefenisikan sebagai kapasitas untuk menimbulkan efek yang membahayakan organisme hidup. Toksisitas tidak dapat disebut tanpa menyingung kuantitas (dosis) zat kimia ketika manusia terpapar padanya, cara zat tersebut mencapai kita (mis,melalui inhalasi, ingesti, dan dermal), dan durasi paparan (mis, dosis tunggal atau dosis ulangan), tipe dari tingkat keparahan dari efek merugikan, serta waktu yang dibutuhkan untuk menimbulkan efek itu.Zat kimia dapat memasuki tubuh kita melalui tiga cara, baik memasuki tubuh melalui ingesti, inhalasi, maupun melalui absorpsi di kulit, zat kimia yang berbeda dapat menimbulkan efek merugikan yang juga berbeda. Jika hanya terbatas di area kontak, efeknya di sebut efek lokal. Akan tetapi, jika zat yang diabsorbsi masuk dalam sirkulasi darah, maka zat itu akan dibawa ke berbagai organ di seluruh tubuh sehingga menyebabkan efek sistemik. Tidak semua zat kimia yang diabsorbsi tubuh dapat menimbulkan efek merugikan. Tubuh telah dilengkapi dengan beberapa mekanisme untuk melindungi diri dari substansi yang berbahaya. Ada beberapa zat yang dapat langsung diekskresikan oelh tubuh tanpa menimbulkan efek pada organismenya. Akan tetapi, substansi lipofilik (tidak laru air tetapi larutan lemak) yang diabsorbsi tubuh lebih sulit untuk diekskresikan. Zat tersebut dapat menjalani proses detoksifikasi dlaam hati, disebut sebagai biotransformasi, untuk mengubah substansi menjadi metabolit. Metabolit yang dihasilkan serupa dengan substansi asalnya tetapi lebih larut air sehingga lebih mudah diekskresi. Umumnya, metabolit yang dihasilkan kurang toksik bagi manusia jika dibandingkan dengann substansi asalnya. Namun, terkadang metabolit justru menjadi lebih toksik daripada substansi asalnya.Jika zat kimia memang dapat menimbulkan efek merugikan, kerusakan yang ditimbulka bisa bersifat reversibel (dapat diperbaiki atau sementara) atau ireversibel ( tidak dapat diperbaiki atau menetap). Efek reversibel ditandai dengan fakta bahwa perubahan dari struktur atau fungsi normal yang disebabkan oleh suatu zat kimia akan kembali pulih dalam batas waktu yang normal setelah paparan berhenti. Kerusakan biasanya dikaitkan dengan efek ireversibel yang menetap atau bahkan meluas walaupun paparan sudah berhenti. Efek toksik tertentu dari suatu zat dapat bersifat ireversibel, misalnya penyakit neurologis tertentu, pembentukan kanker, sirosis hati, atau emfisema paru.

Efek pada saluran pernafasanInhalasi adalah jalur pernafasan yang sangat penting terhadap zat kimia toksik, terutama di tempat kerja. Zat kimia yang memasuki paru dapat menimbulkan efek langsung pada sel-sel paru atau dapat terserap ke dalam sirkulasi sistemik. Disini perlu dibedakan antara toksikologi inhalasi yang sebenarnya hanyalah jalur pemaparan dengan toksikogi pernafasan yang merupakan responsi paru terhadap zat kimia. Pemaparan melalui inhalasi berbeda dengan yang melalui ingesti karena zat kimia yang diabsorpsi ke dalam sistem darah dari paru akan melewati jantung dan kemudian terdistribusi ke organ lainnya tanpa telebih dahulu menjalani proses detoksifikasi dihati. Hal itu berlawanan dengan pemaparan ingesti karena zat kimia yang diabsorpsi ke dalam darah akan langsung dibawa ke hati untuk menjalani transformasi metabolik menjadi senyawa yang kurang toksik.

