of 39/39
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Penelitian Rokok dikenal sebagai sebuah benda yang begitu banyak menuai pro dan kontra di kalangan masyarkat. Bukan hanya di Indonesia pro dan kontra seputar rokok pun juga dirasakan oleh seluruh dunia sehingga kerap kali banyak orang yang memprotes akan bahaya rokok yang bisa mengancam nyawa ini. Dengan adanya kegelisahan ini, dunia yang diwakili oleh World Health Organization (WHO) pada akhirnya membuat sebuah kesepakatan mengenai kontrol penggunaan tembakau yang pada akhirnya ditujukan untuk menghindari bahaya rokok yang bisa berdampak pada kesehatan. Kebijakan itu kini dikenal sebagai FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). Hal ini pula lah yang akhirnya terus di desak oleh masyarakat Indonesia agar segera meratifikasi FCTC dan segera mendesak pemerintah untuk mengkonvensi

Kretek Sebagai Budaya.doc

  • View
    9

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

by Natasha Agatha

Text of Kretek Sebagai Budaya.doc

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Konteks PenelitianRokok dikenal sebagai sebuah benda yang begitu banyak menuai pro dan kontra di kalangan masyarkat. Bukan hanya di Indonesia pro dan kontra seputar rokok pun juga dirasakan oleh seluruh dunia sehingga kerap kali banyak orang yang memprotes akan bahaya rokok yang bisa mengancam nyawa ini.

Dengan adanya kegelisahan ini, dunia yang diwakili oleh World Health Organization (WHO) pada akhirnya membuat sebuah kesepakatan mengenai kontrol penggunaan tembakau yang pada akhirnya ditujukan untuk menghindari bahaya rokok yang bisa berdampak pada kesehatan. Kebijakan itu kini dikenal sebagai FCTC (Framework Convention on Tobacco Control).Hal ini pula lah yang akhirnya terus di desak oleh masyarakat Indonesia agar segera meratifikasi FCTC dan segera mendesak pemerintah untuk mengkonvensi penggunaan tembakau yang terkenal memiliki dampak buruk kepada kesehatan.Ratifikasi FCTC sontak menjadi sebuah topik hangat akhir-akhir ini di Indonesia. Presiden SBY sendiri sebelum mengakhiri masa jabatannya dituntut oleh banyak pihak untuk segera meratifikasi FCTC.

Peran serta Indonesia dalam penyusunan FCTC diuatarakan oleh Tulus Abadi, anggota Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), sangat signifikan. Indonesia adalah salah satu negara dari 20 negara yang berperan aktif dalam penyusunan FCTC.''Tapi sayangnya Indonesia satu-satunya negara dari 20 negara tersebut yang belum juga meratifikasi FCTC dalam perundang-undangan yang berlaku di negara ini,'' ( dikutip dari Republika.co.id Indonesia belum Juga Ratifikasi FCTC )Mentri Kesehatan pun turut serta menuntut segera adanya ratifikasi yang harus segera dilaksanakan oleh Presiden SBY itu sendiri karena berbagai macam alasan yang tujuannya untuk menekan angka kematian yang tinggi akibat tembakau.

Namun hal ini tidak didukung oleh beberapa pihak yang merasa ratifikasi justru semakin membuat banyak pihak terutama petani tembakau dirugikan karena selain harus mencari cara untuk mengkonversi tanaman tembakau menjadi tanaman lainnya, Kementrian Perindustrian dan Perdagangan (Kemeperin) turut serta mengambil langkah menolak langkah ratifikasi terhadap FCTC ini karena menilai rokok (tembakau) sebagai penyumbang cukai terbesar saat ini, bahkan industri rokok pun banyak mempekerjakan banyak pegawai dalam pabrik ataupun industri tersebut.Lahir dari latar belakang tersebut, penulis sangat tertarik akan bidang yang mengkaji mengenai FCTC dan rokok. Karena sudah tidak dibantahkan lagi bahwa Indonesia adalah negara pengguna tembakau terbesar ketiga di dunia. Dan mengenai kebiasaan merokok di masyarakat, rokok sudah dianggap sebagai sebuah tradisi turun temurun khas Indonesia yang dilambangkan dengan kretek.

