makalah gulma PHT

  • View
    2.221

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of makalah gulma PHT

PENDAHULUAN

Latar belakang Bukanlah hal aneh, bila saat ini kita mulai menemukan terjadinya masalah suksesi gulma pada perkebunan-perkebunan besar maupun kehutanan di Indonesia. Seperti halnya telah dilaporkan di banyak tempat, terutama di pulau Sumatera, daerah dimana perkebunan telah lama dibuka, dapat terlihat adanya perubahan jenis gulma kearah gulma berdaun lebar yang agresif, bandel dan sangat merugikan seperti Asystasia coromandeliana, Mikania micranta, Hedyotis, Borreria, juga pakis-pakisan seperti Stenochlaena, Pteridium, Dicranopteris, dll, mendominasi menggantikan gulma golongan berdaun lunak. Gulma lunak seperti Paspalum, Ottochloa, Cyrtococcum, Axonopus dan lainnya yang lebih disenangi para pekebun karena manfaatnya sebagai tumbuhan penutup tanah maupun pencegah erosi, lambat laun berubah dan digantikan komunitas gulma yang merugikan dan susah untuk dikendalikan. Munculnya gulma berdaun lebar yang agresif dan bandel tersebut, dinilai sangat merugikan usaha budidaya tanaman perkebunan, khususnya kelapa sawit, dan dapat menekan hasil panen antara 10-100%. Disamping itu, para pekebun juga dihadapkan pada biaya pengendalian gulma dan tenaga kerja yang tinggi serta waktu yang tersita untuk merubah komposisi gulma yang ada kembali ke komposisi gulma awal yang lebih bersahabat Umumnya masalah suksesi gulma disebabkan oleh penggunaan satu jenis / golongan herbisida secara terus menerus dalam jangka panjang. Penggunaan herbisida sistemik translokatif seperti Glifosat maupun Sulfosat yang dirasakan sangat efektif dalam mengendalikan gulma berdaun sempit secara terus menerus

dapat meniadakan berbagai jenis gulma lunak yang ada dan menggantikannya dengan jenis gulma yang sulit dikendalikan dengan herbisida sejenis. Suksesi gulma atau perubahan komunitas gulma yang ada menjadi komunitas yang lain daripada kondisi awalnya, telah dilaporkan sebelumnya terjadi di semenanjung Malaysia. Di Indonesia, hal yang sama juga telah ditemukan di areal-areal perkebunan yang telah lama dibuka. Suksesi gulma Asystasia, Mikania, Borreria, Stenochlaena, dan Dicranopteris, telah ditemukan di perkebunan kelapa sawit maupun karet di Sumatera. Di tempat lain, suksesi gulma Borreria juga ditemukan pada hamparan perkebunan teh. Untuk merumuskan jenis pengendalian yang tepat, diperlukan

pengetahuan yang mendalam akan bioekologi gulma dan interaksinya dengan tanaman utama. Suksesi gulma perlu diatasi dengan merubah pola atau sistem pengendalian yang saat ini diterapkan, yang pada umumnya selalu mengandalkan penggunaan herbisida sejenis yang murah, namun beresiko tinggi. Penerapan sistem pengendalian gulma yang berkelanjutan dengan berfokus pada rotasi / pergiliran penggunaan herbisida, seperti Program Tu Ji Wan Ti (2G-1T), telah diteliti secara mendalam dan teruji dapat mencegah terjadinya masalah suksesi gulma yang akan timbul. Tu Ji Wan Ti adalah program pengendalian gulma jangka panjang yang dikembangkan oleh Syngenta dengan menitikberatkan pada penggunaan herbisida secara bergiliran, yaitu 2 kali aplikasi Gramoxone secara berturut-turut diikuti dengan 1 kali aplikasi Touchdown Hitech sepanjang tahun, telah terbukti efektif dalam menjaga komposisi gulma, tetap memelihara gulma lunak sekaligus

mencegah terjadinya suksesi gulma pada areal perkebunan, khususnya kelapa sawit. Sebenarnya, masalah suksesi gulma tersebut dapat diminimalisasi dengan penggunaan herbisida kontak seperti Gramoxone, namun herbisida parakuat ini memberikan pengendalian gulma jangka pendek, sehingga dibutuhkan jumlah aplikasi yang lebih banyak pertahunnya. Di sisi lain, herbisida sistemik translokatif seperti glifosat maupun sulfosat memberikan pengendalian gulma yang lebih lama, namun menimbulkan resiko suksesi gulma dalam penggunaan jangka panjang. Sebagai solusinya, diperkenalkan teknologi pengendalian terpadu yang merupakan kombinasi terbaik penggunaan herbisida untuk mencegah suksesi gulma. Oleh karenanya sebelum masalah suksesi gulma terjadi, kita perlu secara sungguh-sungguh mempertimbangkan dampak jangka panjang serta kerugian yang bakal diderita akibat menggunakan herbisida sejenis secara terus menerus dengan dalih efisiensi dan mencari keuntungan sesaat. Program pengendalian gulma berkelanjutan dan terpadu adalah solusi utama dalam mengantisipasi masalah suksesi gulma, sekaligus menghemat biaya pengendalian gulma dalam jangka panjang.

