of 85/85
KEDUDUKAN BADAN USAHA MILIK DESA DALAM UPAYA MENINGKATKAN PEREKONOMIAN DESA (Studi Di BUMDes Swadesa Artha Mandiri Desa Wonomarto Kabupaten Lampung Utara) (Skripsi) Oleh INDAH CINTIA BAGIAN HUKUM TATA NEGARA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2019

KEDUDUKAN BADAN USAHA MILIK DESA DALAM UPAYA …digilib.unila.ac.id/57631/3/SKRIPSI TANPA BAB PEMBAHASAN.pdf · Badan Usaha Milik Desa yang selanjutnya disebut BUMDes merupakan salah

  • View
    15

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of KEDUDUKAN BADAN USAHA MILIK DESA DALAM UPAYA …digilib.unila.ac.id/57631/3/SKRIPSI TANPA BAB...

  • KEDUDUKAN BADAN USAHA MILIK DESA DALAM UPAYA MENINGKATKAN

    PEREKONOMIAN DESA

    (Studi Di BUMDes Swadesa Artha Mandiri Desa Wonomarto Kabupaten Lampung

    Utara)

    (Skripsi)

    Oleh

    INDAH CINTIA

    BAGIAN HUKUM TATA NEGARA

    FAKULTAS HUKUM

    UNIVERSITAS LAMPUNG

    BANDAR LAMPUNG

    2019

  • ABSTRAK

    KEDUDUKAN BADAN USAHA MILIK DESA DALAM UPAYA MENINGKATKAN

    PEREKONOMIAN DESA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 6 TAHUN

    2014 TENTANG DESA

    (Studi Di BUMDes Swadesa Artha Mandiri Desa Wonomarto Kabupaten Lampung

    Utara)

    Oleh

    INDAH CINTIA

    Badan Usaha Milik Desa yang selanjutnya disebut BUMDes merupakan salah satu alternatif

    untuk meningkatkan ekonomi di pedesaan. BUMDes merupakan lembaga usaha desa yang

    dikelola oleh masyarakat dan pemerintah desa dalam upaya memperkuat perekonomian desa

    dan dibentuk berdasarkan kebutuhan dan potensi desa. Tetapi sayangnya kedudukan

    BUMDes belum sepenuhnya diatur secara lengkap dalam peraturan perundang-undangan

    yang ada. Permasalahan lain yang lebih kompleks adalah dalam hal Implikasi BUMDes

    dalam upaya meningkatkan perekonomian desa. Penelitian ini menggunakan tipe dan jenis

    penelitian normatif empiris . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana

    kedudukan BUMDes Swadesa Artha Mandiri di desa wonmarto dan juga untuk mengetahui

    Implikasi yang diberikan terhadap Pendapatan Asli Desa. Hasil penelitian meunjukkan bahwa

    walaupun masih baru, BUMDes Swadesa Artha Mandiri merupakan salah satu BUMDes

    yang pengelolaannya sudah baik di Kabupaten Lampung Utara sehingga menjadi rujukan

    desa lain untuk berkunjung. Proses pengelolaan BUMDes berjalan dengan baik dan sesuai

    dengan dengan tujuan didirikannya BUMDes.

    Kata Kunci: BUMDes, Kedudukan , Implikasi

  • ABSTRACT

    THE POSITION OF BUMDES IN AN EFFORT TO IMPROVE THE VILLAGE

    ECONOMY BASED ON LAW NUMBER 6 YEAR 2014 ABOUT VILLAGE

    (Study In The BUMDes Swadesa Artha Mandiri Wonomarto Village North Lampung

    Regency)

    BY

    INDAH CINTIA

    Badan Usaha Milik Desa thereafter called BUMDes is an alternative to improve the rural

    economy. BUMDes is lembaga usaha desa (Village Business Institutions) that managed by

    the community and government of the village for the effort to strengthen the village‟s

    economy and it formed based on the needs and potential of the village. Unfortunately,

    however. The position of BUMDes had not been governed completely in existing legislation.

    Another more complex problem is in terms of the implications of village planning in an effort

    to improve the village economy. This study uses types and types of empirical normative

    research. This study aims to find out how the position of the BUMDes Swadesa Artha

    Mandiri in the wonomarto village an also knows the implications given to the income on the

    village original income. The results of the study indicate that event thougt it is still new,

    BUMDes Swadesa Artha Mandiri is one of the BUMDes whose management is already good

    in North Lampung Regency, so that it becomes another village reference for visits. The

    management Process of BUMDes is going well in accordance with the objectives of the

    establishment of BUMDes.

    Keyword : BUMDes, Position, Implication

  • KEDUDUKAN BADAN USAHA MILIK DESA DALAM UPAYA MENINGKATKAN

    PEREKONOMIAN DESA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NO. 6 TAHUN

    2014 TENTANG DESA

    (Studi Di BUMDes Swadesa Artha Mandiri Desa Wonomarto Kabupaten Lampung

    Utara)

    Oleh

    INDAH CINTIA

    Skripsi

    Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar

    SARJANA HUKUM

    pada

    Bagian Hukum Tata Negara

    Fakultas Hukum Universitas Lampung

    FAKULTAS HUKUM

    UNIVERSITAS LAMPUNG

    BANDAR LAMPUNG

    2019

  • RIWAYAT HIDUP

    Penulis lahir di Kotabumi Lampung Utara pada tanggal 19 Juni Tahun

    1998, merupakan anak pertama dari pasangan Bapak Sutiono dan Ibu

    Soleha. Penulis diterima di Fakultas Hukum Universitas Lampung pada

    tahun 2015 melalui jalur SBMPTN dan mendapatkan beasiswa

    Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) sebanyak dua kali selama kuliah.

    Riwayat Pendidikan penulis secara berurutan yaitu di SDN 6 Mulang Maya Kabupaten

    Lampung Utara (2006 s.d. 2011), SMPN 8 Kotabumi Kabupaten lampung Utara (2011 s.d.

    2013), SMAN 4 Kotabumi Kabupaten Lampung Utara dengan mengambil jurusan IPA (2013

    s.d. 2015) dan Fakultas Hukum Universitas Lampung (2015 s.d. 2019). Pada tahun 2017,

    penulis memilih untuk mengambil minat hukum ketatanegaraan di Bagian Hukum Tata

    Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung.

    Semasa kuliah penulis sempat aktif di beberapa Lembaga Kemahasiswaan intra dan

    organisasi di luar kampus, antara lain Anggota Bidang Alumni Dan Kerjasama UKM-F Pusat

    Studi Bantuan Hukum (PSBH) FH Unila, Ketua Himpunan Mahasiswa Hukum Tata Negara

    Fakultas Hukum Universitas Lampung, Anggota Himpunan Mahasiswa Lampung Utara.

    Penulis dapat dihubungi melalui alamat surat elektronik di [email protected]

    mailto:[email protected]

  • Motto

    “Memang benar yang namanya Mutiara akan berkilau setelah ia digosok, walaupun ia

    jatuh kekubangan air sekalipun, yang namanya mutiara tetap mutiara”

    “Seseorang itu adalah dia, yang baik agamanya dan juga ilmunya”

    Armen Yasir,S.H., M.Hum.-

    ”Wahai Nabi! Apabila perempuan-perempuan yang mukmin datang kepadamu untuk

    mengadakan bai„at (janji setia), bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu apa

    pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-

    anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki

    mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji

    setia mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah

    Maha Pengampun, Maha Penyayang”

    (Qs. Al Mumtahanah : 12)

  • PERSEMBAHAN

    Skripsi ini kupersembahkan kepada:

    Kedua orang tua,

    Mamah Soleha binti Suganda, Bapak Sutiono bin Hasan AS

    Adikku Tersayang Iyan Suwendi dan Intan Sukma Adelia

    Sahabat Seperjuangan di kampus

    Masyarakat Desa Yang Ada Di Lampung Utara

    Almamater tercinta,

    Bagian Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung

  • SANWACANA

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu

    Alhamdulillahirabbil „Alamin, penulis memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT

    pencipta alam semesta dan sekaligus pengatur segala sesuatu yang ada di dalamnya yang

    telah memberikan rahmat, taufiq, dan Inayah-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan

    skripsi ini pada waktu yang diharapkan.

    Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang

    telah membimbing manusia dari jalan yang bathil menuju jalan yang haq dan yang terang

    benderang ini.

    Penulis tidak akan bisa menyelesaikan skripsi ini tanpa adanya do‟a, dukungan, arahan dan

    bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu Penulis ingin menyampaikan permohonan

    terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

    1. Kedua orang tua saya Mamah Soleha dan Bapak Sutiono, Adek Iyan dan Adek Intan,

    semuanya merupakan Keluarga penulis yang jasanya tak bisa dituliskan dan

    terbalaskan;

    2. Prof. Dr. Maroni, S.H., M.H. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung

    beserta para Wakil Dekan: Prof. Dr. I Gede Arya Bagus Wiranata, S.H., M.H. selaku

    Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Hamzah, S.H., M.H. selaku Wakil Dekan

    Bidang Umum dan Keuangan, dan Sri Sulastuti, S.H., M.H. selaku Wakil Dekan

    Bidang Kemahasiswaan dan Alumni;

    3. Bapak Dr. Budiyono, S.H., M.H. selaku Ketua Bagian Hukum Tata Negara, Terima

    kasih bimbingannya;

  • 4. Ibu Dr. Chandra Perbawati,S.H., M.H. selaku Pembimbing I yang telah membimbing

    penulis sehingga bisa menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas bimbingan dan

    masukkan serta bantuan baik materil maupun non materil yang telah diberikan selama

    ini;

    5. Ibu Martha Riananda, S.H., M.H., selaku Pembimbing II yang telah berbagi ilmunya,

    sehingga skripsi dapat terselesaikan sesuai dengan kaidah penulisan yang seharusnya,

    Terima kasih atas masukan dan arahan yang telah diberikan;

    6. Ibu Dr. Yusnani Hasyimzoem, S.H., M.Hum. selaku dosen Penguji, terima kasih atas

    kritik, saran, dan masukkan yang diberikan sehingga skripsi ini menjadi lebih baik;

    7. Bapak Ade Arif Firmansyah, S.H., M.H., selaku Pembahas II yang selalu memberi

    arahan mengenai sistematika penulisan yang baik dan nasihatnya sebagai seorang

    dosen yang tak pernah akan penulis lupakan;

    8. Dosen-dosen di Bagian Hukum Tata Negara: Bapak Dr. Budiyono, S.H., M.H. selaku

    Ketua Bagian, Ibu Martha Riananda, S.H., M.H. selaku Sekretaris Bagian, Ibu Siti

    Khoiriah, S.H.I, M.H., Bapak Rudy, S.H., LL.M., LL.D. ,Bapak M. Iwan Satriawan,

    S.H., M.H., Bapak Ahmad Saleh, S.H., M.H., Ibu Yulia Neta, S.H., M.H. Bapak

    Yusdiyanto, S.H., M.H., Bapak Muhtadi, S.H., M.H., Bapak Zulkarnain Ridlwan,

    S.H., M.H, Bapak Yhannu Setyawan,S.H., M.H. dan Ibu Malicia Evendia, S.H.,

    M.H. dan yang terakhir Bapak Armen Yasir, S.H., M.Hum. (terimakasih sudah pernah

    menjadi pembimbing skripsiku pak, pesanmu, nasehatmu, kata-katamu akan selalu

    kuingat sampai kapanpun) Terima kasih atas segala ilmu yang telah diberikan semasa

    penulis mengambil mata kuliah pada Bagian Hukum Tata Negara Fakultas Hukum

    Universitas Lampung;

