Click here to load reader

PENGARUH INTENSITAS MENGIKUTI KEGIATAN OSIS …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/49575/1/Niken... · dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis selalu mengharapkan

  • View
    4

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of PENGARUH INTENSITAS MENGIKUTI KEGIATAN OSIS...

  • PENGARUH INTENSITAS MENGIKUTI KEGIATAN

    OSIS TERHADAP KREATIVITAS SISWA DI SMP

    ISLAM AL SYUKRO UNIVERSAL KOTA

    TANGERANG SELATAN

    Skripsi

    Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Guna

    Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

    (S.Pd)

    Disusun oleh:

    Niken Latiefa Maharani

    NIM 11150182000033

    JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN

    FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

    UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

    JAKARTA

    2019

  • i

    ABSTRAK

    Niken Latiefa Maharani (NIM 11150182000033), Pengaruh Intensitas

    mengikuti Kegiatan OSIS terhadap Kreativitas Siswa di SMP Islam Al Syukro

    Universal Kota Tangerang Selatan. Skripsi Program Strata Satu (S-1),

    Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif

    Hidayatullah Jakarta, 2019.

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas mengikuti

    kegiatan OSIS terhadap kreativitas siswa di SMP Islam Al Syukro Universal Kota

    Tangerang Selatan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat

    kuantitatif dengan pendekatan analisis regresi linear sederhana. Populasi dalam

    penelitian ini adalah semua siswa di SMP Islam Al Syukro Universal Kota

    Tangerang Selatan yang berjumlah 94 orang. Sampel dalam penelitian ini sebesar

    48 orang. Teknik pengumpulan data utama menggunakan angket, dan studi

    dokumen sebagai teknik pelengkap dalam mencari data.

    Hasil dari penelitian menyebutkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan

    dari intensitas mengikuti kegiatan OSIS terhadap kreativitas siswa di SMP Islam

    Al Syukro Universal Kota Tangerang Selatan. Hal tersebut dapat dilihat pada

    pengujian statistik (uji T), hasil nilai Thitung sebesar 5,963 dan Ttabel sebesar 2,013

    dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Dengan kriteria pengujian jika Thitung >

    Ttabel dan jika Signifikansi < 0,05 maka H₀ ditolak. Sehingga hasilnya yaitu terdapat pengaruh yang signifikan antara intensitas mengikuti kegiatan OSIS

    terhadap kreativitas siswa di SMP Islam Al Syukro Universal Kota Tangerang

    Selatan. Kemudian pada pengujian statistik melalui uji regresi linear sederhana

    yaitu a = angka konstan dari Unstandardized Coefficients nilainya sebesar 25,796,

    dan b = angka koefisien regresi nilainya sebesar 0,300. Angka ini mengandung arti

    bahwa setiap penambahan 1% tingkat Intensitas mengikuti Kegiatan OSIS (X),

    maka Kreativitas Siswa (Y) akan meningkat sebesar 0,686. Serta nilai R Square

    sebesar 0,436 yang artinya sebesar 43,6% kreativitas siswa di SMP Islam Al Syukro

    Universal Kota Tangerang Selatan dipengaruhi oleh intensitas mengikuti kegiatan

    OSIS, dan sebesar 56,4% dipengaruhi faktor lain.

    Kata kunci: OSIS, Intensitas mengikuti Kegiatan OSIS, Kreativitas Siswa

  • ii

    ABSTRACT

    Niken Latiefa Maharani (NIM 11150182000033), An effectiveness of Intensity

    in Participating Student Organization Activities on Students’ Creativity at Al

    Syukro Universal Islamic Junior High School, South Tangerang. Undergraduate

    Thesis (S-1), Faculty of Teacher Training Science, Islamic State University

    Syarif Hidayatullah Jakarta, 2019

    This study aims to determine the effect of the intensity in participating OSIS

    activities on students’ creativity at Al Syukro Islamic Junior high School, South

    Tangerang. Quantitative paradigm with a simple linear regression analysis

    approach was used in this research method. All students of 94 students at Al Syukro

    Universal Islamic Junior High School, South Tangerang, were employed as the

    population in this study. Then, 48 students were employed as the sample in this

    study. A questionnaire was used in the main data collection technique, and study

    document as complementary technique in finding data.

    The results of the study revealed that there was a significant effect of the

    intensity in participating OSIS activities on the students’ creativity at Al Syukro

    Universal Islamic Junior High School, South Tangerang. It can be seen in the

    statistical testing (T test), the results of 𝑇𝑐𝑜𝑢𝑛𝑡 was 5.963 and 𝑇𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒 was 2.013 with a significance value of 0,000. By testing criteria if 𝑇𝑐𝑜𝑢𝑛𝑡 > 𝑇𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒 and if Significance

  • iii

    KATA PENGANTAR

    Bismillahirrohmanirrohim

    Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan

    segala rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga penulis diberi kesempatan dan

    kemudahan untuk menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam penulis curahkan

    kepada Nabi Muhammad SAW, kelurga dan para pengikutnya yang setia

    menjalankan ajaran-ajarannya hingga akhir zaman.

    Selama penulisan skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa tidak

    sedikit kesulitan dan hambatan yang dialami. Namun berkat kerja keras, do’a,

    perjuangan, kesungguhan hati, bantuan, arahan dan bimbingan dari berbagai pihak

    sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Penulis sampaikan rasa

    terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan terhdapa penulis

    menyelesaikan penulisan skripsi ini. Dengan segala kerendahan dan ketulusan hati

    penulis ucapkan terima kasih kepada:

    1. Prof. Dr. Amany Lubis, selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    2. Dr. Sururin, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)

    UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    3. Drs. Mu’arif SAM, M.Pd, Ketua Jurusan Manajemen Pendidikan sekaligus

    Dosen Pembimbing I dan juga sebagai Dosen Pembimbing Akademik, yang

    telah meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya dalam membantu, mengarahkan

    dan memotivasi penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, serta

    membimbing penulis selama menjalani perkuliahan.

    4. Tri Harjawati, M.Si, Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktu,

    tenaga dan pikirannya dalam membantu, mengarahkan dan memotivasi penulis

    sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

    5. Seluruh dosen dan staf Program Studi Manajemen Pendidikan yang telah

    mendidik, membimbing dan memotivasi serta memberikan pelayanan yang baik

    kepada penulis selama menjalani perkuliahan.

  • iv

    6. Pimpinan Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Perpustakaan

    Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, serta perpustakaan lainnya yang telah

    membantu penulis dalam menyediakan referensi guna terselesaikannya skripsi.

    7. Siti Umroh S.Ag selaku Kepala SMP Islam Al Syukro Universal Kota

    Tangerang Selatan, Hildawati, S.Pd selaku Waka Kesiswaan sekolah, para guru,

    staf, dan karyawan lainnya, serta siswa-siswi SMP Islam Al Syukro Universal

    Kota Tangerang Selatan yang telah membantu penulis dalam mengerjakan

    skripsi hingga terselesaikan dengan baik.

    8. Untuk kedua orang tuaku tersayang, Ayahanda Setijo Harsono dan Ibunda Sri

    Purwati, dengan setulusnya penulis ucapkan banyak terima kasih atas do’a,

    cinta, kasih sayang, perhatian, pengertian, dan segala dukungan moril serta

    materil yang kalian berikan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Sungguh tak

    mudah menggambarkan seberapa besar perjuangan serta pengorbanan yang telah

    kalian berikan, semoga kelak anakmu dapat membalasnya.

    9. Sahabat-sahabatku tercinta, Alifah Nur Rochmah, S.Pi, Dilla Priskayanti, S.Pd,

    Firda Rif’atu Amaly, Indah Putri Divia, Khalfia Khairin, Liza Angelika, Lulu

    Fatihatul Uyun, S.Pd, Meisya Aznes Al-Hakim, Nur Afifah, Nur Indah Fitriana,

    Rizqah Nur Azizah, S.Pd, Uswatun Khasanah terima kasih karena selalu

    membuat penulis merasa riang gembira, serta ketulusan kalian dalam

    menampung segala kesenangan dan kesedihan dalam masa sulit pembuatan

    skripsi. Sungguh kalian adalah keluarga.

    10. Karibku, Atika Fitri Ana, S.Pd, dan Siti Chairuwidha, S.Pd terima kasih banyak

    atas dukungan yang kalian berikan kepada penulis dalam kelancaran pembuatan

    skripsi ini. Salam hangat dariku.

    11. Kakak tingkatku tersayang, Sutiawati, S.Pd terima kasih karena telah

    mengingatkan dan memberikan saran yang amat penulis butuhkan dalam

    pembuatan skripsi ini.

    12. Teman-teman seperjuangan Manajemen Pendidikan 2015 Fitra Oktafia, S.Pd,

    Hamidah, Arafah Rianti dan khususnya kelas A yang telah membuat hari-hari

    perkuliahan menjadi penuh kenangan.

  • v

    13. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penulisan

    skripsi ini.

    Penulis menyadari bahwa skripsi sederhana ini sebagai karya tulis yang jauh

    dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis selalu mengharapkan kritik dan saran

    yang bersifat membangun. Namun dengan kerendahan hati penulis sangat berharap

    agar skripsi ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan pengetahuan

    khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca sekalian.

