Click here to load reader

PERENCANAAN DAN ORGANISASI I. Manajemen Perencanaan dan ...pa-palopo.go.id/images/stories/Bahan_Rakernas_BUA.pdf · Tahun 2003 tentang Keuangan Negera dan Undang-undang Nomor

  • View
    219

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of PERENCANAAN DAN ORGANISASI I. Manajemen Perencanaan dan...

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

1

PERENCANAAN DAN ORGANISASI

I. Manajemen Perencanaan dan Penganggaran

A. Reformasi Perencanaan dan Penanggaran

Penerapan Reformasi Perencanaan dan Penganggaran untuk peningkatan

kualitas Perencanaan dan Penganggaran, yang menekankan pada Performance

Based Budget (Perencanaan dan Penanggaran Berbasis Kinerja) dalam mendukung

pelaksanaan tupoksi unit Organisasi/Kementerian/Lembaga. Tahun 2011 sampai

tahun 2012 diterapkan reformasi perencanaan dan penganggaran diawali dengan

diterbitkannya peraturan perundang-undangan seperti Undang-undang Nomor 17

Tahun 2003 tentang Keuangan Negera dan Undang-undang Nomor 25 tahun 2004

tentang sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Peraturan perundang-

undangan tersebut telah dilengkapi dengan PP Nomor 20/2004 tentang Rencana

Kerja Pemerintah (RKP), PP Nomor 21/2004 tentang rencana Kerja dan Anggaran

Kementerian Negara/Lembaga (RKA-K/L), PP Nomor 39/2006 tentang Tata Cara

Pengedalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan dan PP Nomor

40/2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional yang

menekankan pada perencanaan dan penganggaran yang berbasis kinerja

(Performance Based Budgeting). Performance Based Budgeting merupakan

mekanisme dalam meningkatkan manfaat sumber daya yang dianggarkan ke sektor

publik terhadap pencapaian hasil (outcome) dan keluaran (income) melalui key

performance indicators (KPI) yang terkait dengan 3 (tiga) hal yaitu : Pengukuran

Kinerja, Pengukuran Biaya untuk menghasilkan penggunaan informasi kinerja

outcome dan output, serta Penilaian keefektifan dan efisiensi belanja dengan

berbagai alat analisis.

Reformasi perencanaan dan penganggaran mengatur bahwa program adalah

cerminan tupoksi Eselon I Pusat Mahkamah Agung yang dalam tataran outcome,

dan kegiatan adalah cerminan tupoksi unit eselun II Pusat Mahkamah Agung.

Sedangkan untuk Badan Peradilan dibawah/daerah dianggap sebagai cerminan

melaksanakan tugas pokok dan fungsi unit eselon I dan II pusat Mahkamah Agung

yaitu menggunakan program teknis Peningkatan Manajemen Peradilan Umum,

Agama, Militer dan TUN. Dan kegiatannya Peningkatan Manajemen Peradilan dan

penyediaan dana bantuan hukum. Program Generik Peningkatan Sarana dan

Prasarana, dan Kegiatannya Pembinaan Administrasi dan Pengelolaan Keuangan,

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

2

Pengadaan Sarana dan Prasarana dilingkungan Peradilan Tingkat Banding dan

Tingkat Pertama.

Hasil restrukturisasi program dan kegiatan Mahkamah Agung telah dituangkan

dalam Rencana Strategis (Renstra) Mahkamah Agung tahun 2010-2014,

selanjutnya diikuti pula dengan perubahan aplikasi penyusunan anggaran pada

tahun 2011 (aplikasi RKA-K/L nya) yang dikeluarkan oleh Kementerian

Keuangan RI.

Mahkamah Agung dalam Perencanaan dan Penganggaran telah melakukan

langkah-langkah pembaharuan ditahun 2011 2012 :

a. Belum terwujudnya Independensi Anggaran Mahkamah Agung seperti

disebutkan dalam Pasal 81 (A) Undang-undang Nomor 3 Tahun 2009 tentang

Mahkamah Agung, maka alokasi anggaran pada tiap tahunnya berdasar pada

Surat Keputusan Bersama Menteri PPN / Kepala Bappenas tentang Pagu

Indikatif, Pagu Sementara/Pagu Naggaran dan Pagu Definitif.

Alokasi anggaran Mahkamah Agung selama ini memang belum seperti yang

diharapkan. Mahkamah Agung senantiasa melakukan upaya untuk dapat

meningkatkan pagu anggarannya melalui membuat usulan kebutuhan anggaran

tiap tahunnya ke Komisi III DPR, Bappenas dan Kementerian Keuangan, yang

merupakan hasil Rekapitulasi Usulan Satker Pusat dan Daerah.

Usulan satker pusat dan daerah yang dibuat merupakan gambaran kebutuhan

yang diperlukan sehingga nominal anggarannya relatif besar, kenyataannya

pagu anggaran yang diterima belum seperti yang diharapkan.

Dimasa datang diperlukan adanya pemahaman dan persepsi bahwa pembuatan

usulan dan kegiatan haruslah disiapkan alternatif kegiatan skala prioritas dan

kegiatan non prioritas untuk memudahkan penyesuaian penyusunan kegiatan

dan anggaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran yang tersedia

bila pagu anggaran yang diterima tidak seperti yang diharapkan Hasil

Reformasi Perencanaan dan Penganggaran, ada mekanisme untuk mengajukan

tambahan pagu anggaran setelah diterima pagu indikatif melalui New Inisiatif

yang telah diatur oleh Bappenas, usulan tersebut akan dibahas dengan

Bappenas dan Kementerian Keuangan apakah dapat dipenuhi atau tidak.

Karena pengajuan new inisiatif sangat kompetitif, dimasa datang dalam

penyusunan kegiatan dan anggaran haruslah benar-benar merencanakan

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

3

kegiatan yang output kegiatannya mendukung Reformasi Birokrasi dan

pencapaian Visi dan Misi Mahkamah Agung.

b. Penyusunan Kegiatan dan Anggaran tahun 2012 agar lebih berkualitas, sesuai

kebutuhan, kebijakan pimpinan dan anggaran yang tersedia, pada tahun 2011

untuk Penyusunan Kegiatan dan Anggaran (RKA-KL) tahun 2012 diawali pada

Pagu Indikatif tahun 2012 untuk daerah melibatkan unsur Pengadilan Tingkat

Pertama dan Tingkat Banding yang dikoordinasikan oleh Pengadilan Tingkat

Banding, sehingga akan timbul rasa ownership karena dari awal kegiatan

yang disusun oleh masing-masing satker disesuaikan dengan kebutuhan dan

anggaran yang ada kedepan, diharapkan tidak ada lagi issue alokasi anggaran

yang diterima tidak sesuai dengan kebutuhannya.