Cara zat kimia memengaruhi sistem pernafasanZat kimia yang diabsopsi melalui jalur inhalasi memiliki sifat spesifik. Zat tersebut antara lain (a) gas seperti karbonsioksida;(b) uap, misalnya merkuri, atau (c) aerosol, misalnya partikel kecil yang melatang di udara. Gas dan uap dapat terhirup secara langsung ke dalam paru-paru atau terserap secara langsung ke dalam paru atau terserap ke dalam permukaan aerosol baru kemudian terhirup. Contoh, banyak unsur (zink, arsenik) yang terlepas selama pembakaran batubara yang kemudian terkonsentrasi di permukaan aerosol.Jika gas dan uap sifatnya laru air (yaitu, dapat terlarut dalam air), maka zat tersebut larut di dalam lendir yang melapisi permukaan saluran pernafasan sehingga menimbulkan iritasi dan mungkin tidak akan pernah mencapai jalan udara bagian bawah serta alveolus (mis, sulfur dioksida). Untuk aerosol, ukuran partikel merupakan faktor kritis yang menentukan sampai sejauh mana partikel itu dapat mencapai saluran pernafasan bagian bawah dan, dengan demikian, bagian mana dari sistem tersebut yang akan terkena pengaruhnya.Saat kita menarik napas, partikel-partikel yang menyusun aerosol akan terkumpul di sepanjang saluran pernafasan. Tempat pengumpulan partikel itu akan memengaruhi tingkat keparahan kerusakan jaringan, besar absorpsi toksikan ke dalam sirkulasi sistemik,dan memengarui kemampuan paru untuk mengeluarkan partikel itu. Semakin kecil ukuran partikel, semakin jauh jangkauannya di dalam saluran pernapasan.Aerosol yang berukuran 5-30 mikrometer m akan mengendap terutama di saluran pernapasan bagian atas (hidung dan tenggorokan). Jarak/kedalaman penetrasi akan bertambah seiring penurunan ukuran aerosol, dan aerosol yang berukuran 1-5 m, sebagian besar akan terkumpul di saluran pernafasan bagian bawah (trakea, bronkus, bronkiolus). Endapan partikel tersebut kemudian akan dibersihkan melalui mekanisme bersihan mukosiliar. Partikel yang dibersihkan dengan cara ini kemudian akan ditelan dan diabsorpsi di saluran gastrointestinal. Aerosol ukuran 1 m ke bawah dapat mencapai alveolus. Di alveolus, aerosol akan diabsorpsi ke dalam sistem darah serta dibersihkan oleh sel-sel imun (makrofag) yang akan menelan partikel tersebut. Transpor partikel melalui saluran pernapasan diperlihatkan pada gambar dibawah. Respon sistem pernapasan terhadap paparan gas dan partikel berbahaya, yang tidak berhasil dikeluarkan melalui bersihan mikosiliar dan sel-sel imun, dapat disampaikan dalam beberapa cara. Perubaha yang dapat diamati di dalam paru akibat inhalasi gas dan materi pertikulat berbahaya akan bergantung pada konsentrasi materi yang dihirup, durasi pemaparan, dan sifat kimiawinya. Perubahan akut yang terjadi di dalam paru mencakup konstriksi bronkus, edema jalan udara, dan kerusakan sistem pertahana seperti bersihan mukosiliar. Konstriksi bronkus adalah penyempitan jalan udara sehingga menyebabkan mengi.

2.3. Penyakit Kanker Akibat KerjaBerdasarkan pembagian penyakit akibat kerja khususnya kanker dalam Oxford Handbook of Occupational disebutkan target organ kanker kerja adalah sebagai berikut (Oxford Univesrsity, 2013):6) Gangguan sistem pernafasan : Kanker paru7) Gangguan kulit : Kanker kulit8) Gangguan sistem urinaria/perkemihan : Kanker kandung kemih9) Gangguan sistem pencernaan : Kanker gastrointestinal10) Gangguan saraf : Kanker otak

Pembagian penyebab Occupational cancer berdasarkan agent (ILO, 2010):1) 2) Asbestos3) Benzidine and its salts4) Bis-chloromethyl ether (BCME)5) Chromium VI compounds6) Coal tars, coal tar pitches or soots7) Beta-naphthylamine8) Vinyl chloride9) Benzene10) Toxic nitro- and amino-derivatives of benzene or its homologues11) Ionizing radiations12) Tar, pitch, bitumen, mineral oil, anthracene, or the compounds, products or13) Residues of these substances14) Coke oven emissions15) Nickel compounds16) Wood dust17) Arsenic and its compounds18) Beryllium and its compounds19) Cadmium and its compounds20) Erionite21) Ethylene oxide22) Hepatitis B virus (HBV) and hepatitis C virus (HCV)23) Cancers caused by other agents.

Tabel 1 Jenis Kanker Berdasarkan Penyebabnya

JENIS PEKERJAAN JENIS PENYAKIT AGENT CONTOH PRODUK

Pekerja Kontruksi kanker paru-paru asbes, radon, arsenik, krom, silika, berilium, nikel, kadmium Produk alumunium, peleburan besi.

Pekerja Batubara (pertambangan) kanker paru-paru silika Debu di lingkungan kerja (pasir kwarsa & batu granit)

Pekerja Manufaktur (Proses Produksi) Kanker darah/ leukemiaBenzena dan N-hexane Proses perakitan iPhone dan iPad.

Petani Kanker kulit, kanker otak, kanker prostat Organofosfat H3PO4 (asam fosfat).Pestisida, gas buang dr mesin penggilingan, pupuk, fungisida.

Petugas Pemadam Kebakaran Kanker Paru asap, poliuretan Asap kebakaran, puing-puing kebakaran, bahan plastik dari perabotan.

