of 111/111
Kata Pengantar Halaman -i- KATA PENGANTAR Sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara bahwa Menteri/Pimpinan Lembaga sebagai Pengguna Anggaran/Barang mempunyai tugas antara lain menyusun dan menyampaikan laporan keuangan Kementerian Negara/Lembaga yang dipimpinnya. LAPAN adalah salah satu entitas pelaporan sehingga berkewajiban menyelenggarakan akuntansi dan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dengan menyusun laporan keuangan berupa Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas dan Catatan atas Laporan Keuangan. Penyusunan Laporan Keuangan LAPAN mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat dalam Pemerintahan. Laporan Keuangan ini telah disusun dan disajikan dengan basis akrual sehingga akan mampu menyajikan informasi keuangan yang transparan, akurat dan akuntabel. Diharapkan Laporan Keuangan ini dapat memberikan informasi yang berguna kepada para pengguna laporan khususnya sebagai sarana untuk meningkatkan akuntabilitas/pertanggungjawaban dan transparansi pengelolaan keuangan negara pada LAPAN. Disamping itu, laporan keuangan ini juga dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada manajemen dalam pengambilan keputusan dalam usaha untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Jakarta, 29 April 2016 Kepala LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Laporan Keuangan Audited 2015

  • View
    228

  • Download
    4

Embed Size (px)

Text of Laporan Keuangan Audited 2015

  • Kata Pengantar Halaman -i-

    KATA PENGANTAR

    Sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang

    Keuangan Negara bahwa Menteri/Pimpinan Lembaga sebagai Pengguna

    Anggaran/Barang mempunyai tugas antara lain menyusun dan menyampaikan

    laporan keuangan Kementerian Negara/Lembaga yang dipimpinnya.

    LAPAN adalah salah satu entitas pelaporan sehingga berkewajiban

    menyelenggarakan akuntansi dan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan

    Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dengan menyusun laporan keuangan

    berupa Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, Laporan Operasional, Laporan

    Perubahan Ekuitas dan Catatan atas Laporan Keuangan.

    Penyusunan Laporan Keuangan LAPAN mengacu pada Peraturan

    Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dan

    kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat dalam Pemerintahan. Laporan

    Keuangan ini telah disusun dan disajikan dengan basis akrual sehingga akan mampu

    menyajikan informasi keuangan yang transparan, akurat dan akuntabel.

    Diharapkan Laporan Keuangan ini dapat memberikan informasi yang

    berguna kepada para pengguna laporan khususnya sebagai sarana untuk

    meningkatkan akuntabilitas/pertanggungjawaban dan transparansi pengelolaan

    keuangan negara pada LAPAN. Disamping itu, laporan keuangan ini juga

    dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada manajemen dalam pengambilan

    keputusan dalam usaha untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik

    (good governance).

    Jakarta, 29 April 2016

    Kepala LAPAN

    Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

  • Daftar Isi Halaman ii

    DAFTAR ISI

    Hal

    Kata Pengantar i Daftar Isi ii Daftar Tabel iii i

    Daftar Isi ii

    Daftar Lampiran iii

    Pernyataan Tanggung Jawab iv

    Ringkasan iv Ringkasan 1 1

    I. Laporan Realisasi Anggaran..................................................................................................... 3

    II. Neraca ....................................................................................................................................... 4

    III. Laporan Operasional ................................................................................................................. 6

    IV. Laporan Perubahan Ekuitas ...................................................................................................... 7

    V. Catatan atas Laporan Keuangan 5 8

    A. Penjelasan Umum 8

    B. Penjelasan atas Pos-pos Laporan Realisasi Anggaran 47

    C. Penjelasan atas Pos-pos Neraca 55

    D. Penjelasan atas Pos-pos Laporan Operasional 91

    E. Penjelasan atas Pos-pos Laporan Perubahan Ekuitas 96

    F. Pengungkapan Penting Lainnya 99

    VI. Lampiran dan Daftar

  • Daftar Isi Halaman iii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran A1 : Rincian Nilai Perolehan, Akumulasi dan Nilai Buku Aset Tetap

    Lampiran A2 : Tabel Konstruksi Dalam Pengerjaan

    Lampiran A3 : Laporan-laporan Pendukung

    a. Neraca, LRA, LO, dan LPE

    b. Laporan Pendukung Laporan Keuangan

    c. Laporan Barang Pengguna

    d. Daftar Rekening Pemerintah

    e. Rencana Tindak Lanjut BPK

    f. Berita Acara Rekonsiliasi

    g. Daftar lainnya sebagai pendukung Laporan Keuangan

    Laporan Persediaan

    Catatan Atas Laporan Barang Milik Negara

    Daftar Saldo Kas di Bendahara Pengeluaran, Kas Lainnya LAPAN Dari Hibah,

    Kas dan Deposito Pada Satker BLU

    Daftar Perkembangan Penyelesaian Kerugian Negara

    Dokumen Lainnya

    h. Laporan Keuangan BLU

  • Pernyataan Telah Direviu

    PERNYATAAN TELAH DIREVIU

    LAPORAN KEUANGAN LEMBAGA PENERBANGAN

    DAN ANTARIKSA NASIONAL

    TAHUN 2015

    Kami telah mereviu Laporan Keuangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

    (LAPAN) untuk tahun anggaran 2015 berupa Neraca per tanggal 31 Desember 2015,

    Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas dan

    Catatan atas Laporan Keuangan untuk periode yang berakhir pada tanggal tersebut.

    Semua informasi yang dimuat dalam laporan keuangan adalah merupakan penyajian

    manajemen Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

    Reviu bertujuan untuk memberikan keyakinan terbatas mengenai akurasi, keandalan, dan

    keabsahan informasi, serta kesesuaian pengakuan, pengukuran, dan pelaporan transaksi

    dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Reviu mempunyai ruang lingkup yang

    jauh lebih sempit dibandingkan dengan lingkup audit yang bertujuan untuk menyatakan

    pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan. Oleh karena itu, kami tidak memberi

    pendapat semacam itu.

    Berdasarkan reviu kami, tidak terdapat perbedaan yang menjadikan kami yakin bahwa

    laporan keuangan yang kami sebutkan di atas tidak disajikan sesuai dengan Undang-

    Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Peraturan Pemerintah Nomor

    71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, dan peraturan perundang-

    undangan lain yang terkait.

    Jakarta,

    Ratih Pratiwi, SH

    NIP.19620409 199003 2 001

  • Pernyataan Tanggung Jawab Halaman -iv-

    LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL

    ( L A P A N ) JALAN PEMUDA PERSIL NOMOR 1, JAKARTA 13220

    TELEPON (021) 4892802, 4895040, FAKSIMILE (021) 4894815, 4892884 SITUS : www.lapan.go.id

    PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB

    Laporan Keuangan LAPAN yang terdiri dari: Laporan Realisasi Anggaran, Neraca,

    Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas dan Catatan atas Laporan Keuangan

    Tahun Anggaran 2015 (Audited) sebagaimana terlampir, adalah merupakan tanggung

    jawab kami.

    Laporan Keuangan tersebut telah disusun berdasarkan sistem pengendalian intern yang

    memadai, dan isinya telah menyajikan informasi pelaksanaan anggaran dan posisi

    keuangan secara layak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.

    Jakarta, 29 April 2016 Kepala LAPAN Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

    __

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Ringkasan Halaman- 1 -

    RINGKASAN LAPORAN KEUANGAN

    Laporan Keuangan LAPAN per 31 Desember 2015 ini telah di susun dan disajikan sesuai

    dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi

    Pemerintahan (SAP) dan berdasarkan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat di

    lingkungan pemerintah. Laporan Keuangan ini meliputi :

    1. LAPORAN REALISASI ANGGARAN

    Laporan Realisasi Anggaran menggambarkan perbandingan antara anggaran dengan

    realisasinya, yang mencakup unsur-unsur pendapatan - LRA dan belanja selama periode

    1 Januari sampai dengan 31 Desember 2015. Realisasi Pendapatan Negara pada

    31 Desember 2015 adalah berupa Pendapatan Negara Bukan Pajak sebesar

    Rp294.232.871.785 atau mencapai 4.927,04% dari estimasi pendapatan LRA sebesar

    Rp5.971.800.000. Realisasi Belanja Negara pada 31 Desember 2015 adalah sebesar

    Rp695.275.761.854 atau mencapai 79,16% dari alokasi anggaran sebesar

    Rp878.339.699.000.

    2. NERACA

    Neraca menggambarkan posisi keuangan entitas mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas

    dana pada 31 Desember 2015. Nilai Aset per 31 Desember 2015 dicatat dan disajikan

    sebesar Rp1.573.191.325.869 yang terdiri dari Aset Lancar sebesar Rp187.143.890.073;

    Aset Tetap (neto) sebesar Rp1.198.386.150.464; Piutang Jangka Panjang (neto)

    Rp616.218.592; dan Aset Lainnya (neto) sebesar Rp187.045.066.740. Nilai Kewajiban

    dan Ekuitas masing-masing sebesar Rp123.832.706.588 dan Rp1.449.358.619.281.

    3. LAPORAN OPERASIONAL

    Laporan Operasional menyajikan berbagai unsur pendapatan-LO, beban, surplus/defisit

    dari operasi, surplus/defisit dari kegiatan non operasional, surplus/defisit sebelum pos

    luar biasa, pos luar biasa, dan surplus/defisit-LO, yang diperlukan untuk penyajian yang

    wajar. Pendapatan-LO untuk periode sampai dengan 31 Desember 2015 adalah sebesar

    Rp180.265.744.521 sedangkan jumlah beban adalah sebesar Rp599.560.211.498 sehingga

    terdapat Defisit dari Kegiatan Operasional senilai Rp419.294.466.977. Kegiatan Non

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Ringkasan Halaman- 2 -

    Operasional surplus sebesar Rp88.173.848.978 sehingga entitas mengalami Defisit-LO

    sebesar Rp331.120.617.999.

    4. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

    Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau penurunan ekuitas tahun

    pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ekuitas pada tanggal 01 Januari 2015

    adalah sebesar Rp1.163.734.718.296 ditambah Defisit-LO sebesar Rp331.120.617.999

    kemudian dikurangi penyesuaian nilai aset sebesar Rp489.077.904 ditambah koreksi-

    koreksi sebesar Rp91.292.678.251 ditambah Transaksi Antar Entitas sebesar

    Rp525.940.918.637 sehingga Ekuitas entitas pada tanggal 31 Desember 2015 adalah

    senilai Rp1.449.358.619.281.

    5. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

    Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) menyajikan informasi tentang penjelasan atau

    daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi

    Anggaran, Neraca, Laporan Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas. Termasuk pula

    dalam CaLK adalah penyajian informasi yang diharuskan dan dianjurkan oleh Standar

    Akuntansi Pemerintahan serta pengungkapanpengungkapan lainnya yang diperlukan

    untuk penyajian yang wajar atas laporan keuangan.

    Dalam penyajian Laporan Realisasi Anggaran untuk periode yang berakhir sampai

    dengan tanggal 31 Desember 2015 disusun dan disajikan berdasarkan basis kas.