Rokok sebagai budaya inilah yang kemudian diangkat sebagai salah satu industri rokok di Indonesia untuk tetap mempertahakan rokok dan menolak ratifikasi FCTC itu sendiri.Dalam menanggapi hal ini industri rokok semakin cermat dalam memanfaatkan isu ratifikasi FCTC dengan rokok sebagai budaya dan mulai menggunakan ilmu ke-PR-an dengan menggunakan beberapa startegi untuk mengangkat hal ini.Media Comm sebagai salah satu konsultan PR profesional juga menangani client dari salah satu industri rokok dan menggunakan strategi program Galeri Indonesia Kaya sebagai upaya untuk mengangkat kretek sebagai budaya.

Program yang dimaksud adalah dengan membangun sebuah tempat di sebuah pusat perbelanjaan ternama di wilayah Jakarta yaitu Grand Indonesia yang diberi nama Galeri Indonesia Kaya. Tempat ini memuat dan menampilkan beberapa kekayaan dan kebuayaan khas Indonesia yang secara gratis bisa dinikmati oleh pengunjung.Disisi lain, program ini tentunya memiliki tujuan untuk mendukung para budayawan dan juga seniman untuk bisa berkarya dan memperkenalkan karya nya yang secara cuma-cuma bisa mereka tampilkan pada Galeri Indonesia Kaya.

Dengan ini diharapkan para budayawan dan seniman bisa memberikan dukungan bahwa kebudayaan Indonesia tetap harus dipertahankan dan dipelihara sebagai bentuk warisan budaya yang berharga dan bernilai tinggi, dan tentunya ini menjadi nilai positif bagi industri rokok yang ingin mengangkat dan memperdengungkan lagi kretek sebagai budaya itu sendiri.1.2 Fokus PenelitianPenelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran yang faktual dan objektif bagi pembacanya. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat ditarik sebuah gambaran yang lebih mendalam dan aktual mengenai program Galeri Indonesia Kaya dan misi nya dalam mengangkat seni kebudayaan di Indonesia yang termasuk di dalamnya adalah kretek sebagai sebuah warisan budaya. Maka, berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut, Bagaimana Pelaksanaan Program Galeri Indonesia Kaya untuk Mengangkat Kretek Sebagai Budaya oleh PT. Media Comm?

1.3 Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan yang berikut nya yang muncul berdasarkan fokus penelitian diatas adalah :

1. Bagaimana pra riset yang dilakukan oleh client PT. Media Comm dalam Program Galeri Indonesia Kaya untuk PT. Djarum?

2. Bagaimana Program Galeri Indonesia Kaya dalam misinya mengangkat seni budaya Indonesia?

3. Bagaimana Galeri Indonesia Kaya dalam menonjolkan kretek sebagai sebuah warisan budaya?

4. Bagaimana PT. Media Comm melakukan monitoring dan evaluasi Program Galeri Indonesia Kaya?

1.4 Tujuan Penelitian

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis memiliki beberapa tujuan yaitu sebagai berikut :

1.Untuik mengetahui latar belakang munculnya program Galeri Indonesia Kaya yang dibuat oleh PT. Djarum sebagai client dari PT. Media Comm

2.Untuk mengetahui pelaksanaan program Galeri Indonesia Kaya dalam melaksanakan misi mengangkat seni budaya Indonesia yang begitu kaya dan beragam3.Untuk mengetahui perlaksanaan program Galeri Indonesia Kaya dalam mengangkat dan mempertahankan budaya kretek sebagai warisan Indonesia yang harus dipertahankan4. Untuk mengetahui peran PT. Media Comm dalam melakukan fungsi pengawasan terhadap program Galeri Indonesia Kaya

1.5 Kegunaan Penelitian

1.5.1 Kegunaan Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan sumbangan bagi ilmu komunikasi yang berkaitan dengan baik bagi mahasiswa maupun bagi pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi. Serta sebagai masukan di dalam keilmuan PR mengenai program yang dijalankan di dalam sebuat korporat yang disesuaikan dengan kebutuhan korporat itu sendiri. 1.5.2 Kegunaan Praktis

1.Sebagai bahan informasi mengenai program yang dilaksanakan oleh korporat yang berkaitan dengan ilmu ke PR an2.Sebagai masukan bagi para mahasiswa, pengajar, pengamat, dan praktisi komunikasi dalam membuat dan menyusun program-program yang sesuai dengan korporat yang disesuaikan dengan kebutuhan korporat itu sendiri.1.6 Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian

1.6.2 Kerangka Konseptual

Penelitian ini berjudul Pelaksanaan Program untuk Mengangkat Kretek Sebagai Budaya Melalui Galeri Indonesia Kaya oleh PT. Media Comm. Sub judulnya adalah Studi Deskriptif Tentang Pelaksanaan Program untuk Mengangkat Kretek Sebagai Budaya Melalui Galeri Indonesia Kaya oleh PT. Media Comm. Makna umum dari konsep ini adalah mengenai program yang dibuat oleh PT. Djarum dalam memenuhi visi dan misi yang berhubungan dengan objek bisnis yang ditekuni oleh PT. Djarum yaitu kretek.1.7 Jenis Studi1.7.1 Metode Kualitatif

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode penelitian kualitatif didefinisikan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan orang. Metode deskriptif-kualitatif sangat berguna untuk melahirkan teori-teori tentatif. Penelitian ini tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi. Metode deskriptif-kualitatif mencari teori bukan menguji teori. Hypothesis-generating, bukan hypothesis testing, dan heuristic, bukan verifikasi. Ciri lain metode ini adalah menitikberatkan pada observasi dan suasana alamiah (natural setting). Peneliti terjun langsung ke lapangan, bertindak sebagai pengamat. Peneliti membuat kategori perilaku, mengamati gejala, dan mencatatnya dalam buku observasi (instrumennya adalah pedoman observasi). Peneliti tidak berusaha memanipulasi variabel. Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasi objek sesuai dengan spa adanya

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor (Moleong,2004:3) metode penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Moleong mendefinisikan penelitian berdasarkan definisi para ahli yaitupenelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan. Secara holistic, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2004:6).

Penelitian kualitatif unggul dalam menyajikan data yang sangat dekat dengan realita yang dikaji, dan difokuskan pada kasus yang spesifik. Robert K. Yin (2002:1) mendefinisikan studi kasus kedalam tiga tipe, yaitu studi-studi kasus eksplanatoris, eksplotoris, dan deskriptif. Menurut Bogdan dan Taylor (Moleong, 2004:3) metode penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Sebuah penelitian kualitatif dapat unggul dalam menyajikan sebuah data yang sangat dekat dengan realita yang dikaji dan difokuskan pada kasus yang spesifik.

1.7.2. Deskriptif

Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif yang berarti data yang dikumpulkan dalam penelitian kualitatif lebih mengambil bentuk kata-kata atau gambar daripada angka-angka. Hasil penelitian tertulis berisi kutipan-kutipan dari data untuk mengilustrasikan dan menyediakan bukti presentasi. Data tersebut mencakup transkrip wawancara, catatan lapangan, fotografi, video-tape, dokumen pribadi, memo, rekaman-rekaman resmi lainnya.

Untuk pemahaman, peneliti kualitatif tidak mereduksi halaman demi halaman dar narasi dan data lain ke dalam simbol-simbol numerik, tetapi mereka mencoba menganalisis data dengan segala kekayaannya dan sedekat mungkin dengan bentuk rekaman dan transkripnya

1.7.3 Unit Analisis

Sebagai alat ukur dalam penelitian ini, digunakan unit analisis sebagai berikut :

1. Mengapa budaya kretek di Indonesia dilestarikan oleh PT. Djarum

2. Bagaimana Program Galeri Indonesia Kaya yang dibangun oleh PT. Djarum dalam melestraikan dan mengangkat kretek sebagai warisan budaya

3. Bagaimana budaya kretek di Indonesia dilestraikan oleh PT. Djarun1.8 Teknik Penentuan Key Informan

Pada penelitian ini, sample dan informasi diambil secara purposif, artinya ditentukan sendiri oleh peneliti atas dasar kebutuhan dan kredibilitas key informant tersebut. Selain itu, peneliti juga akan menerapkan teori bola salju atau snowball maksudnya informasi dikumpulkan agar pengamatan tidak ada kendala kecurigaan orang yang akan menjadi objek pengamatan, maka dipilih teknik pengamatan terlibat (participan observation).

Selain itu, dengan pertimbangan untuk memperoleh dan meningkatkan derajat kepercayaan responden terhadap tingkat keamanan rahasia perorangan dan atau lembaga sebagai akibat pengamatan.