Pekerja Pengecatan body mobil (Industri otomotif) Kanker Paru ,kanker kulit isocyanate dan polyurethan Cat mobil

Petugas pintu TOLKanker Paru karbon monoksida (CO), Oksida nitrogen (NOx) dan sulfur (SOx), dan (PB). Asap kendaraan mobil

2.4. Penyakit Kanker Paru Akibat KerjaKanker paru adalah kanker pada lapisan epitel saluran napas. Berdasarkan klasifikasi WHO (1999), kanker paru secara umum diklasifkasikan sebagai karsinoma paru non small cell (NSCLC, 85% dari semua kanker paru) dan karsinoma small cell (SCLC, 15% dari semua kanker paru). Karsinoma small cell terdiri atas adenokarsinoma. karsinoma sel skuamosa, dan karsinoma sel besar.

Gambar 6 Karsinoma Kanker Paru

Adenokarsinoma adalah jenis kanker paru yang berasal dari kelenjar paru. Tumor ini biasanya terjadi di bagian perifer paru, termasuk broniolus terminal dan alveolus. Kanker jenis ini terhitung sekitar 30 % dari kanker paru dan lebih tinggi diantara wanita. Adenokarsinoma biasanya berukuran kecil dan tumbuh lambat, tetapi bermetastasis secara dini dan angka bertahan hidup sampai 5 tahunnya buruk.Karsinoma sel skiamosa sebanyak 30% dari kanker paru. Kanker ini berkaitan dengan asap rokok dan pajanan dengan toksn lingkungan seperti asbestos dan komponen polusi udara. Tumor sel skuamosa biasanya terletak di bronkus pada sisi tempat masuk ke paru, ayng disebut hilus, yang kemudian meluas ke bawah ke bronkus. Karena bronkus pada derajat tertentu mengalami obstrusi, dapat terjadi atelektasi absorpsi dan pneumonia, serta penurunan kapasitas ventilasi. Tumor ini tumbuh relasif lambat dan memiliki prognosis yang paling baik, yaitu kemunginan hidup 55 tahun jika didiagnosis sebelum metastasis.Kanker sel besar tak berdiferensiasi sangat anaplastik dan cepat bermeta stasis. Tumor ini sampai 15% dari semua kanker paru, sering terjadi di bagian perifer dan meluas ke arah pusat paru. Tumor ini beraitan erat dengan merokok dan dapat menyebabkan nyeri dada. Kanker jenis ini memuiliki prognosis bertahan hidup yang sangat buruk.Karsinoma sel kecil sekitar 25% dari semua kanker paru. Tumor jenis ini juga disebut sebagai karsinoma oat cell dan biasanya tumbuh di bagian tengah paru. Karsinoma sel kkecil sejienis tumor yang bersifat sangat anaplastik, atau embrionik, sehingga memperlihatkan insiden metastasis yang tinggi. Tumor inisering merupakan tempat produksi tumor ektopik dan dapat menyebakan gejala awal berdasarkan gangguan endokrin. Manifestasi paru yang timbul pada tumor ini juga disebakan obstruksi aliran udara. Tumor jenis mungkin merupakan jenis yang paling sering dijumpai pada perokok, dan memiliki pronogsis paling buruk.

PatofisiologiSebagian besar pertumbuhan bary terjadi dalam paru dapat timbul dari bronchi maka biasa disebut karsinoma bronkhogenik. Tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh klien bergantung pada beberapa factor yang antara lain mencakup lokasi lesi. Tanda dan gejala pada lesi bronchus dan paru termasuk: 1. 10% dari klien adalah asimptomatis dan teridentifikasi saat pemeriksaan ronsen dada rutin.2. 75% mengalami batuk3. 50% mengalami hemoptisis4. Sesak napas adalah umum

Jika lesi pulmonal perifer mengalami perforasi ke dalam ruang pleural, maka akan tampak tanda dan gejala ekstrapulmonal-intratoraks, yang mencakup nyeri saat inspirasi, friksi iga, efusi pleural, jika vena kava terlibat maka tampak edema pada wajah dan leher, keletihn, dan jari tabuh.Pada penyakit tahap lanjut penurunan berat badan dan kelemahan fisik biasanya menandakan mestatase terutama pada hepar. Kanker paru dapat bermestatase ke struktur sekitarnya seperti nodus limfe preskalene, dinding esophagus, dan pericardium jantung atau pada tempat-tempat yang jauh seperti otak atau skelet.

2.5. Pekerja BerisikoBanyak faktor yang dapat menyebabkan kanker, meliputi faktor pajanan bahaya kimia, fisik dan radiasi. Sangat sulit sekali menyimpulkan bahwa suatu penyakit kanker disebabkan oleh pekerjaan. Oleh karena itu, perlu dispesifikan kepada pekerja-pekerja yang berisiko terhadap pajanan bahaya-bahaya penyebab kanker.

