Pedum Identifikasi Ppk

  • View
    231

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Pedum Identifikasi Ppk

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    1/86

    PEDOMANPEDOMANPEDOMANPEDOMAN TEKNISTEKNISTEKNISTEKNISIDENTIFIKASI DAN PEMETAAN POTENSI SUMBERDAYAIDENTIFIKASI DAN PEMETAAN POTENSI SUMBERDAYAIDENTIFIKASI DAN PEMETAAN POTENSI SUMBERDAYAIDENTIFIKASI DAN PEMETAAN POTENSI SUMBERDAYA

    PULAUPULAUPULAUPULAU- ---PULAU KECILPULAU KECILPULAU KECILPULAU KECIL

    DIREKTORAT PENDAYAGUNAAN PULAUDIREKTORAT PENDAYAGUNAAN PULAUDIREKTORAT PENDAYAGUNAAN PULAUDIREKTORAT PENDAYAGUNAAN PULAU- ---PULAU KECILPULAU KECILPULAU KECILPULAU KECIL

    DIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN PESISIR DAN PULAUDIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN PESISIR DAN PULAUDIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN PESISIR DAN PULAUDIREKTORAT JENDERAL KELAUTAN PESISIR DAN PULAU- ---PULAU KECILPULAU KECILPULAU KECILPULAU KECILKEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANANKEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANANKEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANANKEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    2/86

    .; '

    ./qL KET'IENTERIAN KBLAUTAN DAN PERIKAn{AN\S#' ltrxffi f ilHffi*fIH: ,ll:1ffi*ffi,kiJ;:Hl,Y#

    PERATURAN

    DIREKTUR JENDERAil KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PUT3U KECtrtNOMOR PER. 07 lKP3KlzAflTENTANG

    PEDOMAN TEKNIS IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN POTENSI SUMBER,AYA PULAU-PULAU KECIL

    DIREKTUR JENDEML KELAUTAN, PESISIR DAN PUI.AU.PULAU KECIL,

    Menimbang ; a. bahwa untuk metaksanakan ketentuan Keputusan MenteriKelaut4n dan Perikanan Nomor KEP.I5IMEN/2006 tentangPedoman Umum Identifikasi Data Tata Ruang Laut, Pesisir danPulau-puldu' Kecil, dipandang perlu menetapkan PedomanTeknis ldbntifikasi dan Pemetaan Potensi Sumber Daya Putau-Pulau Kecil; 't ' ;

    b. bahwa untuk itu perlu ditetapkan dengan Pei'aturan DirekturJenderal;

    Mengingat : 1. undang-Undang Nomor iz runrn 2003, tentang KeuanganNegara;

    2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan,sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor31 Tahun ZAA4 tentang Perikanan;

    3. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataanRuang;

    4. Undang-Undang Nomor 27 Tahun ZAAT bntang pengelolaanWilayah Pesisii' dan Pulau-pulau Kecil;

    5. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang InformasiGeospasial;

    6. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun ZAAT tentangKonservasi Sumber Daya lkan;Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentangDekonsentrasi dan Tugas Pembantuan;

    Peraturan Pernerintah Nomor 62 Tahun 2010 tentangPemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Terluar;

    9. Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 2010 tentang MitigasiBencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;

    10. Peraturan Presiden Nomor85

    Tahun 2AA7 tentang JaringanData Spasial Nasional;

    11 Peraturan Fresiden Nomor 47 Tahun 2009 t t g

    7.

    8.

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    3/86

    Disalin sesuai

    12. Peraturan presiden Nomor 24 Tahun 20i0 tentang Kedudukan.rugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta susunanorganisasi, Tugas dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara;

    13. Peraturan Menteri Kelautan dan perikanan NomorPER.20IMEN/2008 tentang pemanfaatan putau-pulau Kecil danPerairan di Sekitarnya;

    14. Peraturan Menteri Kelautan dan perikanan Nomor pER.15/MENI2010 tentang organisasi dan Tata Kerja KementerianKelautan dan Perikanan;

    15. Keputusan Menteri Kelautan dan perikanan NomorKEP.24/MEN/2004 Tentang Tata cara dan Teknik penyusunanPeraturan Perundang-undangan di Lingkungan DepartemenKelautan dan perikanan;

    I'1'MEMUTUST(AN:

    Menetapkan : fIMTURAN 'DrREtffuR IENDERAL KELAUTAN, pEsrsIRDAN PULAU.PUI.AU KECIL TENTANG PEqOMAN i TEKNISIDENTIFIKASI DAN PEMETA.AN POTENSI SUMBER DAYAPULAU.PUTAU KECIL.

    Pasal 1Pedoman Teknis Identifikasi dan Pemetaan Potensi Sumber Daya pulau-pulau Kecildimaksudkan sebagai acuan bagi pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintahKabupaten/Kota dan Pemangku Kepentingan dalarn pelaksanaan kegiatan identifikasidan pemetaan potensi sumber

    dayapulau-pulau

    kecil sebagaimJna diatur dalamKeputusan Menteri Kelautan dan perikanan Nomor KEp.i5lMENl2006 tentangPedoman Umum ldentifikasi Data Tata Ruang Laut, pesisir dan pulau-pulau Kecil.Pasal 2

    Ketentuan mengenai Pedoman Teknis Identifikasi dan pemetaan potensi sumberDaya Pulau-pulau Kecil sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang tidakterpisahkan dari peraturan Direktur Jenderar ini.

    Pasal 3Peraturan Direktur Jenderat

    ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

    Ditetapkan di JakartaPada tanggal 07 September 2011

    DIREKTUR JENDERALKELAUTAN, PESISrR DAN pUtAU-pUtAU KECIL,

    trd.

    SUDIRMAN SAAD

    ffiffi 6

    Kabag Hukum,

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    4/86

    DAFTAR ISI

    Halaman

    Daftar Isi ………………………………………………………………………………………………………….

    Peraturan Direktur Jenderal Kelautan, Pesisirdan Pulau-Pulau Kecil NomorPER.07/KP3K/2001 Tentang Pedoman Teknis Identifikasi dan PemetaanSumberdaya Pulau-Pulau Kecil ………………………………………………………………………… i

    I PENDAHULUAN …………………………………….................................................. 11.1 Latar Belakang ……………………………………………………………………………….. 1.2 Tujuan ….……..……………………………………………...................................... 21.3 Sasaran ………………………………………...................................................... 21.4 Ruang Lingkup Pedoman ……………………………………………………………….. 21.5 Sistematika Pedoman ……………………………………………………………………. 2

    II BATASAN PERISTILAHAN …………………………………………………………………………

    III TAHAPAN KEGIATAN DAN JENIS DATA ……..…………………………………………… 3.1 Tahapan Kegiatan …………………………………………………………………………..

