of 79/79
PERANAN BUDAYA5S (SENYUM, SALAM, SAPA, SOPAN, SANTUN) DALAM MENINGKATKAN KEPATUHAN PESERTA DIDIK TERBADAP TATA TERTIB SMA PERINTIS 1 BANDAR LAMPUNG (Skripsi) Oleh REZA PAHLEVI FAKULTAS KEGURUAN DAN lLMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDARLAMPUNG 2018

PERANAN BUDAYA5S (SENYUM, SALAM, SAPA, SOPAN, SANTUN ...digilib.unila.ac.id/54988/3/SKRIPSI TANPA BAB PEMBAHASAN.pdf · Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan mengenai peran

  • View
    30

  • Download
    11

Embed Size (px)

Text of PERANAN BUDAYA5S (SENYUM, SALAM, SAPA, SOPAN, SANTUN ...digilib.unila.ac.id/54988/3/SKRIPSI TANPA...

  • PERANAN BUDAYA5S (SENYUM, SALAM, SAPA, SOPAN,

    SANTUN) DALAM MENINGKATKAN KEPATUHAN

    PESERTA DIDIK TERBADAP TATA TERTIB

    SMA PERINTIS 1 BANDAR LAMPUNG

    (Skripsi)

    Oleh

    REZA PAHLEVI

    FAKULTAS KEGURUAN DAN lLMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS LAMPUNG

    BANDARLAMPUNG

    2018

  • ABSTRAK

    PERANAN BUDAYA5S (SENYUM, SALAM, SAPA, SOPAN,

    SANTUN) DALAM MENINGKATKAN KEPATUHAN

    PESERTA DIDIK TERBADAP TATA TERTIB

    SMA PERINTIS 1 BANDAR LAMPUNG

    Oleh

    REZA PAHLEVI

    Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan mengenai peran budaya 5S

    (Senyurn,Salam,Sapa,Sopan,Santun) untuk meningkatkan kepatuhan peserta didik

    kelas XI terhadap tata tertib di SMA Perintis l Bandar Lampung. Metode

    penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Dengan

    populasi yang berjumlah 134 orang responden dan analisis data yang digunakan

    dalam penelitian ini adalah menggunakan tekhnik angket yang kemudian dihitung

    dengan rumus Product Moment ,speannan brown dan interval.

    Hasil penelitian menunjukan bahwa peran budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa,

    Sopan, Santun) untuk meningkatkan ketuhan peserta didik kelas XI terhadap tata

    tertib di SMAPerintis1 Bandar Lampung, yaitu pada indikator kognitif,afektif dan

    konatif berada pada kategori sangat berperan. Hal ini berarti peserta didik

    merniliki pengetahuan tentang budaya 5S serta meyakini bahwa budaya 5S cukup

    baik untuk diterapkan dan peserta didik sudah cukup melaksanakan program

    budaya 5S (Senyum,Salam,Sapa,Sopan,Santun) di lingkungan sekolah. Sehingga

    peserta didik selayaknya cukup patuh terhadap tata tertib yang berlaku di sekolah

    SMA Perintis l Bandar Lampung.

    Kata kunci : Budaya 5S (Senyum, Salarn, Sapa, Sopan, Santun ),

    KepatuhanTata Tertib.

  • PERANAN BUDAYA5S (SENYUM, SALAM, SAPA, SOPAN,

    SANTUN) DALAM MENINGKATKAN KEPATUHAN

    PESERTA DIDIK TERBADAP TATA TERTIB

    SMA PERINTIS 1 BANDAR LAMPUNG

    Oleh

    REZA PAHLEVI

    Skripsi

    Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar

    SARJANA PENDIDIKAN

    Pada

    Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

    Program Studi Pendidikan

    FAKULTAS KEGURUAN DAN lLMU PENDIDIKAN

    UNIVERSITAS LAMPUNG

    BANDARLAMPUNG

    2018

  • RIWAYAT HIDUP

    Penulis dilahirkan di Bandar Lampung, pada tanggal 05

    Mei 1993 dengan nama lengkap Reza Pahlevi . Penulis

    adalah anak kedua dari empat bersaudara, buah cinta

    kasih dari pasangan Bapak Mirza dengan lbu Nila

    Rahma.

    Pendidikan formal yang diselesaikan penulis:

    1. TK Setia Kawan Panjang diselesaikan pada tahun l999,

    2. Sekolah Dasar Negeri l Panjang Selatan diselesaikan pada tahun 2005,

    3. Sekolah Menengah Pertama Negeri 16 Bandar Lampung diselesaikan pada

    tahun 2008.

    4. Sekolah Menengah Atas Negeri 8 Bandar Lampung diselesaikan pada tahun

    2011.

    5. Pada Tahun 2013 penulis ditenma sebagai mahasiswa Program Studi PPKn

    Jurusan Pendidikan IPS Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)

    Universitas Lampung melalui jalur SBMPTN.

  • PERSEMBAHAN

    Puji syukur kepada Allah SWT yang selalu memberikan rahmat dan karunia_Nya. Dengan ketulusan hati kupersembahkan skripsi ini kepada :

    Kedua orang tuaku tercinta Bapak Mirza dan Ibu Nila Rahma yang tak pernah berhenti

    memberikan sehalanya untuk ku, Orang tua Ku yang tidak henti-hentinya mendoakan untuk kebahagiaanku orang tua yang selalu mendukung ku, orang tua yang selalu memberikan cinta

    dan kasih sayang yang tak pernah habis untukku.

    Orang Tua tempatku kembali pulang saat aku pergi sejauh mungkin. Sekali lagi terimakasih Bapak Mirza dan Ibu Nila Rahma atas sehalanya yang telah bapak ibu berikan

    untuk anak mu ini.

    Para pendidik yang senantiasa selalu memberikan saran, masukan dan ilmu yang bermanfaat kepadaku.

    Almamater tercinta Universitas Lampung

  • MOTTO

    “Musuh yang paling berbahaya di atas duni ini adalah

    Penakut dan bimbang. Teman yang paling setia adalah

    keberanian dan keyakingan yang teguh”

    (Andrew Jackson)

  • SANWACANA

    Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmad serta hidayah-

    Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam

    kepada Rasulullah SAW, yang selalu dinantikan syafaatnya di Yaumul Qiyamah

    kelak.

    Skripsi dengan judul “Peranan Budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan,

    Santun) Dalam Meningkatkan Kepatuhan Peserta Didik Terhadap Tata

    Tertib di Sekolah SMA Perintis 1 Bandar Lampung”adalah salah satu syarat

    untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu

    Pendidikan di Universitas Lampung.

    Selama Penulisan Skripsi ini, Penulis banyak memperoleh saran maupun kritikan

    yang bersifat membangun sekaligus merupakan sebuah pembelajaran baik dalam

    menambah ilmu pengetahuan maupaun dalam kehidupan penulis sendiri. Oleh

    karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada Ibu Dr. Adelina

    Hasyim,M.Pd, selaku pembimbing akademik sekaligus pembimbing I dan Bapak

    Hermi Yanzi, S.Pd., M.Pd., selaku pembimbing II dan Ketua Program Studi

    Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Jurusan Pendidikan Ilmu

  • Pengetahuan Sosial FKIP Unila, terima kasih atas saran dan masukannya serta

    ucapan terimakasih kepada:

    Bapak Prof. Dr. Ir.Hasriadi Mat Akin, M.S., Selaku Rektor Universitas Lampung

    yang akan mengesahkan gelar sarjana, Sehingga peneliti

    Termotivasi untuk menyelesaikan skripsi ini.

    1. Bapak Prof.Dr. Patuan Raja, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan

    Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung;

    2. Dr. Sunyono, M.Si., Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerja Sama

    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,Universitas Lampung;

    3. Bapak Drs. Zulkarnain, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu

    Pengetahuan Sosial, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas

    Lampung;

    4. Bapak Hermi Yanzi, S.Pd., M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan

    Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,

    Universitas Lampung;

    5. Bapak Berchah pitoewas, M.H. selaku pembahas I yang telah memberikan

    masukan dan saran kepada penulis dalam penyusunan skripsi.

    6. Bapak Rohman, S.Pd., M.Pd. selaku pembahas II yang telah memberikan

    masukan dan saran kepada penulis dalam penyusunan skripsi.

    7. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan

    Kewarganegaraan, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas

    Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung terimakasih atas

    segala ilmu yang telah diberikan, motivasi, saran, masukan serta segala

    bantuan yang diberikan.

  • 8. Bapak lurah Thomas Monada, SE. yang telah membantu dan mengizinkan

    penulis mengumpulkan data penelitian.

    9. Bu Ana Mentari, S.Pd.,M.Pd..Sebagai ibu dosen dan staff prodi PPKn

    10. Sahabat-sahabat Seperjuangan, Mustakim, asep, dani, Triana desi, dinah

    ninda, eva yaya, febran carlos dan M.ardiansyah yang telah memberikan

    nasehatnya dan memberikan semangat, cerita, cita dan canda tawa dalam

    segala hal.

    11. Seluruh teman-teman seperjuangan angkatan 2013 yang tidak bisa

    disebutkan satu-persatu.

    12. Adik tingkat 2014 dan 2015 yang selalu setia untuk membantu dan

    memberi semangat.

    13. Teman-teman KKN-PPK SMPN 2 Ulu Belu Yusan simanjutak, irfan,

    panji, ade, winda, siti khotijah, yuni malinda, Nurul, afidah

    14. Serta semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

    Bandar Lampung, November 2018

    Penulis

    Reza Pahlevi

  • DAFTAR ISI

    Halaman

    ABSTRAK ...................................................................................................... i

    HALAMAN JUDUL ...................................................................................... ii

    HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... iii

    HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iv

    SURAT PERNYATAAN ............................................................................... v

    RIWAYAT HIDUP ........................................................................................ vi

    PERSEMBAHAN ........................................................................................... vii

    MOTTO .......................................................................................................... viii

    SANWACANA ............................................................................................... ix

    DAFTAR ISI ................................................................................................... x

    DAFTAR TABEL .......................................................................................... xi

    DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xii

    DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xiii

    I. PENDAHUUTAN A. Latar Belakang Masalah...................................................................... 1 B. Identifikasi Masalah ............................................................................ 7 C. Pernbamsan Masalah .......................................................................... 7 D. Rumusan Masalah .............................................................................. 7 E. Tujuan Penelitian ............................................................................... 8 F. Manfaat Penelitian ............................................................................. 8

    1. Manfaat Teoritis ........................................................................... 8 2. Manfaat Praktis ............................................................................ 8

    G. Ruang Lingkup Penelitian .................................................................. 9 1. Ilmu Penelitian - ............................................................................ 9 2. Subjek Penelitian ......................................................................... 9 3. Objek Penelitian ........................................................................... 9 4. Tempat Penelitian ........................................................................ 9 5. Waktu Penelitian .......................................................................... 9

    II. TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori ................................................................................... 10

    1. Peranan Budaya 5S ( Senyum,Salam,Sapa,Sopan,Santun ) di SMA ............................................................................................. 10

    2. Sikap dan Disiplin Siswa Terhadap Kepatuhan Tata Terib di Sekolah ......................................................................................... 24

    3. Kepatuhan Tata Tertib Sekolah .................................................... 28

  • B. Kerangka Pikir .................................................................................... 41 C. Hipotesis ............................................................................................. 44

    III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ................................................................................... 45 B. Populasi dan Sampel. ......................................................................... 45

    1. Populasi ........................................................................................ 45 2. Sampel .......................................................................................... 46