    Sedangkan Neraca, Laporan Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas untuk

    31 Desember 2015 disusun dan disajikan dengan basis akrual.

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Laporan Realisasi Anggaran Halaman - 3 -

    I. LAPORAN REALISASI ANGGARAN

    LAPAN

    LAPORAN REALISASI ANGGARAN

    UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2015 DAN 31 DESEMBER 2014

    (Dalam Rupiah)

    31 Desember 2014

    Anggaran Realisasi% terhadap

    AnggaranRealisasi

    B.1

    Penerimaan Negara Bukan

    Pajak 5.971.800.000 294.232.871.785 4927,04% 10.612.696.364

    Jumlah Pendapatan 5.971.800.000 294.232.871.785 4927,04% 10.612.696.364

    B.2

    Belanja Pegawai B.3 144.185.826.000 128.005.494.492 88,78 121.136.986.974

    Belanja Barang B.4 425.001.136.000 270.387.655.726 63,62 169.816.855.452

    Belanja Modal B.5 309.152.737.000 296.882.611.636 96,03 399.140.284.845

    Jumlah Belanja 878.339.699.000 695.275.761.854 79,16 690.094.127.271

    Uraian Catatan

    31 Desember 2015

    PENDAPATAN

    BELANJA

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Neraca Halaman- 4 -

    II. NERACA

    LAPAN

    NERACA

    PER 31 DESEMBER 2015 DAN 31 DESEMBER 2014

    NAMA PERKIRAAN CATATAN 31 DESEMBER 2015 31 DESEMBER 2014

    1 2 3 4

    ASET

    ASET LANCAR

    Kas di Bendahara Pengeluaran C.1 140.563.729 94.072.431

    Kas Lainnya dan Setara Kas C.2 95.993.535 246.976.457

    Kas pada Badan Layanan Umum C.3 125.804.257.421 2.908.011.995

    Piutang Bukan Pajak C.4 498.773.542 -

    Piutang dari kegiatan Operasional Badan Layanan

    UmumC.5 157.853.200 267.184.074

    Piutang dari kegiatan Non Operasional Badan

    Layanan UmumC.6 - 3.027.309

    Bagian Lancar TP/TGR C.7 - 37.200.000

    Penyisihan Piutang Tak Tertagih-Piutang LancarC.8 (147.166.688) (148.351.057)

    Belanja Dibayar di Muka C.9 10.527.120.568 14.478.395.210

    Persediaan C.10 49.622.817.624 43.701.664.122

    Persediaan Badan Layanan Umum C.11 443.677.142 434.990.039

    Jumlah Aset Lancar 187.143.890.073 62.023.170.580

    PIUTANG JANGKA PANJANG

    Piutang Tagihan TP/TGR C.12 64.586.900 2.896.717.061

    Piutang Jangka Panjang Lainnya C.13 2.665.830.161 -

    Penyisihan Piutang Tak Tertagih-Piutang Jangka

    Panjang C.14 (2.114.198.469) (1.984.022.716)

    Jumlah Piutang Jangka Panjang 616.218.592 912.694.345

    ASET TETAP

    Tanah C.15 277.038.353.942 275.246.835.716

    Peralatan dan Mesin C.16 840.023.949.891 775.288.769.083

    Peralatan dan Mesin Badan Layanan Umum C.17 2.426.290.176 2.355.485.911

    Gedung dan Bangunan C.18 227.028.505.154 206.161.942.268

    Jalan, Irigasi dan Jaringan C.19 42.945.005.231 40.640.386.532

    Aset Tetap Lainnya C.20 11.084.550.578 26.229.186.179

    Aset Tetap Lainnya Badan Layanan Umum C.21 1.045.500 1.045.500

    Konstruksi Dalam Pengerjaan C.22 297.329.036.178 85.053.012.196

    Akumulasi Penyusutan C.23 (499.490.586.186) (450.097.991.067)

    Jumlah Aset Tetap 1.198.386.150.464 960.878.672.318

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Neraca Halaman- 5 -

    NAMA PERKIRAAN CATATAN 31 DESEMBER 2015 31 DESEMBER 2014

    1 2 3 4

    ASET LAINNYA

    Aset Tak Berwujud C.24 90.191.330.216 55.475.114.093

    Aset Tak Berwujud - Badan Layanan Umum C.25 200.499.000 4.361.000

    Aset Tak Berwujud Dalam Pengerjaan C.26 96.115.463.700 84.980.513.700

    Aset Lain-Lain C.27 8.686.749.284 10.315.284.029

    Aset Lain-Lain-Badan Layanan Umum C.28 109.501.628 -

    Akumulasi Penyusutan dan Amortisasi Aset Lainnya C.29(8.258.477.088) (9.823.890.622)

    Jumlah Aset Lainnya 187.045.066.740 140.951.382.200

    JUMLAH ASET 1.573.191.325.869 1.164.765.919.443

    KEWAJIBAN

    KEWAJIBAN JANGKA PENDEK

    Uang Muka dari KPPN C.30 140.563.729 94.072.431

    Utang kepada Pihak Ketiga C.31 123.617.427.702 932.929.874

    Pendapatan yang ditangguhkan C.32 - 434.440

    Utang Jangka Pendek Lainnya C.33 70.747.365 231.050

    Pendapatan Diterima di Muka C.34 3.967.792 3.967.792

    JUMLAH KEWAJIBAN 123.832.706.588 1.031.635.587

    EKUITAS

    Ekuitas Dana Lancar C.35 - 60.991.534.993

    Ekuitas Dana Investasi C.36 - 1.102.742.748.863

    Ekuitas C.37 1.449.358.619.281 -

    JUMLAH EKUITAS 1.449.358.619.281 1.163.734.283.856

    JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS 1.573.191.325.869 1.164.765.919.443

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Laporan Operasional Halaman- 6 -

    III. LAPORAN OPERASIONAL

    LAPAN

    LAPORAN OPERASIONAL

    UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2015 DAN 2014

    (Dalam Rupiah)

    Catatan 2015 2014

    Penerimaan Negara Bukan Pajak D.1 180.265.744.521

    JUMLAH PENDAPATAN 180.265.744.521

    Beban Pegawai D.2 128.027.637.521

    Beban Persediaan D.3 17.545.378.636

    Beban Barang dan Jasa D.4 291.814.044.633

    Beban Pemeliharaan D.5 22.997.197.460

    Beban Perjalanan Dinas D.6 29.366.458.281

    Beban Barang untuk Diserahkan kepada

    masyarakatD.7 3.423.091.243

    Beban Penyusutan dan Amortisasi D.8 106.256.781.283

    Beban Peyisihan Piutang Tak Tertagih D.9 129.622.441

    JUMLAH BEBAN 599.560.211.498

    SURPLUS (DEFISIT) DARI KEGIATAN

    OPERASIONAL(419.294.466.977)

    KEGIATAN NO N O PERASIO NAL D.10

    Defisit Pelepasan Aset Non Lancar (256.988.915)

    Surplus Dari Kegiatan Non Operasional

    Lainnya88.430.837.893

    SURPLUS (DEFISIT) DARI KEGIATAN

    NON OPERASIONAL88.173.848.978

    SURPLUS (DEFISIT) SEBELUM POS

    LUAR BIASA(331.120.617.999)

    PO S LUAR BIASA D.11

    Beban Luar Biasa 0

    SURPLUS (DEFISIT) POS LUAR BIASA 0

    SURPLUS/DEFISIT LO (331.120.617.999)

    Uraian

    PENDAPATAN

    KEGIATAN O PERASIO NAL

    BEBAN

  • Laporan Keuangan LAPAN TA 2015 (Audited)

    Laporan Perubahan Ekuitas Halaman- 7 -

    IV. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

    LAPAN

    LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS

    UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2015 DAN 2014

    (Dalam Rupiah)

    Catatan 2015 2014

    E.1 1.163.734.718.296 -

    SURPLUS/DEFISIT LO E.2 (331.120.617.999) -

    PENYESUAIAN NILAI TAHUN BERJALAN

    Penyesuaian Nilai Aset E.3 (489.077.904) -

    DAMPAK KUMULATIF PERUBAHAN

    KEBIJAKAN/KESALAHAN MENDASAR

    KOREKSI NILAI PERSEDIAAN E.4 79.286.982 -

    KOREKSI NILAI ASET TETAP NON REVALUASI E.5 91.176.372.866 -

    LAIN-LAIN E.6 37.018.403

    JUMLAH LAIN-LAIN 91.292.678.251 -

    TRANSAKSI ANTAR ENTITAS 525.940.918.637 -

    EKUITAS AKHIR E.7 1.449.358.619.281 -

    Uraian

    LAIN-LAIN

    EKUITAS AWAL

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -8-

    V. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

    A. PENJELASAN UMUM

    Dasar Hukum

    Entitas dan

    Rencana

    Strategis

    A.1. Profil dan Kebijakan Teknis LAPAN

    Pembangunan Iptek diarahkan untuk menciptakan dan menguasai ilmu

    pengetahuan, baik ilmu pengetahuan dasar maupun terapan, serta

    mengembangkan ilmu sosial dan humaniora untuk menghasilkan

    teknologi dan memanfaatkan teknologi hasil penelitian, pengembangan,

    dan perekayasaan bagi kesejahteraan masyarakat, kemandirian dan daya

    saing bangsa melalui peningkatan kemampuan dan kapasitas Iptek yang

    senantiasa berpedoman pada nilai agama, nilai budaya, nilai etika,

    kearifan lokal, serta memperhatikan sumber daya dan kelestarian

    lingkungan hidup. Berdasarkan paparan bidang Ilmu Pengetahuan dan

    Teknologi (Iptek) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah

    Nasional (RPJMN) ke-3 yang sesuai amanat Rencana Pembangunan

    Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 disampaikan bahwa

    Pembangunan Keunggulan Kompetitif Perekonomian berbasis pada : (1)

    Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia; (2) Sumber daya Manusia

    (SDM) yang berkualitas; (3) Kemampuan Iptek. Terdapat 7 bidang

    strategis dalam RPJPN 2005-2025, yaitu: Pertanian dan Ketahanan

    Pangan; Teknologi Kesehatan dan Obat; Energi, Energi Baru dan

    Terbarukan; Teknologi Informasi dan Komunikasi; Teknologi

    Transportasi; Material Maju, serta peningkatan jumlah penemuan dan

    pemanfaatannya dalam sektor produksi. Dukungan tersebut dilakukan

    melalui pengembangan sumber daya manusia Iptek, peningkatan anggaran

    riset, pengembangan sinergi kebijakan Iptek lintas sektor, perumusan

    agenda riset yang selaras dengan kebutuhan pasar, peningkatan sarana dan

    prasarana Iptek, dan pengembangan mekanisme intermediasi Iptek.

    Dukungan tersebut dimaksudkan untuk penguatan sistem inovasi dalam

    rangka mendorong pembangunan ekonomi yang berbasis pengetahuan.