    9. Masyarakat yang ada di desa Wonomarto;

  • 10. Teman-teman seangkatan penulis di Fakultas Hukum Universitas Lampung: Lismarini

    Dewi, Meldha Latiefah azka, Endah Dwi Luciana, Ardestian Sulistiani, Fitri

    Liliandini, Mak Widya, Zahria Humairoh, dan Fitri Almunawaroh;

    11. Teman-teman seangkatan dengan penulis di Fakultas Hukum Universitas Lampung:

    Khalimatus Sa‟diah, Himmah A‟la Rufaida, Livia Sefany, Madinar, Vera Monica,

    Sintya eka, Yossie maysita, Diah Puji Lestari;

    12. Teman-teman HIMA HTN: Lismarini Dewi, Chaidir Ali, Kusmanto, M. Hadiyan

    Rasyadi, M. Mujib, Erwin Gumara, Kharisma Arif, Decky Adendy, Feri Kurniawan,

    M. Habibi, Eva Nopitasari, Adriansyah;

    13. Kakak-Kakak HIMA HTN: Kak Utia Meylina Umar , Kak Rudy Wijaya, Kak Anis

    Musana, kak Prisma, kak sandi, kak teta, kak iqbal, kak yudi, kak aryanto, bang

    hendi, kak tia nurhawa, dan kak jajang;

    14. Adik-adik HIMA HTN: Yeti yuniarsih, Rika Septiana, Maria, Tahta Rona Ya‟Cub,

    Ganiviantara, Madon, Fizal, Ricky, Ismi, Nuril, Amin, Eza dan Musthafa Azhom,

    Chandra Dio Divanie;

    15. Keluarga besar KKN Unila Periode I Tahun 2018 di Pekon Siliwangi Kecamatan

    Sukoharjo Kabupaten Pringsiwe: Kakek dan Nenek selaku pemilik rumah tinggal, Pak

    Kades dan Pak Carik Pekon Siliwangi dan temen-temen KKN : Galleh Saputri, Chika

    Tania, Nirmawati Situmorang, Maulana Adrian, Frengki, Aldi Riski Wibowo dan

    Luthfi . Semoga silaturrahmi kita terjalin sampai akhir hayat masing-masing;

    16. Sahabat Perjuangan SMP Hodijah Maha Putri, Sandi Ervanie, Adi, Reni, Aang, Yuk

    tia, Nisa, Helda, Wahyu, Bung egi, dan Rosita semoga kita sukses dan persahabatan

    terus berlanjut selamanya;

    17. Sahabat Perjuangan SMA Yuliza Citra, Rika dianti, Eka, Mak dwi, Maryati, Devi,

    Karni, Semoga selalu terjalin silaturahmi selamanya diantara kita;

  • 18. Civitas Akademika Fakultas Hukum Unila khususnya: Pak Marjiyono, S.Pd., Bang

    Opal, Bang Aziz, Bang Mad, Babe Sunarto, yang telah banyak membantu penulis

    selama kuliah;

    19. Dewan guru SDN 6 Mulang Maya, SMPN 8 Kotabumi dan SMAN 4 Kotabumi, yang

    telah menempa penulis selama di sekolah, tanpa proses yang diberikan, penulis belum

    tentu bisa melanjutkan jenjang pendidikan tinggi;

    20. Seluruh pihak yang telah membantu penulis baik dalam pengerjaan skripsi ini maupun

    membantu semasa kuliah yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

    Penulis sadar bahwa dalam skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan baik substansi

    maupun teknik penyajian, karenanya, penulis membuka kritik dan saran serta

    penyempurnaan terhadap skripsi ini agar menjadi karya ilmiah yang lebih baik.

    Bandar Lampung, Juni 2019

    Penulis

    Indah Cintia

  • DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL

    ABSTRAK

    PERNYATAAN

    RIWAYAT HIDUP

    MOTTO

    PERSEMBAHAN

    SANWACANA

    DAFTAR ISI

    DAFTAR TABEL

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang .............................................................................................. 1

    B. Permasalahan ................................................................................................ 8

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ..................................................................... 8

    a. Tujuan Penelitian....................................................................................... 8

    b. Manfaat Penelitian..................................................................................... 8

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA

    A. Pengertian Kedudukan ................................................................................ 10

    B. Pemerintahan Desa...................................................................................... 10

    C. Kelembagaan Desa...................................................................................... 29

    D. Kewenangan Desa ....................................................................................... 30

    E. Peraturan Desa ............................................................................................ 34

  • F. Otonomi Desa ............................................................................................. 36

    G. Badan Usaha Milik Desa ............................................................................ 44

    BAB III METODE PENELITIAN

    A. Tipe dan Jenis Penelitian ............................................................................ 55

    B. Pendekatan Masalah ................................................................................... 55

    C. Sumber Data ............................................................................................... 56

    D. Teknik Pengumpulan Data dan Metode Pengolahan Data dan Bahan ..........

    Hukum ......................................................................................................... 57

    E. Analisis Data .............................................................................................. 59

    BAB IV PEMBAHASAN

    A. Sejarah BUMDes dan Kehadiran Undang Undang No. 6 Tahun 2014 .........

    tentang Desa ............................................................................................... 60

    B. Penyelengaraan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berdasarkan

    Peraturan Perundang-Undangan ................................................................. 65

    C. Kedudukan Badan Usaha Milik Desa Dalam Meningkatkan Perekonomian `

    di Desa ........................................................................................................ 81

    D. Implikasi Terhadap Pendapatan Asli Desa ................................................. 89

    BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

    A. Kesimpulan ................................................................................................. 91

    B. Saran ........................................................................................................... 92

    DAFTAR PUSTAKA

  • DAFTAR TABEL

    Tabel 1. Profil Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Swadesa Artha

    Mandiri .................................................................................................. 64

    Tabel 2. PADes Desa Wonomarto ........................................................................ 65

    Tabel 3. Matriks Pengaturan BUMDes ................................................................. 69

    Tabel 4. Skema Pembagian Kewenangan Kementerian Dalam Negeri dan

    Kementerian Desa terhadap Desa dalam Perpres Nomor 12 Tahun

    2015 tentang Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi ........................ 73

    Tabel 5. Perbedaan Perusahaan dan Badan Usaha ................................................ 74

    Tabel 6. Jenis Usaha Yang sedang Berjalan Pada Tahun 2017.............................. 84

    Tabel 7. Kegiatan Usaha Pada Tahun 2018 ........................................................... 85

    Tabel 8. Penyertaan Modal dari Pemerintahan Desa ............................................. 85

    Tabel 9. Omset Usaha BUMDes Swadesa Artha Mandiri ..................................... 86

  • DAFTAR GAMBAR

    Gambar 1. Mitra Kerja BUMDes Swadesa Artha Mandiri .................................. 78

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Bergesernya arah pembangunan yang semula dimulai dari daerah otonom tingkat

    kabupaten/kota yang dirasa tidak memberikan kemajuan signifikan terhadap

    pembangunan nasional, hal ini menjadi pertimbangan perlunya pengaturan ulang

    terkait visi dan misi pembangunan nasional. Menjawab permasalahan tersebut,

    diterbitkanlah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, yang

    dimulainya babak baru pembangunan nasional dari satuan pemerintahan paling

    dekat dengan masyarakat yaitu Desa.1

    Pembangunan Nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan

    makmur yang merata berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik

    Indonesia 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka,

    bersatu, dan berkedaulatan rakyat. Titik berat pembangunan diletakkan pada

    bidang ekonomi yang merupakan penggerak utama pembangunan seiring dengan

    kualitas sumber daya manusia dan didorong secara saling memperkuat, saling

    terkait dan terpadu dengan pembangunan bidang-bidang lainnya yang

    1 Pembangunan nasional dari desa tercantum dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang

    Desa yang bertujuan memperkuat kemandirian desa dalam mewujudkan keadilan yang merata.

    Lihat Sugiayanto, Urgensi dan Kemandirian Desa dalam Presfektif Undang-Undang No 6 Tahun

    2014, Yogyakarta: Deepublish, 2017, hlm. 12.

  • 2

    dilaksanakan selaras, serasi dan seimbang guna keberhasilan pembangunan di

    bidang ekonomi dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan

    nasional. Bertitik tolak pada pembangunan tersebut, maka pemerintah dan rakyat

    Indonesia mempunyai kewajiban untuk menggali, mengolah dan membina potensi

    yang ada tersebut guna mencapai masyarakat yang adil dan makmur sesuai

    dengan Undang Undang Dasar 1945.

    BUMDes dalam operasionalisasinya ditopang oleh lembaga moneter desa (unit

    pembiayaan) sebagai unit yang melakukan transaksi keuangan berupa kredit

    maupun simpanan. Jika kelembagaan ekonomi kuat dan ditopang kebijakan yang

    memadai, pertumbuhan ekonomi yang disertai pemerataan distribusi aset kepada

    rakyat secara luas akan mampu menanggulangi berbagai permasalahan ekonomi

    di pedesaan.

    Untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan langkah strategis dan taktis guna

    mengintegrasikan potensi, kebutuhan pasar, dan penyusunan desain lembaga

    tersebut ke dalam suatu perencanaan, disamping itu perlu memperhatikan potensi

    lokalistik serta dukungan kebijakan (good will) dari pemerintahan di atasnya

    untuk mengatasi rendahnya surplus kegiatan ekonomi desa disebabkan

    kemungkinan tidak berkembangnya sektor ekonomi di wilayah pedesaan. Hal ini

    akan mengakibatkan terjadinya integrasi sistem dan struktur pertanian dalam arti

    luas, usaha perdagangan, dan jasa yang terpadu akan dapat dijadikan sebagai

    pedoman dalam tata kelola lembaga.2

    2 Gabriela Hanny Kususma dan Nurul Purnamasari, BUMDes: Kewirausaan Sosial yang

    Berkelanjutan. (Jogjakarta:Penabulu Fundation,2016) hlm.2

  • 3

    Permasalahan yang timbul dalam pembangunan desa melalui pendirian BUMDes

    muncul ketika pembentukan BUMDes hanya berorientasi pada segi kuantitas.

