4
Dalam kurun waktu kurang lebih satu dekade terakhir, realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung mengalami peningkatan namun belum setinggi periode sebelum krisis (Grafik 1). Salah satu cara untuk mengetahui faktor-faktor penyebab belum kembali pulihnya tingkat pertumbuhan tersebut adalah dari sisi penawaran melalui faktor produksi. Faktor produksi Cobb Douglas dapat dinyatakan dalam bentuk Y= AK α L 1α (1) dengan Y : total output perekonomian A : produktivitas K : level stok kapital L : jumlah tenaga kerja 0< α< 1 merupakan proporsi penggunaan stok kapital dan tenaga kerja dalam fungsi produksi. Pada hakikatnya, akumulasi kapital yang ditopang oleh tabungan masyarakat mampu menjadi motor pertumbuhan ke depan. Di samping itu, peran modal manusia dan TFP penting pula dalam mendukung sustainabilitas pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Hal ini berkaitan dengan adanya fenomena diminishing returns dari kapital yang dapat menyebabkan pertumbuhan menjadi tidak berkesinambungan dalam jangka panjang apabila hanya mengandalkan pada akumulasi kapital. Berdasarkan kalkulasi, diketahui bahwa pertumbuhan yang belum setinggi periode krisis disebabkan oleh belum kembali pulihnya kontribusi kapital fisik, di samping faktor teknologi (total factor productivity) yang masih tetap rendah (Grafik 2). Secara lebih rinci, Tabel 1 juga menunjukkan kondisi stok kapital sebagai pendorong utama pertumbuhan PDB potensial yang belum kembali pulih pascakrisis.

Kerangka Pemikiran Kapstok Ke Output Potensial

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Ringkasan mengenai peran kapital stok dalam membentuk pertumbuhan potensial

Citation preview

Page 1: Kerangka Pemikiran Kapstok Ke Output Potensial

Dalam kurun waktu kurang lebih satu dekade terakhir, realisasi

pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung mengalami peningkatan namun

belum setinggi periode sebelum krisis (Grafik 1). Salah satu cara untuk

mengetahui faktor-faktor penyebab belum kembali pulihnya tingkat

pertumbuhan tersebut adalah dari sisi penawaran melalui faktor produksi. Faktor

produksi Cobb Douglas dapat dinyatakan dalam bentuk

Y=A K α L1−α (1)

dengan

Y : total output perekonomian

A : produktivitas

K : level stok kapital

L : jumlah tenaga kerja

0<α<1 merupakan proporsi penggunaan stok kapital dan tenaga kerja dalam

fungsi produksi.

Pada hakikatnya, akumulasi kapital yang ditopang oleh tabungan

masyarakat mampu menjadi motor pertumbuhan ke depan. Di samping itu,

peran modal manusia dan TFP penting pula dalam mendukung sustainabilitas

pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Hal ini berkaitan dengan adanya

fenomena diminishing returns dari kapital yang dapat menyebabkan

pertumbuhan menjadi tidak berkesinambungan dalam jangka panjang apabila

hanya mengandalkan pada akumulasi kapital.

Berdasarkan kalkulasi, diketahui bahwa pertumbuhan yang belum setinggi

periode krisis disebabkan oleh belum kembali pulihnya kontribusi kapital fisik, di

samping faktor teknologi (total factor productivity) yang masih tetap rendah

(Grafik 2). Secara lebih rinci, Tabel 1 juga menunjukkan kondisi stok kapital

sebagai pendorong utama pertumbuhan PDB potensial yang belum kembali pulih

pascakrisis.

Page 2: Kerangka Pemikiran Kapstok Ke Output Potensial

Sumber: Database MODBI, diolah

Grafik 1 Realisasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Sumber: Database MODBI, diolah

Grafik 2 Kontribusi Faktor Produksi terhadap Pertumbuhan Output

Potensial

Tabel 1 Kontribusi Faktor Produksi terhadap Pertumbuhan Output Potensial

Dugaan faktor produksi kapital yang masih menjadi faktor utama

pendorong pertumbuhan PDB tergambar pada Grafik 3, di mana besaran

marginal product of capital (MPK) dari beberapa penelitian dan sumber data

menyimpulkan hal yang relatif serupa, yakni relatif besarnya kontribusi kapital

dalam perekonomian dengan rata-rata MPK 54%.

Sumber: berbagai sumber, diolah

Grafik 3 Realisasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Mengingat perannya yang masih relatif besar, dinamika stok kapital akan

berpengaruh secara signifikan pada pola pertumbuhan ekonomi domestik.

Sebagaimana tampak pada Grafik 4, pertumbuhan stok kapital bergerak seiring

dengan pertumbuhan PDB. Secara statistik, korelasi antara pertumbuhan PDB

dan stok kapital sangat kuat, yakni 0,96, yang semakin menguatkan dugaan

besarnya peran stok kapital dalam membentuk pola pertumbuhan PDB.

Page 3: Kerangka Pemikiran Kapstok Ke Output Potensial

Sumber: database MODBI, diolah

Grafik 4 Pertumbuhan PDB dan Stok Kapital

Sementara itu, berdasarkan pendekatan perpetual inventory, stok kapital

dipengaruhi oleh seberapa besar akumulasi kapital (investasi) yang dilakukan

dalam suatu perekonomian. Hal ini dapat dinyatakan dalam persamaan berikut:

K t=(1−δ ) K t−1+ I t−1 (2)

atau

K t=(1−δ ) K t−1+i .Y t−1 (3)

dengan

K t : stok kapital

δ : depresiasi kapital

I t : investasi

i : rasio investasi; dan

Y : PDB

Semakin besar akumulasi kapital (investasi) yang dilakukan dalam suatu

perekonomian, kapasitas produksi akan semakin meningkat. Karenanya, menjadi

penting untuk tetap mendorong peningkatan stok kapital melalui pertumbuhan

investasi hingga ke tingkat yang optimal. Karena itu pula, realisasi dan perkiraan

investasi (atau rasio investasi) ke depan juga menjadi penting dalam mendorong

peningkatan kapasitas perekonomian. Berdasarkan simulasi sederhana dengan

menggunakan fungsi produksi, diketahui bahwa penurunan rasio investasi 1%

terhadap PDB dapat membawa PDB potensial turun sebesar 0,3%.

Namun demikian, mengingat adanya hukum diminishing return to capital,

investasi tidak dapat terus menerus menjadi penopang pertumbuhan. Di

Page 4: Kerangka Pemikiran Kapstok Ke Output Potensial

samping itu, investasi yang sangat dipengaruhi oleh kondisi eksternal dan

domestik seperti gejolak perekonomian global atau tingkat risiko yang dimiliki

suatu negara, membuat suatu perekonomian tidak dapat hanya bergantung

pada investasi. Perbaikan produktivitas dan efisiensi menjadi salah satu faktor

penting yang dapat mendorong pertumbuhan sehingga lebih berkesinambungan.

Apabila terdapat indikasi penurunan prospek pertumbuhan investasi di

tengah perbaikan produktivitas yang masih relatif terbatas, maka dapat diduga

bahwa pertumbuhan output potensial juga akan terkoreksi. Karena itu,

diperlukan sebuah tinjauan ulang secara berkala terhadap output potensial yang

tidak hanya konsisten dengan prospek investasi, tapi juga dengan

perkembangan realisasi dan rencana kebijakan pemerintah dalam rangka

meningkatkan produktivitas dan modal manusia.