    Jakarta, 4 Oktober 2019

    Penulis

    Niken Latiefa Maharani

  • vi

    DAFTAR ISI

    ABSTRAK .............................................................................................................. i

    ABSTRACT ............................................................................................................ ii

    KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii

    DAFTAR ISI ......................................................................................................... vi

    DAFTAR TABEL .............................................................................................. viii

    DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ ix

    DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... x

    BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1

    A. Latar Belakang Masalah .................................................................... 1

    B. Identifikasi Masalah ........................................................................... 7

    C. Pembatasan Masalah .......................................................................... 7

    D. Perumusan Masalah ........................................................................... 7

    E. Tujuan Penelitian ............................................................................... 7

    F. Kegunaan Penelitian .......................................................................... 8

    BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS ......................... 9

    A. Deskripsi Teoritik .............................................................................. 9

    1. Kreativitas Siswa ........................................................................... 9

    2. Intensitas mengikuti Kegiatan OSIS ........................................... 30

    B. Hasil Penelitian yang Relevan ......................................................... 39

    C. Kerangka Berpikir ............................................................................ 42

    D. Hipotesis Penelitian ......................................................................... 46

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN ....................................................... 47

    A. Tempat dan Waktu Penelitian .......................................................... 47

    B. Metode Penelitian ............................................................................ 47

    C. Populasi dan Sampel ........................................................................ 48

    D. Variabel Penelitian ........................................................................... 51

    E. Teknik Pengumpulan Data ............................................................... 52

    F. Instrumen Penelitian ........................................................................ 54

    G. Teknik Analisis Data ....................................................................... 60

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................. 76

    A. Gambaran Umum SMP Islam Al Syukro Universal ........................ 76

    1. Sejarah Singkat Perguruan Islam Al Syukro Universal .............. 76

    2. Profil SMP Islam Al Syukro Universal ....................................... 77

    3. Visi, Misi, dan Tujuan Sekolah ................................................... 78

    4. Sarana dan Prasarana Sekolah ..................................................... 80

    5. OSIS SMP Islam Al Syukro Universal ....................................... 80

    6. Kegiatan Ekstrakurikuler Sekolah............................................... 82

    7. Personil Sekolah .......................................................................... 82

  • vii

    B. Deskripsi Data .................................................................................. 87

    1. Deskripsi Data Variabel X dan Hasil Analisisnya ...................... 87

    2. Deskripsi Data Variabel Y dan Hasil Analisisnya ...................... 91

    C. Uji Prasyarat .................................................................................... 94

    1. Uji Normalitas ............................................................................. 94

    2. Uji Linearitas ............................................................................... 96

    3. Uji Homogenitas ......................................................................... 97

    D. Hasil Pengujian Statistik .................................................................. 98

    1. Uji Regresi Linear ....................................................................... 98

    2. Hasil Uji Hipotesis .................................................................... 100

    3. Koefisien Determinasi ............................................................... 101

    E. Interpretasi Data ............................................................................. 102

    F. Pembahasan Hasil Penelitian ......................................................... 104

    G. Keterbatasn Penelitian ................................................................... 107

    BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 108

    A. Kesimpulan .................................................................................... 108

    B. Saran-Saran .................................................................................... 108

    DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 110

    LAMPIRAN-LAMPIRAN ............................................................................... 114

    BIODATA PENULIS ........................................................................................ 156

  • viii

    DAFTAR TABEL

    Tabel 3. 1 Waktu Pelaksanaan Penelitian ............................................................. 47

    Tabel 3. 2 Penentuan Jumlah Sampel ................................................................... 50

    Tabel 3. 3 Bobot Nilai pada Skala Likert untuk Variabel X ................................. 53

    Tabel 3. 4 Bobot Nilai pada Skala Likert untuk Variabel Y ................................. 53

    Tabel 3. 5 Kriteria Penilaian Hasil Angket ........................................................... 54

    Tabel 3. 6 Kisi-kisi Instrumen Angket Penelitian Variabel X .............................. 55

    Tabel 3. 7 Kisi-kisi Instrumen Angket PenelitianVariabel Y ............................... 56

    Tabel 3. 8 Daftar Dokumen ................................................................................... 59

    Tabel 3. 9 Uji Validitas Instrumen ........................................................................ 62

    Tabel 3. 10 Hasil Uji Validitas .............................................................................. 65

    Tabel 3. 11 Hasil Uji Reliabilitas Variabel X ....................................................... 71

    Tabel 3. 12 Hasil Uji Reliabilitas Variabel Y ....................................................... 71

    Tabel 4. 1 Profil SMP Islam Al Syukro Universal.................................................77

    Tabel 4. 2 Daftar Guru SMP Islam Al Syukro Universal ..................................... 82

    Tabel 4. 3 Jenjang Pendidikan dan Status Guru .................................................... 83

    Tabel 4. 4 Data Jumlah Guru dan Statusnya ......................................................... 84

    Tabel 4. 5 Peserta Didik SMP Islam Al Syukro Universal ................................... 85

    Tabel 4. 6 Data Variabel X ................................................................................... 87

    Tabel 4. 7 Tabel Distribusi Frekuensi Variabel X ................................................ 90

    Tabel 4. 8 Data Variabel Y ................................................................................... 91

    Tabel 4. 9 Tabel Distribusi Frekuensi Variabel Y ................................................ 93

    Tabel 4. 10 Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov ....................................... 95

    Tabel 4. 11 Hasil Uji Linearitas ............................................................................ 96

    Tabel 4. 12 Hasil Uji Homogenitas ....................................................................... 97

    Tabel 4. 13 Metode Uji Regresi Linear Sederhana ............................................... 98

    Tabel 4. 14 Hasil Uji Analisis Regresi Linear Sederhana ..................................... 99

    Tabel 4. 15 Hasil R Square ................................................................................. 101

  • ix

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 2. 1 Kerangka Berpikir ............................................................................ 45

    Gambar 3. 1 Variabel Penelitian ........................................................................... 52

    Gambar 4. 1 Struktur OSIS SMP Islam Al Syukro Universal................................81

    Gambar 4. 2 Struktur Organisasi SMP Islam Al Syukro Universal ...................... 86

    Gambar 4. 3 Diagram Plot Kreativitas Siswa ....................................................... 96

    file:///C:/Users/HP/Desktop/SKRIPSI/_SKRIPSI%20NIKEN/SKRIPSI%20JADI%20NIKEN.docx%23_Toc21255440file:///C:/Users/HP/Desktop/SKRIPSI/_SKRIPSI%20NIKEN/SKRIPSI%20JADI%20NIKEN.docx%23_Toc21255449file:///C:/Users/HP/Desktop/SKRIPSI/_SKRIPSI%20NIKEN/SKRIPSI%20JADI%20NIKEN.docx%23_Toc21255450

  • x

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1 Kisi-kisi Uji Instrumen Variabel X ................................................. 115

    Lampiran 2 Angket Uji Coba Variabel X ........................................................... 116

    Lampiran 3 Rekapitulasi Hasil Uji Coba Angket Variabel X ............................. 120

    Lampiran 4 Kisi-kisi Uji Instrumen Variabel Y ................................................. 121

    Lampiran 5 Angket Uji Coba Variabel Y ........................................................... 124

    Lampiran 6 Rekapitulasi Hasil Uji Coba Angket Variabel Y ............................. 133

    Lampiran 7 Instrumen Angket Penelitian ........................................................... 134

    Lampiran 8 Rekapitulasi Hasil Angket Variabel X ............................................ 140

    Lampiran 9 Rekapitulasi Hasil Angket Variabel Y ............................................ 141

    Lampiran 10 Statistik Deskriptif ......................................................................... 142

    Lampiran 11 Tabel Distribusi F .......................................................................... 143

    Lampiran 12 Tabel Distribusi T .......................................................................... 144

    Lampiran 13 Surat Permohonan Bimbingan Skripsi .......................................... 145

    Lampiran 14 Surat Permohonan Izin Penelitian ................................................. 146

    Lampiran 15 Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ............................. 147

    Lampiran 16 Tabel Uji Referensi ........................................................................ 148

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Era revolusi industri generasi keempat (industry 4.0) yang ditandai dengan

    munculnya superkomputer, robot pintar, dan lain sebagainya, menuntut adanya

    kesiapan SDM yang mampu menyesuaikan kebutuhan zaman. Dengan itu, untuk

    memajukan bangsa dan memenangkan persaingan global dibutuhkan

    pendidikan, sebagaimana Presiden RI dalam sambutannya pada Rembuk

    Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2018, pada tanggal 5-8 Februari

    2018 di Pusdiklat Kemendikbud, Sawangan, Depok mengatakan bahwa

    Hal terpenting untuk memajukan suatu bangsa adalah dengan membangun

    SDM. Kekayaan sumber daya alam tidak bisa menjamin kesejahteraan dan

    kesuksesan sebuah bangsa dan sumber daya alam yang melimpah justru

    memanjakan dan melemahkan daya juang karena tidak mendorong untuk

    selalu berinovasi dan berkreativitas. Pendidikan yang mengajarkan daya

    juang, pendidikan yang membangun watak pembelajar, pendidikan yang

    selalu memberikan pengajaran belajar tanpa menunggu diajari. Itulah

    modal kita sebagai bangsa besar yang mampu memecahkan masalah-

    masalah di masyarakat di daerah dan masalah-masalah kita semuanya.1

    Pada dasarnya pendidikan di sekolah maupun madrasah bertujuan untuk

    mengembangkan aspek-aspek kemanusiaan peserta didik secara utuh, yang

    meliputi aspek kedalaman spiritual, aspek perilaku, aspek ilmu pengetahuan dan

    intelektual, dan aspek keterampilan. Sebagaimana tercantum dalam UU RI No.

    20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB I Pasal 1 Ayat 1

    bahwa: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

    suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

    mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

    1 Akhmad Nirwan, dkk (ed), Mulia Karena Guru Sosialisasi Regulasi tentang GTK 2018

    Memperkuat Posisi GTK Menuju Abad 21 (Jakarta: Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga

    Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018), Edisi 9 Tahun IV, h. 33

  • 2

    pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan

    yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara”.2

    Sekolah merupakan sarana untuk terlaksananya pendidikan dan juga

    sebagai satuan pendidikan formal, yang memiliki tujuan dasar untuk

    menyiapkan manusia-manusia yang berkualitas baik secara intelektual,

    integritas, maupun perannya dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut dapat

    terwujud dengan memberikan bimbingan, bantuan, dan juga memberdayakan

    para siswa, karena sejatinya sekolah tak hanya sekedar bertanggung jawab

    memberikan berbagai ilmu pengetahuan saja akan tetapi lebih dari itu. Sehingga

    mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi

    yang dimilikinya. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan yang tercantum di

    dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB I

    Pasal 1 Ayat 2 bahwa:

    Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan

    membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka

    mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi

    peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada

    Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,

    mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung

    jawab.3

    Untuk mewujudkan tujuan pendidikan itu maka dibutuhkan siswa-siswa

    yang kreatif. Siswa yang kreatif adalah siswa yang memiliki kemampuan dalam

    menciptakan atau mengembangkan sesuatu yang baru dan berbeda dari

    sebelumnya. Menurut Mendikbud pada Puncak Hari Pendidikan Nasional Tahun

    2018 bahwa

    Kreativitas inilah yang akan membuat manusia terus unggul dibandingkan

    dengan kecerdasan buatan. Oleh karena itu, untuk menyonsong revolusi

    industri 4.0 tidak ada pilihan lain selain menyiapkan generasi era digital.

    ‘kita harus membangun kemampuan anak didik Indonesia agar berpikir

    kreatif. Kemampuan berpikir kreatif membuat anak-anak mampu dengan

    2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

    Nasional

    3 Ibid

  • 3

    mudah beradaptasi. Karena ciri kreatif adalah membayangkan adanya

    situasi baru.4

    Akan tetapi faktanya, tingkat kreativitas di Indonesia sangat rendah.