Tahun 2012 kegiatan tersebut tetap dialokasikan pada Pengadilan Tingkat

Banding dan pelaksanaannya diupayakan secepatnya setelah Pagu Indikatif

diterima agar lebih cepat dan akurat Penyusunan Anggarannya, karena waktu

relative lebih lama dalam menyusun / melakukan penyesuaian usulan kegiatan

dan anggarannya dalan RKA-K/L.

c. Penyusunan Rencana Kerja (RENJA), Rencana Strategis (RENSTRA)

Mahkamah Agung senantiasa melibatkan semua unsur Mahkamah Agung dan

Pengadilan Daerah, agar benar-benar mencerminkan aspirasi segenap

komponen warga Mahkamah Agung dan Pengadilan, sehingga timbul

tanggung jawab untuk melaksanakannya dan mewujudkannya.

Setelah berjalannya kegiatan dan anggaran yang disesuaikan dengan kebijakan

pimpinan dan kebutuhan, maka kedepan diperlukan review terhadap Renstra

agar apa yang tekah dilaksanakan bisa In Line dengan dokumen

perencanaan dan penganggaran. Selain itu dipertimbangkan untuk dilakukan

penyelarasan dokumen Renstra Satker Pusat dan Daerah tentang Sistematika,

Isi dll.

d. Sejalan dengan Reformasi Perencanaan dan Penganggaran, maka Pelaksanaan

dan Tanggung Jawab dalam Pengalokasian Kegiatan dan Anggaran untuk

Program Peningkatan Manajemen Peradilan Umum, Agama, Militer, dan TUN

bagi Pengadilan Umum, Agama, Militer dan TUN dilaksanakan oleh Dirjen

Badilum, Dirjen Badilag, dan Badilmiltun (sebelumnya oleh BUA MA),

dengan kegiatannya pelayanan dan bantuan hukum, kegiatan tersebut

merupakan prioritas nasional, yang pelaksanaannya akan dievakuasi oleh

instansi terkait (seperti KP4 dan lain-lain). Untuk itu, pencapaian sasaran

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

4

/target, indicator kinerjanya dan realisasi anggaran harus bisa dilaksanakan

secara optimal dan akuntabel (semua kegiatan harus dapat direalisasikan

secara optimal dan akuntable).

Hal ini terkait Keputusan Menteri Keuangan (KMK) 106/KMK.D2/2011

tanggal 31 Maret 2011 tentang Penetapan Kementerian Negara/Lembaga yang

dapat menggunakan hasil optimalisasi Belanja tahun anggaran 2010 pada

tahun anggaran 2011 dan Kementerian Negara / Lembaga yang dikenakan

pemotongan Pagu Belanja pada tahun 2011. Disebutkan dalam KMK tersebut

tentang pemberian reward / tambahan alokasi anggaran dan punishment

(pemotongan Pagu Belanja).

e. Tindak lanjut pelaksanaan Reformasi Perencanan dan Penganggaran agar

dalam setiap Perencanaan dan Penganggaran mengintegrasikan Perspektif

Gender dalam Penyusunan Dokumen Rencana Kerja dan Anggaran (RKA-KL)

agar tidak menimbulkan kesenjangan Gender, maka pada tahun 2012

berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 93//PMK.02/2011 tentang

petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran

Kementerian Negara / Lembaga dan Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan,

dan Pelaksanaan daftar isian Pelaksanaan Anggaran tahun 2012, RKA-KL

Mahkamah Agung harus dilengkapi dengan TOR yang menerangkan kegiatan

tertentu telah menerapkan Anggaran Responsif Gender (ARG) diharapkan 1

(satu) program minimal 1 (satu) kegiatan yang telah dilengkapi dengan hasil

Analisis Gender Budget Setempat (GBS), sehingga persyaratan RKA-KL

untuk diterima oleh Kementerian Keuangan. Pada Tahun 2011 Mahkamah

Agung bekerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan

Perlindungan Anak telah melakukan advokasi / pendampingan dan

penyusunan Draft Pedoman Perencanaan dan Penganggaran Responsif

Gender di Lingkungan Mahkamah Agung. Selanjutnya diperlukan sosialisasi

hal tersebut ke pengadilan di daerah.

B. Kebijakan dalam pelaksanaan RKA-K/L dan DIPA Tahun 2011 - 2012

Dalam pelaksanaan Rencana Kerja Anggaran Kementerian Negara/Lembaga

(RKA-K/L) dan DIPA Tahun 2011 diikuti dengan beberapa kebijakan yang

dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia antara lain sebagai

berikut :

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

5

A. Exercise Penghematan Belanja Kementerian Negara/Lembaga Tahun

Anggaran 2011

1. Sebelum DIPA Tahun 2011 diterbitkan, Direktur Jenderal Anggaran a.n

Menteri Keuangan mengeluarkan surat Nomor S-352/MK.2/2010 tanggal

3 Desember 2010 hal Exercise Penghematan Belanja Kementerian

Negara/Lembaga Tahun Anggaran 2011 dan ditindaklanjuti dengan Rapat

Koordinasi Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia dengan para

Pejabat Eselon I Kementerian Negara/Lembaga tanggal 26 Januari 2011

bahwa penghematan belanja Kementerian Negara/Lembaga Tahun 2011

wajib dilaksanakan oleh seluruh Kementerian Negara/Lembaga dalam

rangka efisiensi dan efektivitas serta meningkatkan kualitas belanja.