Key informant tersebut adalah :

1.Pihak yang mengetahui tentang konsep, visi, serta misi Galeri Indonesia Kaya2.Pihak yang mengetahui proses perencanaan program acara dari Galeri Indonesia Kaya3.Pihak yang melaksanakan atau terjun langsung dalam pelaksanaan Program Galeri Indonesia KayaBerdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka kurang lebih narasumber yang akan dipilih penulis antara lain :

1. Ibu Renitasari Adrian sebagai Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation2. Bapak Jimmy Zefanya Ginting sebagai Senior PR Consultant di PT. MediaComm yang menangani PT. Djarum1.9 Teknik Pengumpulan Data

1.9.1 Teknik Pengumpulan Data

Dalam mengumpulkan data-data yang dibutuhkan untuk menunjang penelitian, maka dibutuhkan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1.Wawancara Mendalam

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan tersebut dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang bertugas mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan, dalam konteks penelitian ini mewawancarai karyawan PT. MediaComm dan tentunya beberapa orang yang memiliki kapabilitas dalam Galeri Indonesia Kaya. Peneliti akan mengajukan pertanyaan berdasarkan tujuan-tujuan tertentu.

Wawancara mendalam tidak terstruktur. Wawancara tidak terstruktur bertujuan untuk membentuk informasi membentuk informasi tertentu dari semua responden, tetapi susunan kata dan urutannya disesuaikan dengan ciri-ciri setiap responden. Dalam penelitian ini pun penulis lebih banyak menggunakan wawancara mendalam

2.Observasi Langsung

Penulis melakukan pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan penginderaan. Observasi ini secara signifikan dilakukan penulis, dengan menjadikan penulis sebagai pengamat terlibat/berperan serta, ini merupakan suatu keharusan yang dituntut agar data-data hasil penelitian memiliki derajat kepercayaan yang tinggi, memiliki keterandalan dan dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya.

Observasi sesungguhnya adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan. Observasi yang dilakukan penulis pada Galeri Indonesia Kaya, yaitu membuat kunjungan lapangan di Galeri Indonesia Kaya. Hal ini berkenaan dengan divisi-divisi apa saja serta pihak-pihak mana saja yang terlibat dalam kegiatan yang berlangsung dalam Galeri Indonesia Kaya itu sendiri.

3.Penelusuran data online

Teknik pengumpulan data ini dibutuhkan karena seiring dengan perkembangan internet yang sudah semakin berkembang pesat serta mampu menjawab berbagai kebutuhan masyarakat saat ini. Dan disadari atau tidak, internet merupakan medium yang sangat bermanfaat bagi penelusuran berbagai informasi.

4.Studi Kepustakaan

Teknik ini diperlukan untuk menambah fakta-fakta dan informasi yang mendukung penelitian ini.

1.9.2 Teknik Analisis Data

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan pada teknik analisis data menurut Craswell (1998 : 152), yaitu:

1.Deskripsi, yaitu mencoba untuk memaparkan fakta-fakta mengenai kasus sebagaimana terekam atau tercatat oleh peneliti. Dalam penelitian ini peneliti mencoba untuk mengumpulkan data baik hasil wawancara ataupun pengamatan yang berkaitan dengan kebutuhan dalam mencari informasi seputar program Galeri Indonesia Kaya itu sendiri2.Themes (Analisis Tema), menganalisis data yang merujuk pada tema yang spesifik, dilakukan dengan mengumpulkan informasi dan mengelompokannya menjadi beberapa cluster. Dalam tahap ini peneliti menyajikan data untuk menarik kesimpulan. Data yang diperoleh dikumpulkan dan di analisi sesuai dengan data yang didapat pada kondisi lapangan yang ada.3.Assertions (Penonjolan), merupakan langkah akhir yang meliputi pemahaman peneliti tentang data dan inteprestasi terhadapnya. Hal ini dapat dilakukan melalui pandangan personal peneliti ataupun data yang telah didapatkan. Pada penelitian ini peneliti akan membaca hasil catatan lapangan, mendengarkan rekaman wawancara, dan membaca dari literatur lainnya untuk mendapatkan pemahaman mengenai program Galeri Indonesia Kaya itu sendiri.1.10 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

Penelitian kualitatif tidak seperti penelitian kuantitaif yang dapat diuji validitas dan realibiltasnya melalu ukuran statik. Kebenaran realitas data menurut penelitian kualitatif tidak bersifat tunggal, tetapi jamak dan tergantung pada konstruksi manusia. Banyak penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena beberapa hal (Bungin,2007:255) :

1.Subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian kualitatif

2.Alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi (apapun bentuknya) mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka apalagi kontrol (dalam observasi partisipan)

Sumber data kualitatif yang kurang kredibel akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian.

Uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap hasil penelitian kualitatif antara lain dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, dan member check ( Sugiyono, 2005 : 121)

Untuk menguji keabsahan data yang dikumpulkan, peneliti akan mempergunakan teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di laur data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya..

Triangulasi berarti cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Dengan kata lain, bahwa dengan triangulasi, peneliti dapat me-recheck temuannya dengan jalan membandingkannya dengan berbagai sumber, metode, atau teori.

Menurut Patton (1999) terdapat 4 macam triangulasi yaitu triangulasi data, triangulasi pengamat, triangulasi teori dan triangulasi metode. Dalam penelitian ini pengecekan keabsahan data akan dilakukan dengan triangulasi pengamat atau triangulasi sumber.

Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif (Patton 1987:331). Hal tersebut dapat dicapai dengan jalan :

1.Membandingkan data hasil pengamatan dengan wawancara

2.Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi

3.Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang diakatakannya sepanjang waktu

4.Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dapat berbagai pendapat dan pandangan orang seperti karyawan low, middle, maupun top management

5.Membandingkan hasil wawancara dengan isi atau dokumen yang berkaitan, seperti buku, hasil penelitian, dan artikel yang diperoleh dari media cetak ataupun media online, dan peralatan yang menunjang dalam mendokumentasikan data.

Dalam hal ini, penulis tidak terlalu banyak mengharapkan bahwa hasil perbandingan tersebut merupakan kesamaan pandangan, pendapat atau pemikiran. Yang peting adalah bisa mengetahui adanya alasan-alasan terjadinya perbedaan-perbedaan tersebut (Patton 1987:331). Penulis menggunakan triangulasi sumber atau pengamat sebagai pemeriksa keabsahan datanya. Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda misalnya wawancara lalu dicek dengan observasi, dokumentasi, dan kuisioner.

1.11 Lokasi dan Jadwal Penelitian

Waktu

: Disesuaikan

Tempat: Grand Indonesia - West Mall Lantai 8. Jln. MH.Thamrin No.1 Jakarta 10310 Indonesia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Komunikasi

2.1.1Hakikat Komunikasi

Komunikasi adalah dimana seseorang, kelompok, atau individu saling menyampaikan informasi kepada sstu sama lain melalui komunikasi agar terhubung dan terjalin hubungan antara satu dengan yang lainnya. Umumnya komunikasi dapat dilakukan secara verbal maupun non- verbal, selama kedua komunikan dan komunikator itu saling mengerti dan puas dengan apa yang disampaikannya itu bisa disebut komunikasi.

Bahasa mengelengkan kepala, menganggukan kepala . lambaiannya tangan adalah salah satu bentuk komunikasi non-verbal yang sering digunakan banyak orang. Karena hanya dengan gerakan tubuh saja, komunikasi ini bisa terjalin. Oleh sebab itulah hal ini bisa disebut sebagai kegiatan komunikasi.

2.1.1.2 Definisi Komunikasi

Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D. dalam bukunya Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (2007), mengutip beberapa definisi dari para ahli sebagai berikut:

Bernard Berelson dan Gary A. Steiner mendefinisikan bahwa komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, figur, grafik, dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasa disebut komunikasi.

Theodore M. Newcomb mengemukakan bahwa setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi, terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber kepada penerima.

Carl I. Hovland mendefinisikan bahwa komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (komunikate).

Gerald R. Miller menyatakan bahwa komunikasi terjadi suatu sumber menyampaikan suatu pesan kepada penerima dengan niat yang disadari untuk mempengaruhi perilaku penerima.

Evereth M. Rogers mendefinisikan bahwa komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.

Raymond S. Ross mengatakan komunikasi (intensional) adalah suatu proses menyortir, memilih, dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator.

Mary B. Cassata dan Molefi K. Asante mendefinisikan bahwa komunikasi adalah transmisi informasi dengan tujuan mempengaruhi khalayak.

Harold Lasswell menyatakan bahwa cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With Wath Effect? Atau Siapa Mengatakan Apa Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana?

