LAPORAN ANALISIS KEBIJAKAN MODEL PENGEMBANGAN pse. ?· LAPORAN ANALISIS KEBIJAKAN MODEL PENGEMBANGAN…

  • View
    213

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

LAPORAN ANALISIS KEBIJAKAN

MODEL PENGEMBANGAN AGRIBISNIS PADI:

Analisis Ekonomi dan Kelembagaan Pemanfaatan Alsintan

Tim Peneliti:

Handewi P. Saliem

Sumaryanto Henny Mayrowani Adang Agustian

Syahyuti

PUSAT SOSIAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN

2016

LEMBAR PENGESAHAN

1. Judul RPTP/RDHP/RKTM : Analisis Kebijakan: Model Pengembangan

Agribisnis Padi 2. Unit Kerja : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

3. Alamat Unit Kerja : Jalan Jend. A. Yani 70 Bogor 4. Sumber Dana : APBN 5. Status Penelitian : Baru

6. Penanggung Jawab a. Nama : Dr. Ir. Handewi P. Saliem

b. Pangkat : Pembina Utama/IV-e c. Jabatan : Peneliti Utama

7. Lokasi : Jawa Tengahdan Sulawesi Selatan 8. Agroekosistem : Lahan Sawah 9. Tahun Mulai : 2016

10. Tahun Selesai : 2016 11. Output Tahunan : Rekomendasi Kebijakan Pengembangan

Agribisnis Padi 12. Output Akhir : Rekomendasi Kebijakan Pengembangan

Agribisnis Padi

13. Biaya : Rp 49.975.000

Kepala Bidang Program dan

Evaluasi

Penanggung Jawab,

Dr.Ir. Ketut Kariyasa, MS Dr. Ir.Handewi. P. Saliem, MS NIP.19690419 199803 1002 NIP. 19570604 198103 2001

Mengetahui,

Kepala Unit Kerja

Dr. Ir. Abdul Basit, MS NIP. 196109291986031003

i

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI

i

DAFTAR TABEL ii

DAFTAR GAMBAR iii

I PENDAHULUAN 1

1.1. Latar belakang 1

1.2. Tujuan 3

1.3. Keluaran 3

1.4. Perkiraan Dampak 3

II METODOLOGI 4

2.1. Lokasi Penelitian 4

2.2. Jenis dan Sumber Data 4

2.3. Metode Analisis 4

III HASIL DAN PEMBAHASAN 5

3.1. Kinerja, Ketersediaan dan Pemanfaatan Alsintan 5

3.1.1. Potensi Lahan dan Pola Tanam 5

3.1.2. Ketersediaan dan Kebutuhan Alsintan 9

3.1.3. Analisis Biaya dan Manfaat dari Penggunaan Alsintan 16

3.2. Analisis Kelembagaan PengelolaanAlsintan 27

3.2.1. Peran Kelembagaan Agribisnis 27

3.2.2. Kelembagaan PengelolaanAlsintan 35

3.3. Prospek dan Kendala Pengembangan Agribisnis Padi Skala

Komersial 52

3.4. Pengembangan Kelembagaan Agribisnis Padi Skala Konersial 55

IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN 59

DAFTAR PUSTAKA 62

ii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1 Luas baku lahan sawah berdasarkan indeks pertanaman padi di