    3.1.1 Persiapan Peta dan Citra Satelit .………………........................... 73.1.2 Pengumpulan dan pengolahan data kondisi

    lokasi ……………………………………………………………………………….. 3.1.3 Penetapan Lokasi, Jumlah dan Metode Sampling ………. 13

    3.2 Jenis Data ……………………………………………………………………………………...

    IV PELAKSANAAN SURVEI LAPANGAN ……………………………………………………….. 28 4.1 Pengamatan (Observasi) ….…………………………….................................. 284.2 Pengukuran ………………………………........................................................ 294.3 Wawancara/Interview .………………………………………………………………….. 34.4 Pengumpulan Data Sekunder …………………………………………………………. 35

    V ANALISIS DATA …………………………………….................................................... 365.1 Verifikasi dan Pengolahan Data Lapangan ……………………………………. 365.2 Pengolahan Data Tabular dan Tekstual ….……..…………………………….. 365.3 Reinterpretasi Peta-Peta Tematik …………………………………………………. 365.4 Penyusunan Peta Tematik ……………………………………………………………. 365.5. Analisis Potensi Sumberdaya ………………………………………………………… 37

    VI ARAHAN PEMANFAATAN POTENSI SUMBERDAYAPULAU-PULAU KECIL ………………………………………………………….47 6.1 A’WOT …………………………………………………………………………………………. 6.2 Analisis Pengembangan Pulau-Pulau Kecil …………………………………. 47

    VII PELAPORAN DAN PENYUSUNAN PROFIL PULAU ……………………… 50 Daftar Pustaka ……………………………………………………………………………………………….

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    5/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    6/86

    Data Spasial Nasional, Kepmen Nomor 15 Tahun 2006 tentang Pedoman Umum Data Tata

    Ruang Laut, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil, Permen No 16 tahun 2008 pasal 22 dan 23 yang

    mengatur tentang Rencana Zonasi Wilayah Pulau-Pulau Kecil dan Permen No 20 tahun 2008

    tentang Pemanfaatan Pulau-pulau Kecil dan Perairan disekitarnya.

    Untuk mendukung program identifikasi dan pemetaan potensi pulau di seluruh wilayah

    Indonesia, dibutuhkan acuan yang sama bagi setiap pelaksana kegiatan. Pedoman Teknis

    Identifikasi Potensi dan Pemetaan Sumberdaya Pulau-pulau Kecil diharapkan mampu

    mengarahkan upaya penyediaan informasi potensi pulau yang tepat sehingga dapat

    menunjang kegiatan identifikasi potensi sumberdaya pulau-pulau kecil di Indonesia dalam

    upaya mengoptimalkan pendayagunaan pulau-pulau kecil di masa yang akan datang.

    1.2 Tujuan

    Tujuan Pedoman Teknis Identifikasi dan Pemetaan Potensi Sumberdaya Pulau-pulau Kecil

    adalah:

    1. Memberikan panduan teknis dalam pelaksanaan kegiatan identifikasi dan pemetaan

    potensi sumberdaya pulau-pulau kecil

    2. Membangun kesamaan persepsi dan tindakan bagi para pelaksana teknis, perencana

    dan stakeholder dalam mengidentifikasi dan memetakan potensi serta menyusun

    rekomendasi pemanfaatan ruang pulau-pulau kecil

    1.3 Sasaran

    Sasaran Pedoman Teknis Identifikasi dan Pemetaan Potensi Sumberdaya Pulau-pulau Kecil

    adalah:

    1. Terarahnya kegiatan identifikasi dan pemetaan potensi sumberdaya pulau-pulau kecil

    oleh pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota.

    2. Tersedianya data dan informasi potensi sumber daya pulau-pulau kecil yang aktual dan

    sistematis

    1.4 Ruang Lingkup Pedoman

    Ruang lingkup pedoman teknis identifikasi pemetaan dan potensi sumberdaya pulau-pulau

    kecil meliputi: persiapan, pelaksanaan pengumpulan data, analisis data, pemetaan,

    rekomendasi pemanfaatan pulau, pembuatan laporan dan penyusunan informasi dalam

    bentuk profil pulau.

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    7/86

    1.5 Sistematika Pedoman

    Pedoman ini terdiri dari 7 (tujuh) bab yaitu:

    1. Bab I Pendahuluan

    Berisikan latar belakang, tujuan, sasaran, ruang lingkup dan sistematika pedoman.

    2. Bab II Batasan Peristilahan

    Menguraikan pengertian-pengertian umum mengenai pulau kecil, identifikasi pulau

    kecil dan rekomendasi pengelolaan pulau-pulau kecil

    3. Bab III Tahapan Kegiatan dan Jenis Data

    Membahas mengenai tahapan pelaksanaan kegiatan identifikasi potensi dan

    pemetaan dan jenis-jenis data yang dikumpulkan.

    4. Bab IV Pelaksanaan Survei LapanganMembahas mengenai pengumpulan data secara langsung di lapangan, meliputi

    pengamatan/observasi, pengukuran, wawancara/interview dan pengambilan data

    sekunder.

    5. Bab V Analisis Data

    Membahas mengenai analisis data hasil identifikasi di lapangan, meliputi analisis data

    tekstual, penyusunan peta-peta tematik, dan analisis potensi sumberdaya pulau-

    pulau kecil

    6. Bab VI Rekomendasi Pemanfaatan Potensi Sumberdaya Pulau-pulau Kecil

    Mendeskripsikan penyusunan rekomendasi pemanfaatan sumberdaya pulau-pulau

    kecil berdasarkan analisis SWOT

    7. Bab VII Pelaporan dan Penyusunan Profil Pulau

    Berisi uraian prosedur pelaporan hasil identifikasi dan pemetaan potensi sumberdaya

    dan penyusunan profil pulau.

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    8/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    9/86

    Ikan Indikator a dalah kelompok ikan karang yang dijadikan sebagai indikator kesehatan

    terumbu.

    Ikan Major a dalah kelompok ikan karang yang selalu dijumpai di terumbu karang yang tidak

    termasuk dalam kedua kategori tersebut di atas. Pada umumnya peran utamanya belum

    diketahui Secara pasti selain berperan di dalam rantai makanan. Kelompok ini terdiri dari

    ikan-ikan kecil < 20 cm.

    Ikan Target adalah kelompok ikan yang menjadi target nelayan, umumnya merupakan ikan

    pangan dan bemilai ekonomis.

    Industri Non Ekstraktif adalah industri yang mengambil bahan baku dari tempat lain atau

    yang disediakan oleh industri lain.

    Koreksi Geometrik adalah perbaikan geometri citra satelit dengan cara penempatan

    kembali posisi piksel sedemikian rupa sehingga dihasilkan gambaran obyek yang sesuai

    dengan kondisi sebenarnya di lapangan atau pada peta topografi.

    Koreksi Radiometrik adalah perbaikan kesalahan citra satelit yang disebabkan oleh adanya

    pantulan balik dari partikel-partikel di atmosfer yang ikut terekam oleh detektor satelit,

    yang mengakibatkan terjadinya penambahan nilai piksel obyek tertentu. Koreksi

    radiometrik dilakukan dengan cara memperbaiki nilai spektral citra, yang pada prinsipnya

    adalah menghilangkan penambahan tingkat kecerahan piksel akibat hamburan atmosfer.

    Mitigasi Bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui

    pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi

    ancaman bencana.