2.2 Public Relations

Eksistensi Public Relations belakangan ini sudah mulai diterima oleh banyak kalangan, baik kalangan ilmuwan maupun kaum awam, hampir semuanya sudah mengetahui keberadaan seorang PR. Perkembangan PR yang sangat pesat di indonesia berkembang seriring dengan berkembangnya PR di pemerintahan, di BUMN, dan perusahaan swasta lainnya .

PR adalah sebuah ilmu yang menjadi ilmu induknya ilmu komunikasi. PR menjadi sebuah profesi di bidang ilmu komunikasi yakni profesi sebagai Public Relation Officer, PR Consultant, Researcher for Public Relations dan lain-lain.

2.2.1 Definisi Public Relations

Berikut penulis akan memaparkan beberapa definisi Public Relations menurut beberapa ahli yang diambil dari buku Handbook Of PR kalangan Dr Elvinaro Ardianto, M.Si.

a. J.C., Seidel, Public Relations Director, Division of Housing, State of New York : Public Relations adalah proses yang kontinu dari usaha-usaha manajemen untuk memperoleh goodwill dan pengertian dari para langganannya, pegawainya, dan publik umumnya; ke dalam dengan mengadakan analisa dan perbaikan-perbaikan terhadap diri sendiri, ke luar dengan mengadakan pernyataan-pernyataan.

b. W. Emerson Reck, Public Relations Director, Colgate University : Public Relations adalah kelanjutan dari proses penetapan kebijaksanaan, penentuan pelayanan-pelayanan sikap yang disesuaikan dengan kepentingan orang-orang atau golongan agar orang atau lembaga itu memperoleh kepercayaan dan goodwill dari mereka. Ke dua, pelaksanaan kebijaksanaan, pelayanan, dan sikap adalah untuk menjamin adanya pengertian dan penghargaan yang sebaik-baiknya.

c. Byorn Christian, PR merupakan suatu usaha sadar memotivasi terutama melalui komunikasi agar orang-orang terpengaruh, timbul pikiran yang sehat terhadap suati organisasi, memberi rasa hormat, mendukung dan memberi kesadaran dengen berbagai macam cobaan dan masalah

Sedangkan Menurut IPRA / International Public Relations Association mendefinisikan PR adalah Fungsi manajemen dari ciri-ciri yang terencana dan berkelanjutan melalui organisasi dan lembaga swasta atau negara untuk memperoleh pengertian, simpati, dan dukungan dari mereka yang terkait atau mungkin ada hubungannya dengan penelitian opini publik di antara mereka.

Intinya PR adalah Good image (citra baik), goodwill ( itikad baik ), mutual understanding (saling pengertian ), mutual confidence (saling mempercayai ), mutual appreciation ( saling menghargai ), tolerence (toleransi)

Dari definisi diatas maka terdapat beberapa kata kunci yang perlu diingat untuk menjadi kata kunci apa itu definisi PR , yaitu :

a. Sengaja ( Deliberate) : Kegiatan PR adalah sesuatu yang disengaja , dirancang untuk mempengaruhi, mendapatkan pengertian, memberikan informasi, dan memperoleh umpan balik.

b. Terencana ( Planned ) : Kegiatan PR adalah sesuatu yang terorganisir. Kegiatan yang sistematis membutuhkan analisis dan riset.

c. Kinerja ( Perfomance) : PR yang efektif didasarkan pada kebijakan dan penampilan nyata dari seseorang atau sebuah organisasi

d. Kepentingan Publik (Public Interest ) : Setiap kegiatan PR adalah untuk kepentingan masyarakat, bukan untuk kepentingan organisasi maupun kepentingan diri sendiri. Bukan hanya sekedar untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.

e. Komunikasi dua arah (two way communication) : PR bukan hanya saja terdiri dari penyebaran materi melalui informasi, tetapi penting juga umpan balik dari khalayak. Kemampuan seorang praktisi PR untuk mendengarkan adalah mutlak hal yang pokok dalam komunikasi

f. Fungsi Manajemen ( management function) : PR berfungsi sebagai pengambil keputusan oleh manajemen puncak. PR melibatkan konsultasi dan pengentasan masalah tingkat tinggi.

