Kelompok 5 - PSAK Syariah

  • View
    33

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Kelompok 5 - PSAK Syariah

Text of Kelompok 5 - PSAK Syariah

STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN SYARIAH

A. PendahuluanPSAK Syariah merupakan sebuah standar akuntansi yang diaplikasikan oleh entitas khususnya yang bertanskasi secara syariah. Perusahaan yang menerapkan standar akuntansi ini dapat berupa entitas lembaga syariah atuapun lembaga non-syariah. Pengembangan PSAK Syariah, dilakukan menggunakan sistem PSAK umum (PSAK-IFRS), tetapi memakai dasar syariah melalui adanya acuan dari fatwa MUI.Tetapi perjalanan PSAK Syariah ini terhitung cukup panjang. Terhitung Sejak 1992-2002 atau 10 tahun lembaga keuangan baik bank syariah maupun entitas syariah yang lain tidak memiliki PSAK khusus yang mengatur transaksi dan kegiatan berbasis syariah. PSAK 59: Akuntansi Perbankan Syariah sebagai produk pertama DSAKIAI untuk entitas syariah, merupakan awal dari pengakuan dan eksistensi keberadaan akuntansi syariah di Indonesia. PSAK ini disahkan tanggal 1 Mei 2002, berlaku mulai 1 Januari 2003 atau pembukuan yang berakhir tahun 2003 hanya berlaku hanya dalam tempo 5 tahun.PSAK 59 dikhususkan untuk kegiatan transaksi syariah hanya di sektor perbankan syariah, ini sangat ironis karena ketika itu sudah mulai menjamur entitas syariah selain dari perbankan syariah, seperti asuransi syariah, pegadaian syariah, koperasi syariah. Maka seiring tuntutan akan kebutuhan akuntansi untuk entitas syariah yang lain maka komite akuntansi syariah dewan standar akuntasi keuangan (KAS DSAK) menerbitkan enam pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) bagi seluruh lembaga keuangan syariah (LKS) yang disahkan tanggal 27 Juni 2007 dan berlaku mulai tanggal 1 Januari 2008 atau pembukuan tahun yang berakhir tahun 2008.Keenam PSAK itu adalah:1. PSAK No 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah;2. PSAK No 102 tentang akuntansi Murabahah (Jual beli);3. PSAK No 103 tentang Akuntansi Salam;4. PSAK No 104 tentang Akuntansi Isthisna;5. PSAK No 105 tentang Akuntansi Mudarabah (Bagi hasil); dan6. PSAK No 106 tentang Akuntansi Musyarakah (Kemitraan).Pada tahun 2009 diterbitkan lagi dua PSAK Syariah untuk mengakomodasi mengenai transaksi ijarah atau sewa serta terkait transaksi asuransi syariah.7. PSAK 107 tentang Akuntansi Ijarah (Sewa);8. PSAK 108 tentang Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah;9. PSAK 109 tentang Akuntansi Zakat dan Infaq/Shadaqah.

B. Perbandingan PSAK Syariah dengan PSAK-IFRS1. Perbedaan Laporan Keuangan BANK KONVENSIONAL (PSAK 1)BANK SYARIAH (PSAK 101)

1. Neraca;2. Laporan Laba Rugi;3. Laporan Arus Kas;4. Laporan Perubahan Ekuitas;5. Catatan Atas Laporan Keuangan.1. Neraca;2. Laporan Laba Rugi;3. Laporan Arus Kas;4. Laporan Perubahan Ekuitas;5. Laporan perubahan dana investasi terikat;6. Laporan Rekonsiliasi pendapatan & bagi hasil;7. Laporan sumber dan penggunaan dana zakat;8. Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan;9. Catatan Atas Laporan Keuangan.

