Perayaan Sekaten

  • View
    334

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of Perayaan Sekaten

PERAYAAN SEKATEN(ANTROPOLOGI)

MAKALAH(ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Antropologi)

Oleh Riza Afita Surya 110210302030

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANPROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH UNIVERSITAS JEMBER 2013

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Keraton Yogyakarta merupakan sebuah kompleks bangunan tempat tinggal Sri Sultan Hamengkubwono dan bekas pusat pemerintahan Kasultanan Yogyakarta yang memiliki latar belakang keagamaan Islam. Keraton Yogyakarta didirikan atas dasar perjanjian Giyanti atau disebut juga Palihan Nagari yang diadakan pada hari Kamis Kliwon, tanggal 29 Raibiul akhir 1680 Jawa atau tanggal 13 Februari tahun 1755 Masehi di Desa Giyanti (Punto H, 2001 : 1). Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi Sultan Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengkubuwono I, Senopati Ing Alaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama Khalifatullah (Punto H, 2001 : 2). Gelar tersebut berarti Sultan berkewajiban menyiarkan agama Islam dalam kerajaan sesuai dengan kedudukan dan peranan Sultan sebagai Raja Yogyakarta. Adapun nama Kasultanan Yogyakarta yang sebenarnya adalah Ngayogyakarta Hadiningrat.Gambaran Keraton Ngayogyakarta Hadingrat menunjukkan bahwa istana (keraton) menjadi pusat kehidupan tradisional Masyarakat Jawa. Di sini bahasa Jawa yang paling halus dituturkan (Kromo Inggil) dan di sini adat dan tradisi Jawa lahir dan dikembangkan (Morrison, 2002 : 180). Khususnya pada tradisi Sekaten, acara ini menjadi rutinitas yang berpusatkan di Keraton dan dalam pelaksanaannya menjadi momen ribuan umat Islam yang menanti datangnya pada bulan Maulud. Berakhirnya era Kerajaan Hindu dan berdirinya Kerajaan Islam memang memberi pengaruh, tetai tidak dalam pengertian Tradisi Sekaten. Pengaruh Islam dalam tradisi hanyalah dalam batas-batas tertentu secara implisit berupa ajaran (Fenanie, 2000 : 229). Tradisi Sekaten sebagai bagian dari aktivitas Keraton, akhirnya menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Yogyakarta pada umumnya dan kerabat Keraton khususnya.Perayaan Sekaten sebagai upacara tradisional sebagai upacara tradisional keagamaan Islam merupakan ekspresi masuk dan terisolasinya Islam ke Bumi Nusantara. Tradisi Sekaten mengandung tiga dimensi penting, yaitu kultural, religius, dan historis (Sultan, 12 Mei 2004). Sebagai peristiwa budaya, Sekaten dijadikan memontum penitng untuk merekonstruksi letak koordinat budata Jawa yang diselenggarakan tiap tahun dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.Tradisi Sekaten merupakan salah satu aset budaya Jawa yang dipertahankan hingga sekarang. Upacara ini merupakan suatu peristiwa tradisional yang sangat populer serta senantiasa menarik antusias masyarakat. Upacara tradisi Sekaten juga merupakan bagian dari adat istiadat yang merupakan salah satu upaya masyarakat Jawa untuk menjaga keharmonisan dengan alam, dunia roh, dan sesamanya. Berdasarkan uraian di atas, penulis bermaksud menjelaskan sejarah, proses, dan pelaksanaan tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta sebagai bahan yang patut dikaji dan pelihara sert menambah pengetahuan terhadap budaya tradisional yang ada di Jawa.

