16
Kontrol logika terprogram (bahasa Inggris: programmable logic controller atau PLC) adalah suatu mikroprosesor yang digunakan untuk otomasi proses industri seperti pengawasan dan pengontrolan mesin di jalur perakitan suatu pabrik. PLC memiliki perangkat masukan dan keluaran yang digunakan untuk berhubungan dengan perangkat luar seperti sensor , relai , contactor dll. Bahasa pemrograman yang digunakan untuk mengoperasikan PLC berbeda dengan bahasa pemrograman biasa. Bahasa yang digunakan adalah Ladder , yang hanya berisi input-proses-output. Disebut Ladder , karena bentuk tampilan bahasa pemrogramannya memang seperti tampilan tangga. Disamping menggunakan pemrograman ladder, PLC juga dapat diprogram dengan pemrograman SFC dan pemrograman ST, untuk yang ST sudah jarang digunakan lagi. Kontrol kendali industri pada awalnya mengandalkan pada relay elektromekanik. Relay ini bekerja bedasarkan prinsip kemagnetan . Sistem kendali ini memiliki beberapa kelemahan, diantranya: (1) membutuhkan ruang kontrol yang besar (2) perawatannya susah (3) pengembangan sistem tidak mudah (4) butuh waktu yang lama untuk membangun, memelihara, memperbaiki dan mengembangkan sistem kendali dengan relay elektromekanik. Perkembangan komponen mikroelektronik pada akhirnya mampu menghasilkan sistem yang dapat menggantikan fungsi puluhan bahkan ratusan relay elektromekanik hanya dengan satu keping chip mikrokontroller yang dapat diprogram. isinilah semua sinyal input dikumpulkan . Sinyal-sinyal input biasanya 24VDC atau 110VAC. Unit PLC yang sesuai harus dipilih

Kontrol Logika Terprogram

  • Upload
    tonny

  • View
    102

  • Download
    7

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kontrol , program , kuliah

Citation preview

Page 1: Kontrol Logika Terprogram

Kontrol logika terprogram (bahasa Inggris: programmable logic controller atau PLC) adalah suatu

mikroprosesor yang digunakan untuk otomasi proses industri seperti pengawasan dan pengontrolan

mesin di jalur perakitan suatu pabrik. PLC memiliki perangkat masukan dan keluaran yang digunakan

untuk berhubungan dengan perangkat luar seperti sensor, relai, contactor dll. Bahasa pemrograman

yang digunakan untuk mengoperasikan PLC berbeda dengan bahasa pemrograman biasa. Bahasa yang

digunakan adalah Ladder, yang hanya berisi input-proses-output. Disebut Ladder, karena bentuk

tampilan bahasa pemrogramannya memang seperti tampilan tangga. Disamping menggunakan

pemrograman ladder, PLC juga dapat diprogram dengan pemrograman SFC dan pemrograman ST, untuk

yang ST sudah jarang digunakan lagi.

Kontrol kendali industri pada awalnya mengandalkan pada relay elektromekanik. Relay ini bekerja bedasarkan prinsip kemagnetan. Sistem kendali ini memiliki beberapa kelemahan, diantranya: (1) membutuhkan ruang kontrol yang besar (2) perawatannya susah (3) pengembangan sistem tidak mudah (4) butuh waktu yang lama untuk membangun, memelihara, memperbaiki dan mengembangkan sistem kendali dengan relay elektromekanik.

Perkembangan komponen mikroelektronik pada akhirnya mampu menghasilkan sistem yang dapat menggantikan fungsi puluhan bahkan ratusan relay elektromekanik hanya dengan satu keping chip mikrokontroller yang dapat diprogram.

isinilah semua sinyal input dikumpulkan . Sinyal-sinyal input biasanya 24VDC atau 110VAC. Unit PLC yang sesuai harus dipilih untuk dapat bekerja dengan tegangan input yang dipilih. Dalam penjelasan sebelumnya, dapat dilihat bahwa interface input mengakses CPU secara langsung. Untuk melindungi CPU dari tegangan dan arus tinggi yang berbahaya, maka terminal-terminal input diisolasi. Metode tersebut adalah  “Opto -isolation; tidak ada tegangan yang ditransmisi dari terminal-terminal input menuju CPU, hanya pulsa-pulsa optik (cahaya). Metode ini digunakan dalam sebagian besar PLC.