    C. Variabel Penelitian ............................................................................. 47 D. Definisi Konseptual Variabel ............................................................. 48 E. Definisi Oprasional Variabel ............................................................. 49 F. Rencana Pengukuran Variabel ........................................................... 51 G. Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 52

    1. Teknik Pokok ............................................................................... 52 2. Teknik Penunjang ........................................................................ 53

    H. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas ....................................................... 54 1. Uji Validitas Alat Ukur ................................................................ 54 2. Uji Reliabilitas ............................................................................. 55

    I. Teknik Analisis Data .......................................................................... 56

    IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Langkah-Langkah Penelitian ............................................................. 60

    1. Persiapan Penelitian ..................................................................... 60 2. Penelitian Pendahuluan ................................................................ 61 3. Pengajuan Perencanaan Penelitian ............................................... 61 4. Penyusunan Alat Pengumpulan Data ........................................... 62

    B. Pelaksanaan Uji Coba Angket ............................................................ 63 1. Uji Coba Angket .......................................................................... 63

    C. Gambaran Umum Lokasi Penelitian .................................................. 66 1. Sejarah SMA Perintis 1 Bandar Lampung ................................... 66 2. Identitas Sekolah .......................................................................... 67 3. Visi dan Misi SMA Perintis 1 Bandar Lampung ........................ 67 4. Jumlah Guru dan Jumlah Siswa ................................................... 68 5. Sarana dan Prasarana ................................................................... 68

    D. Deskripsi Data .................................................................................... 69 1. Pengumpulan Data ....................................................................... 69 2. Penyajian Data ............................................................................. 69

    E. Pengujian Hubungan .......................................................................... 92 F. Pengujian Tingkat Keeratan Pengaruh ............................................... 95 G. Pembahasan ........................................................................................ 97

    1. Pecan Budaya 5S (Senyum,Salam,Sapa,Sopan,Santun) .............. 97 2. Kepatuhan Tata Tertib ................................................................. 99

    V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ............................................................................................ 102 B. Saran ................................................................................................. 103

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN

  • DAFTAR TABEL

    Halaman

    Tabel 1. Masalah Yang Sering Terjadi Terkait Kepatuhan Tata Tertib Di

    Sekolah ............................................................................................ 6

    Tabel 2. Data Populasi Siswa Kelas Xi Di Sma Perintis 1 Bandar Lampung

    Tahun Ajaran 2017/2018 ................................................................ 46

    Tabel 3. Rincian Jumlah Sampel .................................................................. 44

    Tabel 4. Distribusi Hasil Uji Coba Angket Dari 10 Orang Di Luar

    Responden Untuk Item Ganjil (X) ................................................. 64

    Tabel 5. Distribusi Hasil Uji Coba Angket Dari 10 Orang Di Luar

    Responden Untuk Item Genap (Y) ................................................. 64

    Tabel 6. Distribusi Antar Item Ganjil (X) Dan Item Genap (Y) ................... 65

    Tabel 7. Distribusi Skor Angket Dari Indikator Kognitif .............................. 70

    Tabel 8. Distribusi Frekuensi Indikator Kognitif .......................................... 72

    Tabel 9. Distribusi Skor Angket Indikator Afektif ....................................... 73

    Tabel 10. Distribusi Indikator Afektif ............................................................ 74

    Tabel 11. Distn'busi Skor Angket Indikator Konatif ...................................... 75

    Tabel 12. Distribusi Indikator Konatif............................................................. 77

    Tabel 13. Hasil Perhitungan Angket Peran Budaya 5s (Senyum, Salam,

    Sapa, Sopan, Santun) ...................................................................... 78

    Tabel 14. Distribusi Frekuensi Peran Budaya 5s (Senyum, Salam, Sapa,

    Sopan, Santun) ................................................................................. 80

    Tabel 15. Distribusi Skor Angket Dari Indikator Kewajiban Peserta Didik .. 81

    Tabel 16. Distribusi Indikator Kewajiban Peserta Didik ................................ 83

    Tabel 17. Distribusi Skor Angket Indikator Larangan Peserta. Didik ............ 84

    Tabel 18. Distribusi Indikator Larangan Peserta Didik Di Sekolah ............... 86

    Tabel 19. Distribusi Skor Angket Indikator Sanksi Di Sekolah ..................... 87

    Tabel 20. Distribusi Indikator Sanksi Di Sekolah .......................................... 89

    Tabel 21. Distribusi Skor Angket Indikator Variabel Kepatuhan Tata Tertib

    (Y) .................................................................................................... 90

    Tabel 22. Distribusi Indikator Kepatuhan Tata Terfib (Y) ............................. 93

    Tabel 23. Hasil Angket Tentang Peranan Budaya 5s (Senyum, Salam, Sapa,

    Sopan, Santun) Dalam Meningkatkan Kepatuhan Peserta Didik

    Terhadap Tata Tertib SMA Perintis I Bandar Lampung ................. 93

    Tabel 24. Daftar Kontingensi Perolehan Data Tentang Peranan Budaya 5s

    (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) Dalam Meningkatkan

    Kepatuhan Peserta Didik Terhadap Tata Tertib SMA Perintis 1

    Bandar Lampung ............................................................................. 94

  • DAFTAR GAMBAR

    Gambar 1. Bagan Kerangka Pikir .................................................................... 43

  • DAFTAR LAMPIRAN

    1. Surat Rencana Judul Skripsi 2. Surat Keterangan Dari FKIP UNILA 3. Surat Izin Penelitian Pendahuluan 4. Surat Izin Telah Melakukan Penelitian Pendahuluan 5. Lembar Persetui uan Seminar Proposal 6. Surat Keterangan Telah Melakukan Seminar Proposal 7. Surat Rekomendasi Perbaikan 8. Surat Izin Penelitian 9. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian 10. Kisi-kisi An&Aet 11. Angket Penelitian 12. Foto Kegiatan Pengisian Angket

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Upaya meningkatkan mutu pendidikan gencar dilakukan oleh berbagai pihak

    yang selalu menyadari arti pentingnya peranan pendidikan. Berdasarkan

    kebijakan pemerintah, pendidikan pada hakekatnya adalah suatu usaha

    menyiapkan anak didik untuk menghadapi lingkungan hidup yang selalu

    mengalami perubahan dan pendidikan itu pada dasarnya bertujuan untuk

    meningkatkan kualitas kehidupan pribadi maupun sosial. Pendidikan

    merupakan usaha sadar mengembangkan kepribadian yang berlangsung di

    sekolah maupun di luar sekolah.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan pendidikan Indonesia seperti yang

    tertuang dalam Undang-Undang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional)

    menjelaskan bahwa prinsip penyelenggaraan pendidikan harus

    diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta

    didik yang berlangsung sepanjang hayat, yaitu agar dapat mengembangkan

    kemampuan dan membentuk watak peserta didik sehingga menjadi peradaban

    bangsa yang bermartabat (UU No. 20 tahun 2003, pasal l) yang belum

    terlaksana secara maksimal. Sekolah belum dapat mencetak generasi penerus

    bangsa yang berkarakter, ini dapat dibuktikan dengan berbagai kasus

  • 2

    kecurangan dan kekerasaan yang ada di dalam masyarakat yang menandakan

    merosotnya moral bangsa Indonesia. Contoh kasus merosotnya moral siswa

    yang menandai merosotnya moral bangsa Indonesia adalah kasus bullying, di

    Banyumas seorang siswa SD menjadi korban pengeroyokan teman sekolahnya

    hanya lantaran tidak mau diajak berenang bersama (Nanang Anna Noor,

    2014), Kekerasan yang dilakukan oleh siswa sekolah dasar membuktikan

    sudah tidak adanya sikap saling menghargai lagi antar sesama, kurang

    berkembangnya nilai cinta sosial siswa.

    Selain kasus bullying mencontek juga menjadi bukti merosotnya moral bangsa

    Indonesia. Mencontek sudah menjadi hal biasa bagi kalangan siswa,

    mencontek adalah sebuah kecurangan yang merugikan diri sendiri dan siswa

    lain. Apabila mencontek sudah dilakukan siswa dan sekolah dasar dan tidak

    segera ditanggulangi oleh pihak sekolah, maka dikemudian heri siswa akan

    menjadi seorang yang dengan mudah nya berbuat curang. Kecurangan yang

    dilakukan dikemudian hari seperti, melakukan tindak Kolusi, Korupsi dan

    Nepotisme (KKN). Berdasarkan hasil survey Political Economy Risk

    Consultancy (PERC) pada tahun 2002 dan 2006, skor korupsi Indonesia

    adalah tertinggi di Asia dengan skor 8.16 (dan total skor 10) (Masnur

    Muslich, 2011: 3).

    Contoh kasus-kasus merosotnya moral selain di etas terdapat juga kasus

    pelanggaran tata tertib pada sekolah di Bandar Lampung khususnya SMA

    Perintis I Bandar Lampung. Setelah melakukan penelitian pendahuluan

    peneliti mendapati permasalahan terkait pelanggaran-pelanggaran tata tertib

  • 3

    seperti halnya membawa handphone, menonton video porno, tawuran,

    merokok, dan masih banyak pelanggaran-pelanggaran tata tertib lainnya di

    sekolah.

    Dunia persekolahan di Indonesia sekarang memperlihatkan beragam masalah

    yang semakin hari semakin kompleks, beberapa masalah yang terbesar yang

    dialami sekolah hari ini adalah perilaku-perilaku siswa yang menyimpang,

    motivasi belajar yang menurun, kemerosotan moral, melakukan pelanggaran

    tata tertib sekolah, berbagai upaya pelaksanaan yang telah dilakukan sekolah

    untuk mengurangi penyimpangan tersebut dengan membuat pelaksanaan tata

    tertib sekolah sebagai alat kontrol atau rekayasa sosial terhadap siswa.

    Menurut Instruksi Menteri Pendidikan dan kebudayaan tatiggal 1 Mei 1974,

    No. 14/U/1974 dalam Suryosubroto (2010: 8 1), ―Tata tertib sekolah ialah

    ketentuan-ketentuan yang mengatur kehidupan sekolah sehari-hari dan

    mengandung sanksi terhadap pelanggarannya‖. Tata tertib murid adalah

    bagian dari tata tertib sekolah, di samping itu masih ada tata tertib guru dan

    tata tertib tenaga administrative. Kewajiban menaati tata tertib sekolah adalah

    hal yang penting sebab merupakan bagian dari sistem persekolahan dan bukan

    sekadar sebagai kelengkapan sekolah. Menurut Siti Melchaty (1990: 151),

    bahwa: ―Tata tertib adalah peraturan-peraturan yang mengikat seseorang atau

    kelompok guna menciptakan keamanan., ketentraman, dan kedamaian orang

    tersebut atau kelompok orang tersebut‖. Melihat penjelasan yang telah

    diuraikan, maka dapat disimpulkan bahwa tata tertib sekolah itu dibuat secara

    resmi oleh pihak yang berwenang dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan

  • 4

    situasi dan kondisi sekolah tersebut, memuat hal-hal yang diharuskan dan

    dilarang bagi siswa selama berada di lingkungan sekolah dan apabila mereka

    melanggar maka pihak sekolah berwenang untuk memberikan sanksi sesuai

    dengan ketetapan.

