Lapsus OMA Ica

  • View
    75

  • Download
    4

Embed Size (px)

Transcript

LAPORAN KASUS 1 OTITIS MEDIA AKUT STADIUM SUPURASI SINISTRA SERUMEN OBTURAN DEKSTRA

OLEH: ICA JUSTITIA H1A007027

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA BAGIAN/SMF ILMU PENYAKIT THT-KL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM RUMAH SAKIT UMUM PROPINSI NTB 2013

BAB 1 PENDAHULUAN

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif. Otitis media supuratif akut atau otitis media akut (OMA) merupakan bentuk akut dari otitis media supuratif, yang dapat berkembang menjadi OMSK bila tidak diterapi dengan baik. Sumbatan tuba Eustachius merupakan faktor penyebab dasar terjadinya OMA. Fungsi tuba sebagai barier masuknya mikroba ke telinga tengah menjadi terganggu dan bakteri yang biasanya tidak patogen dapat berkolonisasi dalam telinga tengah akibat adanya sumbatan tuba. Salah satu faktor pencetus terjadinya gangguan fungsi tuba adalah infeksi saluran napas atas.1,2 Makin sering seseorang, terutama anak-anak, mengalami infeksi saluran napas atas, makin besar kemungkinannya mengalami OMA. Bakteri penyebab OMA yang utama adalah bakteri piogenik seperti Streptococcus haemolitikus, Staphyllococcus aureus, dan Pneumococcus. Kadang dapat juga disebabkan oleh Haemophilus influenzae, Escherichia colli, Streptococcus anhaemoliticus, Proteus vulgaris, dan Pseudomonas aurugenosa.1 Perubahan telinga tengah sebagai akibat infeksi dibagi atas lima stadium, berdasarkan gambaran membran timpani yang tampak dari luar, yaitu: (1) stadium oklusi tuba Eustachius, yang ditandai adanya retraksi membran timpani akibat tekanan negatif dalam telinga tengah; (2) stadium hiperemis, yang ditandai adanya edema, hiperemia, dan pelebaran pembuluh darah pada membran timpani; (3) stadium supurasi, yaitu terbentuknya eksudat yang purulen di dalam telinga tengah, menyebabkan bulging membran timpani, dan nyeri di telinga bertambah berat; (4) stadium perforasi, yang terlihat dengan adanya ruptur membran timpani dan nanah mengalir ke telinga luar; dan (5) stadium resolusi, yaitu bila keadaan telinga tengah kembali normal dan perforasi membran timpani tertutup. Bila pada stadium resolusi penyembuhan tidak berjalan dengan baik, maka perforasi bisa menetap dengan sekret yang mengalir terus atau menghilang, berkembang menjadi OMSK.1 Otitis media akut banyak ditemukan pada anak-anak dan merupakan salah satu penyakit infeksi yang paling sering menyerang anak dan bayi. Diperkirakan dua pertiga anak usia kurang dari tiga tahun telah mengalami sedikitnya satu episode OMA, dan sepertiga diantaranya berulang. Angka kejadian OMA bervariasi di setiap negara.3 Di Amerika Serikat, 70% anak terserang OMA sebelum usia 2 tahun. Insiden penyakit ini akan meningkat pada masyarakat dengan sosial-ekonomi rendah.4 Di Italia, insidensi OMA sebesar 16,8% pada2

anak usia nol hingga enam tahun.3 Di Indonesia sendiri belum ada data akurat yang ditemukan untuk menunjukkan angka kejadian OMA. Suheryanto menyatakan OMA merupakan penyakit yang sering dijumpai dalam praktik sehari-hari, di poliklinik THT RSUD dr.Soetomo Surabaya pada tahun 1995 OMA menduduki peringkat dua dari sepuluh besar penyakit terbanyak, sedangkan di poliklinik THT RSUD dr.Saiful Anwar Malang pada tahun 1997 OMA menduduki peringkat kelima.5 Pada laporan kasus ini penulis akan menjabarkan mengenai kasus OMA sinistra stadium supurasi disertai serumen obturans dekstra yang ditemukan di Poliklinik THT RSU NTB pada tanggal 9 Maret 2013.

3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Telinga Telinga merupakan organ pendengaran sekaligus juga organ keseimbangan. Telinga terdiri atas 3 bagian yaitu:6 a. Telinga luar b. Telinga tengah c. Telinga dalam

Gambar 1. Anatomi telinga.6

2.1.1 Anatomi Telinga Luar Telinga luar terdiri dari daun telinga atau pinna dan liang telinga sampai membran timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar dan rangka tulang pada dua pertiga bagian dalam. Panjang liang telinga kira-kira 2,5 3 cm.7 Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi kelenjar keringat) dan rambut halus. Kelenjar terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada dua pertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen. 7 Serumen menjaga membran timpani tetap lunak dan tahan-air serta melindungi telinga tengah dan dalam dari benda asing berukuran kecil dan serangga.64

2.1.2 Anatomi Telinga Tengah Telinga tengah adalah suatu ruang yang terisi udara yang terletak di bagian petrosum tulang pendengaran. Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas-batas sebagai berikut:7

Batas luar: membran timpani Batas depan: tuba Eustachius Batas bawah: vena jugularis (bulbus jugularis) Batas belakang: aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis Batas atas: tegmen timpani (meningen/ otak) Batas dalam: Berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong, tingkap bundar dan promontorium.

