Kebakaran Dan Illegal Logging

  • View
    9

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

nm

Transcript

A. Praktek Illegal Logging di IndonesiaMenurut pengertian dari Wikipedia Pembalakan liar (Illegal Logging) adalah kegiatan penebangan, pengangkutan dan penjualan kayu yang tidak sah atau tidak memiliki izin dari otoritas setempat. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Illegal logging merupakan sebuah tindak melanggar hukum. Praktek illegal logging di Indonesia bukanlah isu baru, ia telah berlangsung sejak masa Orde Baru. Penggundulan hutan dari waktu ke waktu menjunjukkan trend yang terus meningkat dan mengakibatkan hutan-hutan di pulau-pulau besar Indonesia, seperti Pulau Kalimantan, Sumatra, Irian Jaya, Jawa, dan Sulawesi, mengalami proses deforestasi yang sangat cepat.Menurut data olahan Tempo (22 Juli 2007), sejak tahun 2001 hingga 2006 jumlah penebangan illegal berkisar antara 19 hingga 27 juta meter kubik per tahun, atau rata-rata 23 juta meter kubik per tahun dalam 5 tahun terakhir. Angka tersebut jika dianalogikan dengan luas hutan yang ditebang mencapai 27 kilometer persegi setiap tahunnya, setara dengan 40 kali luas Jakarta. Epidemi llegal logging tidak hanya merambah kawasan hutan produksi negeri ini, tetapi juga kawasan hutan konservasi dan taman-taman nasional yang dilindungi demi menjaga kekayaan dan kelestarian keanekaragaman hayati. Laporan PBB tersebut menemukan bahwa praktek illegal logging terjadi di 37 dari 41 taman nasional di Indonesia, seperti Taman Nasional Tanjung Putting dan Taman Nasional Gunung Leuser. Jenis-jenis kayu yang menjadi objek aksi Illegal logging di Indonesia adalah kayu-kayu yang laku di pasaran internasional, seperti kayu ramin dan jelatung.Para aktor intelektual di balik praktek Illegal logging di Indonesia merupakan penjahat berkerah putih yang sepertinya tidak pernah terjerat oleh hukum. Mereka terdiri dari para pengusaha kayu (cukong kayu) dibantu oleh aparat militer dan polisi, pejabat pemerintah dan politisi yang korup, mafia peradilan, sampai sidikat penyelundupan internasional yang melakukan segala upaya untuk mengeksploitasi seluruh sumber daya hutan yang ada di Indonesia. Mereka sangat sukar untuk diadili karena mereka mampu membeli peradilan dengan uang hasil dari Illegal logging.Negara sudah sangat dirugikan oleh praktek Illegal logging. Departemen Kehutanan memprediksi kerugian ekonomi akibat praktek Illegal logging mencapai 30-40 triliun rupiah per tahun. Belum lagi kerugian ekologis dan sosial akibat pengrusakan hutan. Illegal logging dapat disebut sebagai biang keladi dari serangkaian bencana ekologis, seperti banjir, tanah longsor, dan yang baru-baru ini muncul ke permukaan, isu pemanasan global, serta menjadi ancaman terhadap habitat spesies-spesies yang terancam punah. Dalam konteks kehidupan sosial manusia, praktek Illegal logging harus dibayar mahalberupa hilangnya penghidupan tradisional masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan. Semestinya, masyarakat sekitar hutan bisa menikmati hasil hutan dan menjadikannya sebagai sumber penghidupan, tetapi kebanyakan hasil hutan dinikmati kalangan tertentuB. Faktor-Faktor Penyebab Praktek Illegal LoggingBanyak faktor yang menyebabkan tumbuh dan berkembangnya Illegal logging di Indonesia, baik faktor yang bersifat langsung maupun tidak langsung. Akar dari semua faktor tersebut adalah praktek korupsi yang sudah terstruktur dalam birokrasi-birokrasi pemerintah. Faktor-faktor tersebut diantaranya:1. Kegagalan Pasar Hasil HutanFaktor ini secara tidak langsung berpengaruh terhadap munculnya praktek Illegal logging di Indonesia. Pasar gagal dalam menyediakan kayu legal untuk kebutuhan industri sehingga timbulah pasar kayu ilegal, baik di dalam maupun di luar negeri.2. Praktek Korupsi, Kolusi, dan NepotismeKorupsi, kolusi, dan nepotisme yang mendarah daging dalam struktur birokrasi pemerintah ataupun institusi hukum dan peradilan menjadi faktor utama tumbuh dan berkembangnya praktek Illegal logging di Indonesia. Aksi suap-menyuap dalam pelaksanaan praktek Illegal logging telah menjadi hal biasa untuk memperlancar praktek tersebut. Praktek suap-menyuap tersebut berkembang mulai dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, dan juga aparat hukum dan keadilan.3. Kebijakan Pemerintah tentang KehutananPemerintah, baik lokal atau pusat, telah mengeluarkan peraturan-peraturan yang secara tidak langsung mendukung tumbuh dan berkembangnya praktek Illegal logging. Kebijakan tersebut biasanya dibuat berdasarkan agenda-agenda tersembunyi anggota dewan.