1.2Rumusan Masalah 1.Bagaimana asal-usul dan sejarah tradisi Sekaten di Keraton Ngyogyakarat Hadiningrat ?2.Bagaimana prosesi atau pelaksanaan tradisi Sekaten di Keraton Ngyogyakarat Hadiningrat ? 3.Bagaimana makna simbolis dari pelaksanaan tradisi Sekaten di Keraton Ngyogyakarat Hadiningrat ? BAB 2. PEMBAHASAN

2.1Sejarah Lahirnya Tradisi Sekaten di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Kerajaan Demak pada pemerintahan Raden Patah (Sultan Ngabdul SuryaNgalam I) diadakan perubahan drastis tanpa disosialisasikan dengan para Waliterlebih dahulu, yaitu Selamatan Negara Tahunan ditiadakan karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Agama Islam. Hal tersebut menimbulkan keresahan bagi masyarakat yang tidak bisa menerima kehendak Sultan. Bersamaan denganditiadakannya upacara tersebut diseluruh wilayah Kerajaan Demak timbul wabahpenyakit yang banyak menyebabkan kematian warga masyarakat. Atas nasihat Wali Sanga untuk membangkitkan lagi kepercayaan masyarakat, maka Sultan Demak berkenan mengadakan kembali Upacara Selamatan Negara Tahunan yang dikemas dan diselaraskan dengan ajaran Islam dibawah binaan Sunan Giri dan Sunan Bonang (Wignyasubrata : 2). Tidak lama kemudian, wabah penyakit reda dan rakyat hidup tentram.Sejak saat itulah Perayaan Sekaten diselenggarakan sebagai perwujudanpengganti serta pelestarian Selamatan Negara Tahunan yang selal diselenggarakanRaja Hindu-Budha secara turun temurun. Pada perkembangannya perayaan Sekaten (Garebeg Maulud) di Demak diikuti oleh daerah lain seperti Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Banten dan Aceh. Khususnya di Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon perayaan Maulud disebut Sekaten (Mustafa, 2004 : 86). Sekaten diperkenalkan oleh Raden Patah di Demak abad 16. Saat itu orang Jawa beralih memeluk agama Islam dengan mengucapkan syahadatain. Oleh karena itu, penggunaan nama Sekaten pada perayaan tersebut menjadi terkenal. Perayaan Sekaten kemudian diteruskan oleh Sultan-sultan berikutnya sehingga menjadi perayaan tahunan yang diperingati oleh banyak masyarakat. Sekaten menjadi nilai peninggalan dari hasil interaksi antara budaya Hindu-Budha dan Islam yang berbentuk kebudayaan Non Fisik. Proses interaksi tersebut secara langsung mempercepat proses Islamisasi di Pulau Jawa. Istilah Sekaten berasal dari bahasa Arab kata syahadatain, pengakuan percaya kepada ajaran agama Islam, tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-nya (Mustafa, 2004 : 148). Sekaten selain berasal dari kata syahadatain, juga berasal dari kata:1) Sahutain : menghentikan atau menghindari perkara dua, yakni sifat lacur dan menyeleweng. 2) Sakhatain : menghilangkan perkara dua, yaitu watak hewan dan sifat setan karena watak tersebut sumber kerusakan.3) Sakhotain : menamankan perkara dua, yaitu selalu memelihara budi suci atau budi luhur dan selalu menghambakan diri pada Tuhan. 4) Sekati : setimbang, orang hidup harus bisa menimbang atau menilai hal-hal yang baik dan buruk.5) Sekat : batas, orang hidup harus membatasi diri untuk tidak berbuat jahat serta tahu batas-batas kebaikan dan kejahatan.Kerajaan Mataram yang beribukota di Surakarta tahun 1755 pecah menjadi dua, ialah Kasunanan Surakarta yang beribukota di Surakarta (Sala) di bawah pimpinan Sri Sunan Pakubuwono III dan Kasultanan Yogyakarta yang beribukota di Ambarketawang Gamping, kemudian pindah di kota Yogyakarta yang sekarang di bawah pimpinan Sultan Hamengkubuwono X. Pemecahan Kerajaan Mataram menjadi dua ditentukan dalam perjanjianGiyanti (Poerwokoesoemo, 1971 : 1).Pusaka Keraton dibagi menjadi dua, seperti halnya gamelan. Kasunanan Surakarta memperoleh Gamelan Kiai Guntursari dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat memperoleh Gamelan Kanjeng Kiai Gunturmadu. Sebagai imbangan supaya tetap dua perangkat lalu dibuat perangkat gamelan yang lain dan diberi nama Kanjeng Kiai Nagawilaga. Gamelan inilah yang nantinya digunakan dalam setiap perayaan Sekaten, yang kemudian menjadi khasnya alat musik perayaan Sekaten.