2. Mahkamah Agung telah melakukan exercise penghematan belanja sebesar

10% dari pagu anggaran Tahun 2011 setelah dikurangi belanja pegawai

dan belanja barang operasional sebesar Rp. 171.866.100.000,- (Seratus

tujuh puluh satu milyar delapan ratus enam puluh enam juta seratus ribu

rupiah) dan telah disampaikan melalui surat Sekretaris Mahkamah Agung

kepada Menteri Keuangan c.q Direktur Jenderal Anggaran Kementerian

Keuangan RI Nomor 648/SEK/01/XII/2010 hal Penyampaian Exercise

Penghematan Belanja Mahkamah Agung Tahun Anggaran 2011 tanggal 8

Desember 2010 dan kepada Presiden Republik Indonesia dengan Nomor

038/SEK/01/I/2011 hal Penyampaian Exercise Penghematan Belanja

Mahkamah Agung Tahun 2011 tanggal 31 Januari 2011. Exercise

penghematan tersebut diambil dari kegiatan non prioritas antara lain dari

belanja barang dan belanja modal;

3. Penghematan Belanja Kementerian Negara/Lembaga Tahun Anggaran

2011 ditetapkan dalam bentuk Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2011

tentang Penghematan Belanja Kementerian Negara/Lembaga Tahun

Anggaran 2011 tanggal 15 Maret 2011 dan ditindaklanjuti dengan surat

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan RI Nomor S-

872/AG/2011 hal Tindak Lanjut Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2011

tanggal 26 April 2011 dimana setiap Kementerian/Lembaga wajib

menyampaikan rencana penggunaan hasil penghematan (realokasi) kepada

Kementerian Keuangan c.q Direktur Jenderal Anggaran dengan mengacu

pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 49/PMK.02/2011 tentang Tata

Cara Revisi Anggaran Tahun Anggaran 2011 tanggal 17 Maret 2011.

Mahkamah Agung telah menyampaikan rencana penggunaan hasil

penghematan belanja Tahun 2011 melalui surat Kepala Badan Urusan

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

6

Administrasi Nomor 609/BUA/OT.01.1/VIII/2011 hal Penyampaian Hasil

Penghematan Belanja Mahkamah Agung RI Tahun 2011 tanggal 15

Agustus 2011 sebesar Rp. 171.866.100.000,- (Seratus tujuh puluh satu

milyar delapan ratus enam puluh enam juta seratus ribu rupiah). Rencana

pemanfaatan (penggunaan) hasil penghematan untuk kegiatan-kegiatan

yang sangat prioritas antara lain untuk operasional pengadilan Tipikor

seluruh propinsi, pengadaan sarana dan prasarana pengadilan Tipikor pada

13 propinsi, rekrutmen Hakim Ad hoc Tipikor tahap lanjutan, pengadaan

tanah untuk realokasi pembangunan gedung kantor baru seluruh

lingkungan peradilan, pengadaan kendaraan roda-4 untuk seluruh

lingkungan peradilan, kekurangan langganan daya dan jasa untuk satuan

kerja daerah, dan kegiatan prioritas seluruh satuan kerja eselon I Pusat.

B. Reward and Punishment Tahun Anggaran 2011

1. Dalam Tahun Anggaran 2011 Menteri Keuangan Republik Indonesia juga

mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 38/PMK.02/2011 pada

tanggal 2 Maret 2011 tentang Tata Cara Penggunaan Hasil Optimalisasi

Anggaran Belanja Kementerian Negara/Lembaga Tahun Anggaran 2010

Pada Tahun Anggaran 2011 dan Pemotongan Pagu Belanja Kementerian

Negara/Lembaga Pada Tahun Anggaran 2011 Yang Tidak Sepenuhnya

Melaksanakan Anggaran Belanja Tahun Anggaran 2010, dan

ditindaklanjuti oleh surat Menteri Keuangan Republik Indonesia kepada

seluruh Kementerian Negara/Lembaga Nomor S-126/MK.02/2011 hal

Penerapan Reward and Punishment Tahun 2011, tanggal 15 Maret 2011

dimana seluruh Kementerian Negara/Lembaga wajib menyampaikan

laporan hasil optimalisasi Tahun Anggaran 2010 sebagai dasar pemberian

Reward and Punishment. Penyusunan laporan didasarkan kepada realisasi

terakhir per program Tahun Anggaran 2010 hasil rekonsiliasi dengan

Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Republik

Indonesia. Atas dasar surat Menteri Keuangan tersebut, Mahkamah Agung

telah menyampaikan surat Kepala Badan Urusan Administrasi kepada

Menteri Keuangan RI Nomor 119/BUA/Renog/III/2011 tanggal 28 Maret

2011 hal Laporan Realisasi Anggaran Belanja Mahkamah Agung Tahun

Anggaran 2010 sebagai bahan penilaian untuk penetapan reward and

punishment Tahun Anggaran 2011. Dimana di dalam laporan tersebut

Mahkamah Agung telah menyampaikan laporan realisasi sebesar 85%

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

7

(Rp.3.901.405.078.273) dari pagu Tahun Anggaran 2010 sebesar Rp.

5.219.948.230.000,-. Hasil optimalisasi yang diperoleh sebesar Rp.

24.055.497.684,- dikurangi sisa anggaran yang tidak disertai dengan

alasan yang dapat dipertanggungjawabkan sebesar Rp. 13.416.485.335,-

mendapat sisa hasil positif sebesar Rp.10.639.012.349 .

2. Atas dasar laporan hasil optimalisasi Kementerian Negara/Lembaga

termasuk Mahkamah Agung, maka Menteri Keuangan RI mengeluarkan

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 106/KMK.02/2011 tanggal 31

Maret 2011 tentang Penetapan Kementerian Negara/Lembaga Yang Dapat

Menggunakan Hasil Optimalisasi Anggaran Belanja Tahun Anggaran

2010 Pada Tahun Anggaran 2011 Dan Kementerian Negara/Lembaga

Yang Dikenakan Pemotongan Pagu Belanja Pada Tahun Anggaran 2011

dimana Mahkamah Agung mendapat reward dari sisa hasil optimalisasi

yang dapat digunakan yaitu 10% x Rp.10.639.012.349 sebesar

Rp. 1.063.901.000,-.