    Pelaksanaan tata tertib ini tentunya mempunyai tujuan agar siswa mengetahui

    tugas, hak dan kewajibannya. Tata tertib sekolah merupakan salah satu upaya

    untuk melatih kedisiplinan siswa. Disiplin dalam kelas dapat diartikan sebagai

    suatu keadaan tertib dimana guru dan anak didik yang tergabung dalam suatu

    kelas tunduk- pada peraturan yang telah ditentukan dengan senang hati.

    disiplin siswa merupakan suatu keadaan dimana sikap, penampilan dan

    tingkah laku siswa sesuai dengan tatanan nilai, norma dan ketentuan yang

    berlaku di sekolah.

    Budaya sekolah (school culture) merupakan salah situ unsur sekolah yang

    penting dalam mendukung peningkatan kepatuhan tata tertib dan mutu

    sekolah. Konsep budaya dalam dunia pendidikan berasal dari budaya tempat

    kerja di dunia industri seperti yang disampaikan oleh Deal dan Peterson

    (1999: 3) seperti berikut:

    “The concept of culture has a long history in the explanation of'human

    behavior across human groups... Later, other social scientists applied the

    culture concept to the more limited aspects of patterns of behavior and

    thought within formal work organisations “.

  • 5

    Konsep budaya memiliki sejarah yang panjang dalam menjelaskan perilaku

    manusia pada umumnya dan kelompok-kelompok pada khususnya. Ilmuwan

    sosial lainnya kemudian menerapkan konsep budaya kepada aspek-aspek yang

    lebih spesifik atau terbatas yakni mengenai pola perilaku dan cara berpikir

    manusia dalam bekerja formal pada organisasi-organisasi.

    Budaya sekolah dikembangkan dari konsep budaya tersebut yang mengatur

    perilaku warga sekolah melalui penetapan tata tertib atau aturan-aturan yang

    harus ditaati bersama oleh warga sekolah. Budaya sekolah akan membangun

    komitmen akan kepatuhan terhadap nilai-nilai, norma-norma, dan kebiasaan-

    kebiasaan tertentu. Pada suatu sekolah misalnya, setiap guru secara sadar

    datang pada jam 06.30 dan pulang pada jam 15.00. Kehadiran guru yang

    demikian sebagai bentuk komitmen akan kepatuhan terhadap norma,

    kebiasaan dan tata tertib sekolah. Menurut ibu Rosnia selaku wakil bidang

    kurikulum di SMA Perintis 1 Bandar Lampung, sekolah tersebut menerapkan

    program budaya sekolah yang di harapkan output perilaku warga sekolah

    khususnya siswa yang tidak hanya mengedepankan kognitif raja tapi dari

    sikap, pun sama pentingnya.

    Pencapaian tujuan pembinaan budaya sekolah yang diterapkan di SMA

    Perintis 1 Bandar Lampung ialah Budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan,

    Santun). Budaya 5S di SMA Perintis 1 Bandar Lampung merupakan dari hasil

    keputusan bersama para. dewan guru pada awal diberlakukannya kurikulum

    baru, yakni kurikulum 2013. Melalui budaya karakter 5S diharapkan, mampu

    membentuk nilai-nilai karakter peserta didik serta menaati tata tertib.

  • 6

    Sehingga kelak para peserta didik menjadi manusia yang tidak hanya memiliki

    kecerdasan kognitif yang baik tetapi juga memiliki sikap berbudi luhur dan

    santun terhadap sesama.

    Tabel 1. Masalah yang sering terjadi terkait kepatuhan tata tertib di

    sekolah.

    Masalah Terkait di Lingkungan

    Sekolah

    1. Merokok.

    2. Menonton Video Porno.

    3. Membawa HP.

    4. Berkelahi.

    5. Belum Terlaksana Budaya

    Sekolah Dengan Baik

    Sumber.”Data BK SMA Perintis 1 Bandar Lainpung. 2017-2018 “,

    Berdasarkan Tabel 1. diatas dapat diketahui Masalah yang sering terjadi

    disekolah terkait kepatuhan tata tertib di sekolah untuk itu peneliti

    mempunyai keinginan dalam upaya membangun terlaksananya budaya

    sekolah yaitu budaya 5s (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) juga

    memberikan pengetahuan serta kesadaran siswa terhadap kepatuhan tata tertib

    di sekolah. Dalam hal ini peneliti ingin mengetahui memiliki latar belakang

    perilaku yang tidak disiplin cendrung siswa yang memiliki sikap tidak patuh

    terhadap tata tertib di sekolah sedangkan, sekolah yang bukan hanya menjadi

    tempat mencari ilmu (kognitit) pun mempunyai banyak upaya untuk

    mendidik dan meningkatkan kepatuhan tata tertib siswa di sekolah (afektif).

    Dengan diantara banyaknya cara tersebut salah satunya ialah budaya 5S

    (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun) yang diharapkan mampu

  • 7

    membuat siswa menjadi terbiasa dalam menerapkan konsep budaya 5S

    (senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun) sehingga dapat meningkatkan

    kepatuhan tata tertib di sekolah.

    B. Identifikasi Masalah

    Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulls uraikan diatas maka

    dapat di identifikasi permasalahan dalam penelitian yaitu:

    1. Banyaknya siswa yang memiliki moral kurang baik.

    2. Banyak siwa berperilaku yang memiliki sikap tidak displin.

    3. Kurangnya kepatuhan siswa akan tata tertib sekolah di SMA Perintis I

    Bandar Lampung.

    4. Budaya sekolah yaitu budaya 5s (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun)

    mempunyai peran dalam meningkatkan kepatuhan siswa terhadap tata

    tertib di SMA Perintis I Bandar Lampung.

    C. Perabatasan Masalah

    Berdasarkan latar belakan masalah dan identifikasi masalah diatas maka

    penelitian ini dibatasi pada ―Peranan Budaya 5s (senyum, salam, sapa, sopan,

    santun) Dalam Meningkatkan Kepatuhan Siswa Terhadap ―Data Tertib di

    SMA Perintis I Bandar Lampung.

    D. Rumusan Masalah

    Dari uraian latar belakang masalah diatas maka dirumuskan permasalahan

    penelitian yaitu ―Apakah Ada Peranan Budaya 5s (senyum, salam, sapa,

    sopan, suntun) Dalam Meningkatkan Kepatuhan Siswa Terhadap TataTertib di

    SMA Perintis I Bandar Lampung.

  • 8

    E. Tujuan Penelitian

    Tujuan penelitian ini untuk‖Mengetabui dan Mengamati Peranan Budaya 5s

    (senyum, salam, sapa, sopan,santun) Dalam Meningkatkan Kepatuhan Siswa

    Terhadap Tata tertib di SMA Perintis 1 Bandar Lampung.‖

    F. Manfaat Penelitian

    Dengan diadakannya penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua,

    pihak yang terlibat dan memiliki kepentingan, penulis membagi dua maanfaat

    dalam penelitian ini yaitu :

    1. Manfaat Teoritis

    Penelitian ini secara teoritis menerapkan konsep ilmu pendidikan kususnya

    pendidikan ke-warganegaraan pada wilayah kajian pendidikan nilai.

    2. Manfaat Praktis

    Maanfaat secara praktis yang diperolah dari penelitian ini adalah sebagai

    berikut:

    a) Bagi sekolah

    a. Sebagai masukan untuk mengatasi ketidak disiplinan siswa.

    b. Sebagai saran untuk menumbuhkan dan meningkatkan kepatuhan

    siswa terhadap tata tertib.

    c. Sebagai informasi sejauhmana keterlaksanaan budaya 5s (senyum,

    Salam, sapa, sopan, santun) dalam mewujudkan ketaatan tata tertib

    di sekolah.

    b) Bagi Guru

    a. sebagai saran untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

    b. Sebagai pertimbangan kepada guru untuk membina siswa nya

  • 9

    dengan hal yang positif untuk menunjang kegiatan budaya tata

    tertib peraturan disekolah.

    c. Sebagai saran untuk meningkatkan sikap dan kepatuhan akan tata

    tertib sekolah.

    G. Ruang Lingkup Penelitian

    1. Ilmu Penelitian

    Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu pendidikan kewarganegaraan,

    khususnya pada wilayah kajian pendidikan nilai.

    2. Subjek Penelitian

    Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI Perintis 1 Bandar Lampung.

    3. Objek Penelitian

    Objek penelitian ini adalah ―Peranan Budaya 5s (senyum, salam, saga,

    sopan, santun) Dalam Membangun Kepatuhan Siswa Terhadap Tata Tertib

    di SMA Perintis 1 Bandar Lampung‖.

    4. Tempat Penelitian

    Wilayah atau tempat penelitian ini adalah di SMA Perintis 1 Bandar

    Lampung.

    5. Waktu Penelitian

    Penelitian ini dilakukan sesuai dengan Surat keterangan SMA Perintis 1

    Bandar Lampung No.53/SMA.P.1/11/2017 mulai tanggal 26 juli s.d 1

    Agustus 2017.

  • 10

    II. TINJAUAN PUSTAKA

    A. Deskripsi Teori

    1. Peranan Budaya 5S ( Senyum,Salam,Sapa,Sopan,Santun ) di SMA

    Perintis 1 Bandar Lampling.

    1.1. Peranan Budaya Sekolah

    Dalam terminologi kebudayaan, pendidikan yang berwujud dalam

    bentuk lembaga atau instansi sekolah dapat dianggap sebagai pranata

    sosial yang di dalamya berlangsung interaksi antara pendidik dan

    peserta didik sehingga, mewujudkan suatu sistem nilai atau

    keyakinan,dan juga norma, maupun kebiasaan yang di pegang

    bersama. Masalah yang terjadi saat ini adalah nilai-nilai yang mana

    yang seharusnya dikembangkan atau dibudayakan dalam proses

    pendidikan yang berbasis mutu itu.

    Dengan demiklan sekolah menjadi tempat dalam mensosialisasikan

    nilal-nilal budaya yang tidak hanya terbatas pada nilai-nilal keilmuan

    saja, melainkan semua nilai-nilai kehidupan yang memungkinkan

    mampu mewujudkan manusia yang berbudi dan berbudaya yang baik

    di lingkungan sekolah akan mampu mendorong guru dan siswa untuk

    bekerja dan berusaha mencapai hasil yang tinggi.

  • 11

    Djemarl (2003) membagi karekteristik peran k-ultur sekolah

    berdasarkan sifatnya yang dapat kita dibedakan menjadi tiga hal

    yakni:

    1. Bernilai Strategic Budaya yang dapat berimbas dalam kehidupan sekolah secara dinamis. Misalnya memberi peluang pada warga

    sekolah untuk bekeria secara efisien, disiplin dan tertib. Kultur

    sekolah merupakan milik kolektif bukan milik perorangan,

    sehingga sekolah dapat dikembangkan dan dilakukan oleh semua

    warga sekolah.

    2. Memiliki Daya Ungkit Budaya yang memiliki daya gerak akan mendorong semua warga sekolah untuk berprestasi, sehingga kerja

    guru dan semangat belajar siswa akan tumbuh karena dipacu dan

    di dorong, dengan dukungan budaya yang memiliki daya ungkit

    yang tinggi. Misalnya kinerja sekolah dapat meningkat jika

    disertai dengan imbalan yang pantas, penghargaan yang cukup,

    dan proporsi tugas yang seimbang. Begitu juga dengan siswa akan

    meningkat semangat belajarnya, bila mereka diberi penghargaan

    yang memadai, pelayanan baik serta didukung dengan, sarana

    yang memadai.

    3. Berpeluang Sukses Budaya yang berpeluang sukses adalah budaya yang memiliki daya ungkit dan memiliki daya gerak yang tinggi.

