Makalah Euthanasia by Iqbal

  • View
    89

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of Makalah Euthanasia by Iqbal

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Oktober 2004, sebuah permohonan untuk melakukan eutanasia telah diajukan oleh seorang suami bernama Hassan Kusuma kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, karena tidak tega menyaksikan istrinya yang bernama Agian Isna Nauli, 33 tahun, tergolek koma tak berdaya di ruang perawatan rumah sakit selama 2 bulan dan di samping itu ketidakmampuan untuk menanggung beban biaya perawatan merupakan suatu alasan yang lain. April 1998, Lori A. Roscoe melaporkan Dr. Jack Kevorkian yang dijuluki "Doctor Death". Di Pusat Medis Adven Glendale ,di California diduga puluhan pasien telah "ditolong" oleh Kevorkian untuk menjemput ajalnya di RS tersebut. Kevorkian berargumen apa yang dilakukannya semata demi "menolong" mereka. Tapi para penentangnya menyebut, apa yang dilakukannya adalah sebuah pembunuhan yang direncanakan. Selain dua contoh di atas, masih banyak contoh-contoh dan kasus-kasus lain terkait dengan eutanasia. Eutanasia merupakan upaya untuk mengakhiri hidup orang lain dengan tujuan untuk menghentikan penderitaan yang dialaminya karena suatu penyakit atau keadaan tertentu. Di jaman modern ini, tercatat telah banyak sekali kasus-kasus eutanasia, baik yang ter-ekspose maupun yang

tersembunyikan. Terdapat dua unsur utama yang menjadikan eutanasia menjadi bahan perdebatan yang sengit di kalangan dokter dan bahkan masyarakat umum. Yang pertama, eutanasia jelas-jelas suatu tindakan yang dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain, namun selain itu justru alasan dilakukannya eutanasia adalah untuk menghindarkan pasien dari rasa sakit atau penderitaan yang dianggap terlalu menyiksa. Di beberapa Negara di dunia, eutanasia merupakan suatu tindakan yang dilegalkan, sehingga seorang dokter memiliki kewenangan untuk menjalankan prosedur eutanasia, namun tentu saja dengan seijin pihak keluarga dan melalui

1

prosedur perijinan yang sangat ketat. Sedangkan di beberapa Negara yang lain, pelaku eutanasia ditangkap karena dianggap melakukan tindakan yang melanggar hukum. Saat ini terdapat banyak Negara yang melarang penyelenggaraan eutanasia, namun masih banyak pula dokter-dokter yang tetap melakukan eutanasia, baik yang diketahui maupun tidak, dengan berbagai alasan. Kampanye anti eutanasiapun banyak kita lihat di situs-situs internet, hal ini menunjukkan bahwa praktek eutanasia memang masih kerap terjadi. Perlu diketahui, eutanasia tidak hanya diterapkan kepada manusia saja, beberapa kasus eutanasia justru diterapkan kepada hewan peliharaan, seperti kucing dan anjing. Bahkan pada baberapa kepercayaan, mereka yang meninggal harus dikuburkan bersama barang-barang kesayangannya sewaktu hidup, termasuk juga hewan peliharannya seperti anjing atau kucing. Sehingga, saat sang majikan meninggal, biasanya hewan peliharaannya di eutanasia terlebih dahulu, kemudian dikuburkan bersama. Dalam makalah ini, akan dipaparkan lebih jauh tentang eutanasia, mengenai pengertiannya, sejarahnya, pendapat-pendapat seputar eutanasia dan juga pandangan beberapa Negara dan beberapa Agama tentang penerapan eutanasia.

1.2 Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah tentang eutanasia ini. Rumusan masalah tersebut yaitu: a. b. Apa pengertian dari eutanasia? Bagaimana standar prosedur pelaksanaan eutanasia?

c. Apa saja jenis-jenis eutanasia yang pernah dilakukan? d. e. f. Bagaimana sejarah penerapan eutanasia? Bagaimana hukum eutanasia pada beberapa Negara di dunia? Bagaimana pandangan Agama terhadap praktek eutanasia?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah Adapun tujuan ditulisnya makalah ini, yaitu: a. b. c. d. e. Pembaca mengetahui pengertian dari eutanasia? Pembaca mengetahui bagaimana standar prosedur pelaksanaan eutanasia? Pembaca mengetahui apa saja jenis-jenis eutanasia yang pernah dilakukan? Pembaca mengetahui bagaimana sejarah penerapan eutanasia? Pembaca mengetahui bagaimana hukum eutanasia pada beberapa Negara di dunia? f. Pembaca mengetahui bagaimana pandangan Agama terhadap praktek eutanasia?