    Berdasarkan data Global Creativity Index (GCI) 2015 Indonesia berada pada

    peringkat 115 dari 139 negara. Negara Asia Tenggara seperti Singapura berada

    pada peringkat 9, Malaysia berada pada peringkat 63, Vietnam peringkat 80, dan

    Thailand peringkat 82.5 Rendahnya indeks GCI mengisyaratkan ada yang keliru

    dengan pendidikan di Indonesia. Pendidikan idealnya tidak sekedar transfer

    pengetahuan dari guru ke anak didik akan tetapi lebih dari itu. Pendidikan

    mestinya menginspirasi sehingga memunculkan kreativitas dan inovasi anak

    didik. Sayangnya, pendidikan kita malah menyumbat adanya kreativitas karena

    bukan menjadi sesuatu yang penting. Jantung pendidikan kita adalah kurikulum,

    akan tetapi kurikulum Indonesia sibuk mengurusi capaian portofolio dan lebih

    mementingkan pengetahuan (kognitif) daripada membentuk kreativitas

    siswanya.

    Oleh karena itu, perlu adanya media dalam membentuk kreativitas.

    Lembaga pendidikan formal menyediakan kegiatan baik yang bersifat

    intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler

    merupakan kegiatan pembelajaran yang di dasari dengan adanya kurikulum.

    Kegiatan kokurikuler merupakan kegiatan yang menunjang kegiatan

    intrakurikuler seperti kunjungan museum atau tempat edukasi lainnya. Dan juga

    kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang menjurus pada minat siswa

    dan pengembangan diri seperti olahraga, seni, dan lain sebagainya. Selain dari

    tiga kegiatan di atas terdapat pula kegiatan yang ada dalam organisasi sekolah,

    organisasi itu adalah OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah).

    Dalam upaya pembinaan dan pengembangan potensi peserta didik di

    sekolah terdapatlah OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) yang secara resmi

    4 Akhmad Nirwan, dkk (ed), Op.Cit, h. 21

    5 Sabila Andira Putra, Kreativitas di Indonesia, Kompasiana, 19 Maret 2019,

    (https://www.kompasiana.com/sabil/5c831f60bde57542426e2832/kreativitas-di-indonesia),

    diakses tanggal 18 Agustus 2019 jam 20.20 WIB

    https://www.kompasiana.com/sabil/5c831f60bde57542426e2832/kreativitas-di-indonesia

  • 4

    ada di setiap jenjang sekolah menengah di Indoneisa. Melalui OSIS lah sebuah

    pembinaan dan pengembangan generasi muda dapat terwujudkan dan terlaksana

    di sekolah. Perwujudan dan pelaksanaan pembinaan tersebut direalisasikan

    dalam beberapa bentuk kegiatan OSIS, dengan tujuan agar peserta didik dapat

    memfokuskan potensi yang dimilikinya dalam salah satu kegiatan ataupun lebih,

    dan pastinya kegiatan itu sudah disepakati bersama dalam forum OSIS. Pada

    hakikatnya, semua kegiatan dalam organisasi siswa diarahkan untuk membina

    watak, kesehatan, kecerdasan, keterampilan, dan kecakapan peserta didik,

    sehingga mereka dapat memaksimalkan kreativitas yang ada dalam diri mereka,

    mampu memimpin diri dan teman di sekitarnya dengan aktifitas yang lebih

    kreatif, inovatif, dan edukatif serta penuh rasa tanggung jawab.6 Seperti yang

    diungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir

    Effendy ‘Para siswa belajarlah dan gali pengalaman sebanyak-banyaknya

    dengan berbagai kegiatan di sekolah dan organisasi OSIS, serta kegiatan

    ekstrakulikuler lainnya. Pramuka, kegiatan sanggar seni, olahraga, dan

    sebagainya’.7

    Guru pun memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendidikan,

    yaitu sebagai planner (perencana), organisator, motivator, informan dan

    fasilitator, evaluator, dan konservartor. Jadi, dalam proses pendidikan

    merupakan sebuah proses pembentukan pribadi seorang siswa dengan

    kemampuan yang berbeda yang dibentuk dari usaha siswa itu sendiri dan dari

    beberapa penunjang lain salah satunya adalah guru. Contoh dalam jurnal

    penelitian yang dilakukan oleh Kenedi, guru lebih banyak kurang peduli pada

    upaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendorong siswa melakukan

    6 Ali Umar, Pembinaan Sikap Kepemimpinan Siswa Melalui Kegiatan OSIS SMP Bakti Mulya

    400 Jakarta, Skripsi pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta, 2014, h. 4-5

    7 Fransiska Ninditya, Mendikbud: Siswa Gali Pengalaman melalui OSIS, Antara News, 3 Mei

    2018, (https://m.antaranews.com/berita/706896/mendikbud-siswa-gali-pengalaman-melalui-osis).

    diakses tanggal 15 April 2019 jam 23.07 WIB

    https://m.antaranews.com/berita/706896/mendikbud-siswa-gali-pengalaman-melalui-osis

  • 5

    beberapa kegiatan pembelajaran (learning activity), baik berupa intrakulikuler

    maupun ekstrakulikuler, dan kegiatan ko-kulikuler.8

    SMP Islam Al Syukro Universal merupakan sekolah yang berada di Kota

    Tangerang Selatan dan merupakan sekolah yang dihibahkan kepada Dompet

    Dhuafa. Berdasarkan hasil observasi awal pada hari Kamis tanggal 11 April

    2019 pukul 10.48 WIB yang bertempat di SMP Islam Al Syukro Universal Kota

    Tangerang Selatan diperoleh informasi dari Hildawati selaku pembina OSIS,

    menuturkan bahwa sekolah ini memiliki OSIS sebagai wadah untuk

    memfasilitasi kegiatan-kegiatan siswa seperti Infaq yang diadakan rutin setiap

    hari Jum’at, peringatan hari-hari nasional dan keagamaan, LDKS (Latihan Dasar

    Kepemimpinan Siswa), diskusi, dan kegiatan MPLS (Masa Pengenalan

    Lingkungan Sekolah).

    Namun, dari beberapa kegiatan OSIS tadi, masih kurangnya kegiatan yang

    dapat mengembangkan kreativitas siswa di SMP Islam Al Syukro Universal

    Kota Tangerang Selatan. Dikatakan kurang karena dari hasil wawancara yang

    saya dapatkan dengan beberapa siswa pada hari Kamis tanggal 11 April 2019

    pukul 11.15 WIB yang bertempat di SMP Islam Al Syukro Universal Kota

    Tangerang Selatan diperoleh informasi dari beberapa siswa menuturkan bahwa

    mereka kurang tertarik dengan beberapa kegiatan yang diselenggarakan oleh

    OSIS, hal ini pun di benarkan oleh ketua dan sekretaris OSIS SMP Islam Al

    Syukro Universal Kota Tangerang Selatan saat wawancara yang dilakukan oleh

    peneliti, mereka menuturkan bahwa memang ada beberapa siswa yang

    menunjukkan ketidaktertarikannya pada kegiatan yang diselenggarakan OSIS

    dengan kurang aktifnya kontribusi yang mereka lakukan saat mengikuti

    kegiatan. Berawal dari sebuah ketertarikan akan menimbulkan intensnya

    seseorang dalam melakukan sesuatu, semakin intens maka akan semakin besar

    pula hasil yang akan didapatkan.

    8 Kenedi, Pengembangan Kreativitas Siswa dalam Proses Pembelajaran di Kelas II SMP

    Negeri 3 Rokan IV Koto, Jurnal Ilmu Pendidikan Sosial, Sains, dan Humaniora Vol. 3 No. 2, 2017,

    h.338

  • 6

    Selain untuk mengembangkan kreativitas OSIS sebagai organisasi

    dibentuk karena adanya satu kesatuan dalam meraih tujuan. Sesuai dengan arti

    organisasi yang merupakan sekumpulan orang yang terdiri dari dua orang atau

    lebih yang memiliki satu tujuan yang sama untuk diraih bersama-sama. Untuk

    meraih tujuan itu pastilah perlu sebuah penggerakan organisasi.

    Inti sebuah penggerakan organisasi adalah komunikasi. Interaksi antar

    anggota organisasi pun terjalin dari sebuah komunikasi. Apabila komunikasi

    tidak terbangun secara baik, bagaimana mau bertukar pikiran atau pendapat antar

    sesama anggota komunikasi yang terjalan pun tidak baik. Maka akan timbullah

    suatu masalah. Masalah yang sering terjadi itu adalah miskomunikasi antar

    pengurus atau anggota organisasi. Berdasarkan observasi awal di atas, Hildawati

    selaku pembina OSIS menuturkan bahwa hubungan yang terjalin antar pengurus

    OSIS di SMP Islam Al Syukro Universal Kota Tangerang Selatan masih kurang

    terstruktur karena memang pengurus OSIS itu sendiri berada pada jenjang kelas

    yang berbeda yakni kelas VII dan VIII, sehingga sering terjadinya

    miskomunikasi. Selain itu, kecanggungan juga sering terjadi antar pengurus

    OSIS terlebih lagi saat rapat pengurus OSIS dilaksanakan. Jadi, saat rapat tidak

    semua pengurus OSIS mengeluarkan pendapat maupun ide yang dimilikinya,

    hanya beberapa orang saja yang berani mengutarakan dan dominannya dari

    pengurus OSIS yang jenjang kelasnya lebih tua. Hal ini didasari dari pandangan

    kakak kelas dan adik kelas, yang dimana adik kelas memiliki rasa segan terhadap

    kakak kelasnya sehingga ia masih kurang berani dalam komunikasi.

    Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin melakukan penelitian dengan

    mengenai “Pengaruh Intensitas mengikuti Kegiatan OSIS terhadap

    Kreativitas Siswa di SMP Islam Al Syukro Universal Kota Tangerang

    Selatan”.

  • 7

    B. Identifikasi Masalah

    Berdasarkan latar belakang masalah tersebut dapat teridentifikasi

    permasalahan sebagai berikut:

    1. Tingkat kreativitas di Indonesia sangat rendah

    2. Kurangnya intensitas dalam mengikuti kegiatan OSIS yang dapat

    mengembangkan kreativitas siswa

    3. Komunikasi belum terbangun secara terstruktur sehingga mengakibatkan

    miskomunikasi antara pengurus OSIS

    4. Tidak semua pengurus OSIS dapat mengungkapkan ide maupun gagasan

    yang dimilikinya saat mengadakan rapat karena adanya rasa canggung antara

    pengurus OSIS yang berada pada kelas VII dengan pengurus OSIS kelas VIII

    C. Pembatasan Masalah

    Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penulis membatasi

    permasalahan tentang kurangnya intensitas dalam mengikuti kegiatan OSIS

    yang dapat mengembangkan kreativitas siswa di SMP Islam Al Syukro

    Universal Kota Tangerang Selatan.

    D. Perumusan Masalah

    Berdasarkan pembatasan masalah, maka masalah yang dikaji dalam

    penelitian ini dapat berdasarkan pada uraian di atas, maka permasalahan yang

    dapat diajukan dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Pengaruh Intensitas

    mengikuti Kegiatan OSIS terhadap Kreativitas Siswa di SMP Islam Al Syukro

    Universal Kota Tangerang Selatan?”