Gambar 7 Pekerja yang Beresiko Kanker (HSE, 2013)

Berdasarkan penelitian dan data statisktik Healt and Safety Executive UK, terdapat 8.000 kematian akibat kanker dan 13.500 kasus terdiagnosa baru mengidap kanker, dimana penyebabnya adalah pekerjaan.Industri konstruksi merupakan jumlah terbesar penyumbang kanker akibat kerja, yaitu 3.500 kasus kematian dan 5.500 kasus penderita kanker dari industri ini. Penyebab gangguan kesehatan tersebut adalah silika, emisi mesin diesel, radiasi sinar matahari, shift work, bekerja sebagai tukang cat dan/atau tukang las (HSE, 2013).Selain itu International Agency for Research in Cancer (IARC) telah menjelaskan beberapa pekerjaan yang berisiko terpajan bahaya kanker yaitu Pekerja Nuklir, Painters (Tukang Cat), radiologist, Underground miner, Waste treatment worker, petrochemical worker, processing bahan tambang, dan lain-lain yang terpajan oleh bahaya kimia atau fisik (Siemiatycki J, 2004).Individu yang mempunyai risiko tinggi untuk menderita penyakit kanker ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan dan penjamu yang menerima penyebab lingkungan tersebut. Oleh karena kompleknya interaksi yang mungkin terjadi maka faktor-faktor yang berkaitan dengan bahan anti-karsinogen ikut disertakan juga dalam hal besar-kecilnya risiko tersebut.Bahan-bahan yang berpengaruh terhadap peningkatan angka penyakit kanker adalah ;1. Bahan-bahan karsinogen lingkungan umum antar lain ;a. Merokok, ikut meningkatkan angka penyakit kanker akibat kerja, misal pada pemaparan asbestos, produksi yang memakai arsen, trioksid antimon, bisklorometil-eter, nikel sulfida dan lain-lainnya.b. Alkohol, berpengaruh terhadap morbiditas penyakit kankerc. Bahan kimia dan obat-obatan, misalnya pelarut alkihidrokarbon, fenol, trace-metal, ester forbol dan obat-obatan misalnya amfetamin, dilantin, fenobarbital dan lain-lainnya.d. Makanan di amerika ikan asap dengan pemaparan PAH (Polisklik Aromatik Hidrokarbon), pada kanker lambung.e. Infeksi oleh bakteri dan virus, misalnya oleh infeksi virus onkogeik Rausher Leukimia Virus (RLV).2. Faktor penjamu, antara lain ; a. penyakit immun defesiensi (AIDS), yang berkaitan dengan kelainan pada auto imun.b. Usia, pada usia lanjut risiko terhadap penyakit kanker meningkat.c. Penyakit yang didapat, misal pada infeksi bakterial [sifilis, tbc], malaria, trauma post opratif dan lain-lainnya.d. Faktor genetik beserta interaksi lingkungan, penyakit kanker yang diduga berkaitan dengan keturunan misal kanker kolon, rektum dll, dan induksi oleh radiasi yang menyebakan aberasi kromosom yang dapat berubah menjadi keganasan.e. Prostaglandin dianggap sebagai bahan yang menghambat makrofag [interferon activated macrophages] untuk membunuh sel leukemia limfotik.3. Bahan anti karsinogen yang termasuk;a. Enzim-enzim yang dapat memperbaiki DNA.b. Interferon, merupakn glikoprotein dengan berat molekul rendah yang dapat melawan infeksi virus dan dapat dipakai sebagai bahan anti-kanker.c. Glutation dan bahan-bahan yang mengandung ikatan SH. Pemaparan vinil klorida beserta bahan yang mengandung ikatan SH dapat meningkatkan sifat anti karsinogen dalam tubuh.d. Induksi enzim, beberapa enzim yang pada mekanisme biotransformasinya dapat memberikan efek detoksikasi pada pemaparan polisiklik aromatik hidrokarbon [PHA].e. trace element kelompok metal platinum, rodium, retenium dan osmium dianggap bahan anti karsinogen.f. Anti oksidan askorbat dianggap penghambat neoplasma.

2.6. Gejala Klinis dan Dasar DiagnosisGejala KlinisGambaran klinik penyakit kanker paru tidak banyak berbeda dari penyakit paru lainnya, terdiri dari keluhan subyektif dan gejala obyektif. Dari anamnesis akan didapat keluhan utama dan perjalanan penyakit, serta faktorfaktor lain yang sering sangat membantu tegaknya diagnosis. Keluhan utama dapat berupa : Batuk-batuk dengan / tanpa dahak (dahak putih, dapat juga purulen) Batuk darah Sesak napas Suara serak Sakit dada Sulit / sakit menelan Benjolan di pangkal leher Sembab muka dan leher, kadang-kadang disertai sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat.

Tidak jarang yang pertama terlihat adalah gejala atau keluhan akibat metastasis di luar paru, seperti kelainan yang timbul karena kompresi hebat di otak, pembesaran hepar atau patah tulang kaki. Gejala dan keluhan yang tidak khas seperti : Berat badan berkurang Nafsu makan hilang Demam hilang timbul Sindrom paraneoplastik, seperti "Hypertrophic pulmonary osteoartheopathy", trombosis vena perifer dan neuropatia.