    Iptek penerbangan dan antariksa merupakan salah satu mesin penggerak

    pembangunan ekonomi seperti pemanfaatan untuk telekomunikasi,

    navigasi, pengembangan satelit, perencanaan tataguna lahan untuk

    pengembangan wilayah, perencanaan pengembangan infrastruktur

    (jaringan jalan, jaringan telekomunikasi, dan sebagainya), pengelolaan

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -9-

    sumberdaya alam (hutan produksi, perkebunan, perikanan, pertanian,

    pertambangan, sumberdaya air), pemantauan lingkungan (cuaca,

    perubahan iklim dan sebagainya), sehingga dapat menjadi dasar arah

    pengembangan dan program dasar kemandirian teknologi nasional

    berbasis penerbangan dan antariksa. Penguasaan teknologi dirgantara

    khususnya teknologi roket dan satelit sangat penting dalam rangka

    mencapai kemandirian bangsa untuk menjamin kelangsungan

    pemanfaatan teknologi yang dimiliki Lembaga Penerbangan dan

    Antariksa Nasional (LAPAN), maupun aspirasi masyarakat terhadap

    informasi yang disediakan oleh LAPAN. Penguasaan Iptek penerbangan

    dan antariksa sangat penting bagi negara Indonesia yang merupakan

    negara kepulauan dengan aspek geografis yang spesifik yaitu wilayahnya

    luas, daratannya tersebar, berada di jalur katulistiwa di antara dua benua

    dan dua samudera, kaya dengan sumberdaya alam dan rentan terhadap

    bencana. Iptek penerbangan dan antariksa juga sangat penting bagi

    pengelolaan sumberdaya alam, lingkungan, dan penanganan bencana

    melalui penyajian informasi untuk peringatan dini, tanggap darurat dan

    rehabilitasi sehingga mempercepat respon terhadap permasalahan-

    permasalahan nasional.

    Rencana Strategis (Renstra) LAPAN 2015-2019 memberikan gambaran

    kuat LAPAN dalam upaya membangun kemandirian di bidang teknologi

    dirgantara khususnya roket dan satelit sehingga dapat meningkatkan

    pemanfaatan seluas-luasnya Iptek dirgantara untuk mendukung

    pembangunan nasional setidaknya dalam bidang ekonomi dan lingkungan

    hidup serta memberikan gambaran kesiapan LAPAN dalam memberikan

    pelayanan kepada para stakeholder, pengguna dari berbagai institusi

    pemerintah, swasta, dunia usaha dan masyarakat.

    Renstra LAPAN 2015-2019 merupakan dokumen perencanaan untuk 5

    (lima) tahun ke depan dan telah diselaraskan dengan RPJMN 2015-2019

    dan menjadi acuan bagi unit kerja eselon I dan II serta unit kerja Mandiri

    (Balai) untuk menyusun Renstra sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -10-

    1.1 Kondisi Umum

    1.1.1 Profil LAPAN

    LAPAN merupakan Lembaga Pemerintah Non Kementerian

    (LPNK) yang didirikan pada tahun 1963 berdasarkan Keputusan Presiden

    Nomor 236 Tahun 1963 tentang Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar

    Nasional.

    Keputusan Presiden

    tersebut diperbaharui dan

    disempurnakan dengan Keputusan

    Presiden Nomor 103 Tahun 2001

    tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,

    Kewenangan, Susunan Organisasi,

    dan Tata Kerja Lembaga

    Pemerintah Non Departemen

    sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan

    Presiden Nomor 64 Tahun 2005. Keputusan Presiden tersebut kemudian

    dijabarkan lebih lanjut dengan Peraturan Kepala Lembaga Penerbangan

    dan Antariksa Nasional Nomor 05 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas

    Peraturan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Nomor

    02 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Penerbangan

    dan Antariksa Nasional (LAPAN). Dengan disahkannya Undang-Undang

    Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, saat ini

    sedang disiapkan Rancangan Peraturan Presiden tentang Lembaga

    Penerbangan dan Antariksa Nasional.

    A. Kedudukan, Tugas, Fungsi, dan Kewenangan Berdasarkan

    Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 dan Peraturan

    Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Nomor 02

    Tahun 2011

    LAPAN adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK)

    yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden Republik

    Indonesia. LAPAN mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan

    di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan

    pemanfaatannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

    Gambar 1.1 Kantor LAPAN

    Pusat

    http://jdih.lapan.go.id/components/com_chronoforms/uploads/inputperaturan/20140528155435_perka%2005%20tahun%202014.pdfhttp://jdih.lapan.go.id/components/com_chronoforms/uploads/inputperaturan/20140528155435_perka%2005%20tahun%202014.pdfhttp://jdih.lapan.go.id/components/com_chronoforms/uploads/inputperaturan/20140528155435_perka%2005%20tahun%202014.pdfhttp://jdih.lapan.go.id/components/com_chronoforms/uploads/inputperaturan/20140528155435_perka%2005%20tahun%202014.pdf

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -11-

    yang berlaku. Dalam pelaksanaan tugasnya, LAPAN dikoordinasikan oleh

    Kementerian Riset dan Teknologi.

    Dalam melaksanakan tugasnya, LAPAN menyelenggarakan fungsi :

    1. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang

    penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan

    pemanfaatannya;

    2. Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas LAPAN;

    3. Pemantauan, pemberian bimbingan dan pembinaan terhadap

    kegiatan instansi pemerintah di bidang kedirgantaraan dan

    pemanfaatannya;

    4. Penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum di

    bidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan

    tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, hukum,

    persandian, perlengkapan, dan rumah tangga.

    Dalam menyelenggarakan fungsi di atas, LAPAN mempunyai

    kewenangan:

    1. Penyusunan rencana nasional secara makro di bidangnya;

    2. Perumusan kebijakan di bidangnya untuk mendukung

    pembangunan secara makro;

    3. Penetapan sistem informasi di bidangnya;

    4. Kewenangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

    undangan yang berlaku yaitu :

    a. Perumusan dan pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang

    penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan

    pemanfaatannya;

    b. Penginderaan/pemotretan jarak jauh dan pemberian

    rekomendasi perizinan satelit.

    Berdasarkan kedudukan, tugas, fungsi dan kewenangan, maka

    lingkup kegiatan yang dilaksanakan LAPAN adalah pada : (1) penelitian,

    pengembangan dan pemanfaatan sains atmosfer, iklim dan antariksa, (2)

    penelitian, pengembangan dan pemanfaatan penginderaan jauh, (3)

    penelitian, pengembangan dan pemanfaatan teknologi dirgantara, dan (4)

    kajian dan pengembangan kebijakan kedirgantaraan nasional.

    Pemanfaatan Iptek kedirgantaraan merupakan salah satu mesin

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -12-

    penggerak pembangunan ekonomi seperti pemanfaatan untuk

    telekomunikasi, navigasi, pengembangan satelit pendidikan, tele medisin,

    perencanaan tataguna lahan untuk pengembangan wilayah, perencanaan

    pengembangan infrastruktur (jaringan jalan, jaringan telekomunikasi, dan

    sebagainya), pengelolaan sumberdaya alam (hutan produksi, perkebunan,

    perikanan, pertanian, pertambangan, sumberdaya air), pemantauan

    lingkungan (cuaca, perubahan iklim dan sebagainya), dan untuk

    mendukung pertahanan NKRI. Penguasaan Iptek kedirgantaraan sangat

    penting bagi negara seperti Indonesia yang merupakan negara kepulauan

    dengan aspek geografis yang spesifik yaitu wilayahnya luas, daratannya

    tersebar, berada di jalur katulistiwa di antara dua benua dan dua samudera,

    kaya dengan sumberdaya alam dan rentan terhadap bencana. Pengelolaan

    wilayah negara dengan aspek geografis yang demikian sangat memerlukan

    Iptek kedirgantaraan.

    Iptek kedirgantaraan memberikan kemampuan dalam pengelolaan

    sumberdaya alam, lingkungan, dan penanganan bencana melalui penyajian

    informasi untuk peringatan dini, tanggap darurat dan rehabilitasi.

    Penguasaan Iptek kedirgantaraan memungkinkan bagi Indonesia untuk

    menjaga dan melindungi keutuhan NKRI. Keberhasilan LAPAN dalam

    penguasaan Iptek kedirgantaraan (rancang bangun satelit mikro dan

    operasional pengendalian serta penerimaan datanya, rancang bangun roket

    balistik dan kendali sampai dengan ukuran 420 mm dan dilanjutkan

    dengan 550 mm, pelayanan data/informasi penginderaan jauh untuk

    pengelolaan sumber daya lahan, mitigasi bencana, dan mendukung

    keperluan hankam, serta pengembangan model dan informasi sains

    antariksa dan atmosfer) sangat membantu dan berkontribusi bagi

    masyarakat Indonesia dalam kehidupannya.

    Cita-cita LAPAN dalam upayanya berkontribusi bagi kemandirian

    teknologi dan pemberdayaan Iptek di tengah-tengah masyarakat juga

    banyak mengalami kendala. Kendala-kendala tersebut merupakan

    strategic issued bagi LAPAN. Pemetaan kendala telah dilakukan,

    diantaranya dapat disebutkan:

    1. Fasilitas dan kapasitas peralatan penelitian dan laboratorium sangat

    terbatas;

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -13-

    2. Ketersediaan SDM yang memadai baik secara kuantitas maupun

    kualitas masih kurang dibandingkan dengan program yang harus

    dijalankan. Hal ini semakin sulit dengan adanya kebijakan nasional

    dalam pembatasan rekruitmen PNS;

    3. Anggaran LAPAN dalam 5 tahun terakhir sangat terbatas sehingga

    belum memungkinkan pengembangan dan investasi peralatan secara

    memadai untuk mendukung penguasaan Iptek kedirgantaraan.

    4. Missile Technology Control Regime (MTCR) yang menghalangi

    proses kerjasama Indonesia (LAPAN) dengan negara-negara yang

    telah mempunyai kemampuan di bidang teknologi roket dalam rangka

    alih teknologi dan pengembangan kemampuan roket LAPAN/

    nasional.

    Rencana Strategis ini disusun dengan mempertimbangkan Rancangan

    Peraturan Presiden yang baru, yang mengantisipasi perkembangan

    organisasi modern serta tantangan sains dan teknologi antariksa.

    1.1.2 Capaian LAPAN 2015

    Sebagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yang

    bertugas di bidang penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan

    pemanfaatannya, LAPAN telah menghasilkan berbagai kemajuan

    penguasaan di bidang teknologi penerbangan dan antariksa pada tahun

    2015. Pencapaian tersebut telah banyak dimanfaatkan oleh pengguna di

    berbagai sektor pembangunan. Berbagai capaian tersebut diantaranya:

    litbang yang dihasilkan di bidang sains antariksa dan sains atmosfer,

    rancang bangun teknologi satelit, pengembangan teknologi roket sonda,

    pengembangan teknologi penerbangan, serta litbang di bidang

    penginderaan jauh dan kajian kebijakan.

    Pencapaian tersebut merupakan acuan bagi LAPAN untuk terus

    berbenah dalam orientasi bersama untuk mewujudkan pusat unggulan di

    setiap kompeterisi LAPAN pada periode pembangunan berikutnya.

    Adapun capaian pada tahun 2015 yang telah dihasilkan sebagai berikut:

    a. Di bidang pengembangan kompetensi sains antariksa, telah

    dilakukan pengembangan Decision Support System (DSS) berupa

    Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS). DSS

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -14-

    SWIFTS, merupakan sistem yang mampu melakukan prakiraan

    kondisi cuaca antariksa agar dapat dimanfaatkan terkait timbulnya

    potensi gangguan akibat cuaca antariksa pada komunikasi radio HF,

    navigasi dan satelit. Produk ini membuktikan bahwa fenomena cuaca

    antariksa dapat diprakirakan dengan menganalisis data-data

    pengamatan real time, baik data lokal maupun global untuk

    kemudian ditarik suatu kesimpulan. Sampai saat ini telah dilakukan

    informasi harian dan prediksinya untuk kondisi matahari, medan

    magnet bumi, dan kondisi lapisan ionosfer. Informasi ini

    disampaikan melalui website http://swifts.sains.lapan.go.id/. Sistem

    ini direncanakan menjadi informasi unggulan di wilayah regional

    Asia Tenggara, karena sampai saat ini hanya LAPAN yang dapat

    melakukannya. Selanjutnya ditargetkan sistem ini akan segera

    bergabuing dengan ISES (International Space Environment Services.