    Padahal dana yang dialokasikan untuk desa sekitar Rp. 20 Triliun yang dibagi

    pada 74 ribu desa, sehingga tiap desa akan menerima Rp 240 Juta,3 belum

    termasuk Alokasi Dana Desa (ADD) dari Kabupaten, sementara jumlah BUMDes

    Tahun 2017 mencapai 18.446 unit.4 Tidak hanya orientasi kuantitas yang menjadi

    persoalan, tolok ukur sumber daya baik manusia maupun jenis usaha juga menjadi

    permasalahan. Hal ini penting untuk diteliti, melihat kegagalan Koperasi Unit

    Desa pada masa sebelum BUMDes banyak dibentuk.5 Pembentukan BUMDes

    harus mempertimbangkan aspek pembangunan daerah yang terangkum dalam

    RPJMD dan sinergitas tiap kecamatan, sehingga tiap kecamatan bisa saling

    mendukung. Pembangunan BUMDes yang tidak memperhatikan aspek kualitas,

    berpotensi menyebabkan kerugian dalam pengelolaan keuangan desa, dan tentu

    saja pendirian BUMDes tidak memiliki implikasi apapun dalam pembangunan

    Desa.

    Pada saat ini pengaturan mengenai BUMDes diatur dalam Undang-undang Nomor

    6 Tahun 2014 tentang Desa Pasal 87 yang menyatakan desa dapat mendirikan

    BUMDes yang dikelola dengan semangat kekeluargaan dan kegotong-royongan.

    Kekeluargaan dan kegotongroyongan yang dimaksud disini adalah cara

    3 Detik News, “Tingkatkan Perekonomian Desa, 74 Ribu Desa Bakal Terima Dana Rp 1,4 Miliar”,

    www.news.detik.com diakses pada 26 Januari 2019. 4 Harian Kompas, “Jumlah BUMDes Mencapai 18.446 Unit”, www.ekonomi.kompas.com diakses

    pada 26 Januari 2019. 5 Kegagalan Koperasi Unit Desa banyak disebabkan oleh lemahnya pengelolaan KUD tersebut.

    KUD dalam pembentukan awal digagas untuk membangkitkan atau menjadi penyokong usaha

    pertanian dan program-program pemerintah dalam rangka pemberdayaan desa, namun karena

    kesalahan dalam pembinaannya, akhirnya koperasi malah menjadi momok bagi masyarakat. Lihat

    Soedarsono Hadisapoetro, Badan Usaha Unit Desa dan Pembinaannya, dalam Pemikiran dan

    Permasalahan Ekonomi Indonesia Setengah Abad Terakhir: Buku 3 (1966-1982) Paruh Pertama

    Ekonomi Orde Baru, Yogyakarta: Kanisius, 2005, hlm. 95.

  • 4

    masyarakat beserta aparatur desa dalam menyelenggarakan. BUMDes dapat

    menjalankan usaha di bidang ekonomi dan/atau pelayanan umum. Pengaturan

    lebih lanjut mengenai BUMDes diatur dalam Peraturan Menteri Desa,

    Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 4

    Tahun 2015 Tentang Pendirian, Pengurusan Dan Pengelolaan, Dan Pembubaran

    Badan Usaha Milik Desa.6

    Dasar penyelenggaraan BUMDes didasarkan pada kebutuhan dan potensi,

    sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat didesa. Berkenaan dengan

    perencanaan dan pendiriannya, BUMDes dibangun atas prakarsa (inisiasi)

    masyarakat desa tersebut, serta mendasarkan pada prinsip-prinsip kooperatif,

    partisipatif dan transparansi. Selain itu pengelolaan BUMDes harus dilakukan

    secara profesional dan mandiri oleh masyarakat desa .7

    BUMDes pada dasarnya merupakan bentuk konsolidasi atau penguatan terhadap

    lembaga-lembaga ekonomi desa dan merupakan instrumen pendayagunaan

    ekonomi lokal dengan berbagai ragam jenis potensi, yang bertujuan untuk

    peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa melalui pengembangan

    usaha ekonomi mereka, serta memberikan sumbangan bagi pendapatan asli desa

    yang memungkinkan desa mampu melaksanakan pembangunan dan peningkatan

    kesejahteraan masyarakat secara optimal. Tujuan pendirian BUMDes antara lain

    dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Desa. Berangkat dari cara pandang

    ini, jika pendapatan asli desa dapat diperoleh dari BUMDes, maka kondisi itu

    6 Zulkarnain Ridwan, “Payung Hukum Pembentukan BUMDes,” Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum

    Vol 7, No.3(September-Desember, 2013), hlm. 35 7 Departemen Pendidikan Nasional Pusat Kajian Dinamika Sistem Pembangunan (Pkdsp), 2007,

    Buku Panduan Pendirian Dan Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), Jakarta: Fakultas

    Ekonomi Universitas Brawijaya, Hlm. 3

  • 5

    akan mendorong setiap pemerintah desa memberikan dukungan dalam merespon

    pendirian BUMDes. BUMDes sebagai badan hukum, dibentuk berdasarkan tata

    perundang-undangan yang berlaku, dan sesuai dengan kesepakatan yang

    terbangun di masyarakat desa. Dengan demikian, bentuk BUMDes dapat beragam

    di setiap desa di Indonesia. Ragam bentuk ini sesuai dengan karakteristik lokal,

    potensi, dan sumber daya yang dimiliki masing-masing desa. Pengaturan lebih

    lanjut tentang BUMDes diatur melalui peraturan daerah (Perda).

    Di beberapa kabupaten telah banyak desa yang mempunyai BUMDes, ada yang

    secara mandiri mengembangkan potensi ekonomi desa yang ada, ada juga yang

    didorong oleh pemerintah kabupaten setempat dengan diberikan stimulan

    permodalan awal dari APBD kabupaten melalui dana hibah dengan status dana

    milik masyarakat desa dan menjadi saham dalam BUMDes.

    Saat ini belum banyak BUMDes yang berkembang dengan baik. Penyebab

    utamanya antara lain adalah tidak dikelolanya BUMDes secara profesional.

    Undang-undang desa sudah membuka pintu untuk menggerakkan perekonomian

    di desa. Akan tetapi harus kita sadari bahwa desa memerlukan peningkatan

    keahlian dan ketrampilan dalam mengurus Badan Usaha Milik Desa oleh

    masyarakat desa.

    Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi baru saja

    mengumumkan, memasuki Juli 2018 lalu, jumlah Badan Usaha Milik Desa di

    seluruh Indonesia mencapai 35 Ribu dari 74.910 desa diseluruh bumi nusantara.

    Jumlah itu lima kali lipat dari target Kementrian Desa yang hanya mematok 5000

  • 6

    BUMDes. Masalahnya, Hingga sampai saat ini, berbagai data menyebutkan

    bahwa sebagian besar BUMDes masih sebatas berdiri dan belum memiliki

    aktivitas usaha yang menghasilkan. Sebagian lagi malah layu sebelum

    berkembang karena masih „sedikitnya‟ pemahaman BUMDes pada sebagian besar

    perangkat pemerintahan di Desa sejak disahkannya UU Desa No. 6 Tahun 2014.8

    BUMDes ramai dibicarakan dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini, yaitu sejak

    diundangkannya Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa (UU Desa). UU

    Desa berlandaskan pada ketentuan pasal-pasal yang tercantum dalam UUD 1945

    yang terkait dengan pemerintahan daerah, namun yang paling khusus terkait

    dengan keberadaan desa (meskipun tidak secara eksplisit tersebut dalam isi pasal)

    adalah pada Pasal 18 B ayat (2) UUD 1954 yaitu: Negara mengakui dan

    menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak

    tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan

    masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam

    undang-undang.

    Berkaitan dengan pemerintahan daerah, maka pemahaman tentang desa tidak bisa

    terlepas dari peraturan yang terkait dengan pemerintahan daerah, yaitu yang

    diundangkan dalam Undang-Undang No. 32 Tahun 2004. Dalam undang-undang

    ini, desa disebut secara definitif dan keberadaan Bumdes sudah diakui, yaitu

    disebut dalam Pasal 213: (1) Desa dapat mendirikan badan usaha milik desa

    sesuai dengan kebutuhan dan potensi desa; (2) Badan usaha milik desa

    sebagaimana dimaksud ayat (1) berpedoman pada peraturan perundang-

    8 http://www.berdesa.com/informasi-lengkap-tentang-bumdes-yang-harus-anda-ketahui/. Diakses

    pada tanggal 28 Februari 2019 jam 17.55 wib.

    http://www.berdesa.com/informasi-lengkap-tentang-bumdes-yang-harus-anda-ketahui/

  • 7

    undangan; (3) Badan usaha milik desa sebagaimana dimaksud ayat (1) dapat

    melakukan pinjaman sesuai peraturan perundang-undangan.

    BUMDes yang didirikan dengan tujuan sebagai penopang dan penguat ekonomi

    desa adalah BUMDes Swadesa Artha Mandiri Desa Wonomerto Kecamatan

    Kotabumi Utara yang mewakili Kabupaten Lampung Utara dalam Lomba

    BUMDes tingkat Provinsi Lampung Tahun 2018 dan BUMDes Abung Tengah.

    Permasalahannya adalah ada pada perbedaan dari kedua BUMDes tersebut yaitu

    ketidak suksesannya BUMDes Abung Tengah dalam menjalankan BUMDes, jika

    melihat kedudukannya BUMDes Abung Tengah ada di tingkat Kecamatan dan

    BUMDes Swadesa Artha Mandiri ada di tingkat desa, jika melihat kedudukannya

    seharusnya BUMDes Abung tengah lebih maju akan tetapi malah sebaliknya.

    Tetapi dalam hal ini fokus penelitian penulis di BUMDes Swadesa Artha Mandiri

    yang ada di tingkat desa yaitu desa wonomarto kabupaten Lampung Utara.

    kehadiran BUMdes ini diharapkan desa menjadi lebih mandiri dan masyarakatnya

    pun menjadi lebih sejahtera. Tetapi mengingat BUMDes masih termasuk hal baru

    dalam keberadaannya, maka tak pelak dalam praktik, beberapa kendala Muncul

    justru terkait dalam pengelolaan BUMDes Swadesa Artha Mandiri..

    Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka saya tertarik untuk mengambil

    penelitian dengan judul “Kedudukan Badan Usaha Milik Desa Dalam Upaya

    Meningkatkan Perekonomian Desa Berdasarkan Undang-Undang No. 06

    Tahun 2014 Tentang Desa ( Studi Di BUMdes Swadesa Artha Mandiri)”

  • 8

    B. Permasalahan

    Dari latar belakang yang telah dipaparkan diatas, dapat dirumuskan permasalahan

    sebagai berikut:

    1. Bagaimana Kedudukan Badan Usaha Milik Desa dalam Upaya Meningkatkan

    Perekonomian desa di Desa Wonomarto?

    2. Bagaimana Implikasi Badan Usaha Milik Desa Terhadap Pendapatan Asli

    Desa (PADes) di Desa Wonomarto?

    C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

    a. Tujuan Penelitian

    Tujuan dari penelitian ini yaitu:

    1. Untuk melihat Bagaimana Kedudukan BUMDes Dalam Meningkatkan

    Perekonomian Desa di Desa Wonomarto.

    2. Untuk Mengetahui Implikasi BUMDes Terhadap Pendapatan Asli Desa

    (PADes) di Desa Wonomarto.

    b. Manfaat Penelitian

    Manfaat dari penelitian ini yaitu:

    1. Secara akademis

    Penelitian ini dapat menambah pengetahuan serta memberikan kontribusi yang

    berarti dan bermanfaat bagi pembangunan ilmu hukum khususnya hukum Tata

    Negara dalam bidang pemerintahan desa melalui program BUMDes.

