Kasus 2 Edit

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kasus

Text of Kasus 2 Edit

KASUS 2PENYAKIT ENDEMIKSeseorang dokter umum telah bekerja selama 6 bulan di Puskesmas yang terletak di suatu kepulauan. Wilayah pekerja puskesmas banyak terdapat lagoon, rawa dan genangan air. Wilayah ini menjadi endemik malaria dan endemik filaria dengan mikrofilarial rate 9%. Bulan ini ditemukan 2 kejadian DBD dan 15 kasus chikungunya. Selama ini diagnosis malaria hanya berdasarkan kondisi klinis, kadang-kadang dengan rapid diagnostic test , dan belum pernah ada pelatihan khusus kepada puskesmas mengenai pengobatan dan pengelolaan malaria. Serangkaian program pengendalian telah disiapkan oleh dokter tersebut selain kegiatan rutin di Puskesmas. Beberapa petugas bersemangat untuk ikut serta dalam program tersebut, namun ada pula yang merasa kegiatan tersebut hanya menambah beban kerja.STEP 11. Penyakit endemik : dari bahasa yunani en = dalam, demos= rakyat. Endemik yaitu suatu keadaan dimana penyakit secara tetap dalam populasi masyarakat tertentu.2. Lagoon : - suatu air asin yang terpisah dari laut3. Filariasi : penyakit infeksi yang disebabkan oleh filarial : wucheria bancrofti, brugia malayi, brugia timori4. Rapid diagnostic test : cara alternative untuk menegakan diagnostik infeksi malaria dengan mendeteksi antigen malaria tertentu dalam darah, menggunakan antibodi monokomal5. Microfilarial rate : (mf- rate ) angka yang menunjukan tingkat endemisitas filariasis pada populasi tertentu6. DBD : Demam Berdarah Dengue, di tandai dengan adanya pembesaran plasma7. Chikungunya : penyakit menyerupai dengue yang di sebabkan oleh alphavirus, di tularkan oleh gigitan nyamuk 8. Malaria : penyakit akut/kronis yang disebabkan oleh protozoa genus plasmodium yang di tandai dengan panas, anemia, dan splenomegali. STEP 21. Macam macam penyakit endemik ?2. Hubungan wilayah dengan penyakit endemik ?3. Mikroorganisme yang menyebabkan penyakit endemik ?4. Cara melakukan Rapid Diagnostic test?5. Cara menegakan diagnostik malaria ?6. Cara pengendalian penyakit endemic?7. Patogenesis : malaria, DBD, chikungunya, filariasis ?8. Program P2M penyakit endemik ?9. Masalah penyakit endemik ?STEP 31. Penyakit endemik : TBC- Rubella- Leptospirosis Kaki gajah- Eksantena- DBD Malaria- Kolera- Chikungunya Rabies- Amoebiasis- Filariasis Campak- Difteri- Avian influenza HIV/AIDS- Brucelosis- SARS2. Hubungan wilayah dengan penyakit endemik Wilayah banyak genangan air ( vector nyamuk ) : penyakit malaria, filariasis, DBD dan chikungunya. Keadaan wilayah tertentu dapat menyebabkan penyakit endemik tertentu pada wilayah tersebut contoh : Jakarta banjir leptospirosis Cirebon wilayah transit HIV/AIDS Perternakan leptospira leptospirosis3. Mikroorganisme yang menyebabkan penyakit endemik Virus : a. HIV AIDS, b. Virus dengue DBD/DB c. Virus Rubella Rubella d. H5N1 Avian influenza e. H1N1 Swine fluf. Virus campakg. SARS Bakteri : a. Mycobacteria tuberculosis TBC b. Brucella brucellosis c. Leptospira Leptospirosis d. Vibro cholera kolera e. Entamoeba amoebiasasis f. Corynobacterium diftheriae difteri Parasit : a. protozoa plasmodium malaria b. cacing nematode wucheria bancrofti filariasis