Interface Output

Sekali lagi disinilah semua sinyal output berasal. jenis sinyal output tergantung pada metode switching output. Hal ini lebih baik ditunjukan dalam satu tabel ;

Page 2: Kontrol Logika Terprogram

Sekali lagi bila kita lihat penjelasan sebelumnya, dapat dilihat bahwa CPU secara langsung dihubungkan pada interface OuputTegangan balik yang berbahaya dapat merusak CPU sehingga diperlukan isolasi antara CPU dan interface Output. Unit PLC harus dipilih yang cocok dengan tegangan output yang digunakan. Baik unit transistor maupun triac menggunakan Opto-isolation. Unit-unit relay mempunyai isolasi yang terpasang builtin, yaitu tegangan dirubah dengan menggerakkan coil, dengan asas kerja mekanis.

Unit Memori

Pada sebagian PLC, terdapat dua jenis memori, RAM (Random Access Memory) dan Rom (Read Only Memory). Hanya satu jenis memory yang biasanya dapat diakses pada satu waktu. RAM biasanya dipasang built-in pada PLC, sementara ROM tersedia sebagai option/tambahan. Sudah menjadi hal yang umum, bahwa bila ROM digunakan, maka akan mendapat prioritas dari RAM internal. Penjelasan lebih terperincinya disini.

Processing Unit

CPU dapat dianggap sebagai otak dari PLC. Program dipanggil dari unit memori dan diproses CPU. Pemrosesan dapat disebut sebagai menjalankan program. Apa yang sebenarnya terjadi adalah bahwa program tersebut discan, ini berarti bahwa program diperiksa dari awal hingga akhir dan informasi baru dimasukkan. Ini sering disebut sebagai waktu scan PLC, walaupun sebenarnya lebih berkaitan dengan waktu pengoperasuan program. Scan dari program umumnya memakan waktu 70ms  tetapi hal ini tergantung pada panjang program dan kerumitannya. Setelah scan yang satu selesai, scan berikutnya akan dimulai segera.

Programmable Logic Controller (PLC) pada dasarnya adalah sebuah

komputer yang khusus dirancang untuk mengontrol suatu proses atau

mesin. Proses yang dikontrol ini dapat berupa regulasi variabel secara

kontinyu seperti pada sistem-sistem servo atau hanya melibatkan kontrol

dua keadaan (On/Off) saja tapi dilakukan secara berulang-ulang seperti

umum kita jumpai pada mesin pengeboran, sistem konveyor, dan lain

sebagainya. 

Page 3: Kontrol Logika Terprogram

Penggunaan PLC di bidang perindustrian membuat PLC memiliki

beberapa karakteristik, antara lain :

1.    Kokoh dan dirancang untuk tahan terhadap getaran, suhu, kelembaban dan

kebisingan.

2. Interface untuk input dan output telah tersedia secara built-in di dalamnya.

3.    Mudah diprogram dan menggunakan bahasa pemrograman yang mudah

dipahami dan sebagian besar berkaitan dengan operasi-operasi logika dan

penyambungan (switching).

4. Dapat menangani input dan output dalam jumlah besar dan dalam bentuk

sinyal analog maupun digital.

Komponen-komponen Pada PLC Pada kenyataannya merupakan suatu mikrokontroller yang digunakan untuk keperluan industri. PLC dapat dikatakan sebagai suatu perangkat keras dan lunak yang dibuat untuk diaplikasikan dalam dunia industri.