    Nilai Spektral Citra adalah nilai pantulan spektral setiap obyek terkecil di permukaan bumi,

    yang merupakan jumlah energi elektromagnetik yang dipantulkan dan diemisikan darisetiap obyek tersebut yang dicatat oleh sistem penginderaan jauh.

    Pariwisata Bahari adalah jenis wisata minat khusus yang memiliki aktivitas terkait dengan

    kelautan, baik di atas permukaan laut maupun kegiatan yang ada di bawah permukaan laut.

    Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek,

    daerah atau gejala dengan jalan menganalisis data yang didapat dengan menggunakan alat

    tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah atau gejala yang dikaji.

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    10/86

    Penggunaan Lahan adalah aktivitas manusia pada dan dalam kaitannya dengan lahan, yang

    bersifat dinamis dan biasanya tidak tampak secara langsung dari citra penginderaan jauh.

    Penutupan Lahan ( Landcover ) berkaitan jenis kenampakan yang ada dipermukaan bumi

    Peta merupakan penyajian grafis bentuk ruang dan hubungan keruangan antara berbagai

    perwujudan dari permukaan bumi yang diwakili, secara keseluruhan atau sebagian , dalam

    bentuk dua dimensi pada bidang datar yang diproyeksikan dengan perbandingan atau skala

    tertentu.

    Peta Dasar adalah peta yang menyajikan unsur-unsur alam dan atau buatan manusia, yang

    berada di permukaan bumi, digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala,

    penomoran, proyeksi dan georeferensi tertentu.

    Peta Tematik adalah peta yang menyajikan data dan informasi dengan tema-tema tertentu.

    Pulau adalah daratan yang terbentuk secara alami dan dikelilingi oleh air, dan selalu di atas

    muka air pada saat pasang naik tertinggi (UNCLOS, 1982)

    Pulau Kecil adalah pulau dengan ukuran luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km2 (dua

    ribu kilometer persegi) beserta kesatuan ekosistemnya (UU 27 Tahun 2007)

    Spesies Endemik adalah spesies yang hanya ditemukan di suatu tempat dan tidak

    ditemukan di tempat lain.

    Sumberdaya Pulau-pulau Kecil adalah seluruh sumber daya alam yang terdiri dari semua

    jenis sumber daya alam dapat pulih maupun tidak dapat pulih serta jasa lingkungan yang

    membentuk ekosistem pulau-pulau dan gugusan pulau-pulau kecil.

    Tubuh Air adalah salah satu jenis penutup lahan yang ada di permukaan bumi yang nampak

    berupa air permukaan biasanya berupa waduk, danau, atau sungai.

    http://id.wikipedia.org/wiki/Pasang_lauthttp://id.wikipedia.org/wiki/Pasang_laut

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    11/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    12/86

    yang pada prinsipnya adalah menghilangkan penambahan tingkat kecerahan piksel akibat

    hamburan atmosfer.

    Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penyesuaian histogram. Cara

    yang dilakukan dalam metode ini adalah dengan cara mengurangi seluruh nilai piksel citra

    dengan nilai kecerahan dari hamburan atmosfer. Nilai piksel citra dan besarnya nilai

    kecerahan akibat hamburan atmosfer dapat diketahui melalui histogram citra atau melalui

    perhitungan statistik citra.

    - Koreksi Geometrik

    Koreksi geometrik yang paling mendasar adalah penempatan kembali posisi piksel

    sedemikian rupa sehingga dihasilkan gambaran obyek yang sesuai dengan kondisisebenarnya di lapangan atau pada peta topografi. Pada koreksi geometrik terjadi

    pengalihan posisi (relokasi) seluruh piksel pada citra sehingga membentuk konfigurasi piksel

    baru yang dipersepsikan sebagai citra.

    Koreksi geometrik ini dilakukan dengan menggunakan rujukan titik-titik tertentu pada peta

    (peta topografi) yang mempunyai posisi kenampakan yang sama dengan titik-titik yang ada

    pada citra. Pasangan titik-titik tersebut kemudian digunakan untuk membangun fungsi

    matematis yang menyatakan hubungan posisi sembarang titik pada citra dengan titik yang

    sama pada peta. Hasilnya adalah citra digital yang memiliki koordinat baru dan konfigurasi

    piksel yang baru. Perubahan posisi piksel ini secara otomatis menyebabkan perubahan nilai

    spektral dan menyebabkan citra digital memiliki kesalahan radiometrik kembali, sehingga

    perlu dilakukan penataan ulang piksel-piksel yang berubah tersebut. Metode yang

    diterapkan untuk mengembalikan posisi piksel-piksel citra digital adalah interpolasi nilai

    piksel citra atau disebut resampling.

    - Penajaman Citra

    Penajaman citra yang lazim digunakan ada dua, yakni ekualisasi histogram dan perentangan

    linear. Teknik equalisasi histogram akan memberikan efek kontras yang tajam (kontras

    maksimum) pada citra, sehingga perbedaan antara obyek yang satu dengan obyek lainnya

    akan lebih jelas. Teknik ini lebih rumit dari perentangan linear karena menggunakan

    hitungan statistik.

    Perentangan linear baik untuk mempertajam kenampakan obyek tertentu yang terwakili

    oleh histogram. Teknik ini dapat dilakukan secara interaktif dengan melihat distribusi nilai

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    13/86

    citra asli (nilai maksimum dan minimum), kemudian nilai minimum ditarik ke titik nol dan

    nilai maksimum ditarik ke titik 255. Untuk citra multispektral, perentangan dilakukan

    terhadap band merah, hijau dan biru dalam komposisi warna RGB. Metode perentangan ini

    sangat bermanfaat untuk kajian terumbu karang, pengenalan obyek secara visual maupun

    penentuan titik referensi lapangan pada citra resolusi tinggi. Secara teknis penajaman

    kontras ini dapat dilakukan dengan software ArcGIS pada modul Raster Processing .

    Gambar 1 Citra asli dan hasil penajaman kontras menggunakan metode Minimum-

    Maksimum pada citra Quickbird Pulau Miangas.

    b. Interpretasi dan Delineasi

    Interpretasi citra satelit merupakan salah satu tahap identifikasi potensi pulau yang

    dilakukan sebelum survei lapangan. Interpretasi citra satelit merupakan serangkaian

    kegiatan identifikasi, pengukuran dan penterjemahan data-data dari data penginderaan

    jauh untuk memperoleh informasi yang memiliki makna. Data yang diperoleh melalui

    interpretasi citra antara lain penutupan lahan, tutupan mangrove, terumbu karang dan

    padang lamun.

    Hasil interpretasi penutupan lahan, tutupan mangrove dan terumbu karang menghasilkan

    peta tentatif yang digunakan untuk menentukan sampel yang akan dicek di lapangan. Hasil

    penentuan sampel bersama dengan informasi dasar lainnya digunakan sebagai peta kerja

    untuk acuan ground check .

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    14/86

    - Penutupan Lahan

    Penutupan lahan adalah aktivitas manusia pada dan dalam kaitannya dengan lahan, yang

    bersifat dinamis dan biasanya tidak tampak secara langsung dari citra penginderaan jauh.