4. Rapid diagnostic test ( RDT )Prinsip : menangkap target antigen yang di produksi oleh plasmodium dalam peredaran darah, alat berupa stik5. Anamnesis , pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang ( sediaan darah hapus dan RDT )6. Pengendalian penyakit endemik malaria, DBD, filariasis : Mengembangkan teknologi untuk menyebabkan nyamuk infertil dan banyak jantan Menyimpan ikan untuk memakan jentik nyamuk 3 M ( menutup, menguras, mengubur ) Pemberian pil Quina ( Quinine Sulphate )7. Patogenesis a. Malaria Nyamuk -> plasmodium -> sporozoit -> hepar -> menozoit hepar ( Exo-erytrositik schizogony ) -> eritrosit ( erythtrocytic schizogony ) -> trofozoit -> skizon -> reproduksi seksual -> gametosit : mikro dan makro -> zigot -> ookinet -> ookista -> sporozoit.b. Filariasis Parasit wucheria bancrofti > Limfadenitis Nyamuk menggigit manusia -> microfilaria mengikuti peredaran darah jaringan limfe -> tumbuh dewasa -> microfilaria baru -> penyumbatan limfatik -> aliran limfatik tidak normal -> bengkak.c. Perbedaan DBD dan DBDBD : perembesan plasmaDB : tidak ada perembesan plasmad. Chikungunya (SB)8. P2M penyakit : Preventif : menguras bak mandi Promotif : penyuluhan Kuratif : tergantung gejala Rehabilitasi : pemulihan dan perawatan9. Masalah penyakit endemik di Indonesia Lingkungan tropis Kualitas penduduk Indonesia

Penyakit EndemikSTEP 4

Macam-macam penyakit endemikHubungan wilayah dengan penyakit endemik pada kasusCara pengendalian penyakit pada endemik kasusP2MMasalah penyakit endemik di indonesia

Diagnosis Rapid diagnosis testpatogenesisMalaria Filariasis DBDChikungunya STEP 51. Cara menegakan diagnosis malaria2. Patogenesis chikungunya3. Pengendalian penyakit endemik 4. Masalah penyakit endemik indonesia

STEP 6

1. Penengakkan Diagnosis malariaDiagnosis malaria ditegakan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis pasti dibuat dengan ditemukannya parasit malaria dalam pemeriksaan mikroskopik laboratorium.a. Gejala klinis AnamnesisKeluhan utama yang sering muncul adalah demam lebih dari dua hari, menggigil, dan berkeringat (sering disebut sebagai trias malaria). Demam pada keempat jenis malaria berbeda sesuai dengan proses skizogoninya. Demam karena P. falcifarum dapat terjadi setiap hari, pada P. vivax atau ovale demamnya berselang satu hari, sedangkan demam pada P. malariae menyerang beselang dua hari. Sumber penyakit harus ditelusuri:1. apakah pernah bepergian dan bermalah di daerah endemik malaria dalam satu bulan terakhir2. Apakah pernah tinggal di daerah endemik3. Apakh pernah menderita penyakit ini sebelumnya4. Apakah pernah meminum obat malariaKecurigaan adanya tersangka malaria berat dapt dilihat dari adanya tersangka malaria berat dapat dilihat dari adanya satu gejala atau lebih, yaitu:1. Gangguan kesadaran2. Kelemahan3. Kelumpuhan otot, kejang-kejang4. Keuningan pada mata atau kulit5. Adanya pendarahan hidung atau gusi, muntah darah atau berak darah.Selain itu adalah adanya keadaan panas yang tinggi, muntah yang terjadi terus-menerus, perubahan warna air kencing menjadi seperti teh, dan volume air kencing yang berkurang sampai tidak keluar air kencing sama sekali. Pemeriksaan fisikPasien mengalami:1. Demam 37,5-400C 2. Anemia yang dibuktikan dengan konjungtiva palpebra yang pucat.3. Pembesaran limpa (splenomegali)4. Pembesaran hati (hepatomegali)Bila terjadi serangan malaria berat, gejala dapat diserta dengan syok yang ditandai dengan menurunnya tekanan darah, nadi berjalan cepat dan lemah, serta frekuensi napas meningkat.Pada penderita malaria berat:1. Penurunan kesadaran2. Dehidrasi3. Manifestasi pendarahan4. Ikterik5. Gangguan fungsi ginjal6. Pembesaran hati dan limpa7. Munculnya gejala neurologis (refleks patologis dan kaku kuduk)b. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan MikroskopisPemeriksaan ini meliputi pemeriksaan darah yang menurut teknis pembuatannya dibagi menjadi preparat darh (SDr, sediaan darah) tebal dan preparat darah tipis, untuk menetukan ada tidaknya parasit malaria dalam darah. Melalui pemeriksaan ini dapat dilihat jenis plasmodium dan stadiumnya (P. vivax, P. falcifarum, P. ovale, P. malariae, trofozoit, skizon, dan gametosit) serta kepadatan parasitnya.Kepadatan parasit dapat dilihat melalui dua cara yaitu semi-kuantitaif dan kuantitatif. Metode semi-kuantitatif adlah menghitung parasit dalam LPB (lapang pandang besar) dengan rincian sebagai berikut:(-): SDr negatif (tidak ditemukan parasit dalam 100 LPB)(+): SDr positif 1 (ditemukan 1-10 parasit dalam 100 LPB)(++): SDr positif 2 (ditemukan 11-100 parasit dalam 100 LPB) (+++): SDr positif 3 (ditemukan 1-10 parasit dalam 1 LPB)(++++) : SDr positif 4 (ditemukan 11-100 parasit dalam 1 LPB)