  • 9

    2. Secara praktis

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat serta kontribusi

    bagi pemerintah, pemerintah daerah dan pemerintah desa khususnya

    masyarakat untuk penyelenggaraan BUMDes .

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Pengertian Kedudukan

    Makna Kedudukan Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah

    kedudukan yang berasal dari kata duduk. Pengertian Kedudukan Dalam hal ini

    adalah berarti status, keadaan tingkatan suatu lebaga badan usaha, dan

    sebagainya.9

    B. Pemerintahan Desa

    a. Pengertian Desa

    Undang-Undang Republik Indonesia No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, Desa yaitu

    kesatuan masyarakat Hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk

    mengatur dan mengurus urusan pemerintahan , kepentingan masyarakat setempat

    berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul dan hak tradisional yang diakui

    dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Sebagaimana dimaksud Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

    1945. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 43 Tahun 2014 Tentang Desa

    adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang

    berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan

    masyarakat setempat, berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul dan hak

    9 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Diakses pada tanggal 3 SApril 2019 pukul 09.37 WIB.

  • 11

    tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara

    Kesatuan Republik Indonesia.10

    Sebutan desa sebagai kesatuan masyarakat hukum baru dikenal pada masa

    kolonial Belanda. Desa pada umumnya mempunyai pemerintahan sendiri yang

    dikelola secara otonom tanpa ikatan hirarkhis-struktural dengan struktur yang

    lebih tinggi.11

    Dalam beberapa konteks bahasa, daerah-daerah di Indonesia banyak yang

    menyebutkan “desa” dalam ragam bahasa yang lainnya, namun tetap sama artinya

    desa, misal di masyarakat lampung dikenal dengan sebutan tiyuh atau pekon.

    Namun jika dilihat secara etimologis kata desa berasal dari bahasa sansekerta,

    yaitu “deca”, seperti dusun, desi, negara, negeri, negari, nagaro, negory

    (nagarom), yang berarti tanah air, tanah asal atau tanah kelahiran, tanah leluhur,

    yang merujuk pada satu kesatuan hidup dengan satu kesatuan norma serta

    memiliki batas yang jelas.12

    Pasal 1 Angka (1) Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 menyatakan bahwa Desa

    adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut

    Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang

    berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan

    masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau

    hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara

    Kesatuan Republik Indonesia.

    10

    Emi Haryati, “Pelan Kepala Desa dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Desa” ejournal Ilmu

    Pemerintah, 3 (4) 2015: 1914-1927, hlm. 3-4. 11

    Rudi. Hukum Pemerintahan Daerah,(Bandar Lampung:PKKPUU,2013), hlm. 82 12

    Didik Sukrino, Pembaharuan Hukum Pemerintahan Desa, (Malang:Setara Press, 2012), hlm.59

  • 12

    A.W Wijaya mengartikan desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah

    penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk didalamnya kesatuan

    masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung

    di bawah camat dan berhak menjalankan rumah tangganya sendiri dalam ikatan

    Negara Kesatuan Republik Indonesia.13

    Menurut H.A.W Widjaja Desa adalah sebagai kesatuan masyarakat hukum yang

    mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal-usul yang bersifat istimewa.

    Landasan pemikiran dalam mengenai Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman,

    partisipasi, otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat.14

    Ciri-ciri desa secara umum antara lain:15

    a. Desa umumnya terletak di atau sangat dekat dengan pusta wilayah usaha

    tani (sudut panadang ekonomi);

    b. Dalam wilayahnya itu perekonomian merupakan kegiatan ekonomi

    dominan;

    c. Faktor-faktor penguasaan tanah menentukan corak kehidupam

    masyarakatnya;

    d. Tidak seperti dikota ataupun kota besar yang penduduknya merupakan

    pendatang populasi penduduk desa lebih bersifat “terganti oleh

    sendirinya;

    e. Kontrol sosial lebih bersifat informal dan interaksi antar warga desa

    lebih bersifat personal dalam bentuk tatap muka; dan

    13

    Nurmayani, Hukum Administrasi Daerah, (Bandar Lampung: Universitas Lampung, 2009),

    hlm.92 14

    H.A.W Widjaja, Otonomi Desa, (Jakarta: Penerbit PT RajaGarafindo Pesada, 2003), hlm.3 15

    Wasistiono, Sadu, dan tahir, M. Irawan, Prospek Pengembangan Desa, (Bandung: Fokusmedia,

    2006), hlm.16.

  • 13

    f. Mempunyai tingkat homogenitas yang realtif tinggi dan ikatan sosial

    yang relatif lebih ketat dari pada kota.

    Pengaturan Desa pada Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa

    berdasarkan asas-asas rekognisi, subsidiaritas, keberagaman, kebersamaan,

    kegotongroyongan, kekeluargaan, musyawarah, demokrasi, kemandirian,

    partisipasi, kesetaraan, pemberdayaan dan keberlanjutan. Hal itu tercantum dalam

    pasal (3) Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Asas-asas pengaturan

    desa pasal (3) dan pengertiannya yaitu :

    a) Rekognisi adalah pengakuan terhadap hak asal usul

    b) Subsidaritas adalah penetapan kewenangan berskala local dan pengambilan

    keputusan secara local untuk kepentingan masyarakat desa.

    c) Keberagaman adalah pengakuan dan penghormatan terhadap system nilai

    yang berlaku dimasyarakat desa, tetapi dengan tetap mengindahkan system

    nilai bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    d) Kebersamaan adalah semangat untuk berperan aktif dan bekerjasama dalam

    prinsip saling menghargai anatara kelembagaan ditingkat desa dan unsur

    masyarakat desa dalam membangun desa.

    e) Kegotong-royongan adalah kebiasaan tolong menolong untuk membangun

    desa.

    f) Kekeluargaan adalah kebiaaan masyarakat desa sebagai bagian dari

    satu kesatuan keluarga besar masyarakat desa

    g) Musyawarah adalah proses pengambilan keputusan yang menyangkut

    kepentingan masyarakat desa melalui diskusi dengan berbagai pihak yang

    berkepentingan.

  • 14

    h) Demokrasi adalah system pengorganisasian masyarakat dea dalam suatu

    system pemerintahan yang dilakukan oleh masyarakat desa atau dengan

    persetujuan masyarakat desa serta keluhuran harkat dan martabat manusia

    sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa diakui, ditata dan dijamin.

    i) Kemandirian adalah suatu proses yang dlakukan oleh pemerintahan desa dan

    masyarakat desa untuk melakukan suatu kegiatan dalam rangka memenuhi

    kebutuhannya dengan kemampuan sendiri.

    j) Partisipasi adalah turut berperan aktif dalam suatu kegiatan.

    k) Kesetaraan adalah kesamaan dalan kedudukan dan peran.

    l) Pemberdayaan adalah upaya meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan

    masyarakat desa melalui penetapan kebijakan, program dan kegiatan yang

    sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat desa.

    m) Keberlanjutan adalah suatu proses yang dilakukan secara

    terkordinasi,terintegrasi,danberkesinambungan,dalammerencanakan dan

    melaksanakan program pembangunan desa.16

    Desa merupakan bisa jadi awal permulaan dalam pembagunan daerah yang

    mempunyai potensi tersendiri yang dapat di gali serta dikembangkan sehingga

    desa tidak dianggap sebagai tempat yang terbelakang, terpencil, tertinggal, dan

    kumuh. Tidak sedikit desa yang mempunyai sumber daya alam yang berkualitas

    yang dapat dijadikan sumber pendapatan desa.

    16

    Afriniko, Politik Hukum Otonomi Desa Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014

    Tentang desa. Jurnal. JOM Fakultas Hukum. Pekanbaru. 2015. hlm. 9-10.

  • 15

    b. Pemerintahan Desa

    Pemerintah desa menurut sumber saparin (2009) dalam bukunya “ tata

    Pemerintahan Dan Administrasi Desa” menyatakan Bahwa : Pemerintahan desa

    adalah merupakan simbol formal daripada kesatuan masyarakat desa.

    Pemerintahan desa diselenggrakan dibawah pimpinan kepala desa beserta para

    pembantunnya (perangkat desa), mewakili masyarakat desa guna hubungan keluar

    maupun kedalam masyarakat ang bersangkutan”.17

    Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan

    masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik

    Indonesia. 18

    Penyelenggaraan Pemerintahan Desa berdasarkan asas:

    a. kepastian hukum;

    b. tertib penyelenggaraan pemerintahan;

    c. tertib kepentingan umum;

    d. keterbukaan;

    e. proporsionalitas;

    f. profesionalitas;

    g. akuntabilitas;

    h. efektivitas dan efisiensi;

    i. kearifan lokal;

    j. keberagaman; dan

    k. partisipatif.

    17

    Suhana, Pelaksanaan Kewenangan Pemerintah Desa dalam Penyelenggaraan Pemerintah,

    Artikel E-Journal, Tanjung Pinang, 2014,hlm.7. 18

    Ketentuan Umum PP Nomor 43 tahun 2014 tentang Desa

  • 16

    Pemerintahan desa terdiri dari Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan

    Desa (BPD). Pemerintah desa atau yang disebut dengan nama lain adalah kepala

    desa dan perangkat desa sebagai unsure penyelenggara pemerintahan desa. Kepala

    Desa bertugas menyelenggarakan Pemerintahan Desa, melaksanakan

    Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan

    masyarakat Desa. Sedangkan BPD adalah lembaga yang merupkan perwujudan

    demokrasi dalam penyelenggraan pemerintahan desa sebagai unsur peneyelenggra

    pemerintahan desa. Mengenai susunan organisasi dan tata kerja pemrintahan desa

    ditetapkan dengan peraturan desa. Peraturan Desa adalah peraturan

    perundangundangan yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan

    disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa.19

    Perangkat desa bertugas membantu kepala desa dalam melaksanakan tugas dan

    wewenangnya. Dengan demikian, perangkat desa bertanggung jawab kepada

    kepala desa. perangkat desa terdiri dari sekretaris desa dan perangkat desa lainnya.

    Perangkat desa lainnya terdiri dari:

    a. sekretaris desa;

    b. pelaksana teknis lapangan;

    c. unsur kewilayahan.

    Keberadaan desa sebagai satu kesatuan masyarakat hukum memberi pemahaman

    yang mendalam bahwa institusi desa bukan hanya sebagai entitas administratif

    belaka tetapi juga entitas hukum yang harus dihargai, diistimewakan, dilestarikan,

    dan dilindungi dalam struktur pemerintahan di Indonesia. Hal ini yang kemudian

    19

    Pasal 1 ayat (7) UU Nomor 6 tahun 2014

  • 17

    tertuang dalam UUD 1945 Pasal 18 B ayat (2) yang menyatakan: “Negara

    mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta

    hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan

    masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dengan

    undang-undang”. Berdasarkan bunyi Pasal 18 B ayat (2) UUD 1945 tersebut maka

    desa diartikan bukan saja sebagai kesatuan masyarakat hukum adat, tetapi juga

    sebagai hierarki pemerintahan yang terendah dalam NKRI. Istilah pemerintahan

    dan pemerintah sendiri dalam masyarakat secara umum diartikan sama, di mana

    kedua kata tersebut diucapkan bergantian (pemerintah atau pemerintahan).