    E. Tujuan Penelitian

    Untuk memperjelas sasaran yang akan dicari melalui penelitian ini adalah

    sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan

    penelitian ini adalah untuk menjelaskan Bagaimana Pengaruh Intensitas

    mengikuti Kegiatan OSIS terhadap Kreativitas Siswa di SMP Islam Al Syukro

    Universal Kota Tangerang Selatan.

  • 8

    F. Kegunaan Penelitian

    Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang

    berkepentingan dalam dunia pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan judul

    penelitian ini, diantaranya:

    1. Kegunaan Teoritis

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi kepustakaan

    Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Program Studi Manajemen Pendidikan

    untuk penelitian terkait atau sebagai contoh penelitian di masa yang akan

    datang, terutama yang berkaitan dengan pengaruh intensitas mengikuti

    kegiatan OSIS terhadap kreativitas siswa

    2. Kegunaan Praktis

    a. Bagi Sekolah

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan

    khususnya mengenai pengaruh intensitas mengikuti kegiatan OSIS

    terhadap kreativitas siswa di SMP Islam Al Syukro Universal Kota

    Tangerang Selatan

    b. Bagi Peneliti Lain

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi untuk

    penelitian lebih lanjut

  • 9

    BAB II

    KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

    A. Deskripsi Teoritik

    1. Kreativitas Siswa

    a. Pengertian Kreativitas Siswa

    Dalam proses pendidikan, peserta didik merupakan salah satu

    komponen manusiawi yang menempati posisi sentral. Peserta didik

    menjadi pokok persoalan dan tumpuan perhatian dalam semua proses

    transformasi yang disebut pendidikan.9 Sedangkan dalam prespektif UU

    RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB I Pasal 1

    Ayat 4 bahwa peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha

    mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia

    pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.10 Dengan demikian

    dapat disimpulkan bahwa peserta didik atau biasa disebut siswa adalah

    orang yang sedang berkembang, dalam perkembangannya itu ia

    memerlukan pengetahuan, ilmu, bimbingan serta arahan dalam melakukan

    proses pendidikan. Pada proses pendidikan itulah diharapkan siswa dapat

    menampilkan kreativitasnya.

    Kreativitas dari kata create-creative-creativity, abda’a-yubdi’u-

    ibda’-ibda’iayah berarti kemampuan mencipta atau menemukan.

    Kreativitas adalah kekhususan manusia yang tercipta dalam diri,

    terkadang mengejewantah dalam kemampuan menganalasis dan

    mensintesa, mengkombinasikan ide-gagasan untuk menghasilkan

    ide-gagasan atau hal baru dan bermakna. Jadi, kreativitas pada

    dasarnya berkenaan dengan upaya memfungsikan potensi mental

    9 Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2017),

    h. 39

    10 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

    Nasional

  • 10

    produktif dalam menemukan sesuatu atau memecahkan masalah

    dengan beragam pendekatan.11

    Sedangkan, kreativitas dalam Bahasa Arab setara dengan kata al-

    mushawwir sebagaimana tertera dalam Surah Al-Hasyr Ayat 24. Pada

    surah tersebut, kata al-mushawwir merupakan salah satu nama dari nama-

    nama yang dimiliki oleh Allah SWT. (asmaul husna) dengan makna yakni

    orang yang menciptakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Ia adalah

    seorang yang inovatif, kreatif, imajinatif, dan progresif. Hal ini sejalan

    dengan firman Allah SWT. sebagai berikut:

    ُهَواْلعَِزْيُزالَحِكْيمُ ُرُكْم فِى اْْلَْرَحاِم َكْيَف يََشآُء ََلاِلهَ اِْلَّ ِ ُهَوالَِّذْى يَُصو Artinya: “Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana

    yang diehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah)

    melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS Ali

    ‘Imran, 3:6)

    Kreativitas yang dimaksud pada ayat di atas adalah manusia, alam

    jagat raya, langit, dan bumi yang menjadi objek dari sang kreator yakni

    Allah SWT. Kreativitas di atas berkaitan dengan hal-hal yang besar dan

    canggih yang di dalamnya memiliki berbagai keistimewaan dan

    keunggulan. Maka dengan adanya kreativitas, seseorang patut untuk

    dihargai.

    Berikut definisi-definisi tentang kreativitas menurut para ahli dalam

    buku Rachmawati dan Kurniati:

    1) Gallagher mengatakan bahwa “Creativity is a mental process by which and individual creates new ideas or product, or recombines existing

    ideas adn product, in fashion that is novel to him or her” (kreativitas

    merupakan suatu proses mental yang dilakukan individu berupa

    gagasan ataupun produk baru, atau mengombinasikan antara keduanya

    yang pada akhirnya akan melekat pada dirinya)

    2) Sementara itu, Chaplin mengutarakan bahwa kreativitas adalah kemampuan menghasilkan bentuk baru dalam seni, atau dalam

    11 M. Taufik, Kreativitas Jalan Baru Pendidikan Islam (Mataram: Lembaga Pengkajian-

    Publikasi Islam dan Masyarakat (LEPPIM) IAIN Mataram, 2012), h. 163-164

  • 11

    permesinan, atau dalam memecahkan masalah-masalah dengan

    metode-metode baru

    3) Definisi berikutnya diutarakan oleh Csikzentmihalyi, beliau memaparkan kreativitas sebagai produk berkaitan dengan penemuan

    sesuatu, memproduksi sesuatu yang baru, daripada akumulasi

    keterampilan atau berlatih pengetahuan dan mempelajari buku.12

    Sund dalam Slameto menyatakan bahwa individu dengan potensi

    kreatif dapat dikenal melalui pengamatan ciri-ciri sebagai berikut:

    1) Hasrat keingintahuan yang cukup besar 2) Bersikap terbuka terhadap pengalaman baru 3) Panjang akal 4) Keinginan untuk menemukan dan meneliti 5) Cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan sulit 6) Cenderung mencari jawaban yang luas dan memuaskan 7) Memiliki dedikasi bergairah serta aktif dalam melaksanakan tugas 8) Berpikir fleksibel 9) Menanggapi pertanyaan yang diajukan serta cenderung memberi

    jawaban lebih banyak

    10) Kemampuan membuat analisis dan sitesis 11) Memiliki semangat bertanya serta meneliti 12) Memiliki daya abstraksi yang cukup baik 13) Memiliki latar belakang membaca yang cukup luas.13

    Pada hakikatnya, pengertian kreatif berhubungan dengan penemuan

    sesuatu sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru.

    Sesungguhnya yang diciptakan itu tidak perlu hal-hal yang baru sama

    sekali, tetapi dapat berupa gabungan (kombinasi) dari hal-hal yang sudah

    ada sebelumnya. Dengan adanya pengalaman memungkinkan seseorang

    dapat menggabung-gabungkan unsur-unsurnya menjadi sesuatu yang

    baru. Misalnya, orang yang pertama kali menemukan smartwatch (jam

    tangan hp) sebagai gabungan dari jam tangan dan handphone juga

    termasuk orang yang kreatif. Jadi di sini kreativitas adalah kemampuan

    untuk menggabungkan hal-hal yang tidak diketahui menjadi ada, atau

    menemukan sesuatu yang belum diketahui seperti mendatangkan sesuatu

    12 Yeni Rachmawati dan Euis Kurniati, Strategi Pengembangan Kreativitas pada Anak Usia

    Taman Kanak-Kanak (Jakarta: Kencana, 2017), h. 13-14

    13 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), h.

    147-148

  • 12

    hal yang luar biasa dan tidak begitu dikenal di kalangan banyak orang

    dalam bidang tersebut pada saat itu.

    Terdapat banyak arti kreativitas yang populer di antaranya

    pengertian yang mendefinisikan kreativitas dalam empat dimensi yang

    dikenal sebagai Four P’s of Creativity, yakni dimensi Person, Process,

    Press dan Product. Sebagian besar definisi kreativitas berfokus pada salah

    satu dari empat P ini. Keempat P ini saling berkaitan: Pribadi kreatif yang

    melibatkan diri dalam Proses kreatif, dan dengan dukungan dan dorongan

    (Press) dari lingkungan, menghasilkan Produk kreatif. Berikut

    penjabaran dari masing-masing dimensi definisi kreativitas:

    1) Kreativitas dari segi “pribadi” (person)

    Menurut Hulbeck dikutip Munandar “Creative action is an

    imposing of one’s own whole personality on the environment in a

    unique and characteristic way” Tindakan kreatif muncul dari

    keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan

    lingkungannya. Definisi (teori) mutakhir tentang kreativitas yang

    juga menekankan pentingnya aspek pribadi diberikan Sternberg

    dalam “Three facet model of creativity”, yaitu “kreativitas

    merupakan titik pertemuan yang khas antara tiga atribut

    psikologis: intelegensi, gaya kognitif, dan kepribadian/motivasi.

    Secara bersamaan ketiga segi dalam alam pikiran ini membantu

    memahami apa yang melatarbelakangi individu yang kreatif”.14

    Jadi. seseorang yang kreatif dapat dilihat dari keberadaan tiga

    atribut psikologis tadi. Masing-masing tiga atribut psikologis itu adalah,

    pertama intelegensi yang meliputi pengetahuan, pemikiran,

    perencanaan, perumusan masalah, penyusunan strategi, keterampilan

    dalam mengambil keputusan, serta keseimbangan. Kedua, gaya kognitif

    yang meliputi kebebasan dalam menciptakan aturan sendiri, melakukan

    hal-hal dengan caranya sendiri. Dan ketiga, kepribadian/motivasi yang

    meliputi dorongan untuk berprestasi dan mendapatkan pengakuan, serta

    keuletan dalam menghadapi rintangan.