3. Menindaklanjuti Keputusan Menteri Keuangan Nomor 106/KMK.02/2011

tanggal 31 Maret 2011 tersebut, maka Direktur Jenderal Anggaran

Kementerian Keuangan RI mengeluarkan surat Nomor S-875/AG/2011

tanggal 26 April 2011 hal Tindak Lanjut KMK No.106/KMK.02/2011

bagi Kementerian Negara/Lembaga yang mendapat reward agar segera

menyampaikan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) satuan

kerja termasuk rinciannya. Selanjutnya Menteri keuangan RI

mengeluarkan Surat Edaran Nomor SE-442/MK.02/2011 tentang

Perubahan Anggaran Belanja Kementerian Negara/Lembaga Dalam

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan Tahun 2011. Atas

dasar kedua surat tersebut, Mahkamah Agung menyampaikan

Penyesuaian RKA-K/L Dalam APBN-P Mahkamah Agung RI Tahun

2011 (hasil reward) kepada Menteri Keuangan RI c.q Direktur Jenderal

Anggaran Kementerian Keuangan RI dengan surat Kepala Badan Urusan

Administrasi Nomor 609/BUA/OT.01.1/VIII/2011 tanggal 15 Agustus

2011 sebesar Rp. 1.063.901.000,-. Pengalokasian reward antara lain untuk

kegiatan masing-masing unit eselon I sebagai berikut :

a. Ditjen Badilum pada program Peningkatan Manajemen Peradilan

Umum untuk kegiatan Perpindahan dan Penempatan Tenaga Teknis

sebesar Rp. 80.000.000,-.

b. Ditjen Badilag pada Program Peningkatan Manajemen Peradilan

Agama untuk kegiatan Posbakum sebesar Rp. 140.000.000,-.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

8

c. Ditjen Badimiltun pada Program Peningkatan Manajemen Peradilan

Militer dan TUN untuk kegiatan Posbakum sebesar Rp. 120.000.000,-.

d. Badan Pengawasan pada Program Pengawasan dan Peningkatan

Akuntabilitas Aparatur Mahkamah Agung RI untuk kegiatan

Penyusunan Pedoman Tenaga Teknis Non Hakim sebesar Rp.

100.000.000,-.

e. Balitbang Diklat Kumdil pada Program Pendidikan dan Pelatihan

Aparatur Mahkamah Agung RI untuk kegiatan Pelatihan TOT dan

Perawatan dan Perbaikan Peralatan Kantor sebesar Rp. 90.000.000,-

f. Satuan kerja daerah pada Program Dukungan Manajemen dan

Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Mahkamah Agung RI untuk

kegiatan Layanan Perkantoran yaitu kekurangan langganan daya dan

jasa untuk wilayah Bandar Lampung, Banten, Maluku, Bangka

Belitung, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur sebesar Rp. 533.

901.000,-.

C. Optimasi dan Efisiensi Anggaran Tahun Anggaran 2011

Menindaklanjuti arahan Presiden dalam rapat kabinet terbatas tanggal 7 April

2011 tentang perlunya optimasi dan efisiensi anggaran maka Menteri

Keuangan RI mengeluarkan surat Nomor S-208/MK.02/2011 tanggal 25 April

2011 hal Langkah-langkah Optimasi dan Efisiensi Anggaran Pembangunan

Gedung Kantor Tahun Anggaran 2011 dan surat Direktur Jenderal Anggaran

Kementerian Keuangan RI Nomor S-1189/AG/2011 tanggal 1 Juni 2011 hal

Penyampaian Hasil Review dan Evaluasi Alokasi Anggaran Pembangunan

Gedung Kantor Tahun Anggaran 2011 kepada Kementerian Negara/Lembaga

diminta agar melakukan review dan evaluasi kembali terhadap alokasi

anggaran Tahun 2011 untuk pembangunan gedung (kantor, rumah dinas/rumah

jabatan, mess/wisma) termasuk pengadaan tanah. Adapun jika pengadaan

tersebut sangat mendesak agar dilaksanakan berdasarkan

persetujuan/clearance dari Kementerian PU, Kementerian PAN dan RB dan

BPKP. Atas dasar kedua surat tersebut diatas, Mahkamah Agung telah

mengajukan surat Sekretaris Mahkamah Agung kepada Direktur Jenderal

Cipta Karya Kementerian PU, Sekretaris Kementerian PAN dan RB dan

Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Nomor

299/SEK/01/VII/2011 tanggal 22 Juli 2011 hal Persetujuan Clearance

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

9

terhadap Alokasi Anggaran 2011 Pembangunan Gedung Kantor dan Rumah

Dinas Hakim.

C. Kebijakan Tahun 2012 di Bidang Penyusunan Rencana Anggaran

A. Kebijakan Umum

Kebijakan Penyusunan Anggaran Tahun 2012 dasar Surat Keputusan Menteri

Keuangan Nomor 215/KMK.02/2011 tentang Pagu Anggaran Kementerian

Negara/Lembaga Tahun 2012 tanggal 30 Juni 2011 menetapkan Penyusunan

RKA-K/L Tahun 2012 harus mengacu pada ketentuan sebagaimana surat

keputusan tersebut diatas sebagai berikut :

1. RKA-K/L yang disusun sudah harus memperhitungkan :

a. dana untuk membiayai seluruh belanja penyelenggaraan

program/kegiatan prioritas dan penunjang dalam Tahun Anggaran

2012;

b. Tambahan kenaikan gaji pokok Pengawai Negeri Sipil (PNS), Tentara

Nasional Indonesia (TNI), dan Kepolisian Negara Republik Indonesia

(POLRI) sebesar 10% (sepuluh persen);

c. Pemberian gaji bulan ketiga belas.

2. Penyusunan Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga (RKA-K/L)

Tahun 2012 harus mengacu kepada :

a. Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga (Renja K/L) Tahun

2012;

b. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2012;

c. Peraturan Menteri Keuangan mengenai Standar Biaya Tahun Anggaran

2012;

d. Peraturan Menteri Keuangan mengenai Petunjuk Penyusunan dan

Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian

Negara/Lembaga.

3. Dalam penyusunan RKA-K/L Tahun 2012 sebagaimana dimaksud harus :

a. Meningkatkan efisiensi belanja barang dan belanja modal dalam rangka

meningkatkan kualitas belanja Kementerian Negara/Lembaga;

b. Mengkaji ulang pembangunan gedung baru dan harus menggunakan

spesifikasi dan standar yang ditetapkan Kementerian Pekerjaan Umum

jika pembangunan tetap akan dilakukan;

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

10

c. Mencantumkan output dan outcome yang jelas untuk setiap alokasi

anggaran yang terdapat dalam RKA-K/L Tahun 2012.