Secara umum PLC memiliki bagian-bagian yang sama dengan komputer maupun mikrokontroler, yaitu CPU, Memori dan I/O. Susunan komponen PLC dapat dilihat pada gambar berikut :

      

      Blok Diagram PLC

 Komponen-komponen pada PLC adalah Sebagai Berikut :

Page 4: Kontrol Logika Terprogram

 1. Central Processing Unit (CPU)

          Unit processor atau Central Processing Unit (CPU) adalah CPU merupakan bagian utama dan merupakan otak dari PLC. CPU ini berfungsi untuk melakukan komunikasi denngan PC atau Consule, interkoneksi pada setiap bagian PLC, mengeksekusi program-program, serta mengatur input dan ouput sistem.                                                    

Fungsi dari CPU adalah mengatur semua proses yang terjadi di PLC.

Ada tiga komponen utama penyusun CPU ini.

                 Blok Diagram CPU Pada PLC

    ·            Power Supply

    Catu daya (power supply) digunakan untuk memberikan tegangan pada PLC. Tegangan masukan pada PLC biasanya sekitar 24 VDC atau 220 VAC. Pada PLC yang besar, catu daya biasanya diletakkan terpisah.

Catu daya tidak digunakan untuk memberikan daya secara langsung ke input maupun output, yang berarti input dan output murni merupakan saklar. Jadi pengguna harus menyediakan sendiri catu daya untuk input dan output pada PLC. Dengan cara ini maka PLC itu tidak akan mudah rusak.

·            Processor

      Processor adalah bagian yang mengontrol supaya informasi  tetap jalan

dari bagian yang satu ke bagian yang lain, bagian ini berisi rangkaian clock,

sehingga masing-masing transfer informasi ke tempat lain tepat sampai

Page 5: Kontrol Logika Terprogram

pada waktunya, Perangkat pemrograman dipergunakan untuk memasukan

program yang dibutuhkan ke dalam memori. PLC sekarang kebanyakn sudah

menggunakan program melalui software untuk memasukan program yang

dibuat ke dalam PLC

·            Memori

      Memori merupakan tempat penyimpanan data sementara dan tempat menyimpan yang harus di jalankan, diman program tersebut hasil terjemahan dari ladder diagram yang di buat oleh user. Sistem memori pada PLC juga mengarahkan pada technologi flash memory. dengan menggunakan flash memory maka akan sangat mudah bagi pengguna untuk melakukan programming maupun reprogramming secara berulang-ulang. Sistem memori dibagi dalam blok-blok dimana masing-masing blok memiliki fungsi sendiri-sendiri. Beberapa bagian dari memori digunakan untuk menyimpan status dari input dan output, sementara bagian memori yang lain digunakan untuk menyimpan variable yang digunakan pada program seperti nilai timer dan counter.PLC memiliki suatu rutin kompleks yang digunakan untuk memstikan memori PLC tidak rusak. Hal ini dapat dilihat lewat lampu indikator pada PLC.

 Terdapat beberapa elemen memori di dalam sistem PLC :

Read-Only Memory (ROM) adalah memori non-volatile yang hanya bisa di program hanya sekali saja. Memori jenis ini tidak fleksibel dan kurang popular di bandingkan jenis-jenis memori lainnya.

Random- Access Memory (RAM) adalah memori yang bisa di gunakan untuk menyimpan program dari user dan data-data tertentu. Data- data yang tersimpan di memori ini akan hilang bila sumber tenaganya diambil. Masalah ini dapat diatasi dengan menambahkan baterai sebagai back up tenaga daripada RAM.

Erasable Programmable Read Only Memory (EPROM) adalah memori yang dapat menyimpan data sama halnya dengan ROM. Data- data yangtersimpan di memori ini dapat di hapus dengan menambahkan sinar ultraviolet. Untuk memogram ulang memori ini di butuhkan sebuah perangkat PROM writer.