Dasar Diagnosis1. Diagnostik Umum1.1. Pemeriksaan makroskopikYaitu dengan penglihatan mata biasa diperhatikan jaringan tumor itu. Misalnya pada carcinoma mammae, secara makroskopik terlihat adanya bercak-bercak berwarna kuning kemerahan, yang menunjukkan adanya jaringan nekrotik dan perdarahan.1.2. Pemeriksaan histologikPemeriksaan histologik hingga kini masih merupakan cara yang sangat penting untuk menegakkan diagosis neoplasma. Pada tumor-tumor kecil jaringan diperoleh dengan cara eksisi. Jika tumor besar dapat dilakukan eksisi percobaan atau biopsi sebagian. Jaringan tumor yang akan diperiksa difiksasi dalam cairan formalin 10%. Ahli patologi anatomik mempunyai berbagai cara untuk mengolah jaringan ini.1.3. Biopsi jarum-biopsi aspirasiCara biopsi jarum memerlukan keterampilan ahli klinik dan ahli patologi anatomik untuk menegakkan diagnosis dari sepotong jaringan kecil berbentuk torak. Cara inibanyak dikembangkan karena hanya memerlukan sedikit persiapan, yaitu hanya anestesi lokal dan dapat dikerjakan pada penderita-penderita yang berobat jalan.1.4. Pemeriksaan darah tepiTeknik pemeriksaan hematologik banyak dikembangkan dlaam diagnosis kanker. Salah satu cara ialah isolasi dan menentukan sel-sel tumor pada peredaran darah. Sel-sel tumor ini terlepas dan masuk ke dalam peredaran darah.1.5. Pemeriksaan hormon dan enzimKadar hormon yang dan terbentuknya senyawa hormon bentukan lain merupakan sebuah indikator adanya tumor pada jaringan tertentu, seperti terbentuknya fosfateasam karena adanya anaksebar karsinoma prostat dalam tulang membantu diagnosis neoplasma.1.6. Pemeriksaan sitologikDasar pemeriksaan ini ialah :a. Perubahan patologik yang disebut anaplasi yang merupakan sifat sel tumor ganas dan yang merupakan perubahan dari sel normalb. Sel-sel tumor ganas kohesinya kurang daripada sel normal, sehingga mudah terlepas.Karsinoma dapat ditemukan walaupun masih in-situ. Penggunaan lain yang sangat efektif ialah dalam diagnosis tumor-tumor saluran pernafasan dan paru-paru. Sputum yang didapat dari batuk atau cucian bronchus yang didapat dengan bronchoscopia dibuat sediaan apus dan dipulas dengan pulasan papanicolaou. 2. Diagnostik paruProses yang digunakan untuk mengetahui apakah kanker telah menyebar di dalam paru atau ke bagian lain tubuh disebut stadium.Informasi yang dikumpulkan dari proses stadiummenentukan tahap penyakit.Hal ini penting untuk mengetahui tahap dalam rangka untuk merencanakan pengobatan.Beberapa tes yang digunakan untuk mendiagnosiskanker paru-paru bukan sel kecil juga digunakan untuk tahap penyakit. tes dan prosedur lain yang dapat digunakan dalam proses staging adalah sebagai berikut: MRI (magnetic resonance imaging): Sebuah prosedur yang menggunakan magnet, gelombang radio , dan komputer untuk membuat serangkaian gambar detil dari area-area didalam tubuh, seperti otak.Prosedur ini juga disebut nuklir Magnetic Resonance Imaging (NMRI). CT scan (CAT scan): Sebuah prosedur yang membuat serangkaian gambar detil dari area-area didalam tubuh, seperti otak dan perut , yang diambil dari sudut yang berbeda.Gambar-gambar yang dibuat oleh komputer yang terhubung ke x-ray mesin.Sebuah pewarna dapat disuntikkan ke dalam vena atau ditelan untuk membantu organ-organ atau jaringan muncul lebih jelas.Prosedur ini juga disebut tomografi komputer, computerized tomography, atau tomografi aksial terkomputerisasi. PET Scan (positron emission tomography scan): Sebuah prosedur untuk menemukan ganastumor sel dalam tubuh.Sejumlah kecil radioaktifglukosa (gula) yang disuntikkan ke pembuluh darah.PET scanner berputar di sekitar tubuh dan membuat gambar di mana glukosa yang digunakan dalam tubuh.Sel tumor ganas muncul terang dalam gambar karena mereka lebih aktif dan mengambil lebih banyak glukosa daripada sel normal dilakukan.

