makalah moneter

  • View
    135

  • Download
    2

Embed Size (px)

Transcript

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangInflasi merupakan dilema yang menghantui perekonomian setiap negara. Perkembangannya yang terus meningkat memberikan hambatan pada pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih baik. Banyak kajian membahas inflasi, tidak hanya cakupan regional, nasional, namun juga internasional. Inflasi cenderung terjadi pada negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia dengan struktur perekonomian bercorak agraris. Kegagalan atau guncangan dalam negeri akan menimbulkan fluktuasi harga di pasar domestik dan berakhir dengan inflasi pada perekonomian (Baasir, 2003:265).Krisis ekonomi yang dipicu oleh gejolak nilai tukar rupiah telah berdampak sangat luas pada seluruh sendi perekonomian dan tatanan kehidupan (Anwar Nasution, 2001). Krisis ekonomi yang telah terjadi, paling tidak dalam konteks ini, memberikan pelajaran yang berharga akan pentingnya penciptaan kestabilan moneter (kestabilan nilai rupiah) sebagai prasyarat bagi kelangsungan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan (Achyar Ilyas, 1999). Inflasi merupakan fenomena ekonomi yang selalu menarik untuk dibahas terutama berkaitan dengan dampaknya yang luas terhadap agregat makro ekonomi. Pertama, inflasi domestik yang tinggi menyebabkan tingkat balas jasa riil terhadap aset finansial domestik menjadi rendah (bahkan seringkali negatif), sehingga dapat mengganggu mobilisasi dana domestik dan bahkan dapat mengurangi tabungan domestik yang menjadi sumber dana investasi. Kedua, inflasi dapat menyebabkan daya saing barang ekspor berkurang dan dapat menimbulkan defisit dalam transaksi berjalan dan sekaligus dapat meningkatkan utang luar negeri. Ketiga, inflasi dapat memperburuk distribusi pendapatan dengan terjadinya transfer sumber daya dari konsumen dan golongan berpenghasilan tetap kepada produsen. Keempat, inflasi yang tinggi dapat mendorong terjadinya pelarian modal ke luar negeri. Kelima, inflasi yang tinggi akan dapat menyebabkan kenaikan tingkat bunga nominal yang dapat mengganggu tingkat investasi yang dibutuhkan untuk memacu tingkat pertumbuhan ekonomi tertentu (Hera Susanti dkk, 1995).Bank Indonesia, sebagai Bank Sentral, memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Hal yang dimaksud dengan kestabilan terhadap harga-harga barang dan jasa yang tercermin pada tingkat inflasi. Peran kestabilan nilai tukar yang tercermin pada tingkat inflasi sangat penting dalam mencapai stabilitas harga dan sistem keuangan. Oleh karenanya, Bank Indonesia juga menjalankan kebijakan nilai tukar untuk mengurangi volatilitas nilai tukar yang berlebihan, bukan untuk mengarahkan nilai tukar pada level tertentu.Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk melakukan kebijakan moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter (seperti jumlah uang beredar atau tingkat suku bunga) dengan tujuan utama menjaga sasaran laju inflasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Secara operasional, pengendalian sasaran-sasaran moneter tersebut menggunakan instrumen-instrumen, antara lain operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan wajib minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan.Inflasi menjadi perhatian utama Bank Indonesia. Berbagai kebijakan Bank Indonesia diarahkan untuk mengurangi tekanan inflasi dalam jangka menengah panjang. Inflasi pada akhir tahun 2008 tercatat mengalami penurunan. Penurunan laju inflasi tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya inflasi pada kelompok volatile food dan sumbangan deflasi dari kelompok administered price. Inflasi kelompok volatile food adalah inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) dalam kelompok bahan makanan seperti panen, gangguan alam, atau faktor perkembangan harga komoditas pangan internasional. Inflasi kelompok administered price adalah inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) berupa kebijakan harga pemerintah, seperti harga BBM bersubsidi, tarif listrik, tarif angkutan, dan lain-lain. Sementara itu, dari sisi fundamental, melambatnya permintaan domestik serta berkurangnya tekanan dari imported inflation (inflasi yang bersumber dari kenaikan harga-harga barang yang diimpor) menyebabkan tekanan pada inflasi inti cenderung menurun. Meski demikian, Bank Indonesia masih mencermati tekanan inflasi yang berasal dari sisi permintaan serta pertumbuhan kredit perbankan yang masih tinggi.

Tabel 1.1Tingkat di Inflasi Indonesia Periode 1993 - 2012TahunInflasi ( % )Fluktuasi ( % )