    Sebutan kedua kata atau istilah tersebut menunjuk pada penguasa atau pejabat.

    Mulai dari Presiden hingga Kepala Desa, artinya semua orang yang memegang

    jabatan disebutlah pemerintah atau pemerintahan, tetapi orang yang bekerja di

    dalam lingkungan pemerintah atau pemerintahan disebut orang pemerintahan.

    Desa, atau udik, menurut definisi "universal", adalah sebuah aglomerasi

    permukiman di area perdesaan (rural). Di Indonesia, istilah desa adalah

    pembagian wilayah administratif di bawah kecamatan, yang dipimpin oleh Kepala

    Desa. Sebuah desa merupakan kumpulan dari beberapa unit pemukiman kecil

    yang disebut kampung (Banten, Jawa Barat) atau dusun (Yogyakarta) atau banjar

    (Bali) atau jorong (Sumatera Barat). Kepala Desa dapat disebut dengan nama lain

    misalnya Kepala Kampung atau Petinggi di Kalimantan Timur, Klèbun di

    Madura, Pambakal di Kalimantan Selatan, dan Kuwu di Cirebon, Hukum Tua di

    Sulawesi Utara.20

    20 https://id.wikipedia.org/wiki/Desa diunduh 2 Maret 2019 Pukul 10:56 WIB

  • 18

    Desa berasal dari bahasa Sansekerta dhesi yang berarti “tanah kelahiran”. Desa

    identik dengan kehidupan agraris dan kesederhanaannya. Ada beberapa

    istilah desa, misalnya gampong (Aceh), kampung (Sunda), nagari (Padang),

    wanus (Sulawesi Utara), dan huta (Batak).21

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Desa adalah kesatuan wilayah yang

    dihuni oleh sejulah keluarga yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri

    (dikepalai oleh seorang Kepala Desa) atau desa merupakan kelompok rumah di

    luar kota yang merupakan satu kesatuan.

    Beberapa ahli juga memberikan pendapat terkait dengan pengertian desa, R.

    Bintarto berpendapat bahwa Desa adalah suatu perwujudan geografis yang

    ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis sosial ekonomis, politis, dan kultural

    yang terdapat di situ dalam hubungan dan pengaruh timbal-balik dengan daerah-

    daerah lain.22

    Menurut P. J. Bournen, Desa adalah salah satu bentuk kuno dari kehidupan

    bersama sebanyak beberapa ribu orang, hampir semuanya saling mengenal,

    kebanyakan yang termasuk di dalamnya hidup dari pertanian, perikanan, dan

    sebaginya usaha-usaha yang dapat dipengaruhi oleh hukum dan kehendak alam.

    Dan dalam tempat tinggal itu terdapat banyak ikatan-ikatan keluarga yang rapat,

    ketaatan, dan kaidah-kaidah sosial.23

    I Nyoman Beratha, Desa atau dengan nama aslinya yang setingkat yang

    merupakan kesatuan masyarakat hukum berdasarkan susunan asli adalah suatu

    21

    http://www.pengertianahli.com/2014/03/pengertian-ciri-jenis-desa.html diunduh 11 Januari

    2016 Pukul 11:02 WIB 22

    Hanif Nurcholis, 2011, Pertumbuhan dan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, Erlangga, Jakarta, hal. 4. 23

    Loc. Cit.

  • 19

    “badan hukum” dan adalah pula “Badan Pemerintahan”, yang merupakan bagian

    wilayah kecamatan atau wilayah yang melingkunginya.24

    H. Unang Soenardjo, Desa adalah suatu kesatuan masyarakat berdasarkan adat

    dan hukum adat yang menetap dalam suatu wilayah yang tertentu batas-batasnya;

    memiliki ikatan lahir dan batin yang sangat kuat, baik karena seketurunan maupun

    karena sama-sama memiliki kepentingan politik, ekonomi, sosial dan keamanan;

    memiliki susunan pengurus yang dipilih bersama; memiliki kekayaan dalam

    jumlah tertentu dan berhak menyelenggarakan urusan rumah tangga sendiri.25

    Berdasarkan pada pengertian di atas maka dapat ditarik pemahaman bahwa Desa

    adalah suatu wilayah yang didiami oleh sejumlah penduduk yang saling mengenal

    atas dasar hubungan kekerabatan dan/atau kepentingan politik, sosial, ekonomi,

    dan keamanan yang dalam pertumbuhannya menjadi kesatuan masyarakat hukum

    berdasarkan adat sehingga tercipta ikatan lahir batin antara masing-masing

    warganya, umumnya warganya hidup dari pertanian, mempunyai hak mengatur

    rumah tangga sendiri, dan secara administratif berada di bawah pemerintahan

    Kabupaten/Kota.

    a. Sejarah Pembentukan Desa

    Dilihat dari sejarahnya, desa sudah dikenal sejak zaman kerajaankerajaan

    Nusantara sebelum kedatangan Belanda. Pada zaman tersebut Desa adalah

    wilayah-wilayah yang mandiri di bawah taklukan kerajaan pusat. Dalam praktik

    penyelenggaraan pemerintahan, kerajaan pusat hanya menuntut loyalitas desa.

    Sedangkan bagaimana desa menyelenggarakan pemerintahannya, kerajaan pusat

    24

    Loc. Cit. 25

    Loc. Cit.

  • 20

    tidak mengatur melainkan menyerahkannya kepada desa yang bersangkutan untuk

    mengatur dan mengurusnya sesuai dengan adat istiadat dan tata caranya sendiri.26

    Tulisan pada prasasti Himad-Walandit menunjukkan bahwa desa pada zaman

    kerajaan Kediri-Jenggala memiliki status swatantera (otonomi). Dengan demikian,

    sejak dahulu desa mempunyai hak mengatur rumah tangganya

    sendiri/swatantera/otonomi. Berdasarkan prasasti dan piagam yang diketemukan

    kemudian pada 1880 di Penanjangan Tengger, Jawa Timur, dapat ditarik

    kesimpulan sebagai berikut:27

    a) Bahwa desa sebagai lembaga pemerintahan terendah telah ada sejak dahulu

    kala dan bukan import dari luar Indonesia, bahkan murni bersifat Indonesia;

    b) Bahwa nampaknya desa adalah tingkat yang berada langsung di bawah

    kerajaan. Dengan kata lain, pada waktu itu terdapat sistem pemerintahan di

    daerah, dua tingkat;

    c) Bahwa masyarakat Indonesia sejak dahulu telah mengenal sistem-sistem

    pemerintahan di daerah, dan yang sekarang menjadi hakekat dari asasasas

    penyelenggaraan pemerintahan; misalnya, swatantera (yaitu yang disebut

    sekarang sebagai otonomi atau hak untuk mengurus dan mengatur urusan

    rumah tangganya sendiri). Demikian pula ada jabatanjabatan atau pembagian

    tugas, misalnya samget (ahli adat), raja dikira, pamget, jayapatra (hakim),

    patih, dyaksa (jaksa), dan sebagainya;

    d) Bahwa terdapat jenis-jenis desa antara lain Desa Keramat, Desa Perdikan, dan

    sebagainya dengan hak-hak khusus.

    26

    Ibid., hal. 4-5. 27

    Ibid., hal. 5.

  • 21

    b. Sejarah Pemerintahan Desa

    Sejarah pemerintahan desa di Indonesia sudah ada sejak pemerintahan Kolonial

    Belanda dibuktikan dengan adanya Perundang-undangan yang mengatur tentang

    Desa pada zaman tersebut. Peraturan Perundang-undangan yang mengatur tentang

    Desa sudah mengalami beberapa kali perubahan sesuai dengan perkembangan

    zaman dan kebutuhan.

    Sejak tahun 1906 hingga 1 Desember 1979 Pemerintahan Desa di Indonesia diatur

    oleh Perundang-undangan yang dibuat oleh penjajah Kolonial Belanda. Pada

    tahun 1965 sudah ada UU No. 19 Tahun 1965 tentang Desapraja tetapi dengan

    dikeluarkannya UU No. 6 Tahun 1969 yang menyatakan tidak berlakunya

    berbagai Undang-undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang

    maka UU No. 19 Tahun 1965 dalam prakteknya tidak berlaku walaupun secara

    yuridis Undang-undang tersebut masih berlaku hingga terbentuknya Undang-

    undang yang baru yang mengatur tentang Pemerintahan Desa, baru setelah 34

    tahun merdeka Negara Indonesia memiliki Undang-undang Pemerintahan Desa

    yang dibuat sendiri.28

    c. Tujuan Desa

    Pemerintah Negara Republik Indonesia dibentuk untuk melindungi segenap

    bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan

    umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia

    yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

    28

    Daeng Sudirwo, 1981, Pokok-Pokok Pemerintahan Di Daerah dan Pemerintahan Desa, Angkasa, Bandung, hal. 41.

  • 22

    Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan

    Nasional telah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional yang

    merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan negara Indonesia.

    Desa yang memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam mengatur dan

    mengurus kepentingan masyarakat berperan mewujudkan cita-cita kemerdekaan

    berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 perlu

    dilindungi dan diberdayakan agar menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis

    sehingga dapat menciptakan landasan yang kukuh dalam melaksanakan

    pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur, dan

    sejahtera. Dengan demikian, tujuan ditetapkannya pengaturan Desa dalam

    Undang-Undang ini merupakan penjabaran lebih lanjut dari ketentuan

    sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (7) dan Pasal 18B ayat (2) Undang-

    Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu:

    a) memberikan pengakuan dan penghormatan atas Desa yang sudah ada dengan

    keberagamannya sebelum dan sesudah terbentuknya Negara Kesatuan

    Republik Indonesia;

    b) memberikan kejelasan status dan kepastian hukum atas Desa dalam sistem

    ketatanegaraan Republik Indonesia demi mewujudkan keadilan bagi seluruh

    rakyat Indonesia;

    c) melestarikan dan memajukan adat, tradisi, dan budaya masyarakat Desa;

    d) mendorong prakarsa, gerakan, dan partisipasi masyarakat Desa untuk

    pengembangan potensi dan aset Desa guna kesejahteraan bersama;

    e) membentuk Pemerintahan Desa yang profesional, efisien dan efektif, terbuka,

    serta bertanggung jawab;

  • 23

    f) meningkatkan pelayanan publik bagi warga masyarakat Desa guna

    mempercepat perwujudan kesejahteraan umum;

    g) meningkatkan ketahanan sosial budaya masyarakat Desa guna mewujudkan

    masyarakat Desa yang mampu memelihara kesatuan sosial sebagai bagian dari

    ketahanan nasional;

    h) memajukan perekonomian masyarakat Desa serta mengatasi kesenjangan

    pembangunan nasional; dan memperkuat masyarakat Desa sebagai subjek

    pembangunan

    c. Keuangan Desa

    Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa,

    Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan

    uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan dengan

    pelaksanaan hak dan kewajiban desa. Hak dan kewajiban tersebut menimbulkan

    pendapatan, belanja, pembiayaan yang perlu diatur dalam pengelolaan keuangan

    desa yang baik. Siklus pengelolaan keuangan desa meliputi perencanaan,

    pelaksanaan, penata uasahaan, pelapran dan pertanggung jawab dengan

    periodesasi 1 (satu) tahun anggaran, terhitung mulai tanggal 1 Januari sampai 31

    Desember.29

    Penyelenggaraan urusan pemerintahan desa yang menjadi kewenangan desa

    didanai dari anggaran pendapatan dan belanja desa, bantuan pemerintah dan

    bantuan pemerintah daerah. Penyelenggaraan urusan pemerintah daerah yang

    diselenggarakan oleh pemerintah desa didanai dari anggaran pendapatan dan

    29

    Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). 2015. Petunjuk Bimbingan &

    Konsultasi Pengelolaan keuangan Desa. Jakarta. Hlm. 33

  • 24

    belanja daerah. Penyelenggaraan urusan pemerintah yang diselenggarakan oleh

    pemerintah desa didanai dari anggaran pendapatan dan belanja negara. Sumber

    pendapatan desa terdiri atas :

    a) Pendapatan asli desa, terdiri dari hasil usaha desa, hasil kekayaan desa, hasil

    swadaya dan partisipasi, hasil gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli

    desa yang sah;

    b) Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;

    c) Bagian hasil dari pajak daerah dan retribusi daerah Kabupaten/Kota;

    d) Alokasi Dana Desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang

    diterima Kabupaten/Kota;

    e) Bantuan Keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

    Provinsi dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota;

    f) Hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga dan

    g) Lain-lain pendapatan Desa yang sah.