B. Kebijakan Mahkamah Agung

Kebijakan Penyusunan Anggaran Tahun 2012 dasar Surat Keputusan Menteri

Keuangan Nomor 215/KMK.02/2011 tentang Pagu Anggaran Kementerian

Negara/Lembaga Tahun 2012 tanggal 30 Juni 2011 menetapkan Penyusunan

RKA-K/L Tahun 2012 dimana untuk Mahkamah Agung mendapatkan pagu

sebesar Rp. 5.107.469.009.000,- dengan alokasi per belanja sebagai berikut :

a. Belanja Pegawai

Pengalokasian Pagu Anggaran untuk belanja pegawai dialokasikan sesuai

dengan usulan RKA-K/L Tahun 2012 dari masing-masing satuan kerja yang

telah diusulkan oleh Pengadilan Tingkat Banding sesuai dengan aplikasi

GPP. Adapun perbandingan sebagai berikut :

- Pagu belanja pegawai tahun 2011 = Rp. 3.939.453.368.000,-

- Pagu belanja pegawai tahun 2012 = Rp. 3.095.920.006.000,-

- Ada penurunan pagu (21,4%) atau = Rp. 843.533.362.000,-

Tunjangan khusus kinerja (remunerasi) selama ini dialokasikan didalam

DIPA sebesar 100% namun Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor

19 Tahun 2008 tanggal 10 Maret 2008 tentang Tunjangan Khusus Kinerja

Hakim dan Pegawai Negeri di lingkungan Mahkamah Agung dan Badan

Peradilan yang berada di bawahnya dan Keputusan Ketua Mahkamah

Agung Nomor 070/KMA/SK/V/2008 tanggal 14 Mei 2008 tentang

Tunjangan Khusus Kinerja Pegawai Negeri di lingkungan Mahkamah

Agung dan Badan Peradilan dibawahnya bahwa tunjangan khusus kinerja

tersebut dibayarkan sebesar 70% (tujuh puluh persen) sehingga secara

keseluruhan mempengaruhi realisasi penyerapan anggaran Mahkamah

Agung Tahun 2010, yang berdampak kepada kebijakan dari Kementerian

Keuangan RI yang mengalokasikan pagu belanja pegawai untuk Tahun

2012 berkurang dari tahun 2011.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

11

b. Belanja Barang

1) Belanja barang operasional

Belanja barang operasional pusat dan daerah tahun anggaran 2011

dibandingkan dengan pagu indikatif 2012 dengan rincian sebagai

berikut :

- Pagu belanja barang operasional tahun 2011 = 401.185.678.000,-

- Pagu belanja barang operasional tahun 2012 = 435.047.865.000,-

- Ada kenaikan pagu (8,4%) = 33.862.187.000,-

Dengan adanya kenaikan belanja operasional pada program dukungan

manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya dialokasikan untuk

operasional pengadilan tipikor pada 33 propinsi (TK. Banding dan TK.

Pertama) dan operasional 16 satker baru. Kenaikan tersebut tidak

mencukupi untuk memenuhi kebutuhan operasional tipikor dan satker

baru, dan memperhatikan realisasi/penyerapan belanja barang

operasional tahun 2010 sangat dimungkinkan ada pengurangan bagi

satker yang penyerapannya dibawah 80 % dan memberikan

reward/penghargaan bagi satker yang penyerapannya diatas 90%. Atas

dasar hal tersebut Mahkamah Agung mengambil langkah kebijakan

pembagian pagu belanja barang operasional tahun anggaran 2012

sebagai berikut :

Penyerapan anggaran antara 90% - 100%, satker tersebut mendapat

reward/penghargaan penambahan anggaran sebesar 5% dari pagu

belanja barang operasional tahun anggaran 2011.

Penyerapan anggaran antara 80% - 90%, satker tersebut tetap

alokasi pagunya sama dengan alokasi pagu belanja barang

operasional tahun anggaran 2011.

Penyerapan anggaran antara 70% - 80%, satker tersebut mendapat

punishment/ pengurangan anggaran sebesar 5% dari pagu belanja

barang operasional tahun anggaran 2011.

Penyerapan anggaran antara 60% - 70%, satker tersebut mendapat

punishment/ pengurangan anggaran sebesar 10% dari pagu belanja

barang operasional tahun anggaran 2011.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

12

Penyerapan anggaran antara 50% - 60%, satker tersebut mendapat

punishment/ pengurangan anggaran sebesar 15% dari pagu belanja

barang operasional tahun anggaran 2011.

2) Belanja barang non operasional

a. Program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis

lainnya, kriteria kebijakan pengalokasian pagunya sebagai berikut :

a.1 Alokasi pagu anggaran belanja barang non operasional pada

program ini tetap mengacu pada belanja barang non

operasional tahun 2011;

a.2 Alokasi pagu kegiatan untuk penyusunan program dan

anggaran serta pelatihan sertifikasi pengadaan barang dan jasa

pada Tk. Banding tetap dialokasikan sebagaimana alokasi

pagu tahun 2011;

a.3 Alokasi pagu kegiatan sosialisasi penghapusan simak

BMN/Alih fungsi pada beberapa pengadilan Tk. Banding

tahun 2011 dialihkan untuk operasional dan pemeliharaan

perkantoran (kekurangan langganan daya dan jasa, biaya

perawatan dan tenaga honorer).

b. Program peningkatan manajemen peradilan, pengalokasian

pagunya dialokasikan oleh masing-masing Ditjen sesuai dengan

kegiatannya (peningkatan manajemen dan penyediaan dana

bantuan hukum).

c. Belanja Modal

Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur Mahkamah

Agung dalam pagu definitif tahun anggaran 2011 teralokasi

anggaran sebesar Rp. 1.286.595.235.000,- yang dialokasikan

untuk :

1. Pusat sebesar = 104.699.999.000,-

2. Daerah sebesar = 1.167.530.201.000,-

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

13

Sedangkan untuk tahun anggaran 2012 teralokasi anggaran sebesar

Rp. 963.199.000.000,- dialokasikan untuk :

1. Pusat sebesar = 106.800.000.000,-

2. Daerah sebesar = 856.399.000.000,-

Perbandingan alokasi pagu belanja modal tahun anggaran 2011

dengan alokasi pagu anggaran belanja modal tahun 2012 ada

penurunan pagu sebesar 24,02% atau sebesar Rp.

309.031.200.000,- dengan kebijakan pengalokasian pagu belanja

modal tahun 2012 sebagai berikut :

Pembangunan gedung/rehab gedung yang lanjutan dengan nilai

usulan sampai dengan 2 milyar, maka alokasi pagunya

disesuaikan besarannya setelah dilakukan estimasi.

