kasus lehman

  • View
    862

  • Download
    114

Embed Size (px)

Text of kasus lehman

45

BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang MasalahDi era globalisasi ini, profesi akuntan publik sangat berperan penting dalam dunia bisnis. Profesi akuntan publik memiliki tempat yang istimewa karena hampir dibutuhkan oleh organisasi apapun, baik perusahaan swasta, BUMN/BUMD, perusahaan multinasional, perusahaan asing, pemerintahan, dan organisasi nirlaba sekalipun. Kondisi yang demikian, menjadikan seorang akuntan publik dituntut untuk mampu bertindak secaara profesional sesuai dengan etika profesional audit. Integritas, independen, dan profesionalisme merupakan suatu keharusanyang dimiliki oleh seorang auditor dalam menjalankan setiap tugasnya. Kebutuhan profesi akuntan publikmeningkat seiring dengan perkembangan banyaknya perusahaan yang sudah go public,dimana perusahaan harus menyajikan laporan keuangan yang telah diaudit mutlak sebagai standar perusahaan go public.Untuk itu profesi auditor sekarang banyak diburu karena merupakan pekerjaan yang dianggap menjanjikan. Profesi akuntan publik pun dianggap sebagai profesi yang mempunyai prospek ke depan yang cerah, baik sebagai auditor pemerintah, auditor independen, auditor intern, hingga auditor pajak. Sehingga semakin banyak orang yang mendirikan KAP (Kantor Akuntan Publik). KAP tersebut menyediakan jasa laporan audit keuangan, jasa audit khusus, jasa atestasi, jasa review laporan keuangan, serta jasa konsultasi dan jasa konsultasi pajak. Seiring dengan berkembangnya jasa akuntan publik, banyak KAP yang tidak mamatuhi kode etik akuntan publik. Dimana kebanyakan dari mereka sudah tidak independen lagi dalam melakukan tugasnya. Mereka cenderung bekerjasama dengan kliennya untuk memenuhi kepentingan dari pihak kliennya itu sendiri. Seperti pada kasus bangkrutnya perusahaan besar di Amerika Serikat, yaitu Lehman Brothers yang turut menyeret KAP Ernst & Young KAP Ernst & Young diduga tidak teliti memeriksa laporan keuangan yang disajikan Lehman Brothers dan mengeluarkan hasil audit palsu atas laporan keuangan Lehman Brothers.B. Rumusan MasalahBerdasarkan uraian latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penulisan ini sebagai berikut : Apakah Auditor KAP Ernst & Young Telah Melaksanakan Tugasnya Sesuai dengan Kode Etik Profesi yang Ada?.C. Tujuan Penulisan1. TujuanBerdasarkan uraian latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka tujuan dalam penulisan ini sebagai berikut : Untuk mengetahui apakah Auditor KAP Ernst & Young Telah Melaksanakan Tugasnya Sesuai dengan Kode Etik Profesi yang Ada?.2. ManfaatDi samping memiliki tujuan, penulisan skripsi ini juga memiliki manfaat. Penulisan ini diharapkan akan memberikan manfaat kepada pihak-pihak yang membutuhkan yaitu, sebagai bahan referensi dan sumber informasi pengetahuan bagi penulis dan pembaca.