Electrically Erasable Programmable Read Only Memory (EEPROM) adalah memori yang mengkombinasikan akses fleksibilitas dari RAM dan non-volatile ROM jadi satu. Data- data yang diisikan ke

Page 6: Kontrol Logika Terprogram

memori ini dapat di hapus dan di program ulang secara elektrik. Tetapi memori ini mempunyai siklus tulis dan hapus yang terbata

2. Rangkaian Input PLC

        Adalah Merupakan bagian yang menerima sinyal elektrik dari sensor atau komponen lain dan sinyal itu dialirkan ke PLC untuk diproses. Ada banyak jenis modul input yang dapat dipilih dan jenisnya tergantung dari input yang akan digunakan. Jikainput adalah limit switches dan pushbutton dapat dipilih kartu input DC. Modul input analog adalah kartu input khusus yang menggunakan ADC (Analog to Digital Conversion) dimana kartu ini digunakan untuk input yang berupa variable seperti temperatur, kecepatan, tekanan dan posisi. Pada umumnya ada 8-32 input point setiap modul inputnya. Setiap point akan ditandai sebagai alamat yang unik oleh prosesor

3. Rangkaian Output PLC

      Adalah bagian PLC yang menyalurkan sinyal elektrik hasil pemrosesan PLC ke peralatan output. Besaran informasi / sinyal elektrik itu dinyatakan dengan tegangan listrik antara 5 – 15 volt DC dengan informasi diluar sistem tegangan yang bervariasi antara 24 – 240 volt DC mapun AC. Kartu output biasanya mempunyai 6-32 output point dalam sebuah single module. Kartu output analog adalah tipe khusus dari modul output yang menggunakan DAC (Digital to Analog Conversion). Modul output analog dapat mengambil nilai dalam 12 bit dan mengubahnya ke dalam signal analog. Biasanya signal ini 0-10 volts DC atau 4-20 mA. Signal Analog biasanya digunakan pada peralatan seperti motor yang mengoperasikan katup dan pneumatic position control devices.Bila dibutuhkan, suatu sistem elektronik dapat ditambahkan untuk menghubungkan modul ini ke tempat yang jauh. Proses operasi sebenarnya di bawah kendali PLC mungkin saja jaraknya jauh, dapat saja ribuan meter

Komponen Pada PLC

October 17, 2008 by Williamzian Robin

Pada kenyataannya PLC merupakan suatu mikrokontroller yang digunakan untuk keperluan industri. PLC dapat dikatakan sebagai suatu perangkat keras dan lunak yang dibuat untuk

Page 7: Kontrol Logika Terprogram

diaplikasikan dalam dunia industri.Secara umum PLC memiliki bagian-bagian yang sama dengan komputer maupun mikrokontroler, yaitu CPU, Memori dan I/O. Susunan komponen PLC dapat dilihat pada gambar berikut :

Adapun Penjelasan dari komponen-komponen pada PLC adalah Sebagai Berikut :

1. Central Processing Unit (CPU)

CPU merupakan bagian utama dan merupakan otak dari PLC.CPU ini berfungsi untuk melakukan komunikasi denngan PC atau Consule, interkoneksi pada setiap bagian PLC, mengeksekusi program-program, serta mengatur input dan ouput sistem

2. Memori

Memori merupakan tempat penyimpan data sementara dan tempat menyimpan program yang harus dijalankan, dimana program tersebut merupakan hasil terjemahan dari ladder diagram yang dibuat oleh user. Sistem memori pada PLC juga mengarah pada teknologi flash memory. Dengan menggunakan flash memory maka akan sangat mudah bagi pengguna untuk melakukan programming maupun reprogramming secara berulang-ulang. Selain itu pada flash memory juga terdapat EPROM yang dapat dihapus berulang-ulang.Sistem memori dibagi dalam blok-blok dimana masing-masing blok memiliki fungsi sendiri-sendiri. Beberapa bagian dari memori digunakan untuk menyimpan status dari input dan output, sementara bagian memori yang lain digunakan untuk menyimpan variable yang digunakan pada program seperti nilai timer dan counter.PLC memiliki suatu rutin kompleks yang digunakan untuk memstikan memori PLC tidak rusak. Hal ini dapat dilihat lewat lampu indikator pada PLC.