    Hal ini sangat penting untuk menumbuhkan rasa keberhasilan dan

    rasa mampu untuk melaksanakan tugas dengan baik. Misalnya

    budaya, gemar membaca. Budaya membaca di kalangan siswa

    akan dapat mendorong mereka untuk banyak tahu tentang berbagai

    macam persoalan yang mereka pelajari di lingkungan sekolah.

    1.2. Peranan Budaya 5S ( Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun )

    Willard Waller (Ajat Sudrajat, ed Darmlyatt Zuchdi, 2011:133)

    menyatakan bahwa ―setiap sekolah mempunyai budayanya sendiri,

    yang mencangkup berupa serangkaian nilai, norma, dan kebiasaan,

    yang telah membentuk prilaku dan hubungan-hubungan yang terjadi

    di dalamnya‖. Herminarto Sofyan (2005: 5) menyata bahwa ―Budaya

    sekolah berperan dalam perbaikan mutu sekolah. Oleh sebab itu,

    sekolah harus memahami budayanya sebelum melakukan perbaikan

    mutu sekolah.

  • 12

    Pemahaman mengenai budaya sekolah dapat memberikan informan

    berkenaan dengan fungsi sekolah dan permasalahan yang dihadapi.

    Elemen-elemen budaya sekolah yang mencakup nilai-nilai, keyakinan,

    dan asumsi-asumsi sulit untuk diamati sehingga juga lebih sulit

    mengalami perubahan. Perubahan terhadap elemen-elemen tersebut

    menciptakan usaha perbaikan dalam jangka panjang‖,

    Disetiap sekolah seharusnya mempunyai budaya sekolah yang sesuai

    dengan harapan perubahan elemen-elemen yang lebih positif,

    sehingga budaya sekolah bisa menjadi salah satu cara untuk

    peningkatan mutu pendidikan khususnya terhadap proses pembiasaan

    nilai, sikap, asumsi-asumsi, norma, kebiasaan, . yang telah

    membentuk perilaku yang taat terhadap, budaya sekolah yang ada.

    Sesuai dengan para pendapat ahli di atas maka budaya sekolah yang

    dipakai khususnya di SMA Penintis 1 Bandar Lampung budaya

    sekolah yang ada di sekolah tersebut ialah budaya 5S (Senyum,

    Salam, Sapa, Sopan, Santun) yaitu merupakan sebuah program yang

    terdapat didalam kurikulum sekolah yang berfungsi sebagai

    pembinaan sikap siswa terhadap kepatuhan tata tertib sekolah dan di

    harapkan mampu menghasilkan perilaku yang tidak hanya

    mengedepankan sisi kognitifnya saja tetapi juga sisi afektif siswa yang

    lebih baik.

  • 13

    1.3. Implementasi Budaya 5S ( Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun )

    Menurut Ajat Sudrajat (ed. Darmiyati Zuchdi, 2011:144-146) proses

    yang efektif untuk membangun budaya sekolah adalah dengan

    melibatkan dan mengajak semua pihak dan pemangku kepentingan

    untuk bersama-sama memberikan komitmennya. Keyakinan utama

    dari pihak sekolah harus difokuskan pada usaha-usaha menyemalkan

    dan menanamkan keyakinan, nilai, norma, dan kebiasaan-kebiasaan

    yang merupakan harapan setiap pemangku kepentingan tersebut.

    Untuk itu, pimpinan sekolah, para guru dan karyawan harus fokus

    pada usaha pengorganisasian yang, mengarah pada harapan sekolah

    tersebut.

    Ajat Sudrajat (ed. Darmiyati Zuchdi, 2011:149-150) pun menjelaskan

    untuk membantu pelaksanaan program budaya sekolah yang berbasis

    pada karakter terpuji, pihak sekolah atau kepala sekolah hendaknya

    membentuk tim tersendiri. ―Tim ini bisa melibatkan atau terdiri dari

    unsur pimpinan sekolah, bimbingan dan konseling, guru dan

    perwakilan orang tua siswa dan bertugas untuk menentukan prioritas

    nilai, norma, kebiasaan-kebiasaan karakter tertentu yang akan

    dibudayakan dan ditanamkan di lingkungan sekolah kemudian juga

    untuk merencanakan dan menyusun program pelaksanaan

    pembudayaan dan penanaman karakter di lingkungan sekolah dalam

    rentang waktu tertentu‖.

  • 14

    Sesuai dengan penjelasan ahli di alas maka SMA Perintis 1 Bandar

    lampung juga memiliki sebuah tim untuk, membantu pelaksanaan

    program budaya sekolah yang berbasis pada karakter terpuji dan

    membina sikap siswa dalam menyeimbangkan antara sisi kognitif dan

    afektifnya. Tim ini secara periodik melakukan pertemuan, untuk

    mengkoordinasikan dan melakukan evaluasi dan melibatkan dari

    unsur pimpinan sekolah, bimbingan dan konseling, guru dan bertugas

    untuk semua kegiatan dan perkembangan pelaksanaan program

    pembudayaan karakter yang membiasakan prilaku senyum, salam,

    apa, sopan dan santun di lingkungan sekolah.

    1.4. Pengembangan Budaya 5S (Senyum, Wam, Sapa, Sopan, Santun )

    Kemendiknas (2010: 16-20) menjelaskan bahwa ―perencanaan

    pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan oleh

    kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan (konselor), dan dapat

    dilaksanakan ke dalam kunkulum melalut program pengembangan diri

    dalam mata pelajaran dan budaya sekolah‖.

    a. Program pengembangan diri

    Dalam program pengembangan diri pendidikan budaya dan

    karakter bangsa dilaksanakan ke dalam kegiatan sehari-hari

    sekolah yang meliputi

    1) Kegiatan rutin sekolah

    Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilakukan peserta didik

    secara terus menerus dan konsisten setiap saat. Contoh kegiatan ini

    adalah upacara pada hari senin, beribadah bersama atau shalat

  • 15

    bersama setiap dhuhur (bagi yang beragama Islam), berdoa waktu

    mulai dan selesai pelajaran mengucap salam bila bertemu guru.

    atau teman.

    2) Kegiatan spontan

    Kegiatan spontan yaitu kegiatan yang dilakukan secara spontan

    pada saat itu juga. Kegiatan ini biasanya dilakukan secara tidak

    terencana oleh guru atau tenaga kependidikan, jika ada perilaku

    yang kurang baik maka pada saat itu guru atau tenaga

    kependidikan harus mengoreksi tindakan tersebut.

    Contoh kegiatan spontan, misalnya ada peserta didik yang

    membuang sampah tidak pada tempatnya, maka guru harus

    menegur dan mengingatkan peserta didik agar membuang sampah

    pada tempatnya.

    3) Keteladanan

    Keteladanan adalah perilaku dan sikap guru dan tenaga

    kependidikan dalam memberikan contoh baik sehingga menjadi

    panutan bagi peserta didik. Kegiatan keteladanan misalnya:

    berpakaian rapi, datang tepat pada waktunya bekerja keras,

    bertutur kata sopan, kasib sayang, perhatian terhadap peserta

    didik, jujur, dan menjaga kebersihan.

    4) Pengkondisian

    Untuk mendukung terlaksananya pendidikan budaya dan karakter

    bangsa maka sekolah harus mendukung kegiatan tersebut.

    Pengkondisian misalnya, toilet yang selalu bersih bak sampah ada

  • 16

    di berbagai tempat dan selalu dibersibkan, sekolah terlihat rapi dan

    alas belajar ditempatkan teratur.

    b. Pengintegrasian dalam meta pelajaran

    Pengembangan nilai-nilai pendidikan budaya dan karakater bangsa

    diintegrasikan dalam setiap pokok bahasan dari setiap mata

    pelajaran. Nilal-nitai tersebut dicantumkan dalam silabus dan RPP.

    Pengembangan nilai-nilai itu dalam silabus ditenpuh dengan cara

    mengkaji Standar Komptensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)

    pada Standar Isi (SI) untuk menentukan apakah nilai-nilai budaya

    dan karakter bangsa yang tercantum itu sudah tercakup di

    dalamnya.

    c. Budaya sekolah

    Budaya sekolah memiliki cakupan yang sangat luas, umumnya

    mencakup ritual, harapan, hubungan, demografi, kegiatan

    kurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, proses mengambil keputusan,

    kebijakan maupun interaksi sosial antar komponen di sekolah.

    Budaya sekolah adalah suasana kehidupan sekolah tempat peserta

    didik berinteraksi dengan warga sekolah. Kepemimpinan,

    keteladanan, keramahan, toleransi kerja keras, disiplin, kepedulian

    sosial dan lingkungan, rasa kebangsaan, dan tanggung jawab

    merupakan misi-misi yang dikembangkan dalam budaya sekolah.

    Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa

    Program 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) di SMA

    Perintis 1 Bandar Lampung dilaksanakan dalam tiga kegiatan.

  • 17

    Pertains, pada kegiatan pengembangan diri yang meliputi kegiatan

    rutin sekolah, kegitan spontan, keteladaiian dan pengkondisian.

    Kedua. Program 5S dilaksanakan pada kegiatan pembelajaran,

    melalui kegiatan-kegiatan di dalam pembelajaran. Ketiga dalam

    budaya sekolah. progrann 5S dilaksanakan melalui kegiatan di

    dalam, ekstrakurikuler.

    1.5. Pengertian Budaya 5S ( Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun )

    Budaya 5S ( Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) merupakan bagian

    implementasi dari budaya sekolah. Menurut Ajat Sudrajat (ed

    Darmiyati Zuchdi, 2011:134) ―budaya sekolah merupakan konteks di

    belakang layar sekolah yang menunjukan keyakinan nilai, norma, dan

    kebiasaan yang telah dibangun dalam, waktu yang, lama oleh semua

    warga dalam kerja sama di sekolah‖. Maka dari itu budaya sekolah

    yang diterapkan di SMA Perintis 1 Bandar Larnpung, yaitu Budaya 5S

    ( Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun). Slogan tersebut ada dalam

    kurikulum dan di programkan sebagai acuan atau pedoman untuk

    pembinaan sikap siswa dalam membudayakan kebiasaan yang positif

    pada lingkungan sekolah.

    Adapun penjelasan tentang budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan,

    Santun) sebagai berikut :

    1. Senyum

    Senyum merupakan ibadah, biasanya seseorang tersenyum karena

    meraka sedang bahagia, senyuman menambah manisnya wajah

    walaupun berkulit sangat gelap dun tua keriput. Menurut

  • 18

    departemen pendidikan nasional (2008: 1277) ―senyum

    merupakan gerak tawa ekspresif yang tidak bersuara untuk

    menunjukan rasa senang, gembira, sutra, dan sebagainya dengan

    mengembangkan bibir sedikit‖. Saikhul Hadi (2013: 3)

    menjelaskan bahwa ―senyurnan dapat melumpuhkan musuh,

    menyembuhkan penyakit, perekat tali persaudaraan, pengobat luka

    jiwa, dan bisa menjadi sarana tercapainya perdamaian dunia‖.

    Darwin (dalam Hodgkinson, 1991), Tersenyum merupakan

    gerakan otot zigomatic major yaitu gerakan otot ekspresi wajah

    yang menank sudut mulut ketika tersenyum merupakan pusat

    ekspresi pengalaman yang positif. Otot tersebut menyebarkan

    ahran darah ke otak meningkat sehingga semua sel dan jaringan

    menerima oksigen. Hal tersebut menimbulkan perasaan gembira.

    Psikolog Tika Bisono (2005) memaparkan, ―senyum termasuk

    proses penting, bagaimana seseorang itu mampu menerima

    kehidupannya. Sebab senyum dapat menstimuli seseorang

    berpikiran positif dan menghadirkan sikap yang lebih talus dalam

    mengerjakan sesuatu.

