Kontrak Bisnis di Pasar Senen

  • View
    234

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Research report based on a paper by Stewart Macauley "Non contractual Relations in Business"

Transcript

LAPORAN PENELITIAN

PENGGUNAAN KONTRAK DALAM TRANSAKSI BISNIS DI PASAR TANAH ABANGDisusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Kelas Antropologi Hukumoleh:NESITA ANGGRAINI 1306449883JULIO CASTOR ACHMADI1206251194

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIADEPOK, 2015

BAB IPENDAHULUAN1.1. LATAR BELAKANGSektor perdagangan adalah sektor yang berkontribusi besar dalam Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia.Seperti yang sudah diketahui bersama PDB jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dalam harga pasar dalam kurun waktu tertentu adalah salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat dan mengukur pertumbuhan ekonomi. Menurut data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistika yaitu Distribusi Persentase Produk Domestik Bruto Triwulanan Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha, 11,80% produk domestik bruto Indonesia berasal dari sektor perdagangan, baik perdagangan besar maupun eceran.[footnoteRef:2] [2: _Badan Pusat Statistika, Distribusi Persentase Produk Domestik Bruto Triwulanan Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha, 2000-2014 (Persen), http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/excel/id/1207, diakses pada hari Kamis 21 Mei 2015 pukul 12.07.]

Perdagangan sebagai salah satu sektor yang berkontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan sektor yang begitu beragam, mulai dari skala kecil dan menengah sampai skala besar. Praktek perdagangan di tiap skala ini tentu memiliki karaktistik dan kebiasaannya masing-masing; apa yang menjadi kebiasaan perdagangan kaki lima tentu berbeda dengan perdagangan yang terjadi lintas negara.Resiko dalam kegiatan perdagangan skala kecil tentu tidak sebesar resiko dalam kegiatan perdagangan skala besar; kerugian yang dihadapi oleh pedagang eceran karena tidak dibayarnya barang yang sudah dibeli oleh pembeli tentu tidak perlu dibawa pesoalannya sampai ke pengadilan karena biaya yang dikeluarkan tidak sepadan dengan kerugian yang dituntut.Berbeda dengan perdagangan dalam skala besar yang dilakukan oleh eksportir atau importer misalnya; kerugian yang terjadi akibat wanprestasi bisa sangat besar dan perlu ditempuh jalan-jalan baik untuk mencegah atau menanggulangi terjadinya wanprestasi. Para pihak akan membuat kontrak untuk memastikan para pihak mengetahui apa kewajiban mereka dan apa yang akan terjadi apabila mereka tidak melaksanakan kewajiban itu.Peneliti yang sedang mempelajari ilmu hukum merasa bahwa doktrin hukum mengenai perdagangan seakan menyamakan kegiatan-kegiatan perdagangan ini.Contoh kongkritnya adalah dalam perkuliahan hukum perikatan, khususnya jual beli, kami hanya membedah pasal-pasal yang ada di Buku Ketiga KUH Perdata mengenai perikatan. Begitu juga ketika mempelajari secara khusus hukum perdagangan, walaupun tim pengajar juga meninjau sedikit mengenai hukum asing namun sumber utamanya tetap KUH Perdata dan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) yang sebagian besar membahas kegiatan perdagangan yang terjadi dalam skala besar.Peneliti merasa tertarik untuk meneliti kegiatan perdagangan yang terjadi sehari-hari di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat karena peneliti ingin mengetahui bagaimana penerapan hukum yang dipelajari oleh peneliti dalam perkuliahan di dalam prakteknya.Hal-hal yang ingin diteliti penulis adalah antara lain ada atau tidaknya kontrak dalam kegiatan perdagangan dan bagaimana proses penyelesaian sengketa antara penjual dan pembeli.

1.2. RUMUSAN MASALAH

1) Bagaimanakah para penjual aksesoris di Kawasan Tanah Abang memaknai kontrak?2) Bagaimana peraturan return policy diapikasikan dalam proses jual beli?3) Apa tindak lanjut penjual aksesoris Kawasan Tanah Abang bila haknya dilanggar?

1.3. KERANGKA TEORIDalam bagian ini hendak dijelaskan pertama artikel hasil penelitian Stewart Macauley menenai hubungan non-kontraktual dalam bisnis yang berjudul Non-Contractual Relations in Business: A Preliminary Study, kedua tinjauan umum mengenai hukum perikatan dan perjanjian jual beli dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, dan ketiga tinjauan mengenai sengketa yang merujuk pada tulisan William L.F Felstiner, Richard L. Abel, dan Austin Sarat mengenai proses timbulnya sengketa yang berjudul The Emergence and Transformation of Disputes: Naming, Blaming, Claimingtermasuk tinjauan mengenai beberapa bentuk penyelesaian sengketa.

Non-Contractual Relations in Business: A Preliminary Study oleh Stewart Macauley[footnoteRef:3] [3: _Stewart Macauley, Non-Contractual Relations in Business: Preliminary Study, dalam American Sociological Review, Vol. 28, Februari 1963, (Wisconsin: Law School, University of Wisconsin, 1963).]