4. Ketidakpastian dan Keringanan HukumSanksi hukum yang dikenakkan kepada para cukong kayu Illegal logging terlalu ringan sehingga mereka tidak terdisinsentif untuk tidak melakukan praktek tersebut. Dan juga Undang-Undang yang melandasi hukum tersebut terkdang tidak jelas dan masih dimungkinkan adanya bias sehingga para cukong kayu ilegal masih mempunyai celah untuk lolos dari hukum.5. Kurangnya koordinasi antara Departemen-departemen pemerintahKoordianasi antar departemen-depertmen pemerintah dan juga aparat hukum dan peradilan kurang sehingga menimbulkan celah untuk melakukan perbuatan suap-menyuap untuk memperlancar dalam lingkungan departemen tertentu.6. Integritas dan transparansi antar aparat hukum rendahIntegritas penegak hukum (Polisi hutan, Polri, Jaksa, TNI, hakim) yang sangat rendah yang berpotensi melahirkan kompromi-kompromi dalam proses penegakan hukum. Transparansi pelaksanaan hukum yang rendah juga memungkinkan terjadinya praktek korupsi dan kolusi mendukung Illegal logging menjadi lebih mudah.

Dampak Illegal Logging bagi Indonesia dan dunia

Penebangan hutan secara ilegal itu sangat berdampak terhadap keadaan ekosistem di Indonesia.Penebangan memberi dampak yang sangat merugikan masyarakat sekitar, bahkan masyarakat dunia. Kerugian yang diakibatkan oleh kerusakan hutan tidak hanya kerusakan secara nilai ekonomi, akan tetapi juga mengakibatkan hilangnya nyawa yang tidak ternilai harganya. Adapun dampak-dampakIllegal Loggingsebagai berikut.

Pertama, dampak yang sudah mulai terasa sekarang ini adalah pada saat musim hujan wilayah Indonesia sering dilanda banjir dan tanah longsor. Menurut kompas, pada tahun 2007 Indonesia telah mengalami 236 kali banjir di 136 kabupaten dan 26 propinsi, disamping itu juga terjadi 111 kejadian longsor di 48 kabupaten dan 13 propinsi.