    Sedangkan pada bidang pengembangan kompetensi sains

    atmosfer, telah dilakukan pengembangan Decision Support System

    (DSS) berupa Satellite Early Warning System (Sadewa) merupakan

    sebuah sistem informasi peringatan dini bencana yang dikembangkan

    berbasis teknologi satelit dan juga dilengkapi sensor-sensor terestrial.

    Sistem peringatan dini bencana dapat mengurangi resiko bencana

    dengan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

    Sadewa memonitor kejadian hujan ekstrim yang berpotensi

    menimbulkan bencana banjir dan longsor di seluruh wilayah

    Indonesia dengan resolusi 5 km2 mendekati real time dan

    mengirimkan informasi peringatan dini melalui website, e-mail dan

    pesan singkat (SMS) kepada pihak-pihak yang terkait dengan

    penanggulangan bencana. Pada tahun 2015 sistem peringatan dini

    bencana LAPAN telah sampai pada versi pengembangan ke 3

    (Sadewa 3.0) yang dapat diakses melalui jaringan

    http://sadewa.sains.lapan.go.id.

    Dalam mengembangkan minat masyarakat terhadap iptek

    penerbangan dan antariksa, LAPAN telah membangun sarana

    edukasi publik berupa planetarium berpindah (mobile planetarium).

    Kemenristekdikti memberikan pembinaan pada PSTA untuk menjadi

    http://sadewa.sains.lapan.go.id/

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -15-

    Pusat Unggulan IPTEK 2016-2018.

    b. Dalam pengembangan kompetensi Teknologi Penerbangan dan

    Antarikaa, LAPAN telah menghasilkan teknologi roket yang banyak

    dimanfaatkan pengguna, salah satunya dalam hal penggunaan khusus

    yaitu tipe roket RX 1210 dan RX 1220. Dalam pengembangan

    Program Roket Pengorbit Satelit (RPS), LAPAN melaksanakan

    kegiatan penelitian dan pengembangan pada tipe roket RX 320, RX

    450, dan RX 550. Pada tanggal 13 Mei 2015, LAPAN telah berhasil

    meluncurkan roket RX-450. Peluncuran berlangsung di Balai

    Produksi dan Pengujian Roket Pameungpeuk, Jawa Barat. RX 450

    merupakan roket sonda yang mempunyai diameter 450 mm yang

    dapat digunakan untuk mengukur parameter atmosfer. Sedangkan

    RX 550, yang menjadi komponen utama RPS, masih sedang dalam

    proses persiapan uji statik. Pengembangan roket RX 550 (integrasi

    dan uji statik) dilakukan dengan dukungan kerjasama pengembangan

    nosel dengan pihak YuZhnOye Ukraina.

    Pengembangan kapasitas produksi bahan baku propelan untuk

    membangun kemandirian bahan baku roket. LAPAN telah berhasil

    memproduksi Amonium Perkhlorat (AP) dan Hydroxy Terminated

    Polybutadiene (HTPB) untuk membangun kemandirian dan

    mengurangi ketergantungan bahan baku dan negara lain yang sulit

    diperoieh dan dibatasi oleh kebijakan internasional Missile

    Technology Control Regime (MTCR). Keberhasilan produksi AP

    dan HTPB secara mandiri diharapkan dapat memenuhi kebutuhan

    dalam negeri. Peralatan Propellant Production Line bisa

    dimanfaatkan untuk memproduksi motor roket / propelan kelas RX

    1220 dengan kapasitas maks 500 unit per tahun. Produksi AP secara

    mandiri juga memberikan kemampuan untuk menghasilkan produk

    lain yaitu Kalium Perkhlorat (KP) sebagai bahan untuk penyemaian

    bibit hujan atau modifikasj cuaca.

    Selain itu, di bidang teknologi satelit LAPAN berupaya untuk

    membangun kemampuan penelitian dan perekayasaan teknologi

    satelit di dalam negeri baik satelit komunikasi, navigasi dan

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -16-

    penginderaan jauh. LAPAN berhasil membuat satelit eksperimen

    LAPAN-Tubsat yang diluncurkan pada 2007 dengan menggunakan

    roket peluncur satelit milik India. LAPAN juga telah menyelesaikan

    satelit kedua yang bernama LAPAN-A2/Orari dengan misi

    surveillance, monitoring lalu lintas kapal dan komunikasi amafir.

    Pelepasan Satelit LAPAN A2 dilakukan oleh Presiden RI pada

    tanggal 3 September 2015 dan telah berhasil diluncurkan pada pukul

    11.30 WIB tanggal 28 September 2015, di Sriharikota, India.

    LAPAN-A2 berbobot 76 kg dilepaskan pada ketinggian 650,16 km

    setelah 23 menit 3 detik. Saat ini, LAPAN juga sedang

    mengembangkan satelit eksperimen berikutnya yakni LAPAN-A3,

    yang memiliki misi penginderaan jauh untuk ketahanan pangan. Pada

    tahun 2015 satelit LAPAN-A3 telah sampai pada tahap AIT dengan

    melengkapi fasilitas uji vibrasi dan EMC, fitting test, dan

    penyelesaian AIT dan uji vibrasi dummy load. LAPAN optimis di

    masa depan Indonesia akan mampu satelit yang dikembangkan masih

    berupa satelit membangun sendiri satelit operasional dengan berat

    eksperimen dengan berat di bawah 100 kilogram, namun lebih dan

    1000 kg. Capaian dalam bidang litbangyasa satelit lainnya berupa

    keberhasilan seluruh uji fungsional dan misi satelit pada IOT

    LAPAN-A2, keberhasilan uji algoritma nadir point pada attitude

    control satelit, terselesaikannya 3 prototipe sub sistem satelit, dan

    tahap akhir pengembangan SW koreksi sistematik imager LAPAN-

    A3, modul TT&C dan modul akuisisi data misi LAPAN-A3, dan

    menghasilkan 5 KTI internasinal terindeks dan 8 KTI Nasional, serta

    1 usulan HKI.

    Di bidang teknologi penerbangan, LAPAN telah melakukan

    Pengoperasian pesawat tanpa awak/ Unmanned Aerial Vehicle

    (UAV) atau disebut juga LAPAN Surveillance UAV (LSU) dalam

    kelas medium altitude dan long endurance dengan misi airborne

    remote sensing. LAPAN berkomitmen dan telah menjalin kerja sama

    dengan berbagai pihak, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM),

    PSBA, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Yogyakarta

    (BNPBD Yogyakarta), TNI, Poiri, Kementan, Badan Informasi

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -17-

    Geospasial (BIG) dan lebih dari 10 instansi untuk memanfaatkan

    LSU sebagai alat bantu surveillance, monitoring maupun bantuan

    pemetaan resolusi tinggi, baik sebagai data utama maupun data

    dukungan. Pengoperasian pesawat tanpa awak/Unmanned Aerial

    Vehicle (UAV) atau disebut juga LAPAN Surveillance UAV (LSU)

    dalam kelas medium altitude dan long endurance dengan misi

    airborne remote sensing. Pesawat LSU-01 berhasil diuji coba dengan

    terbang secara terprogram dengan lama terbang 50 menit, kecepatan

    60 km/jam dan muatan 0.5 kg. Pesawat LSU-02 telah di uji terbang

    secara terprogram dengan lama terbang 3.8 jam dengan kecepatan

    150 km/jam serta mampu membawa muatan maksimum 3 kg.

    Pesawat ini telah berhasil terbang selama 2 jam 45 menit menempuh

    jarak total sekitar 200 km dari Pameungpeuk-Bandara Nusawiru

    Pangandaran-Pameungpeuk dan telah dicatatkan sebagai Rekor

    MURI. Pesawat LSU-03 dapat terbang secara terprogram dengan

    lama terbang 5 jam, kecepatan 150km/jam serta mampu membawa

    muatan maksimum 10 Kg. Pada tanggal 29 Nopember 2015 Pesawat

    LSU-03 berhasil menempuh jarak sejauh 340 Km, terbang pergi-

    pulang dari lapangan udara Pameungpeuk, Pangandaran,

    Nusakambangan, Cilacap dengan ketinggian 600 meter selama 3.5

    jam dan meraih penghargaan rekor MURI untuk kategori Pesawat

    Tanpa Awak (UAV) terbang menempuh jarak terjauh. Pesawat LSU-

    05 merupakan pesawat yang mampu terbang selama 6-7 jam dengan

    kecepatan mencapai 150 km/jam, konsumsi bahan bakar 1.4 liter/jam

    dan mampu membawa muatan 30 kg. Tahun 2015 Pusat Teknologi

    penerbangan telah melakukan pertemuan Mission Validation

    bersama kementrian KKP terkait misi Maritime Surveillance System

    (MSS). LAPAN menerima penghargaan Karya Unggulan Anak

    Bangsa dari Kemenristekdikti aatas konsep MSS dan bersama PT.

    DI atas produk N-219. Juga telah dilakukan optimasi design LSU-03

    dan LSU-02 sebagai elemen MSS, optimasi tersebut menghasilkan

    LSU-03-NG dan LSU-02-NG. Telah dilakukan pula penyiapan

    Mobile ground segment MSS yang menghasilkan dampak positif

    seperti pendaftaran patent design industri LSU-03-NG, hilirisasi

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -18-

    LSU-03 ke PT. M3 untuk diproduksi bagi keperluan AD, dan

    menciptakan struktur baru full carbon untuk serial LSU.

    Pada tanggal 10 Desember 2015 di hanggar PT Dirgantara

    Indonesia (PT. DI) pesawat nasional N-219 tampil perdana di

    hadapan publik. Pesawat N219 sepenuhnya murni dikembangkan

    oleh putra putri Indonesia dan tidak melibatkan seorangpun

    konsultan asing. Teknik rancang bangun yang modern,

    computerized, dirancang dan digambar secara digital sehingga

    akurasinya terjaga. N219 menjadi tonggak sejarah. Program pesawat

    transport nasional N219 yang secara resmi dimulai pada 2014

    disesuaikan dengan kondisi dan fasilitas bandar udara di daerah

    terpencil di Indonesia dengan tetap memperhatikan aspek efisiensi

    dan harga yang bersaing. Pesawat ini juga dapat dioperasikan pada

    daerah dengan kondisi awan yang sulit maupun landasan tak beraspal

    di wilayah pegunungan dan kepulauan. Pesawat ini mampu lepas

    landas dan mendarat pada landasan yang pendek dengan stabilitas

    tinggi dan dinilai tepat untuk bandara di daerah terpencil Indonesia

    dengan lahan yang tidak luas.

    c. Di bidang pengembangan kompetensi Penginderaan Jauh, telah

    dilakukan pengembangan Bank Data Penginderaan Jauh Nasional

    (BDPJN) dan Sistem Pemantauan Bumi Nasional (SPBN).

