of 19 /19
LAPORAN PRAKTIKUM PEMBIAKAN TANAMAN ACARA 5 MEDIA KULTUR JARINGAN URIFA 131510501204 GOLONGAN C / KELOMPOK 5

Media kultur Jaringan

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Kultur jaringan merupakan metode yang digunakan untuk mengisolasi bagian tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan atau organ. Cara penumbuhannya dibutuhkan keadaan yang aseptic, dimana aseptik disini bearti lingkungan yang steril sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman yang utuh kembali.

Text of Media kultur Jaringan

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMBIAKAN TANAMAN

ACARA 5MEDIA KULTUR JARINGANURIFA

131510501204

GOLONGAN C / KELOMPOK 5PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JEMBER

2014BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Indonesia adalah negara agraris yang sebagian besar penduduknya bekerja disektor pertanian. Bidang pertanian merupakan bidang utama yang banyak ditekuni masyarakat karena luasan lahan yang dimiliki negara kita tergolong besar dari negara lainnya. Luasan lahan yang dimiliki oleh negara Indonesia tersebut mampu memproduksi kebutuhan masyarakat akan pangan secara global sehingga Indonesia masih dapat mengekspor sebagian produk pertanian yang dihasilkan ke beberapa negara lain.

Salah satu dampak dalam peningkatan ekspor komoditi pertanian adalah kebutuhan bibit yang semakin meningkat. Bibit dari suatu varietas unggul yang dihasilkan jumlahnya sangat terbatas, sedangkan bibit tanaman yang dibutuhkan jumahnya banyak. Penyediaan bibit yang berkualitas baik merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam pengembangan pertanian di masa mendatang. Salah satu teknologi harapan yang banyak dibicarakan dan telah terbukti memberikan keberhasilan adalah melalui teknik kultur jaringan.

Melalui kultur jaringan tanaman dapat diperbanyak setiap waktu sesuai kebutuhan karena faktor perbanyakannya yang tinggi. Bibit dari varietas unggul yang jumlahnya sangat sedikit dapat segera dikembangkan melalui kultur jaringan. Tanaman yang diperbanyak melalui kultur jaringan, bila berhasil dapat lebih menguntungkan dari pada perbanyakan secara generatif karena sifatnya akan sama dengan induknya (seragam) dan dalam waktu yang singkat bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dan bebas penyakit.

Kultur jaringan merupakan metode yang digunakan untuk mengisolasi bagian tanaman seperti protoplasma, sel, jaringan atau organ. Cara penumbuhannya dibutuhkan keadaan yang aseptic, dimana aseptik disini bearti lingkungan yang steril sehingga bagian tanaman tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman yang utuh kembali. Kemampuan Totipotensi sel (Total Genetic Potential) yang bearti setiap sel memiliki potensi genetik atau kemampuan untuk memeperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi tanaman yang lengkap merupakan konsep awal dari kultur jaringan.Media yang akan digunakan harus disterilisasi dengan cara memanaskannya denga autoklaf. Autoklaf merupakan alat yang digunakan untuk mensterilisasi peralatan gelas laboratorium, media mikrobiologi, dan dekontaminasi untuk membunuh bakteri. Autoklaf menggunakan uap yang bersuhu dan bertekanan tinggi 1210 C selama kurang lebih 15 menit untuk membunuh bakteri. Teknik ini memerlukan berbagai syarat untuk mendukung kehidupan jaringan yan dikembangbiakkan. Salah sau faktor utamanya adalah media yang digunakan. Media adalah tempat mengambil nutrisi dan tempat tumbuh tanaman. Media tumbuh menyediakan berbagai bahan yang dibutuhkan oleh jaringan dalam memperbayak diri seperti umsur hara mikro, makro, vitamin da asam amino, sumber karbon dan zat pengatur tumbuh. Selain bahan-bahan tersebut, juga dibutuhkan bahan tambahan seperti gula, agar-agar, bahan organic dan arang aktif. Media yang sudah jadi akan dimasukkan kedalam tabung reaksi atau botol kaca. Media tumbuh terbagi menjadi dua macam, yaitu media padat dan media cair. Media padat berupa gel, seperti agar dan nutrisi yang dicampur dengan agar sedangkan media cair adalah media dengan nutrisi yang dilarutkan di air. Media cair bertujuan dalam pembentukan Protocorm Like Body (PLB) pada anggrek dan jahe. Faktor lain yang harus diperhatikan pada media cair atau padat adalah pH dari media kultur itu sendiri. Sel tanaman membutuhkan pH antar 5,5 sampai 5,8 oleh karena itu media harus diatur pHnya agar sesuai dengan pertumbuhan sel tanaman.Metode kultur jaringan (in vitro) dalam bidang pertanian digunakan dalam perbaikan sifat atau seleksi, produksi bahan metabolit, perbanyakan tanaman, transfer gen dalam biologi molekuler dan pemeliharaan plasma nutfah. Kegiatan tersebut membutuhkan media buatan baik media dalam bentuk cair atau media dalam bentuk padat dengan memberikan formulasi kebutuhan protein, hormon dan nutrisi dengan perbandingan yang sesuai dengan yang dibutuhkan.1.2 Tujuan