Sedangkan untuk pembangunan gedung/rehab gedung yang

lanjutan dengan nilai usulan lebih dari 2 milyar, maka alokasi

pagu anggarannya dialokasikan sebesar 70% (estimasi) dari

nilai usulan lanjutan.

Untuk penyelesaian sarana dan prasarana lingkungan kantor

baru dialokasikan dari jatah proporsinal satker.

Bagi satker yang sudah melaksanakan tahap finishing ternyata

masih teralokasi teralokasi untuk pembangunan tahap lanjutan,

maka alokasi anggarannya akan dialihkan untuk pembangunan/

rehab satker lain diwilayah TK. Banding setempat.

Bagi satker baru yang sudah teralokasi anggarannya untuk

pembangunan Tahap I, ternyata satker tersebut belum ada

tanahnya maka pagunya akan dicabut atau dialihkan untuk

pembelian tanah.

C. Permasalahan di Bidang Penyusunan Rencana Anggaran

1. Exercise/Penghematan 2011

Sesuai edaran Direktur Jenderal Anggaran a.n. Menteri Keuangan Nomor

S-352/MK.2/2010 tanggal 3 Desember 2010 hal Excercise Penghematan

Belanja Kementerian/Lembaga Tahun Anggaran 2011, hal ini dapat

berakibat :

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

14

a. Belanja barang non operasional yang sudah diprogramkan tidak dapat

dilaksanakan dikarenakan kena exercise penghematan, sehingga

kegiatan untuk peningkatan SDM bidang kesekretariatan tidak

berjalan sebagaimana mestinya

b. Belanja modal yang sudah menjadi prioritas untuk mempercepat

pemenuhan sarana dan prasarana menjadi tertunda dikarenakan kena

exercise penghematan.

2. Optimasi Dan Efisiensi Anggaran 2011

Dengan keluarnya surat edaran Menteri Keuangan Nomor S-

208/MK.02/2011 tanggal 25 April 2011 tentang langkah-langkah

Optimasi dan Efisiensi Anggaran Pembangunan Gedung Kantor Tahun

2011, maka semua Kementerian/Lembaga melakukan review dan evaluasi

terhadap alokasi anggaran tahun 2011. Mahkamah Agung dan badan

peradilan dibawahnya melakukan review dan evaluasi terdahap pengadaan

tanah gedung kantor dan rumah dinas, pembangunan gedung kantor dan

rumah dinas/rumah jabatan, hal ini dapat berakibat :

a. Kegiatan tersebut diatas sesuai edaran Menteri Keuangan harus ada

clearance dari Kementerian PU, PAN dan RB serta BPKP, sehingga

dapat menghambat realisasi pelaksanaan anggaran.

b. Bagi satker yang mempunyai kegiatan tersebut diatas masih diblokir,

maka buka blokirnya juga terhambat dikarenakan harus ada

clearance/persetujuan yang berakibat juga pada realisasi pelaksanaan

anggaran. Di satu sisi pelaksanaan clearance oleh instansi-instansi

terkait memerlukan waktu relatif lama sehingga menghambat

pelaksanaan anggaran khususnya realisasi belanja modal.

3. Pemblokiran Anggaran 2011

Mahkamah Agung dan badan peradilan dibawahnya setiap tahun

mendapat apresiasi dari Kementerian Keuangan Cq. Direktorat Jenderal

Anggaran baik dalam penyusunan RKA-KL dan kelengkapan data

pendukung (TOR dan RAB) maupun data pendukung lainnya, akan tetapi

setiap tahun ada beberapa satker yang mendapat tanda blokir/bintang (*)

hal ini bukan karena data pendukung yang tidak lengkap akan tetapi

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

15

karena tidak adanya dasar hukumnya (misalnya pembentukan pengadilan

Tipikor belum ada Keppresnya) dan proram peningkatan sarana dan

prasarana Aparatur Mahkamah Agung tidak masuk dalam skala prioritas

nasional maupun prioritas K/L, berakibat dari tanda blokir tersebut

sebagai berikut :

a. Penerimaan tunjangan kehormatan hakim Ad Hoc Tipikor dan biaya

operasional Ad Hoc Tipikor terlambat, sehingga menghambat realisasi

anggaran

b. Pengadaan sarana dan prasarana Tipikor terlambat, sehingga

menghambat realisasi anggaran

c. Pengadaan tanah gedung kantor dan tanah rumah dinas serta

pembangunan gedung kantor dan rumah dinas buka blokirnya harus

ada clearance/persetujuan dari Kementerian PU, PAN dan BPKP hal

ini menghambat terhadap pelepasan tanda blokir (*) serta realisasi

pelaksanaan anggaran.

4. Pagu Anggaran 2012

Pagu anggaran tahun 2012 mengalami penurunan bila dibandingkan

dengan pagu anggaran tahun 2011, hal ini dapat menghambat pencapaian

kinerja lembaga Mahkamah Agung RI dan Badan Peradilan dibawahnya,

dengan rincian per jenis belanja sebagai berikut :

a. Belanja Pegawai

Alokasi pagu anggaran belanja pegawai mengalami penurunan bila

dibandingkan dengan pagu anggaran 2011 dikarenakan ada

pengurangan alokasi tunjangan kinerja. Pada tahun 2011 alokasi

anggaran untuk tunjangan kinerja Mahkamah Agung teralokasi 100%

sedangkan untuk tahun 2012 teralokasi 70%. Dari alokasi yang telah

ditetapkan oleh pemerintah tidak mencukupi untuk alokasi belanja

gaji dan tunjangan serta kenaikan uang makan PNS. Kekurangan

tersebut untuk sementara mengurangi dari alokasi tunjangan kinerja

yang sudah dialokasikan oleh pemerintah sebesar 70%, akibatnya

tunjungan kinerja Mahkamah Agung tidak lagi teralokasi 70%.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

16

b. Belanja Barang

b.1. Belanja barang operasional untuk lingkungan Mahkamah Agung dan

Badan Peradilan dibawahnya setiap tahunnya mengalami kekurangan

khususnya untuk operasional dan pemeliharaan perkantoran. Alokasi

pagu belanja barang operasional yang telah ditetapkan oleh

pemerintah hanya dapat memenuhi kebutuhan minimal Mahkamah

Agung dan badan peradilan dibawahnya. Sedangkan pemerintah

setiap tahun menetapkan Standar Biaya Umum (SBU) untuk

kebutuhan maksimal, namun karena keterbatasan alokasi pagu pada

belanja barang operasional, maka Standar Biaya Umum (SBU) yang

dikeluarkan oleh pemerintah tidak dapat diterapkan oleh Mahkamah

Agung dan badan peradilan dibawahnya secara penuh.