    Dalam hal sumber pendapatan Desa, dari tujuh sumber pendapat Desa

    sebagaimana telah diatur pada pasal 72 ayat (1) UU Desa, ada dua tipe jika dilihat

    dari sisi kepastian memperolehnya. Tipe Peratama adalah sumber pendapatan

    yang sifatnya pasti diterima oleh Desa karena merupakan hak desa, mencakup

    Pendapatan Asli Desa, Dana Desa, bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi

    daerah Kabupaten/Kota dan Alokasi Dana Desa. Jika Haknya tidak diberikan,

    maka desa bisa menuntut kepada pemerintah Kabupaten/Kota maupun pemerintah

    pusat. Tipe Kedua adalah sumber Pendapatan yang sifatnya tidak pasti, yang

    terdiri dari bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

    Provinsi dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota, hibah

  • 25

    dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga dan lain-lain pendapatan

    desa yang sah. Untuk tipe kedua ini, Desa tidak bisa menuntut jika suatu saat

    pihak yang memberikan menghentikan bantuannya kepada desa.

    Alokasi dana Desa (ADD) sebagai bantuan stimulan atau perangsang untuk

    mendorong dalam membiayai program penyelenggaraan pemerintahan desa,

    pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan

    masyarakat ( Permendesa No. 5 Tahun 2015). Selain itu terdapat peraturan

    Menteri dalam negeri Republik Indonesia No, 113 tahun 2014 tentang

    pengelolaan keuangan desa.30

    UU Desa menentukan bahwa Kepala Desa adalah pemegang kekuasaan

    pengelolaan Keuangan Desa. Dalam Melaksanakan Kekuasaan, Kepala Desa

    menguasakan sebagian kekuasaannya kepada perangkat desa yang ditunjuk begitu

    juga Menurut Permendagri No 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan

    Desa, Kepala Desa (Kades) merupakan pemegang kekuasaan pengelolaan

    keuangan desa dan mewakili Pemerintah Desa dalam kepemilikan kekayaan milik

    desa yang dipisahkan.31

    a) Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa

    Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ( APBDes ) terdiri atas bagian

    pendapatan desa, belanja desa dan pembiayaan. Rancangan Anggaran Pendapatan

    dan Belanja Desa (RAPBDes) dibahas dalam musyawarah perencanaan

    pembangunan desa. Kepala desa bersama Badan Permusyawaratan Desa

    30

    Masyiah Kholmi,” Akuntabilitas Pengelolaan Dana Alokasi desa : Study Kaus Di desa Kedung

    Betik Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang”, ejornal Ekonomi Bisnis, Universitas

    Muhammadiyah Malang. Vol. 07. No.02 Bulan Juni 2016, Hlm. 143-152 31

    Armen Yasir, Hukum Pemerintahan Desa. (Bandar Lampung:Universitas Lampung,2017),

    hlm.141-142.

  • 26

    menetapkan APBDes setiap tahun dengan Peraturan Desa. Pedoman penyusunan

    APBDes, perubahan APBDes, perhitungan APBDesa, dan pertanggungjawaban

    pelaksanaan APBDes ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Walikota.

    Penyelenggaraan pemerintah desa yang output nya berupa pelayanan publik,

    pembangunan, dan perlindungan masyarakat harus disusun perencanaannya setiap

    tahun dan dituangkan dalam APBDes. Dalam APBDes inilah terlihat apa yang

    akan dikerjakan pemerintah desa dalam tahun berjalan.

    Pemerintah desa wajib membuat APBDes. Melalui APBDes kebijakan desa yang

    dijabarkan dalam berbagai program dan kegiatan sudah ditentukan anggarannya.

    Dengan demikian, kegiatan pemerintah desa berupa pemberian pelayanan,

    pembangunan, dan perlindungan kepada warga dalam tahun berjalan sudah

    dirancang anggarannya sehingga sudah dipastikan dapat dilaksanakan.

    Tanpa APBDes, pemerintah desa tidak dapat melaksanakan program dan kegiatan

    pelayanan publik. Berikut Struktur APBDes:

    1) Pendapatan Desa

    Pendapatan desa meliputi semua penerimaan uang melalui rekening desa yang

    merupakan hak desa dalam 1 tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali

    oleh desa. Pendapatan desa terdiri atas:

    a. Pendapatan asli desa (PADes);

    b. Bagi hasil pajak kabupaten/ kota;

    c. Bagian dari retribusi kabupaten/ kota;

    d. Alokasi dana desa (ADD);

    e. Bantuan keuangan dari pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah

  • 27

    kabupaten/ kota, dan desa lainnya;

    f. Hibah;

    g. Sumbangan pihak ketiga

    2) Belanja desa

    Belanja desa meliputi semua pengeluaran dan rekening desa yang merupakan

    kewajiban desa dalam 1 tahun anggaran yang tidak akan diperoleh

    pembayarannya kembali oleh desa. Belanja desa terdiri atas: Belanja langsung

    yang terdiri atas:

    a. Belanja pegawai;

    b. Belanja barang dan jasa;

    c. Belanja modal.

    Belanja tidak langsung yang terdiri atas:

    a. Belanja pegawai/ penghasilan tetap;

    b. Belanja subsidi;

    c. Belanja hibah (pembatasan hibah);

    d. Belanja bantuan sosial;

    e. Belanja bantuan keuangan;

    f. Belanja tak terduga.

    3) Pembiayaan Desa

    Pembiayaan desa meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan atau

    pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang

    bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Pembiayaan desa

    terdiri dari:

  • 28

    Penerimaan pembiayaan, yang mencakup:

    a. Sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya;

    b. Pencairan dana cadangan;

    c. Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan;

    d. Penerimaan pinjaman.

    Pengeluaran pembiayaan yang mencakup:

    a. Pembentukan dana cadangan;

    b. Penyertaan modal desa;

    c. Pembayaran utang.

    d. Pendapatan Asli Desa

    Menurut ketentuan Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa

    Pasal 71 Ayat (1) Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban Desa yang

    dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang

    berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban Desa. Pasal 72 Ayat (1),

    disebutkan sumber pendapatan desa berasal dari:

    a) pendapatan asli Desa terdiri atas hasil usaha, hasil aset, swadaya dan

    partisipasi, gotong royong, dan lain-lain pendapatan asli desa;

    b) alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;

    c) bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah Kabupaten/Kota;

    d) alokasi dana Desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang

    diterima Kabupaten/Kota;

    e) bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

    Provinsi dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota;

    f) hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga; dan

  • 29

    g) lain-lain pendapatan Desa yang sah.

    Menurut penjelasan dari undang-undang Nomor 6 tahun 2014 Pasal 72 Ayat (1)

    haruf a Yang dimaksud dengan “Pendapatan Asli Desa” adalah pendapatan yang

    berasal dari kewenangan Desa berdasarkan hak asal usul dan kewenangan skala

    lokal Desa. Yang dimaksud dengan “hasil usaha” termasuk juga hasil BUMDes

    dan tanah bengkok.32

    C. Kelembagaan Desa

    Lembaga atau Institution merupakan wadah mengembangkan tugas dan fungsi

    tertentu dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu, keberadaan

    “Lembaga Desa” merupakan wadah untuk mengembangkan tugas dan fungsi

    pemerintahan desa ( dimana tugas dan fungsi pemerintahan desa merupakan

    uraian lebih lanjut dari wewenang desa) untuk ,encapai tujuan penyelenggaraan

    pemerintahan desa. Tujuan Pemerintah desa adalah meningkatkan kesejahteraan

    masayarakat, sehingga tugas pemerintah ( termasuk Pemerintah desa ) adalah

    pemberian pelayanan (services), pemberdayaan (empowermwent), serta

    pembangunan (development) yang seluruhnya di abadikan bagi kepentingan

    masyarakat.33

    Jenis-Jenis Lembaga Desa menurut Undang-Undang No 32 Tahun 2004 Tentang

    Pemerintahan Daerah, yang ditindak lanjuti dengan PP No 72 Tahun 2005 tentang

    Desa, terdapat 3 (tiga) lembaga desa yaitu: (a) Pemerintah Desa ( Kepala Desa

    32

    Okta Rosalinda LPD, Pengelolaan Dana Alokasi Desa (ADD) Dalam Menunjang Pembangunan

    Pedesaan, 2014 , hlm.6 33

    Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat

    Desa. Modul Pegangan Peserta Pelatihan Bagi Pelatih Menejemen Pemerintah Desa. Hlm.109

  • 30

    dan Perangkat Desa; (b) Badan Permusyawaratan Desa; dan (c) Lembaga

    Kemasyarakatan.

    Di desa dibentuk juga bebarapa lembaga kemasyarakatan. Lembaga

    permasyarakatan ditetapkan oleh peraturan desa. pembentukaannya berpedoman

    pada peraturan perundang undangan. Tugas lembaga tersebut adalah membantu

    pemerintah desa dan memberdayakan masyarakat desa. misalnya, Lembaga

    Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), Pertahanan Sipil (Hansip), Pemberdayaan

    Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan Karang Taruna. Lembaga Ketahanan

    Masyarakat Desa (LKMD) merupakan wadah partisipasi masyarakat dalam

    pembangunan desa yang memadukan kegiatan pemerintahan desa yang dilakukan

    secara gotong royong.

    Pengurus LKMD umumnya tokoh masyarakat setempat. Pembentukan LKMD

    disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat desa berdasarkan musyawarah anggota

    masyarakat. Fungsi LKMD adalah membantu adalah membantu pemerintah desa

    dalam merencanakan, pelaksanaan, dan pengendalian pembangunan desa. selain

    itu, LKMD memberikan masukan kepada BPD dalam proses perencanaan

    pembangunan desa.