3. Catu Daya PLC

Catu daya (power supply) digunakan untuk memberikan tegangan pada PLC. Tegangan masukan pada PLC biasanya sekitar 24 VDC atau 220 VAC. Pada PLC yang besar, catu daya biasanya diletakkan terpisah.Catu daya tidak digunakan untuk memberikan daya secara langsung ke input maupun output, yang berarti input dan output murni merupakan saklar. Jadi pengguna harus menyediakan sendiri catu daya untuk input dan output pada PLC. Dengan cara ini maka PLC itu tidak akan mudah rusak.

4. Rangkaian Input PLC

Kemampuan suatu sistem otomatis tergantung pada kemampuan PLC dalam membaca sinyal dari berbagai piranti input, contoh senseor. Untuk mendeteksi suatu proses dibutuhkan sensor yang tepat untuk tiap-tiap kondisi. Sinyal input dapat berupa logika 0 dan 1 (ON dan OFF) ataupun analog.Pada Jalur Input terdapat rangkaian antarmuka yang terhubung dengan CPU. Rangkaian

Page 8: Kontrol Logika Terprogram

ini digunakan untuk menjaga agar sinyal-sinyal yang tidak diinginkan tidak langsung masuk ke dalam CPU. Selain itu juga rangkaian ini berfungsi sebagai tegangan dari sinyal-sinyal input yang memiliki tegangan kerja yang tidak sama dengan CPU agar menjadi sama. Contoh Jika CPU menerima input dari sensor yang memiliki tegangan kerja sebesar 24VDC maka tegangan tersebut harus dikonversi terlebih dahulu mendai 5VDC agar sesuai dengan tegangan kerja CPU.

5. Rangkaian output PLCSuatu sistem otomatis tidak akan lengkap jika sistem tersebut tidak memiliki jalu output. Output sistem ini dapat berupa analog maupun digital. output analog digunakan untuk menghasilkan sinyal analog sedangkan output digital digunakan untuk menghubungkan dan memutuskan jalur, misalnya piranti output yang sering dipakai dalam PLC adalah motor, relai, selenoid, lampu, dan speaker.Seperti pada rangkaian input PLC, pada bagian output PLC juga dibutuhkan suatu antarmuka yang digunakan untuk melindungi CPU dari peralatan eksternal. Antarmuka output PLC sama dengan antarmuka input PLC.

6. Penambahan I/O PLCSetiap PLC pasti memiliki jumlah I/O yang terbatas, yang ditentukan berdasarkan tipe PLC. Namun dalam Aplikasi seringkali I/O yang ada pada PLC tidak mencukupi. Oleh sebab itu diperlukan perangkat tambahan untukmenambah jumlaj I/O yang tersedia. Penambahan jumlah I/O ini dinamakan dengan expansin Unit.

Komponen Utama dan I/O PLC

Komponen PLC

PLC yang tersedia di pasaran banyak sekali konfigurasi yang berbeda walaupun itu masih satu Vendor.

Tetapi semua itu memliki konsep dan komponen utama yang mirip yaitu

1. Power supply : power supply / catu daya PLC ada yang sudah terintegerasi dengan PLC ataupun yang

Ekternal. Umumnya catu daya yang dibutuhkan PLC (dengan atau tanpa power supply) adalah 24VDC,

120VAC dan 220VAC.

2. CPU : adalah sebuah computer dimana logika ladder di simpan dan di proses.

3. I/O : sejumlah terminal input / output yang harus tersedia sehingga PLC dapat memonitor proses dan

respon.

