Morality Justice Of Law

Embed Size (px)

DESCRIPTION

moralitas dalam penegakan hukum adalah bagian dari keadilan karena hukum tanpa moral tidak akan didapatkan suatu keadilan yang hakiki

Text of Morality Justice Of Law

Morality justice of law (Moralitas penegak hukum diIndonesia)(Untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafah Hukum)

Disusun Oleh:Alex Setiawan

8150408140

Leonardo Bambang W8111409143Khoirul Imam

8111409143

Mohammad khoerun8150408103

FAKULTAS HUKUMUniversitas Negeri Semarang2011BAB I

PENDAHULUANDi era sekarang ini tidak lah mudah untuk memaparkan kondisi hukum di Negara kita Melihat dari berbagai realitas yang ada di Negara kita sekarang ini Moralitas keadilan hokum di Negara kita sangat lah minim dan patut mendapat keprihatinan dari kita. Dapat kita lihat dan rasakan bahwa penegakan hukum berada dalam posisi yang tidak menggembirakan. Masyarakat mempertanyakan kinerja aparat penegak hukum dalam pemberantasan korupsi, merebaknya mafia peradilan, mafia anggaran, hingga bergentangannya markus (makelar kasus) yang merupakan noda hitam bagi upaya penegakan hukum di negeri ini. Deretan ketidakpuasan masyarakat dalam penegakan hukum semakin bertambah panjang apabila menengok kembali beberapa masalah seperti kasus kasus nenek Minah, kasus Prita Mulyasari, kasus keluarga tuna netra pemilik ratusan kilo daun ganja, dan beberapa kasus-kasus hukum yang lainnya; termasuk kasus peredaran video mesum yang diduga diperankan oleh artis lokal yang sempat menggemparkan masyarakat dari setiap lapisan ini. Meskipun dalam tahap penyelidikan dan penyidikan dapat terungkap bahwa pembuat maupun pemeran didalam video tersebut adalah benar mereka, namun mereka bisa saja lolos dari jerat hukum apabila mereka mempunyai alasan kuat dan dapat dibuktikan bahwa apa yang mereka lakukan adalah hanya untuk kepentingan pribadi, bunyi aturan hukum kita memiliki celah untuk pengecualian itu.

Secara moral-agama apabila terbukti mereka adalah pembuat dan pemeran video mesum tersebut, jelas tindakan mereka sangat bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Jangankan melakukan sebagaimana yang terdapat dalam video tersebut, mendekati saja sudah merupakan larangan yang keras dalam ajaran Islam. Apalagi merekam kemudian menyebarkan adegan video asusila tersebut. Sungguh suatu tindakan yang tidak bermoral dan tidak bertanggungjawab, terlebih jika melihat efek negatif bagi generasi muda bangsa Indonesia.Berdasarkan contoh dari banyak kasus hukum yang mengusik rasa keadilan dan moral masyarakat, diantaranya sebagaimana yang disebutkan diatas; semestinya menjadi pelajaran dan pembelajaran berharga bagi aparat penegak hukum, lembaga pembuat Undang-Undang, hingga lembaga eksekutif kepresidenan untuk mengawal proses penegakan hukum yang tidak hanya berdasarkan aturan hitam putih teks undang-undang, tetapi musti dikawal dengan nilai-nilai moral-agama serta rasa keadilan masyrakat yang berlaku.

Rumusan Masalah1. Bagaimanakah Hubungan Moral Dengan Hukum

2. Bagaimanakah Moralitas Penegak Hukum Di IndonesiaBAB II

PEMBAHASAN

I. Hubungan Moral Dengan Hukum

Hubungan moral dengan penegakan hukum menentukan suatu keperhasilan atau ketidakberhasilan dalam penegakan hukum, sebagaimana diharapkan oleh tujuan hukum. Stephen Palmquis yang mengambil pandangan dari Immanuel Kant, bahwa tindakan moral ialah kebebasan. Kebebasan sebagai satu-satunya fakta pemberian akal praktis pada sudut pandang aktualnya menerobos tapal batas ruang dan waktu (kemampuan indrawi) dan menggantikannya dengan kebebasan. Kebebasan tidak berarti dalam arti sebenak kita dapat mengetahui kebenaran, yang kemudian tercermin pada pembatasan diri untuk menjalankan suatu kebajikan. Semua kaidah harus sesuai dengan hukum moral yang menciptakan suatu tuntutan yang tak bersyarat. Kewajiban adalah perintah yang mengandung kebenaran. Menurut Kant, kewajiban adalah tindakan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan hukum moral, dalam rangka ketaatan terhadap hati nurani manusia daripada hanya mengikuti nafsu.Rumusan Immanuel Kant terhadap tindakan moral (imperative kategoris) ada tiga kriteria yang mensyaratkan yaitu:

1. Suatu tindakan adalah moral hanya jika kaidahnya bisa di semestakan (kaidah sebagai hukum universal)

2. Menghargai pribadi orang, yang bertindak sedemikian rupa, sehingga memperlakukan manusia sebagai tujuan dan bukan hanya sebagai alat belaka.

3. Kaidah itu harus otonom. Kaidah moral harus selaras dengan penentuan kehendak hukum yang universal (Soerjono Soekanto, 1993:22)

Filsafat moral menurut Immanuel Kant yakni suatu tindakan bisa secara moral baik atau buruk hanya jika dilakukan secara bebas dan berasal dari penghargaan terhadap hukum moral, bukan dari keinginan untuk memenuhi hasrat kebahagiaan. Supaya moralitas benar-benar rasional maka tindakan moral harus mampu memenuhi tujuannya untuk menuju kebaikan tertinggi (summum bonum). Kaum Stoik menyatakan dengan keluhuran budi (virtue), kehidupan yang berbudi luhur perlu dicari tanpa memperdulikan kebahagiaan.