Gambar 8 PET ScanPET (positron emission tomography) scan.Pasien terletak di atas meja slide melalui mesin PET.Sisanya kepala dan tali putih membantu pasien berbaring diam.Sejumlah kecil glukosa radioaktif (gula) yang disuntikkan ke pembuluh darah pasien, dan scanner membuat gambar di mana glukosa sedang digunakan dalam tubuh.Sel-sel kanker muncul terang dalam gambar karena mereka mengambil lebih banyak glukosa daripada sel normal dilakukan. Scan tulang radionuklida : Suatu prosedur untuk memeriksa apakah ada pembelahan sel-sel dengan cepat, seperti sel-sel kanker dalam tulang.Sebuah jumlah yang sangat kecil radioaktif material disuntikkan ke dalam vena dan perjalanan melalui aliran darah.Bahan radioaktif mengumpul dalam tulang dan terdeteksi oleh pemindai . Uji fungsi paru: Sebuah tes untuk melihat seberapa baik paru-paru bekerja.Itu mengukur berapa banyak udara paru-paru bisa memegang dan seberapa cepat udara bergerak masuk dan keluar dari paru-paru.Hal ini juga mengukur berapa banyak oksigen yang digunakan dan berapa banyak karbon dioksida yang dilepaskan saat bernafas.Ini juga disebut tes fungsi paru-paru. USG Endoskopi: Sebuah prosedur di mana sebuah endoscope yang dimasukkan ke dalam tubuh.Sebuah endoskopi adalah tipis, instrumen seperti tabung dengan cahaya dan lensa untuk melihat.Penyelidikan pada endoskopi menggunakan gelombang suara berenergi tinggi ( ultrasound ) dari jaringan internal maupun organ dan membuat gema.Gema-gema membentuk gambar jaringan tubuh yang disebut sonogram .Prosedur ini juga disebut endosonography.USG endoskopi dapat digunakan untuk memandu jarum halus aspirasi biopsi paru-paru, kelenjar getah bening , atau daerah lain

Gambar 9 USG Endoskopi Mediastinoscopy : sebuah bedah prosedur untuk melihat organ, jaringan, dan kelenjar getah bening antara paru-paru untuk yang abnormal daerah.Sebuah sayatan (memotong) dibuat di bagian atas dada dan mediastinoscope dimasukkan ke dada.Alat mediastinoscope berbentuk tipis, instrumen ini seperti tabung dengan cahaya dan lensa untuk melihat.Hal ini juga mungkin memiliki alat untuk mengangkat jaringan atau kelenjar getah bening sampel, yang diperiksa di bawah mikroskop untuk tanda-tanda kanker.

Gambar 10 Mediastinoscopy Mediastinotomy anterior : Sebuah prosedur pembedahan untuk melihat organ dan jaringan antara paru-paru dan antara tulang dada dan jantung untuk daerah abnormal.Sayatan (cut) dibuat di sebelah tulang dada dan mediastinoscope dimasukkan ke dalam dada.Sebuah mediastinoscope berbentuk tipis, instrumen seperti tabung dengan cahaya dan lensa untuk melihat.Hal ini juga mungkin memiliki alat untuk mengangkat jaringan atau kelenjar getah bening sampel, yang diperiksa di bawah mikroskop untuk tanda-tanda kanker.Ini juga disebut prosedur Chamberlain. BiopsiKelenjar getah bening: Pengangkatan seluruh atau sebagian dari kelenjar getah bening.Sebuah ahli patologi memandang jaringan di bawah mikroskop untuk mencari kanker sel . Aspirasi tulang dan biopsi sumsum : Pengangkatan sumsum tulang , darah , dan sepotong kecil tulang dengan memasukkan jarum berongga ke tulang pinggul atau tulang dada.Seorang ahli patologi memandang sumsum tulang, darah, dan tulang di bawah mikroskop untuk mencari tanda-tanda kanker.

Tabel 2 Tahapan Terjadinya Kanker ParuOkultisme TahapSel kanker paru-paru ditemukan dalam cairan tubuh tertentu, tapi tumor tidak dapat dilihat dalam paru-paru melalui pencitraan.

Stadium 0(Karsinoma in situ)Sel-sel kanker ditemukan hanya pada lapisan terdalam paru-paru.Tumor belum tumbuh menembus lapisan.

Tahap IIA: Tumor tidak lebih dari 3 cm a).Tidak ada jaringan sekitarnya atau kelenjar getah bening keterlibatannya.

IB: Tidak ada keterlibatan kelenjar getah bening dan salah satu dari berikut: Tumor tidak lebih dari 3 cm Tumor telah tumbuh menjadi bronkus utama Tumor telah tumbuh menjadi pleura

Tahap IIIIA: Tidak lebih dari 3 cmSel-sel kanker di kelenjar getah bening

IIB: Salah satu dari yang berikut: Tidak dalam kelenjar getah bening tetapi dalam dinding dada, diafragma, pleura, bronkus utama atau jaringan yang mengelilingi jantung Dalam kelenjar getah bening dan 3 cm, telah tumbuh menjadi bronkus utama atau telah tumbuh menjadi pleura

Tahap IIIIIIA: Setiap ukuran Di kelenjar getah bening di dekat paru-paru dan antara paru-paru pada sisi yang sama dari dada sebagai tumor paru-paru

IIIB: Setiap ukuran Pada kelenjar getah bening di sisi berlawanan dari dada sebagai tumor dan mungkin dekat dengan organ lain

Tahap IV Dalam lebih dari satu lobus paru-paru yang sama, Dalam paru-paru lainnya atau Di bagian lain dari tubuh seperti otak, hati atau tulang.

