Laporan Maes 7 Mei

  • View
    39

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

laporan

Text of Laporan Maes 7 Mei

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang

Dewasa ini, upaya peningkatan produktifitas tanaman budidaya telah banyak berkembang mulai dari rekaysa genetika, pemanfaatan senyawa-senyawa kimia tertentu dsb. Namun teknologi yang sudah sedemikian berkembang tersebut dirasa masih belum mampu membawa pada pertaian yang lebih baik, hal ini dikarenakan teknologi tersebut terkesan pincang, artinya adanya ketidak seimbangan diantara komponen agroekosistemnya selain itu juga teknologi tersebut belum mampu menghasilkan pertanian dengan 5 system properties agroekosistem yakni produktifitas, stabilitas, equitabilitas, sustainabilitas, dan autonomi. sebagai contoh dalam upaya peningkatan produktifitas pertanian dengan penambahan input-input senyawa kimia justru menyebabkan ketidak seimbangan agroekosistem akibat residu kimia yang dihasilkan yang menyebabkan efek berantai antara faktor biotik dan faktor abiotik. Manajemen Agroekosistem dinilai menjadi sistem yang palig tepat, efektif dan bijak yang mampu mencapai 5 system properties Agroekosistem. Setiap lahan memiliki karakteristik masing-masing yang berbeda yang myebabkan perbedaan komponennya sehingga dalam mengelola agroekosistem diperlukan analisa yang tepat terhadap faktor biotik dan abiotik karena setiap lahan yang meimiliki karakteristik yang berbeda juga memiliki teknik pengelolaan agroekosistem yang juga berbeda, atas dasar tersebut pelu dilakukannya studi literatur mengenai teknik-teknik pengelolaan dan teknik penggabungan karakteristik lahan agroekosistem yang dapat mencakup 5 system properties agroekosistem.1.2 Tujuan1. Memahami teknik pengelolaan agroekosistem pada berbagai karakteristik yan berbeda.2. Membandingkan tiap karakteristik lahan.3. Menganalisa kombinasi karakteristik lahan yang cocok bagi 5 system properties Agrokosistem.

BAB IIISI2.1 Analisa Agroekosistem Pada Berbagai Jenis Lahan2.1.1 Sawah1. Produktivitas (Productivity)Lahan sawah yang ditanami padi, tiap musim tanam dapat menghasilkan padi sebesar 4-5 ton per hektar. Keberhasilan upaya peningkatan produksi padi nasional tidak terlepas pula dari implementasi berbagai program intensifikasi yang didukung oleh inovasi teknologi pancausahatani, terutama varietas unggul dan teknologi budi daya, rekayasa kelembagaan, dan dukungan kebijakan pemerintah.2. Stabilitas (Stability)Stabilitas diartikan sebagai tingkat produksi yang dapat dipertahankan dalam kondisi konstan normal, meskipun kondisi lingkungan berubah. Lahan sawah yang ditanami padi, kestabilan produksinya dapat dipertahankan bahkan meningkat setiap tahunnya.

3. Sustainabilitas(Sustainability)Lahan sawah cenderung menerapkan pola tanam monokultur, apalagi untuk komoditas padi. Polikultur padi dengan tanaman lain memang jarang ditemukan, karena petani padi berorientasi pada produktivitas padi yang dihasilkan nantinya. Selain itu petani juga mengaplikasikan pupuk anorganik yang kurang menguntungkan bagi ekosistem, pola tanam monokultur pun juga tidak bersahabat dengan agroekosistem. Apabila petani banyak megaplikasilkan pupuk organik dan mengembalikan lagi seresah ke dalam tanah, pengggunaan pupuk anorganik dapat ditekan bahkan tidak lagi diperlukan.4. Pemerataan (Equitability)Aspek ekuitabilitas digunakan untuk menggambarkan bagaimana hasil-hasil pertanian dinikmati oleh segenap lapisan masyarakat. Diketahui bahwa produktivitas padi sawah Indonesia masih belum cukup memenuhi kebutuhan beras nasional dan tidak semua lapisan masyarakat dapat mengonsumsinya. 5. Otonomi (Autonomy)Produktivitas lahan sawah belum mampu memenuhi kebutuhan pangan nasional. Hal tersebut terlihat dari jumlah impor beras dan bahan pangan lainnya. Pada tahun 2013 Indonesia mengimpor beras sejumlah 472 ribu ton senilai US$ 246 juta yang diimpor dengan Vietnam sebagai negara pengimpor yang mendominasi.