    Interpretasi penggunaan lahan pada citra penginderaan jauh dilakukan dengan pendekatan

    9 (sembilan) unsur interpretasi citra yaitu rona/warna, bentuk, ukuran, tekstur, pola,

    bayangan, situs, asosiasi, dan konvergensi bukti.

    Interpretasi citra untuk menghasilkan jenis-jenis penggunaan lahan pulau berbasis

    Penginderaan Jarak Jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) . Klasifikasi penggunaan lahan

    pulau harus mempertimbangkan hirarki pemetaan, misalnya citra yang beresolusi sedang

    seperti SPOT akan menghasilkan kelas yang berbeda dengan citra resolusi tinggi, seperti

    Ikonos, Quickbird, WorldView, dan lain-lain.

    Hasil interprestasi penutupan lahan ( landcover ) paling tidak menghasilkan 7 (tujuh)

    klasifikasi penutupan lahan, yaitu: hutan, perkebunan, pemukiman, semak, rumput, lahan

    terbuka dan air, seperti Gambar2.

    Gambar 2 Contoh peta penutupan lahan Pulau Parang Kabupaten Jepara dari hasilinterpretasi citra satelit.

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    15/86

    - Terumbu Karang dan Padang Lamun

    Distribusi spasial karakteristik ekosistem terumbu karang dan padang lamun dapat

    diinterpretasi dari citra satelit dengan menggunakan beberapa pendekatan seperti

    komposit band dan penajaman citra dengan Algoritma Depth Invariant Index . Algoritma

    ini mengaplikasikan metode koreksi kolom air yang dikenal dengan Algoritma Lyzenga

    (1981). Metode ini efektif untuk meningkatkan kualitas identifikasi dan klasifikasi habitat

    dasar perairan dangkal secara tematik. Persamaan Algoritma Depth Invariant Index

    diturunkan sebagai berikut:

    Y = Ln B1 – (ki/kj) Ln B2

    kikj = + (

    2 + 1 ) = i− j

    2

    Dimana : Y = Indeks dasar perairan; B = Band; Ki/kj = koefisien atenuasii = Variance Band ke i; i = Variance Band ke j; = Covar Band ke ij

    Hasil interprestasi distribusi terumbu karang dan lamun paling tidak menghasilkan 4

    (empat) klasifikasi , yaitu: karang hidup, karang mati, pasir dan lamun. Seperti Gambar 3

    contoh Peta tentatif sebaran terumbu karang dan padang lamun ditampilkan dalam gambar

    berikut:

    Gambar 3 Citra satelit Pulau Parang Kabupaten Jepara, sebagai data dasar dalam

    interpretasi terumbu karang dan lamun.

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    16/86

    - Mangrove

    Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menginterpretasi kerapatan dan luasan

    ekosistem mangrove dengan citra satelit yaitu visual analyze. Pemetaan ini dimaksudkan

    untuk mendelineasi mangrove melalui interpretasi citra satelit. Kriteria kerapatan

    mangrove berdasarkan hasil interpretasi seperti pada Tabel 1 dibawah ini

    Tabel 1 Kriteria kerapatan mangrove

    Klasifikasi KerapatanMangrove

    Persen Penutupan Tajuk (%)(interpretasi citra)

    Rapat/tinggi >= 75

    Sedang >= 50 -

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    17/86

    3.1.2 Pengumpulan dan pengolahan data kondisi lokasi

    Pengumpulan dan pengolahan data lokasi dilakukan dengan pengumpulan bahan referensi

    dari instansi terkait atau melalui internet. Hasil penelitian dan pendataan yang pernahdilakukan oleh berbagai instansi dapat dijadikan referensi awal kondisi pulau dan sejauh

    mana kegiatan identifikasi potensi dan pemetaan pulau-pulau kecil yang telah dilakukan.

    Data yang dikumpulkan diantaranya kondisi umum pulau, status kawasan, kepemilikan

    pulau, iklim, oceanografi, genesis pulau, geologi dan kerentanan bencana.

    3.1.3 Penetapan Lokasi, Jumlah dan Metode Sampling

    a. Penentuan Lokasi Sampel

    Sampel lapangan untuk uji interpretasi penggunaan lahan, mangrove, terumbu karang dan

    padang lamun ditentukan berdasarkan metode stratified proporsional random sampling .

    Dengan menggunakan metode ini, unit terkecil dalam penentuan sampel adalah hasil

    klasifikasi tiap jenis obyek pada setiap peta. Contoh desain lokasi sampel untuk berbagai

    tema peta seperti pada Gambar 5, 6 dan 7 :

    Gambar 5 Contoh desain lokasi sampel lapangan untuk uji hasil interpretasi penggunaanlahan dari Citra Satelit Quickbird Pulau Lingayan.

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    18/86

    Gambar 6 Contoh desain lokasi sampel lapangan untuk uji hasil interpretasi terumbukarang Pulau Miangas.

    Gambar 7 Contoh desain lokasi sampel lapangan untuk uji hasil interpretasi penutuplahan mangrove dari Citra Satelit Quickbird Pulau Kelor.

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    19/86

    b. Penentuan Jumlah Sampel

    Jumlah sampel diambil secara proporsional sesuai dengan luas tiap kelas dari masing-

    masing tema peta yaitu peta penggunaan lahan, terumbu karang, padang lamun dan

    mangrove.

    c. Metode Pengamatan dan Pengukuran

    - Penutupan Lahan

    Uji hasil interpretasi penutupan lahan dilakukan di setiap lokasi sampel dengan cara

    pengamatan secara visual dan pencocokan antara hasil interpretasi citra satelit dengan

    kondisi nyata di lapangan. Lokasi pengambilan sampel lapangan harus sesuai dengan titik-

    titik sampel yang telah ditentukan sebelumnya. Koordinat lokasi sampel di lapangan diukur

    dengan GPS. Hasil uji interpretasi dimasukkan dalam formulir/ceklist uji interpretasi

    penggunaan lahan. Hasil pengujian lapangan digunakan untuk reinterpretasi atau perbaikan

    hasil interpretasi penutupan lahan.

    Tabel 2 Contoh ceklist lokasi dan koordinat sampel untuk uji hasil interpretasi penutupanlahan di lapangan.

    No SampelKoordinat

    (Lintang & Bujur)

    Jenis Penutupan Lahan

    Hasil Interpretasi Hasil Uji Lapangan1 A 0o 69’ 10” LU dan 120 o

    15’ 4” BT

    Hutan Tanah terbuka

    2

    3

    dst

    - Terumbu Karang dan Padang Lamun

    Pengukuran obyek perairan dasar meliputi identifikasi visual untuk memperkirakan jenis

    tutupan dari berbagai obyek dasar seperti terumbu karang dan padang lamun. Perkirakan

    tutupan obyek dilakukan dengan metode Rapid Reef Assessment (RRA).