Kabupaten Cilacap, 2014 5

2 Luas baku lahan sawah berdasarkan indeks pertanaman padi per

kecamatan di Kabupaten Cilacap, 2014 6

3 Luas baku lahan sawah berdasarkan index pertanaman padi di

Kabupaten Soppeng, 2014 7

4 Potensi lahan sawah Kabupaten Soppeng, 2015 8

5 Luas baku lahan sawah berdasarkan indeks pertanaman padi per

kecamatan di Kabupaten Soppeng, 2015 8

6 Ketersediaan alsintan per jenis menurut kecamatan di Kabupaten

Cilacap, 2015 (unit) 10

7 Rasio luas tanam dengan jumlah alsintan per jenis menurut

kecamatan di Kabupaten Cilacap, 2015 (Ha) 12

8 Jumlah penduduk bekerja pada lapangan kerja pertanian per

kecamatan di Kabupaten Cilacap, 2013 (orang) 13

9 Ketersediaan alsintan per jenis menurut kecamatan di Kabupaten

Soppeng, 2015 (unit) 14

10 Rasio luas tanam dengan jumlah alsintan per jenis menurut

kecamatan di Kabupaten Soppeng, 2015 15

11 Rasio luas tanam dengan jumlah pompa air menurut kecamatan

di Kabupaten Soppeng, 2015 16

12 Struktur ongkos dan sewa traktor tangan di UPJA Desa Bojong

Cilacap, 2015 (Rp/ha) 17

13 Struktur ongkos dan sewa traktor tangan di UPJA Semangat

Kelurahan Appanang, Kec. Liliriaja, Kab. Soppeng, 2015 (Rp/ha) 19

14 Struktur ongkos dan sewa traktor roda-4 di UPJA Semangat

Kelurahan Appanang, Kec. Liliriaja, Kab. Soppeng, 2015 (Rp/ha) 19

15 Struktur ongkos dan sewa transplanter di UPJA Desa Bojong 21

Cilacap, 2015

16 Struktur ongkos dan sewa power thresher di UPJA Desa Bojong

Cilacap, 2015 23

17 Struktur ongkos dan sewa Mini Combine Harvester di UPJA Desa

Bojong, Cilacap,2015 24

18 Struktur ongkos dan sewa Combine Harvesterdi UPJA Semangat

Kelurahan Appanang, Kec. Liliriaja, Kab. Soppeng, 2015 (Rp/ha) 26

19 Keragaan agribisnis padi dalam penggunaan alat dan mesin

pertanian pada kedua lokasi studi, 2016 31

20 Tingkat penerapan mekanisasi agribisnis padi di Kabupaten

Cilacap, 2016 33

21 Tingkat penerapan mekanisasi agribisnis padi di Kabupaten

Soppeng, 2016 34

iii

22 Kelas kemampuan UPJA dan karakteristiknya 41

23 Pengelolaan alsintan pada UPJA Setia Dadi, Kabupaten Cilacap

berdasarkan pedoman dan kondisi existing, tahun 2016 44

24 Pengelolaan alsintan pada UPJA Semangat, Kabupaten Soppeng

berdasarkan pedoman dan kondisi existing, tahun 2016 47

25 Aturan main dalam penggunaan jasa alsin yang dikelola UPJA

Semangan di Kabupaten Soppeng, 2016 49

27 Analisa Usahatani Padi pada Percontohan Pertanian Modern (PPM)

dan Konvensional di Kelurahan Appanang, Kec Liliriaja,

Kab. Soppeng, MH 2014/2015 (Rp/ha) 51

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1

Luas baku lahan sawah menurut IP diKabupaten Cilacap,

2014 7

1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Beras sebagai bahan pangan pokok memiliki nilai startegis dilihat dari dari

berbagai aspek. Dari sisi produsen, usahatani padi membutuhkan banyak tenaga

kerja yang terlibat dan menjadi sumber mata pencaharian, dalam pengolahan

banyak tenaga kerja yang bekerja di penggilingan skala kecil maupun skala besar,

dari usaha individu, usaha rumah tangga maupun perusahaan besar. Dari sisi

pemasaran, banyak melibatkan pedagang, mulai tingkat desa, kecamatan,

kabupaten, provinsi, antar pulau maupun eksportir/importir. Dari sisi konsumen,

beras merupakan pangan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Berdasar hal

tersebut sangatlah bijak bahwa Pemerintah memberikan perhatian yang serius pada

masalah perberasan di Indonesia. Pengalaman menunjukkan bahwa ketidakstabilan

harga dan ketersediaan beras dapat berdampak luas menjadi krisis ekonomi, sosial,

dan politik.

Terkait dengan kebijakan perberasan, Kementerian Pertanian telah

menetapkan target swasembada padi (dalam Program UPSUS Pajale) dapat dicapai

untuk tiga tahun ke depan. Pencapaian swasembada antara diupayakan dengan

peningkatan produksi padi melalui intensifikasi, ektensifikasi dan rehabilitasi sarana

irigasi serta bantuan alat mesin pertanian. Beberapa kendala yang dihadapi dalam

upaya peningkatan produksi padi antara lain adalah produktivitas yang cenderung

stagnan bahkan menurun, jaringan irigasi sebagian besar tidak berfungsi,

ketersediaan sarana produksi terutama benih pupuk di tingkat petani yang belum

sepenuhnya memenuhi 6 tepat (tepat jenis, jumlah, kualitas, waktu, tempat dan

harga). Selain itu, masalah kelembagaan mulai dari penyediaan sarana produksi,

budidaya, pengolahan dan pemasaran padi beras merupakan masalah klasik yang

sampai saat ini belum terselesaikan dengan tuntas. Hal lain yang penting adalah

terkait dengan upaya meningkatkan kesejahteraan petani (padi), pada kondisi saat

ini skala usaha petani yang relatif sempit (< 0.5 Ha, tidak memenuhi skala ekonomi)

sehingga sulit meningkatkan kesejahteraan petani padi jika hanya mengandalkan

pendapatan dari usahatani padi. Nilai tambah dari berbagai produk olahan berbahan

baku padi belum dinikmati oleh petani.

2

Permasalahan dan kendala peningkatan produksi padi tersebut juga dialami

oleh beberapa negara lain di Asia dimana mekanisasi pertanian menjadi salah satu

solusinya. Kasus di Vietnam misalnya, dikembangkan The Small Farmer, Large

Field, dimana kelembagaan pengelolaan usahatani secara luas (komersial)

menggunakan mekanisasi pertanian yang diawali dengan proses konsolidasi lahan

(Mohanty, 2015).

Pertanian modern yang sedang dikembangkan Kementerian Pertanian dengan

menggunakan full mekanisasi (di hulu sampai hilir) ditujukan untuk meningkatkan

produksi dan pendapatan petani juga diharapkan menarik minat generasi muda

untuk terlibat di sektor pertanian, pada dasarnya dapat dipertimbangkan sebagai

upaya untuk menumbuhkan model pengembangan agribisnis padi (Badan Litbang

Pertanian, 2015). Namun demikian, dalam implementasinya pengembangan model

pertanian modern masih menghadapai beberapa kendala terutama terkait masalah

skala usaha petani yang sempit dan terpencar serta masalah sosial dan

kelembagaan pengelolaan alsintan di tingkat usahatani (PSEKP, 2015). Berdasar hal

tersebut, kajian tentang model kelembagaan agribisnis padi skala komersial menjadi

relevan untuk dilakukan.

Agribisnis (baku menurut KBBI: agrobisnis) adalah bisnis berbasis usaha

pertanian atau bidang lain yang mendukungnya, baik di sektor hulu maupun di hilir.

Penyebutan "hulu" dan "hilir" mengacu pada pandangan pokok

bahwa agribisnis bekerja pada rantai sektor