1. Mempelajari cara pembuatan media dengan baik dan benar2. Mengenal perbedaan bermacam-macam media kultur jaringan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKAPertumbuhan organ tanaman terutama tergantung pada kombinasi pembelahan sel dan ekspansi sel, yang diatur sangat oleh faktor lingkungan, seperti cahaya, suhu dll dan oleh faktor endogen, seperti phytohormones. Koordinasi berurutan proses seluler beberapa juga merupakan salah satu komponen penting dari proses yang terlibat dalam regulasi pertumbuhan organ tanaman di bawah situasi tertentu, termasuk status gizi, tahap perkembangan dan cekaman abiotik (Rai et al., 2011).Menurut Akin-Idowu et al. (2009), kultur jaringan tanaman saat ini merupakan teknologi mapan. Seperti banyak teknologi lain, telah melalui berbagai tahap evolusi; keingintahuan ilmiah, alat penelitian, aplikasi baru dan eksploitasi massa. Awalnya, kultur jaringan tanaman dimanfaatkan sebagai alat penelitian dan difokuskan pada upaya untuk mempelajari budaya dan pengembangan, segmen kecil yang terisolasi dari jaringan tanaman atau sel yang terisolasi.Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, penerapan kultur jaringan tanaman sebagai teknik budidaya telah menjadi alat penting dalam bioteknologi perbanyakan berbagai tanaman yang memiliki kepentingan ekonomi yang besar. Demikian juga, teknik budidaya menawarkan keuntungan tambahan seperti kecepatan tinggi propagasi, kurangnya pembatasan musiman, pemberian penyakit tanaman bebas, pemeliharaan diri yang tidak kompatibel galur inbrida, pertukaran internasional bahan tanaman, sistem budaya untuk transformasi genetik (Govinden-Soulange et al., 2009).Menurut Bakti dkk. (2009), kultur jaringan dapat diperoleh melalui tiga cara yaitu pembentukan tunas samping, pembentukan tunas adventif, dan embriogenesis somatik. Kultur jaringan memiliki banyak keunggulan seperti produksi bahan tanam bebas penyakit dalam jumlah besar maka memungkinkan penyebaran cepat sehat dan meningkatkan tanaman di dalam dan antar negara, sebagai bahan yang mudah disertifikasi sebagai bebas penyakit dan tumbuh seragam maka mereka sangat berharga. Pendekatan inovatif diperlukan untuk menurunkan biaya produksi micropropagule dalam rangka meningkatkan penerapan teknologi kultur jaringan dalam pertanian, (Ogero et al.,2011).Menurut Mangoendidjojo (2003), bagian atau organ tanaman secara umum terdiri dari akar, batang, daun serta bagian reproduktif yang berupa bunga, buah atau biji. Bagian-bagian tanaman tersebut mampu untuk beregenerasi menjadi tanaman lengkap baik secara langsung maupun tidak langsung. Peristiwa ini terjadi karena tanaman mempunyai sifat totipotensi sel, yaitu dalam satu sel mempunyai kemampuan untuk menjadi tanaman lengkap. Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional (Suliansyah, 2013).Menurut Tuhuteru dkk., (2012) Media merupakan faktor utama dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Keberhasilan perbanyakan dan perkembangbiakan tanaman dengan metode kultur jaringan secara umum sangat tergantung pada jenis media. Media tumbuh pada kultur jaringan sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan serta bibit yang dihasilkannya. Zat pengatur tumbuh memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan kultur. Faktor yang perlu mendapat perhatian dalam penggunaan zat pengatur tumbuh antara lain jenis yang akan digunakan, konsentrasi, urutan penggunaan dan periode masa induksi kultur. Induksi kalus tanaman dikotil diperlukan auksin dengan konsentrasi tinggi dan sitokinin pada konsentrasi rendah. Sedangkan pada tanaman monokotil pembentukan kalus hanya membutuhkan auksin yang tinggi tanpa sitokinin (Lizawati dkk., 2012).Menurut Lestari dkk. (2013), keseimbangan zat pengatur tumbuh (ZPT) auksin dan sitokinin, komposisi garam anorganik dan bentuk fisik media mempengaruhi keberhasilan kultur jaringan. Media padat merupakan media yang sering digunakan karena perkembangan eksplan mudah diamati, tidak semua bagian eksplan terbenam dalam media sehingga memungkinkan sirkulasi udara eksplan dan jika terjadi kontaminasi, eksplan yang tidak terkontaminasi dapat diselamatkan.BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Waktu pelaksanaan kegiatan praktikum "Media Kultur Jaringan" dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Fakultas Pertanian Universitas Jember pada hari rabu, tanggal 08 Oktober 2014 jam 12:00-14:00 WIB.