Berdasarkan definisi dan ringkasan di atas dapat disimpulkan PR merupakan sebuah kegiatan yang dirancang, terorganisasi melalui riset dan analisis sebelumnya sehingga terjadi kinerja yang berdasarkan pada kepentingan masyarakat bukan semata-mata untuk meraup keuntungan sebesar-sebesarnya demi kepentingan pribadi, sehingga dibutuhkan fungsi manajeen demi terlaksananya kinerja PR yang mementingkan kepentingan masyarakat luas dan demi kelangsungan hidup organisasi dan juga masyarakat.

2.2.2 Tujuan dan Fungsi Public Relations

Setelah membahas secara mendalam definisi dari Public Relations , penulis juga akan memaparkan apa saja Tujuan dan fungsi atau kegunaan Public Relations itu di dalam suatu organisasi atau di dalam suatu perusahaan

Tujuan utama dari public relation adalah mempengaruhi perilaku seseorang pada saat saling berhubungan secara individu maupun kelompok, melalui dialog dengan semua kalangan, dimana ada satu tujuan yang sama untuk menghadapi satu tujuan yaitu kesuksean suatu perusahaan. (Davis, 2003).

Jefkins (2003, p.54) mendefinisikan dari sekian banyak hal yang bisa dijadikan tujuan public relation sebuah perusahaan, beberapa diantaranya yang pokok adalah sebagai berikut :

a. Untuk mengubah citra umum di mata masyarakat sehubungan dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan.

b. Untuk meningkatkan bobot kualitas para calon pegawai.

c. Untuk menceritakan kesuksesan perusahaan, sehingga mendapatkan pengakuan dari masyarakat.

d. Untuk memperkenalkan perusahaan kepada masyarakat luas, serta membuka pangsa pasar baru.

e. Untuk mempersiapkan dan mengkondisikan masyarakat bursa saham atas rencana perusahaan untuk menerbitkan saham baru atau saham tambahan.

f. Untuk memperbaiki hubungan antar perusahaan itu dengan masyarakatnya, sehubungan dengan telah terjadinya suatu peristiwa yang mengakibatkan kecaman, kesangsian, atau salah paham di kalangan masyarakat terhadap niat baik perusahaan.

g. Untuk mendidik konsumen agar mereka lebih efektif dan mengerti dalam memanfaatkan produk-produk perusahaan.

h. Untuk meyakinkan masyarakat bahwa perusahaan mampu bertahan atau bangkit kembali setelah terjadinya suatu krisis.

i. Untuk meningkatkan kemampuan dan ketahanan perusahaan dalam menghadapi resiko pengambilalihan oleh pihak lain.

j. Untuk menciptakan identitas perusahaan yang baru.

k. Untuk menyebarluaskan informasi mengenai aktivitas dan partisipasi para pimpinan perusahaan organisasi dalam kehidupan sosial sehari-hari.

l. Untuk mendukung keterlibatan suatu perusahaan sebagai sponsor dari suatu acara.

m. Untuk memastikan bahwa para politisi benar-benar memahami kegiatan-kegiatan atau produk perusahaan yang positif, agar perusahaan yang bersangkutan terhindar dari peraturan, undang-undang, dan kebijakan pemerintah yang merugikan.

n. Untuk menyebarluaskan kegiatan-kegiatan riset yang telah dilakukan perusahaan, agar masyarakat luas mengetahui betapa perusahaan itu mengutamakan kualitas dalam berbagai hal.

Selain itu public relation bertujuan untuk menciptakan, membina dan memelihara sikap budi yang menyenangkan bagi lembaga atau organisasi di satu pihak dan dengan publik di lain pihak dengan komunikasi yang harmonis dan timbal balik (Maria, 2002).

Menurut Rosady Ruslan (2001, p.246) tujuan Public Relation adalah sebagai berikut:

a. Menumbuhkembangkan citra perusahaan yang positif untuk publik eksternal atau masyarakat dan konsumen.

b. Mendorong tercapainya saling pengertian antara publik sasaran dengan perusahaan.

c. Mengembangkan sinergi fungsi pemasaran dengan public relation.

d. Efektif dalam membangun pengenalan merek dan pengetahuan merek.

e. Mendukung bauran pemasaran.

Pelaksanaan Program untuk Mengangkat Kretek Sebagai Budaya Melalui Galeri Indonesia Kaya oleh PT. Media Comm

Galeri Indonesia Kaya

Organizing

Planning

Actuating

Controlling

Mengangkat Kretek Sebagai Warisan Budaya