Menyalakan Lilin Di Tengah Kegelapan-Sejarah KPK

Embed Size (px)

Text of Menyalakan Lilin Di Tengah Kegelapan-Sejarah KPK

Menyalakan Lilin di Tengah Kegelapan

Sanksi Pelanggaran Pasal 44Undang-undang No.12 Tahun 1997 tentang Perubahan UU No.6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta, sebagaimana telah diubah dengan UU No. 7 Tahun 1987: 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7(tujuh) tahun dan atau denda paling banyak Rp100.000.000,- (seratus juta rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dengan ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau denda paling banyak Rp50.000.000,(lima puluh juta rupiah).

ii

Menyalakan Lilin di Tengah Kegelapan

KPK

Oleh:

Komisi Pemberantasan Korupsi

iii

Menyalakan Lilin di Tengah KegelapanTim Editor: Johan Budi SP, Priharsa Nugraha, Faisal, Muadz DFahmi, Hendra Teja, Adhi Setyo Tamtomo, Djoni Suratno, Sari Wardhani, Khaidir Ramli, Supadi. Desain & Layout: Spora Communications Cetakan pertama, Desember 2007 Hak Cipta dilindungi undang-undang All right reserved ISBN: 978-979-16873-2-4 Dilarang mengutip, menerjemahkan, dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

iv

Sekapur SirihAssalamualaikum Wr. Wb. Di balik kinerja yang menuai puji dan cerca, banyak cerita yang nyaris terlupakan atau luput dari perhatian. Rangkaian kisah lima orang yang tapak demi tapak merangkak bak menyusuri lorong remang-remang, seolah menjelajah belantara penuh duri. Perjalanan itu akhirnya sampai di ujung lorong dan mulai muncul terang, menyongsong harapan. Boleh jadi tak kan pernah sampai menjemput semua harapan, tapi sejumput harapan dihadirkan. Betapa pun singkatnya masa bakti, dan dengan segala kelebihan dan kekurangan, disertai keragaman warna dan cita rasa yang kami ukir dalam menakhodai biduk muda ini, kiranya keunggulan dan kelemahan itu disikapi dengan kearifan. Di balik semua itu, ada pergulatan pikiran, dinamika cipta, pergulatan karsa, ragam sambung rasa, kadang perbedaan cara serta jarak pandang, yang bergumpal hikmah dan makna. Tidak banyak lagi kata-kata yang dapat kami sampaikan, selain dua kata singkat: mohon diterima. Semoga berguna, mohon pamit. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jakarta, Desember 2007 PIMPINAN KPK 2003 - 2007

Taufiequrachman Ruki Amien Sunaryadi Sjahruddin Rasul Tumpak Hatorangan Panggabean Erry Riyana Hardjapamekas

v

Daftar IsiSekapur Sirih ......................................................................................................................... BAB I, Sejarah Terbentuknya KPK .................................................................................. Kepala Pasar pun Mendaftar ..................................................................................... Jalan Panjang Menuju Istana Negara ..................................................................... Ketok Pintu pun Dilakukan ........................................................................................ Figur Pimpinan KPK 2003-2007 ................................................................................ BAB II, Pembentukan Pondasi ....................................................................................... KPK dari Titik Nol .......................................................................................................... BAB III, Kinerja Bidang Penindakan ............................................................................. Nyaris Frustasi ................................................................................................................. Kasus Puteh yang Meletihkan .................................................................................. Mulyana yang Tak Terduga ........................................................................................ Terjerat Dana DKP ......................................................................................................... Mendekam Karena Uang Perangsang ................................................................... Drama Menegangkan dari Panglima Polim ......................................................... v 1 3 11 16 24 33 35 47 49 51 55 61 64 68

vi

BAB IV, Kinerja Bidang Pencegahan ............................................................................. Antara Menebas dan Menanam .............................................................................. Menanamkan Nilai-nilai Luhur ................................................................................. KPK Goes to Mall ............................................................................................................ Beda Gratifikasi dan Gravitasi ................................................................................... BAB V, Menggandeng Mitra Membangun Reputasi .............................................. Membuka Keran Lembaga Donor ........................................................................... Tak Ada Rekening Liar .................................................................................................. Kerjasama Pemberantasan Korupsi ......................................................................

73 75 78 84 86 93 95 98 99

Kerjasama Mencegah Korupsi di Dalam Negeri ............................................... 102 BAB VI, KPK dalam Berita .................................................................................................. 109 Magnet Baru Bernama KPK ........................................................................................ 111 BAB VII, Penutup ................................................................................................................ 121 Lampiran-lampiran ........................................................................................................... 125

vii

BAB I, Sejarah Terbentuknya KPK

2

4 TAHUN KPK, Menyalakan Lilin di Tengah Kegelapan

BAB I, Sejarah Terbentuknya KPK

Kepala Pasar pun MendaftarLatar belakang profesi pelamar bervariasi, mulai dari pengacara, jaksa dan mantan jaksa, hingga pakar ekonomi. Bahkan, kepala pasar pun ada.