2.7. SurveilansSurveilance Hazard Kesehatan1. Risk Register (data faktor risiko), MSDS2. Hazard and Health Mapping Surveilans Efek Kesehatan1. Review Riwayat Kesehatan Pekerja (MCU, Kuesioner)2. Pemeriksaan Periodik kesehatan pekerja3. Menganalisa Hasil Kesehatan (Hasil Lab/Pengukuran) Biomonitoring terkait dampak pajanan sesuai parameter (ACGIH & NIOSH),Digunakan sebagai alat untuk memonitor kualitas lingkungan yang telah terpolusi, untuk menilai suatu dampak pencemaran lingkungan, untuk mengevaluasi risiko kesehatan yang berhubungan dengan bahan polutan.

Dikenal 3 jenis monitoring antara lain :1. Monitoring ambient Untuk menilai resiko kesehatan Untuk memonitor paparan eksternal dari bahan kimia Untuk mengetahui berapa kadar bahan kimia di dalamm air, makanan, dan udara Risiko kesehatan dapat diprediksi berdasarkan batas paparan lingkungan.

2. Monitoring Biologi dari paparan (MB paparan)Monitoring Biologi dari paparan (MB paparan) Adalah pemantauan suatu bahan yang mengadakan penetrasi kedalam tubuh dengan efek sistemik yang membahayakan. Dapat dipakai untuk mengevaluasi risiko kesehatan. Dilaksanakan dengan memonitor dosis internal dari bahan kimia sebagai contoh adalam jumlah dosis efektif yang diserap oleh organisme.

3. Monitoring Biologis dari efek ( Health Surveillance )- Tujuan monitoring biologis dari efek adalam memprediksi dosis internal untuk menilai hubungan dengan resiko kesehatan, mengevaluasi status kes dari individu yang terpapar & mengidentifikasi tanda efek negatif akibat suatu paparan, misalnya kelainan fungsi paru.

2.8. Pencegahan dan Penanggulangan1. Program Promosi Kesehatan (Health Promotion)A. Peningkatan kesehatan (health promotion), Misalnya; Pendidikan kesehatan (diadakan informasi kesehatan (dalam toolbox meeting/safety moment, mengadakan training tentang SOP bekerja), Meningkatkan gizi yang baik (kontrol berat badan dan gizi: menyediakan buah-buahan/fruit day di kantor, pola makan sehat), Berhubungan dengan Risiko kesehatan kerja, fokus pada bahaya-bahaya potensial dan langkah preventif praktis.Bagaimana melindungi kesehatannya, termasuk tindakan proteksi dan penggunaan APD. Motivasi kerja pekerja untuk berperilaku yang sehat dan aman di tempat kerja. Peningkatan perilaku safety awareness (reward & punishment bila tidak memakai PPE dgn lengkap), Adanya wellness program, seperti kebugaran fisik, Manajemen stress, penghentian merokok, penyalahgunaan obat & alkohol, Pendidikan dan pengetahuan mengenai tekanan darah, Pengurangan kolesterol, Kontrol berat badan. Perusahaan yg sehat dan fasilitas yg memadai dengan melengkapi ahli Hygiene industri, ahli Occupational health), Lingkungan kerja yang sehat (Menggunakan zat kimia yg lebih baik dari sebelumnya, mengurangi proses kimia kontak dengan pekerja (digantikan dengan Mesin otomatis), Tidak merusak lingkungan, houseekeeping dan pemeriksaan kesehatan periodik. B. Perlindungan khusus (spesific protection) Misalnya; Safety equipment process nya, Engineering design, APD, hygine perorangan, sanitasi lingkungan, serta proteksi terhadap bahaya limbah dan kecelakaaan kerja. C.Deteksi dini dan pengobatan tepat (early diagnosis and prompt treatment) Pemeriksaan dini (screening) untuk pekerja yang memiliki faktor risiko tinggi terhadap kanker (yang memiliki riwayat pekerjaan di area kerja berbahaya, merokok, sering muncul batuk parah, ada keturunan). D. Membatasi kecacatan (disability limitation) Misalnya; memeriksa dan mengobati tenaga kerja secara komprehensif, mengobati tenaga kerja secara sempurna. E. Pemulihan kesehatan (rehabilitation) Misalnya; Sedapat mungkin perusahaan mencoba menempatkan karyawan- karyawan cacat di jabatan yang sesuai, menyediakan tempat kerja yang dilindungi, dan terapi kerja di rumah sakit.

2. Program Pencegahan Eliminasi (menghilangkan bahaya kimia, dengan mengurangi kontak dengan zat kimia ) Subsitusi (mengganti bahan, proses, / pun peralatan , mengurangi bahan pembersih kimia yg kurang berbahaya, mengganti bahan baku) Engineering control (memisahkan bahaya dengan pekerja dengan, mengisolasi tempat bahan kimia dengan lemari asam, dipasang blower, ventilasi udara) Sistem peringatan ( memberikan peringatan, instruksi, tanda bahaya, label kewaspadaan akan lokasi bahaya tsb) Pengendalian Administratif ( metode pekerjaan, SOP, pelatihan, pengawasan, perilaku, jadwal kerja, rotasi kerja) PPE (face shield, sarung tangan, kacamata, chemical suit, dll.)