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Eutanasia Secara bahasa, istilah eutanasia berasal dari bahasa Yunani eu yang artinya baik dan thanatos yang berarti kematian, sehingga istilah eutanasia secara singkat dapat diartikan sebagai kematian yang baik. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, eutanasia berarti tindakan mengakhiri dengan sengaja kehidupan makhluk (orang ataupun hewan piaraan) yg sakit berat atau luka parah dengan kematian yg tenang dan mudah atas dasar perikemanusiaan. Sedangkan Wikipedia menyebutkan bahwa eutanasia berarti praktek pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan. Menurut pengertian ini, kita dapat membagi eutanasia menjadi 3 jenis utama, ketiga jenis tersebut yaitu: a. Eutanasia agresif : atau suatu tindakan eutanasia aktif yaitu suatu tindakan secara sengaja yang dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lain untuk mempersingkat atau mengakhiri hidup sang pasien. Misalnya dengan memberikan obat-obatan yang mematikan seperti pemberian tablet sianida atau menyuntikkan zat-zat yang mematikan ke dalam tubuh pasien. Baik dengan alasan maupun tanpa alasan tertentu. b. Eutanasia non agresif : atau kadang juga disebut autoeutanasia (eutanasia otomatis) termasuk kategori eutanasia negatif yaitu dimana seorang pasien menolak secara tegas dan dengan sadar untuk menerima perawatan medis dan sang pasien mengetahui bahwa penolakannya tersebut akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Dengan penolakan tersebut ia membuat sebuah "codicil" (pernyataan tertulis tangan). Auto-eutanasia pada dasarnya adalah suatu praktek eutanasia pasif yang dilakukan atas permintaan sang pasien itu sendiri. c. Eutanasia pasif : juga bisa dikategorikan sebagai tindakan eutanasia negatif yang tidak menggunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk4

mengakhiri kehidupan si sakit. Tindakan pada eutanasia pasif ini adalah dengan secara sengaja tidak (lagi) memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien. Misalnya tidak memberikan bantuan oksigen bagi pasien yang mengalami kesulitan dalam pernapasan atau tidak memberikan antibiotika kepada penderita pneumonia berat ataupun meniadakan tindakan operasi yang seharusnya dilakukan guna

memperpanjang hidup pasien, ataupun dengan cara pemberian obat penghilang rasa sakit seperti morfin walaupun disadari bahwa pemberian morfin ini juga dapat berakibat ganda yaitu mengakibatkan kematian. Eutanasia pasif ini seringkali secara terselubung dilakukan oleh kebanyakan rumah sakit (Wikipedia, 2010).

2.2 Standar Prosedur Pelaksanaan Eutanasia Sebagai salah satu metode medis, maka eutanasiapun juga memiliki standar prosedur tertentu. Berdasarkan Franson metode dasar eutanasia terbagi menjadi fisik dan kimia. a. Prosedur standar eutanasia fisik Eutanasia secara fisik, dilakukan dengan melakukan tindakan-tindakan fisik secara langsung kepada objek yang akan di-eutanasia. Eutanasia secara fisik ini lazim diterapkan kepada hewan, untuk penerapannya terhadap manusia masih belum pernah dilaporkan. Terdapat beberapa jenis teknik eutanasia secara fisik, yaitu: 1. Cervical dislocation (pemutaran leher) merupakan metode eutanasia untuk burung atau hewan dengan bobot 1 kg, anjing, kucing, ternak potong (Gambar 1).

Gambar 1. Cervical Dislocation (Franson, www.nwhc.usgs.gov) Teknik ini sangat efektif, cepat, murah dan efek terhadap tes diagnostic sangat rendah. 2. Decapitation (perusakan otak lewat leher). Decapitation dilakukan dengan jalan memotong kepala hewan dengan menggunakan peralatan tajam dengan tujuan untuk memutus kepekaan saraf tulang belakang. Hewan yang diperbolehkan untuk di-decapitation sama dengan pada cervical dislocation. 3. Stunning & exsanguinations (removal blood) dilakukan dengan jalan merusak bagian tengah tengkorak agar hewan menjadi tidak sadar diikuti penyembelihan untuk mengeluarkan darah dengan memotong pembuluh darah utama di bagian leher. Teknik ini sangat cocok untuk diterapkan pada hewan potong (www.las.rutgers.edu) serta hanya bias dioperasikan apabila tes diagnostik pada otak tidak diperlukan. 4. Captive bolt atau gunshot (www.las.rutgers.edu dan Rietveld,

www.gov.on.ca), merupakan metode yang umum dipergunakan di rumah potong hewan utamanya kuda, ruminansia dan babi (Gambar 2). Hewan dimatikan dengan jalan menembak langsung kepalanya apabila otaknya diperlukan untuk tes diagnostik maka penembakan dilakukan di leher. Pelaksanaannya memerlukan seorang ahli agar tercapai kematian yang ,manusiawi selain untuk keamanan.

Gambar 2. Titik Target dari Gunshot (Rietveld, 2003) b. Prosedur standar eutanasia kimia

Eutanasia Kimia yaitu memasukkan agen toksin ke dalam tubuh dengan suntikan atau inhalasi (Gambar 3)

Gambar 3. Prosedur Anaesthesi Inhalasi Prosedur inhalasi hanya boleh dilakukan oleh operator yang telah mendapat ijin untuk menggunakan bahan kimia karena material yang akan digunakan sangat berbahaya bagi manusia. Inhalasi (Gambar 3) ditujukan untuk mematikan hewan dengan bobot < 7kg. Agen inhalasi yang dipilih harus menjadikan hewan tidak sadar secara cepat. Adapun agen yang diperbolehkan adalah halothane, enflurane, methoxyflurane, nitrous oxide karena nonflammable dan

nonexplosive.carbondioxide, derivat barbiturat, magnesium sulfat, KCl (www.ahn.umn.edu). Sedangkan agen inhalassi yang tidak boleh

ddipergunakan adalah Chloroform, gas hydrogen sianida, CO, Chloral hidrat, striknin. (www.las.rutgers.edu dan Franson, www.nwhc.usgs.gov). Meskipun demikian pada kenyataannya CO, chloroform maupun ether masih tetap dipergunakan terutama apabila jumlah hewan yang akan dieuthasia banyak. Gambar 4, umum dilakukan untuk eutanasia burung mencit atau tikus dalam jumlah banyak dengan jalan meletakkan hew