    Implementasi lnstruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2012 tentang

    Penyediaan, Penggunaan, Pengendalian Kualitas, Pengolahan dan

    Distribusi Data Satelit Penginderaan iauh Resolusi Tinggi, LAPAN

    telah melakukan kegiatan yang diantaranya pembangunan sarana dan

    prasarana pendukung. Citra Satelit Resolusi Tinggi yang diakuisisi

    adalah SPOT-6 dan SPOT-7. Terkait Instruksi Presiden tersebut,

    LAPAN melaksanakan kegiatan sebagal berikut:

    1) Menyediakan data satelit penginderaan jauh resolusi tinggi

    dengan liserisi Pemerintah Indonesia;

    2) Meningkatkan kapasitas dan operasi sistem akuisisi data satelit

    penginderaan jauh resolusi tinggi;

    3) Melaksanakan penyediaan data satelit penginderaan jauh

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -19-

    resolusi tinggi sesual dengan ketentuan peraturan

    perundangundangan;

    4) Melakukan pengolahan atas data satelit penginderaan jauh

    resolusi tinggi berupa koreksi radiometrik dan spektral;

    5) Membuat metadata atas data satelit penginderaan jauh resolusi

    tinggi sesual dengan Standar Nasional Indonesia;

    6) Melakukan penyimpanan data satelit penginderaan jauh resolusi

    tinggi; dan

    7) Bersama Kepala Badan Informasi Geospasial melakukan

    pengendalian kualitas terhadap data satelit penginderaan jauh

    resolusi tinggi.

    Kontinuitas litbang teknologi dan pemanfaatan penginderaan

    jauh serta operasional dan pelayanannya dalam mendukung institusi

    terkait dengan melakukan pengembangan kapasitas stasiun bumi dan

    menerima (akuisisi) data satelit resolusi rendah, menengah dan tinggi

    untuk seluruh Indonesia, yaitu: MTSAT, NOAA, Terra/Aqua, NPP,

    Feng Yung, Metop, Landsat-7, LDCM, SPOT-5, SPOT-6 dan SPOT-

    7 melalui stasiun bumi satelit penginderaan jauh Parepare, Pekayon

    dan Rumpin. Peningkatan kualitas Litbangyasa teknologi dan data

    penginderaan jauh pada tahun 2015 menghasilkan 13

    prototipe/modul dan 23 publikasi nasional dan internasional, 1 sistem

    quality control dan pengolahan data resolusi sangat tinggi dan 1

    sistem otomatisasi penerimaan, pengolahan dan pendistribusian data

    MODIS, S-NPP, Landsat 7/8 secara near real time. Dalam

    peningkatan kualitas produk teknologi dan data penginderaan jauh

    pada tahun 2015 menghasilkan cloud mosaic Landsat-7/8 yang

    terupdate setiap 6 bulan, cloud free mosaic SPOT-6/7 yang terupdate

    setiap tahun, 929.465.022 Km2 data CSRT dan sistem penyediaan

    data Terra-Aqua dan S-NPP terdistribusi

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -20-

    penuh pada tahun 2014 yang telah terintegrasi dengan Jaringan Data

    Spasial Nasional (JDSN). BDPJN melayani penyediaan data satelit

    secara nasional, dan telah didistribusikan kepada

    kementerian/lembaga dan pemerintah daerah. Pada tahun 2015,

    BDPJN telah mendistribusikan data citra satelit sebanyak 25.582 data

    kepada 50 K/L, 147 Pemda/Pemkot, 9 data TNI/Polri dan 19

    Perguruan Tinggi.

    BDPJN tidak hanya dapat digunakan untuk pengendalian

    akibat dampak perubahan lingkungan (deforestasi dan emisi hutan),

    tetapi juga bisa melihat distribusi potensi sumber daya alam

    lndonesia. Indonesia secara resmi menjadi negara ke-9 dan negara

    pertama di Asia Tenggara yang menjadi Regional Support Office,

    United Nations-SPace based Information for Disaster Emergency and

    Reduction (RSO UN-SPIDER). LAPAN menjadi pelaksana RSO

    karena memiliki pengalaman dalam pemanfaatan teknologi

    penginderaan jauh untuk berbagai bidang seperti mitigasi bencana,

    pemodelan perubahan iklim, pemantauan lingkungan dan sumber

    daya alam. RSO dibentuk sebagai amanat Resolusi Majelis Umum

    PBB mengenal kerjasama UN-SPIDER dengan pusat-pusat keahlian

    regional dan nasional dalam penggunaan teknologi antariksa guna

    melakukan manaiemen mitigasi bencana.

    LAPAN juga terlibat dalam project Indonesian National

    Carbon Accounting System (INCAS) untuk pemetaan lahan hutan

    seluruh Indonesia menggunakan data satelit penginderaan jauh

    Landsat multi temporal. Pemetaan hutan telah dilakukan setiap tahun

    untuk seluruh wilayah Indonesia selama periode 2000- 2009.

    Informasi spasial hutan yang dihasilkan telah dimanfaatkan oleh

    Kementerian Kehutanan, UKP4 dan berbagai institusi pemerintah

    lainriya.Updatiflg akan terus dilakukan setiap tahun dengan

    menggunakan data satelit Landsat Data Continuity Mission (LDCM).

    Selain BDPJN, LAPAN juga mengembangkan Sistem

    Pemantauan Bumi Nasional (SPBN) yang terdiri dari Sistem

    Informasi dan Mitigasi Bencana Alam (SIMBA) dan Sistem

    Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan (SISDAL). SIMBA

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -21-

    merupakan Iayanan informasi peringatan dini dan tanggap darurat

    bencana berbasis data penginderaan jauh, dimanfaatkan untuk

    pengambilan keputusan terkait kondisi sebelum, pada saat, dan

    terjadinya bencana. Sedangkan SISDAL merupakan layanan

    informasi mengenal sumberdaya alam dan lingkungan wilayah darat,

    pesisir dan laut berbasis data satelit penginderaan jauh untuk

    pengelolaan sumber daya alam dan Iingkungan yang lestari.

    Jenis informasi yang disajikan dalam SIMBA di antaranya:

    kondisi liputan awan dan curah hujan dan data satelit, sistem

    peringkat bahaya kebakaran, pemantauan kondisi titik panas hotspot,

    kabut asap kebakaran, dan informasi bekas lahan terbakar, informasi

    potensi banjir di wilayah genangan banjir, informasi potensi

    banjir/kekeringan di wilayah pertanaman padi, dan informasi letusan

    gunung berapi. Jenis informasi dalam SISDAL meliputi tutupan

    lahan hutan seluruh Indonesia, pemantauan fase pertumbuhan padi,

    pemantauan ekosistem danau, informasi pulau kecil terluar, Zona

    Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI), sebaran mangrove, dan sebaran

    terumbu karang. Periode waktu informasi di dalam sistem yang

    diberikan diperbaharul secara periodik harlan, 8-harian, atau bulanan.

    Data utama yang digunakan adalah data satelit resolusi rendah,

    menengah dan tinggi, diantaranya: data satelit Terra/Aqua MODIS,

    NOAA AVHRR, MTSAT-1R, QMorph, dan TRMM, TM/ETM+/8

    dan SPOT-6/SPOT-7.

    Capaian dalam pengembangan Sistem Pemantauan Bumi

    Nasional pada tahun 2015 adalah 14 jenis informasi SISDAL dan

    SIMBA, 4 sistem SPBN Provinsi, 2 sistem otomatisasi (ZPPI dan

    Daerah bekas terbakar), 73 pengguna SPBN, dan komersialisasi

    informasi ZPPI oleh PT. CSM. Capaian kualitas Litbang

    pemanfaatan penginderaan jauh meliputi 5 makalah publikasi ilmiah

    internasional terakreditasi, 20 makalah publikasi ilmiah nasional

    terakreditasi, 44 makalah dalam buku, 59 makalah dalam prosiding

    nasional dan 24 makalah dalam prosiding internasional. Capaian

    kualitas pedoman dan informasi penginderaan jauh meliputi 10 draf

    pedoman pemanfaatan penginderaan jauh, 17 pengembangan metode

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -22-

    untuk peningkatan kualitas pedoman dan informasi.

    d. Undang-Undang (UU) RI Nomor 21 Tahun 2013 tentang

    Keantariksaan menjadi landasan hukum bagi penyelenggaraan

    keantariksaan di Indonesia. UU Kenatariksaan ini bertujuan

    mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing bangsa dan

    Negara dalam penyelenggaraan keantariksaan untuk kesejahteraan

    dan produktivitas bangsa. UU ini akan menjadi pedoman bagi

    pelaksanaan kerjasama keantariksaan untuk perlindungan terhadap

    kepentingan Indonesia. Pada tahun 2015 telah disahkan satu

    peraturan pelaksanaan dari UU tersebut, yaitu Perpres Nomor 49

    Tahun 2015 tentang Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

    Saat ini Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang

    Penginderaan Jauh, dan RPP Penyelenggaraan Keantariksaan telah

    dilakukan harmonisasi. LAPAN juga telah menyusun RPerpres

    tentang Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaaan sebagai

    pedoman nasional dan saat ini proses tersebut memasuki tahap

    harmonisasi dan akan segera ditetapkan melalui Keputusan Presiden.

    Opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan

    LAPAN. BPK melakukan pemeriksaan dengan berdasarkan pada standar

    pemeriksaan keuangan negara yang meliputi pengujian bukti-bukti yang

    mendukung pengungkapan dalam laporan keuangan. Pemeriksaan tersebut

    meliputi penilaian atas penerapan prinsip-prinsip akuntansi yang

    digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat. Penilaian atas kepatuhan

    terhadap peraturan perundang-undangan, penilaian atas keandalan sistem

    pengendalian internal yang berdampak material terhadap laporan

    keuangan, serta penilaian terhadap pengujian laporan keuangan secara

    keseluruhan. Berturut-turut opini yang diberikan terhadap laporan

    keuangan LAPAN sebagai berikut :

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -23-

    Tabel 1 Opini BPK atas Laporan Keuangan LAPAN

    Tahun 2009-2014

    TAHUN JENIS PEMERIKSAAN OPINI BPK

    2010 LK 2009 WTP

    2011 LK 2010 WTP

    2012 LK 2011 WTP

    2013 LK 2012 WDP

    2014 LK 2013 WDP

    2015 LK 2014 WDP

    1.1.3 Aspirasi Masyarakat terhadap LAPAN

    Pengembangan produk litbang dan layanan publik LAPAN tidak

    terlepas dari berbagai aspirasi dari 4 stakeholder LAPAN yang meliputi

    instansi pemerintah, masyarakat pengguna, masyarakat ilmiah, dan

    masyarakat umum. Sampai dengan saat ini kebutuhan stakeholder yang

    teridentifikasi di antaranya :

    1. LAPAN (Pusat Sains Antariksa) sebagai satu-satunya instansi yang

    melaksanakan penelitian dan pengembangan di bidang cuaca

    antariksa diharapkan dapat menjadi pusat rujukan dalam bidang

    cuaca antariksa.

    2. Dengan makin banyaknya penggunaan teknologi yang berbasis

    antariksa, maka hasil litbang cuaca antariksa makin banyak

    diperlukan, antara lain oleh TNI POLRI, pemerintah daerah

    pengguna komunikasi radio HF, dan penyedia jasa layanan

    komunikasi dengan satelit.

    3. Meningkatnya minat masyarakat dalam bidang keantariksaan

    menjadikan LAPAN (Pusat Sains Antariksa) sebagai sumber

    informasi untuk mejelaskan fenomena antariksa yang menjadi

    perhatian masyarakat.

    4. Dengan meningkatnya minat komunitas internasional terhadap

    fenomena atmosfer ekuator dan kopling atmosfer antariksa di

    lintang rendah, maka hasil litbang teknologi atmosfer makin banyak

    diperlukan untuk mitigasi bencana alam terkait perubahan iklim.