19939,77-

19949,24 -0,53

19958,64-0,6

19966,47-2,17

199711,05 4,58

199877,6366,58

19992,01 -75,62

20009,35 7,34

200112,55 3,2

200210,03 -2,52

20035,06 -4,97

20046,4 1,34

200517,11 10,71

20066,60 -10,51

20076,59 0,01

200811,06 4,47

20092,78-8,28

20106,964,18

20113,79-3,17

20124,30,51

Sumber : Laporan Tahunan Bank Indonesia,2012Krisis ekonomi menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi negara disertai dengan peningkatan inflasi. Munculnya inflasi tahun 1997 di Indonesia menyebabkan turunnya pertumbuhan ekonomi dan peningkatan inflasi secara signifikan. Imbas dari pada krisis ekonomi 1997 paling dirasakan dampaknya pada tahun 1998, dimana pertumbuhan ekonomi mencapai kontraksi dengan pertumbuhan minus 13,3%, hyperinflasi juga terjadi di Indonesia dengan tingkat inflasi 77, 63%. Selanjutnya pada tahun 1999, laju inflasi sudah dapat dikendalikan seiring dengan membaiknya kondisi moneter di Indonesia menjadi sebesar 2,01%. Memasuki tahun 2000 stabilitas moneter cukup terkendali dengan tingkat inflasi sebesar 9,35% dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,8%. Dalam perkembangannya setiap tahun inflasi terus berfluktuasi hingga mencapai angka tertinggi sebesar 17,11% pada tahun 2005 dan tingkat pertumbuhan ekonomi 5,1%.Pada tahun 2007/2008, telah terjadi krisis global di Amerika Serikat. Krisis ini mempunyai dampak yang cukup besar khususnya bagi negara-negara yang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Amerika Serikat dalam hal ekonomi. Dalam hal ini, Indonesia juga merasakan dampaknya meskipun tidak sebesar krisis moneter pada tahun 1997/1998. Krisis global ini membuat kembali naiknya inflasi pada tingkat 10,12% pada tahun 2008 kuartal 2 dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil di angkat sekitar 5,3%. Kenaikan tingkat inflasi ini juga diikuti dengan kenaikan pada nilai kurs rupiah terhadap dolar, jumlah uang beredar, dan suku bunga SBI.Tekanan inflasi pada tahun 2009 secara umum sangat minimal. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah dalam memulihkan kepercayaan pasar. Kondisi tersebut pada gilirannya dapat mendukung membaiknya ekspektasi inflasi untuk kembali kepada targetnya, yaitu berkisar pada tingkat 6%. Pada tahun 2009 ini, penurunan inflasi diikuti oleh penurunan kurs rupiah terhadap dolar dan suku bunga SBI.Pada awal tahun 2010, tekanan inflasi semakin meningkat tiap kuartalnya sampai dengan pertengahan tahun hingga akhirnya fluktuatif pada kisaran 6%. Inflasi yang baik adalah inflasi yang stabil pada kisarannya, meskipun naik dan turun tetapi tetap pada kisarannya. Pada tahun 2010, kenaikkan inflasi tidak diikuti dengan kenaikan kurs rupiah terhadap dolar dan suku bunga SBI.Melanjutkan perkembangan di akhir tahun 2010, selama triwulan I 2011 inflasi masih berada di level yang tinggi, mendekati 7%, yang antara lain dipicu oleh tingginya inflasi volatile food dan inflasi inti. Laju inflasi Indonesia sepanjang tahun 2011 tercatat sebesar 3,79 persen dimana perekonomian tumbuh sebesar 6,5%.

Tabel 1.2Nilai Tukar Rupiah Terhadap U$$ Periode 1993 2012

TahunNilai Tukar ( Rp/U$$)Perkembangan ( % )

19932.110-

19942.2004,27

19952.3084,91

19962.3833,25

19974.65095,13

19988.025127,84

19997.100-11,53

20009.59535,14

200110.4008,39

20028.940-14,04

20038.465-5,31

20049.2909,75

20059.8305,81

20069.020-8,24

20079.4194,42

200810.95016,25

20099.400-14,16

20108.991-4,35

20119.0680,86

20129.4003,66

(Sumber: Laporan Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia,Bank Indonesia,2012)Di sisi kurs valuta asing, Rupiah akan semakin terdepresiasi terhadap mata uang asing, yang pada gilirannya akan menimbulkan masalah lain yang tidak kalah seriusnya, seperti membengkaknya kewajiban pemerintah terhadap kreditur luar negeri. Menurut Harvey (1988: 354) inflasi akan mempengaruhi kinerja perdagangan suatu negara yang tercermin dalam neraca perdagangannya. Terakhir, inflasi yang tidak terkendali dapat mendorong terjadinya capital outflow ke luar negeri. Pemilik modal akan lebih memilih menginvestasikan dananya di negara yang lebih menguntungkan. Begitu pula akan terjadi relokasi sektor manufaktur / riil ke negara yang memiliki cost production yang lebih rendah. Krisis moneter yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 dan dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika telah mengarahkan pada diadopsinya sistem nilai tukar mengambang atau free floating exchange rate (Suryanto, 2003). Indonesia telah beberapa kali menerapkan kebijakan tentang nilai tukar rupiah dan terakhir pada 14 Agustus 1997, Indonesia menerapkan nilai tukar mengambang bebas ( free floating exchange rate ) yang artinya nilai tukar Rupiah sepenuhnya ditentukan oleh interaksi permintaan dan penawaran valas di pasar valas. Setelah melepaskan BI band intervensi pada Agustus 1997, kurs rupiah terus terkoreksi dengan terdepresiasinya kurs rupiah hampir 100 persen terhadap Dollar Amerika. Dalam rentang waktu satu dekade semenjak diberlakukanya free floating exchange rate posisi terendah (depresiasi rupiah) kurs rata-rata tahunan adalah pada tahun 2001, dengan rata-rata Rp 10.400,00/USD.

Tabel 1.4Produk Domestik Bruto Berdasarkan Harga Konstan ( Tahun Dasar 2000 ) di Ind