Makalah Ph

  • View
    216

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

public health

Transcript

26

DAFTAR ISIKATA PENGANTARiDAFTAR ISIiiBAB 11PENDAHULUAN11.1LATAR BELAKANG11.2TUJUAN31.3MANFAAT3BAB 24TINJAUAN PUSTAKA42.1Pengertian Program Kesehatan Ibu dan Anak42.2Tujuan Program Kesehatan Ibu dan Anak42.3Prinsip Pengelolaan Program KIA KB52.3.1Pelayanan Antenatal62.3.2Pertolongan Persalinan82.3.3Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas92.3.4Pelayanan Kesehatan Neonatus102.3.5Deteksi Dini Faktor Risiko dan Komplikasi Kebidanan dan Neonatus oleh Tenaga Kesehatan maupun Masyarakat112.3.6Penanganan Komplikasi Kebidanan142.3.7Pelayanan Neonatus dengan Komplikasi152.3.8Pelayanan Kesehatan Bayi172.3.9Pelayanan Kesehatan Anak Balita172.3.10Pelayanan KB Berkualitas192.4Manajemen Kegiatan KIA20BAB 323RINGKASAN23DAFTAR PUSTAKA26

BAB 1PENDAHULUAN

1.1LATAR BELAKANGIndeks Pembangunan Manusia (IPM) ditentukan oleh indeks kesehatan, indeks pendidikan, dan indeks pendapatan. Indeks kemampuan pelayanan kesehatan suatu negara ditentukan dengan umur harapan hidup yang dipengaruhi tinggi rendahnya angka kematian ibu dan angka kematian perinatal. Masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) menunjukkan kondisi derajat kesehatan masyarakat di Indonesia saat ini masih memprihatinkan.Angka Kematian Ibu (AKI) menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama kehamilan, melahirkan, dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan data Survey Demografis dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, AKI di Indonesia sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut menggambarkan masih diperlukan perbaikan yang bersifat menyeluruh dan lebih bermutu.1 Penyebab kematian ibu yang paling umum di Indonesia adalah penyebab obstetri langsung yaitu perdarahan 28 %, preeklampsi/eklampsi 24 %, infeksi 11 %, trauma obstetri 5 % dan lain lain 11 %2. Selain itu, ada beberapa penyebab tidak langsung yang biasa dikenal dengan 3 Terlambat dan 4 Terlalu. 3 Terlambat yaitu terlambat mengetahui tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat mencapai pelayanan kesehatan, dan terlambat memperoleh pertolongan di fasilitas kesehatan. Sementara 4 Terlalu yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak anak, dan terlalu dekat jarak persalinan.Angka Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi (0-12 bulan) per 1.000 kelahiran hidup dalam kurun waktu 1 tahun. Kesehatan bayi merupakan salah satu parameter yang berkaitan dengan berbagai faktor antara lain, kesehatan ibu, mutu akses ke layanan medis, kondisi sosioekonomi dan praktik kesehatan masyarakat.3 Di Indonesia, tercatat bahwa AKB sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup.4 Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007, tiga penyebab utama kematian perinatal di Indonesia adalah gangguan pernapasan/ respiratory disorders (35,9%), prematuritas (32,4%), dan sepsis neonatorum (12,0%) (Depkes, 2008).4Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) Indonesia masih tertinggi di Asia. Berdasarkan kesepakatan global (Millenium Development Goals/MDGs, 2000) pada tahun 2015 diharapkan Angka Kematian Ibu menurun sebesar tiga-perempatnya dalam kurun waktu 1990-2015 dan Angka Kematian Bayi menurun sebesar dua-pertiga dalam kurun waktu 1990-2015. Berdasarkan hal itu Indonesia mempunyai komitmen untuk menurunkan Angka Kematian Ibu menjadi 102/100.000 kelahiran hidup, Angka Kematian Bayi menjadi 23/1.000 kelahiran hidup pada tahun 2015.2Upaya untuk mempercepat penurunan AKI telah dimulai sejak tahun 1980-an melalui program Safe Motherhood Initiative. Setelah itu secara konseptual telah diperkenalkan lagi Making Pregnancy Safer (MPS) yang dicanangkan oleh pemerintah pada tahun 2000. Sejak tahun 1985 pemerintah merancang Child Survival (CS) untuk penurunan AKB. Kedua Strategi tersebut diatas telah sejalan dengan Grand Strategi DEPKES tahun 2004.2Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan kematian ibu, bayi baru lahir, bayi dan balita. Antara lain melalui penempatan bidan di desa, pemberdayaan keluarga dan masyarakat dengan menggunakan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA) dan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K), serta penyediaan fasilitas kesehatan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Puskesmas perawatan dan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) di rumah sakit. Seorang dokter umum sebagai dokter layanan primer dalam penyelenggaraan kesehatan sudah sepatutnya berpartisipasi aktif dalam mendukung pencapaian target MDGs 2015.6

1.2TUJUAN1. Tujuan UmumUntuk mengetahui upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk kesehatan ibu dan anak.2. Tujuan Khususa. Untuk Memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Kesehatan Masyarakatb. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang pentingnya Kesehatan Ibu dan Anakc. Mahasiswa mengerti indicator yang ada dalam KIAd. Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kontrasepsi1.3MANFAATMakalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada penulis dan pembaca khususnya dokter agar dapat lebih mengetahui dan memahami mengenai program kesehatan ibu dan anak.