Banjir dan tanah longsor di Indonesia telah memakan korban harta dan jiwa yang sangat besar. Kerusakan lingkungan yang paling terlihat yaitu di daerah Sumatera yang baru saja dilanda banjir badang dan tanah longsong sangat parah. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang kehilangan harta benda, rumah, dan sanak saudara mereka akibat banjir dan tanah longsor. Bahkan menurut Kompas, di Indonesia terdapat 19 propinsi yang lahan sawahnya terendam banjir dan 263.071 hektar sawah terendam dan gagal panen.Banjir dan tanah longsor ini terjadi akibat dariIllegal Loggingdi Indonesia. Hutan yang tersisa sudah tidak mampu lagi menyerap air hujan yang turun dalam curah yang besar, dan pada akhirnya banjir menyerang pemukiman penduduk. Para pembalak liar hidup di tempat yang mewah, sedangkan masyarakat yang hidup di daerah dekat hutan dan tidak melakukanIllegal Logginghidup miskin dan menjadi korban atas perbuatan biadap para pembalak liar. Hal ini merupakan ketidakadilan sosial yang sangat menyakitkan masyarakat.Kedua,Illegal Loggingjuga mengakibatkan berkurangnya sumber mata air di daerah perhutanan. Pohon-pohon di hutan yang biasanya menjadi penyerap air untuk menyediakan sumber mata air untuk kepentingan masyarakat setempat, sekarang habis dilalap para pembalak liar. Hal ini mengakibatkan masyarakat di daerah sekitar hutan kekurangan air bersih dan air untuk irigasi.Menurut kompas, pada tahun 2007 ini tercatat 78 kejadian kekeringan yang tersebar di 11 propinsi dan 36 kabupaten.Ketiga, semakin berkurangnya lapisan tanah yang subur. Lapisan tanah yang subur sering terbawa arus banjir yang melanda Indonesia. Akibatnya tanah yang subur semakin berkurang. Jadi secara tidak langsungIllegal Loggingjuga menyebabkan hilangnya lapisan tanah yang subur di daerah pegunungan dan daerah sekitar hutan.Keempat,Illegal Loggingjuga membawa dampak musnahnya berbagai fauna dan flora, erosi, konflik di kalangan masyarakat, devaluasi harga kayu, hilangnya mata pencaharian, dan rendahnya pendapatan negara dan daerah dari sektor kehutanan, kecuali pemasukan dari pelelangan atas kayu sitaan dan kayu temuan oleh pihak terkait. Hingga tahun 2005, setiap tahun negara dirugikan Rp 50,42 triliun dari penebangan liar dan sekitar 50 persen terkait dengan penyelundupan kayu ke luar negeri.Semakin langkanya orang utan juga merupakan dampak dari adanyaIllegal Loggingyang semakin marak di Indonesia. Krisis ekonomi tergabung dengan bencana-bencana alam danIllegal Loggingoleh manusia membawa orang utan semakin terancam punah. Selama 20 puluh tahun belakangan ini kira-kira 80% hutan tempat orang utan tinggal sudah hilang. Pada waktu kebakaran hutan tahun 1997-1998 kurang lebih sepertiga dari jumlah orang utan liar dikorbankan juga. Tinggal kira-kira 12.000 sampai 15.000 ekor orang utan di pulau Borneo (dibandingkan dengan 20.000 pada tahun 1996), dan kira-kira 4.000 sampai 6.000 di Sumatra (dibandingkan dengan 10.000 pada tahun 1996). Menurut taksiran para ahli, orang utan liar bisa menjadi punah dalam jangka waktu sepuluh tahun lagi. Untuk kesekian kalinya masyarakat dan flora fauna yang tidak bersalah menjadi korbanIllegal Logging. Ini akan menjadi pelajaran yang berharga bagi pemerintah dan masyarakat agar ikut aktif dalam mengatasi masalahIllegal Loggingdi Indonesia.Kelima, dampak yang paling kompleks dari adanyaIllegal Loggingini adalahglobal warmingyang sekarang sedang mengancam dunia dalam kekalutan dan ketakutan yang mendalam. Bahkan di Indonesia juga telah megalami dampakglobal warmingyang dimulai dengan adanya tsunami pada tahun 2004 di Aceh yang menewaskan ratusan ribu orang di Indonesia dan negara-negara tetangga.Global warmingmembawa dampak seringnya terjadi bencana alam di Indonesia,