    Pengukuran kondisi obyek perairan dasar dilakukan dengan metode Transek Garis

    Menyinggung ( Line Intercept Transect ) untuk menghitung persentase penutupan substrat

    dasar dengan mengukur transisi di sepanjang 50 meter setiap kategori substrat. Hasil akhir

    dari pengolahan ini adalah berupa persen penutupan baik bentuk pertumbuhan ataupun

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    20/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    21/86

    Metode pengukuran di lapangan diuraikan sebagai berikut:

    • Tubuh Air atau Air Permukaan

    Pengukuran air permukaan dilakukan dengan cara pengamatan langsung pada lokasi

    dimana terdapat air permukaan di lapangan, misalnya pada waduk atau aliran sungai.

    • Air Tanah

    Pengukuran air tanah dilakukan secara langsung di lapangan dengan cara survei di lokasi

    sumur yang ada di pulau. Untuk memudahkan penentuan lokasi sampel sumur yang akan

    diukur, perlu dilakukan wawancara dengan penduduk setempat mengenai jumlah dan

    sebaran sumur yang ada di pulau dan perkiraan kedalamannya. Selain itu perlu diketahui

    jenis batuan disekitar sumur untuk mengetahui kondisi porositas (daya serap air). Samplingsumur ditentukan berdasarkan lokasi ketersebaran dan kedalamannya.

    3.2. Jenis Data

    Data yang dikumpulkan dalam kegiatan identifikasi potensi pulau sangat banyak dan

    beragam. Data-data ini perlu diklasifikasikan terlebih dahulu menjadi dua jenis yaitu data

    spasial dan non-spasial. Data spasial merupakan data yang mempunyai referensi dan/atau

    informasi lokasi dalam kedudukannya di ruang muka bumi, sedangkan data non-spasialmerupakan data yang tidak mempunyai referensi atau informasi lokasi dalam

    kedudukannya di ruang muka bumi, yang meliputi data statistik dan informasi deskriptif.

    Data-data yang diambil dalam pelaksanaan survei dapat dilihat pada tabel berikut:

    Tabel 4 Jenis data dalam kegiatan survei identifikasi dan pemetaan potensi sumberdayapulau-pulau kecil

    No Jenis data UraianMetode Perolehan Data

    Primer Sekunder1 Kondisi Umum

    Pulaua. Nama Pulau (Termasuk Nama

    Lain Pulau)Keterangan mengenai namapulau menurut masyarakatsetempat dan dicocokkandengan nama pulau hasilverifikasi Tim NasionalPembakuan Nama Rupabumi.

    Wawancara Studiliteratur

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    22/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    23/86

    No Jenis data UraianMetode Perolehan Data

    Primer Sekunderh. Status Pulau

    Berisi informasi mengenai status

    hukum kepemilikan pulau, statuskepemilikan ulayat/adat, ataukepemilikan pihak swasta/asing.

    KementerianKelautan &

    Perikanan,BPN, Pemda

    2 Klimatologi a. IklimKeterangan tentang kondisi iklim,meliputi:- Curah hujan

    Berisi data mengenai kondisicurah hujan bulanan dantahunan (mm/tahun).

    BMKGTerdekat,Syahbandar,Dishidros TNIAL

    - Kelembaban relatifUraian mengenai kondisikelembaban relatif dalamkurun waktu tertentu(bulanan atau tahunan).

    BMKGTerdekat,Syahbandar,Dishidros TNIAL

    - Suhu udaraKondisi rerata suhu udaradalam kisaran waktu tertentu(bulanan atau tahunan).

    BMKG

    - Arah anginBerisi data mengenai arahangin dan kisaran waktupergantian angin perbulanselama satu tahun (AnginBarat, Timur, Selatan danUtara).

    BMKG

    3 Oseanografi - Pola ArusData sekunder mengenaikecepatan dan arah arusdalam kisaran waktu tertentu

    (tahunan) hubungannyadengan kondisi angin dangelombang laut sertadampaknya terhadap polaperikanan tangkap.

    Survei Lapangan Dishidros TNIAL, BMKGTerdekat

    - GelombangData mengenai tinggigelombang dalam kisaranwaktu tertentu (tahunan).

    Survei Lapangan BMKG

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    24/86

    No Jenis data UraianMetode Perolehan Data

    Primer Sekunder- Pasang Surut

    Data mengenai perbedaann

    tinggi muka air laut hariandan bulanan dan arahpergerakan air saat pasangsurut di sekitar pulau.

    Survei Lapangan Dishidros TNIAL, BMKG

    Terdekat,Syahbandar,B akosurtanal

    - Bathimetri SurveiLapangan

    Dishidros TNIAL,Bakosurtanal

    4 Hidrologi(Optional)

    Identifikasi keberadaan dan kondisiair tawar di pulau, meliputi:

    a. Air permukaan/tubuh airKeberadaan dan fisik pengaliranair tawar (Sungai, danau, rawa,mata air, kolam penampungan,dll) dan kapasitas sumber airtawar (kualitatif)

    SurveiLapangan,wawancara

    b. Air tanah (potensi danketerbatasan)Gambaran kualitatif potensi danketerbatasan air tanah di pulau,dapat dilihat dari kondisi airsumur yang ada di pulau pada

    waktu musim hujan maupunmusim kemarau.

    SurveiLapangan,wawancara

    5 Keadaan FisikPulau

    a. TopografiData mengenai gambaran bentukpermukaan pulau terkait dengankemiringan relatif pulau, terdiridari datar, landai, bergelombang,berbukit dan bergunung.

    SurveiLapangan

    Bakosurtanal,Dittopad

    b. Bentuk Lahan/GeomorfologiData mengenai bentukpermukaan pulau akibat prosesgeomorfologi atau pembentukanpermukaan pulau, misalnyaakibat proses pengendapanfluvial dan erosi

    SurveiLapangan,interpretasicitra

    Bakosurtanal,DishidrosdanInstansiLainnya

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    25/86

    No Jenis data UraianMetode Perolehan Data

    Primer Sekunderc. Asal-usul (Genesis) Pulau

    Informasi asal-usul pembentukan

    pulau, misalnya pulau benua,pulau vulkanik, pulau karangtimbul, dan pulausedimen/pengendapan materialdasar laut

    SurveiLapangan

    PuslitbangGeologi

    KementerianESDM, LIPI

    d. Penutupan Lahan ( Landcover )

    Data mengenai penutupan lahanmeliputi kelas-kelas penggunaanlahan dan luas tiap kelaspenggunaan lahan yang ada di

    pulau (Km 2 atau Hektar)

    SurveiLapangan,interpretasicitra

    Bakosurtanal

    e. Kemiringan Lereng ( optional )Data mengenai kelas kemiringanlereng pulau, meliputi datar (0 - 3%), landai (3 - 8 %), miring (8 – 15%), terjal (> 15 %). Datakemiringan lereng perludicocokkan dengan hasilpenurunan kemiringan lerengdari data tiga dimensi pulau

    SurveiLapangan

    Bakosurtanal

    f. Morfologi pantaiUraian mengenai tipe dan jenismaterial penyusun pantai,misalnya pantai berpasir, pantaiberlumpur, pantai bervegetasimangrove dll

    SurveiLapangan,interpretasicitra

    Bakosurtanal

    g. GeologiInformasi mengenai jenis batuandasar penyusun pulau

    SurveiLapangan

    PuslitbangGeologiKementerianESDM,Bakosurtanal

    6 Ekosistem danSumberdayaHayati Pesisir

    a. Terumbu karangData terumbu karang yangdiambil meliputi jenis, persenpenutupan, dan biota asosiasi.Sebaran terumbu karang dengankondisi baik, sedang dan burukdiperoleh melalui interpretasicitra dan ground check .