    14 S.C Utami Munandar (b), Kreativitas dan Keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi

    Kreatif dan Bakat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014), h. 26

  • 13

    2) Kreativitas sebagai suatu “proses” (process) dapat dirumuskan sebagai

    suatu bentuk pemikiran dimana individu berusaha menemukan

    hubungan-hubungan yang baru, mendapatkan jawaban, metode atau

    cara-cara baru dalam menghadapi suatu masalah.15 Proses kreativitas

    dapat dibagi dalam beberapa tahap yakni persiapan, inkubasi, iluminasi,

    dan implementasi,16 dengan penjelasan sebagai berikut:

    a) Tahap persiapan

    Adalah tahap pengumpulan berbagai macam informasi atau

    data sebagai bahan pemecahanan masalah dan juga sebagai tahap

    mendalami masalah dengan cara belajar berpikir, mencari jawaban,

    bertanya kepada orang lain dan sebagainya. Maka akan terjadi

    beberapa percobaan dari timbulnya kemungkinan-kemungkinan

    dalam pemecahan masalah

    b) Tahap inkubasi

    Adalah tahap meditasi, untuk merileksasikan, merenungkan

    pikiran dengan mengesampingkan dahulu masalah. Tahap ini terjadi

    dalam kurun waktu yang tak menentu bisa terjadi lama maupun

    sebentar dan ada kemungkinan terjadi proses pelupaan terhadap

    konteks masalah dan akan ingat kembali ketika tahap berikutnya

    mulai muncul

    c) Tahap iluminasi

    Adalah tahap munculnya sebuah gagasan atau inspirasi untuk

    memecahkan masalah, penyelesaian, dan jawaban baru. Hal tersebut

    biasanya muncul secara spontan disaat tahap meditasi di atas sedang

    berlangsung, seperti saat keluarnya kata nah, ini dia! atau oh ya!

    d) Tahap implementasi

    Adalah tahap menyelesaikan masalah. Tahap dimana ide atau

    kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. Di sini diperlukan

    15 Monty P. Satiadarma dan Fidelis E. Waruwu, Mendidik Kecerdasan. Pedoman bagi Orang

    Tua dan Guru dalam Mendidik Anak Cerdas (Jakarta: Pustaka Populer Obor, 2003), h. 108

    16 Amal Abdus-Salam Al-Khalili, Mengembangkan Kreativitas Anak, Terj dari تنمية قدرات اإلبتكار

    oleh Umma Farida (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2005), h. 245 لدى األطفال

  • 14

    pemikiran kreatif yang harus diikuti oleh pemikiran kritis. Maka

    akan muncul aktivitas evaluasi yang dimaksudkan untuk perbaikan

    dengan sebaik mungkin sebelum memunculkan hasilnya

    3) Kreativitas sebagai “pendorong” (press) yang datang dari diri sendiri

    (internal) berupa hasrat dan motivasi yang kuat untuk berkreasi.17

    Menurut Robert Franken dalam buku Momon Sudarma, ada tiga

    dorongan yang menyebabkan orang bisa kreatif, yaitu:

    a) Kebutuhan untuk memiliki sesuatu yang baru, bervariasi dan lebih baik

    b) Dorongan untuk mengomunikasikan nilai dan ide c) Keinginan untuk memecahkan masalah.

    Ketiga dorongan itulah, yang kemudian menyebabkan

    seseorang untuk berkreasi. Dengan kata lain, masalah kretaivitas ini

    dapat dimaknai sebagai sebuah energi atau dorongan dalam diri yang

    menyebabkan seseorang melakukan tindakan tertentu.18

    4) Definisi kreativitas dari “hasil” (product) seperti dikemukakan oleh

    Baron dalam buku Satiadarma dan Waruwu: Creativity is the ability to

    bring something new into existence. Ringkasannya, segala sesuatu yang

    diciptakan oleh seseorang sebagai hasil dari keunikan pribadinya dalam

    interaksi dengan lingkungannya.19 Maksud dari produk ini, bisa dalam

    pengertian produk pemikiran (ide), karya tulis, atau produk dalam

    pengertian barang.20

    Jadi, simpulannya bahwa kreativitas dalam pengembangannya

    sangat terikat dengan empat aspek, yaitu aspek Pribadi, Pendorong, Proses,

    dan Produk. Kreativitas muncul dari interaksi pribadi yang unik dengan

    lingkungannya. Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati

    adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini,

    menilai dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan

    mengujinya lagi, dan akhirnya menyampaikan hasilnya. Definisi

    17 Monty P. Satiadarma dan Fidelis E. Waruwu, Loc.Cit, h. 108

    18 Momon Sudarma, Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kreatif (Jakarta: Rajawali Pers,

    2013), h. 18

    19 Monty P. Satiadarma dan Fidelis E. Waruwu, Loc.Cit, h. 108

    20 Momon Sudarma, Op.Cit, h. 19

  • 15

    mengenai produk (hasil) kreativitas menekankan bahwa apa yang

    dihasilkan dari proses kreativitas adalah sesuatu yang baru, orisinal, dan

    bermakna. Selain itu, pada saat terjadinya pengubahan dan pengujian

    kembali, itulah makna kreativitas sebagai pendorong (press) karena

    berdasarkan kata ‘kembali’ membuktikan bahwa seseorang memiliki

    hasrat dan motivasi untuk berkreasi terus menerus dan tak dapat dipungkiri

    bahwa memang kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan

    internal (motivasi intrinsik) maupun dorongan eksternal dari lingkungan.

    b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kreativitas Siswa

    Menurut Hurlock dalam buku Satiadarma dan Waruwu

    mengemukakan beberapa kondisi yang perlu diperhatikan karena kondisi

    tersebut dapat meningkatkan kreativitas anak:21

    1) Waktu

    Untuk menjadi kreatif, anak membutuhkan banyak waktu tanpa

    adanya pembatasan, seperti pengaturan waktu sedemikian rupa tanpa

    memikirkan waktu kebebasan anak sehingga waktu bermain anak untuk

    mengeksplorasi serta mencoba gagasan dan konsep baru tidak bebas

    2) Kesempatan menyendiri

    Kesempatan ini ditujukan agar anak dapat mengembangkan

    imajinasinya dengan cara memberi kesempatan menemukan kepuasan

    bagi pengekspresian perasaan dan ide-idenya dengan cara-cara yang

    baru dan berbeda, dengan begitu ia dapat mengenal, merasakan, dan

    menilai keunikan yang dimilikinya seperti pepatah yang dilontarkan

    oleh Albert Einstein bahwa “Imajinasi lebih penting daripada

    pengetahuan. Pengetahuan itu terbatas, sedangkan imajinasi seluas

    langit dan bumi”

    21 Monty P. Satiadarma dan Fidelis E. Waruwu, Op.Cit, h. 117-118

  • 16

    3) Dorongan

    Dorongan yang dimaksud ini adalah motivasi. Motivasi

    merupakan dorongan yang timbul pada diri seseorang untuk melakukan

    usaha karena ingin mencapai tujuan yang dicapainya. Seseorang yang

    berprestasi tak terlepas dari dorongan orang-orang yang ada di

    sekitarnya untuk menjadi kreatif dan bebas dari ejekan dan kritik yang

    dilontarkan padanya

    4) Sarana

    Sarana adalah segala sesuatu dalam bentuk alat yang dapat

    menunjang tercapainya sebuah maksud ataupun tujuan. Tujuan yang

    dituju ini yakni kreativitas, sarana ini harus disediakan untuk

    merangsang dorongan eksplorasi dan eksperimentasi sebagai unsur

    penting dalam kreativitas

    5) Lingkungan yang merangsang

    Lingkungan yang dapat merangsang kreativitas anak adalah

    lingkungan rumah dan sekolah, peran dari kedua lingkungan tersebut

    yakni sebagai pemberi bimbingan dan dorongan kepada anak untuk

    menggunakan sarana yang akan mendorong kreativitasnya. Peran ini

    harus dilakukan sedini mungkin agar anak dapat mengeksplorasi

    kreativitasnya dalam jangka panjang sampai dilanjutkan kembali saat

    masa sekolah, dengan menjadikan kreativitas sebuah pengalaman yang

    menyenangkan dan dihargai secara sosial

    6) Hubungan orang tua-anak yang tidak posesif

    Orang tua posesif adalah orang tua yang menuntut lebih dari

    kemampuan anak, salah sedikitpun akan menjadi masalah baginya.

    Dampak dari orang tua yang posesif ini yakni akan membentuk pribadi

    anak yang tidak mandiri dan tidak memiliki kepercayaan pada dirinya,

    karena kesalahan kecil tadi anak akan selalu merasa kekurangan dan

    selalu disalahkan. Padahal, pribadi anak yang mandiri dan percaya diri

    sebagai dua kualitas yang sangat mendukung kreativitasnya

  • 17

    7) Cara mendidik anak

    Mendidik anak secara demokratis dapat menjadi pilihan yang

    tepat dalam mendidik anak dibandingkan mendidik secara otoriter.

    Dalam prosesnya, orang tua akan lebih sering mendengarkan dan

    menghargai pendapat serta alasan yang dilontarkan anak dan juga anak

    diberi kesempatan dalam membuat keputusan yang sesuai dengan

    keinginannya. Mendidik anak secara toriter dapat memadamkan

    kreativitas anak karena kreativitas yang ingin diekspresikannya tidak

    dapat tersalurkan dengan baik dan juga kurangnya bantuan bimbingan

    maupun dorongan dari orang tua maupun sekolah

    8) Kesempatan untuk memperoleh pengetahuan

    Semakin banyak pengetahuan yang didapatkan maka akan

    semakin baik dasar untuk mencapai hasil yang kreatif. Sebagaimana

    keterkaitannya dengan arti kreativitas yakni dapat menggabungkan

    (kombinasi) dari unsur-unsur yang sudah ada menjadi kesatuan yang

    belum pernah ada dan dapat diterima juga diakui oleh kalangan luas

    Selain kondisi yang dapat meningkatkan kreativitas, di bawah ini

    akan diutarakan beberapa faktor penting yang dapat menghambat potensi

    kreatif anak, sebagai berikut:22

    1) Hambatan diri sendiri

    Hambatan dapat tersumber dari dua faktor, yakni hambatan

    internal dan hambatan eksternal. Hambatan internal ini adalah

    hambatan yang bersumber dari diri sendiri yang dapat menjadi

    penyebab utama terhambatnya kreativitas. Sedangkan hambatan

    eksternal adalah kebalikan dari hambatan internal yang bersumber dari

    luar yakni lingkungan. Di bawah ini akan diutarakan beberapa faktor

    penting yang dapat menghambat potensi kreatif anak, sebagai berikut:

    22 Yeni Rachmawati dan Euis Kurniati, Op.Cit, h. 7-10

  • 18

    a) Psikologis

    Beberapa perilaku berikut merupakan contoh perilaku individu

    yang dapat menghambat perilaku kreatif sebagaimana yang

    diutarakan Munandar dalam buku Yeni Rachmawati dan Euis

    Kurniati, di antaranya seperti:

    (1) Pengaruh dari kebiasaan atau pembiasaan (2) Perkiraan harapan orang lain (3) Kurangnya usaha dan kemalasan mental (4) Menentukan sendiri batasan yang tidak perlu (5) Kekakuan dan ketidaklenturan dalam berpikir (6) Ketakutan untuk mengambil risiko (7) Ketidakberanian untuk berbeda atau menyimpang dari yang

    lazim dilakukan

    (8) Takut dikritik, diejek (9) Ketergantungan terhadap otoritas (10) Kecenderungan untuk mengambil pola perilaku orang lain (11) Rutinitas (12) Kenyamanan (13) Keakraban (14) Kebutuhan akan keteraturan (15) Ketakhayulan (16) Merasa ditentukan oleh nasib (17) Hereditas atau kedudukan seseorang dalam hidup.23

    b) Biologis

    Dari sudut biologis, beberapa pakar menekankan bahwa

    kemampuan kreatif merupakan ciri herediter. Sementara pakar

    lainnya percaya bahwa lingkunganlah yang menjadi faktor penentu

    utama. Harus diakui bahwa gen yang diwarisi berperan dalam

    menentukan batas-batas intelegensi dan kreativitas

    c) Fisiologis

    Seseorang dapat mengalami kendala faali karena terjadi

    kerusakan otak yang disebabkan oleh penyakit atau kecelakaan.