Penghitungan kepadatan parasit secara kuantitatif pada SDr tebal menghitung jumlah parasit per 200 leukosit. Pada SDr tipis, jumlah parasit per 1000 eritrosit. Tes Diganostik Cepat (RDT, Rapid Diagnostic Test)Seringkali KLB, diperlukan tes yang cepat untuk dapat menanggulangi malaria di lapangan dengan cepat. Metode ini mendeteksi adanya antegen malaria dalam darah dengan cara imunokromatografi. Dibandingkan uji mikroskopis, tes ini mempunyai kelebihan yaitu hasil pengujian dengan cepat dapat diperoleh, tetapi lemah dalam spesifisitas dan sensitivitasnya.

c. Pemeriksaan penunjangPemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi umum penderita, meliputi pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah leukosit, eritrosit, dan trombosit. Bisa juga dilakukan pemeriksaan kimia darah (gula darah, SGOT, SGPT, tes fungsi ginjal) serta pemeriksaan foto toraks, EKG, dan pemeriksaan lainnya sesuai indikasi.2. Patogenesis chikungunya

Setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi, virus bereplikasi di dalam organ-organ limfoid dan mieloid dan kemudian merangsang imunitas seluler dan humoral yang menyebabkan timbulnya manifestasi penyakit ini. Kerusakan akibat peradangan pada tulang rawan dalam bentuk nekrosis, kolagenosis dan fibrosis menyebabkan timbulnya gejala-gejala persendian. Hal ini terbukti melalui penelitian biokimia yang menunjukkan adanya peningkatan jumlah mukopolisakarida, hidroksiprolin dan prolin di dalam urine penderita chikungunya.

Virus chikungunya masuk ke dalam aliran darah (viremia) selama 4-7 hari --> virus melakukan replikasi --> merangsang imunitas selular dan humoral --> bila pasien mengalami imunocompromise --> maka akan timbul beberapa manifestasi klinis --> myalgia (nekrosis), athralgia dan demam --> fase demam terjadi ketika virus sudah masuk ke dalam sistem peredaran darah --> merangsang termostat dalam tubuh akibat adanya respon pada hipotalamus --> sementara athralgia dan myalgia -->terjadi karena kerusakan akibat perada