    SurveiLapangan,interpretasicitra (sebaran)

    LIPI,PerguruanTinggi danLembagaPenelitian

    b. LamunBerisi informasi mengenai jenis

    SurveiLapangan,

    sda

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    26/86

    No Jenis data UraianMetode Perolehan Data

    Primer Sekunderlamun, kerapatan jenis, dankerapatan rata-rata serta

    sebaran spasial di perairansekitar pulau, serta biota yangberasosiasi.

    interpretasicitra (sebaran)

    c. MangroveUraian mengenai jenis, komposisi

    jenis, kerapatan jenis, frekuensi jenis, luas area penutupan, nilaipenting jenis, dan biota yangberasosiasi.

    SurveiLapangan,interpretasicitra (sebaran)

    LIPI,PerguruanTinggi,Litbangkementeriandan LembagaPenelitian

    d. Vegetasi PantaiUraian mengenai jenis dan luasformasi vegetasi (M 2 atau Km 2)dan biota yang berasosiasi

    SurveiLapangan,interpretasicitra (sebaran)

    LIPI,PerguruanTinggi,Litbangkementeriandan LembagaPenelitian

    7 SumberdayaNon-HayatiPesisir

    a. Mineral/TambangData mineral tambang di daratandan perairan pulau, misal nikel,bauksit, timah, batubara dll

    SurveiLapangan,Wawancara

    KementerianESDM

    b. Energi Kelautan

    Identifikasi potensi energikelautan yang bersifat non-exhaustive (tak pernah habis),seperti energi angin, gelombang,panas bumi dan OTEC ( OceanThermal Energy Conversion )

    Survei

    Lapangan,Wawancara

    Kementerian

    ESDM, LIPI,PerguruanTinggi

    8 Kualitas perairan a. Fisika perairanBerisi informasi mengenaikedalaman laut, kecerahan air,kekeruhan dan temperatur/suhuperairan.

    SurveiLapangan

    Dishidros,LIPI,PerguruanTinggi,

    Litbangkementeriandan LembagaPenelitian.

    b. Kimia perairanData kimia perairan yang diambilmeliputi padatan pH, salinitas,oksigen terlarut (DO),Untuk pulau-pulau kecil yang adaaktivitas dan bekaspertambangan dilakukan

    pengukuran Ammonia (NH 3 -N)+,

    SurveiLapangan

    PerguruanTinggi,Litbangkementeriandan LembagaPenelitian.,BAPEDALDA

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    27/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    28/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    29/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    30/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    31/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    32/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    33/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    34/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    35/86

    Pengambilan data terumbu karang dilakukan dengan penyelaman ( Scuba Dive ) pada lokasi

    yang sudah ditentukan berdasarkan hasil identifikasi lokasi penyelaman. Metode

    pengambilan data biofisik terumbu karang untuk menentukan komunitas bentik sesil di

    terumbu karang berdasarkan bentuk pertumbuhan ( life-form ) dalam satuan persen, dan

    mencatat jumlah biota bentik yang ada sepanjang garis transek menggunakan metode line

    intercept transect (LIT) mengikuti English et al. (1997). LIT ditentukan pada garis transek 0-

    50 m. Seluruh biota dan substrat yang berada tepat di garis tersebut dicatat dengan

    ketelitian tiap sentimeter. Identifikasi biota pengisi habitat dasar didasarkan pada bentuk

    pertumbuhan ( life-form ) dengan kode identifikasi mengacu pada English et al. (1997) dan

    Veron (2000).

    Metode ini melibatkan dua orang penyelam, dimana penyelam pertama yang

    membentangkan rollmeter sejajar dengan garis pantai dan penyelam kedua melakukan

    pengukuran transisi substrat dasar. Garis transek dimulai dari kedalaman dimana masih

    ditemukan terumbu karang (± 25 m) sampai di daerah pantai mengikuti pola kedalaman

    garis kontur. Umumnya dilakukan pada tiga kedalaman yaitu 3 m, 5 m dan 10 m,

    tergantung keberadaan karang pada lokasi di masing-masing kedalaman. Panjang transek

    digunakan 30 m atau 50 m yang penempatannya sejajar dengan garis pantai pulau.

    Gambar 10 Cara pencatatan data koloni karang pada metode transek garis (English et al,1994).

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    36/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    37/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    38/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    39/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    40/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    41/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    42/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    43/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    44/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    45/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    46/86

    dimana D i adalah kerapatan jenis i, n i adalah jumlah total individu dari jenis i dan A

    adalah luas total area pengambilan contoh (luas total petak contoh/plot).• Penutupan Spesies ( PC i) adalah perbandingan antara luas area penutupan jenis i (C i)

    dan luas total area penutupan untuk seluruh jenis (A) :

    PCi = (Ci / A) x 100

    d. Mangrove

    Berdasarkan data-data mangrove yang telah diidentifikasi di lapangan berupa spesies,

    jumlah individu dan diameter pohon, dilakukan pengolahan lebih lanjut untuk memperoleh

    kerapatan jenis, frekuensi jenis, luas area penutupan, dan nilai penting jenis suatu spesies

    dan keanekaragaman spesies.

    ● Kerapatan Jenis (D i) adalah jumlah tegakan jenis i dalam suatu unit area:

    Di = n i / A

    dimana D i adalah kerapatan jenis i, n i adalah jumlah total individu dari jenis i dan A

    adalah luas total area pengambilan contoh (luas total petak contoh/plot)● Kerapatan Relatif jenis (RD i) adalah perbandingan antara jumlah tegakan jenis i (n i ) dan

    jumlah total tegakan seluruh jenis (∑ n):

    RDi= ( n i∑ n)x 100 ● Frekuensi Jenis (F i) adalah peluang ditemukannya jenis i dalam petak contoh/ plot yang

    diamati:

    Fi= p i/∑p

    Dimana, F i adalah frekuensi jenis i, p i adalah jumlah petak contoh/ plot dimana

    ditemukan jenis i, dan p adalah jumlah total petak contoh/plot yang diamati.● Frekuensi Relatif Jenis (RF i) adalah perbandingan antara frekeunsi jenis i (F i) dan jumlah

    frekuensi untuk seluruh jenis (∑F):

    RFi= (Fi/∑F)x 100 ● Penutupan jenis (C i) adalah jenis luas penutupan jenis i dalam suatu unit area:

    Ci=∑BA/A

    Dimana BA= πDBH2/4 (dalam cm 2), π (3,1416) adalah suatu konstanta dan DBH adalah

    diameter batang pohon dari jenis i,A adalah luas area pengambilan contoh (luas totalpetak contoh/ plot). DBH= CBH adalah lingkaran pohon setinggi dada.

    ● Penutupan Relatif Jenis ( RC i) adalah perbandingan antara luas area penutupan jenis i

    (Ci) dan luas total area penutupan untuk seluruh jenis (∑C) :

    RCi = (Ci / ∑C) x 100 ● Jumlah nilai kerapatan relatif jenis ( RD i), frekuensi relatif jenis (RF i), dan penutupan

    relatif jenis (RC i) menunjukkan Indeks Nilai Penting (INP i):

    INPi = RDi + RFi + RCi

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    47/86

    Nilai penting suatu jenis berkisar antara 0 dan 300. Nilai penting ini memberikan suatu

    gambaran mengenai pengaruh atau peranan suatu jenis tumbuhan mangrove dalam

    komunitas mangrove.• Indeks Keanekaragaman (H’). Keanekaragaman jenis ( species diversity ) vegetasi

    mangrove ditentukan dengan indeks Keanekaragaman Shanon-Wiener (H’) (Odum,

    1971) dengan formula sebegai berikut :

    H’ = -∑ Pi ln P i

    dimana : H’ = Indeks Keanekaragaman

    P i = (n i / N)

    n i = jumlah individu dari jenis ke-i

    N = jumlah total seluruh individu

    Kisaran nilai indeks keanekaragaman Shannon Wienner diklasifikasikan sebagai berikut :

    H’ < 1 = Keanekaragaman jenis kecil dan komunitas rendah

    H’ < 1 < 3 = Keanekaragaman jenis sedang dan komunitas sedang

    H’ > 3 = Keanekaragaman jenis tinggi dan komunitas tinggi

    • Indeks Kemerataan (E). Keseragaman jenis vegetasi mangrove ditentukan denganindeks kemerataan (Brower and Zar, 1977), dengan formula sebagai berikut :

    E = H’ / H maks’

    H maks’ = ln SDimana ;

    H’ = Indeks Keanekaragaman

    S = Jumlah Jenis

    Nilai keseragaman berkisar antara 0 – 1. Apabila nilai E mendekati 0, maka sebaran

    individu antara jenis tidak merata dan apabila nilai E mendekati 1, maka sebaran

    individu antara jenis merata.

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    48/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    49/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    50/86

    Tabel 12 Matriks hasil analisis SWOT

    Peluang Ancaman

    Kekuatan SO1SO2

    SO3

    SOn

    ST1

    ST2

    ST3

    STn

    Kelemahan WO1

    WO2

    WO3

    WOn

    WT1

    WT2

    WT3

    WTn

    Tabel 13. Ranking alternatif pemanfaatan

    No Unsur SWOT KeterkaitanJumlahBobot

    Rangking

    Pemanfaatan SO

    1. SO1 S1, S2, S., Sn , O1, O2, O., On

    2. SO2 S1,S2,Sn, O1, O2, Sn

    3. SO3 S1, S2, S4, Sn, O1, O2, On

    Pemanfaatan ST

    4. ST1 S1, S2, Sn, T1, T2,Tn

    Pemanfaatan WO

    5. WO1 W1, W2, Wn, O1, O2, Wn

    6. WO2 W1, W2, Wn, O1, O2, On

    7. WO3 W1, W2, Wn, O1, O2, On

    Pemanfaatan WT

    8. WT1 W1, W2, Wn, T1, T2,

    9. WT2 W1, W2, Wn, T1, T2, Tn

    10. WT3 W1, W2, Wn, T1 , T2, Tn

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    51/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    52/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    53/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    54/86

    f. Pertambangan Non Ekstraktif

    g. Industri

    h. Pariwisata

    VI. Lingkungan

    a. Kualitas Perairan

    - Fisika Perairan (3 Sampel Kedalaman)

    - Kimia Perairan (3 Sampel Kedalaman)

    b. Permasalahan Lingkungan

    - Kerentanan Bencana dan Upaya Mitigasi

    VII. Sarana dan Prasarana

    - Sarana Transportasi

    - Sarana Penerangan

    - Sarana Air Bersih

    - Sarana Kesehatan

    - Sarana Pendidikan

    - Sarana Peribadatan

    - Sarana Pendukung Kepemerintahan

    - Sarana Pendukung Wisata

    - Sarana Sanitasi Lingkungan

    - Sarana Perikanan dan Kelautan

    VIII. Peluang Investasi

    - Jenis Kegiatan Investasi yang sudah berkembang

    - Kegiatan Promosi yang sudah dilakukan- Peraturan tentang Investasi

    - Profil investor yang sudah menanamkan modalnya di lokasi pulau

    - Kendala umum yang dihadapi dalam mewujudkan kegiatan investasi

    - Langkah-langkah yang telah diambil dalam menghadapi permasalahan

    IX. Potensi dan Arahan Pengembangan

    - Potensi Pengembangan Pulau

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    55/86

    - Arahan Pengembangan Pulau dari Hasil Analisis (Metode SWOT)

    - Arahan Pengembangan Pulau oleh Masyarakat

    X. Kendala Pengembangan

    - Kendala Pengembangan Pulau

    Susunan laporan terdiri dari Peta-peta, Dokumentasi survei dan Data hasil survey. Prosedur

    penyajian peta (data spasial) dalam pedoman ini mengacu pada Kepmen Kelautan dan

    Perikanan No. 15 Tahun 2006 yang mengatur mengenai Sistem Datum, Proyeksi dan Grid

    Peta, Simbol dan/atau Notasi Unsur, Sistem Penomoran Indeks Peta, dan Layout (Komposisi

    Peta) dan penyajian data non spasial dilakukan dengan beberapa cara, yaitu tabel, grafik,deskripsi, dan audiovisual. Peta-peta, dokumentasi survei dan data hasil survey yang

    disajikan meliputi:

    1. Peta

    a. Peta Administatif Pulau

    b. Peta Citra Satelit Lokasi Pulau

    c. Peta Penggunaan Lahan

    d. Peta Tutupan Mangrove

    e. Peta Sebaran Terumbu Karang

    f. Peta Sebaran Padang lamun

    g. Peta Vegetasi Pantai

    h. Peta Lokasi Sampel Penggunaan Lahan

    i. Peta Lokasi Sampel Tutupan Mangrove

    j. Peta Lokasi Sampel Terumbu Karang

    k. Peta Lokasi Sampel Padang lamunl. Peta Lokasi Sampel Air Tanah

    m. Peta Sebaran Kedalaman Air tanah ( Isodepth )

    n. Peta Sebaran Salinitas Air Tanah ( Isosaline )

    2. Dokumentasi Kegiatan

    a. Foto hasil survei lapangan

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    56/86

    3. Data Hasil Survei

    a. Titik koordinat pengambilan sampel lapangan

    - Penggunaan Lahan

    - Tutupan Mangrove

    - Terumbu karang

    - Padang Lamun

    - Vegetasi Pantai

    - Air Tanah (Lokasi Sumur)

    b. Titik koordinat sarana dan prasarana di pulau

    c. Catatan lapangan (Scan)

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    57/86

    BAB VIIIPENUTUP

    Kegiatan identifikasi potensi sumberdaya pulau-pulau kecil merupakan tugas Pemerintah,Pemerintah Daerah dan Stakeholder dalam rangka penyediaan data dan informasi awal

    pengelolaan pulau-pulau kecil sebagaimana diamanatkan oleh UU Pengelolaan Wilayah

    Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, PP tentang Pemanfaatan PPK Terluar, Permen mengenai

    Rencana Zonasi Wilayah Pulau-Pulau Kecil, dan Permen mengenai Pemanfaatan Pulau-

    pulau Kecil dan Perairan disekitarnya.

    Kegiatan identifikasi potensi merupakan kegiatan yang strategis sehingga dibutuhkan

    panduan yang sama bagi pelaksana di lapangan. Panduan yang lengkap dan sistematisdapat memberikan landasan dalam pembentukan persepsi dan tindakan yang sama bagi

    para pelaksana dalam mengidentifikasi dan memetakan potensi sumberdaya serta

    menyusun rekomendasi pengelolaan pulau-pulau kecil.

    Pedoman Identifikasi dan Pemetaan Potensi Sumberdaya Pulau-pulau Kecil diharapkan

    mampu mengarahkan upaya penyediaan informasi potensi sumberdaya secara lengkap dan

    akurat sehingga mampu menunjang upaya optimalisasi pengelolaan pulau-pulau kecil di

    masa yang akan datang.

    DIREKTUR JENDERAL

    KELAUTAN, PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL,

    ttd.

    SUDIRMAN SAAD

    Disalin sesuai dengan aslinya

    Kabag Hukum, Organisasi dan Humas

    Hanung Cahyono

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    58/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    59/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    60/86

    Kuesioner Identifikasi dan Pemetaan Potensi Sumberdaya PPK1

    KUISIONER

    Nama Surveyor :

    Tanggal :

    Nama Pulau :

    Nama Desa :

    Nama Kecamatan :

    Nama Kabupaten :

    Nama Provinsi :

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    61/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    62/86

    Kuesioner Identifikasi dan Pemetaan Potensi Sumberdaya PPK3

    A. Kondisi Umum PulauNama Pulau :Sejarah NamaPulau (Jika Ada)

    :

    Letak Geografis : LS . . . . , LU . . . . , BB . . . . , BT . . . .Letak Administratif(Mulai yangterendah)

    :

    Luas Pulau : ........................Hektar atau Km 2

    Batas WilayahPulau

    : Utara................................................................Selatan.............................................................Barat................................................................Timur................................................................

    Aksesibilitas : Dari Ke Sarana Transportasi Jarak dan WaktuTempuh

    Provinsi Kabupaten ...................................... ..........................

    Kabupaten Kecamatan ...................................... ..........................

    Kecamatan Lokasi Pulau ..................................... ..........................

    Status Kawasan a. Kawasan Konservasi Perairanb. Kawasan Taman Nasional Lautc. Kawasan Strategis Nasionald. Lain-lain……………………………………………

    Status Pulau a. Pemerintah/Pemerintah Daerahb. Hak ulayat/adatc. Swasta/asingd. Lain-lain………………………………………….

    Memiliki RencanaTata RuangWilayah (RTRW)

    : Ya/Tidak

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    63/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    64/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    65/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    66/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    67/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    68/86

    Kuesioner Identifikasi dan Pemetaan Potensi Sumberdaya PPK9

    5. Jenis Biota Endemik/Langka

    No. Biota Mangrove Biota Non Mangrove Keterangan1.

    2.3.4.5.

    6. Program yang telah dilakukan dalam kaitan dengan kelestarian kawasan

    No. Program Kawasan1.2.3.4.5.

    C. Vegetasi PantaiFormasi Jenis Luas Formasi (m 2) Biota yang Berasosiasi

    Pes Caprae a. Kangkung lautb. Rumput anginc. Bakungd. Pandane. Bebakauan

    Barringtonia a. Nyamplungb. Pandanc. Mengkudud. Kepuhe. Ketapangf. Pakis hajig. Dadap

    h.

    Warui. Cemara Laut

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    69/86

    Kuesioner Identifikasi dan Pemetaan Potensi Sumberdaya PPK10

    IV. SUMBERDAYANON HAYATI PESISIR

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    70/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    71/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    72/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    73/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    74/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    75/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    76/86

    Kuesioner Identifikasi dan Pemetaan Potensi Sumberdaya PPK17

    VI. LINGKUNGAN

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    77/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    78/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    79/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    80/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    81/86

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    82/86

    Kuesioner Identifikasi dan Pemetaan Potensi Sumberdaya PPK23

    VIII. PELUANGINVESTASI

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    83/86

    Kuesioner Identifikasi dan Pemetaan Potensi Sumberdaya PPK24

    - Jenis Kegiatan Investasi yang sudah berkembang

    Jenis Kegiatan InvestasiPemilik

    Usaha/AsalKebangsaan

    Lokasi Usaha Nilai InvestasiJumlah Tenaga

    Kerja

    a. Bidang Kelautan dan Perikanan

    • Penangkapan1. Tuna2. ...................3. ...................

    • Budidaya1. Kerapu2. ...................3. ...................

    • Pengolahan1. Terasi2. ...................3. ...................

    • Lain-lainb. Bidang Pariwisata

    • Penginapan• Diving• Surfing• Lain-lain

    c. Bidang ................. • .................• .................• .................

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    84/86

    Kuesioner Identifikasi dan Pemetaan Potensi Sumberdaya PPK25

    - Profil investor yang sudah menanamkan modalnya di lokasi pulau

    Nama Perusahaan : ...........................................................................

    Nama Pemilik : ..........................................................................

    Jenis Investasi : 1. PMDN2. PMA (asal negara).........................................

    Alamat Perusahaan : ...........................................................................

    Kegiatan Usaha : ...........................................................................

    Nilai Investasi (Rp.) : ...........................................................................

    Status Perizinan/Nomor Perizinan : ...........................................................................

    Pola/model investasi yang dilakukan

    a. Keterlibatan masyarakat : ...........................................................................

    b. Sharing terhadap PEMDA : ...........................................................................

    c. CSR (Company SocialResponsibility )

    :...........................................................................

    Masa Berlaku Perizinan : ...........................................................................

    - Kendala umum yang dihadapi dalam mewujudkan kegiatan investasi

    1. ........................................................................... …………………………………………

    2. ........................................................................... …………………………………………

    3. ........................................................................... …………………………………………

    4. ........................................................................... …………………………………………

    5. ........................................................................... …………………………………………

    dst ........................................................................... …………………………………………

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    85/86

    Kuesioner Identifikasi dan Pemetaan Potensi Sumberdaya PPK26

    IX. POTENSIPENGEMBANGAN

    PULAU

  • 8/15/2019 Pedum Identifikasi Ppk

    86/86

    Potensi Pengembangan Pulau

    No.Potensi

    JenisPengembangan

    Arahan Pengembanganoleh Masyarakat

    Keterangan

    1 Perikanan2 Perkebunan

    3 Pertanian

    4 Peternakan

    5 Pertambangan

    6 Perdagangan

    7 Perindustrian

    8 Pariwisata

    9 Konservasi

    10 Pendidikan dan Penelitian

    11 …