b.2 Belanja barang non operasional alakasi pagunya juga tidak dapat

memenuhi kebutuhan Mahkamah Agung RI dan badan peradilan

dibawahnya. Hampir setiap tahun Mahkamah Agung dan badan

peradilan dibawahnya tidak dapat melaksanakan kegiatan untuk

meningkatkan Sumber Daya Manusia di bidang kesekretariatan

dikarenakan keterbatasan anggaran.

c. Belanja Modal

Alokasi pagu belanja modal pada Program Peningkatan Sarana dan

Prasarana Aparatur Mahkamah Agung mengalami penurunan bila

dibandingkan dengan alokasi pagu belanja modal tahun 2011. Hal ini

berakibat tidak tercapainya sebagian target yang telah ditetapakan

oleh Mahkamah Agung. Dengan turunnya alokasi pagu belanja

modal, maka Mahkamah Agung memprioritaskan pembangunan

gedung lanjutan dan pembangunan Tipikor sedangkan pembangunan

sarana lingkungan yang seharusnya selesai dikarenakan keterbatasan

anggaran maka sebagian pembangunan sarana lingkungannya

ditangguhkan.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

17

D. Hasil Evaluasi Laporan Keuangan Mahkamah Agung Semester Pertama

TA. 2011

1. Koordinasi dalam penyusunan Laporan Keuangan di tingkat

wilayah masih lemah.

Koordinasi antar Koordinator Wilayah (Korwil) penting mengingat

Laporan Keuangan Lembaga terbentuk dari kompilasi seluruh unit

akuntansi di lingkungan Mahkamah Agung.

2. Penyusunan Laporan Keuangan Tidak Seragam

a. Dalam penyusunan Laporan Keuangan, Satuan Kerja (Satker) belum

berpedoman pada peraturan terbaru (peraturan Dirjen

Perbendaharaan Nomor : PER-65/PB/2010 tentang Pedoman

Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian

Negera/Lembaga/satuan Kerja.

b. Penyusunan Laporan Keuangan tidak seragam pada tingkat satker

akibat Satker memiliki 2 (dua) DIPA. Satker belum memperoleh

petunjuk apakah satker hanya menyusun Laporan Keuangan Unit

Eselon-1 (Es-1) Badan Urusan Administrasi (01/BUA) sedangkan

kewajiban Laporan Keuangan lainnya tidak dibuat (dimasukkan ke

dalam Laporan Keuangan Unit Es-1 BUA) ataukah masing-masing

Unit Es-1 lainnya juga membuat Laporan Keuangan sebagaimana

halnya Laporan Keuangan Es-1 BUA.

3. Pengungkapan Keuangan Perkara dalam Laporan Keuangan

a. Pengungkapan Keuangan Perkara dalam Laporan Keuangan Satker

belum jelas apakah disajikan dalam Catatan atas Laporan

KeuanganUnit Es-1 BUA atau disajikan dalam Catatan atas Laporan

Keuangan Unit Es-1 Badilum/Badilag/Badilmiltun.

b. Terdapat satker yang belum mengungkapkan keuangan perkara

dalam CaLK dan format pelaporan keuangan perkara belum

disajikan secara seragam pada seluruh satker, sehingga di tingkat

wilayah dan Es-1 mengalami kesulitan didalam mengkopilasi data

tersebut.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

18

4. Pencatuman kode unit organisasi pada dokumen Surat setoran

Bukan Pajak (SSBP) atas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)

yang bersumber dari penyelenggaraan peradilan (Tupoksi Badan

Peradilan) belum seragam.

Terdapat satker yang masih mencantumkan unit organisasi BUA (01)

dalam dokumen SSBP atas PNBP Tupoksi Badan Peradilan. Namun

terdapat pula satker yang dikoreksi oleh KPPN atas transaksi PNBP yang

sebelumnya mencantumkan unit organisasi BUA (01) menjadi unit

organisasi Direktorat Jenderal Badan Peradilan (03/04/05)

5. Pengelolaan rekening yang digunakan untuk menampung keuangan

perkara pada Satker belum sesuai ketentuan yang berlaku.

Terdapat satker yang masih menggunakan rekening tabungan untuk

menampung keuangan perkara dan atas rekening tersebut belum

diperoleh ijin pengelolaan dari Menteri Keuangan.

6. Kebijakan penatausahaan persediaan belum didukung dengan

Standar Operating Procedure (SOP).

a. Kebijakan penatausahaan persediaan belum seragam pada satker di

lingkungan Mahkamah Agung disebabkan belum adanya SOP yang

mengatur hal tersebut.

b. Implementasi 2 (dua) DIPA berakibat pada penatausahaan

persediaan yang tidak seragam, dengan kondisi sebagai berikut :

1) Satker memisahkan penatausahaan persediaan berdasarkan

DIPA membiayainya;

2) Satker menggabungkan penatausahaan persediaan pada LK

DIPA BUA (01);

3) Satker tidak menatausahakan persediaan yang bersumber dari

DIPA Direktorat Jenderal Badan Peradilan (03/04/05)

Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah :

1. Perlu dilakukan koordinasi antar Unit Es-1 yang mengelola DIPA agar

diperoleh kesamaan persepsi dalam penyusunan Laporan Keuangan;

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

19

2. Perlu dibuat struktur unit akuntansi dan pelaporan di lingkungan

Mahkamah agung beserta uraian tugas dan kewenangannya, terkait

dengan implementasi pelaporan 2 (dua) DIPA pada tingkat UAKPA

(satker), UAPPA-W (korwil), UAPPA Es-1 dan UAPPA.

3. Perlu disusun Petunjuk Teknis/Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan

dan Kebijakan Akuntansi dari unit pembina terkait dengan pelaporan 2

(dua) DIPA pada tingkat Satker dan Korwil.

4. Perlu disusun Petunjuk Teknis/Format penyajian informasi Keuangan

Perkara dalam Laporan Leuangan dari unit pembina terkait dengan

pelaporan 2 (dua) DIPA pada tingkat Satker dan Korwil.