    Kemungkinan lain seseorang menyandang salah satu kelainan fisik

    yang menghambatnya untuk mengungkapkan kreativitasnya

    23 Yeni Rachmawati dan Euis Kurniati, Loc.Cit, h. 7

  • 19

    d) Sosiologis

    Lingkungan sosial merupakan faktor utama yang menentukan

    kemampuan kita untuk menggunakan potensi kreatif dan

    mengungkapkan keunikan kita. Ungkapan kreatif melibatkan risiko

    pribadi, sering seseorang mundur dari pernyataan pikiran atau

    pendapat agar merasa diterima.24

    2) Pola asuh

    Setiap orang tua memiliki cara yang berbeda dalam pola

    pengasuhnya terhadap anak. Pola asuh orang tua menjadi faktor penting

    dalam berkembangnya kreativitas anak dan sekaligus dapat menjadi

    penghambat tumbuh kembangnya kreativitas. Kehidupan keluarga

    merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak. Oleh karena itu,

    pola pengasuhan orang tua sangat penting karena akan berdampak bagi

    anak hingga ia dewasa. Keluarga yang memiliki suasana terbuka, saling

    mengharga, saling mendengarkan dan menerima pendapat satu sama

    lain antar anggota keluarga akan membentuk anak yang menjadi

    generasi terbuka, fleksibel, penuh inisiatif, dan produktif, suka

    tantangan, dan memiliki kepercayaan diri yang kuat. Perilaku kreatif

    dapat tumbuh dan berkembang secara baik. Akan berbeda halnya

    dengan anak yang dibesarkan pada keluarga dengan pola asuh yang

    mengutamakan kedisiplinan tanpa dibarengi dengan toleransi, wajib

    menaati peraturan, memaksakan kehendak, tidak memberikan peluang

    anak untuk berinisiatif akan membentuk anak yang menjadi generasi

    yang tidak memiliki visi masa depan, tidak memiliki keinginan maju

    dan berkembang, dan terbiasa berpikir satu arah (linear).

    3) Sistem pendidikan

    Berkenaan dengan sistem pendidikan di Indonesia, Supriadi

    dalam Rachmawati dan Kurniati berpendapat bahwa salah satu

    kemungkinan penyebab rendahnya kreativitas anak Indonesia adalah

    24 Ibid, h. 8

  • 20

    lingkungan yang kurang menunjang anak-anak kita untuk

    mengekspresikan kreativitasnya, khususnya lingkungan keluarga dan

    sekolah. Saat ini orientasi sistem pendidikan kita lebih mengarah pada

    pendidikan “akademik” dan “industri tenaga kerja”. artinya sistem

    persekolahan kita lebih mengarah pada upaya membentuk manusia

    menjadi ‘pintar di sekolah saja’ dan menjadi “pekerja” bukan menjadi

    “manusia Indonesia yang seutuhnya”.25 Berikut kondisi di sekolah yang

    dapat menjadi kendala bagi pertumbuhan kreativitas siswa, sebagai

    berikut:

    a) Sikap guru

    Sangatlah penting bahwa orang tua atau pendidik menyadari

    ciri-ciri anak didik manakah yang perlu dipupuk untuk

    menumbuhkan pribadi-pribadi yang kreatif. Biasanya pendidik atau

    orang tua kurang menyadari dampak dari sikap mereka terhadap

    perkembangan kepribadian anak. Beberapa contoh sikap pendidik

    yang kurang menunjang kreativitas anak adalah:

    (1) Sikap terlalu khawatir atau takut-takut, sehingga anak terlalu dibatasi dalam kegiatan-kegiatannya

    (2) Sikap terlalu mengawasi anak (3) Sikap yang menekankan pada kebersihan dan keteraturan yang

    berlebihan

    (4) Sikap menuntut kepatuhan mutlak dari anak tampa memandang perlu mempertimbangkan alasan-alasan anak

    (5) Sikap saya lebih tahu dan sikap saya yang lebih benar (6) Sikap yang menganggap bahwa berkhayal itu tidak baik, tidak

    berguna karena hanya membuang-buang waktu

    (7) Sikap mengkritik perilaku atau pekerjaan anak (8) Sikap yang jarang memberi pujian atau penghargaan terhadap

    usaha atau karya anak.26

    25 Ibid, h. 9 26 Monty P. Satiadarma dan Fidelis E. Waruwu, Op.Cit, h. 116

  • 21

    Ada beberapa hal yang penting dilakukan oleh guru agar

    peserta didik memiliki karakter kreatif. Di antaranya yaitu:27

    (1) Belajar melebihi fakta

    Belajar melebihi fakta adalah belajar mengasah

    kemampuan anak mendalami fakta yang ada, tetapi tidak

    disebutkan secara terpirinci di dalam fakta tersebut melainkan

    makna yang tersirat dan masih berkaitan. Maka dari itu, guru

    harus dapat mengajak dan membiasakan peserta didiknya untuk

    belajar melebihi fakta. Supaya dapat menerapkan langkah ini,

    tentu membutuhkan kreativitas guru yang mampu

    mengemukakan terlebih dahulu makna yang tersirat dari fakta

    yang tertulis dalam mata pelajaran, sehingga kebiasaan tersebut

    dapat diteladani oleh peserta didik

    (2) Mempelajari cara berpikir yang benar

    Peserta didik yang kreatif pasti memiliki cara berpikir

    tersendiri. Dan yang dibutuhkan di sini adalah kemampuan guru

    untuk membimbing peserta didiknya berpikir secara tepat dan

    efektif. Akan tetapi kebanyakan mata pelajaran tidak

    menyediakan peluang bagi peserta didiknya dalam mempelajari

    cara berpikir, dapat dilihat dari segi soal yang ada kebanyakan

    dalam bentuk pilihan daripada essai. Untuk mengatasinya, maka

    guru dapat memberikan tugas yang dapat meragsang kreativitas

    peserta didik, sehingga membentuk karakter yang berkebiasaan

    menjadi kreatif

    (3) Belajar mengontruksi fakta baru

    Pada proses ini peserta didik diajak bereksplorasi

    berbagai macam fakta masalah, kemudian dilatih pula dalam

    pencarian solusi kreatif dengan mewujudkannya dalam sebuah

    ide atau karya yang kreatif dan produktif. Penunjang

    27 Nurla Isna Aunillah, Panduan Menerapkan Pendidikan Karakter di Sekolah (Jogjakarta:

    Laksana, 2011), h. 88-91

  • 22

    terbentuknya solusi kreatif ialah informasi baru yang dapat

    dihubungkan dengan fakta yang sedang dicari dan disampaikan

    oleh guru kepada peserta didiknya. Dengan demikian, peserta

    didik merasa tidak ketinggalan berita karena merasa up to date

    b) Belajar dengan hafalan mekanis

    Maksud dari belajar dengan hafalan mekanis yakni menghafal

    fakta tanpa memahami hubungan antara fakta tersebut. Hafalan itu

    banyak menjadi modal utama bagi anak saat musim ujian telah tiba.

    Sebagian anak memang dapat belajar memahami fakta ketika ia

    mencoba menghafalnya akan tetapi adapula yang hanya menghafal

    tanpa memahaminya dan cara seperti itu akan berdampak pada

    ingatan yang tidak akan menetap lama karena tidak diasah

    sedemikian rupa untuk selalu mengingatnya

    c) Kegagalan

    Kegagalan mempunyai dampak yang nyata terhadap motivasi

    intrinsik dan kreativitas. Kita tidak dapat menghindari sepenuhnya

    suatu kegagalan. Yang paling penting adalah cara guru dalam

    membantu siswa memahami dan menafsirkan kegagalannya

    d) Tekanan akan konformitas

    Tekanan yang berlebihan terhadap konformitas tradisi, di

    rumah, di sekolah, ataupun lngkungan dapat menghambat

    pengembangan kreativitas. Sebaiknya seorang anak diberi

    kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.

    Dari semua faktor di atas, maka untuk memunculkan kreativitas pada

    anak, ia membutuhkan kebebasan dalam bereksplorasi yang masih tetap

    dalam ruang lingkup pengawasan orang tua maupun guru. Pengawasan

    yang dimaksud ini seperti sebuah arahan yang pasti mereka butuhkan saat

    proses pendahuluan, proses kejadian, maupun akhir proses menuju suatu

    kreativitas. Arahan itupun dapat berupa sebuah dorongan/motivasi, dapat

    juga dengan menyediakan sarana yang dibutuhkan. Dalam hal ini peran

  • 23

    serta orang tua dan guru sangatlah penting. Jika diposisikan mereka dapat

    berada di posisi terdepan dan juga bisa berada di posisi akhir. Saat di posisi

    terdepan peran mereka sebagai ‘pengajak’ agar anak menjadi lebih maju

    dan baik, seperti memberikan pengetahuan sebagai bekal menuju

    kesuksesan, dan saat diposisi akhir mereka dapat menjadi penolong bagi

    anak seperti saat membantu anak yang sedang dalam kesusahan

    memecahkan masalah ataupun hambatan-hambatan lain yang dapat lebih

    mudah diselesaikan secara bersama.

    c. Pengembangan Kreativitas Siswa

    Mengembangkan sesuatu berarti mendiskusikan kemudian

    mengarahkannya kepada apa yang lebih baik dan lebih utama daripada

    sebelumnya, dapat diartikan pula bahwa pengembangan adalah sebuah

    bentuk peningkatan dan pembaharuan terhadap sesuatu. Adapun yang

    dimaksud ‘sesuatu’ di sini adalah segala macam produk yang telah

    diciptakan oleh orang lain, baik berupa karya seni, sastra, ilmu, filsafat,

    atau yang semisalnya.