3.2 Bahan dan Alat3.2.1 Bahan

1. Agar-agar

2. Alumunium foil

3. Aquadest

3.2.2 Alat

1. Media MS

2. Botol kultur

3. Autoclave

4. pH meter

5. Spatula

6. Pipet

7. Beaker glass

8. Gelas ukur

9. Striver

10. Plastik wrap

11. Timbangan3.3 Cara Kerja

3.3.1 Cara memmbuat stok dengan volume 1 liter

Contoh :

Membuat stok NH4NO3 1650 mg/lt sebanyak 1 lt dengan pengambilan 20 ml. Berapa NH4NO3 yang ditimbang ?

Jawab :

N1.V1 = N2.V2

N1.20 = 1650.1000

N1 = 82500 mg

Jadi NH4NO3 yang ditimbang sejumlah 82500 mg (82,5 gr) kemudian melarutkan dalam 1000 ml aquades dan menyimpannya dalam suhu dingin sebagai stok A. (Demikian juga untuk stok lain).

3.3.2 Cara pembuatan media padat MS kultur jaringan sebanyak 1 liter

1. Menyiapkan semua larutan baku MS.

2. Mengambil larutan baku sesuai ketentuan dan menuangkannya ke dalam beaker glass 1 liter yang sudah terisi aquades 300 ml.

3. Menimbang gula 30 gr dan 8 gr bahan pemadat (agar) dan masukkan ke dalam beaker glass.

4. Mengaduk campuran di atas stirer dan mengukur derajat keasaman dengan pH meter (5,8), menggunakan NaOH 1N atau HCL 1N untuk mengaturnya.

5. Menambahkan aquades hingga mencapai 1000 ml.

6. Mendidihkan diatas perapian sampai agar melarut.

7. Menuangkan media dalam keadaan cair ke dalam botol-botol dengan ukuran ketebalan 1 cm.

8. Menutup semua botol dengan alumunium foil, dan menandainya menurut jenis medianya.

9. Mensterilkan botol-botol berisi media di daam autoclave selama 30 menit pada temeratur 121C tekanan 17,5 psi.

10. Setelah mematikan autoclave, menyimpan media sambil menguji kesterilannya selama 3 x 24 jam.11. Media yang steril siap ditanamiBAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN4.1 Hasil

No.Pengamatan Hari ke

123456

KKKKKK

1.0-0-0-0-0-0-

2.0-0-0-0-0-0-

3.0-0-0-0-0-0-

4.0-0-0-0-0-0-

5.0-0-0-0-0-0-

6.0-0-0-0-0-0-

4.2 PembahasanDAFTAR PUSTAKAAkin-Idowu, P. E., Ibitoye, D. O. dan Ademoyegun, O. T. 2009. Tissue culture as a plant production technique for horticultural crops. Biotechnology, 8 (16) : 3782-3788

Bakti, C., G.A Wattimena., Witjaksono. 2009. Embriogenesis Somatik Jahe Pada Berbagai Zat Pengatur Tumbuh (Zingiber officinale Rosc.). Littri, 1(1): 1-5.

Govinden-Soulange, J. N. Boodia, C. Dussooa, R. Gunowa, S. Deensah, S. Facknath and B. Rajkomar. Vegetative Propagation and Tissue Culture Regeneration of Hibiscus sabdariffa L. (Roselle). Agricultural Sciences, 5 (5): 651-661Lestari, S.R., Dini Ermayitalini dan Dita Agisimanto. 2013. Efektivitas meta-Topolin dan NAA terhadap Pertumbuhan In vitro Stroberi (Fragaria ananassa var. Dorit) pada Media MS Padat dan Ketahanannya di Media Aklimatisasi. Sains dan Semi Pomits, 2 (1) : 1-6.

Lizawati, Neliyati, dan R. Desfira. 2012. Induksi Kalus Eksplan Daun Durian (Durio zibethinus Murr.cv.Selat Jambi) Pada Beberapa Kombinasi 2,4D dan BAP. Agroteknologi, 1(1): 1-7.

Mangoendidjojo, W. 2003. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Yogyakarta: Kanisius.Ogero, K.O., G.N. Mburugu, M. Mwangi, O. Ombori, dan M. Ngugi. 2012. In vitro Micropropagation of Cassava Through Low Cost Tissue Culture. Agricultural Sciences, 4(3): 205-209Rai, M. K., Shekhawat, N. S., Harish, A. K. Gupta, M. Phulwaria, K. Ram, U. Jaiswal. 2011. The role of abscisic acid in plant tissue culture: a review of recent progress. Plant Cell Tiss Organ Cult, 106:179190

Suliansyah, I. 2013. Kultur Jaringan Tanaman. Jakarta: Penebar Swadaya.Tuhutere, M.L., Hehanussa., S.H.T Raharjo. 2012. Pertumbuhan dan Perkembangan Anggrek Dendrobium anosmum Pada Media Kultur In Vitro dengan Beberapa Konsentrasi Air Kelapa. Agrologia, 1(1): 1-12.