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA

2.1Pengertian Program Kesehatan Ibu dan AnakProgram Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan salah satu dari program - program pokok Puskesmas yang bertujuan untu memantapkan dan meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan KIA secara efektif dan efisien meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu dengan komplikasi kehamilan, keluarga berencana, neonates, bayi baru lahir dengan komplikasi, bayi dan balita serta anak pra sekolah.Pemberdayaan Masyarakat bidang KIA merupakan upaya memfasilitasi masyarakat untuk membangun sistem kesiagaan masyarakat dalam upaya mengatasi situasi gawat darurat dari aspek non klinis terkait kehamilan dan persalinan.Sistem kesiagaan merupakan sistem tolong-menolong, yang dibentuk dari, oleh dan untuk masyarakat, dalam hal penggunaan alat transportasi/ komunikasi (telepon genggam, telpon rumah), pendanaan, pendonor darah, pencatatan-pemantaun dan informasi KB.Dalam pengertian ini tercakup pula pendidikan kesehatan kepada masyarakat, pemuka masyarakat serta menambah keterampilan para dukun bayi serta pembinaan kesehatan di taman kanak-kanak.

2.2Tujuan Program Kesehatan Ibu dan Anak1. Tujuan UmumTujuan program kesehatan ibu dan anak adalah tercapainya kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal bagi ibu dan keluarganya untuk atau mempercepat pencapaian target Pembangunan Kesehatan Indonesia yaitu Indonesia Sehat 2015, serta meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya.2. Tujuan Khususa. Meningkatnya kemampuan ibu (pengetahuan, sikap dan perilaku) dalam mengatasi kesehatan diri dan keluarganya dengan menggunakan teknologi tepat guna dalam upaya pembinaan kesehatan keluarga, Desa Wisma, penyelenggaraan Posyandu dan sebagainya.b. Meningkatnya upaya pembinaan kesehatan balita dan anak prasekolah secara mandiri di dalam lingkungan keluarga, Desa Wisma, Posyandu dan Karang Balita, serta di sekolah TK.c. Meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan bayi, anak balita, ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan ibu menyusui.d. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu menyusui, bayi dan anak balita.e. Meningkatnya kemampuan dan peran serta masyarakat, keluarga dan seluruh anggotanya untuk mengatasi masalah kesehatan ibu, balita, anak prasekolah, terutama melalui peningkatan peran ibu dalam keluarganya.

2.3Prinsip Pengelolaan Program KIA KBPengelolaan program KIA bertujuan memantapkan dan meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan KIA secara efektif dan efisien. Pemantapan pelayanan KIA dewasa ini diutamakan pada kegiatan pokok sebagai berikut:21. Peningkatan pelayanan antenatal sesuai standar bagi seluruh ibu hamil di semua fasilitas kesehatan.2. Peningkatan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan kompeten diarahkan ke fasilitas kesehatan.3. Peningkatan pelayanan bagi seluruh ibu nifas sesuai standar di semua fasilitas kesehatan.4. Peningkatan pelayanan bagi seluruh neonatus sesuai standar di semua fasilitas kesehatan.5. Deteksi dini faktor risiko dan komplikasi kebidanan dan neonatus oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat.6. Peningkatan penanganan komplikasi kebidanan dan neonatus secara adekuat dan pengamatan secara terus-menerus oleh tenaga kesehatan.7. Peningkatan pelayanan kesehatan bagi seluruh bayi sesuai standar di semua fasilitas kesehatan.8. Peningkatan pelayanan kesehatan bagi seluruh anak balita sesuaistandar di semua fasilitas kesehatan.9. Peningkatan pelayanan KB sesuai standar.

2.3.1Pelayanan AntenatalPelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). Pelayanan antenatal sesuai standar meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan), pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus, serta intervensi umum dan khusus (sesuai risiko yang ditemukan dalam pemeriksaan).2Dalam penerapannya terdiri atas:1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan.2. Ukur tekanan darah.3. Nilai Status Gizi (ukur lingkar lengan atas).4. Ukur tinggi fundus uteri.5. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ).6. Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan.7. Pemberian Tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan.8. Test laboratorium (rutin dan khusus).9. Tatalaksana kasus10. Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan.

Pemeriksaan laboratorium rutin mencakup pemeriksaan golongan darah, hemoglobin, protein urine dan gula darah puasa. Pemeriksaan khusus dilakukan di daerah prevalensi tinggi dan atau kelompok berisiko,