2. Perbedaan PSAK 59 dengan PSAK Syariah LainnyaPSAK 59PSAK Syariah

Hanya untuk perbankan syariah (BUS, UUS dan BPRS Hanya mengatur dari segi perbankan syariah saja

Untuk entitas yang melakukan kegiatan transaksi syariah Mengatur lembaga keuangan syariah dan pihak terkait Penyempurnaan PSAK 59 (ketentuan dan istilah)

C. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan SyariahKerangka dasar merupakan rumusan konsep yang mendasari penyusunan dan penyajian laporan keuangan bagi para pemakai eksternal. Adanya perbedaan karakteristik antara bisnis yang berlandaskan pada syariah dengan bisnis konvensional menyebabkan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mengeluarkan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Bank Syariah (KDPPLKBS) pada tahun 2002. KDPPLKBS selanjutnya disempurnakan pada tahun 2007 menjadi Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian laporan Keuangan Syariah (KDPPLKS). Penyempurnaan KDPPLKS terhadap KDPPLKBS dilakukan untuk memperluas cakupannya sehingga tidak hanya untuk transaksi syariah pada bank syariah, melainkan juga pada jenis institusi bisnis lain, baik yang berupa entitas syariah maupun entitas konvensional yang bertransaksi dengan skema syariah.Pada bagian pendahuluan KDPPLKS, dilakukan penyempurnaan, khususnya mengenai pemakai dan kebutuhan informasi, paradigma transaksi syariah, asas transaksi syariah, dan karakteristik transaksi syariah. Pada bagian tujuan laporan keuangan terdapat tambahan tujuan selain yang diatur dalam KDPPLK, yaitu tujuan laporan keuangan yang terkait dengan:1.Pemberian informasi dan peningkatan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip syariah2.Pemberian informasi pemenuhan kewajiban fungsi sosial entitas syariah.Pada bagian asumsi dasar, selain diatur asumsi dasar akrualdan kelangsungan usaha(going concrn), juga diatur bahwa penentuan bagi hasil harus didasarkan pada dasar kas. Pendapatan atau hasil yang dimaksud ditentukan dari laba bruto (gross profit). Sementara itu, bagian unsur-unsur laporan keuangan mengatur antara lain hal-hal sebagai berikut:a. Komponen laporan keuangan entitas syariah meliputi komponen laporan keuangan yang mencerminkan antara lain kegiatan komersial, kegiatan sosial, serta kegiatan dan tanggung jawab khusus entitas syariah.b. Unsur neraca entitas syariah terdiri dari aset, kewajiban, dan dana syirkah temporer, dan ekuitas.c. Unsur kinerja terdiri dari penghasilan, beban dan hak-hak pihak ketiga atas bagi hasil.

TujuanTujuan kerangka dasar ini adalah untuk digunakan sebagai acuan bagi:a. Penyusun standar akuntansi keuangan syariah, dalam pelaksanaan tugasnya membuat standar.b. Penyusun laporan keuangan, untuk menaggulangi masalah akuntansi syariah yang belum diatur dalam standar akuntansi keuangan syariah.c. Auditor, dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun sesuai dengan prinsip akuntansi syariah yanh berlaku umum.d. Para pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan syariah.