2.1.2 LadangDalam bidang pertanian secara garis besar kita mengenal 2 macam jenis lahan, yakni lahan basah dan lahan kering. Lahan basah adalah lahan yang hampir seepanjang tahun tergenang atau air nya selalu tersedia sedangkan lahan kering adalah lahan yang hanya mendapatkan air ketika musim hujan tiba sehingga untuk menjadikan lahan kering ini produktif perlu adanya campur tangan manusia dalam menyediakan air untuk kebutuhan tanaman yang ditanam dilahan tersebut.Beberapa jenis lahan kering yang sering dijumpai diantaranya adalah tegalan, kebun, sawah tadah hujan dan ladang. Istilah ladang sering disama artikan dengan sawah dan juga tegalan. Perbedaanya biasanya terletak pada komoditas yang ditanam, pada lahan sawah karena sawah merupakan salah satu jenis lahan basah maka komoditasnya biasanya adalah padi, sedangkan tegalan komoitas yang ditanam biasanya adalah palawija. Untuk ladang atau biasa disebut denga istilah huma adalah lahan kering yang ditanami berbagai macam jenis tanaman mulai dari padi gogo, tanaman hortikultura hingga umbi-umbian, sistem yang digunakan adalah membuka hutan kemudian menanaminya, dan setelah tidak subur lagi akan ditinggalkan dan berpindah untuk membuka ladang lain dengan menebang hutan, setelah beberapa tahun mereka akan kembali dan menanami lahan yang pernah di tinggal tersebut.1. Produktivitas (Productivity)Dari segi produktivitas, ladang memiliki tingkat produktivitas yang tinggi karena tanah yang digunakan merupakan tanah yang masih subur dan banyak mengandung bahan organik, selain itu lingkungan ekosistemnya juga relatif cukup seimbang karena berada disekitar hutan alami, ekosistem yang masih seimbang ini membuat tingkat serangan hama juga tidak terlalu tinggi sehingga tingkat kehilangan hasil panen pun juga relatif cukup rendah . 2. Stabilitas (Stability)Sedangkan dari segi stabilitasnya relatif rendah karena penggunaan ladang tersebut hanya mengandalkan unsur hara yang sudah tersedia dalam tanah, ketika kandungan unsur hara dalam tanah sudah mulai berkurang dapat dipastikan produktifitas di lahan tersebut akan menurun. Itulah sebabnya mengapa orang-orang yang menggarap ladang ini meninggalkan nya dan memilih untuk membuka ladang baru.3. Sustainabilitas (Sustainability)Dalam hal keberlanjutan, dapat dikatakan ladang/huma ini memiliki tingkat keberlanjutan yang tinggi, hal ini karena setelah digunakan selama beberapa musim lahan itu ditinggalkan dan tidak lagi ditanami tanaman pertaniaan, ini memberikan kesempatan bagi lahan tersebut untuk mengembalikan kesuburanya setelah beberapa musim ditanami. Dan setelah beberapa tahun kesuburan tanah akan kembali dan siap untuk ditanami lagi.4. Equitabilitas (Equitability)Dari segi hal pemerataan, ladang cukup tinggi karena dari sistem berpindah ini terjadi pemerataan penggunaan lahan sehingga tidak terjadi degradasi lahan dari segi kualitas lahan itu sendiri. Selain itu dilihat dari produksi pertaniannya maka tingkat pemeratan pendapatan masyarakatnya juga cukup baik, ini karena sistem ladang / huma ini dikerjakan secara berkelompok sehingga tingkat pendapatan / bagian dari masing-masing masyarakat juga hampir sama.

5. Otonomi (Autonomy)Dari segi otonomi atau kemampuan memenuhi kebutuhanya sendiri, ladang memiliki tingkat otonomi yang tinggi karena dari sistem berpindah ini maka tanah yang digunakan memiliki kesuburan yang cukup tinggi sehingga mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tanpa harus tergantung dari luar, selain itu karena sistem berpindah ini juga tanah mendapatkan waktu untuk istirahat dan mampu memperbaiki kualitasnya sendiri.

2.1.3 RawaLahan basahatauwetland(Ingg.) adalah wilayah-wilayah di manatanahnyajenuh denganair, baik bersifat permanen (menetap) atau musiman. Wilayah-wilayah itu sebagian atau seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal. Salah satu contoh lahan basah yaitu rawa. Menurut Notohadiprawiro (2006) rawa merupakan suatu lahan yang sepanjang tahun atau selama waktu panjang dalam setahun tumpat air (waterlogged) atau tergenang air. Perbedaannya dengan danau yaitu bahwa rawa tertumbuhi tumbuhan (pohon, glagah, rumput dan tumbuhan akuatik) genangannya secara nisbi dangkal dan ladung (stagnant), dan tanah dasarnya berupa lumpur. Jenis rawa ada beberapa macam, ada rawa yang genangan airnya dipertahankan oleh air tanah yang dangkal. Ada pula rawa yang terjadi karena menampung penyaluran air permukaan (runoff) atau luapan air sungai yang berlangsung secara berkala. \rawa yang hanya berair pada musim hujan dan kering pada musim kemarau disebut bonorowo (istilah jawa). Sedangkan rawa yang genangan dan air tanahnya bergerak naik turun mengikuti gerakan pasang surut air laut dinamakan rawa pasang surut. Selain itu ada juga yang bernama lebak, lebak yaitu sejenis rawa yang air genangannya naik secara berangsur mengikuti pergantian musim dari musim kemarau ke musim penghujan dan kemudian berangsur turun kembali mengikuti pergantian dari musim kemarau ke musim hujan dan kemudian berangsur turun kembali mengikuti pergantian musim dari musim hujan ke musim kemarau. Lahan rawa lebak yang saat ini masih underutilized dengan senjang (gap) produksi aktual dan potensialnya masih besar merupakan salah satu pilihan yang menjanjikan. Menurut Irianto (2009) lahan lebak adalah lahan yang rejim airnya dipengaruhi oleh topografi dan hujan,baik yang turun setempat maupun di daerah sekitarnya dan mempunyai topograpi yang relatif rendah (cekung). Potensi luas lahan lebak berdasarkan studi dari Bank Dunia tahun 1998 adalah sekitar 13,316 juta ha, yang tersebar di Pulau Sumatera seluas 2,786 juta ha, Kalimantan seluas 3,580 juta ha dan Papua seluas 6,305 juta ha (Gambar 1). Berdasarkan data Gambar 1, terlihat bahwa dengan potensi lahan lebak yang sangat luas, maka apabila sekitar 10% saja dapat dikelola dengan baik dengan intensitas tanam meningkat dari 0 kali menjadi 1 kali, maka dapat menghasilkan produksi padi sekitar 2.663.200 ton atau 5.326.400 ton dari 1 kali menjadi 2 kali tanam dengan rata-rata produktivitas 2 ton/ha. Hasilnya akan terjadi lompatan produksi yang sangat signifikan, apabila produktivitasnya bisa d