Garebeg Maulud (Sekaten) pada masa Hamengkubuwono I merupakan upacara Kerajaan yang melibatkan seisi Keraton, seluruh aparat Kerajaan, seluruh lapisan masyarakat dan mengharuskan para pembesar Pemerintah Kolonial berperan serta.Dari penyelenggaraan Sekaten, secara publik terlihatlah kehadiranKasultanan Yogyakarta yang baru berdiri sebagai kehadiran tradisi JawaIslam. Sekaten yang secara formal bersifat keagamaan dikaitkan dengan harikelahiran Nabi Muhammad SAW. Dari situ secara publik juga menjabarkangelar Sultan yang bersifat kemusliman : Ngabdurrahman Sayidin PanatagamaKalifatullah (Mondoyokusumo, 1977 : 9).Sekaten yang menurut sejarahnya merupakan upacara tradisionalkeagamaan Islam dalam membentuk akhlak dan budi pekerti luhur, tetapdilestarikan oleh para pengganti Sri Sultan Hamengkubuwono I (Soelarto,1996 : 19). Jika Kerajaan dalam keadaan gawat, misalnya dalam keadaan perang maka penyelenggaraan Sekaten dapat ditiadakan. Disisi lain meski Kerajaan dalam keadaan gawat, namun jika memungkinkan Baginda atau Wakil Baginda tetap melangsungkan upacara Sekatenan. Misalnya yang terjadi antara bulan Desember 1810-September 1811 Kasultanan Yogyakarta dilanda kemelut. Gubernur Jenderal Daendels menurunkan Sri Sultan Hamengkubuwono II (Sultan Sepuh) dari tahta Kerajaan dan menggantikannya dengan Putra Mahkota untuk menjadi Sultan yang ke-III.Meski dalam suasana kemelut tetapi Sekaten tetap diselenggarakan. Seperti waktu garebeg sijam Maulud dan Besar, Beliau (Sultan Sepuh) dipersilahkan datang, Beliau duduk disebelah anaknya (Soetanto, 1952 : 74-75).Terbentuknya tradisi Sekaten merupakan ekspresi masuk dan tersosialisasinya Islam kebumi Nusantara secara damai, karena memang Islam sendiri tidak mengenal kekerasan. Itulah sebabnya agama Islam mendapat banyak simpati dari masyarakat di Jawa.Dalam perjalanan sejarah tradisi Sekaten tidak lagi menjadi milikKerajaan saja, tetapi rakyat DIY merasa ikut memilikinya (melu handarbeni).Bagi sebagian besar masyarakat di Propinsi DIY, baik masyarakat perkotaanmaupun masyarakat pedesaan tradisi Sekaten selain dinilai sebagai upacarareligius keislaman yang bercorak khas kejawen dengan segala hikmah danberkah yang juga merupakan kebanggaan daerah yang selalu mengingatkankepada sejarah zaman keemasan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan olehPanembahan Senopati (Soelarto, 1996: 24).

2.2 Prosesi Tradisi Sekaten di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Upacara Sekaten merupakan upacara dan perayaan Keraton terbesar,karena pergelarannya merupakan upacara memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW, sehingga dalam melaksanakan persiapan perayaan Sekatenan, khususnya Abdi Dalem Keparak Para Gusti harus benar-benar dalam keadaan suci. Ini dimaksudkan untuk menjaga kemurnian dan kekhusyukan nilai religius dalam peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 bulan Maulud. Pada peringatan upacara Sekaten