S

yahdan, serombongan manusia sedang menunggu masuk di pintu surga. Mereka dipanggil satu per satu oleh pejabat malaikat yang bertugas di sana. Mereka ditanya tentang segala perbuatan yang dilakukan ketika masih hidup. Nah, pada sesi tanya jawab itulah rombongan manusia tersebut melihat, bahwa pada tembok belakang tergantung puluhan jam dinding sebagaimana layaknya yang terlihat di bandar udara. Tapi, kok ada yang aneh. Apa ya? beberapa orang mulai merasakan kejanggalan. Ah, ini dia! Kalau jam di dunia menunjukkan posisi waktu yang berbedabeda sesuai kota tujuan, maka jam dinding di surga yang berbeda adalah kecepatan putaran jarumnya. Salah seorang yang agak bingung bertanya kepada malaikat di sana tentang perbedaan jam ini. Oh itu, jam yang tergantung di sana menunjukkan tingkat kejujuran pejabat pemerintah yang ada di dunia sewaktu Anda hidup, sang malaikat menjelaskan. Semakin jujur pemerintahan Anda, jam negara Anda semakin lambat. Sebaliknya semakin korup pejabat pemerintah negara Anda, maka semakin cepat pula jalannya. Coba lihat itu! kata seorang yang sedang antre kepada yang lainnya, Jam Filipina berputar kencang. Berarti memang benar Marcos banyak korupsi, tuh. Itu lagi, itu lagi, seru yang lainnya, Jam Kongo, negaranya Mobutu Seseseko berputar tak kalah cepat dari jam Filipina. Oh, iya ya, benar juga. Wah, hebat sekali jam itu. Mereka semua terlihat

4 TAHUN KPK, Menyalakan Lilin di Tengah Kegelapan

3

BAB I, Sejarah Terbentuknya KPK

menikmati pengetahuan baru tersebut. Tapi... Di mana gerangan jam Indonesia? Mereka pun mencari-cari, namun tak ketemu juga. Sampai akhirnya, salah seorang dari mereka pun memberanikan diri bertanya kepada malaikat tadi. Oh, jam Indonesia... Kami taruh di belakang, di dapur. Sangat cocok dijadikan kipas angin, jawab sang malaikat. Lelucon semacam ini, sudah sering terdengar. Dan, kita semua tersenyum menertawakan diri sendiri. Artinya, kita secara sadar, bahkan sangat sadar, bahwa korupsi di Indonesia demikian kronis. Buktinya, beberapa kali Indonesia yang kita cintai menempati peringkat pertama atau kedua dalam kejuaraan negara-negara terkorup di dunia. Dato Param Cumaraswamy, pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa menyimpulkan, bahwa korupsi di lembaga peradilan Indonesia adalah salah satu yang terburuk di dunia, yang mungkin hanya bisa disamai oleh Meksiko. Bahkan di mata orang-orang bisnis, khususnya para investor Asia, korupsi di Indonesia, dalam hal ini korupsi di pengadilan, adalah yang terburuk. Indonesia memperoleh skor 9,92 dari skala 1 sampai 10. Skor 1 adalah yang terbaik dan skor 10 adalah yang terburuk. Skor ini tepat berada di atas India yang memperoleh angka 9,26 dan Vietnam yang mendapatkan skor 8,75. Lantas, apakah kita akan diam saja? Tentu saja tidak. Berbagai upaya untuk memberantas korupsi sebenarnya juga telah gencar dilakukan pemerintah serta para penegak hukum. Pemerintah misalnya telah beberapa kali membentuk komisi independen atau lembaga yang diharapkan bisa memerangi korupsi. Hanya saja, semua lembaga itu akhirnya layu sebelum berkembang. Kalau toh hidup, tak ubahnya seperti macan ompong. Beberapa di antaranya adalah, Tim Pemberantasan Korupsi yang berada di bawah Kejaksaan Agung tahun 1967. Tim ini dipimpin oleh Jaksa Agung Sugih Arto. Sebagai Penasehat adalah Menteri Kehakiman, Panglima ABRI, dan Kapolri. Tahun 1970 pemerintah juga membentuk Komisi Empat dengan anggota empat orang tokoh: Mohammad Hatta, Anwar Tjokroaminoto, Herman Johannes, dan Soetopo Yoewono. Ketua Komisi ini adalah Mohammad Hatta, mantan Wakil Presiden yang dikenal jujur dan berinteg