Paradigma TransaksiTransaksi syariah berlandaskan pada paradigma bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan sebagai amanah dan sarana kebahagiaan hidup bagi seluruh umat manusia untuk mencapai kesejahteraan hakiki secara material maupun spiritual. Paradigma dasar ini menekankan bahwa setiap aktivitas umat manusia memiliki akuntabilitas dan nilai ilahiah yang menempatkan perangkat syariah dan akhlak sebagai parameter baik dan buruk, benar dan salahnya aktivitas usaha.Asas Transaksi SyariahTransaksi syariah berasaskan pada prinsip:a. Persaudaraan (ukhuwah), yang berarti bahwa transaksi syariah menjunjung tinggi nilai kebersamaan dalam memperoleh manfaat, sehingga seseorang tidak boleh mendapatkan keuntungan di atas kerugian orang lain.b. Keadilan (adalah), yang berarti selalu menempatkan sesuatu hanya pada yang berhak dan sesuai dengan posisinya. Realisasi prinsip ini dalam bingkai aturan muamalah adalah melarang adanya unsur:1. Riba/bunga dalam segala bentuk dan jenis, baik riba nasiah atau riba fadl.2. Kezaliman, baik terhadap diri sendiri, orang lain atau lingkungan.3. Masyir/judi atau bersikap spekulatif dan tidak berhubungan dengan produktivitas.4. Gharar/unsur ketidakejelasan, manipulasi dan eksploitasi informasi serta tidak adanya kepastian pelaksanaan akad.5. Haram/segala unsur yang dilarang tegas dalam Al-Quran dan As-Sunah, baik dalam barang/jasa ataupun aktivitas operasional terkaitc. Kemaslahatan (maslahah), yaitu segala bentuk kebaikan dan manfaat yang berdimensi duniawi dan ukhrawi, material dan spiritual, serta individual dan kolektif.d. Keseimbangan (tawazun), yaitu keseimbangan antara aspek material dan spiritual, antara aspek privat dan publik, antara sektor keuangan dan sektor riil, antara bisnis dan sosial serta antara aspek pemanfaatan serta pelstarian.e. Universalisme (syumuliyah), di mana esensinya dapat dilakukan oleh, dengan dan untuk semua pihak yang berkepentingan tanpa membadakan suku, agama, ras dan golongan sesuai dengan semangat kerahmataan semesta.

KarakteristikImplementasi transaksi yang sesuai dengan paradigma dan asas transaksi syariah harus memenuhi karakteristik dan persyaratan antara lain:1. Transaksi hanya dilakukan berdasarkan prinsip saling paham dan saling ridha2. Prinsip kebebasan bertransaksi diakui sepanjang objeknya halal dan baik3. Uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan satuan pengukur nilai, bukan sebagai komoditas4. Tidak mengandung unsur riba5. Tidak mengandung unsur kezaliman6. Tidak mengandung unsur masyir7. Tidak mengandung unsur gharar8. Tidak mengandung unsur haram9. Tidak menganut prinsip nilai waktu dari uang (time value of money)10. Transaksi dilakukan berdasarkan suatu perjanjian yang jelas dan benar serta untuk keuntungan semua pihak tanpa merugikan pihak lain.11. Tidak ada distorsi harga melalui rekayasa permintaan.12. Tidak mengandung unsur kolusi dengan suap menyuap.

Pemakai dan Kebutuhan InformasiPemakai laporan keuangan meliputi:a. Investor sekarang dan investor potensial; hal ini karena mereka harus memutuskan apakah akan membeli, menahan atau menjual investasi atau penerimaan deviden.b. Pemilik dana qardh; untuk mengetahui apakah dana qardh dapat dibayar pada saat jatuh tempo.c. Pemilik dana syirkah temporer; untuk pengambilan keputusan pada investasi yang memberikan tingkat pengembalian yang bersaing atau aman.d. Pemilik dana titipan; untuk memastikan bahwa titipan dana dapat diambil setiap saat.e. Pembayar dan penerima zakat, infak, sedekah, dan wakaf; untuk informasi tentang sumber dan penyaluran dana tersebut.f. Pengawas syariah; untuk menilai kepatuhan pengelolaan lembaga syariah terhadap prinsip syariah.g. Karyawan; untuk memperoleh informasi tentang stabilitas dan profitabilitas entitas syariah.h. Pemasok dan mitra usaha lainnya; untuk memperoleh informasi tentang kemampuan entitas membayar utang pada saat jatuh tempo.i. Pelanggan; untuk memperoleh informasi tentang kelangsungan hidup entitas syariah.j. Pemerintah serta lembaga-lembaganya; untuk memperoleh informasi tentang aktivitas entitas syariah, perpajak

Search related