Gambar 2. Telinga tengah.7

Organ telinga tengah terdiri dari: A. Membran timpani. Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars flaksida (membran Sharpnell) sedangkan bagian bawah disebut pars tensa (membran propria). Pars flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti epitel mukosa saluran pernapasan. Pars tensa memiliki satu lapisan lagi di tengah yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier di bagian luar dan sirkuler di bagian dalam.7 Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut sebagai umbo. Dari umbo bermula suatu refleks cahaya (cone of light) ke arah bawah, yaitu pada arah jam 5 untuk membran timpani kanan, sementara membran timpani kiri pada arah jam 7.5

Refleks cahaya adalah cahaya dari luar yang dipantulkan oleh membran timpani. Di membran timpani terdapat dua serabut yaitu sirkuler dan radier sehingga menyebabkan timbulnya refleks cahaya.7 Membran timpani dibagi menjadi empat kuadran dengan menarik garis searah dengan prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga didapatkan bagian/kuadran, yaitu atas-depan, atas-belakang, bawah depan, dan bawah belakang.7 Vaskularisasi membran timpani telah dipelajari dengan berbagai cara. Cabang-cabang dari arteri karotis eksterna dalam meatus auditori eksternal, memberikan suplai darah pada pars flaksida, bagian manubrial dari pars tensa dan persimpangan antara cincin fibrokartilaginosa dari membran timpani dan sulkus timpanikum pada tulang temporal.8 Pembuluh darah yang mensuplai daerah pars flaksida dan bagian manubrial cincin fibrokartilaginosa terdapat dibawah lapisan epitel skuamosa, dekat dengan sel mast dan bundel saraf. Pembuluh darah yang berasal dari rongga timpani yang juga berasal dari arteri karotis eksterna mensuplai daerah perifer dari pars tensa dengan cabang-cabang kecil, terlokalisasi tepat dibawah epitel membran timpani. Jika dibandingkan dengan bagian manubrial, pars tensa memiliki vaskularisasi yang lebih sedikit. Sehingga bagian sentral dan sebagian besar dari pars tensa mendapatkan nutrisi secara difusi intra sel. Keadaan kurangnya pembuluh darah ini juga menyebabkan imunitas pada pars tensa ini lebih sedikit dari bagian lainnya. Sehingga kecenderungan terjadinya perforasi akibat infeksi sering berada pada bagian ini.8

Gambar 3. Membran timpani.7

6

B. Rongga timpani. Epitel yang melapisi rongga timpani dan setiap bangunan di dalamnya merupakan epitel selapis gepeng atau kuboid rendah, tetapi di bagian anterior pada celah tuba auditiva (tuba Eustachius) epitelnya selapis silindris bersilia. Lamina propria tipis dan menyatu dengan periosteum.9

C. Tulang pendengaran. Tulang pendengaran terdiri dari tulang maleus, inkus dan stapes. Ketiga tulang ini merupakan tulang kompak tanpa rongga sumsum tulang. Tulang maleus melekat pada membran timpani. Tulang maleus dan inkus tergantung pada ligamen tipis di atap ruang timpani. Lempeng dasar stapes melekat pada tingkap celah oval (fenestra ovalis) pada dinding dalam.9

D. Otot Terdapat 2 otot kecil yang berhubungan dengan ketiga tulang pendengaran. Otot-otot ini berfungsi protektif dengan cara meredam getaran-getaran berfrekuensi tinggi. Otot tersebut adalah:9 Muskulus tensor timpani. Otot tensor timpani terletak dalam saluran di atas tuba auditiva, tendonnya berjalan mula-mula ke arah posterior kemudian mengait sekeliling sebuah tonjol tulang kecil untuk melintasi rongga timpani dari dinding medial ke lateral untuk berinsersi ke dalam gagang maleus. Muskulus stapedius. Tendon otot stapedius berjalan dari tonjolan tulang berbentuk piramid dalam dinding posterior dan berjalan anterior untuk berinsersi ke dalam leher stapes.

E. Dua buah tingkap. Tingkap oval pada dinding medial ditutupi oleh lempeng dasar stapes, memisahkan rongga timpani dari perilimfe dalam skala vestibuli koklea. Oleh karenanya getaran-getaran membrana timpani diteruskan oleh rangkaian tulang-tulang pendengaran ke perilimf telinga dalam. Untuk menjaga keseimbangan tekanan di rongga-rongga perilimf terdapat suatu katup pengaman yang terletak dalam dinding medial rongga timpani di bawah dan belakang tingkap oval dan diliputi oleh suatu membran elastis yang dikenal sebagai tingkap bulat (fenestra

7

rotundum). Membran ini memisahkan rongga timpani dari perilimf dalam skala timpani koklea.9

F. Tuba auditiva (tuba Eustachius). Tuba auditiva menghubungkan rongga timpani dengan nasofaring, lumennya gepeng, dengan d