Pada dasarnya Kant memberikan argumen bahwa setiap orang yang bertindak secara moral dan beriman kepada rasionalitas dan harus beriman kepada Tuhan, kalau tidak pasti menolak salah satu proposi berikut ini:

1. Tindakan moral adalah baik

2. Moralitas adalah rasional

3. Kebaikan tertinggi (summum bonum) adalah menggabungkan keluhuran budi dengan kebahagiaan proporsional.

Filsafat moral Kant memberikan beberapa kontribusi penting untuk menarik garis tapal batas yang tegas antara tindakan moral dan non moral. Suatu tindakan bersifat moral hanya jika dilakukan secara bebas tanpa bergantung pada kebahagiaan dan sesuai dengan hukum moral (didasarkan pada kaidah yang bisa disemestakan). Hal ini semaunya merupakan syarat yang perlu dan pasti bagi siapa saja yang hendak bertindak secara moral, sehingga kondisi-kondisi itu menentukan perangkat sebagai pedoman mutlak bagi motivasi batiniah sesuai dengan ruang, waktu dankategori-kategori yang menentukan perangkat pedoman mutlak untuk memahami dunia luar.

Aspek moral dan etika dalam penegakan hukum pidana merupakan suatu hal yang berkaitan dengan penegakan hukum pidana dalam sistem peradilan pidana. Menurut Muladi, (2001:1-4), Kondisi distorsi dan penyimpangan dalam penegakan hukum pidana dalam praktik sehari-hari sering terjadi proses penanganan perkara pidana yang tidak sesuai dengan idealism keadilan. Padahal sistem peradilan pidana harus selalu mempromosikan kepentingan hukum dan keadilan. Elemen dari penegakan hukum pidana seharusnya merupakan proses penemuan fakta yang tidak memihak (impartial) dan penuh dengan resolusi atau pemecahan masalah yang harus dilakukan secara adil (fair) dan patut (equitable). Apapun teori keadilan yang dipakai defenisi keadilan harus mencakup kejujuran (fairness), tidak memihak (impartiality), serta pemberian sanksi dan hadiah yang patut (appropriate reward and punishment). Keadilan harus dibedakan dari kebajikan (benevolence), kedermawanan (generosity), rasa terimakasih (gratitude), dan perasaan kasihan (compassion). Moral dan morality menunjukkan pada apa yang dinilai dan dipertimbangkan sebagai good conduct.

Istilah moral digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mempunyai kapasitas untuk menilai dan melihat hal yang benar dari hal yang salah. Ethics menunjukkan pada studi dan analisis tentang apa yang merupakan perilaku yang baik dan yang buruk. Penegakan hukum pidana selalu bersentuhan dengan moral dan etika, hal ini didasarkan atas empat alasan yakni:

1. Sistem peradilan pidana secara khas melibatkan penggunaan paksaan atau kekerasan, dengan kemungkinan terjadinya kesempatan untuk menyalahgunakan kekuasaan (abuse of power).2. Hampir semua professional dalam penegakan hukum pidana merupakan pemerintah (public servant) yang memiliki kewajiban khusus terhadap publik yang dilayani.

3. Bagi setiap orang, etika dapat digunakan sebagai alat untuk membantu memecahkan dilemma etis yang dihadapi seseorang didalam kehidupan profesionalnya

4. Dalam kehidupan profesi sering dikatakan bahwa a set of ethical requirements are as part of its meaning.Dengan demikian masalah etika dan moralitas menurut Muladi (2001; 5) mengemukakan bahwa dalam kriminalisasi Secara umum diperlukan syarat-syarat minimal harus mencakup keberadaan korban (victimizen), memperoleh dukungan publik, tidak semata-mata berupa pembalasan dan tidak bersifat ad hoc, memperhitungkan analisis biaya dan hasil, bersifat ultimun remedium, tidak menimbulkan over criminalization, harus enforceable, mengandung unsure subsocialiteit (membahayakan masyarakat) dan memperhatikan HAM.II. Moralitas Penegak Hukum Di IndonesiaSeiring dari perkembangan zaman yang terjadi di Indonesia belum dapat memajukan perkembangan dibidang hukum malah sebaliknya semakin bobroknya moralitas penegakan hukum di Negara ini, semuanya dapat dilihat dari kasus ini di saat Antasari Azhar, Ketua KPK saat itu, sedang gencar mengupayakan pemberantasan korupsi kemudian tersandung kasus pembunuhan berencana terhadap Nasaruddin Zulkarnaen, Dirut PT. Rajawali Putra Bandaran, dengan konstruksi kasus cinta segi tiga dengan seorang caddy golf bernama Rani Juliani. Kritik maupun pandangan bermunculan seiring dengan kasus yang sedang dihadapi Antasari ini yang secara umum merupakan tudingan adanya rekayasa terhadap kasus tersebut. Hal ini disebabkan karena dakwaan jaksa berubah-ubah hingga kemudian berujung pada penetapan motif cinta segi tiga sebagai dasar dari terjadinya pembunuhan tersebut.

Yang paling mengejutkan adalah, vonis Majelis Hakim 18 tahun kepada Antasari sebagai intellectual dader sangat tidak masuk akal dan oleh banyak pengamat dipandang sebagai mengada-ada. Lepas dari pusaran kasus Antasari, kita diperhadapkan lagi pada kasus bail out Bank Century sebesar 6,7 Triliun yang tidak jelas ujung pangkalnya. Rekomendasi DPR bahwa pengucuran dana bail out tersebut bermasalah dan sarat dengan praktik korupsi, nyatanya hingga saat ini belum menemukan titik terang, bahkan orang yang dianggap paling bertanggung jawab melenggang nyaman