    Pada hakikatnya, kreativitas dapat ditemukan dimana saja dan oleh

    siapa saja, tidak bergantung pada usia, jenis kelamin, tingkat sosial-

    ekonomi, maupun tingkat pendidikan. Ditinjau dari segi pendidikan,

    bahwa bakat kreatif itu dapat ditingkatkan, dengan itu perlu adanya

    pemupukan sejak dini dan pengembangan lebih lanjut. Tidak terbantahkan

    lagi bahwa memang setiap manusia memiliki potensi kreatif. Akan tetapi,

    setiap manusia memiliki perjalanan hidup yang berbeda-beda, ada yang

    mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensinya dan aja juga

    yang tidak memilikinya karena tidak menemukan lingkungan yang dapat

    memfasilitasi berkembangnya potensi tersebut dan tidak dapat mengenali

    potensi itu dengan sendirinya. Walaupun setiap orang memang memiliki

    potensi kreatif, kalau tidak dipupuk dan dikembangkan maka potensi

    tersebut lambat laun akan terpendam dan tidak dapat diwujudkan. Dengan

    itu, kreativitas penting dipupuk dan dikembangkan dalam diri anak karena:

  • 24

    1) Dengan berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya, dan perwujudan diri termasuk salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia

    2) Kreativitas atau berpikir kreatif, sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah

    3) Bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat, tapi juga memberikan kepuasan kepada individu

    4) Kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya.28

    Sebelum melanjut pada cara mengembangkan kreativitas anak didik,

    perlu diketahui pula beberapa segi pengembangan yang sesuai untuk

    mengembangkan kreativitas anak didik, yakni meliputi segi kognitif,

    afektif, dan psikomotorik.

    1) Pengembangan kognitif, antara lain dilakukan dengan merangsang kelancaran, kelenturan, dan keaslian dalam berpikir

    2) Pengembangan afektif, dilakukan dengan memupuk sikap dan minat untuk bersibuk diri secara afektif

    3) Pengembangan psikomotorik, dilakukan dengan menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang memungkinkan siswa mengembangkan

    keterampilannya dalam membuat karya-karya yang produktif-

    inovatif.29

    Empat hal yang dapat diperhitungkan dalam pengembangan

    kreativitas yaitu: Pertama, memberikan rangsangan mental baik

    pada aspek kognitif maupun kepribadiannya serta suasana psikologis

    (Psychological Athmosphere). Kedua, menciptakan lingkungan

    kondusif yang akan memudahkan anak untuk mengakses apapun

    yang dilihatnya, dipegang, didengar, dan dimainkan untuk

    pengembangan kreativitasnya. Perangsangan mental dan lingkungan

    kondusif dapat berjalan beriringan seperti halnya kerja simultan otak

    kiri dan kanan. Ketiga, peran serta guru dalam mengembangkan

    kreativitas, artinya ketika kita ingin anak menjadi kreatif, maka akan

    dibutuhkan juga guru yang kreatif pula dan mampu memberikan

    stimulasi yang tepat pada anak. Keempat, peran serta orang tua

    dalam mengembangkan kreativitas anak.30

    28 S.C Utami Munandar (a), Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah Penuntun

    bagi Guru dan Orang Tua (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 1999), h. 45-46

    29 Conny Semiawan, dkk, Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah Petunjuk

    bagi Guru dan Orang Tua (Jakarta: PT Gramedia, 1987), h. 10 30 Yeni Rachmawati dan Euis Kurniati, Op.Cit, h. 27

  • 25

    Bagaimana “suasana sekolah” yang dapat memacu perkembangan

    kreativitas anak untuk tumbuh dan berkembang dalam kegiatan

    belajarnya? Dengan kata lain, apa yang harus dilakukan oleh guru agar

    tercipta “kondisi kegiatan pembelajaran” yang mengembangkan

    kreativitas anak? Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian: 31

    1) Pengaturan kelas

    Pengaturan kelas yang dimaksud adalah pengaturan fisik seperti

    pengaturan tempat duduk, dan pengaturan ruang kelas. Dengan adanya

    pengaturan kelas ini anak dapat terlibat dalam diskusi kelas, dan juga

    pengaturan ruang kelas dapat menjadikan ruang sumber yang

    mendukung siswa untuk membaca, menjajaki, dan meneliti. Seperti

    memasang gambar-gambar, alat-alat laboratorium, perpustakaan mini,

    dan alat-alat yang memungkinkan siswa untuk melakukan kegiatan

    konstruktif

    2) Suasana pengajaran yang menyenangkan

    Suasana pengajaran yang terjamin keamanan dan kebebasannya

    akan membuat para siswa mengembangkan pikiran-pikiran kreatifnya,

    sehingga ia berani dalam bereksplorasi dengan sesuatu yang baru

    3) Persiapan guru

    Guru adalah orang tua saat di sekolah, beliau sebagai sosok

    fasilitator yang bertugas mendorong siswanya untuk dapat

    mengembangkan ide, inisiatif dalam menjajaki tugas-tugas baru. Maka

    dengan itu, saat pengajaranya guru memberi waktu pada siswa untuk

    memikirkan dan mengembangkan ide atau gagasan kreatif

    4) Sikap guru

    Sikap guru yang diperlukan adalah sikap terbuka, sikap yang mau

    menerima dan memahami gagasan-gagasan berbeda dari siswanya,

    menerima perilaku siswa, tidak cepat memberikan kritik, celaan, dan

    hukuman. Dapat memperlakukan siswa dengan adil dan obyektif, tanpa

    31 Monty P. Satiadarma dan Fidelis E. Waruwu, Op.Cit, h. 119

  • 26

    memilih-milih kasih. Berupaya untuk bersikap positif terhadap

    kegagalan yang dihadapi siswa dan berusaha membantunya menyadari

    kesalahan dan sebab kegagalannya

    5) Metode pengajaran.

    Metode pengajaran yang baik digunakan yakni metode belajar

    kreatif yang berorientasi pada pengembangan potensi berpikir siswa,

    dengan mengaktifkan berpikir divergen melalui teknik-teknik seperti

    sumbang saran, daftar penulisan gagasan, teknik pemecahan masalah

    yang dapat merangsang siswa untuk berpikir tetang berbagi

    kemungkinan yang dapat dilakukan. Dalam setiap kegiatan belajar

    mengajar, siswa dilibatkan dalam masalah yang nyata dan juga

    menantang

    Ada beberapa pendapat yang mengemukakan mengenai cara

    mengembangkan kreativitas yakni dalam buku Harahap cara yang

    dimaksud adalah:

    1) Kreativitas memerlukan informasi pengetahuan sebagai bahan untuk berpikir. Informasi, maksudnya segala macam informasi, khusus atau

    umum. Informasi yang khusus tentang sesuatu akan memberikan

    peluang yang terbatas dan sejenis, sedangkan informasi yang luas dan

    beragam akan memberikan peluang yang bervariasi

    2) Produktivitas yang diperoleh dengan menggarap kreativitas tak langsung membawa atau menghasilkan produk akhir, justru dapat

    menghasilkan atau mencetuskan ide dan resep baru untuk bekerja

    3) Kreasi yang memberi peluang bervariasi juga menawarkan pilihan yang bervariasi, sehingga kelak terdapat lebih banyak pilihan.32

    Dapat disimpulkan bahwa cara mengembangkan kreativitas yang

    dimaksudkan di atas adalah dengan menyediakan informasi yang seluas-

    luasnya dan beragam sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan siswa,

    serta memberikan kebebasan pada siswa dalam mengeksplorasi informasi,

    jadi guru tidak langsung memberikan semua informasi (ilmu) yang

    32 E.I Lantang Harahap, Mari Mempertinggi Kreativitas (Jakarta: PT Gunung Agung, 1987), h.

    162

  • 27

    dimilikinya kepada siswa secara langsung semuanya dalam satu waktu

    agar siswanya dapat mengembangkan informasi yang sudah di dapat dari

    guru dengan informasi yang di dapat dari sumber lain sehingga informasi

    yang didapatkan bervariasi dengan tujuan untuk memperkaya informasi.

    d. Pengukuran Kreativitas

    Beberapa jenis tes untuk mengukur kreativitas telah dikembangkan

    oleh beberapa ahli kreativitas, seperti berikut:

    1) E. Paul Torrance

    Torrance mengukur kemampuan melalui penampilan beberapa

    tugas majemuk yang dirancang untuk memicu ungkapan beberapa

    kemampuan pada saat yang sama.33 Tes yang telah dikembangkan oleh

    Torrance bernama

    Torrance Tests of Creative Thinking Verbal (Form A) yang terdiri

    atas aspek-aspek Fluency, Flexibility, Originality, Average, dan

    Creativity Index. Beliau juga mengembangkan Figural (Form A)

    Fluency, Originality, Elaboration, Abstractness of Titles, dan

    Resistence to Closure.34

    Tes Torrance ini terdiri dari bentuk verbal dan bentuk figural,

    keduanya berkaitan dengan proses kreatif dan meliputi jenis berpikir

    yang berbeda-beda karena tes ini di susun untuk membuat aktivitasnya

    terlihat lebih menarik dan menantang untuk siswa mulai dari

    pendidikan prasekolah dan tamat sekolah. Selain itu tes ini dapat

    diberikan secara individual maupun dalam kelompok.

    Bentuk verbal terdiri dari tujuh subtes: mengajukan pertanyaan,

    menerka sebab, menerka akibat, memperbaiki produk,

    penggunaan tidak lazim, pertanyaan tidak lazim, dan aktivitas

    yang diandaikan. Bentuk figural terdiri dari tiga subtes: tes

    bentuk, gambar yang tidak lengkap, dan tes lingkaran.

    33 S.C Utami Munandar (b), Op. Cit, h. 89

    34 Ratu Amilia Avianti, Pengembangan Tes Kreativitas (Universita Negeri Jakarta), h. 93

  • 28

    Skor yang dihasilkan dari bentuk verbal untuk melihat

    kelancaran, kelenturan, dan orisinalitas, sementara tes figural untuk

    melihat elaborasi. Tes ini memiliki batas waktu atas dasar pertimbangan

    bahwa sampai derajat tertentu harus ada press (pendorong, tekanan)

    untuk memicu fungsi mental kreatif dengan tetap memberikan

    dorongan untuk merangsang berpikir kreatif.

    2) J.P. Guilford

    Pada umumnya alat tes yang digunakan oleh Torrance dan

    Guilford mengutamakan kemampuan berpikir seperti kelancaran,

    kelenturan, orisinalitas, dan elaborasi, namun pendekatan mereka

    berbeda. Pendekatan yang digunakan oleh Guilford yakni dengan

    mengukur berpikir divergen dengan menggunakan format tes yang pada

    umumnya menuntut subjek untuk berespons terhadap banyak stimulus

    (rangsangan), yang masing-masing mengukur komponen khusus dari

    struktur intelek.35 Berikut penjelasan alat tes kemampuan berpikir:

    a) Fluency (Kelancaran) Merupakan kemampuan untuk menghasilkan banyak ide yang

    keluar dari pemikiran seseorang secara cepat. Dalam kelancaran

    berpikir, yang ditekankan adalah kuantitas dan bukan kualitas

    b) Flexibility (Kelenturan) Merupakan kemampuan untuk memproduksi sejumlah ide,

    jawaban-jawaban atau pertanyaan-pertanyaan yang bervariasi, dapat

    melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda,

    mencari alternatif atau arah yang berbeda-beda, serta mampu

    menggunakan bermacam-macam pendekatan atau cara pemikiran.