PEMBAHASAN

Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit Deli Dura. Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911- 1912. Di Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1911. Dan saat ini kelapa sawit merupakan salah satu komoditi perkebunan terbesar yang diekspor oleh Indonesia, dengan peringkat satu dunia. Semakin maraknya areal perkebunan kelapa sawit ini maka suksesi gula pada areal pertanamannya menjadi salah satu perhatian utama, karena selain dapat mengurangi produktifitas hasil CPO gulma juga dapat menjadi tanaman inang bagi patogen-patogen.

Pelaku usahatani kelapa sawit di Indonesia terdiri dari perusahaan perkebunan besar swasta, perkebunan negara dan perkebunan rakyat. Usaha perkebunan kelapa sawit rakyat umumnya dikelola dengan model kemitraan dengan perusahaan besar swasta dan perkebunan negara (inti plasma). Khusus untuk perkebunan sawit rakyat, permasalahan umum yang dihadapi antara lain rendahnya produktivitas dan mutu produksinya. Produktivitas kebun sawit rakyat rata-rata 16 ton Tandan Buah Segar (TBS) per ha, sementara potensi produksi bila menggunakan bibit unggul sawit bisa mencapai 30 ton TBS/ha. Produktivitas CPO (Crude Palm Oil) perkebunan rakyat hanya mencapai rata-rata 2,5 ton CPO per ha dan 0,33 ton minyak inti sawit (PKO) per ha, sementara di perkebunan negara rata-rata menghasilkan 4,82 ton CPO per hektar dan 0,91 ton PKO per hektar, dan perkebunan swasta rata-rata menghasilkan 3,48 ton CPO per hektar dan 0,57 ton PKO per hektar. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas perkebunan sawit rakyat tersebut adalah karena teknologi produksi yang diterapkan masih relatif sederhana, mulai dari pembibitan, penanggulangan gulma sampai dengan panennya. Dengan penerapan teknologi budidaya yang tepat, akan berpotensi untuk peningkatan produksi kelapa sawit. Buku inimenginformasikan teknik budidaya dan pasca panen kelapa sawit anjuran, sehingga hasil produksi sawitnya bisa lebih tinggi. Berikut merupakan teknik penerapan teknologi budidaya sawit yang tepat dengan cara pengelolaan gulma secara terpadu.

TEKNOLOGI BUDIDAYA Bahan Tanam Penyediaan benih dilakukan oleh balai-balai penelitian kelapa sawit, terutama oleh Marihat Research Station dan Balai Penelitian Perkebunan Medan (RISPA). Balai-balai penelitian tersebut mempunyai kebun induk yang baik dan terjamin dengan pohon induk tipe Delidura dan pohon bapak tipe Pisifera terpilih. Kelapa sawit memiliki banyak jenis, berdasarkan ketebalan cangkangnya kelapa sawit dibedakan menjadi Dura, Pisifera dan Tenera. Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap dapat memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul persentase daging per buahnya dapat mencapai 90% dan kandungan minyak pertandannya dapat mencapai 28%. Pengecambahan Benih Tahapan pekerjaan dalam pengecambahan benih sebagai berikut: 1. Buah dikupas untuk memperoleh benih yang terlepas dari sabutnya. Pengupasan buah kelapa sawit dapat menggunakan mesin pengupas. 2. Benih direndam dalam ember berisi air bersih selama 5 hari dan setiap hari air harus diganti dengan air yang baru. 3. Setelah benih direndam, benih diangkat dan dikering

4.

Benih diperiksa 3 hari sekali (2 kali per minggu) denganmembuka kantong plastiknya dan semprotlah dengan air (gunakan hand mist sprayer) agar kelembaban sesuai dengan yang diperlukan yaitu antara 2122% untuk benih Dura dan 28-30% untuk Tenera. Contoh benih dapat diambil untuk diperiksa kelembabannya.

5. Bila telah ada benih yang berkecambah, segera semaikan pada pesemaian perkecambahan. 6. Setelah melewati masa 80 hari, keluarkan kantong dari peti di ruang pengecambahan dan letakkan di tempat yang dingin. Kandungan air harus diusahakan tetap seperti semula. Dalam beberapa hari benih akan mengeluarkan tunas kecambahnya. Selama 15-20 hari kemudian sebagian besar benih telah berkecambah dan siap dipindahkan ke persemaian perkecambahan (prenursery ataupun nursery). Benih yang tidak

berkecambah dalam waktu tersebut di atas sebaiknya tidak digunakan untuk bibit. Penyemaian Tahapan pekerjaan dalam penyemaian benih meliputi: