39
PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei KATA PENGANTAR Dengan mengucap puji dan syukur pada Dzat yang Maha Rahman dan Rahim, karena berkat hidayah dan inayah-Nya, bahan-bahan laporan hasil kegiatan praktik lapangan di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang dapat kami selesaikan. Dalam menyusun bahan-bahan ini, kami menyadari masih terdapat kekurangan, tiada lain karena keterbatasan kemampuan yang kami miliki. Oleh karena itu, mohon maaf yang sebesar-besarnya, mudah-mudahan Tuhan SWT mengampuni segala kekhilafan kita semua. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada para dosen yang telah memberikan materi pada masa perkuliahan berlangsung yang manfaatnya bisa diaflikasikan dalam kegiatan praktik ini. Dan pada kesempatan ini pula, kami mengucapkan terimaksih kepada : 1. Bapak Khoroni, Spi. Msi. selaku Kepala Departemen Perikanan Budidaya PPPPTK/P3G Pertanian dan penanggung jawab bidang peminatan akuakultur program Diploma IV Guru Kejuruan Pertanian. 2. Bapak Dede Suhendar selaku kepala BPBPLAPU Karawang yang telah menerima kami untuk melakukan praktik lapangan. 3. Bapak Yusuf selaku Kepala Tata Usaha yang selalu memberikan arahan dan dukungannya. 4. Bapak Adang Solihin selaku pembimbing lapangan dalam bidang budidaya Udang Vanamei, udang windu dan bandeng. 5. Bapak Eddy Supriady selaku pembimbing lapangan dalam bidang budidaya rumput laut. 6. Bapak Iwan Riswan selaku pembimbing lapangan dalam bidang budidaya udang galah.

Pembesaran Udang Vaname

Embed Size (px)

DESCRIPTION

LAPORAN

Citation preview

Page 1: Pembesaran Udang Vaname

PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji dan syukur pada Dzat yang Maha Rahman dan Rahim, karena berkat

hidayah dan inayah-Nya, bahan-bahan laporan hasil kegiatan praktik lapangan di Balai

Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang dapat kami selesaikan.

Dalam menyusun bahan-bahan ini, kami menyadari masih terdapat kekurangan, tiada lain

karena keterbatasan kemampuan yang kami miliki. Oleh karena itu, mohon maaf yang

sebesar-besarnya, mudah-mudahan Tuhan SWT mengampuni segala kekhilafan kita semua. 

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada para dosen yang telah

memberikan materi pada masa perkuliahan berlangsung yang manfaatnya bisa diaflikasikan

dalam kegiatan praktik ini. Dan pada kesempatan ini pula, kami mengucapkan terimaksih

kepada : 

1. Bapak Khoroni, Spi. Msi. selaku Kepala Departemen Perikanan Budidaya PPPPTK/P3G

Pertanian dan penanggung jawab bidang peminatan akuakultur program Diploma IV Guru

Kejuruan Pertanian.

2. Bapak Dede Suhendar selaku kepala BPBPLAPU Karawang yang telah menerima kami

untuk melakukan praktik lapangan.

3. Bapak Yusuf selaku Kepala Tata Usaha yang selalu memberikan arahan dan

dukungannya. 

4. Bapak Adang Solihin selaku pembimbing lapangan dalam bidang budidaya Udang

Vanamei, udang windu dan bandeng.

5. Bapak Eddy Supriady selaku pembimbing lapangan dalam bidang budidaya rumput laut.

6. Bapak Iwan Riswan selaku pembimbing lapangan dalam bidang budidaya udang galah.

7. bapak Eddy Sutrisno selaku pendamping dari Diploma Vedca Cianjur dalam praktik

lapangan di BPBPLAPU.

8. Para staf dan teknisi BPBPLAPU yang telah memberikan arahannya dan memberikan

sedikit pengalamamnya dilapangan dalam masa praktik berlangsung. 

9. Seluruh keluarga yang selalu memberikan dukungan motivasi dan do’a.

10. Serta semua pihak yang telah membantu sehingga terlaksananya kegiatan magang serta

terciptanya laporan ini. 

Page 2: Pembesaran Udang Vaname

Penulis menyadari dengan sepenuh hati, bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak

terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, besar harapan penulis menerima saran

dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca guna kesempurnaan dalam pembuatan

laporan selanjutnya.

Akhir kata Penulis sangat mengharapkan laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca

umumnya serta Penulis sendiri khusunya.

Cianjur, Desember 2008

Kelompok 2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… 

DAFTAR ISI …………………………………………………………… 

DAFTAR TABEL ……………………………………………………… 

Page 3: Pembesaran Udang Vaname

DAFTAR GAMBAR …………………………………………………… 

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang …………………………………………............... 

B. Tujuan …………………………………………………….............. 

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

A. Taksonomi Udang Vaname ……….............................................. 

B. Morfologi ………………………………………………………… 

1. Kepala (Thorax) …………………………….………………… 

2. Perut (Abdomen) ……………………………………………... 

C. Moulting ………………………………………………………..... 

1. Proses Moulting ………………………………………………. 

2. Faktor-Faktor Moulting ………………………………………. 

3. Kegagalan Moulting dan Pencegahannya …………………….. 

D. Tingkah Laku Makan …………………………………………… 

E. Pigmentasi ……………………………………………………….. 

BAB 3. METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat …………………………………………….. 

B. Metode Praktek Pembesaran ………………………………….. 

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 

A. Gambaran Umum Lokasi ………………………….................... 

1. Latar Belakang ………………………………………............. 

2. Lokasi …………………………………….............................. 

3. Sumber Daya Alam ……………………………..................... 

B. Hasil ……………………………………..................................... 

C. Pembahasan ………………………………………………........ 

1. Persiapan Lahan ....................................................................... 

2. Pemilihan Benur ...................................................................... 

3. Penebaran Benur ...................................................................... 

4. Pemberian Pakan ..................................................................... 

5.Sampling ..................................................................................

6. Pemberantasan Hama Penyakit ................................................ 

7. Pengelolaan Kualitas Air .......................................................... 

8. Pemanenan dan Penanganan Hasil .......................................... 

Page 4: Pembesaran Udang Vaname

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ……………………………….................................. 

B. Saran …………………………………………………………… 

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 

1. Fase Moulting Udang Vaname Dewasa 

2. Interval Moulting dan Penambahan Bobot Badan 

3. Tabel Pemberian Pakan (Blind Feeding)

4. Jenis Hama Tambak Udang Vaname menurut Golongannya 

5. Jenis dan Cara Pencegahan/Penanggulangan Hama 

DAFTAR GAMBAR

Gambar 

1. Udang Vaname 

2. Bagian Kepala (Thorax) 

3. Bagian Perut (Abdomen) 

4. Pengangkatan Lumpur 

5. Pengeringan Dasar Tambak 

6. Proses Penebaran dan Pembakaran Jerami 

7. Pemasangan Kincir Air 

8. Pemasangan Jembatan Anco 

9. Prosedur Aklimatisasi Benur 

10. Pemanenan dengan Jala

11. Pemanenan dengan Sudu

Page 5: Pembesaran Udang Vaname

BAB 1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Akuakultur merupakan sektor yang cukup produktif saat ini dan terus berkembang, dan

produktivitasnya mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan pangan manusia. Komoditas

akuakultur yang menjanjikan saat ini adalah udang vaname (Litopeneaus vannamei). Udang

vaname memiliki beberapa nama, seperti whiteleg shrimp (Inggris), crevette pattes blances

(Perancis), dan camaron patiblanco (Spanyol).

Udang vaname ini berasal dari perairan Amerika dan mulai masuk ke Indonesia pada tahun

2001. Sampai saat ini komoditas ini sudah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia dan

dikembangkan oleh para petani dan pemerintah melalui suatu balai penelitian mengenai

bagaimana cara budidaya tentang udang vannamei. 

Permintaan udang jenis ini sangat besar baik pasar lokal maupun internasional, karena

memiliki keunggulan nilai gizi yang sangat tinggi serta memiliki nilai ekonomis yang cukup

tinggi menyebabkan pesatnya budidaya udang vaname.

Salah satu dari balai yang melakukan kegiatan budidaya udang vaname dalam usaha

Page 6: Pembesaran Udang Vaname

pembesaran adalah Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut Air Payau dan Udang

(BPBPLAPU) Karawang. Balai ini tidak melakukan pembenihan udang vaname karena

masih belum didukung oleh sarana dan prasarana untuk pembenihan, terutama untuk

bangunan hatchery masih dalam tahap perencanaan dan tahap pembangunan. Oleh karena itu,

balai ini hanya melakukan kegiatan pembesaran udang vaname saja yang dilakukan pada

sebuah tambak. Proses pembesaran udang vannamei yang dilakukan di Balai Pengembangan

Budidaya Perikanan Laut Air Payau dan Udang (BPBPLAPU) Karawang, pada mulanya

tidak seperti yang diharapkan. Akan tetapi, setelah dilakukan terus menerus pada akhirnya

jenis udang vaname ini dapat diadaptasikan dan dibesarkan menjadi lebih baik dan berhasil. 

B. Tujuan

Adapun tujuan dari kegiatan praktikum tentang pembesaran udang vannamei di Balai

Pengembangan Budidaya Perikanan Laut Air Payau dan Udang (BPBPLAPU), diantaranya

sebagai berikut :

1. Mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan pembesaran udang

vaname secara sistematis.

2. Mengetahui sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam kegiatan pembesaran udang

vaname serta hal lain yang berkaitan erat dengan kegiatan pembesaran. 

3. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan penalaran dalam berbagai aspek teknik

usaha pembesaran udang vaname.

4. Mampu menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan

mengaplikasikannya ditempat praktek lapangan (turut aktif dalam proses pembesaran udang

vaname).

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

A. Taksonomi Udang Vaname

Udang vaname digolongkan ke dalam genus Penaeid pada filum Arthropoda. Ada ribuan

spesies di filum ini. Namun, yang mendominasi perairan berasal dari subfilum Crustacea.

Ciri-ciri subfilum Crustacea yaitu memiliki 3 pasang kaki berjalan yang berfungsi untuk

mencapit, terutama dari ordo Decapoda, seperti Litopenaeus chinensis, L. indicus, L.

Page 7: Pembesaran Udang Vaname

japonicus, L. monodon, L. stylirostris, dan Litopenaeus vannamei.

Berikut tata nama udang vaname menurut ilmu taksonomi.

Kingdom : Animalia

Subkingdom : Metazoa

Filum : Arthropoda

Subfilum : Crustacea

Kelas : Malacostraca

Subkelas : Eumalacostraca

Superordo : Eucarida

Ordo : Decapoda

Subordo : Dendrobrachiata

Famili : Penaeidae Gambar 1. Udang Vaname

Genus : Litopenaeus

Spesies : Litopenaeus vannamei

B. Morfologi

Tubuh udang vaname dibentuk oleh dua cabang (biramous), yaitu exopodite dan endopodite.

Vaname memiliki tubuh berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar atau eksoskeleton

secara periodik (moulting). Bagian tubuh udang vaname sudah mengalami modifikasi

sehingga dapat digunakan untuk keperluan sebagai berikut .

1) Makan, bergerak, dan membenamkan diri ke dalam lumpur (burrowing).

2) Menopang insang karena struktur insang udang mirip bulu unggas.

3) Organ sensor, seperti pada antena dan antenula.

1. Kepala (thorax)

Kepala udang vaname terdiri dari antena, antenula, mandibula, dan 2 pasang maxillae. Kepala

udang vaname juga dilengkapi dengan 3 pasang maxilliped dan 5 pasang kaki berjalan

(periopoda) atau kaki sepuluh (decapoda). Maxilliped sudah mengalami modifikasi dan

berfungsi sebagai organ untuk makan. Endopodite kaki berjalan menempel pada

chepalothorax yang dihubungkan oleh coxa. Bentuk perioda beruas-ruas yang berujung di

bagian dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit (kaki ke-1, ke-2, dan ke-3) dan tanpa

capit (kaki ke-4 dan ke-5). Di antara coxa dan dactylus, terdapat ruang yang berturut-turut

disebut basis, ischium, merus, carpus, dan cropus. Pada bagian ischium terdapat duri yang

Page 8: Pembesaran Udang Vaname

bisa digunakan untuk mengidentifikasi beberapa spesies Pennaeid dalam taksonomi. 

Gambar 2. Bagian Kepala (Thorax)

2. Perut (abdomen)

Abdomen terdiri dari 6 ruas. Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan

sepasang uropods (mirip ekor) yang membentuk kipas bersama-sama telson.

Gambar 3. Bagian Perut (Abdomen)

C. Moulting

Genus Pennaeid mengalami pergantian kulit (moulting) secara periodik untuk tumbuh,

termasuk udang vaname. Proses moulting berlangsung dalam 5 tahap yang bersifat kompleks,

yaitu postmoulting awal, postmoulting lanjutan, intermoult, persiapan moulting (premoult),

dan moulting (ecdysis) (Tabel 1). Proses moulting diakhiri dengan pelepasan kulit luar dari

tubuh udang. Proses moulting sangat menentukan waktu ablasi (pengangkatan) induk udang

di hatchery dan waktu panen yang tepat.

Tabel 1. Fase Moulting Udang Vaname Dewasa

Fase Lama Ciri-ciri

Postmoulting awal 6 – 9 jam 

Kulit luar licin, lunak, dan membentuk semacam membran yang tipis dan transparan.

Udang berada did asar tambak dan diam.

Lapisan kulit luar hanya terdiri dari epikutikula dan eksokutikula.

Endoskutikula belum terbentuk.

Postmoulting lanjutan 1- 1,5 hari 

Epidermis mulai mensekresi endoskutikula.

Kulit luar, mulut, dan bagian tubuh lain tampak mulai mengeras.

Udang mulai mau makan.

Intermoult 4 – 5 hari 

Kulit luar mengeras permanen.

Udang sangat aktiv dan nafsu makan kembali normal.

Persiapan (Moulting Premoult) 8 – 10 hari 

Kulit luar lama mulai memisah dengan lapisan epidermis dan terbentuk kulit luar baru, yaitu

Page 9: Pembesaran Udang Vaname

epitelkutikula dan eksokutikula baru dibawah lapisan kulit luar yang lama.

Sel-sel epidermis membesar.

Pada tahap akhir, kulit luar mengembang seiring peningkatan volume cairan tubuh udang

(haemolymp) karena menyerap air.

Moulting ( ecdysis) 30 – 40 detik 

Terjadi pelepasan atau ganti kulit luar dan tubuh udang.

Kulit udang yang lepas disebut exuviae.

1. Proses Moulting

Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan moulting tergantung jenis dan umur udang. Saat

udang masih kecil (fase tebar atau PL 12), proses moulting terjadi setiap hari. Dengan

bertambahnya umur, siklus moulting semakin lama, antara 7 – 20 hari sekali. 

Nafsu makan udang mulai menurun pada 1 – 2 hari sebelum moulting dan aktivitas

makannya berhenti total sesaat akan moulting. Persiapan yang dilakukan udang vaname

sebelum mengalami moulting yaitu dengan menyimpan cadangan makanan berupa lemak di

dalam kelenjar pencernaan (hepatopankreas).

Umumnya, moulting berlangsung pada malam hari. Bila akan moulting, udang vaname sering

muncul ke permukaan air sambil meloncat-loncat. Gerakan ini bertujuan membantu

melonggarkan kulit luar udang dari tubuhnya. Pada saat moulting berlangsung, otot perut

melentur, kepala membengkak, dan kulit luar bagian perut melunak. Dengan sekali hentakan,

kulit luar udang terlepas.

Gerakan tersebut merupakan salah satu cara mempertahankan diri karena cairan moulting

(semacam lendir) yang dihasilkan dapat merangsang udang lain untuk mendekat dan

memangsa (kanibalisme). Udang vaname akan tampak lemas dan berbaring di dasar perairan

selama 3 – 4 jam setelah proses moulting selesai.

2. Faktor – faktor Moulting

Moulting akan terjadi secara teratur pada udang yang sehat. Bobot badan udang akan

berambah setiap kali mengalami moulting (Tabel 2). Faktor-faktor yang mempengaruhi

moulting massal yaitu kondisi lingkungan, kejala pasang, dan terjadi penurunan volume air

atau surut.

Tabel 2. Interval Moulting dan Penambahan Bobot Badan

Page 10: Pembesaran Udang Vaname

Bobot (gr) Moulting (hari)

2 – 5 7 – 8

6 – 9 8 – 9

10 - 15 9 – 12

16 – 22 12 – 13

23 – 40 14 - 16

Sumber : Chanratcakool, 1995

a. Air pasang dan surut

Air pasang yang disebabkan oleh bulan purnama bisa merangsang proses moulting pada

udang vaname. Hal ini terutama banyak terjadi pada udang vaname yang dipelihara di tambak

tradisional. Di alam, moulting biasanya terjadi berbarengan dengan saat bulan purnama. Saat

itu, air laut mengalami pasang tertinggi sehingga perubahan lingkungan tersebut sudah cukup

merangsang udang untuk melakukan moulting. Oleh karena itu, di tambak tradisional tampak

jelas karena air di tambak hanya mengandalkan pergantian air dari pasang surut air laut.

Penambahan volume air pada saat bulan purnama dapat menyebabkan udang melakukan

moulting.

Penurunan volume air tambak saat persiapan panen juga dapat menyebabkan moulting.

Moulting sebelum panen bisa menyebabkan persentase udang yang lembek (soft shell)

meningkat. 

b. Kondisi lingkungan

Proses moulting akan dipercepat bila kondisi lingkungan mengalami perubahan. Namun

demikian, perubahan lingkungan secara drastis dan disengaja justru akan menimbulkan

trauma pada udang. Beberapa tindakan tersebut diantaranya terlalu sering mengganti air

tambak, tidak hati-hati saat menyipon (membersihkan tambak), dan pemberian saponin yang

berlebihan.

3. Kegagalan Moulting dan Pencegahannya

Proses moulting dapat berjalan tidak sempurna atau gagal bila kondisi fisioligis udang tidak

normal. Kegagalan tersebut menyebabkan udang menjadi lemah karena tidak mempunyai

cukup energi untuk melepas kulit lama menjadi kulit baru. Udang yang tidak melakukan

moulting dalam waktu lama menunjukkan gejala kulit luar ditumbuhi lumut dan protozoa.

Usaha pencegahan kegagalan bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti lebih sering

mengganti air tambak.

Page 11: Pembesaran Udang Vaname

D. Tingkah Laku Makan

Udang termasuk golongan omnivora atau pemakan segala. Beberapa sumber pakan udang

antara lain udang kecil (rebon), phytoplankton, copepoda, polyhaeta, larva kerang, dan

lumut. 

Udang vaname mencari dan mengidentifikasi pakan menggunakan sinyal kimiawi berupa

getaran dengan bantuan organ sensor yan terdiri dari bulu-bulu halus (setae). Organ sensor ini

terpusat pada ujung anterior antenula, bagian mulut, capit, antena, dan maxilliped. Dengan

bantuan sinyal kimiawi yang ditangkap, udang akan merespon untuk mendekati atau

menjauhi sumber pakan. Bila pakan mengandung senyawa organik, seperti protein, asam

amino, dan asam lemak maka udang akan merespon dengan cara mendekati sumber pakan

tersebut.

Untuk mendekati sumber pakan, udang akan berenang menggunakan kaki jalan yang

memiliki capit. Pakan langsung dijepit menggunakan capit kaki jalan, kemudian dimasukkan

kedalam mulut. Selanjutnya, pakan yang berukuran kecil masuk kedalam kerongkongan dan

oesophagus. Bila pakan yang dikonsumsi berukuran lebih besar, akan dicerna secara kimiawi

terlebih dahulu oleh maxilliped di dalam mulut.

E. Pigmentasi

Pigmentasi atau perubahan warna kulit berhubungan dengan kesehatan udang. Warna kulit

juga bisa digunakan sebagai acuan kualitas udang yang akan dipanen, seperti nilai gizi,

kesegaran dan rasa. Warna udang dipengaruhi chromatophore yang terdapat pada sel-sel

epidermis di dalam tubuh. Pigmen utama pada udang vannamei yaitu karotenoid yang

dominan terdapat di eksoskeleton. Kadar karotenoid semakin berkurang seiring pertumbuhan

udang akibat proses moulting. Namun demikian, kehilangan pigmen pada udang yang

dibudidayakan dapat diganti dengan sumber karotenoid yang berasal dari pakan alam atau

pakan pabrik. 

Karotenoid udang menimbulkan warna merah, kehijauan, kecokelatan, dan kebiruan. Warna-

warna tersebut dipengaruhi oleh lingkungan budidaya. Udang yang dibudidayakan dalam

dengan tingkat kecarahan yang sangat tinggi dalam waktu yang lama akan berwarna kusam.

Sebaliknya, udang yang dipelihara dalam air yang banyak mengandung lumut usus

(enteromorpha) akan berwarna kehijauan. Kekurangan karotenoid pada udang vannamei bisa

menyebabkab eksoskeleton tampak kusam dan pudar.

Page 12: Pembesaran Udang Vaname

Beberapa penelitian menunjukan bahwa karotenoid merupakan provitamin A yang

membentuk jaringan epidermis dan mukosa sehingga udang lebih tahan terhadap serangan

bakteri dan jamur. Selain itu, karotenoid juga berfungsi untuk menjaga permeabilitas

membran sel dan meningkatkan daya tahan tubuh (imunologi). 

BAB 3.METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat

Hari/ tanggal : 18 - 29 November 2008

Waktu : 08.00 WIB s/d selesai

Tempat : Tambak Udang Vannamei di Balai Pengembangan

Budidaya Laut Air Payau dan Udang (BPBPLAPU) 

Karawang

B. Metode Praktek Pembesaran 

Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan ini dilakukan dengan metode :

1. Mendapatkan informasi tentang fasilitas pembesaran udang vaname yang meliputi sarana

utama dan sarana pendukung.

2. Melakukan dan mengikuti proses produksi dari kegiatan pembesaran udang vaname yang

meliputi pemeliharaan induk, pemijahan induk, penetasan telur, pemeliharaan larva dan

kultur pakan alami.

3. Melakukan wawancara untuk memahami metode praktis dalam kegiatan pembesaran

udang vaname.

Page 13: Pembesaran Udang Vaname

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi

1. Latar Belakang

Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang (BPBPLAPU)

Karawang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) di Lingkungan Dinas

Perikanan Propinsi Jawa Barat.

BPBPLAPU Karawang berdiri pada tahun 1975 dengan nama Unit Pembinaan Budidaya Air

Payau (UPBAP), kemudian berubah menjadi Balai Pengembangan Budidaya Air Payau

(BPBAP) pada tahun 1998. Berdasarkan Keputusan Gubernur Propinsi Jawa Barat Nomor

821.2/SK.860 G/Peg/2002 tanggal 2 Juli 2002 tentang alih tugas/alih jabatan di lingkungan

Sinas Perikanan Propinsi Jawa Barat, Maka UPBAP berubah manjadi Balai Pengembangan

Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang ( BPBPLAPU ) dengan status Eselon III.

Sebagai salah satu lembaga pengkajian, penerapan dan pengembangan teknologi perikanan

ikan laut dan air payau, maka BPBPLAPU Karawang memiliki Tugas Pokok dan Fungsi

(TUPOKSI) yang telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur Propinsi Jawa Barat

nomor 45 tahun 2002 tentang tugas pokok, fungsi dan rincian tugas Unit Pelaksana Teknis

Dinas di Lingkungan Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat yaitu melaksanakan sebagian

fungsi dinas di bidang pengembangan budidaya perikanan laut dan air payau.

2. Lokasi 

Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air Payau dan Udang (BPBPLAPU) terletak

di jl. Raya cipucuk No.13 – 15, Dusun Sukamulya, Desa Pusaka Jaya Utara Kecamatan

Pedes, Kabupatan Karawang dengan ketinggian 1 – 2 m diatas permukaan laut (dpl) pada

surut rata – rata terendah.

3. Sumber Daya Alam

Dari awal pembentuknnya, instansi ini bernama Unit Pembinaan Budidaya Air Payau

(UPBAP) mempunyai lahan dengan luas 15 ha denga rincian 12 ha merupakan lahan

pertambakan, sedangkan 3 ha lainnya merupakan lahan perumahan dan perkantoran.

Page 14: Pembesaran Udang Vaname

B. Hasil

Hasil yang didapatkan dalam kegiatan Pembesaran Udang Vaname (Litopeneaus vannamei)

selama melakukan kegiatan praktik di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air

Payau dan Udang (BPBPLAPU) Karawang sejak tanggal 18 November – 29 November 2008

adalah sebagai berikut.

Kegiatan yang dilakukan dalam Pembesaran Udang Vaname (Litopeneaus vannamei) :

1. Persiapan lahan.

2. Pemilihan benur.

3. Penebaran benur.

4. Pemberian pakan.

5. Sampling.

6. Pemberantasan hama penyakit.

7. Pengelolaan kualitas air.

8. Pemanenan dan penanganan hasil.

C. Pembahasan

Adapun pembahasan dari hasil praktikum pembesaran udang vannamei (Litopenaeus

vannamei) di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut Air Payau dan Udang

(BPBPLAPU), diantaranya sebagai berikut :

1. Persiapan Lahan

Persiapan lahan merupakan awal dari kegiatan pembesaran yang bertujuan agar produksi atau

budidaya berjalan dengan baik. Persiapan lahan dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu

pengangkutan lumpur, pengeringan, pembakaran jerami, pemasangan kincir, pemasangan

jembatan anco, pengisian air.

Persiapan lahan yang kurang baik, akan meningkatkan resiko kegagalan produksi udang,

karena siklus pathogen dalam tambak tidak terputus secara sempurna. Berikut ini merupakan

tahapan – tahapan persiapan tambak di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut Air

Payau dan Udang (BPBPLAPU), diantaranya sebagai berikut :

a. Pengangkutan Lumpur

Lumpur yang terdapat pada petakan merupakan limbah yang berasal dari pakan yang tersisa

dan kotoran udang pada produksi terdahulu, biasanya lumpur mengumpul ditengah petakan

hal ini disebabkan karena pengadukan oleh kincir.

Page 15: Pembesaran Udang Vaname

Gambar 4. Pengangkatan Lumpur

Pengangkutan lumpur dilakukan setelah beberapa hari setelah panen agar lumpur tidak terlalu

basah. Pengangkutan lumpur dilakukan dalam kondisi tanah kering total, terbelah-belah

sehingga pada saat pengangkutan tidak sulit. Biasanya pengangkutan lumpur dilakukan

bergantung pada kondisi alam dan target produksi, ada kalanya pengangkutan masih dalam

keadaan standar untuk mengejar target produksi. Pada proses pengangkutan lumpur ini juga

dilakukan pembenahan tanggul dan pematang agar tanggul dan pematang dalam kondisi baik

saat digunakan dalam produksi. 

Pengangkatan lumpur dilakukan dengan cara membolak-balikan tanah dasar tambak secara

manual dengan menggunakan cangkul dimana tanah tersebut digunakan untuk pembenahan

tanggul. Pengangkatan lumpur ini dilakukan pada tambak yang sudah lama beroperasi dan

sudah banyak mengandung bahan organik, dari sisa pakan yang terbuang dan hasil feses

udang. 

b. Pengeringan

Pengeringan adalah pengeluaran air dari tambak hingga kandungan air tanah tambak

mencapai 20 – 50%. Pengeringan dilakukan selama 10 hari atau sampai tanah terlihat retak-

retak atau bergantung pada musim. Pengeringan bertujuan untuk memutus siklus hidup

pathogen dengan cara menghambat sistem tranmisinya, menguapkan gas-gas beracun seperti

H2S, dan membantu mikroba melakukan penguraian bahan organik.

Gambar 5. Pengeringan Dasar Tambak

c. Pembakaran Jerami

Tambak yang sudah kering, selanjutnya dilakukan penebaran jerami di seluruh dasar dan

pinggir tambak secara merata. Setelah penebaran dilakukan sampai menutupi seluruh

permukaan tambak, jerami tersebut dibakar sampai menjadi abu. Tujuan dari pembakaran

jerami tersebut adalah agar bakteri-bakteri di dalam tambak ini mati, sehingga tidak ada bibit

penyakit yang akan menyebabkan udang menjadi sakit. Perlu kita ketahui bahwa bakteri tidak

dapat hidup pada suhu yang tinggi di atas 100 0C. Maka dari pada itu hal yang paling tepat

untuk mengatasi bakteri adalah dengan cara pembakaran jerami.

Page 16: Pembesaran Udang Vaname

Hasil dari pembakaran jerami tersebut akan menghasilkan abu yang dapat bermanfaat

menjadi pupuk untuk kesuburan tanah dan juga membunuh hama-hama yang berada di

sekeliling tambak. 

Gambar 6. Proses Penebaran dan Pembakaran Jerami

d. Pemasangan Kincir

Pemasangan kincir dilakukan setelah pembakaran jerami. Jumlah kincir dalam 1 petak

tambak dengan luas 4.600 m2 yaitu sebanyak 7 unit. Pengoperasian kincir dilakukan secara

bergantian, yaitu 4 kincir selama 12 jam dan 3 kincir selama 12 jam juga. Hal ini dilakukan

untuk menghindari terjadinya kerusakan pada kincir tersebut. 

Penggunaan kincir ditambak bertujuan untuk mensuplai kebutuhan udang akan oksigen

terlarut (dissolved oksygen) dalam tambak. Perbandingan jumlah kincir yang akan digunakan

dengan jumlah benur yang akan ditebar adalah 1 unit : 50.000 ekor. 

Gambar 7. Pemasangan Kincir Air

e. Persiapan Tambak

Sebelum kegiatan pengolahan dasar tambak dilakukan hal pertama yaitu dilakukan

pemasangan jembatan anco agar memudahkan dalam pemberian pakan dan pada waktu

sampling.

Gambar 8. Pemasangan Jembatan Ancho

Setelah persiapan tambak selesai dan pembakaran jerami sudah sempurna, maka diisi air

setinggi 10 cm agar kotoran-kotoran yang ada dalam tambak dapat terangkat dan dapat

diserok. Lalu naikkan lagi ketinggian air sampai 30 cm. Setelah itu, pemberian probiotik

Thiobacillus sp. sebanyak 5 liter dan bakteri Bacillus sp. sebanyak 20 liter yang diencerkan

Page 17: Pembesaran Udang Vaname

dalam 100 liter air. Setelah terbuat larutan probiotik lalu disebarkan secara merata ke dalam

tambak. Agar penyebaran probiotik dapat merata ke seluruh tambak, maka digunakan kincir

air. 

Ketinggian air dalam tambak yaitu setinggi 60 cm, maka ketinggian air yang tadinya setinggi

30 cm ditambahkan. Air yang akan digunakan untuk media kelangsungan hidup udang di

tambak, adalah air yang berasal dari laut yang sudah melalui petakan tandon. Fungsi utama

dari tandon adalah untuk mengendapkan bahan-bahan organik sehingga dapat memperbaiki

kualitas. Pemasukan air pertama kali dilakukan pada petak penampungan/ tandon 1 yang

dialirkan dengan menggunakan pompa submersible 6”. Dimana pada petakan tandon pertama

terdapat pohon bakau atau mangrove, yang berfungsi sebagai biofilter. Air dari tandon 1

dialirkan lagi ke tandon 2 melalui pipa saluran air, dimana pada tandon ini juga terdapat

rumput laut (Glacilaria), dan ikan nila merah sebagai biofilter salah satunya untuk menyerap

NH3, ¬¬dan sebagai suplai oksigen terlarut (Dissolved Oxygen). Kemudian air dari tandon 2

dilanjutkan ke tandon 3 melalui pipa paralon dimana pada pada saluran ini di pasang

membran yang berfungsi sebagai alat pemecah DNA yang berasal dari alam. Alat ini mampu

memecahkan DNA dari positif menjadi negatif. Air dari tandin 3 inilah yang yang akan

dialirkan ke petak – petak pemeliharaan. 

Petakan tambak yang akan ditebari benur harus bebas dari hama agar tingkat kelangsungan

hidup udang dapat dicapai seoptimal mungkin (minimal 70%). Untuk itu, air tambak perlu

disucihamakan dengan menggunakan pestisida organik yaitu samponin sebanyak 30 ppm

kemudian air diaduk dengan pengoperasian kincir.

2. Pemilihan Benur

Persyaratan kualitatif benur yang dapat dilihat dan diuji adalah :

Warna : warna tubuh transparan, kecoklatan atau kehitaman, punggung tidak berwarna

keputihan atau kemerahan.

Gerakan : gerakan berenang aktif, menentang arus, cenderung mendekat ke arah cahaya

(fototaksis positif).

Kesehatan dan kondisi tubuh : kondisi tubuh benur yang sehat setelah mencapai ukuran PL

10, organ tubuhnya lengkap, maxilla, mandibula, antenulla dan ekor membuka,

Page 18: Pembesaran Udang Vaname

hepatopankreas transparan, usus penuh dan gelap.

Responsif terhadap rangsangan : benur akan menjentik menjauh dengan adanya kejutan atau

jika wadah sampel benur diketuk, dan akan berenang mendekati sumber cahaya jika ada

rangsangan cahaya, serta responsif terhadap pakan yang diberikan.

3. Penebaran Benur

Penebaran benur akan dilaksanakan pada pagi hari pukul 06.00 – 09.00 dengan pertimbangan

sebagai berikut:

- Benur akan mendapat lingkungan media penebaran yang kadar oksigen (DO)nya semakin

membaik, penebaran sore hari akan sebaliknya yaitu akan menurunkan kadar oksigen terlarut

dalam air tambak; 

- Pengamatan terhadap benur yang baru disebarkan akan lebih mudah dilaksanakan. 

Untuk mencegah tingginya tingkat kematian (mortalitas) benur pada saat dan setelah

penebaran, dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu terhadap benur yang akan ditebar, baik

aklimatisasi salinitas, suhu, maupun pH. Padat penebaran benur udang vaname yaitu 50 – 75

ekor/m2. Benur yang digunakan berasal dari Pangandaran.

Adapun prosedur kerja yang harus dilakukan untuk melakukan penebaran benih dengan cara

aklimatisasi, diantaranya sebagai berikut :

Lakukan penebaran pada pagi hari mulai pukul 05.00 WIB

Apungkan kantong plastik benur dalam kondisi benur dalam kondisi tertutup ± 30 menit di

dalam tambak

Pasang pembatas (tali, bambu) di salah satu sudut tmbak agar kantong plastik tidak

berhamburan

Buka ikatan kantong plastik

Ukur suhu, pH, serta kadar garam dari air media benur dan juga air media tambak

Perbedaan salinitas tidak boleh lebih dari 5 ppt, suhu tidak boleh lebih dari 2 0C, dan pH

tidak boleh lebih dari 0,5

Masukan air tambak sedikit demi sedikit hingga perbedaan suhu, salinitas, dan pH tidak

terlalu jauh dan relatif sama

Masukan kantong plastik ke dalam baskom sebanyak 5 kantong untuk setiap baskom yang

telah diberi lubang di dasar dan di bagian samping, amati benur yang telah ditebar kedalam

tambak. Apakah benur merata ke semua areal tambak atau masih mengumpul di satu

tempat

Lalukan penghitungan sampling udang untuk mengetahui berapa jumlah udang yang ditanam

Page 19: Pembesaran Udang Vaname

setelah dikurangi kematian

Padat penebaran udang vannamei adalah 50-75 ekor/ m2. 

Gambar 9. Prosedur Aklimatisasi Benur

4. Pemberian pakan

Berdasarkan spesifikasi teknologi yang akan diterapkan yaitu intensif, maka penyediaan

pakan berasal dari pakan tambahan yang telah diolah dalam bentuk Fine crumble dan pellet.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan maupun skala laboratorium, pakan udang

komersial di Indonesia mengandung protein minimal 30%. Lingkungan budidaya yang

Page 20: Pembesaran Udang Vaname

dikelola dengan baik sangat dinamis dan mampu menyediakan pakan alami bagi udang dalam

tambak.

Pemberian pakan yang diberikan yaitu mempunyai nilai Feeding rate (FR) yaitu 3% dari total

biomassa dan pemberian pakan dilakukan secara bertingkat tergantung dari umur udang.

Frekuensi pemberian pakan yaitu 4 – 5 kali sehari yag dimulai pada hari pertama dengan

dosis disesuaikan dengan ABW dan populasi udang selama pemeliharaan.

Tabel 3. Tabel Pemberian Pakan (Blind Feeding)

Umur Pakan (kg)

1-5 2

6-10 4

11-15 6

16-20 8

21-25 10

26-30 12

31-40 14

Program pemberian pakan tersebut bersifat fleksibel, dimana jumlah pakan dapat berubah –

ubah tergantung pada tingkat nafsu makan udang. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi

tingkat nafsu makan udang adalah: (1) kondisi tanah dasar tambak; (2) kualitas air; dan (3)

tingkat kesehatan udang. Secara praktis, tingkat nafsu makan udang dapat diketahui dengan

pengontrolan anco yang dilakukan setiap 1 dan 2 jam setelah pemberian pakan.

5. Sampling

Kegiatan sampling pertama akan dilakukan pada saat udang mencapai umur 40 hari

pemeliharaan di tambak. Sedangkan sampling berikutnya dilakukan 10 hari sekali dari

sampling sebelumnya. Adapun maksud dilakukan sampling adalah untuk mengetahui

kepadatan (populasi) udang, laju pertumbuhan, dan sekaligus sebagai dasar dalam

menetapkan jumlah yang dibutuhkan oleh udang selama pemeliharaan. 

Sampling dilakukan mengunakan jala tebar (Felling gear) seluas 4 m2 sebanyak 6 titik.

Udang yang tertangkap segera dihitung dan ditimbang untuk menggetahui kepadatan dan

berat rata – rata. Setelah itu, udang hasil sampling dikembalikan ke tambak pemeliharaan.

Page 21: Pembesaran Udang Vaname

6. Pemberantasan Hama Penyakit 

Hama yang bisaa ditemukan di tambak udang Vanname terdiri dari 3 (tiga) golongan, yaitu:

pemangsa (predator), penyaing (kompetitor), dan pengganggu (lihat Tabel 4).

Hama merupakan salah satu faktor yang dapat mengganggu dan bahkan dapat mengancam

kehidupan udang Vanname. Untuk itu, hama tersebut harus diantisipasi sedini mungkin agar

tingginya mortalitas udang Vanname yang disebabkan oleh hama dapat ditekan serendah

mungkin. Pencegahan dan penanggulangan hama dapat dilakukan dengan cara tertentu,

tergantung pada jenis hama yang menjadi sasaran.

Tabel 4. Jenis Hama Tambak Udang Vanname menurut Golongannya

Golongan

Jenis Hama Spesifikasi

Predator:

a. Ikan

b. Ketam

c. Ular dan Belut

d. Burung

e. Manusia 

Kakap (Lates calcalifer), Payus (Elops hawaiensis), Kuro (Polynemus sp), Kerong – kerong

(Therapon sp), dan Keting (Arius maculates).

Kepiting bakau (Scylla serrata), ketam bulu (Sesarma sp).

Ular kadut (Cereberus rhynchops), dan Belut (Synbranchus bengalensis).

Blekok (Ardeola ralloides speciosa), Cangak (Ardea cinerea rectirostis), Pecuk Gagakan

(Phalocrocorax carbo sinensis), dan Pecuk Ulo (Anhinga rufa melanogaster)

Pencuri.

Kompetitor:

a. Ikan Liar

b. Siput

c. Udang Liar

Page 22: Pembesaran Udang Vaname

d. Ketam 

Mujair (Tilapia mossambica), Belanak (Mugil sp), Pernet (Aplocheilus javanicus), Rekrek

(Ambasis gynocephalus).

Trisipan (Cerithidea alata; C. quadrata; C. djadjariensis).

Udang api, jerbung, mentil, putih, peletok.

Ketam (Saesarina sp).

Pengganggu:

a. Udang Liar

b. Ketam

c. Penggerek

d. Siput

e. Manusia 

Udang tanah (Thalassina anomala), Udang Kerongkong/ Pletok (Thalassina scorpionoides).

Ketam Bulu (Saesarina sp)

Remis (Teredo navalis)

Tritip (Balanus sp), Tiram (Classatrea sp)

Perusak 

Tabel 5. Jenis dan Cara Pencegahan/Penanggulangan Hama 

No. Jenis Hama Cara Pencegahan/ Penanggulangan

1. 

2. 

3. 

4. 

5. . Ikan Liar

Udang Liar

Ketam – ketaman 

Siput dan Penggerek

Burung dan Manusia Pemberian pestisida organik (saponin).

Pemasangan saringan pada pintu pemasukan dan pengeluaran air secara ketat.

Pemasangan pagar plastik di sekeliling tambak.

Pemberian pestisida anorganik (Brestan 60 WP).

Memperketat penjagaan/pengotrolan.

Page 23: Pembesaran Udang Vaname

Jenis penyakit yang sering ditemukan menyerang udang Vanname di tambak akhir – akhir ini

adalah Bacterial White Spot Syndrome (BWSS), Taura Syndrome Virus (TSV), Fouling

Disease (FD), Black Gill Disease (BGD), dan Infectious Hypodermal Hematopoeitic

Necrosis Virus (IHHNV). Beberapa kasus membuktikan bahwa penyakit tersebut belum

dapat ditanggulangi secara efektif sehingga tindakan yang tepat dapat dilakukan adalah

preventif (pencegahan), seperti:

- Manajemen kualitas air secara teratur dan kontinyu;

- Monitoring dan pengelolaan tanah dasar tambak secara intensif; 

- Ketepatan dalam pemberian pakan, baik jumlah, waktu, frekuensi jenis, ukuran, maupun

kualitas pakan;

- Kepadatan penebaran benur dibatasi berdasarkan spesifikasi teknologi yang diterapkan; dan

- Mendeteksi adanya gejala serangan pathogen baik secara fisik (manual) maupun dengan

Polymerase Chain Reaction (PCR) di laboratorium secara teratur.

7. Pengelolaan kualitas air

Selama proses pemeliharaan dilakukan pengelolaan kualitas air untuk mencegah dan

mengatasi adanya penurunan kualitas air. Jenis kegiatan yang dilakukan tergantung pada hasil

monitoring. Monitoring kualitas air dilakukan 3 kali setiap sehari, yaitu pagi, siang, dan sore

hari. Adapun kualitas air yang dimonitor meliputi salinitas, suhu, pH. Kecerahan, warna,

kadar oksigen terlarut (DO), jenis plankton, dsb.

8. Pemanenan dan penanganan hasil

Pemanenana akan dilakukan setelah udang mencapai umur 120 hari pemeliharaan di tambak

atau disesuaikan dengan laju pertumbuhan udang. Apbila berat rata – rata (ABW) telah

mencapai standard permintaan pasar (30 ekor/kg) maka panen dapat dilaksanakan walaupun

masa pemeliharaan belum mencapai 120 hari. Proses pemanenan akan dimulai pada malam

hari sampai dini hari untuk mencegah hal – hal yang tidak diinginkan. Petak tambak yang

akan dipanen dikuras airnya terlebih dahulu mengunakan pintu pengeluaran dan pompa

submersible 6”. Setelah air tambak mencapai 50% dari volume semula maka udang segera

ditangkap menggunakan jala lempar (felling gear) dan sudu. Kemudian udang ditampung ke

dalam wadah yang telah disiapkan sebelumnya. 

Gambar 10. Pemanenan dengan Jala

Page 24: Pembesaran Udang Vaname

Gambar 11. Pemanenan dengan Sudu

Sejalan dengan penangkapan udang menggunakan jala lempar dan sudu, pengurasan air

tambak terus dilakukan sampai tambak menjadi kering. Setelah itu, sisa udang yang masih

dalam tambak segera dikumpulkan menggunakan tangan kosong (ngegogo). Udang hasil

panen langsung dicuci dengan air bersih kemudian direndam dalam wadah tertentu

(fibreglass) yang telah diisi dengan air es. Setelah itu, udang disortir (dikelompokkan

berdasarkan ukuran) kemudian ditimbang dan dipasarkan. 

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari hasil kegiatan praktikum pembesaran udang

vannamei (Litopenaes vannamei) di Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut Air

Payau dan Udang (BPBPLAPU), diantaranya sebagai berikut : 

1. Kegitan pembesaran Udang Vaname meliputi :

a. Persiapan tambak.

b. Pemilihan benih.

c. Penebaran benih.

d. Sampling udang vaname di tambak.

e. Monitoring kesehatan.

f. Pemberian pakan.

g. Monitoring lingkungan.

h. Panen dan pasca panen.

2. Pembesaran udang vaname dapat dilakukan pada tambak yang intensif, semi intensif,

maupun tambak tradisional.

3. Pada pembesaran udang vannamei secara intensif memiliki padat penebaran yang cukup

tinggi yaitu 50-75 ekor/ m2, jumlah kincir yang digunakan lebih banyak dari tambak

tradisional (7 buah), pemberian pakan yang digunakan cukup banyak dan lebih banyak dari

pakan buatan, serta pengelolaan kualitas air yang intensif dibandingkan dengan pembesaran

udang vannamei secara semi intensif dan tradisional. 

B. Saran

Page 25: Pembesaran Udang Vaname

Adapun saran yang dapat direkomendasikan dalam kegiatan praktikum pembesaran udang

vannamei diantaranya sebagai berikut :

1. Pada kegiatan praktikum tentang pembesaran udang Vannamei di Balai Pengembangan

Budidaya perikanan Laut air Payau dan Udang (BPBPLAPU), kurang efektif dikarenakan

waktu yang digunakan untuk kegiatan praktikum sangat singkat, untuk itu maka diperlukan

tambahan waktu agar diperoleh ilmu pengetahuan, dan keterampilan yang lebih banyak.

2. Minimnya informasi yang didapat agar dapat disampaikan secara jelas dan lengkap.

3. Untuk mempermudah proses pemanenan, sebaiknya dasar tambak dibuat dengan model

gravitasi atau dasar lebih menjorok ke arah pintu pengeluaran air agar penggunaan pompa air

tidak terlalu boros.

DAFTAR PUSTAKA

Page 26: Pembesaran Udang Vaname

Haliman, Rubiyanto. W dan Dian Adijaya. 2006. Udang Vannamei. Jakarta : Penebar

Swadaya.

Kanna, Iskandar. 2004. Petunjuk Teknis Budidaya Udang Vaname Sistem Resirkulasi Semi

Tertutup. Karawang : BPBPLAPU.

Supriady, Eddy. 2008. Kupas Tuntas Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Air

Payau, dan Udang Karawang. Karawang : BPBPLAPU.

Standar Prosedur Operasional (SPO) Budidaya Udang Vannamei di Tambak BPBPLAPU

Karawang. 2008.

Standar Prosedur Operasional Pembesaran Udang Vannamei. 2007. Departemen Kelautan

dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

PKL PEMBESARAN UDANG WINDU DESA TONGGOLOBIBI

I.  PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Perikanan di Indonesia merupakan salah satu sumber devisa Negara yang sangat

potensial. Pengembangan budidaya air payau di Indonesia untuk waktu yang akan datang

sangat penting bagi pembangunan di sektor perikanan, serta merupakan salah satu prioritas

yang diharapkan menjadi sumber pertumbuhan di sektor perikanan.

Udang windu (Penaeus monodon) merupakan salah satu jenis udang perairan laut

yang mempunyai nilai jual yang tinggi dan menduduki tempat penting disektor perikanan,

baik sebagai komuditi eksport maupun sebagi sumber protein untuk konsumsi dalam negeri,

Page 27: Pembesaran Udang Vaname

sehingga udang windu sangat berpotensi untuk dikembangkan baik melalui pembenihan

di hatchery maupun pembesarannya.

 (http://www.warintek.ristek.go.id/perikanan/Ikan%20Laut/udang_windu.pdf)

Secara umum, budidaya udang windu di Indonesia telah dilakukan sejak  lamadan

berkembang pesat dari tahun ke tahun, berbagai upaya untuk meningkatkan produksi udang

windu yang ada di Indonesia, salah satunya penerapan sistem budidaya secara intensif.

Namun masyarakat pembudidaya yang ada di Indonesia khususnya di Sulawesi Tengah

memiliki modal yang terbatas, sehingga penerapan sistem budaya dilakukan secara semi

intensif.

1.2  Tujuan dan Kegunaan

Praktek Kerja Lapang (PKL) bertujuan untuk mengetahui teknik pembesaranudang

windu (Penaeus monodon).

Kegunaan dari Praktek Kerja Lapang adalah menambah wawasan dan sebagaibahan

informasi bagi mahasiswa dan masyarakat dalam kegiatan pembesaran udang windu dengan

sistem budidaya semi intensif, serta sebagai bahan masukan untuk meningkatkan

keterampilan bagi para pembudidaya udang windu khususnya pada kegiatan pembesaran.

II.  METODE PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANG

2.1  Waktu dan Tempat

Praktek Kerja Lapang (PKL) dilaksanakan mulai tanggal 1 Oktober sampai 4

Desember   2011   dan   bertempat  di  Tambak   Percontohan dinas Kelautan dan Perikanan

di  Desa  Tonggolobibi, Kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesih Tengah.

2.2  Metode Pelaksanaan Praktek

Metode pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yaitu dengan

mengumpulakn data sebagai berikut :

                                                                        Pengamatan langsung

Data primer                                         Wawancara

                                                                        Praktek langsung di lapangan

                                                                        informasi instansi terkait

Data sekunder                                                  

                                                            literatur

2.3 Kegiatan yang dilaksanakan

            Kegiatan yang dilaksanakan pada Praktek Kerja Lapang (PKL) di Tambak

Percontohan dinas Kelautan dan perikanan di Desa Tonggolobibi adalah :

v  Persiapan tambak

Ø  Pemupukan

Ø  Pengapuran

Page 28: Pembesaran Udang Vaname

Ø  Pembasmian hama

v  Pembesaran

Ø  Pemberian pakan

Ø  Pemupukan susulan

Ø  Penyamplingan

Ø  Pengontrolan kualitas air

III.  HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1  Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapangan (PKL)

3.1.1 Tata Letak dan Lokasi

Tambak   Percontohan  Dinas Kelautan dan Perikanan terletak di  Desa Tonggolobibi,

Kecamatan Sojol, Kabupaten Donggala.  Lokasi bangunan terletak disebelah utara pantai

yang jaraknya sekitar 20 meter dari garis pantai.  Keadaan perairan berupa struktur dasar

perairan berpasir dan pantai yang berombak.  Secara umum kondisi perairan dilokasi tambak

cukup baik seperti salinitas yang berkisar 29 – 32 ppm dan suhu perairan pada pagi dan

malam hari berkisar 27o – 29o C sedangkan pada siang hari berkisar 30o – 32o C.

v  Tambak Percontohan dinas Kelautan dan perikanan di Desa Tonggolobibi dilengkapi dengan

sarana dan prasarana anatara lain :

Sarana

      Kolam Pembesaran

Prasarana

      Perumahan Pegawai

      Ruangan  Pembuatan Pakan

      Ruangan  Penyimpanan Perlengkapan

      Ruangan Mesin

3.2  Kegiatan yang Dilakasanakan

v  Mengenal Udang Windu (Penaeus monodon)

            Klasifikasi Udang Windu (Penaeus monodon) menurut Soetomo (2000),

adalahsebagai berikut :

Filum       : Arthropoda

Klas              : Crustaceae

Sub klas        : Malacostraca

                                  Ordo              : Decapoda

                                            Sub ordo         : Natantia

                                                 Famili               : Penaeidea

                                                         Genus                : Penaeus

                                                                 Spesies       :  Penaeus monodon

Tubuh udang windu (Penaeus monodon) dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu

kepala-dada (cephalothorax) yang tertutup oleh satu kelopak yang disebut karapas. Lebih

Page 29: Pembesaran Udang Vaname

rinci, karapas mempunyai tonjolan yang meruncing kedepan,

yaiturostrum (cucuk). Rostrum tampak bergerigi pada tepi-tepinya, di

belakangcephalothorax ada bagian badan (abdomen) dan ekor. Pada kepala terdiri lima ruas

dan delapan ruas di bagain dada. Masing-masing ruas mempunyai sepasang anggota badan,

seluruh ruas-ruas tersebut tertutup oleh kulit keras tetapi tipis pada setiap sambungannya

sehingga memungkinkan udang bergerak lebih  fleksibel (Suyanto dan Takarina, 2009).

Pada bagian perut (abdomen) terdapat 5 pasang kaki renang (pleopoda) yaitu pada

ruas ke-1 sampai ke-5. Sedangkan pada ruas ke-6, kaki renang mengalami perubahan bentuk

menjadi ekor kipas atau ekor (europoda).  Ujung ruas ke-6 ke arah belakang membentuk

ujung ekor (teleson), di bawah pangkal ujung ekor terdapat lubang dubur (anus) (Suyanto dan

Mujiman, 1989).

v  Persiapan Tambak.

Tambak yang digunakan berbentuk empat persegi panjang dengan luas 1

hektar. Sebelum digunakan tambak dikeringkan dengan cara mengeluarkan semua air melalui

pintu pengeluaran (outlet) sampai keadaan tambak benar-benar kering, setelah itu tanah dasar

tambak dijemur selama 7 hari  sampai keadaan tanah retak-retak, ini bertujuan  agar tambak

bebas dari hama pengganggu dan pemangsa, selain itu pengeringan berfungsi untuk

memperbaiki kondisi tanah dan mengeluarkan gas-gas metan amoniak dari dalam tanah.  Hal

ini sesuai dengan pendapat Suyanto dan Takarina (2009), bahwa tanah dasar tambak dijemur

sampai retak-retak atau selama kurang lebih 7 hari. Tujuannya, untuk menghilangkan

senyawa beracun yang masih terdapat pada tanah dasar tambak.

Selama proses penjemuran dasar tambak, dilakukan pembasmian hama

trisipan  menggunakan pestisida jenis Pegasus. Pegasus adalah jenis bahan kimia yang berupa

cairan berwarna kuning keemasan. Penggunaanya dilakukan dengan cara penyemprotan  pada

dasar tambak secara merata, penyemprotan dilakukan pada saat tambak keadaan tanah

tambak lembab dan cauaca tidak hujan, dosis yang diberikan pada tambak dengan luas 1 ha

yaitu 5 botol atau 400 ml. Suyanto dan Mujiman (1989), menyatakan untuk memberantas

hama yang hidup di dalam air, kita dapat menggunakan bahan-bahan beracun atau peptisida.

Selain pembasmian hama trisipan juga dilakukan pembasmian hama werang tambak

atau hama penyaing berupa udang renik yang tersisa pada caren yang masih tergenang air,

cara memberantasnya yaitu dengan cara meracuninya dengan peptisida jenis Decis dengan

dosis 80 ml. penggunaannya ialah, decis 80 ml dicampur dengan air sebanyak 20 liter, lalu

diaduk merata, kemudian ditebarkan ketambak yang masih tergenag air. Wareng tambak

adalah binatang bangsa udang renik yang hanya berukuran 8-10 mm. udang renik dapat

menimbulkan gangguan di tambak. Udang renik ini memakan diatom dan alga bersel satu

lainnya yang juga menjadi makanan udang windu (Suyanto dan Mujiman, 1989).

Selain trisipan dan udang renik, ikan pemangsa adalah hama yang sangat merugikan,

karena dapat memangsa udang windu secara langsung. Untuk memberantas hama ini dapat

Page 30: Pembesaran Udang Vaname

dilakukan dengan pestisida organik diantaranya saponin. Cara penggunaanya yaitu

terlebihdahulu saponin direndam dengan air lalu diaduk dan didiamkan selama 10 menit,

kemudian saponin yang telah direndam disaring terlebih dahulu, dipisahkan ampas dan

airnya, air saponin ditebar pada permukaan air. Sesuai pernyataan Suyanto dan Mujiman

(1989), ikan-ikan liar dan buas dapat diberantas dengan bungkil biji teh yang mengandung zat

racun yang disebut saponin. Saponin merupakan pepstisida organik atau pestisida alami.

Setelah pencucian tambak, air tambak dalam keadaan kering maka kegiatan

selanjutnya adalah pemupukan. Pupuk yang dugunakan adalah Urea sebanyak 7 sak/ha dan

TSP 3 sak/ha, ini bertujuan untuk menumbuhkan pakan alami.  Cara pemupukan dilakukan

secara manual menggunakan tangan yang ditebar secara merata, setelah pupuk ditebar

didiamkan selama satu hari. Menurut Amri (2003), dosis pupuk yang digunakan adalah urea

dan TSP dengan perbandingan 3:1, yakni urea 2,5 g/m3 air tambak dan TSP 1 g/m3 air

tambak. Dosis seperti itu memberikan pengaruh positif bagi pertumbuhan diatome.

            Tahap selanjutnya adalah pengapuran yang berguna untuk memperbaiki keasaman

(pH) dasar tambak, dosis kapur yang diberikan adalah jenis kapur pertanian sebanyak 25

sak/ha, 1 sak kapur seberat 17 kg, pengapuran dasar tambak juga dilakukan secara manual

dengan alat yang sederhana menggunakan ember dan ditebar langsung menggunakan tangan.

Keesokan harinya dilakukan pemasukan air mulai dari ketinggian 10 cm, lalu 30 cm dan 60

cm dari pelataran. Sesuai pernyataan Amri (2003), setelah pemupukan, dilakukan pengisian

air sedalam 10 cm selanjutnya ketinggian air dinaikkan menjadi 20 cm, air dimasukkan lagi

hingga 60 cm.

v  Penebaran Benih

Benur udang windu didatangkan dari kota Makassar. Benur ditebar dengan umur 20

hari (PL 20) dengan kepadatan 10 ekor/m2 atau 100.000 ekor/ha. Sebelum benur ditebar

dilakukan proses aklimatisasi agar benur udang tidak stres sehingga tingkat kematian atau

mortalitas rendah, pada saat proses aklimatisasi wadah benur berupa kantung plastik yang

diletakkan di air diberikan penutup berupa terpal agar tidak bersentuhan langsung dengan

sinar matahari. Penebaran benur dilakukan pada sore hari agar suhu air tambak tidak terlalu

tinggi. Sesuai pernyataan Soetarno (1992), penebaran benur dilakukan pada sore atau pagi

hari karena pada keadaan tersebut suhu air  relatif rendah sehingga tidak menimbulkan

gangguan tekanan pada udang dan untuk menghindari gangguan tekanan (stres), sebaiknya

sebelum ditebarkan, benur udang diaklimatisasikan dengan air tambak.

v  Pengaturan dan Pemberian Pakan

Pengaturan jumlah pakan yang diberikan pada benur disesuaikan dengan berat tubuh

udang dari berat saat pertama tebar dan dihitung kembali kenaikan berat badannya pada

minggu ke tiga. Cara perhitungan pemberian pakan yaitu dilakukan sampling terhadap 50

ekor udang windu.  Penimbangan berat badan udang dilakukan dengan cara menangkap

udang menggunakan bagan kecil kemudian udang diletakkan di dalam wadah yang berisi air

yang telah ditimbang sebelumnya, lalu ditimbang setelah mendapatkan jumlah berat

keseluruhan, kemudian dikurangi berat air, maka hasil yang didapatkan adalah berat sampel

udang keseluruhan dan dirata-ratakan. 

Page 31: Pembesaran Udang Vaname

Penimbangan dilakukan tiap minggu karena udang windu memiliki laju pertumbuhan

yang cepat. sampling dilakukan tiap 7-10 hari sekali,

(http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-udang.html), disamping itu kegiatan

sampling dilakukan dalam rangka mengontrol peningkatan berat tubuh udang dan menduga

jumlah udang yang hidup, ini sesuai dengan pernyataan Amri (2003), sampling atau

pengambilan contoh selain untuk menduga jumlah udang yang terdapat ditambak, sampling

juga digunakan untuk melihat laju pertumbuhan dan status kesehatan udang. Dosis pemberian

pakan dan pertambahan berat badan udang windu tertera pada Tabel 1.

Page 32: Pembesaran Udang Vaname

Tabel 1.    Dosis Pemberian Pakan yang disesuikan dengan Berat benur udang windu.

Umur(Minggu/

Hari)

Jumlah

(Ekor)

Berat Rata-rata (gram/ek

or)

Berat Populasi (biomassa) = kg

Persentase

Pakan

Ransum/hari (kg)

Jumlah Pakan

(kg)/minggu

Jenis Pakan

I/II/1-14100,00

0 0.02 2 20% 0.4 2.8

Starter IIII/15-21 96,000 0.1 9.6 15% 1.44 10.08IV/22-28 92000 1 46 12% 5.52 38.64V/29-35 88000 2 176 10% 17.6 123.2

Starter II

VI/36-42 84000 4 336 8% 26.88 188.16VII/43-49 82000 8 656 6% 39.36 275.52

VIII/50-56 80000 11 880 5% 44 308Grower II

Pekerjaan rutin yang dilakukan adalah pengontrolan, pergantian air dan pemupukan

susulan. Pengontrolan dilakukan pada saat air surut dengan cara mengelilingi tambak melihat

apa ada air yang merembes keluar, apabila air merembes berarti ada kebocoran dan dilakukan

penempelan.

Pergantian air dilakukan pada saat air pasang tertinggi yang terjadi 15 hari satu kali

siklus air pasang. Air tambak dikeluarkan melalui outlet atau pintu pengeluaran pada saat

pagi hari, lalu pemasukan air dilakukan padasaat sore hari. Pemupukan susulan dilakukan

pada saat setelah pemasukan air, pupuk yang digunakan adalah pupuk organik 1 liter yang

berwarna coklat sebanyak 5 liter/ha. Pupuk dicampur dengan air lalu ditebar di permukaan air

tambak.

IV.  KESIMPULAN DAN SARAN

4.1  Kesimpulan

            Berdasarkan hasil Praktek Kerja Lapang yang dilakukan, dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut :

1.      Tehnik pembesaran yang dilakukan di tambak percontohan dinas Kelautan dan Perikanan

adalah secara semi intensif.

2.      Pakan yang diberikan berupa pakan alami yang melalui pemupukan dan pakan buatan

berupa pelet.

3.      Pengontrolan kualitas air selain menggunakan kincir sebagai penyuplai oksigen terlarut,

juga dilakukan pergantian air secara rutin pada saat air pasang tertinggi.

4.      Udang yang windu mudah lebih cepat pertumbuhanya dibandingkan udang yang tua,

pertumbuhan udang windu dari awal penebaran seberat 0,02g hingga 15 hari mencapai 0,1g

berarti selisihnya 0,08g, jadi pertumbuhan berat badan/harinya adalah 0,005g atau 25%

pertumbuhan dari berat badan semula. Sedangkan pada umur 43 berat/ekor 8g hingga

mencapai umur 50 hari beratnya 11g berarti selisih pertumbuhannya 3g jadi pertumbuhan

berat badan/harinya adalah 0,375g atau 4,7% pertumbuhan dari berat badan semula.

Page 33: Pembesaran Udang Vaname

4.2  Saran

Udang windu yang dibudidayakan sebaiknya dalam pemilihan benur benar-benar

diperhatikan kualitasnya, karena apabila benur kurang berkualitas akan menyebabkan

mortalitas yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Amri, K., 2003. Budidaya Udang Windu Secara Intensif. Agromedia Pustaka, Jakarta

http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-udang.html diakses pada tanggal 20 Desember 2011

http://www.warintek.ristek.go.id/perikanan/Ikan%20Laut/udang_windu.pdf diakses pada tanggal 20 Desember 2011

Soetarno., 1992. Budidaya Udang. Aneka Ilmu, Semarang

Soetomo, M.,2000. Teknik Budidaya Udang Windu. Sinar Baru, BandungSuyanto, R dan A. Mujiman., 1989. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya, Jakarta

Suyanto, R dan E.P Takarina., 2009. Budidaya Udang Windu. Penebar Swadaya, Jakarta