    Orang yang kreatif adalah orang yang luwes dalam berpikir. Mereka

    dengan mudah dapat meninggalkan cara berpikir lama dan

    menggantikannya dengan cara berpikir yang baru

    c) Originality (Keaslian) Merupakan kemampuan untuk mencetuskan gagasan unik atau

    kemampuan untuk mencetuskan gagasan asli

    35 S.C Utami Munandar (b), Op.Cit, h. 89-90

  • 29

    d) Elaboration (Penguraian) Merupakan kemampuan dalam mengembangkan gagasan dan

    menambahkan atau memperinci detail-detail dari suatu objek,

    gagasan atau situasi sehingga menjadi lebih baik menarik.36

    Adapun ciri-ciri kemampuan berpikir kreatif antara lain meliputi:

    a) Kelancaran (Fluency) (1) Mengajukan banyak pertanyaan (2) Menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada pertanyaan (3) Bekerja lebih cepat dari teman lain (4) Melakukan lebih banyak daripada teman lain (5) Dengan cepat melihat kesalahan dan kelemahan dari suatu objek

    atau situasi

    b) Keluwesan (Flexibility) (1) Memberikan macam-macam penafsiran terhadap suatu gambar,

    cerita atau masalah

    (2) Menerapkan suatu konsep atau asas dengan cara yang berbeda beda

    (3) Memberikan pertimbangan atau mendiskusikan sesuatu selalu memiliki posisi yang berbeda atau bertentangan dengan

    mayoritas kelompok

    (4) Jika diberi suatu masalah biasanya memikirkan macam-macam cara yang berbeda-beda untuk menyelesaikannya

    c) Keaslian (Originality) (1) Memikirkan masalah-masalah atau hal yang tak pernah

    terpikirkan orang lain

    (2) Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah (3) Melahirkan ungkapan yang baru dan unik (4) Memberikan contoh-contoh konsep yang berbeda dari yang

    sudah ada

    d) Penguraian (Elaboration) (1) Mencari arti yang lebih mendalam terhadap jawaban atau

    pemecahan masalah dengan melakukan langkah-langkah yang

    terperinci

    (2) Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain (3) Cenderung memberikan jawaban yang luas dan memusakan (4) Mampu membangun keterkaitan antara konsep.37

    36 Agustina Hariani Panjaitan dan Edy Surya, Creative Thinking (Berpikir Kreatif) dalam

    Pembelajaran Matematika, Desember 2017

    (https://www.researchgate.net/publication/321849189_CREATIVE_THINKING_BERPIKIR_KR

    EATIF_DALAM_PEMBELAJARAN_MATEMATIKA), diakses tanggal 20 Agustus 2019 jam

    19.27 WIB

    37 Benny Sumarno, Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa menggunakan

    Model Metaphorming pada Materi Gerak Lurus X Mia 7 SMA Negeri 1 Kota Jambi, Skripsi pada

    Universitas Jambi, Jambi, 2016, h. 8-9

    https://www.researchgate.net/publication/321849189_CREATIVE_THINKING_BERPIKIR_KREATIF_DALAM_PEMBELAJARAN_MATEMATIKAhttps://www.researchgate.net/publication/321849189_CREATIVE_THINKING_BERPIKIR_KREATIF_DALAM_PEMBELAJARAN_MATEMATIKA

  • 30

    2. Intensitas mengikuti Kegiatan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)

    a. Pengertian Intensitas

    Kata intensitas merupakan pengadopsian kata dari Bahasa Inggris

    yaitu “Intensity” yang berarti kuat, keras, atau hebat. Kata intensive

    selanjutnya dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan kata intensif atau

    intensitas, yang mempunyai arti sungguh-sungguh, giat, atau hebat dalam

    melakukan suatu hal.38 Menurut Poerwadarminta ialah suatu kegiatan yang

    sungguh-sungguh mendalam dan hal tersebut dapat bertambah dan

    kadang-kadang berkurang atau melemah. Indikator dari intensitas adalah

    keseringan (kontinuitas), kesungguhan atau kebulatan tekad (semangat)

    dan tenaga yang dikerahkan untuk melakukan suatu usaha (perhatian).39

    Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa intensitas adalah

    seberapa sering tingkat kesungguhan dan kekuatan yang dilakukan oleh

    seseorang dalam melakukan suatu kegiatan serta menggunakan semua

    kemampuan yang dimiliki seseorang secara terus menerus untuk

    mendapatkan hasil yang maksimal.

    b. Pengertian, Tujuan, dan Fungsi OSIS

    1) Pengertian OSIS

    Setiap sekolah di Indonesia yang berada di tingkat sekolah

    menengah yaitu SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMA (Sekolah

    Menengah Akhir) wajib membentuk sebuah organisasi yang diberi

    nama Organisasi Siswa Intra Sekolah atau disingkat OSIS. Hal ini

    sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik

    Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan BAB

    III, Pasal 4, Ayat (1) bahwa “Organisasi kesiswaan di sekolah

    berbentuk organisasi siswa intra sekolah” dan pada Ayat (3) bahwa

    38 Hasan Alwi, dkk, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2008), h. 384

    39 Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), h. 384

  • 31

    “Organisasi siswa intra sekolah pada SMP, SMPLB, SMA, SMALB

    dan SMK adalah OSIS”.40

    OSIS adalah satu-satunya wadah untuk menampung aspirasi-

    aspirasi siswa dan wadah untuk menyalurkan kegiatan-kegiatan di luar

    kurikulum.41 Di dalam organisasi, siswa akan mendapatkan berbagai

    pengetahuan yang berbeda di luar jam kegiatan belajar mengajar di

    kelas. Dalam berorganisasi, siswa dapat dengan bebas mengeluarkan

    ide-ide yang dapat mengembangkan dan meningkatkan bakat serta

    kreativitas yang dimilikinya, dengan melalui OSIS lah semua itu dapat

    tertampung dan dapat terealisasikan dalam sebuah bentuk kegiatan.

    Maka dari itu, OSIS sebagai suatu organisasi memiliki ciri-ciri sebagai

    berikut:

    (1) Menumbuhkan dan mengembangkan berbagai macam kemampuan, seperti: managerial, leadership, komunikasi,

    kematangan berpikir, dan nilai-nilai kepribadian

    (2) Menumbuhkan dan mengembangkan karier siswa (3) Mengembangkan berbagai disiplin ilmu (4) Menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai sosial

    budaya

    (5) Tempat untuk saling bertukar pengalaman dan pengetahuan (6) Wadah/sarana untuk mencapai tujuan pembinaan siswa.42

    Selain pengertian OSIS di atas terdapat beberapa pengertian lain

    sebagai berikut:

    a) Secara fungsional

    OSIS merupakan organisasi yang dibentuk dalam rangka

    pelaksanaan kebijaksanaan pendidikan, khususnya di bidang

    pembinaan kesiswaan. Jalur pembinaan kesiswaan secara nasional

    terkenal dengan nama “empat jalur pembinaan kesiswaan”, yaitu

    40 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2008 tentang

    Pembinaan Kesiswaan

    41 Mulyono, Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,

    2008), h. 191

    42 Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya

    (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999), h. 249

  • 32

    jalur organisasi kesiswaan, latihan kepemimpinan, kegiatan

    ekstrakulikuler, dan kegiatan wawasan wiyatamandala.

    b) Secara sistem

    OSIS sebagai tempat kehidupan berkelompok peserta didik

    yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, yaitu terdapat

    sekumpulan peserta yang mengadakan koordinasi dalam upaya

    menciptakan suatu organisasi yang mampu mencapa tujuan.43 Oleh

    karena OSIS sebagai suatu sistem ditandai beberapa ciri pokok,

    yaitu:

    (1) Berorientasi pada tujuan

    (2) Memiliki susunan kehidupan berkelompok

    (3) Memiliki sejumlah peranan

    (4) Terkoordinasi

    (5) Berkelanjutan dalam waktu tertentu.44

    Dari berbagai penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa OSIS

    merupakan organisasi resmi yang menjadi organisasi satu-satunya

    untuk siswa yang berada di dalam dan di lingkungan sekolah tempat

    OSIS itu berada. Anggota yang tergabung dalam OSIS ini adalah

    seluruh siswa yang ada pada sekolah tersebut dan beberapa siswa yang

    terpilih merupakan pengurus yang dipilih melalui kesepakatan bersama

    antar anggota dan guru pembina. OSIS sebagai salah satu jalur

    tercapainya tujuan pembinaan kesiswaan yang memiliki sasaran

    pembentukan pengetahuan, pembentukan keterampilan, dan

    pembentukan sikap (knowledge, skill, and attitude).

    43 Wildan Zulkarnain, Manajemen Layanan Khusus di Sekolah (Jakarta: Bumi Aksara, 2018),

    h. 106

    44 Wikipedia, Organisasi Siswa Intra Sekolah, diakses pada Minggu, 10 Maret 2019, 20.59 WIB

  • 33

    2) Tujuan OSIS

    Terbentuknya sebuah organisasi adalah untuk mencapai tujuan

    yang telah disepakati dan ingin diwujudkan bersama. Dengan adanya

    tujuan, akan mudah untuk mempersatukan beberapa orang dengan

    perbedaan yang berbeda di setiap orangnya menjadi kesatuan bersama

    dalam satu titik yakni tujuan dan juga para anggota organisasi akan

    saling bahu membahu dalam melakukan usaha untuk mencapai tujuan.

    Adapun tujuan OSIS menurut Wildan Zulkarnain sebagai berikut:

    a) Meningkatkan generasi penerus bangsa yang beriman dan bertakwa b) Memahami serta menghargai lingkungan hidup dan nilai moral

    dalam menumbuhkan rasa indah dan halus sebagai dasar

    pembentukan karakter budi pekerti luhur

    c) Membangun landasan kepribadian yang kuat, hormat terhadap orangtua dan guru, serta menghargai HAM dalam konteks kemajuan

    budaya bangsa

    d) Membangun, mengembangkan wawasan kebangsaan, rasa cinta tanah air, dan tetap menjunjung tinggi budaya nasional dalam era

    globalisasi

    e) Memperdalam sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan kerja sama secara mandiri, berpikir logis, dan demokratis untuk

    pengembangan kepemimpinan

    f) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, namun senantiasa menghargai karya artistik, budaya, intelektual yang tidak

    bertentangan dengan agama

    g) Meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani serta daya kreasi seni dalam rangka memantapkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa,

    dan bernegara.45

    Sedangkan menurut Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan

    FIP IKIP dalam buku Mulyono bahwasannya secara umum, tujuan

    O