    D. Kewenangan Desa

    Dalam penyelenggaraan pemerintahan, Pemerintah harus memiliki legitimasi

    wewenang yang diberikan oleh undang-undang. Menurut H.D. Stout, bahwa

    wewenang adalah pengertian yang berasal dari hukum organisasi pemerintahan,

    yang dapat dijelaskan sebagai keseluruhan aturan-aturan yang berkenaan dengan

  • 31

    perolehan dan penggunaan wewenang pemerintahan oleh subjek hukum publik di

    dalam hubungan hukum publik.34

    Kewenangan memiliki kedudukan penting dalam kajian Hukum Tata Negara dan

    Hukum Administrasi Negara. Begitu pentingnya kedudukan kewenangan ini,

    sehingga F.A.M. Stroink dan J.G. Steenbeek menyebutkan sebagai konsep inti

    dalam Hukum Tata Negara dan Hukum Adminstrasi Negara yang di dalamnya

    terkandung hak dan kewajiban. Kewenangan disebut juga “kekuasaan formal”,

    yaitu kekuasaan yang diberikan atau berasal dari Undang-undang atau legislative

    dari kekuasaan eksekutif atau adminstrasi yang bersifat utuh atau bulat.

    Menurut Bagir Manan, wewenang dalam bahasa hukum tidak sama dengan

    kekuasaan (macht). Kekuasaan hanya menggambarkan hak untuk berbuat atau

    tidak berbuat. Dalam hukum, wewenang sekaligus berarti hak dan kewajiban

    (rechten en plichten). Dalam kaitan dengan otonomi daerah, hak mengandung

    pengertian kekuasaan untuk mengatur sendiri (zelfregelen) dan mengelola sendiri

    (zelfbesturen). Kewajiban secara horisontal berarti kekuasaan untuk

    menyelenggarakan pemerintahan sebagaimana mestinya. Sedangkan kewajiban

    vertikal berarti kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan dalam satu tertib

    ikatan pemerintahan Negara secara keseluruhan.

    Apabila ada suatu ketentuan hukum atau aturan hukum yang merupakan

    perwujudan dari keputusan penguasa yang ternyata secara hukum, atau secara

    yuridis tidak dapat dicari dasar hukumnya kepada suatu ketentuan hukum atau

    34

    Ridwan HR, 2013, Hukum Administrasi Negara, Edisi Revisi, PT. RajaGravindo Persada,

    Jakarta, hal. 98.

  • 32

    aturan hukum yang lebih tinggi, atau kewenangan yang lebih tinggi, maka akan

    terdapat dua kemungkinan, yaitu:35

    a) bahwa ketentuan hukum atau aturan hukum tersebut bukan merupakan

    ketentuan hukum atau aturan hukum yang sah, oleh karena itu tidaklah

    mempunyai kekuatan berlaku, juga kekuatan mengikat;

    b) bahwa ketentuan hukum atau aturan hukum tersebut merupakan ketentuan

    hukum atau aturan hukum yang tertinggi dalam tata-hukum Negara yang

    bersangkutan.

    Dalam UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa juga diatur mandat dan kewenangan

    desa antara lain kewenangan berdasarkan hak asal usul, kewenangan lokal

    berskala Desa, kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah

    Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Serta kewenangan lain yang

    ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah

    Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

    Lebih lanjut, dalam aturan sebelumnya kewenangan pemerintahan yang menjadi

    kewenangan desa mencakup urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan

    hak asal–usul desa, urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan

    Kabupaten/Kota yang diserahkan pengaturannya kepada desa, tugas pembantuan

    dari pemerintah, pemerintah provinsi dan atau pemerintah Kabupaten/Kota,

    urusan pemerintahan lainnya yang oleh peraturan perundangundangan diserahkan

    kepala desa. Dalam UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, kewenangan desa

    meliputi:

    35

    Ibid., hal. 106-107

  • 33

    a. kewenangan berdasarkan hak asal-usul;

    b. kewenangan lokal berkala desa;

    c. kewenangan yang ditugaskan pemerintahan daerah provinsi, pemerintah

    kota/kabupaten; dan

    d. kewenangan lain yang ditugaskan oleh pemerintah Kabupaten/Kota sesuai

    dengan peraturan perundang-undangan.

    Berkenaan dengan kewenangan-kewenangan tersebut, Pemerintah Desa juga

    berwenang untuk mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) yang

    dikelola dengan semangat kekeluargaan dan gotong-royong. BUM Desa itu bisa

    bergerak di bidang ekonomi, pedagangan, pelayanan jasa maupun pelayanan

    umum lainnya sesuai ketentuan umum peraturan perundangundangan.

    Dalam penjelasan UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, disebutkan bahwa

    BUM Desa ini secara spesifik tidak bisa disamakan dengan badan hukum seperti

    perseroan terbatas, CV atau koperasi karena tujuan dibentuknya adalah untuk

    mendayagunakan segala potensi ekonomi, sumber daya alam dan sumber daya

    manusia untuk kesejahteraan masyarakat desa.

    Dengan kata lain, orientasi BUM Desa tidak hanya berorientasi pada keuntungan

    keuangan. Melainkan juga mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat

    desa. Sumber pendanaan BUM Desa juga dibantu oleh pemerintah, pemerintah

    daerah provinsi, pemerintah daerah Kabupaten/Kota, dan pemerintah desa.

    Pemerintah mendorong BUM Desa dengan memberikan hibah dan atau akses

    permodalan, melakukan pendampingan teknis dan akses ke pasar, dan

    memprioritaskan BUM Desa dalam pengelolaan sumber daya alam di desa.

  • 34

    Jadi kewenangan desa adalah kewenangan yang dimiliki desa, meliputi

    kewenangan di bidang penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan

    pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan

    masyarakat desa, berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal-usul dan adat istiadat

    desa.36

    Yang dimaksud dengan kewenangan berdasarkan hak asal-usul adalah hak yang

    merupakan warisan yang masih hidup dan prakarsa masyarakat desa, sesuai

    dengan perkembangan kehidupan masyarakat.37

    Artinya bahwa kewenangan

    tersebut merupakan kewenangan yang dimiliki desa, bukan karena pemberian dari

    pemerintah pusat, melainkan kewenangan yang bersifat otonom hasil dari rahim

    riwayat desa tersebut.

    E. Peraturan Desa

    Berdasarkan ketentuan Pasal 1 Angka 7 Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014

    tentang Desa disebutkan bahwa, Peraturan Desa adalah peraturan perundang-

    undangan yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati

    bersama Badan Permusyawaratan Desa. 38

    yang merupakan kerangka hukum dan

    kebijakan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa dan pembangunan desa,

    peraturan desa merupakan penjabaran atas berbagai kewenangan yang dimiliki

    desa dalam mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih

    tinggi.

    36

    Tim Visi Yustisia, 2015, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa dan Peraturan Terkait, Visimedia, Jakarta, hal. 10. 37

    Ibid. 38

    Pasal 1 Angka 7 Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa

  • 35

    Peraturan desa yang dibuat oleh pemerintah desa untuk mengelola kegiatan

    kegiatan yang penting dan strategis desa, kegiatan-kegiatan tersebut antara lain,

    penetapan anggaran, penerimaan dan pengeluaran, keuangan desa, dan penyewaan

    tanah kas desa, dan lain-lainnya.

    Tata cara penyusunan Peraturan Desa diatur dalam PP Nomor 43 Tahun 2014

    tentang desa Pasal 83:

    1. Rancangan peraturan Desa diprakarsai oleh Pemerintah Desa.

    2. Badan Permusyawaratan Desa dapat mengusulkan rancangan peraturan Desa

    kepada pemerintah desa.

    3. Rancangan peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)

    wajib dikonsultasikan kepada masyarakat Desa untuk mendapatkan masukan

    4. Rancangan peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan

    oleh kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan

    Permusyawaratan Desa.

    Pasal 84:

    1. Rancangan peraturan Desa yang telah disepakati bersama disampaikan oleh

    pimpinan Badan Permusyawaratan Desa kepada kepala Desa untuk ditetapkan

    menjadi peraturan Desa paling lambat 7 (tujuh) Hari terhitung sejak tanggal

    kesepakatan.

    2. Rancangan peraturan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib

    ditetapkan oleh kepala Desa dengan membubuhkan tanda tangan paling

    lambat 15 (lima belas) Hari terhitung sejak diterimanya rancangan peraturan

    Desa dari pimpinan Badan Permusyawaratan Desa.

  • 36

    3. Peraturan Desa dinyatakan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan hukum

    yang mengikat sejak diundangkan dalam lembaran Desa dan berita Desa oleh

    sekretaris Desa.

    4. Peraturan Desa yang telah diundangkan sebagaimana dimaksud pada ayat (3)

    disampaikan kepada bupati/walikota sebagai bahan pembinaan dan

    pengawasan paling lambat 7 (tujuh) Hari setelah diundangkan.

    5. Peraturan Desa wajib disebarluaskan oleh Pemerintah Desa.

    Peraturan Desa (Perdes) berbasis masyarakat berarti setiap Perdes harus relevan

    dengan konteks kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Dengan kata lain, Perdes

    yang dibuat bukan sekadar merumuskan keinginan elite desa atau hanya untuk

    menjalankan instruksi dari pemerintah supra desa. Secara substansi, prinsip

    dasarnya bahwa Perdes lebih bersifat membatasi yang berkuasa dan sekaligus

    melindungi rakyat yang lemah.

    Berdasarkan uraian di atas penulis menyimpulkan Peraturan desa harus sesuai

    dengan kebutuhan masyarakat dan dilarang bertentangan dengan kepentingan

    umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Peraturan desa

    memberikan ketegasan tentang membatasi yang berkuasa dan akuntabilitas

    pemerintah desa dan BPD dalam mengelola pemerintahan Desa.