BAB IIIPENUTUP

3.1 KesimpulanKanker Akibat Kerja merupakan bagian dari Penyakit Akibat Kerja (ILO, 2010). Penyakit tersebut memiliki target organ antara lain paru-paru, kulit, gastrointestinal, kandung kemih, otak dan lain-lain. Interaksi pajanan dan gangguan kesehatan meliputi 3 elemen yaitu lingkungan kerja, alat bekerja dan jenis pekerjaan. Jenis penyakit dan penyebabnya sesuai dengan target organ dan pajanannya.Pekerja yang berisiko adalah pekerja yang bekerja untuk industri tambang, konstruksi, petrochemical, manufaktur dan lain-lain. Gejala klinis dari masing-masing orang akan berbeda-beda, sehinga perlu dilakukan surveilans kesehatan yang meliputi Surveilans Hazard Kesehatan, Surveilans Efek Kesehatan dan Biomonitoring terkait dampak pajanan sesuai parameter Indeks Pajanan Biologis (IPB). dan surveilans lingkungan kerja, dimana hal tersebut saling keterkaitan.Program pencegahan kanker akibat kerja dapat dilakukan melalui promosi kesehatan dengan pendekatan perilaku, keturunan dan layanan kesehatan yaitu dengan pola hidup sehat, penyuluhan dan mencari infromasi terkait kanker serta lakukan deteksi dini.Pengendalian risiko terpajan bahaya kanker (karsinogen) di tempat kerja dengan penilaian risiko kanker akibat kerja serta melakukan pencegahan berdasarkan hirarki kontrol dan hazardous communication.

DAFTAR PUSTAKA

Asian Cancer. (n.d.). Retrieved Juli 1, 2014, from http://www.asiancancer.comAsih, Niluh G. 2003.Keperawatan Medikal Bedah: Klien dengan Gangguan Sitem Pernapasan. Jakarta: EGC. Hal 161-162.Buchari. 2007. Penyakit AKibat Kerja dan Penyakit Terkait Kerja. USU Repository CDC. (2013). Cancer. Retrieved June 27, 2014, from topics: http://www.cdc.govCorwin, Elizabeth J. 2005. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC. Hal. 576-577.Gibson, John alih bahasa ni luh gede yasmin asin SKp. 1995. Anatomi dan Fisiologi Modern untuk Perawat. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGCHorn, L; Pao W, Johnson DH. (2012). Principles of Internal Medicine (ed. 18th). McGraw-Hill.HSE. (2013). Occupational Cancer in Great Britain. Health and Safety Executive.ILO. (2010). ILO List of Occupational Diseasess. Switzerland: Programme on Safety and Health at Work and the Environment (SafeWork) International Labour Office.Kemenakertrans RI. (2008). Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per.25/Men/XII/2008 Tentang Pedoman Diagnosis Dan Penilaian Cacat Karena Kecelakaan Dan Penyakit Akibat Kerja.Kurniawidjaja, L. M. (2012). Teori dan Aplikasi Kesehatan Kerja. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.Oxford Univesrsity. (2013). Oxford Handbook of Occupational Health (2 ed.) . (F. D. Julia Smedley, Ed.) Oxford: Oxford University Press.Palupi, widyastuti. Hazardous Chemicals in Human and Environmental Health (WHO/PCS/00.1). 2000. Bahaya bahan kimia pada kesehatan manusia dan lingkungan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Pedoman Diagnosis dan Penatalaksaan di Indonesia. 2003. Kanker Paru. Perhimpunan Dokter Paru IndonesiaSumamur. 1988. Penyakit Kanker Akibat kerja dan Pencegahannya.Sutisna, Himawan. 1990. Patologi. Jakarta: Bagian Patologi Anatomik Falkutas Kedokteran UIWorkplace Safety and Health Council. Workplace safety and health guidelines diagnosis and management of occupational diseases. Singapore: WSH Council; 2012http://manajemenrumahsakit.net/2014/01/prevalensi-kanker-di-indonesia-dan-dunia/ diakses pada 18 Oktober 2014http://www.antaranews.com/berita/174586/kanker-paru-paru-berkaitan-dengan-tempat-kerja diakses pada 18 Oktober 2014http://www.klikpdpi.com/jurnal-warta/jri-01-07/jurnal-2.html diakses pada 18 Oktober 2014www.repository.usu.ac.id diunduh pada tanggal 20/10/2014 pada pukul 13:25www.library.upnvj.ac.id/pdf/diunduh pada tanggal 20/10/2014 pada pukul 13:30www.file.upi.edudiunduh pada tanggal 20/10/2014 pada pukul14;00