BAB IIPEMBAHASANA. Uraian Teoritis1. Teory Agency ( Teori Keagenan ) Teori keagenan merupakan basis teori yang mendasari praktik bisnis perusahaan yang dipakai selama ini. Teori tersebut berakar dari sinergi teori ekonomi, teori keputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Prinsip utama teori ini menyatakan adanya hubungan kerja antara pihak yang memberi wewenang yaitu investor dengan pihak yang menerima wewenang (agensi) yaitu manajer. Dalam teori keagenan (agency theory), hubungan agensi muncul ketika satu orang atau lebih (principal) memperkerjakan orang lain (agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agent tersebut. Hubungan antara principal dan agent dapat mengarah pada kondisi ketidakseimbangan informasi (asymmetrical information) karena agent berada pada posisi yang memiliki informasi yang lebih banyak tentang perusahaan dibandingkan dengan principal.Dengan asumsi bahwa individu-individu bertindak untuk memaksimalkan kepentingan diri sendiri, maka dengan informasi asimetri yang dimilikinya akan mendorong agent untuk menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui principal. Dalam kondisi yang asimetri tersebut, agent dapat mempengaruhi angka-angka akuntansi yang disajikan dalam laporan keuangan dengan cara melakukan manajemen laba. Berdasarkan UU No. 36 Tahun 2008. Menerangkan bahwa Manajemen laba riil dilakukan pada tahun terakhir sebelum penurunan tarif pajakKemudian, masalah keagenan juga akan timbul jika pihak manajemen atau agen perusahaan tidak atau kurang memiliki saham biasa perusahaan tersebut. Karena dengan keadaan ini menjadikan pihak manajemen tidak lagi berupaya untuk memaksimumkan keuntungan perusahaan dan mereka berusaha untuk mengambil keuntungan dari beban yang ditanggung oleh pemegang saham. Cara yang dilakukan pihak manajemen adalah dalam bentuk peningkatan kekayaan dan juga dalam bentuk kesenangan dan fasilitas perusahaan. Dijelaskan dalam Jensen dan Meckling (1976), Jensen (1986), Weston dan Brigham (1994), bahwa masalah keagenan dapat terjadi dalam 2 bentuk hubungan, yaitu; (1) antara pemegang saham dan manajer, dan (2) antara pemegang saham dan kreditor. Jika suatu perusahaan berbentuk perusahaan perorangan yang dikelola sendiri oleh pemiliknya, maka dapat diasumsikan bahwa manajerpemilik tersebut akan mengambil setiap tindakan yang mungkin, untuk memperbaiki kesejahteraannya, terutama diukur dalam bentuk peningkatan kekayaan perorangan dan juga dalam bentuk kesenangan dan fasilitas eksekutif. Tetapi, jika manajer mempunyai porsi sebagai pemilik dan mereka mengurangi hak kepemilikannya dengan membentuk perseroan dan menjual sebagian saham perusahaan kepada pihak luar, maka pertentangan kepentingan bisa segera timbul. Keadaan ini menjadikan manajer mungkin saja tidak sedemikian gigih lagi untuk memaksimumkan kekayaan pemegang saham karena jatahnya atas kekayaan tersebut telah berkurang sesuai dengan pengurangan kepemilikan mereka. Atau mungkin saja manajer menetapkan gaji yang besar bagi dirinya atau menambah fasilitas eksekutif, karena sebagian di antaranya akan menjadi beban pemegang saham lainnya.Konflik antara pemegang saham dengan kreditur.Kreditur menerima uang dalam jumlah tetap dari perusahaan (bunga hutang),sedangkan pendapatan pemegang saham bergantung pada besaran laba perusahaan. Dalam situasi ini, kreditur lebih memperhatikan kemampuan perusahaan untukmembayar kembali utangnya, dan pemegang saham lebih memperhatikan kemampuan perusahaan untuk memperoleh kembalian yang besar adalah melakukan investasi pada proyek-proyek yang berisiko. Apabila pelaksanaan proyek yangberisiko itu berhasil maka kreditur tidak dapat menikmati keberhasilan tersebut, tetapi apabila proyek mengalami kegagalan, kreditur mungkin akan menderita kerugian akibat dari ketidakmampuan pemegang saham untuk memenuhi kewajibannya. Untuk mengantisipasi kemungkinan rugi, maka kreditur melakukan pembatasanpenggunaan hutang oleh manajer. Salah satu pembatasan adalah membatasi jumlahpenggunaan hutang untuk investasi dalam proyek baru. Konflik antara pemegang saham dengan pihak manajemen walaupun telah dilakukan kontrak kerja yang sah antara pihak principal dan agent, namun di sisi lain pihak agent memiliki pengetahuan yang lebih banyak mengenaiperusahaan.Jensen dan Meckling dalam Isnanta (2008), menyatakan bahwa teori keagenan mendeskripsikan pemegang saham sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Manajemen merupakan pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan pemegang saham. Untuk itu manajemen diberikan sebagian kekuasaan untuk membuat keputusan bagi kepentingan terbaik pemegang saham. Oleh karena itu, manajemen wajib mempertanggungjawabkan semua upayanya kepada pemegang saham. Karena unit analisis dalam teori keagenan adalah kontrak yang melandasi hubungan antara prinsipal dan agen, maka fokus dari teori ini adalah pada penentuan kontrak yang paling efisien yang mendasari hubungan antara prinsipal dan agen. Untuk memotivasi agen maka prinsipal merancang suatu kontrak agar dapat mengakomodasi kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak keagenan. Kontrak yang efisien adalah kontrak yang memenuhi dua faktor, yaitu :a) Agen dan pinsipal memiliki informasi yang simetris artinya baik agen maupun majikan memiliki kualitas dan jumlah informasi yang sama sehingga tidak terdapat informasi tersembunyi yang dapat digunakan untuk keuntungan dirinya sendirib) Risiko yang dipikul agen berkaitan dengan imbal jasanya adalah kecil yang berarti agen mempunyai kepastian yang tinggi mengenai imbalan yang diterimanya.Teori keagenan mendeskripsikan hubungan antara pemegang saham (shareholders) sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Manajemen merupakan pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan pemegang saham. Karena mereka dipilih, maka pihak manejemen harus mempertanggungjawabkan semua pekerjaannya kepada pemegang saham. Menurut teori keagenan, konflik antara prinsipal dan agen dapat dikurangi dengan mensejajarkan kepentingan antara prinsipal dan agen. Kehadiran kepemilikan saham oleh manajerial (insider ownership) dapat digunakan untuk mengurangiagency costyang berpotensi timbul, karena dengan memiliki saham perusahaan diharapkan manajer merasakan langsung manfaat dari setiap keputusan yang diambilnya. Proses ini dinamakan denganbonding mechanism, yaitu proses untuk menyamakan kepentingan manajemen melalui program mengikat manajemen dalam modal perusahaan.Dalam suatu perusahaan, konflik kepentingan antara prinsipal dengan agen salah satunya dapat timbul karena adanya kelebihan aliran kas (excess cash flow). Kelebihan arus kas cenderung diinvestasikan dalam hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan utama perusahaan. Ini menyebabkan perbedaan kepentingan karena pemegang saham lebih menyukai investasi yang berisiko tinggi yang juga menghasilkanreturntinggi, sementara manajemen lebih memilih investasi dengan risiko yang lebih rendah. Terdapat tiga masalah utama dalam hubungan agensi, yaitu :a) Kontrol pemegang saham kepada manajer ;b) Biaya yang menyertai hubungan agensi ;c) Menghindari dan meminimalisasi biaya agensi.Hubungan agensi ini memotivasi setiap individu