4. Lampu Indikasi : terdiri dari Lampu indikasi Power ON, Running Program dan sebuah kesalahan.

Input dan Output PLC

Page 9: Kontrol Logika Terprogram

PLC butuh untuk memonitor dan mengontrol sebuah proses. Input dan Output dapat di kategorikan

menjadi dua:

1. Logical : Jika Input / output hanya dapat On atau Off saja.

2. Continuous : Jika Input / Output memiliki level yang berbeda-beda

Output PLC ke Sebuah Aktuator dapat menyebabkan sesuatu terjadi di dalam sebuah proses. Berikut ini

adalah actuator yang biasanya di pakai :

1. Solenoid valves : Output Logic yang dapat men-switch sebuah hidrolik atau pneumatik.

2. Light : Output Logic yang di catu secara langsung dari Output PLC.

3. Motor Starters : sebuah motor sering menghasilkan sebuah arus besar ketika di nyalakan pertama kali,

sehingga butuh Motor Starters.

4. Servo motors : Sebuah output kontinu dari PLC yang menghasilkan sebuah variable speed atau posisi.

Output dari PLC adalah Relay, tetapi ada juga yang berupa Solid State Electronic seperti Transistor untuk

Output DC atau Triac untuk output AC. Continuous Output membutuhkan Special Output Card dengan

Digital to Analog Converters.

Input berasal dari Sensor menerjemahkan fenomena fisik ke Sinyal Elektrik. Berikut ini adalah contoh

sensor yang sering / biasanya di gunakan :

1. Proximity Switches : Menggunakan Induktansi, kapasitansi atau Cahaya untuk mendeteksi sebuah objek

secara Logic (Logical Input).

2. Switches : Struktur mekanik yang akan membuka atau menutup kontak elektrik untuk sebuah Logical

Signal.

3. Potensiometer : mengukur posisi sudut secara continuous menggunakan resistansi.

4. LVDT (Linear Variable Differential Transformer) : Mengukur perpindahan linear secara continuous

menggunakan magnetic coupling.

Pada kenyataannya PLC merupakan suatu mikrokontroller yang digunakan untuk keperluan industri. PLC dapat dikatakan sebagai suatu perangkat keras dan lunak yang dibuat untuk diaplikasikan dalam dunia industri.

Secara umum PLC memiliki bagian-bagian yang sama dengan komputer maupun mikrokontroler, yaitu CPU, Memori dan I/O. Susunan komponen PLC dapat dilihat pada gambar berikut : Adapun Penjelasan dari komponen-komponen pada PLC adalah Sebagai Berikut :

Page 10: Kontrol Logika Terprogram

1. Central Processing Unit (CPU) CPU merupakan bagian utama dan merupakan otak dari PLC.CPU ini berfungsi untuk melakukan komunikasi dengan PC atau Console, interkoneksi pada setiap bagian PLC, mengeksekusi program-program, serta mengatur input dan ouput sistem

2. Memori Memori merupakan tempat penyimpan data sementara dan tempat menyimpan program yang harus dijalankan, dimana program tersebut merupakan hasil terjemahan dari ladder diagram yang dibuat oleh user. Sistem memori pada PLC juga mengarah pada teknologi flash memory.

Dengan menggunakan flash memory maka akan sangat mudah bagi pengguna untuk melakukan programming maupun reprogramming secara berulang-ulang. Selain itu pada flash memory juga terdapat EPROM yang dapat dihapus berulang-ulang.

Sistem memori dibagi dalam blok-blok dimana masing-masing blok memiliki fungsi sendiri-sendiri. Beberapa bagian dari memori digunakan untuk menyimpan status dari input dan output, sementara bagian memori yang lain digunakan untuk menyimpan variable yang digunakan pada program seperti nilai timer dan counter.

PLC memiliki suatu rutin kompleks yang digunakan untuk memastikan memori PLC tidak rusak. Hal ini dapat dilihat lewat lampu indikator pada PLC.

3. Catu Daya PLC Catu daya (power supply) digunakan untuk memberikan tegangan pada PLC. Tegangan masukan pada PLC biasanya sekitar 24 VDC atau 220 VAC. Pada PLC yang besar, catu daya biasanya diletakkan terpisah.

Catu daya tidak digunakan untuk memberikan daya secara langsung ke input maupun output, yang berarti input dan output murni merupakan saklar. Jadi pengguna harus menyediakan sendiri

Page 11: Kontrol Logika Terprogram

catu daya untuk input dan output pada PLC. Dengan cara ini maka PLC itu tidak akan mudah rusak.