Peneliti meninjau artikel Macauley mengenai hubungan non-kontrak dalam bisnis dalam laporan penelitian ini karena artikel inilah yang digunakan sebagai rujukan utama dan kerangka berpikir dasar dalam penelitian yang dilakukan.Macauley menggunakan istilah kontrak untuk merujuk keadaan di mana sebuah perikatan memuat dua elemen, yaitu: a) perencanaan secara rasional mengenai transaksi yaitu kemungkinan-kemungkinan kejadian di masa depan; dan b) adanya sanksi hukum untuk memicu terlaksananya prestasi.Dalam hal ini, ada atau tidaknya sanksi hukum tidak mempengaruhi derajat rasionalitas dari perencanaan bisnis karena bisa saja sengketa diselesaikan tanpa merujuk kontrak padahal dalam kontrak itu sudah diatur dengan baik dan mendetail.Kebalikannya, para pihak yang tidak merencakanan perikatannya dengan baik malah menggugat atau setidaknya mengancam untuk menggugat ketika terjadi sengketa.Hal-hal yang biasanya dinegosiasikan dalam pembuatan kontrak adalah apa yang harus dan terlarang untuk dikerjakan para pihak, apa yang terjadi jika salah satu pihak atau keduanya gagal melaksanakan prestasi, dan kompensasi atas kerugian yang diderita sebagai sanksi hukum. Dalam proses perencanaan ini bisa terjadi beberapa kemungkinan, yaitu: a) kontrak direncanakan dengan hati-hati dan eksplisit; b) para pihak saling paham akan suatu isu namun tidak diucapkan dengan eksplisit; c) para pihak memiliki asumsi yang berbeda tentang suatu isu namun tidak diucapkan; dan d) kedua pihak tidak terpikirkan sama sekali tentang suatu isu.Dalam penelitiannya, Macauley menemukan bahwa ada beberapa kemungkinan penggunaan kontrak dalam bisnis.Pertama, transaksi yang amat penting dan tidak biasa dilakukan dengan menggunakan kontrak yang mendetail.Misalnya transaksi jual beli Empire State Building dilakukan dengan kontrak 400 halaman yang dibuat oleh 100 pengacara.Kedua, transaksi yang rutin dilakukan biasanya menggunakan kontrak yang sudah distandarisasi.Kontrak ini biasanya terdiri dari syarat dan ketentuan yang tertulis di belakang dokumen bisnis.Nilai dan jenis barang bisa berbeda-beda namun syarat dan ketentuan yang digunakan tetap standar.Ketiga, kebanyakan transaksi tidak dilakukan dengan menggunakan kontrak. Para pebisnis hanya mengandalkan apa yang diucapkan secara lisan oleh lawan bisnisnya bahkan ketika transaksi itu beresiko tinggi. Para pengacara berpendapat bahwa pebisnis sering memulai negosiasi tanpa perencanaan yang matang.Dalam negosiasi, mereka hanya membicarakan hal-hal umum tanpa membahas hal penting yang kurang mengenakkan untuk dibahas seperti kemungkinan wanprestasi.Pebisnis lebih memerhatikan prestasi masing-masing pihak dalam transaksi daripada langkah-langkah yang bisa diambil ketika salah satu pihak melakukan pelanggaran kontrak. Mereka tidak sadar bahwa kurangnya sanksi hukum dalam kontrak akan menentukan apakah suatu kontrak itu legally enforceable.Mengenai penyelesaian sengketa, Macauley menjelaskan bahwa beberapa transaksi bisnis biasanya diselesaikan tanpa sengketa. Misalnya dalam hal pembatalan pesanan; pembeli berharap dia dapat membatalkan pesanan dengan bebas walaupun ia harus membayar biaya yang dikeluarkan penjual untuk menyiapkan barang pesanan. Pebisnis tidak merasa pembatalan adalah suatu hal yang salah karena para pihak merasa ia punya hak untuk itu dalam hubungan jual beli. Sengketa biasanya diselesaikan tanpa merujuk pada kontrak atau sanksi hukum tertentu. Bahkan ketika mereka sudah membuat kontrak yang mengatur secara detail mengenai suatu masalah yang mungkin terjadi, ketika suatu masalah timbul, mereka lebih suka menegosiasikan solusinya. Pebisnis menilai bahwa pengacara tidak mengerti konsep give and take dalam bisnis.Pengacara biasanya diminta hadir ketika pebisnis tidak bisa menyelesaikan masalah itu sendiri.Transaksi bisnis lebih sering dilakukan tanpa kontrak karena dalam banyak situasi, peran kontrak dapat digantikan dengan suatu mekanisme lain misalnya dengan adanya sanksi internal; ketika menerima komplain dari pembeli mengenai barang yang ia jual, penjual dapat menegur staf produksinya dan apabila komplain ini terus terjadi penjual bisa memecatnya. Mekanisme lain adalah apa yang disebut dengan langganan; para pihak ini biasanya telah melakukan transaksi yang sama selama bertahun-tahun sehingga tanpa adanya kontrak, para pihak sudah mengerti apa yang menjadi kewajiban masing-masing dan mengerti pula kebiasaan dalam penyelesaian suatu masalah karena sudah terjalin rasa saling percaya di antara mereka.Ada sanksi non-hukum lain yang paling sering dilakukan; penjual saling berbagi info mengenai pembeli yang terlalu banyak menuntut dan pembeli juga saling berbagi info mengenai penjual yang terlalu sering menjual barang dengan kualitas yang tidak memuaskan. Mereka melakukan blacklist terhadap pebisnis tertentu baik secara formal maupun non-formal. Kontrak tidak perlu dibuat dalam bisnis karena reputasi merekalah yang akan menentukan apakah seseorang mau melakukan transaksi bisnis dengannya.Alasan lain mengapa kontrak tidak sering digunakan adalah karena pebisnis merasa kontrak dapat mengganggu berlangsungnya sebuah transaksi bisnis. Misalnya negosiasi kontrak memakan banyak waktu yang malah menunda terjadinya pertukaran barang sebagai inti dari sebuah transaksi.Selain itu, kontrak yang sangat mendetail mengindikasikan kurangnya rasa percaya antara