    5. Data satelit penginderaan jauh saat ini telah dimanfaatkan oleh

    Kementerian/Lembaga, Pemda, TNI dan Polri dalam pelaksanaan

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -24-

    dan perencanaan pembangunan di berbagai sektor. Data

    penginderaan jauh multi sensor dan multi resolusi dimanfaatkan

    untuk pemetaan dasar, pemantauan dan inventarisasi sektor

    kehutanan, pemantauan dan inventarisasi sektor pertanian, mitigasi

    bencana, dan lain-lain. Kebutuhan data satelit penginderaan jauh

    yang sangat besar untuk berbagai keperluan ini, memberikan

    peluang LAPAN untuk semakin berkiprah dalam pembangunan

    nasional.

    6. Terkait dengan isu perubahan iklim, LAPAN sebagai satu-satunya

    institusi yang mampu menyediakan data satelit secara konsisten dan

    kontinyu, memiliki peluang untuk membangun kerjasama nasional

    dan internasional yang saling menguntungkan dalam pengembangan

    kompentensi SDM dan infrastruktur.

    7. Banyaknya permintaan informasi sektor berbasis data penginderaan

    jauh dan juga permintaan stakeholder agar metode yang dibangun

    lebih akurat. Adanya tawaran kerjasama pengembangan metodologi

    dari instansi lain baik dalam maupun luar negeri. Kegiatan

    kerjasama dengan instansi litbang baik dalam maupun luar negeri

    akan meningkatkan kualitas metode yang akan dibangun.

    8. Meningkatnya kebutuhan data dan informasi penginderaan jauh

    nasional, yang didukung dengan semakin banyaknya data

    penginderaan jauh resolusi tinggi yang tersedia, sehingga

    mendorong LAPAN meningkatkan layanannya.

    9. LAPAN diharapkan berkontribusi dalam pengembangan roket untuk

    berbagai aplikasi layanan.

    10. Banyaknya tawaran kerjasama pengembangan teknologi satelit,

    yang juga didukung dengan semakin banyaknya pengguna teknologi

    satelit untuk membuat satelit nasional secara mandiri.

    11. Meningkatnya permintaan pemanfaatan pesawat tanpa awak untuk

    berbagai keperluan.

    12. Adanya permintaan sebagai partner strategis bagi industri

    penerbangan.

    13. Kemampuan Litbang LAPAN dalam teknologi penerbangan,

    khususnya teknologi pesawat terbang.

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -25-

    14. Teknologi UAV/LSU sebagai wahana untuk surveillance, pemetaan

    resolusi tinggi dan monitoring dalam sistem kebencanaan nasional,

    lingkungan hidup dan perlindungan wilayah.

    15. Meningkatnya kebutuhan akan hasil pengkajian kebijakan yang

    berkualitas oleh pengambil kebijakan (policy driven research) yang

    dapat menjawab isu-isu strategis terkini di bidang penerbangan dan

    antariksa.

    Aspirasi masyarakat terhadap LAPAN dapat terlihat pada data

    kerjasama formal antara LAPAN dengan berbagai pihak (Pemerintah

    Pusat, Pemda, Perguruan Tinggi, dan Swasta/BUMN) dalam hal

    penyediaan data, informasi, dan pemanfaatan teknologi penerbangan dan

    antariksa.

    Aspirasi-aspirasi tersebut membuktikan bahwa diperlukan

    teknologi di bidang penerbangan dan antariksa untuk mendukung

    pengembangan wilayah/tata ruang, pemantauan sumber daya alam dan

    lingkungan, mitigasi bencana, dan transportasi dalam rangka

    pembangunan nasional. Produk litbang dan layanan publik LAPAN

    semakin penting dan dibutuhkan bagi kepentingan masyarakat. Hal ini

    mendorong LAPAN untuk terus mengembangkan produk litbang dan

    meningkatkan layanan kepada masyararakat.

    1.1.4 Layanan Publik

    1. Badan Layanan Umum

    Pelayanan publik yang dilakukan oleh LAPAN dapat

    terlihat pada pelayanan produk litbang yang diberikan kepada

    berbagai pihak (Pemerintah Pusat, Pemda, Perguruan Tinggi, dan

    Swasta/BUMN) dalam hal penyediaan data, informasi, dan

    pemanfaatan teknologi penerbangan dan antariksa. Dalam rangka

    meningkatkan kualitas pelayanan publik di LAPAN,

    Pusfatekgan/BLU LAPAN telah menerapkan sistem manajemen

    Mutu ISO 9001:2008 dengan sertifikasi pada tahun 2014, sehingga

    sistem manajemen pelayanan berstandar internasional. Hal ini

    menunjukan komitmen LAPAN dalam melaksanakan proses

    reformasi birokrasi, terutama pada area pelayanan publik sesuai

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -26-

    amanat UU Nomor 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik.

    2. Layanan Informasi

    Secara umum produk litbang dan layanan publik LAPAN

    dapat dikategorikan menjadi 4 kategori, yaitu: a) Informasi cuaca

    antariksa dan kondisi atmosfer, b) Data dan informasi berbasis

    penginderaan jauh satelit, c) Penguasaan teknologi roket, satelit, dan

    penerbangan (pesawat tanpa awak dan pesawat transport), d)

    Kebijakan terkait pemanfaatan teknologi penerbangan dan antariksa.

    Sampai dengan akhir tahun 2014, LAPAN telah memiliki

    Standar Pelayanan Publik (SPP) sebanyak 84 SPP, yang telah

    disahkan melalui Keputusan Kepala LAPAN Nomor 225 Tahun

    2013 tentang Standar Pelayanan di LAPAN sebagaimana telah

    beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Kepala LAPAN

    Nomor 242 Tahun 2014 tentang Perubahan Kedua Atas Keputusan

    Kepala LAPAN Nomor 225 Tahun 2013 tentang Standar Pelayanan

    di LAPAN dan Keputusan Kepala LAPAN Nomor 220 Tahun 2014

    tentang Tim Penyusunan Standar Pelayanan. Melalui evaluasi

    pelayanan publik kelembagaan yang dilakukan oleh Kementerian

    PAN & RB dan Ombudsman RI pada tanggal 5 Juli 2013, LAPAN

    mendapatkan peringkat ke-8 yang didukung oleh 3 (tiga) unit

    pelayanan publik, yaitu Biro Kerjasama dan Hubungan Masyarakat

    (Biro KSH), Pusat Pemanfaatan Teknologi Dirgantara

    (Pusfatekgan), dan Balai Penginderaan Jauh Parepare (BPJ

    Parepare).

    Dalam rangka keterbukaan informasi publik dan apresiasi

    atas kemudahan akses pengguna terhadap hasil litbang LAPAN,

    pada tahun 2013 LAPAN bersama Kementerian Keuangan terpilih

    sebagai champion Layanan Informasi Publik versi Unit Kerja

    Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan

    (UKP4) karena memiliki lebih banyak jumlah informasi layanan

    publik yang telah dimasukkan ke dalam portal http://satulayanan.net

    dan dikelola dengan lebih baik dibandingkan Kementerian dan

    Lembaga lainnya.

    Pada 2014, nilai Pemeringkatan E-Goverment Indonesia

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -27-

    (PeGI) LAPAN berada di posisi 11 dari 24 LPNK yang

    berpartisipasi, dengan predikat "baik" untuk semua dimensi

    penilaian (kebijakan, kelembagaan, infrastruktur, aplikasi, dan

    perencanaan). Sementara itu, untuk Webometrics berada pada posisi

    666 dari 70 ribu lembaga litbang di seluruh dunia. Untuk posisi

    lembaga litbang di Indonesia peringkat Webometrics, LAPAN

    menduduki peringkat 40 pada Januari 2014, kemudian naik menjadi

    peringkat 4 pada bulan Juli tahun 2014, dan pada Januari 2015

    peringkat LAPAN naik satu tingkat menjadi peringkat 3.

    1.1.5 Regulasi Kewenangan LAPAN

    Landasan hukum LAPAN berdasarkan Keputusan Presiden

    Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan,

    Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non

    Departemen, sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan

    Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2013, dan Keputusan Presiden Nomor

    110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Lembaga

    Pemerintah Non Departemen, sebagaimana telah beberapa kali diubah

    terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2013. Dalam

    menjalankan tugas dan fungsinya, LAPAN didukung berbagai peraturan

    perundang-undangan sebagai landasan dalam melaksanakan kegiatan,

    terutama Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2013 tentang

    Keantariksaan (LAPAN merupakan Lembaga utama penyelenggara

    kegiatan keantariksaan di Indonesia). Peraturan perundang-undangan

    lainnya yang juga mendasari/mendukung tugas fungsi LAPAN yaitu:

    1. Undang-Undang RI Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem

    Nasional Penelitian Pengembangan, dan Penerapan Ilmu

    Pengetahuan dan Teknologi ( Sisnas-Iptek);

    2. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih

    Teknologi Kekayaan Intelektual serta Penelitian dan

    Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian

    dan Pengembangan;

    3. Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan

    Industri Nasional (LAPAN mempunyai keterkaitan untuk

    bekerjasama dengan industri yang sejenis litbang LAPAN bahwa

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -28-

    pengembangan industri nasional yang bertujuan untuk

    meningkatkan daya saing industri, dan yang memiliki struktur

    yang sehat dan berkeadilan, berkelanjutan, serta mampu

    memperkokoh ketahanan nasional memerlukan sebuah kebijakan

    industri nasional yang jelas).

    4. Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.

    (LAPAN mempunyai kesempatan untuk mengembangkan

    kemampuan armada angkutan udara nasional yang tangguh serta

    didukung industri pesawat udara yang andal sehingga mampu

    memenuhi kebutuhan angkutan, baik di dalam negeri maupun dari

    dan ke luar negeri).

    5. Peratuan Kepala LAPAN Nomor 02 Tahun 2011 tentang

    Organisasi dan Tata Kerja LAPAN sebagaimana telah diubah

    dengan Peraturan Kepala LAPAN Nomor 05 Tahun 2014 tentang

    Perubahan Atas Peraturan Kepala LAPAN Nomor 02 Tahun 2011

    tentang Organisasi dan Tata Kerja LAPAN. Organisasi baru akan

    merujuk pada Perpres organisasi sebagai amanat dari Undang-

    Undang RI Nomor 21 tahun 2013 tentang Keantariksaan.

    6. Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2012 tentang Penyediaan,

    Penggunaan, Pengendalian Kualitas, Pengolahan dan Distribusi

    Data Satelit Penginderaan Jauh Resolusi Tinggi; (LAPAN

    menyediakan data satelit penginderaan jauh resolusi tinggi untuk

    keperluan survei dan pemetaan berdasarkan hasil pengolahan atas

    data satelit penginderaan jauh resolusi tinggi berupa koreksi

    radiometrik dan spektral)

    Saat ini sedang disiapkan Rancangan Peraturan Presiden tentang

    Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, seperti diamanatkan

    Undang-undang Keantariksaan.

    1.2 Potensi dan Permasalahan

    1.2.1 Kekuatan

    1. LAPAN merupakan satu-satunya instansi yang melaksanakan

    penelitian dan pengembangan di bidang cuaca antariksa.

    2. Dengan makin banyaknya penggunaan teknologi yang berbasis

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -29-

    antariksa, maka hasil litbang dalam cuaca antariksa makin banyak

    diperlukan, antara lain oleh TNI POLRI, pemerintah daerah

    pengguna komunikasi radio HF, dan penyedia jasa layanan

    komunikasi dengan satelit.