    F. Otonomi Desa

    Menurut Widjaja (2003) Otonomi Desa merupakan otonomi yang asli, bulat dan

    utuh serta bukan merupakan pemberian dari pemerintah, sebaliknya pemerintah

    berkewajiban menghormati otonomi asli yang dimiliki desa tersebut.39

    39

    Wayan Carwiaka, Pelaksanaan Otonomi Desa , 2013, hlm.4

  • 37

    Juliantara (2003) menerangkan bahwa otonomi desa bukanlah sebuah kedaulatan

    melainkan pengakuan adanya hak untuk mengatur urusan rumah tangganya

    sendiri dengan dasar prakarsa dari masyarakat. Otonomi dengan sendirinya dapat

    menutup pintu intervensi institusi diatasnya.40

    Gagasan utama desentralisasi pembangunan adalah menempatkan desa sebagai

    entitas yang otonom dalam pengelolaan pembangunan. Dengan demikian,

    perencanaan desa dari bawah keatas (bottom up) juga harus diwujudkan menjadi

    village self planning, sesuai dengan batas-batas kewenagan yang dimiliki oleh

    desa. Desentralisasi pembangunan identik dengan membuat perencanaan

    pembangunan cukup sampai desa saja. Desa oleh kerananya mempunyai

    kemandirian dalam perencanaan pembangunan tanpa intruksi dan intervensi

    pemerintah supradesa. Disinilah kemudian peran Badan Permusyawaratan Desa

    (BPD) atau yang disebut dengan nama lain, sebagai lembaga yang merupakan

    perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemrintahan desa sebagai unsure

    penyelenggara pemerintahan desa. BPD inilah yang harus menjadi roda penggerak

    otonomi desa.41

    Otonomi desa merupakan otonomi asli, bulat, dan utuh serta bukan merupakan

    pemberian dari pemerintah. Sebaliknya pemerintah berkewajiban menghormati

    otonomi asli yang dimiliki oleh desa tersebut. Sebagai kesatuan masyarakat

    hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak istimewa, desa dapat

    melakukan perbuatan hukum baik hukum publik maupun hukum perdata,

    40

    Ibid 41

    Naskah Akademik RUU Desa, Direktorat Pemerintahan Desa dan Kelurahan Direktorat Jendral

    Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Departemen Dalam Negeri 2007. 11

  • 38

    memiliki kekayaan,harta benda serta dapat dituntut dan menuntut di muka

    pengadilan.42

    Bagi desa, otonomi yang dimiliki berbeda dengan otonomi yang dimiliki oleh

    daerah propinsi maupun daerah kabupaten dan daerah kota. Otonomi yang

    dimiliki oleh desa adalah berdasarkan asal-usul dan adat istiadatnya, bukan

    berdasarkan penyerahan wewenang dari Pemerintah. Desa atau nama lainnya,

    yang selanjutnya disebut desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki

    kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat

    berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dalam sistem

    Pemerintahan Nasional dan berada di Daerah Kabupaten. Landasan pemikiran

    yang perlu dikembangkan saat ini adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi

    asli, demokrasi, dan pemberdayaan masyarakat.

    Otonomi desa mengandung prinsip keleluasaan (discretionary), kekebalan

    (imunitas) dan kapasitas (capacity). Keterpaduan antara keleluasaan dan kapasitas

    melahirkan kemandirian desa, yakni kemandirian mengelola sumberdaya lokal

    sendiri yang sesuai dengan preferensi masyarakat lokal. Kemandirian merupakan

    kekuatan atau sebagai sebuah prakondisi yang memungkinkan proses peningkatan

    kualitas penyelenggaran pemerintahan desa, pembangunan desa, pengembangan

    prakarsa dan potensi lokal, pelayanan publik dan kualitas hidup masyarakat desa

    secara berkelanjutan. Untuk membangun otonomi desa, desentralisasi harus

    didorong sampai ke level desa dimana distribusi kewenangan tidak hanya berhenti

    pada pemerintah daerah saja tetapi perlu juga ditribusi kewenangan hingga pada

    42

    H.A.W Widjaja,…Op.Cit., hlm 165

  • 39

    tingkat desa. kewenangan ideal yang harus dimiliki oleh desa untuk mendorong

    terwujudnya otonomi desa, yaitu sebagai berikut:43

    1. Hak dan kewenangan untuk terlibat dalam proses perumusan kebijakan

    pemerintah daerah yang menyangkut tentang desa. Produk kebijakan

    pemerintah desa idealnya lahir dari sebuah proses yang melibatkan desa,

    kebijakan tentang penyusunan alokasi anggaran untuk desa dalam APBD dan

    serta kebijakan tentang program pembangunan kabupaten yang menyangkut

    tentang desa harus selalu melibatkan partisipasi desa. Pelibatan desa disini

    tidak hanya sekedar pemerintah desa saja namun juga harus melibatkan

    komponen masyarakat lainnya. Dengan dilibatkannya masyarakat maka

    desentralisasi desa tidak hanya sebuah proses transfer kewenangan antar unit

    pemerintahan (intergovernmental relation) tetapi juga merupakan sebuah

    proses yang membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat di dalamnya.

    Sehingga desentralisasi desa tidak hanya merupakan sebuah konsep yang

    diinisiasi oleh pihak negara (state), namun menempatkan masyarakat (society)

    sebagai bagian utama dari bergulirnya desentralisasi desa.

    2. Kewenangan untuk menentukan kebijakan yang berkaitan dengan urusan

    urusan internal desa. Melalui prinsip subsidiarity, bagi desa-desa yang mampu

    mengurus urusan-urusan internalnya diberikan kewenangan untuk mengurusi

    urusan-urusan internal desa. Adapun urusan-urusan internal desa antara lain

    adalah: penentuan model rekruitmen kepemimpinan desa, penentuan

    pelembagaan demokrasi desa, penentuan mekanisme pertanggung jawaban

    pemerintah desa kepada masyarakat, pengelolaan wilayah desa, pengelolaan

    43

    Abdur Rozaki dkk, Prakarsa Desa dan Otonomi Desa, (Yogyakarta: IRE PRESS, 2005) hlm. 73

  • 40

    pembangunan desa serta pengelolaan anggaran desa. Kewenangan

    menjalankan urusan internal desa harus dibarengi dengan pemberian

    keleluasaan kepada desa untuk menterjemahkan pedoman dari kabupaten

    berdasarkan konteks lokalitas dan kesepakatan masyarakat.

    3. Kewenangan untuk mengelola pelayanan publik dasar.

    4. Kewenangan untuk mengelola dana perimbangan yang berasal dari DAU.

    Kewenangan ini harus didahului dengan adanya komitmen dari kabupaten

    untuk memberikan persentase yang proporsional kepada desa atau DAU yang

    diterima kabupaten. Sebesar apapun transfer fungsi dan kekuasaan kepada

    desa namun kalau tidak ditopang dengan transfer “alat” untuk menjalankan

    fungsi dan kekuasaan yang dimilikinya tidakakan mendorong proses otonomi

    desa. Oleh karena itu desa perlu untuk mendapatkan prosentase yang

    proporsional terhadap DAU yang diterima oleh kabupaten untuk mendorong

    munculnya kemandirian pengelolaan kehidupan rumah tangganya.

    5. Kewenangan mengelola sumber daya ekonomi yang berada di tingkat desa.

    Desa baik secara sendiri ataupun dengan bekerjasama dengan pihak luar

    punya keleluasaan mengelola dan mengoptimalkan sumber daya alam yang

    tersedia di desa. Berkaitan dengan sumber pendapatan daerah yang berada di

    tingkat desa dan sudah dikelola oleh kabupaten, maka desa idealnya

    dialokasikan persentase yang proporsional dari perolehan keuntungan

    pengelolaan sumber pendapatan daerah yang berdara di tingkat desa dimana

    penentuannya dibicarakan secara bersama dan terbuka antara pemerintah

    kabupaten dan pemerintah desa. Jika desa dianggap telah memungkinkan

  • 41

    untuk mengelola secara mandiri, kabupaten hendaknya memfasilitasi proses

    transfer pengelolaan sumber daya dari kabupaten kepada desa.

    6. Kewenangan untuk menolak program-program tugas pembantuan dari

    pemerintah di atasnya yang disertai dengan pembiayaan, sarana, prasrana dan

    tidak sesuai dengan daya dukung desa dan kehendak masyarakat setempat.

    Kewenangan ini harus disertai dengan munculnya komitmen dari kabupaten

    untuk tidak melakukan penilaian negatif atas penolakan pelaksanaan program

    pembantuan yang dilakukan desa.

    Pengakuan otonomi di desa, Taliziduhu Ndraha menjelaskan sebagai berikut :

    a. Otonomi desa diklasifikasikan, diakui, dipenuhi, dipercaya dan dilindungi

    oleh pemerintah, sehingga ketergantungan masyarakat desa kepada

    “kemurahan hati” pemerintah dapat semakin berkurang.

    b. Posisi dan peran pemerintahan desa dipulihkan, dikembalikan seperti

    sediakala atau dikembangkan sehingga mampu mengantisipasi masa depan.

    Otonomi desa merupakan hak, wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan

    mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat berdasarkan

    hak asal-usul dan nilai-nilai sosial budaya yang ada pada masyarakat untuk

    tumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan desa tersebut. Urusan

    pemerintahan berdasarkan asal-usul desa, urusan yang menjadi wewenang

    pemerintahan Kabupaten atau Kota diserahkan pengaturannya kepada desa.

    Namun harus selalu diingat bahwa tiada hak tanpa kewajiban, tiada kewenangan

    tanpa tanggungjawab dan tiada kebebasan tanpa batas. Oleh karena itu, dalam

    pelaksanaan hak, kewenangan dan kebebasan dalam penyelenggaraan otonomi

  • 42

    desa harus tetap menjunjung nilai-nilai tanggungjawab terhadap Negara Kesatuan

    Republik Indonesia dengan menekankan bahwa desa adalah bagian yang tidak

    terpisahkan dari bangsa dan negara Indonesia. Pelaksanaan hak, wewenang dan

    kebebasan otonomi desa menuntut tanggungjawab untuk memelihara integritas,

    persatuan dan kesatuan bangsa dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia

    dan tanggungjawab untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang dilaksanakan

    dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku.44

    Otonomi desa atau disebut dengan nama lain berdasarkan amanat Pasal 18B ayat

    (2) Undang-Undang Dasar 1945 setidaknya harus melingkupi pada tiga aras hak

    asal-usul, yaitu: pengakuan terhadap susunan asli; pengakuan terhadap sisten

    norma/pranata sosial yang dimiliki dan berlaku; serta, pengakuan terhadap basis

    basis material yakni ulayat serta asset-aset kekayaan desa (property right). Dengan

    demikian, sebenarnya otonomi desa ini bisa diimplementasikan dengan baik

    dalam kerangka desa adat, bukan desa administratif. 45

    Gagasan otonomi desa sebenarnya mempunyai relevansi (tujuan dan manfaat)

    sebagai berikut:46

    a. Memperkuat kemandirian desa sebagai basis kemandirian NKRI;

    b. Memperkuat posisi desa sebagai subyek pembangunan;

    c. Mendejkatkan perencanaan pembangunan kemasyarakat;

    d. Memperbaiki pelayanan publik dan pemerataan pembangunan;

    e. Menciptakan efisiensi pembiayaan pembangunan yang sesuai dengan

    kebutuhan lokal;

    44

    H.A.W Widjaja,…Op.Cit., hlm 166 45

    Naskah Akademik RUU Desa, Op.Cit 46

    Ibid.

  • 43

    f. Menggairakkan ekonomi lokal dan penghidupan masyarakat desa;

    g. Memperbaiki kepercayaan, tanggung jawab dan tantangan bagi desa untuk

    membangkitkan prakarsa dan potensi desa;

    h. Menempa kapasitas desa dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan;

    i. Membuka arena pembelajaran yang sangat berharga bagi pemrintah desa,

    lembaga-lembaga desa dan masyarakat;

    j. Merangsang tumbuhnya partisipasi masyarakat.

    Kewenangan-kewenangan yang dimiliki desa mendorong agar desa bisa lebih

    mandiri, kreatif dan inovatif dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

    masyarakatnya yaitu dengan membangkitkan prakarsa dan potensi-potensi sumber

    daya yang ada. Dalam me