Makalah Kediri

  • View
    420

  • Download
    34

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah tentang sejarah kediri

Transcript

  • KATA PENGANTAR

    Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena

    berkat, rahmat, dan karuniaNya, kami dapat menyelesaikan tugas makalah Sosial

    Budaya Kediri.

    Terima kasih kami ucapkan kepada dosen pembimbing yang telah

    memberikan tugas ini sehingga kami dapat menambah pemahaman kami tentang

    sejarah, budaya, dan sosial masyrakat khususnya di wilayah Kediri. Terima kasih

    pula kami ucapkan kepada teman-teman yang telah membantu kami dalam

    menyusun makalah ini.

    Adapun tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas

    mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Banyak kendala yang kami alami

    dalam menyusun makalah ini. Namun, itu semua tidak menyurutkan niat kami

    untuk menyelesaikan makalah ini. Kami telah berupaya menyempurnakan

    makalah ini, namun seperti kata pepatah, Tak ada gading yang tak retak maka

    kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari teman-teman.

    Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah

    membantu kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Kami sangat berharap

    makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

    Surabaya, 17 Maret 2014

    Penulis

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 LATAR BELAKANG

    Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya.

    Demikian bunyi dari salah satu pepatah lama yang terngiang di telinga kami

    ketika mengerjakan makalah ini. Untuk dapat mengerti kondisi dan

    perkembangan masyarakat maka tak mungkin kita meninggalkan sejarah

    dari masyarakat itu sendiri karena sosial dan budaya dari suatu masyarakat

    tidak mungkin dibentuk dalam satu generasi melainkan dari generasi ke

    generasi. Perkembangan itu selalu ada dan harus ada, jika tidak terjadi maka

    akan terjadi kepunahan. Begitu halnya dengan manusia atau masyarakat.

    Kediri menarik kami untuk dijadikan bahasan dalam makalah ini karena

    keunikannya. Sebuah daerah kecil di tengah pulau jawa yang tidak memiliki

    pantai seperti kebanyakan kerajaan atau daerah lain namun mampu hidup

    dan berkembang pesat dan bertahan ditengah persaingan kerajaan-kerajaan

    besar yang ada saat itu. Sungai Brantas menjadi nadi kehidupannya.

    Sampai dengan saat inipun kota ini masih berdenyut dan bertumbuh

    dengan baik dibanding dengan daerah-daerah disekitarnya. Perubahan pola

    kehidupan masyarakat terjadi seiring dengan perkembangan jaman.

    1.2 RUMUSAN MASALAH

    1. Bagaimana sejarah Kediri pada masa kerajaan?

    2. Bagaimana pemerintahan Kediri pada jaman penjajahan sampai dengan

    kemerdekaan saat ini?

    3. Warisan seni dan budaya apa saja yang masih lestari di Kediri?

    4. Bagaimana kondisi sosial budaya masyarakat Kediri saat ini?

  • 1.3 TUJUAN

    1. Mengetahui sejarah singkat berdirinya Kerajaan Kadiri, masa

    kejayaannya, sampai pada masa keruntuhannya.

    2. Mengetahui proses pembentukan pemerintahan pada masa penjajahan

    Belanda dan Jepang, hingga Indonesia merdeka saat ini.

    3. Mengetahui apa saja yang menjadi warisan seni dan budaya yang dimiliki

    oleh Kediri.

    4. Mengetahui kondisi sosial budaya masyarakat Kediri dan

    perkembangannya pada era modern.

  • BAB II

    PEMBAHASAN

    2.1. SEJARAH KEDIRI

    2.1.1. Letak Geografis

    Kota Kediri adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota

    berpenduduk 312.000 (2012) jiwa ini berjarak 128 km dari Surabaya, ibu kota

    provinsi Jawa Timur terletak antara 0745'-0755' LS dan 11105'-1123' BT. Dari

    aspek topografi, Kota Kediri terletak pada ketinggian rata-rata 67 meter diatas

    permukaan laut, dengan tingkat kemiringan 0-40% dengan luas wilayah 63,40

    km.

    Struktur wilayah Kota Kediri terbelah menjadi 2 bagian oleh sungai Brantas

    yang membujur dari selatan ke utara sepanjang 7 kilometer, yaitu sebelah timur

    dan barat sungai. Terletak diantara sebuah lembah di kaki gunung berapi,

    Gunung Wilis dengan tinggi 2552 meter. Wilayah dataran rendah terletak di

    bagian timur sungai, meliputi Kec. Kota dan Kec. Pesantren, sedangkan dataran

    tinggi terletak pada bagian barat sungai yaitu Kec. Mojoroto yang mana di bagian

    barat sungai ini merupakan lahan kurang subur yang sebagian masuk kawasan

    lereng Gunung Klotok (472 m) dan Gunung Maskumambang (300 m).

    2.1.2. Jaman Kerajaan

    Nama Kediri ada yang berpendapat berasal dari kata "KEDI" yang artinya

    "MANDUL" atau "Wanita yang tidak berdatang bulan". Menurut kamus Jawa

    Kuno Wojo Wasito, 'KEDI" berarti Orang Kebiri Bidan atau Dukun. Di dalam lakon

    Wayang, Sang Arjuno pernah menyamar Guru Tari di Negara Wirata, bernama

  • "KEDI WRAKANTOLO". Bila kita hubungkan dengan nama tokoh Dewi Kilisuci

    yang bertapa di Gua Selomangleng, "KEDI" berarti Suci atau Wadad.