4. Rangkaian Input PLC Kemampuan suatu sistem otomatis tergantung pada kemampuan PLC dalam membaca sinyal dari berbagai piranti input, contoh sensor. Untuk mendeteksi suatu proses dibutuhkan sensor yang tepat untuk tiap-tiap kondisi. Sinyal input dapat berupa logika 0 dan 1 (ON dan OFF) ataupun analog.

Pada Jalur Input terdapat rangkaian antarmuka yang terhubung dengan CPU. Rangkaian ini digunakan untuk menjaga agar sinyal-sinyal yang tidak diinginkan tidak langsung masuk ke dalam CPU. Selain itu juga rangkaian ini berfungsi sebagai tegangan dari sinyal-sinyal input yang memiliki tegangan kerja yang tidak sama dengan CPU agar menjadi sama. Contoh Jika CPU menerima input dari sensor yang memiliki tegangan kerja sebesar 24VDC maka tegangan tersebut harus dikonversi terlebih dahulu menjadi 5VDC agar sesuai dengan tegangan kerja CPU.

Rangkaian ini digunakan untuk menjaga agar sinyal-sinyal yang tidak diinginkan tidak langsung masuk ke dalam CPU. Selain itu juga rangkaian ini berfungsi sebagai tegangan dari sinyal-sinyal input yang memiliki tegangan kerja yang tidak sama dengan CPU agar menjadi sama.

Contoh Jika CPU menerima input dari sensor yang memiliki tegangan kerja sebesar 24VDC maka tegangan tersebut harus dikonversi terlebih dahulu menjadi 5VDC agar sesuai dengan tegangan kerja CPU.

Rangkaian ini disebut dengan rangkaian Opto-Isolator yang artinya tidak ada hubungan kabel dengan dunia luar. Cara kerjanya yaitu ketika bagian input memperoleh sinyal, maka akan mengakibatkan LED menjadi ON sehingga photo-transistor menerima cahaya dan akan menghantarkan arus ON sehingga tegangannya drop di bawah 1 Volt. Hal ini akan menyebabkan CPU membaca logika 0. Begitu juga sebaliknya.

5. Rangkaian output PLC Suatu sistem otomatis tidak akan lengkap jika sistem tersebut tidak memiliki jalur output. Output sistem ini dapat berupa analog maupun digital. output analog digunakan untuk menghasilkan sinyal analog sedangkan output digital digunakan untuk menghubungkan dan memutuskan jalur, misalnya piranti output yang sering dipakai dalam PLC adalah motor, relai, selenoid, lampu, dan speaker.

Seperti pada rangkaian input PLC, pada bagian output PLC juga dibutuhkan suatu antarmuka yang digunakan untuk melindungi CPU dari peralatan eksternal. Antarmuka output PLC sama dengan antarmuka input PLC.

6. Penambahan I/O PLC Setiap PLC pasti memiliki jumlah I/O yang terbatas, yang ditentukan berdasarkan tipe PLC.

Page 12: Kontrol Logika Terprogram

Namun dalam Aplikasi seringkali I/O yang ada pada PLC tidak mencukupi. Oleh sebab itu diperlukan perangkat tambahan untuk menambah jumlah I/O yang tersedia. Penambahan jumlah I/O ini dinamakan dengan expansin Unit

khoirul17.wordpress.com/2009/12/20/fungsi-dari-komponen-utama-plc/

http://id.wikipedia.org/wiki/Kontrol_logika_terprogram

http://blogerpoter.blogspot.com/2011/04/programmable-logic-controller-plc-pada.html

http://duniaengineering.wordpress.com/2008/10/17/komponen-pada-plc/

http://marizaazhar.blogspot.com/2013/03/komponen-utama-dan-io-plc.html

http://belajarplconline.wordpress.com/2010/04/13/komponen-komponen-pada-plc/