    3. Memiliki kemampuan di dalam melakukan pengkajian kebijakan

    dan peraturan perundang-undangan di bidang penerbangan dan

    antariksa.

    4. Satu-satunya instansi di lingkungan Ristek yang menjalankan

    litbang khusus dalam teknologi penerbangan, khususnya dalam

    pengembangan teknologi pesawat terbang.

    5. Mempunyai landasan hukum yang kuat meliputi UU RI Nomor 21

    tahun 2013, UU RI Nomor 1 Tahun 2009 dan Perpres Nomor 28

    Tahun 2008.

    6. Pengalaman diseminasi yang cukup banyak dalam hal teknologi

    UAV/LSU sebagai wahana untuk surveillance, pemetaan resolusi

    tinggi dan monitoring dalam sistem kebencanaan nasional,

    lingkungan hidup dan perlindungan wilayah;

    7. Memiliki pengalaman unik sebagai pemegang rekor MURI untuk

    pesawat tanpa awak dengan ketahanan terbang 200 km.

    8. Mempunyai jaringan kerjasama dengan industri dirgantara PT DI,

    Lembaga Riset Aeronautika Internasional (NLR), TU Berlin dan

    Instansi lain terkait dunia penerbangan.

    9. Mempunyai fasilitas penelitian yang cukup ideal sebagai lembaga

    aeronautika di wilayah Rumpin dengan lahan yang luas dan

    terdapat fasilitas runway pesawat terbang.

    10. Satu-satunya instansi yang melakukan litbang di bidang teknologi

    roket di Indonesia.

    11. Memiliki kemampuan dalam membuat rancang bangun roket

    padat berdiameter hingga 450 mm.

    12. Memiliki kemampuan membangun satelit eksperimen secara

    mandiri (kelas mikro).

    13. LAPAN sebagai pengelola BDPJN sudah mampu menyediakan

    data penginderaan jauh multi sensor dan multi resolusi bagi semua

    Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, TNI/POLRI dengan

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -30-

    lisensi pemerintah. Sistem BDPJN ini didukung oleh pengalaman

    panjang dalam pengoperasian sistem stasiun bumi satelit

    penginderaan jauh Pekayon-Parepare-Rumpin sejak tahun 1993

    sampai saat ini, yang menjamin kontinuitas dan ketersediaan data

    satelit penginderaan jauh. Sampai tahun 2014 sistem BDPJN ini

    didukung oleh:

    a. Infrastruktur stasiun bumi multi misi yang mampu mencakup

    seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

    (NKRI), sehingga dapat memenuhi semua kebutuhan data

    satelit penginderaan jauh untuk Kementerian/ Lembaga,

    TNI/POLRI, dan Pemerintah Daerah.

    b. Sistem pengolahan data, yang mampu menghasilkan data

    resolusi rendah harian secara near real time, resolusi

    menengah dan tinggi yang termosaik dan bebas awan setiap

    tahunnya. Sistem pengolahan didukung oleh sistem komputasi

    kecepatan tinggi (HPC) dengan pengolahan secara pararel

    (pararel processing) berbasis opensource.

    c. Sistem pengelolaan, penyimpanan dan distribusi data, yang

    mampu menyimpan data resolusi rendah, menengah dan

    tinggi hasil akuisisi tahun 1990-sekarang, dengan

    penambahan kapasitas penyimpanan 500 TB/tahun, dan telah

    beroperasi tanpa interupsi 24 jam perhari 7 hari seminggu.

    Pada tahun 2010-2014 telah berhasil ditambahkan data

    sebesar 55.206 data, dan telah didistribusikan untuk

    Kementerian/Lembaga, TNI, Polri, Pemerintah Daerah, serta

    Perguruan Tinggi/Swasta sebesar 30.221 data. Sistem

    penyimpanan dan distribusi ini didukung oleh sistem jaringan

    komunikasi data yang menghubungkan Stasiun Bumi

    Penginderaan Jauh Parepare, Rumpin dan Pekayon dengan

    sistem penyimpanan dan distribusi serta terhubung dengan

    pengguna-pengguna strategis seperti Badan Informasi

    Geospasial (BIG), Kementerian Pertanian dan Situation Room

    Presiden/Kantor UKP4.

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -31-

    14. Data penginderaan jauh telah dimanfaatkan untuk mendukung

    berbagai kepentingan sektor-sektor pembangunan nasional antara

    lain untuk kehutanan, pertanian, kelautan dan perikanan,

    pemantauan lingkungan dan mitigasi bencana dan sebagainya.

    Informasi tersebut telah disampaikan kepada berbagai

    kementerian, lembaga dan pemerintah daerah dan mendapatkan

    umpan balik yang sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa hasil-

    hasil penelitian dan pengembangan pemanfaatan penginderaan

    jauh telah berjalan dengan baik dan berdayaguna. Informasi yang

    sudah dimanfaatkan masyarakat secara luas adalah Zona Potensi

    Penangkapan Ikan, Fase Pertumbuhan Padi dan Tanggap Darurat

    Bencana. Dukungan terhadap peningkatan pendapatan seperti

    pajak, efisiensi penangkapan ikan, dan efisiensi dalam upaya

    peningkatan produktivitas tanaman padi merupakan kontribusi

    yang cukup besar oleh LAPAN terhadap sektor ekonomi.

    Dibangunnya Sistem Pemantauan Bumi Nasional pada tahun 2013

    merupakan jembatan yang sangat baik antara hasil penelitian dan

    pengembangan dengan para stakeholder pemanfaatan

    penginderaan jauh. Selain itu, banyaknya kerjasama nasional dan

    internasional yang telah berjalan dalam upaya memanfaatkan data

    penginderaan jauh merupakan suatu kekuatan penting bagi dalam

    dalam meningkatkan kualitas hasil penelitian dan

    pengembangannya. Aktifnya LAPAN dalam Masyarakat

    Penginderaan Jauh Nasional, Forum APRSAF, Sentinel Asia,

    Regional Support Office UN SPIDER, GEO-GLAM dan

    organisasi lainnya merupakan suatu kekuatan LAPAN dalam

    pemanfaatan penginderaan jauh. UU No. 21 tahun 2013

    merupakan kekuatan bagi lembaga dalam pemanfaatan

    penginderaan jauh dalam penetapan metode dan pedoman

    pemanfaatan penginderaan jauh secara nasional.

    15. Kepercayaan dari mitra nasional dan internasional terhadap

    kompetensi LAPAN.

    16. Tersedianya tenaga auditor yang berkompeten, bersertifikat, dan

    memiliki pengalaman yang cukup memadai.

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -32-

    17. Ada standarisasi dan pedoman tentang pengawasan (SOP

    Pengawasan).

    18. Adanya sistem jenjang karir yang jelas.

    1.2.2 Kelemahan

    1. Jumlah SDM masih kurang dan penyebarannya tidak merata.

    2. Komposisi pendidikan terakhir SDM LAPAN kurang lebih 40%

    berpendidikan terakhir di bawah S1.

    3. Perlengkapan fasilitas litbang masih kurang memadai

    dibandingkan dengan lembaga keantariksaan Negara lain.

    4. Produktivitas hasil litbang LAPAN belum memenuhi standar pusat

    unggulan Ristek.

    5. Pengelolaan Teknologi Informasi (TI) belum menerapkan Service

    Level Agreement (SLA).

    6. Belum tersedianya fasilitas untuk pendidikan dan pelatihan serta

    bimbingan teknis dalam rangka pelayanan publik.

    1.2.3 Peluang

    1. Antariksa di atas Indonesia yang merupakan daerah anomali

    menarik komunitas internasional untuk mengamati sehingga Para

    peneliti berkesempatan untuk melakukan kerjasama agar dapat

    ikut berkontribusi dalam kegiatan internasional.

    2. Minat komunitas internasional dalam mempelajari fenomena

    atmosfer ekuator dan kopling atmosfer-antariksa di lintang rendah

    semakin meningkat sehingga peran LAPAN semakin penting.

    3. Adanya isu perubahan iklim, sehingga LAPAN terpacu untuk

    menyediakan data satelit terkait mitigasi perubahan iklim.

    4. Meningkatnya kebutuhan akan hasil pengkajian kebijakan yang

    berkualitas oleh pengambil kebijakan (policy driven research)

    yang dapat menjawab isu-isu strategis terkini di bidang

    penerbangan dan antariksa. (Desains-Pusat kajian kebijakan)

    5. UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan dan Perpres

    Nomor 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional,

    menempatkan LAPAN sebagai litbang pengembangan pesawat

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -33-

    terbang, menjustifikasi peran LAPAN dalam dunia industri

    pesawat terbang. (Detekgan-Pustekbang)

    6. Tersedianya industri untuk mendukung teknologi penerbangan

    (contoh: PT. Dirgantara Indonesia) sehingga Pustekbang mudah

    merealisasikan produk penerbangan dan berkesempatan menjadi

    partner strategis bagi industri penerbangan nasional. (Detekgan-

    Pustekbang)

    7. Berkesempatan menjadi leader dan pemegang program pesawat

    transport nasional N-219, ini menjadi awal yang baik untuk

    menjadi leader berikutnya dalam pengembangan pesawat

    transport nasional.

    8. Meningkatnya permintaan pemanfaatan pesawat tanpa awak untuk

    berbagai keperluan, baik untuk keperluan sipil, pemantauan,

    pemetaan, kebencanaan maupun keperluan penggunaan khusus.

    9. Kondisi geografis Indonesia sebagai Negara maritim dan

    kecenderungan penerapan blue economy memerlukan teknologi

    penerbangan dan antariksa untuk dimanfaatkan dalam pemantauan

    sumber daya alam dan lingkungan.

    10. Roket merupakan salah satu program nasional yang telah

    ditetapkan oleh Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP).

    11. Semakin banyaknya pengguna teknologi satelit untuk membuat

    satelit secara mandiri untuk keperluan mereka sendiri.

    12. Banyak tawaran kerjasama pengembangan teknologi satelit.

    13. Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan

    menempatkan LAPAN sebagai lembaga yang diberi kewenangan

    untuk menyediakan dan mengelola, mengoperasikan dan

    mengatur stasiun bumi, serta mengolah dan menentukan standar

    pengolahan data penginderaan jauh. Undang-undang dapat

    memberikan kewenangan kepada Lembaga sebagai

    penyelenggaran utama kegiatan penginderaan jauh.

    14. Data satelit penginderaan jauh saat ini telah dimanfaatkan oleh

    Kementrian/Lembaga, Pemda, TNI dan Polri dalam pelaksanaan

    dan perencanaan pembangunan di berbagai sektor. Data

    penginderaan jauh multi sensor dan multi resolusi dimanfaatkan

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -34-

    untuk: pemetaan dasar, pemantauan dan inventarisasi sektor

    kehutanan, pemantauan dan inventarisasi sektor pertanian,

    mitigasi bencana, dll. Kebutuhan data satelit penginderaan jauh

    yang sangat besar untuk berbagai keperluan ini, memberikan

    peluang untuk LAPAN untuk semakin berkiprah dalam

    pembangunan nasional. Hal lain adalah adanya isu perubahan

    iklim. LAPAN sebagai satu-satunya institusi yang mampu

    menyediakan data satelit secara konsisten dan kontinyu, memiliki

    peluang untuk membangun kerjasama nasional dan international

    yang saling menguntungkan dalam pengembangan kompentensi

    SDM dan infrastruktur.

    15. Banyaknya permintaan informasi sektor berbasis data

    penginderaan jauh dan juga permintaan stakeholder agar metode

    yang dibangun lebih akurat. Peluang lain adalah adanya tawaran

    kerjasama pengembangan metodologi dari instansi lain baik

    dalam maupun luar negeri. Kegiatan kerjasama dengan instansi

    litbang baik dalam maupun luar negeri akan meningkatkan

    kualitas metode yang akan dibangun.

    16. Trend kerjasama internasional antar lembaga keantariksaan di

    lingkup Asia Pacific menjadi peluang untuk knowledge and

    technology sharing yang terbuka luas.

    17. Kebutuhan bahan kebijakan dan kajian akademis peraturan

    perundang-undangan di bidang penerbangan dan antariksa yang

    tepat waktu dan tepan guna untuk kepentingan nasional.

    1.2.4 Tantangan

    1. Adanya kebijakan internasional Missile Technology Control

    Regime (MTCR) yang mengakibatkan pembatasan transfer

    teknologi sensitif sehingga menyulitkan pengembangan teknologi

    keantariksaan.

    2. Kurangnya industri dalam negeri yang mendukung pembuatan

    komponen untuk pengembangan teknologi penerbangan dan

    antariksa.

    3. Belum memiliki bandara riset (ilmiah) untuk melakukan uji

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -35-

    terbang hasil litbang penerbangan dan antariksa.

    4. Adanya pengembangan wilayah perumahan dan fasilitas publik di

    sekitar fasilitas LAPAN yang mengganggu aktivitas uji Litbang.

    5. Anggaran untuk Iptek masih rendah, sedangkan fokus RPJMN

    tahap 3 mengarahkan perekonomian berbasis SDA dengan

    mengutamakan Iptek.

    6. Tersedianya regulasi untuk industri pesawat terbang yang

    mengharuskan adanya sertifikasi desain dan manufaktur serta

    sertifikasi SDM.

    7. Belum adanya regulasi operasionalisasi untuk pesawat tanpa awak

    dan roket sehingga LAPAN dituntut untuk mempersiapkan

    regulasinya.

    8. Kepres pengadaan barang dan jasa tidak cocok dengan sistem

    pengadaan barang dan jasa untuk teknologi sensitive.

    9. Keterbatasan lahan untuk pengujian roket.

    10. Dengan peluang pemanfaatan data yang sangat besar, tantangan

    utama dalam penyelenggaraan penginderaan jauh adalah

    pemenuhan terhadap standard baik dalam metoda maupun

    produknya. Pemenuhan terhadap standard ini yang akan menjamin

    legalitas produk ketika akan dijadikan bahan untuk kebijakan

    publik. Pemenuhan standard ini meliputi kecepatan penyampaian

    data kepada pengguna, ketepatan data baik dalam sisi geometrik

    maupun radiometrik. Tuntutan untuk melakukan standardisasi

    kualitas produk dan sertifikasi harus dilaksanakan demi kepuasan

    pengguna.

    11. Tantangan lain berkaitan dengan ketergantungan pada teknologi

    asing. Penyelenggaraan kegiatan penginderaan jauh nasional

    masih bergantung pada satelit-satelit yang dibuat dan dioperasikan

    oleh negara-negara maju.

    12. Indeks pembangunan manusia Indonesia masih rendah sehingga

    berpengaruh terhadap perkembangan litbang keantariksaan.

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -36-

    2.1 Visi

    Pusat Unggulan Penerbangan dan Antariksa Untuk

    Mewujudkan Indonesia yang Maju dan Mandiri.

    Melalui Visi tersebut, LAPAN mampu menjadi organisasi

    yang menyelenggerakan kegiatan penelitan dan pengembangan

    serta penyelenggaraan keantariksaan di tingkat nasional yang

    bertaraf internasional di bidang penerbangan dan antariksa dengan

    standar hasil yang sangat tinggi serta relevan dengan kebutuhan

    pengguna, untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan mandiri.

    2.2 Misi

    Untuk mewujudkan visi pembangunan tersebut, maka misi yang

    diemban adalah:

    1. Meningkatkan kualitas litbang penerbangan dan antariksa

    bertaraf internasional.

    2. Meningkatkan kualitas produk teknologi dan informasi di

    bidang penerbangan dan antariksa dalam memecahkan

    permasalahan nasional.

    3. Melaksanakan dan mengatur penyelenggaraan keantariksaan

    untuk kepentingan nasional.

    2.3 Tujuan

    1. Terwujudnya layanan prima di bidang penerbangan dan

    antariksa bagi masyarakat;

    2. Terwujudnya sistem penyelenggaraan keantariksaan yang

    aman dan selamat;

    2.4 Sasaran Strategis

    1. Meningkatnya penguasaan dan kemandirian Iptek

    penerbangan dan antariksa.

    2. Meningkatnya layanan Iptek penerbangan dan antariksa yang

    prima.

    3. Meningkatnya hasil karya ilmiah Iptek penerbangan dan

    antariksa.

    4. Terlaksananya penyelenggaraan keantariksaan yang sesuai

    standard.

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -37-

    5. Terlaksananya pemanfaatan dan layanan publik Iptek

    penerbangan dan antariksa

    6. Meningkatnya kapasitas Iptek penerbangan dan antariksa.

    7. Tersedianya rumusan kebijakan yang implementatif.

    8. Tersedianya DSS lintas sektoral untuk mitigasi bencana alam

    dan perubahan iklim.

    9. Meningkatnya penataan Sistem Manajemen SDM Aparatur

    di lingkungan LAPAN.

    10. Meningkatnya penataan tatalaksana di lingkungan LAPAN.

    11. Meningkatnya penguatan akuntabilitas kinerja di lingkungan

    LAPAN.

    12. Meningkatnya kualitas pelayanan publik di lingkungan

    LAPAN.

    2.5 Sistem Nilai

    1. Pembelajar

    Mempunyai kemauan belajar dan kemampuan beradaptasi

    dengan hal-hal yang baru.

    2. Rasional

    Apapun yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan secara

    hukum dan ilmiah.

    3. Konsisten

    Pelaksanaan program dan kegiatan sesuai dengan rencana

    jangka pendek, menengah dan panjang yang sudah

    ditetapkan.

    4. Akuntabel

    Anggaran dan kegiatan dapat dipertanggungjawabkan mulai

    dari proses perencanaan, pelaksanaan sampai dengan

    monitoring dan evaluasi.

    5. Berorientasi kepada layanan publik

    Berupaya memberikan layanan prima sesuai dengan

    kebutuhan publik.

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -38-

    Implementasi

    Akuntansi

    Pemerintahan

    Berbasis

    Akrual Tahun

    2015

    A.2. IMPLEMENTASI AKUNTANSI PEMERINTAHAN

    BERBASIS AKRUAL TAHUN 2015

    LAPAN mulai Tahun Anggaran 2015 untuk pertama kali

    mengimplementasikan akuntansi berbasis akrual dalam penyusunan

    laporan keuangannya sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71

    Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Dalam

    implementasi pertama ini, perlakuan akuntansi atas penyajian dan

    pengungkapan laporan keuangan adalah sebagai berikut :

    1. Sesuai dengan Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi

    Pemerintahan (PSAP) No 4 tentang Perubahan Kebijakan Akuntansi

    dan Koreksi Kesalahan tanpa Penyajian Kembali Laporan Keuangan,

    Badan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan tidak melakukan penyajian

    kembali atas Laporan Keuangan Tahun 2014.

    2. LAPAN menyandingkan Laporan Keuangan untuk periode yang

    berakhir 31 Desember 2015 berbasis akrual dengan Laporan Keuangan

    untuk periode yang berakhir 31 Desember 2014 berbasis kas menuju

    akrual.

    3. Laporan Keuangan untuk periode yang berakhir 31 Desember 2015

    dan 2014 tersanding adalah bukan laporan keuangan komparatif.

    Pembaca laporan keuangan diharapkan memahami bahwa

    penyandingan tersebut bukan perbandingan, sehingga tidak dapat

    digunakan sebagai dasar analisis Laporan Keuangan lintas tahun.

    Basis

    Akuntansi

    A.3. BASIS AKUNTANSI

    LAPAN menerapkan basis akrual dalam penyusunan dan penyajian

    Neraca, Laporan Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas serta basis

    kas untuk penyusunan dan penyajian Laporan Realisasi Anggaran. Basis

    akrual adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan

    peristiwa lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi, tanpa

    memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayarkan.

    Sedangkan basis kas adalah basis akuntansi yang yang mengakui

    pengaruhi transaksi atau peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas

    diterima atau dibayar. Hal ini sesuai dengan Standar Akuntansi

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -39-

    Pemerintahan (SAP) yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah

    Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.

    A.4. Dasar Pengukuran

    Dasar

    Pengukuran Pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk mengakui dan

    memasukkan setiap pos dalam laporan keuangan. Dasar pengukuran yang

    diterapkan Kantor Akuntansi Istimewa Papua dalam penyusunan dan

    penyajian Laporan Keuangan adalah dengan menggunakan nilai perolehan

    historis.

    Aset dicatat sebesar pengeluaran/penggunaan sumber daya ekonomi atau

    sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset

    tersebut. Kewajiban dicatat sebesar nilai wajar sumber daya ekonomi yang

    digunakan pemerintah untuk memenuhi kewajiban yang bersangkutan.

    Pengukuran pos-pos laporan keuangan menggunakan mata uang rupiah.

    Transaksi yang menggunakan mata uang asing dikonversi terlebih dahulu

    dan dinyatakan dalam mata uang rupiah.

    A.5 Kebijakan Akuntansi

    Kebijakan

    Akuntansi

    Penyusunan dan penyajian Laporan Keuangan Tahun 2015 telah mengacu

    pada Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Kebijakan akuntansi

    merupakan prinsip-prinsip, dasar-dasar, konvensi konvensi, aturan-aturan,

    dan praktik-praktik spesifik yang dipilih oleh suatu entitas pelaporan

    dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Kebijakan akuntansi

    yang diterapkan dalam laporan keuangan ini adalah merupakan kebijakan

    yang ditetapkan oleh LAPAN. Disamping itu, dalam penyusunannya telah

    diterapkan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang sehat di lingkungan

    pemerintahan.

    Kebijakan-kebijakan akuntansi yang penting yang digunakan dalam

    penyusunan Laporan Keuangan LAPAN adalah sebagai berikut :

    Pendapatan-

    LRA

    (1) Pendapatan - LRA

    Pendapatan-LRA diakui pada saat kas diterima pada Kas Umum

    Negara (KUN).

    Akuntansi pendapatan-LRA dilaksanakan berdasarkan azas bruto,

  • Laporan Keuangan LAPAN Tahun 2015 (Audited)

    Catatan Atas Laporan Keuangan Halaman -40-

    yaitu dengan membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat

    jumlah nettonya (setelah dikompensasikan dengan pengeluaran).

    Pendapatan-LRA disajikan menurut klasifikasi sumber

    pendapatan.

    Pendapatan-

    LO (2) Pendapatan LO

    Pendapatan-LO diakui pada saat timbulnya hak atas pendapatan

    dan /atau Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk

    sumber daya ekonomi. Secara khusus pengakuan pendapatan-LO

    pada Badan Akuntansi dan Pelaporan Keuangan adalah sebagai

    berikut:

    o Pendapatan Jasa Pelatihan diakui setelah pelatihan selesai

    dilaksanakan

    o Pendapatan Sewa Gedung diakui secara proporsional an