    Di samping itu kata Kediri berasal dari kata "DIRI" yang berarti Adeg,

    Angdhiri, menghadiri atau menjadi Raja (bahasa Jawa Jumenengan).Untuk itu

    dapat kita baca pada prasasti Wanua tahun 830 saka, yang diantaranya

    berbunyi:

    "Ing Saka 706 cetra nasa danami sakla pa ka sa wara, angdhiri rake

    panaraban"

    (artinya : pada tahun saka 706 atau 734 Masehi, bertahta Raja Pake Panaraban.)

    Gambar 1. Prasasti Wanua

    Nama Kediri banyak terdapat pada kesusatraan Kuno yang berbahasa Jawa

    Kuno seperti : Kitab Samaradana, Pararaton, Negara Kertagama dan Kitab Calon

    Arang. Demikian pula pada beberapa prasasti yang menyebutkan nama Kediri

    seperti : Prasasti Ceker, berangka tahun 1109 saka yang terletak di Desa Ceker,

    sekarang Desa Sukoanyar Kecamatan Mojo. Dalam prasasti ini menyebutkan,

    karena penduduk Ceker berjasa kepada Raja, maka mereka memperoleh hadiah,

    "Tanah Perdikan". Dalam prasasti itu tertulis "Sri Maharaja Masuk Ri

  • Siminaninaring Bhuwi Kadiri" artinya raja telah kembali kesimanya, atau

    harapannya di Bhumi Kadiri.

    Tatkala Bagawanta Bhari memperoleh anugerah tanah perdikan dari Raja

    Rake Layang Dyah Tulodong yang tertulis di ketiga prasasti Harinjing. Mungkin

    saja Kediri tidak akan tampil dalam panggung sejarah, andai kata Bagawanta

    Bhari, seorang tokoh spiritual dari belahan Desa Culanggi, tidak mendapatkan

    penghargaan dari Sri Maharaja Rake Layang Dyah Tuladong. Boleh dikata, pada

    waktu itu Bagawanta Bhari, seperti memperoleh penghargaan Parasamya

    Purnakarya Nugraha, kalau hal itu terjadi sekarang ini. Atau mungkin seperti

    memperoleh penghargaan Kalpataru sebagai Penyelamat Liangkungan. Memang

    Kiprah Bagawanta Bhari kala itu, bagaimana upaya tokoh spiritual ini

    meyelamatkan lingkungan dari amukan banjir tahunan yang mengancam

    daerahnya. Ketekunannya yang tanpa pamrih inilah akhirnya menghantarkan

    dirinya sebagai panutan, sekaligus idola masyarakat kala itu. Ketika itu tidak ada

    istilah Parasamya atau Kalpataru, namun bagi masyarakat yang berhasil dalam

    ikut serta memakmurkan negara akan mendapat "Ganjaran" seperti Bagawanta

    Bhari, dirinya juga memperoleh ganjaran itu berupa gelar kehormatan "Wanuta

    Rama" (ayah yang terhormat atau Kepala Desa) dan tidak dikenakan berbagai

    macam pajak (Mangilaladrbyahaji) di daerah yang dikuasai Bagawanta Bhari,

    seperti Culanggi dan Kawasan Kabikuannya.

    Kala itu juga belum ada piagam penghargaan untuknya. maka sebagai

    peringatan atas jasanya itu lalu dibuat prasasti sebagai "Pengeleng-eleng"

    (Peringatan). Prasasti itu diberi nama "HARINJING B" yang bertahun Masehi 19

    September 921 Masehi. Dan disebutlah "Selamat tahun saka telah lampau 843,

    bulan Asuji, tanggal lima belas paro terang, paringkelan Haryang, Umanis (legi).

    Budhawara (Hari Rabo), Naksatra (bintang) Uttara Bhadrawada, dewata

    ahnibudhana, yoga wrsa. Sekitar tahun itulah, Kediri mulai disebut-sebut sebagai

    nama tempat maupun negara. Belum ada sumber resmi seperti prasasti maupun

  • dokumen tertulis lainnya yang dapat menyebutkan, kapan sebenarnya Kediri ini

    benar-benar menjadi pusat dari sebuah Pemerintahan maupun sebagai mana

    tempat. Dari prasasti yang diketemukan kala itu, masih belum ada pemisah

    wilayah administratif seperti sekarang ini.

    Sebagian anggota tim penelusuran hari jadi Kota Kediri, yang terdiri dari para

    sejarawan dan arkeolog, berpendapat bahwa hari jadi Kediri jatuh pada 27 Juli,

    sesuai dengan prasasti Kwak yang ditemukan di Desa Ngabean, Magelang, Jawa

    Tengah. Prasasti bertanggal 27 Juli 879 Masehi ini menyebut kata "Kwak", yang

    kebetulan adalah nama sebuah desa di Kediri.

    Gambar 2. Prasati Kwak

    Daerah ini sampai sekarang masih ada. Sebagian lagi menganggap ulang

    tahun Kediri seperti tertulis di prasasti Hanjiring A (25 Maret 804 Masehi). Tapi

    ada pula yang memakai prasasti Hanjiring B bertanggal 19 September 921

    Masehi sebagai patokan.

    Menurut bapak MM. Sukarto Kartoatmojo menyebutkan bahwa "hari jadi

    Kediri" muncul pertama kalinya bersumber dari tiga buah prasasti Harinjing A-B-

    C, namun pendapat beliau, nama Kadiri yang paling tepat dimunculkan pada

    ketiga prasasti. Alasannya Prasasti Harinjing A tanggal 25 Maret 804 masehi,

    dinilai usianya lebih tua dari pada kedua prasasti B dan C, yakni tanggal 19

  • September 921 dan tanggal 7 Juni 1015 Masehi. Dilihat dari ketiga tanggal

    tersebut menyebutkan nama Kediri ditetapkan tanggal 25 Maret 804 M.

    Selanjutnya ditetapkan surat Keputusan Bupati Kepada Derah Tingkat II Kediri

    tanggal 22 Januari 1985