    2. Salam

    Kata salam berasal dari bahasa lbrani: syalom yang berarti damai.

    Menurut Alfonsus Sutamo (2008: 38) ―damai mengandung unsur

    silaturahmi, sukacita, dan sikap atau pernyataan hormat kepada,

    orang lain‖. Bentuk salam bisa bermacam-macam. Ada salam

    perkenalan, salam perjumpaan, dan salam perpisahan. Departernen

  • 19

    Pendidikan Nasional (2008: 1208) menjelaskan bahwa salam

    merupakan sebuah pernyataan hormat. ―Jika seseorang memberi

    salam kepada orang lain berarti seorang itu bersikap hormat

    kepada orang yang dig beri salam. Salam akan sangat mempererat

    tali persauradaraan. Pada saat seseorang orang mengucapkan

    salam kepada orang lain dengan keikhlasan, suasana menjadi cair

    dan akan merasa, bersaudara‖. KBBI (2012)‖Salam/sa- lam/ yaitu

    berarti damai dan juga sebagai pernyataan rasa hormat‖. (HR

    Muslim dari AN Hurairah) menjelaskan Ucapan

    ―Assalamu'alaikurn‖, merupakan anjuran agama., dan sangat

    berpengaruh terhadap kehidupan umat beragama, dengan salam

    dapat menjalin persaudaraan dan kasih sayang, karena orang yang

    mengucapkan salam berarti mereka saling mendo'akan agar

    mereka mendapat keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.

    Nabi Muhammad SAW bersabda, ―Kahan tak akan masuk surga

    sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku

    tunjukkan satu amalan bila dilakukan akan membuat kalian saling

    mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian‖.

    Dalam islam juga diajarkan kalimat salam berupa

    Assalamu‖alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh, artinya adalah

    salam sejahtera, rahmat Allah dan berkat-Nya atas kamu. Orang,

    yang membalasnya akan menjawab Wa'alaikum Salam

    Warahmatullahi Wabarakatuh, artinya adalah dan ke atasmu

    salam, rahmat Allah dan berkat-Nya‖.Maka dari itulah memberi,

  • 20

    mengucapkan salam sangat penting untuk di lakukan karna dalam

    islam salam merupakan ibadah yaitu termasuk amal saleh

    kemudian juga sebagai bentuk pernyataan rasa hormat dan

    menjadikan suasan menjadi harmonis.

    3. Sapa

    Menurut Alfonsus Sutarno (2008: 36) menyapa identik dengan

    menegur, menyapa bisa berarti mengajak seseorang untuk

    bereakap-cakap. Tegur sapa bisa memudahkan siapa saja untuk

    bergaul akrab, saling kontak, dan berinteraksii. Sedangkan

    departemen pendidikan nasional (2008: 1225) menjelaskan bahwa

    sapa berarti perkataan untuk menegur. Menegur dalam, hal ini

    bukan berarti menegur karena salah, melainkan menegur karena

    kita bertemu dengan seseorang, misalnya saja dengan memanggil

    namanya atau menggunakan sapaan-sapaan yang sudah sering kita

    gunakan seperti ―hey‖. Bila seseorang menyapa orang lain maka

    suasana akan menjadi hangat dan bersahabat. Kata sapaan,menurut

    Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Penyusun Kamus Pusat

    Bahasa, 2002:998), berarti 'kata ajakan untuk bercakap; teguran',

    ucapan, yang dalam konteks linguistik berarti 'kata atau frasa

    untuk saling merujuk dalam pembicaraan dan yang berbeda-beda

    menurut sifat hubungan di antara pembicara itu, seperti Anda, Ibu,

    Saudara. Perkataan untuk menegur (mengajar bercakap-cakap,

    dsb).

  • 21

    Aslinda, dkk. (2000:3) dengan mengutip pendapat Kristal (1991),

    mendefinisikan sapaan sebagai cara mengacu seseorang di dalam

    interaksi linguistik yang dilakukan secara langsung. Pendapat ini

    sejalan dengan Nababan (1993:40), yang mengatakan bahwa

    sistem tutor saga (sapaan) adalah alat seseorang pembicara untuk

    menyatakan sesuatu kepada orang lain. Sapaan ini akan merujuk

    kepada orang yang diajak bicara agar perhatiannya tertuju kepada

    pembicaraan.

    4. Sopan dan Santun

    Menurut departemen pendidikan nasional (2008: 1330) sopan

    memiliki arti hormat, takzim dan tertib menurut adat. Seseorang

    yang sopan akan bersikap mengikuti adat, tidak pemah melanggar

    adat. Sedangkan santun menurut departemen pendidikan nasional

    (2008: 1224) memiliki pengertian ―halus dan baik (tingkah

    lakunya), sabar dan tenting juga penuh rasa belas kasihan (sutra

    menolong)‖. Seseorang yang bersikap santun akan mementingkan

    kepentingan orang lain daripada kepentingan dirisendiri. Menurut

    Mohamad Mustari (2011: 158) ―Kesantunan bisa mengorbankan

    diri sendiri demi masyarakat atau orang lain‖. Inti dari bersikap

    santun adalah berperilaku interpersonal sesuai tataran norma dan

    adat istiadat setempat. Sopan santun menurut Taryati (dalam

    Suharti, 2004: 61) adalah ―suatu tata cara atau aturan yang turun-

    temurun dan berkembang dalam suatu budaya masyarakat, yang

    memanfaat dalam pergaulan dengan orang yang dengan orang

  • 22

    lain, agar terjalin hubungan yang akrab, saling pengertian, hormat-

    menghormati menurut adat yang telah ditentukan‖. Penjelasan

    tentang, sopan santun tersebut sejalan dengan pernyataan Suwadji

    (dalam Suharti, 2004: 62) bahwa sopan santun atau unggah-

    ungguh berbahasa dalam bahasa Jawa mencakup dua hal, yaitu

    tingkahlaku atau sikap berbahasa penutur dan wujud tuturannya.

    Ujiningsih (2010: 3) berpendapat bahwa, sopan santun merupakan

    istilah jawa yang dapat diartikan sebagai yang perilaku seseorang

    yang menjunjung tinggi nilai-nilai menghormati, menghargai,

    tidak sombong dan berakhlak mulia. Perwujudan dari sikap sopan

    santun ini adalah perilaku yang menghormati orang lain melalui

    komunikasi menggunakan bahasa yang tidak meremehkan atau

    merendahkan orang lain. Dalam budaya jawa sikap sopan salah

    satunya ditandai dengan perilaku menghormati kepada orang yang

    lebih tua, menggunakan bahasa yang sopan, tidak memiliki sifat

    yang sombong. Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik

    kesimpulan bahwa senyum merupakan proses tindakan yang

    memberikan stimulus sehingga seseorang memberikan respon

    yang positif dan menghadirkan suasana yang tidak nyaman

    menjadi nyaman dalam mengerjakan sesuatu. Dari dan respon

    yang positif tersebut seseorang akan memberi salam kepada orang

    lain, berarti seorang itu bersikap hormat kepada orang yang dia

    beri salam. Salam akan sangat mempererat tali persauradaraan

    karena pada saat seseorang mengucapkan salam kepada orang lain

  • 23

    dengan keikhlasan, suasana menjadi cair.

    Kemudian, saga berarti perkataan untuk menegur. Menegur dalam

    hal ini bukan berarti menegur karena salah, melainkan menegur

    karena kita bertemu dengan seseorang, misalnya saja dengan

    memanggil namanya atau menggunakan sapaan-sapaan yang

    sudah sering kita gunakan seperti ―hey‖.

    Bila seseorang menyapa orang lain maka suasana akan menjadi

    hangat dan bersahabat. Perwujudan dari sikap senyum, salam,

    saga, diatas akan mengkerucut terhadap perilaku sopan santun.

    Sopan santun ialah perilaku yang menghormati orang lain melalui

    komunikasi menggunakan bahasa yang tidak meremehkan atau

    merendahkan orang lain dan dapat mempererat tali silaturahmi,

    persaudaraan, serta rasa nyaman dalam berinteraksi.

    Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa budaya 5S adalah

    budaya yang dilakukan oleh SMA Perintis 1 Bandar Lampung

    sebagai salah satu cara untuk mematuhi tata tertib sekolah, ajaran-

    ajaran norma, kebiasaan, yang diharapkan mampu memberikan

    pengetahuan dan sikap siswa dalam berperilaku baik di sekolah

    maupun di masyarakat. 5S adalah singkatan dari Senyum, Salam,

    Sapa, Sopan dan Santun. Apabila semua siswa nienerapkan 5S

    dalam keseharian mereka maka hal itu akan menjadikan

    kepribadian dan sikap kearah yang positif dan sesuai dengan

    harapan budaya sekolah di SMA Perintis I Bandar Lampung.

  • 24

    2. Sikap dan Disiplin Siswa Terhadap Kepatuhan Tata Terib di Sekolah

    2.1. Definisi Sikap

    Sikap merupakan unsur psikologi, oleh karma itu pengertian tentang

    sikap, terkait dengan aspek-aspek psikologis. Selain itu pun

    merupakan perwujudan psikologi. Definisi sikap telah cukup banyak

    dikemukakan oleh para ahli psikologi dan pendidikan. Sikap atau yang

    dalam bahasa fnggris disebut attitude adalah suatu cara bereaksi

    terhadap satu perangsang. Suatu kecendrungan untuk bereaksi dengan

    cara tertentu terhadap sesuatu perangsang atau situasi yang dihadapi.

    Pada dasarnya sikap merupakan konsep evaluasi berkenaan dengan

    objek tertentu, mengugah motif untuk bertingkah laku berarti bahwa

    sikap mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif, yang tidak sama

    dengan motif, akan tetapi menghasilkan motif tertentu. Motif inilah

    yang, kemudian menentukan tingkah laku nyata atau terbuka,

    sedangkan reaksi afektifnya merupakan reaksi tertutup, sikap juga

    digambarkan dalam, berbagai kualitas dan itensitas yang berbeda dan

    bergerak secara kontiniu dari positif melalui area netral kearah negatif.

    Menurut Prof. Dr. Djaali mengatakan bahwa sikap dapat didefenisikan

    dengan berbagai cara dan setiap devenisi itu berbeda satu sama lain‖.

    Trow mendefenisikan ―sikap sebagai suatu kesiapan mental atau

    emosional dalam berbagai jenis tindakan pada situasi yang tepat‖.

    Disini Trow lebih menekankan pada kesiapan mental dan emosional

    seseorang terhadap sesuatu objek. Sementara itu Allport seperti

    dikutip oleh Gable mengemukakan bahwa ―sikap adalah sesuatu

  • 25

    kesiapan mental dan saraf yang tersusun melalui pengalaman dan

    memberi pengaruh langsung kepada respon seseorang‖. Haden

    mengemukakan bahwa ―sikap merupakan kesiapan atau kecendrungan

    seseorang atau bertindak dalam menghadapi suatu objek atau situasi

    tertentu‖. Jadi disini makna sikap terpenting apabila diikuti oleh

    objeknya. Misalnya sikap tehadap Undang-Undang Pemilu, sikap

    terhadap system kampanye dan lain-lain. Sikap adalah kecendrungan

    untuk bertindak berkenaan dengan objek tertentu. Sikap bukan

    tindakan nyata melainkan masih bersifat tertutup. Sikap seseorang

    timbul berdasarkan pengalaman tidak dibawa sejak lahir serta sesuatu

    yang diturunkan tetapi merupakan hasil belajar. Oleh karena itu sikap

    dapat dibentuk atau diubah dan tidak mutlak sikap orang semuanya

    memiliki kesamaan akan tetapi dapat pula berbeda antara satu dengan

    yang lain karena perbedaan latar belakang, sosial, budaya. Sementara

    itu L.L. trurstone dalam Abu Ahmadi bahwa:

    Sikap sebagai tindakan kecendrungan yang bersifat positif atau

    negatif yang berhubungan dengan objek psikologi. Orang

    dikatakan memiliki sikap positif terhadap, suatu objek psikologi

    apabila la suka (like) atau memiliki sikap yang favorable,

    sebaliknya orang yang dikatakan memiliki sikap, yang negatif

    terhadap objek psikologi bila la tidak suka (dislike) atau sikapnya

    unfavorable terhadap objek psikologi. Sikap seseorang bisa

    terwujud dalam bentuk perasaan senang atau tidak senang, setuju

    atau tidak setuju, suka atau tidak suka terhadap hal-hal tersebut.

    Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan, sikap adalah

    kecenderungan untuk bertindak berkenaan dengan objek tertentu ,

    sikap bukan tindakan nyata (overtbehavior) melainkan masih bersifat

    tertutup (covertbehavior). Dari semua pengertian yang sikap,

  • 26

    ungkapan di atas dapat diambil sebuah pengertian tentang sikap, yaitu

    sikap adalah pendaiaii seseorang terhadap suatu obyek, situasi,

    konsep, orang lain maupun dirinya sendiri akibat hasil dari proses

    belajar maupun pengalaman di lapangan yang menyatakan rasa suka

    (respon positif) dan rasa tidak suka (respon negatif). Sikap merupakan

    salah satu tipe karakteristik afektif yang sangat menentukan

    keberhasilan seseorang dalam proses peinbelajaran.

    2.2. Definsi Disiplin Siswa

    Secara etimologis, ―disiplin‖ berasal dari bahasa Latin, desclipina,

    yang menunjukkan kepada kegiatan belajar mengajar. Istilah tersebut

    sangat dekat dengan Istilah dalam bahasa Inggris, disciple yang berarti

    mengikuti orang untuk belajar di bawah pengawasan seorang

    pemimpin.

    Istilah bahasa Inggris lainnya adlah discipline, yang berarti tertib, taat,

    atau mengendalikan tingkah laku, penguasaan diri, kendali diri. Secara

    terminologis, banyak pakar yang mendefinisikan disiplin.

    Soegarda Poerbakawatja mendefinisikan disiplin adalah ―suatu tingkat

    tata tertib tertentu untuk mencapai kondisi yang baik guna memenuhi

    fungsi pendidikan‖. Tulus Tu'u mengartikan kedisiplinan sebagai

    ―kesadaran diri yang muncul dari batin terdalam untuk mengikuti dan

    mentaati peraturan-peraturan, nilai-nilai dan hukum, yang berlaku

    dalam satu lingkungan tertentu. Kesadaran itu antara lain, jika dirinya

    berdisiplin baik, maka akan memberi dampak yang baik bagi

  • 27

    keberhasilan dirinya di masa mendatang‖. Prijodarminto (1994) dalam

    Tu'u ('004:31) disiplin adalah ―suatu kondisi yang tercipta dan

    berbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukan

    nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan

    keterikatan‖, Menurut Johar Permana, Nursisto (1986:14), Disiplin

    adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dan

    serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan,

    kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban‖. Martian

    Rachman (1999) dalam Tu'u (2004:32) menyatakan ―disiplin sebagai

    upaya mengendalikan diri dan sikap mental individu atau masyarakat

    dalam mengembangkan kepatuhan dan ketaatan terhadap peraturan

    dan tata tertib berdasarkan dorongan dan kesadaran yang muncul dari

    dalam hatinya‖. Gordon (1996:3-4) membedakan kata disiplin dengan

    mendisiplin. ―Disiplin biasanya diartikan sebagai perilaku dan tata

    tertib yang sesuai dengan peraturan dan ketetapan, atau perilaku yang

    diperoleh dari pelatihan, seperti disiplin dalam kelas atau yang disiplin

    dalam tim bola basket yang baik. Sedangkan kata mendisiplin

    didefinisikan sebagai menciptakan keadaan tertib dan patuh dengan

    petatihan dan pengawasan dan menghukum atau mengenakan denda,

    membetulkan, menghukum demi kebiasaan‖.

    Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa disiplin adalah

    suatu sikap yang menunjukkan kesediaan untuk menepati atau

    mematuhi dan mendukung ketentuan, tata tertib, peraturan, nilai serta

    kaidah yang berlaku. Tata tertib sekolah pada dasarnya merupakan

  • 28

    rangkaian aturan kaidah dan berisi aturan positif yang harus ditaati

    oleh elemen sekolah. Oleh karena itu, pelanggaran terhadap tata tertib

    yang telah diberlakukan sekolah, maka akin menimbulkan sanksi. Tata

    tertib di sekolah bagi siswa adalah bagaimana siswa melaksanakan

    aturan yang telah ditentukan sekolah, misalnya berseragam, bersepati

    dan lain sebagainya. Peraturan ini ditetapkan sebagai upaya untuk

    menciptakan kedisiplinan bagi siswa dan mendidik di sekolah.

    3. Kepatuhan Tata Tertib Sekolah

    3.1. Pengertian Kepatuhan

    (Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2002). Patuh adalah sutra

    menurut, taat pada perintah, aturan. Jadi kepatuhan berarti sifat patuh

    ketaatan. (Heri P, 1999). Kepatuhan merupakan suatu bentuk perilaku.

    Prilaku manusia berasal dari dorongan yang ada dalam diri manusia,

    sedangkan dorongan merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan

    yang ada dalam diri manusia. Jadi kesimpulan tersebut ialah prilaku

    taat siswa terhadap tata tertib sekolah yang seharusnya bersumber dari

    dalam dirinya dan bukan karena paksaan atau tekanan dari pihak lain.

    Kepatuhan yang baik adalah yang didasari oleh adanya kesadaran

    tentang nilai dan pentingnya peraturan-peraturan atau larangan-

    larangan yang terdapat dalam tata tertib sekolah tersebut. Menurut

    Djahiri (1985: 25), tingkat kepatuhan seseorang terhadap tata tertib,

    meliputi:

    a. Patuh karena takut pada orang atau kekuasaan atau paksaan.

    b. Patuh karena ingin dipuji.

  • 29

    c. Patuh karena kiprah umurn atau masyarakat.

    d. Taat atas dasar adanya aturan dan hukum serta untuk ketertiban.

    e. Taat karena dasar keuntungan atau kepentingan.

    f. Taat karena hal tersebut memang memuaskan baginya.

    Berdasarkan pendapat tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa

    kepatuhan seseorang khususnya siswa untuk mematuhi tata tertib

    memang sangat penting. Karna dengan prilaku taat, siswa dapat

    menaati tata tertib sekolah dan bersumber dari dalam dirinya dan

    bukan karena paksaan atau tekanan dari pihak lain.

    3.2. Pegertian Tata Tertib Sekolah

    Untuk dapat menegakkan kesadaran hukum pada diri siswa,

    diperlukan adanya tata tertib dan peraturan-peraturan bagi siswa. yang

    diharapkan dengan adanya tata tertib, maka siswa akan menaati

    peraturan yang berlaku sehingga akan terciptanya ketertiban. Menurut

    Instruksi Menteri Pendidikan dan kebudayaan tanggal 1 Mei 1974,

    No, 14/U/1974 dalam Suryosubroto (2010: 81), ―Tata tertib sekolah

    ialah ketentuan-ketentuan yang mengatur kehidupan sekolah sehari-

    hari dan mengandung sanksi terhadap pelanggarannya‖. Tata tertib

    murid adalah bagian dari tata tertib sekolah, di samping itu masih ada

    tata tertib guru dan tata tertib tenaga administrative.

    Kewajiban menaati tata tertib sekolah adalah hal yang penting sebab

    merupakan bagian dari sistem persekolahan dan bukan sekadar

    sebagai kelengkapan sekolah. Menurut Siti Melchaty (1990: 151),

  • 30

    bahwa: ―Tata tertib adalah peraturan-peraturan yang mengikat

    seseorang atau kelompok guna menciptakan keamanan, ketentraman,

    dan kedamaian orang tersebut atau kelompok orang tersebut‖.

    Kemudian Siti Melchaty (1990: 151), menambahkan bahwa tata tertib

    meliputi yaitu :

    1. Mengadakar- peraturan sekolah seperti piket, pakaian seragam, dan lain-lain.

    2. Sekolah membuat jadwal peraturan yang harus dipatuhi. 3. Aktif dan tertib mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung. 4. Murid mentaati perintah guru khusus pelajaran seperti PR dan

    Pramuka.

    5. Perhatian anak didik diajar secara bertanggungjawab dengan perorangan maupun kelompok.

    6. Sekolah membuat jadwal masuk dan keluar.

    Sedangkan lsmed Syarif dan A. Nawas Risa (1976:38), mengatakan

    bahwa tata tertib meliputi yaitu :

    1. Setiap siswa harus mempunyai buku-buku dan alat-alat pelajaran yang dibutuhkan.

    2. Badan bersih, sehat dan berpakaian rapi, 3. Menjaga ketenangan selama pelajaran berlangsung. 4. Lima menit sebelum masuk, murid harus sudah ada di kelas. 5. Mentaati waktu masuk, istirahat dan selama jam pelajaran tidak

    membawa orang lain teman yang dapat mengganggu pelajaran.

    Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ( 1998: 37), mengemukakan

    bahwa: ―peraturan tata tertib sekolah adalah peraturan yang mengatur

    segenap tingkah laku pars siswa selama mereka bersekolah untuk

    menciptakan suasana yang mendukung pendidikan‖.

    Pada dasamya tata tertib dibuat dengan menyesuaikan dan menetapkan

    konsekuensi terhadap prilaku murid adalah sebagai berikut :

  • 31

    1) Tugas dan kewajiban dalam kegiatan intra sekolah:

    a. Murid harus datang ke sekolah sebelum pelajaran dimulai.

    b. Murid juga memperhatikan kegiatan ekstrakurikuler seperti:

    kepramukaan, kesenian, palang merah remaja, dan sebagainya.

    c. Murid tidak dibenarkan tinggal di dalam kelas pada saat jam

    istirahat kecuali jika keadaan tidak mengizinkan, misalnya

    sedang dalam keadaan hujan.

    d. Murid boleh pulang jika pelajaran sudah selesai.

    e. Murid wajib menjaga kebersihan dan keindahan sekolah.

    f. Murid wajib berpakaian sesuai dengan yang ditetapkan oleh

    sekolah.

    2) Larangan-larangan yang harus diperhatikan:

    a. Meninggalkan sekolah jam pelajaran tanpa izin dari kepala

    sekolah atau guru yang bersangkutan.

    b. Merokok di sekolah.

    c. Berpakaian tidak sombong atau bersolek yang berlebiban.

    d. Kegiatan yang menganggu jalannya pelajaran.

    3) Sanksi bagi murid dapat berupa:

    a. Peringatan lisan secara langsung.

    b. Peringatan tertulis dengan tembusan orang tua.

    c. Dikeluarkan sementara.

    d. Dikeluarkan dari sekolah.

    Melihat penjelasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan

    bahwa tata tertib sekolah dibuat secara resmi oleh pihak yang

  • 32

    berwenang dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan situasi dan

    kondisi sekolah tersebut, memuat hal-hal yang diharuskan dan

    dilarang bagi siswa selama berada di lingkungan sekolah dan apabila

    mereka melanggar maka pihak sekolah berwenang untuk memberikan

    sanksi sesuai dengan ketetapan.

    Berdasarkan pengertian kepatuhan dan tata tertib yang telah

    dijelaskan, maka yang dimaksud oleh peneliti tentang kepatuhan

    terhadap tata tertib sekolah adalah suatu perilaku yang dilakukan oleh

    siswa dan didasari dari dorongan diri sendiri tanpa tanpa adanya

    paksaan untuk mentaati peraturan yang telah dibuat secara resmi oleh

    pihak sekolah yang mana didalamnya terdapat hal-hal yang

    diharuskan, dilarang, dan terdapat sanksi bagi yang melanggarnya.

    3.3. Tujuan Tata Tertib Sekolah

    Sebelum membahas tentang tujuan tata tertib yang lebih luas, akan

    penulis uraikan terlebih dahulu tujuan dari peraturan. Menurut

    Hurlock (1990: 85), yaitu, ―Peraturan bertujuan untuk membekali

    anak dengan pedoman berperilaku yang disetujui dalam situasi

    tertentu‖. Misalnya dalam peraturan sekolah, peraturan ini memuat

    apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh

    siswa, sewaktu berada di lingkungan sekolah. Tujuan tata tertib adalah

    untuk menciptakan suatu kondisi yang menunjang terhadap

    kelancaran, ketertiban, dan suasana yang damai dalam pembelajaran.

    Dalam informasi tentang WawasanWiyatamandala dalam Dekdikbud

  • 33

    (1993: 21), disebutkan bahwa. ―Ketertiban adalah suatu kondisi

    dinamis yang menimbulkan keserasian dan keseimbangan tata

    kehidupan bersama sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa‖. Dalam

    kondisi sehari-hari, kondisi tersebut mencerminkan keteraturan dalam

    pergaulan, penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana dan

    dalam mengatur hubungan dengan masyarakat serta lingkungan.

    Menurut Mia Kusmiati (20(14: 22), bahwa tujuan diadakannya tata

    tertib salah satunya sesuai dengan yang tercantum dalam setiap butir

    tujuan tata tertib, yaitu:

    a. Tujuan peraturan keamanan adalah untuk mewujudkan rasa aman dan tentram serta bebas dari rasa takut baik lahir maupun batin

    yang dirasakan oleh seluruh warga, sebab jika antar individu tidak

    saling menggangu maka akan melahirkan perasaan tenang dalam

    setiap individu dan siap untuk mengikuti kegiatan sehari-hari.

    b. Tujuan peraturan kebersihan adalah terciptanya suasana, bersih dan sehat yang terasa dan nampak pada seluruh warga.

    c. Tujuan peraturan ketertiban adalah menciptakan kondisi yang teratur yang mencerminkan keserasian, keselarasan dan

    keseimbangan pada tata ruang, tata kerja, tata pergaulan bahkan

    cara berpakaian.

    d. Tujuan peraturan keindahan adalah untuk menciptakan lingkungan yang baik sehingga dapat menimbulkan rasa keindahan bagi yang

    melihat dan menggunakannya.

    e. Tujuan peraturan kekeluargaan adalah untuk membina tata hubungan yang baik antar individu yang, mencerminkan sikap dan

    rasa gotong royong, keterbukaan, saling membantu, tenggang rasa

    dan saling menghonnati.

    Berdasarkan uraian diatas, maka setiap warga negara bertanggung

    jawab untuk menciptakan suasana yang aman, tertib, bersih, indah dan

    penuh kekeluargaan, agar proses interaksi antar warga dalam rangka

    penanaman dan pengembangan nilai, pengetahuan, keterampilan dan

    wawasan dapat dilaksanakan.

  • 34

    Berdasarkan tujuan tata tertib sekolah yang telah dijelaskan, maka

    peneliti menyimpulkan bahwa tata tertib sekolah bertujuan agar semua

    warga sekolah mengetahui apa tugas, hak, dan kewajiban serta

    melaksanakan dengan baik sehingga kegiatan sekolah dapat berjalan

    dengan lancar.

    3.4. Peran dan Fungsi Tata Tertib Sekolah

    Keberadaan tata tertib sekolah memegang peranan penting, yaitu

    sebagai alat untuk mengatur perilaku atau sikap siswa di sekolah. M. I.

    Soelaeman (1985: 82). berpendapat bahwa: ―Peraturan tata tertib itu

    merupakan alat guns mencapai ketertiban‖. Dengan adanya tata tertib

    itu adalah untuk menjamin kehidupan yang tertib, tenang, sehingga

    kelangsungan hidup social dapat dicapai.

    Tata tertib yang direalisasikan dengan tepat dan jelas serta konsekuen

    dan diawasi dengan sungguh-sungguh maka akan memberikan

    dampak terciptanya suasana masyarakat belajar yang tertib, damai,

    tenang, dan tentram di sekolah.

    Peraturan dan tata tertib yang berlaku di manapun akan tampak

    dengan baik apabila keberadaannya diawasi dan dilaksanakan dengan

    baik, hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Durkheim (1990: 107-

    108), bahwa: ―Hanya dengan menghormati aturan-aturan sekolahlah si

    anak belajar menghormati aturan-aturan umum lainnya, belajar

    mengembangkan kebiasaan, mengekang, dan mengendalikan diri

    semata-mata karena ia harus mengekang dan mengendalikan diri‖.

  • 35

    Dengan adanya pendapat tersebut, dapat dijelaskan bahwa sekolah

    merupakan ajang pendidikan yang akan membawa siswa ke kehidupan

    yang pendidikan lebih lugs yaitu lingkungan masyarakat, dimana

    sebelum anak (siswa) terjun ke masyarakat maka perlu dibekali

    pengetahuan dan keterampilan untuk mengekang, dan mengendalikan

    diri. Sehingga mereka diharapkan mampu menciptakan lingkungan

    masyarakat yang tertib, tenang, aman, dan damai.

    Tata tertib sekolah berperan sebagai pedoman perilaku siswa,

    sebagaimana yang dikemukakan oleh Hurtock (1990: 76), bahwa

    Peraturan berfungsi sebagai pedoman perilaku anak dan sebagai

    sumber motivasi untuk bertindak sebagai harapau sosial‖. Di samping

    itu peraturan juga merupakan salah satu unsur disiplin untuk

    berperilaku.

    Hal ini sejalan dengan pendapat rang dikemukakan oleh Hurlock

    (1990: 84), yaitu ―Bila disiplin diharapkan mampu mendidik anak-

    anak untuk berpenilaku sesuai dengan standar yang ditetapkan

    kelompok sosial mereka, ia harus mempunyai empat unsur pokok,

    apapun cara mendisiplinkan yang digunakan, yaitu peraturan sebagai

    pedoman perilaku, konsistensi dalam peraturan tersebut dan dalam

    cara yang digunakan untuk mengajak dan memaksanya, hukuman

    untuk pelangaran peraturan dan penghargaan untuk perilaku yang

    sejalan dengan perilaku yang berlaku‖.

  • 36

    Berdasarkan pendapat tersebut, dapat diketahui bahwa dalam

    menerapkan disiplin perlu adanya peraturan dan konsistensi dalam

    pelaksanaannya. Tata tertib sekolah mempunyai dua fungsi yang

    sangat penting dalam membantu membiasakan anak mengendalikan

    dan mengekang perilaku yang diinginkan, seperti yang dikemukakan

    oleh Hurlock (1990: 85), yaitu:

    a. Peraturan mempunyai nilai pendidikan sebab, peraturan memperkenalkan pada anak perilaku yang disetujui oleh anggota

    kelompok tersebut. Misalnya anak belajar dari peraturan tentang

    memberi dan mendapat bantuan dalam tugas sekolahnya, bahwa

    menyerahkan tugasnya sendiri merupakan satu-satunya cara yang

    dapat diterima di sekolah untuk menilai prestasinya.

    b. Peraturan menjadikan dan membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan. Agar tata tertib dapat memenuhi kedua fungsi di

    atas, maka peraturan atau tata tertib itu harus dimengerti, diingat,

    dan diterima oleh individu atau siswa. Bila tata tertib diberikan

    dalam kata-kata yang tidak dapat dimengerti, maka tata tertib tidak

    berharga sebagai suatu pedoman.

    Berdasarkan peran dan fungsi tata tertib sekolah yang telah dijelaskan,

    maka peneliti mengemukakan bahwa tata tertib sekolah berperan

    sebagai pedoman yang mengatur seluruh perilaku warga sekolah,

    Sedangkan fungsi tata tertib sekolah adalah mendidik dan membina

    perilaku siswa di sekolah, karena tata tertib berisikan keharusan yang

    harus dilaksanakan oleh siswa. Selain itu tata ertl berisikan tertib juga

    berfungsi sebagai 'pengendali' bagi perilaku siswa, karena tata tertib

    sekolah berisi larangan terhadap siswa tentang suatu perbuatan dan

    juga mengandung sanksi bagi siswa yang melanggarnya.

  • 37

    3.5. Tata Tertib SMA Perintis 1 Bandar Lampung

    a. Kewajiban siswa/i di SMA Perintis 1 Bandar Lampung:

    1. Setiap siswa/i SMA Perintis 1 Bandar Lampung wajib hadir

    minimal 10 menit sebelum bel berbunyi.

    2. Mulai belajar sekolah pukul 07.15 s.d selesai

    3. Setelah bel tanda masuk berbunyi kemudian siswa/i berbaris

    dengan rapih kemudian masuk kelas dengan tertib.

    4. Memelihara ketertiban selama waktu belajar selama berada di

    sekolah.

    5. Menghadiri upacara bendera/nasional yang telah ditentukan

    waktunya.

    6. Memberi kabar jika berhalangan hadir/jika meninggalkan

    sekolah.

    7. Mengerjakan pekerjaan rumah/tugas yang diberikan guru.

    8. Mengatur dan mempersiapkan buku pelajar, catatan dan alat

    tulis.

    9. Melunasi komite, LAB Bahasa Inggris, LAB Komputer setiap

    bulannya.

    10. Mematuhi dan melaksanakan tata tertib siswa dan budi pekerti

    luhur.

    11. Menyampaikan raport, kartu iuran sekolah kepada orang tua.

    12. Harus dapat menjaga nama baik guru, orang tua, dan

    almamater.

    13. Membawa Al-Qur’an bagi siswa/I yang bernama Islam.

  • 38

    14. Harus berpakaian sekolah, yakni:

    a) Senin s/d Rabu: Hari Senin upacara bendera lengkapan

    seragam:

    1. Pakaian Putih-Abu berserta bad lokasi sekolah, nama

    siswa, bad lokasi kelas, dan bad OSIS.

    2. Memakai topi ber cap SMA Perintis 1 Bandar

    Lampung.

    3. Memakai dasi ber cap SMA Perintis 1 Bandar

    Lampung.

    4. Memakai ikat pinggang hitam berlogo SMA Perintis 1

    Bandar Lampung.

    5. Memakai sepatu hitam putih di atas mata kaki.

    6. Memakai kaos kaki putih setengah betis.

    7. Khustis putri, memakai baju putih lengan panjang dan

    rok biru panjang.

    b) Kamis s/d Jumat : berpakaian batik hijau hitam.

    1. Laki-laki : Baju batik lengan pendek, celana hitam

    panjang, sepatu hitam kaos kaki hitam.

    2. Perempuan : Baju batik lengan panjang, rok hitam

    panjang, sepatu hitam kaos kaki hitam.

    c) Sabtu : Berpakaian pramuka beserta atribut lengkap yaitu

    Topi,bad,dasi,ikat pinggang sepatu hitam, kaos kaki hitam.

  • 39

    b. Larangan siswa/i SMA Perintis I Bandar Lampung :

    1. Dilarang meninggalkan kelas sebelum jam pelajaran terakhir.

    2. Dilarang memakai pakaian yang tidak sesuai dengan tata tertib

    siswa.

    3. Dilarang merokok, minuman keras, narkoba, dan sejenisnya di

    lingkungan sekolah.

    4. Dilarang melakukan/lmengadakan perjudian di kelas.

    5. Dilarang membawa senjata tajam.

    6. Dilarang berambut gondrong, (laki-laki).

    7. Dilarang berkelahi dengan teman maupun dari sekolah lain.

    8. Dilarang lompat pagar sekolah.

    9. Dilarang membawa HP berkamera.

    10. Dilarang mengaktifkan atau menggunakan HP pada jam

    Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

    11. Dilarang merusak atau mencoret-coret tembok, buku pelajaran,

    moubeller, baju seragam sekolah, dan tempat lainnya.

    12. Dilarang membawa makanan di kelas.

    13. Dilarang membuang sampah sembarangan.

    14. Apabila jam kosong, ketua wajib lapor dan menghubungi guru

    piket agar diatur lanjut dan dilarang berteriak atau ribut di

    kelas.

    c. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua:

    1. Bersedia hadir di sekolah jika ada hal-hal yang perlu

    diselesaikan dengan sekolah diminta hadir ke sekolah.

  • 40

    2. Bersedia melaporkan keadaan belajar siswa di rumah yang bisa

    membantu sekolah demi meningkatkan prestasi di sekolah.

    3. Melaporkan penyakit yang biasa diderita oleh siswa untuk

    menjadi bahan pertimbangan dalam pelajaran olah raga di

    sekolah.

    4. Menanyakan ke pihak sekolah mengenai perkembangan

    belajar anak secara berkala.

    5. Setiap pelajar hendaknya memiliki buku-buku/alat-alat

    pelajaran yang telah ditentukan oleh sekolah demi kelancaran

    proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

    6. Siswa/i yang mempunyai keahlian atau kegemaran sesuai

    dengan ekstrakulikuler (Pramuka, PMR, Karate, Pencak Silat,

    dll) kiranya orang tua/wali murid dapat bekerja sama dengan

    pihak sekolah.

    7. Anak yang terlambat masuk/datang harus meminta izin kepada

    guru piket.

    8. Anak yang meinggalkan jam pelajaran karena perkepentingan

    harus meminta izin kepada guru piket.

    d. Sanksi-Sanksi

    1. Pelanggaran terhadap tata tertib dikenakan sanksi pedagogi

    berupa :

    a. Peringatan lisan,

    b. Peringatan tertulis kepada orang tuanya.

    c. Diskors beberapa hart dan diberitugas dari sekolah.

  • 41

    d. Dikeluarkan dari sekolah atau dikembalikan kepada orang

    tuanya.

    2. Hukuman ringan terhadap pelanggaran tata tertib.

    a. Menyapu halaman /lingkungan sekolah.

    b. Mengepel/menyapu ruang kelas.

    c. Membersihkan kamar mandi/toilet.

    3. Hukuman bagi murid yang berambut gondrong :

    a. Rambut dicukur oleh guru di sekolah.

    4. Pelanggaran yang berat seperti: tawuran, berkelahi, membawa

    senjata tajam, menggunakan narkoba, merokok, maka siswa

    tersebut dapat dikeluarkan dari sekolah.

    5. Apabila siswa ketahuan membawa HP kamera dan

    menggunakan saat jam pelajaran berlangsung maka HP disita

    oleh guru dan diambil kembali oleh orang tua.

    B. Kerangka Pikir

    Setiap sekolah mempunyai permasalahan terkait kepatuhan tata tertib.

    Beberapa permaalahan yang terkait kepatuhan tata tertib yaitu perilaku siswa

    yang tidak disiplin cendrung memiliki sikap yang kurang patuh terhadap tata

    tertib yang ada. Sedangkan pihak sekolah yang tidak hanya tempat mencari

    ilmu juga mempunyai banyak upaya dalam mendidik, membangun dan

    meningkatkan kepatuhan siswa terhadap tata tertib. Khususnya pada SMA

    Perintis 1 Bandar Lampung, mempunyai cara tersendiri untuk meningkatkan

    kepatuhan siswa terhadap tata tertib yaitu Budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa,

  • 42

    Sopan, Santun ). Budaya 5S yaitu (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun )

    merupakan bagian dari implementasi dari budaya sekolah. Sedangkan budaya

    sekolah adalah seperangkat nilai, peraturan, norma, keyakinan, asumsi dasar,

    tradisi (kebiasaan), filosofi, ideologi, motivasi, perasaan, harapan, sikap yang

    mengikat kebersamaan dan menjadi ciri khan sekolah atau citra yang

    membedakan sekolah satu dengan sekolah lainnya. Budaya 5S (senyum,

    salam, saga, sopan, santun) adalah budaya yang di terapkan pada SMA

    Perintis 1 Bandar Lampung sebagai cara untuk membudayakan dan

    pemberdayaan penyelenggaraan pendidikan peserta didik yang dilakukan

    sepanjang hayat yang dilakukan sepanjang hayat, yaitu agar dapat

    mengembangkan keinampuan dan membentuk watak dan sikap peserta didik

    sehingga menjadi peradaban bangsa yang bermartabat yaitu sesuai dengan UU

    No.20 tahun 2003 tentang Sidiknas. Budaya sekolah membentuk keperibadian

    dan watak dan sikap dalam berperilaku taat, tanggung jawab, ramah,

    menghormati, menghargai, sopan dan santun dalam berperilaku.

  • 43

    Gambar 1. Bagan Kerangka Pikir

    Aspek Penilaian Budaya 5S

    (Senyum, salam, sapa, Sopan, Santun)

    (X)

    1. Kognitif

    2. Efektif

    3. Konatif

    Aspek Penilaian Kepatuhan Tata

    Tertib Sekolah

    (Y)

    1. Kewajiban Siswa/Siswi di Sekolah.

    2. Larang-Larangan Siswa di Sekolah.

    3. Sanksi

  • 44

    C. Hipotesis

    ―Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap runiusan masalah

    penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk

    kahmat pernyataan‖ (Sugiyono, 2012: 96).

    Hipotesis dalam penelitian ini yaitu :

    HO : Tidak ada Peranan Budaya 5s (senyum, salam, sapa, sopun, santun)

    Dalam Meningkatkan Kepatuhan Siswa Terhadap Tata Tertib di SMA

    Perintis 1 Bandar Lampung,

    HI : Ada Peranan Budaya 5s (senyum, salam, sapa, santun) Dalam

    Meningkatkan Kepatuhan Siswa Terhadap Tata Tertib di SMA Perintis

    I Bandar Lampung.

  • 45

    III. METODE PENELITIAN

    A. Jenis Penelitian

    Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitia ini adalah deskriptif

    kilantitatif dengan pendekatan penelitian Survei. Riduwan (2010:49)

    penelitian survei adalah penelitian yang dilakukan pada populasi besar

    maupun keen, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil

    populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi dan

    hubungan antar variabel.

    B. Populasi dan Sampel.

    1. Populasi

    Populasi ialah hal penting dalam penelitian, karena keberadaannya

    menentukan validitas data yang diperoleh. Dalam hal ini Riduan (2002:3)

    mengemukan ―Populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit

    hasil pengukuran yang menjadi objek penelitian‖. Menurut Suharsimi

    Arikunto (2006:130) ―populasi adalah keseluruhan subjek penelitian‖. Jadi

    populasi merupakan keseluruhan obyek yang menjadi sasaran penelitian.

    Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Peintis 1

    Bandar Lampung.

  • 46

    Tabel 2. Data Populasi Siswa Kelas XI di SMA Perintis I Bandar

    Lampung Tahun Ajaran 2017/2018.

    No Kelas Siswa

    Jumlah L P

    1. XI IPA. 1 17 18 35

    2. XI IPA,2 18 20 38

    3. xi IPS. 1 18 9 27

    4. XI -IPS. 2 21 13 34

    Jumlah 74 60 134

    Sumber : “Tara Usaha, SMA Perintis I Bandar Lampung TA 2017 2018 “.

    2. Sampel

    Menurut dari jumlah Sugiyono (2012: 62)‖sampel adalah bagian dari

    jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi‖. Menurut Sangadji

    dan Sopiah (2010: 186) ―sampel adalah bagian dari jumlah dan

    karakteristik yang dimiliki oleh populasi.‖ Menurut, Sujanveni dan

    Endrayanto (2012: 13) ―sampel adalah bagian dari jumlah dan

    karakteristik yang dimiliki oleh populasi‖. Berdasarkan beberapa pendapat

    ahli tersebut dapat penulis simpulkan bahwa sampel adalah sebagian

    bagian dari populasi yang diambil. Teknik yang digunakan dalam

    menetukan sampel penelitian ini menggunakan rumus, Arikunto

    (2006:38), yang menyatakan bahwa ―untuk ancer-ancer, jika subjek

    kurang dari 100, maka lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya

    merupakan penelitian populasi dan jika populasinya lebih dari 100 maka

    diambil 15-25% atau lebih. Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat

    disimpulkan bahwa sampel yang akan diambil dalam penelitian ini

    sebanyak 15% dari semua jumlah siswa kelas XI. Jadi sampel penelitian

    ini adalah

  • 47

    Dari rumus yang digunakan diperoleh 20 responden, jika dibulatkan maka

    jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 20 responden dengan taraf

    kesalahan 15% yang merupakan banyaknya siswa di kelas XI Perintis I

    Bandar Lampung. Dari rumus tersebut maka diperoleh jumlah sampel

    yang menjadi objek penelitian yaitu sebagai berikut

    Tabel 3. Rincian Jumlah Sampel

    No. Kelas Jumlah Persen Sampel

    1. XI IPA. 1 35 15% 5

    2. X-1 IPA, 2 38 15% 6

    3. XI IPS, 1. 27 15% 4

    4. XI IPS.2 34 15% 5

    Total 20

    C. Variabel Penelitian

    Menurut Sugiyono (2008M) Mengemukakan bahwa variabel adalah objek

    penelitian, atau apa yang menjadi variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

    untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan. Dalam penelitian ini penulis

    membedakan dua variabel bebas sebagai variabel yang mempengaruhi (X)

    Budaya 5S ( Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) dan variabel terikat

    sebagai variabel yang dipengaruhi (Y) Kepatuhan Tata Tertib Sekolah yaitu :

    a. Variabel Bebas (X) Budaya 5S ( senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun )

    Willard Waller (Peterson dan Deal, 2009: 8) menyatakan bahwa ―setiap

    sekolah mempunyai budayanya sendiri, yang berupa serangkaian nilai,

    norma, aturan moral, dan kebiasaan, yang telah mernbentuk perilaku dan

    hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya‖.

    Hal ini sesuai dengan teori perilaku dari Albert Bandura dan Thomas

    Lickona ―Program Lima S dapat membangun karakter siswa yang

  • 48

    berbentuk : (1) religius, (2) disiplin, (3) demokratis, (4)

    bersahabat/komunikatif, (5) cinta damai,(6) peduli lingkungan, (7) peduli

    sosial, (8) bertanggung