5. Menentukan Kebijakan tentang pengelolaan PNBP, apakah pengelolaan

PNBP terpusat pada unit organisasi BUA (01) atau disesuaikan dengan

unit organisasi Es-1 lainnya (03/04/05) sesuai dengan PNBP yang

bersumber dari pendapatan peradilan (Tupoksi).

6. Melakukan penertiban rekening yang digunakan sebagai rekening

pengelolaan keuangan perkara yang belum sesuai dengan ketentuan yang

berlaku (peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor : PER-35/PB/2007

tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Rekening Milik Kementerian

Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja).

7. Segera menetapkan SOP penatausahaan persediaan sebagai acuan dalam

menatausahakan persediaan di lingkungan MA-RI.

Terkait dengan implementasi 2 (dua0 DIPA diperlukan petunjuk lebih

lanjut agar satker melakukan pemisahan penatausahaan persediaan

berdasarkan DIPA unit organisasi yang membiayainya.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

20

KEPEGAWAIAN

BAHAN RAKERNAS PENGADAAN CALON HAKIM / CPNS

PADA MAHKAMAH AGUNG

I. PENDAHULUAN

A. Dasar Hukum

1. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sebagaimana

telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999;

2. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman;

3. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung RI sebagaimana telah

diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan terakhir dengan

Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009;

4. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum sebagaimana telah

diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2004 dan terakhir dengan

Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009;

5. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama sebagaimana telah

diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 3 tahun 2006 dan terakhir dengan

Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009;

6. Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah

diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 9 tahun 2004 dan terakhir dengan

Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009;

7. Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000 jo. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun

2002 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil;

8. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan,

Pemindahan dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil;

9. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2003 tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil;

10. Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 30 Tahun 2007 tentang Pedoman

Pelaksanaan Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil;

11. Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 11 Tahun 2002 tentang Ketentuan

Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000 tentang Pengadaan Pegawai

Negeri Sipil sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun

2002.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

21

B. UMUM

1. Sesuai dengan kebijakan pemerintah, pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil / Calon

Hakim dilakukan berdasarkan kebutuhan organisasi untuk mengisi formasi yang lowong.

2. Pengadaan Calon Hakim / CPNS harus dilaksanakan secara objektif, didasarkan atas

syarat-syarat yang telah ditentukan, serta tidak membedakan jenis kelamin, suku, agama,

ras, golongan atau daerah.

3. Dalam upaya mendapatkan sumber daya Calon Hakim / CPNS yang berkualitas,

dilakukan tes dengan tahapan sebagai berikut :

I. Tes persyaratan, terdiri dari :

1) Tes pengukuran tinggi badan, sesuai dengan syarat yang ditentukan.

2) Tes kelengkapan persyaratan administrasi yang telah ditentukan.

3) Tes kemampuan bidang komputer dengan soal yang telah ditentukan oleh

panitia pusat.

4) Pemberian nomor ujian peserta, apabila lulus persyaratan 1,2 dan 3.

II. Tes Tertulis, dengan materi ujian dibuat oleh Universitas Padjajaran, terdiri dari :

1) Tes Kompetensi Dasar (TKD).

2) Tes Kompetensi Bidang (TKB)

3) Tes Substansi (TS) (dibuat oleh Ketua Muda dan Hakim Agung)

III. Tes uji kemampuan, terdiri dari :

1) Ujian psikotes dan wawancara oleh Universitas Indonesia.

2) Wawancara penguasaan materi hukum oleh Ketua Muda dan Hakim Agung

Mahkamah Agung RI.

3) Penguasaan Kode Etik dan Pedoman Prilaku Hakim, dilakukan oleh Komisi

Yudisial.

4. Mahkamah Agung telah mengundang Komisi Yudisial dengan tahapan pembicaraan awal

tentang pelaksanaan Pengadaan Calon Hakim antara Kepala Biro Kepegawaian

Mahkamah Agung RI dengan Kepala Biro Seleksi dan Penghargaan Hakim Komisi

Yudisial beserta eselon III dan IV masing-masing yang berlangsung beberapa kali

berdasarkan undangan formal yaitu tanggal 8 April 2010, 30 Juli 2010, 6 September 2010

dan 19 Oktober 2010 serta undangan untuk pimpinan Komisi Yudisial kami undang pada

tanggal 5 Oktober 2010, 6 Oktober 2010, 18 Oktober 2010, 3 November 2010 dan 4

November 2010.

5. Sebagai tindak lanjut Peraturan Kepala BKN Nomor 30 Tahun 2007 perlu ditetapkan

Keputusan Sekretaris Mahkamah Agung RI yang mengatur mulai dari perencanaan,

pengumuman, pelamaran, penyaringan, penetepatan kelulusan, pengumuman kelulusan,

permintaan Nomor Indentitas Pegawai (NIP), sampai dengan pengangkatan menjadi

CPNS / Calon Hakim.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

22

C. TUJUAN

Sebagai pedoman dan acuan bagi pejabat pembina kepegawaian khusus di Mahkamah Agung

RI yang terkait dalam pelaksanaan Pengadaan Calon Hakim / CPNS Mahkamah Agung RI,

guna :

1. Memperoleh Calon Hakim / CPNS yang profesional, jujur, bertanggung jawab, netral,

berintegritas dan memiliki kompetensi sesuai dengan tugas/jabatan yang akan diduduki.

2. Menjamin transparansi dan putusan yang adil sesuai dengan harapan masyarakat serta

mencegah terjadinya korupsi, kolusi, dan nepotisme.

D. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup pedoman pelaksanaan pengadaan Calon Hakim / CPNS pada Mahkamah

Agung RI meliputi :

1. Perencanaan dan persiapan penerimaan Calon Hakim / CPNS.

2. Pelaksanaan Pengadaan Calon Hakim / CPNS dilakukan di masing-masing Pengadilan

Tingkat Banding di 30 (tiga puluh) propinsi seluruh Indonesia.

3. Pengawasan dan pengendalian pengadaan Calon Hakim / CPNS dilakukan bersama-sama

antara Mahkamah Agung dengan Menpan dan Reformasi Birokrasi dan BKN di seluruh

Indonesia.

4. Evaluasi pengadaan Calon Hakim / CPNS.

5. Magang PPC Terpadu

E. PENGERTIAN

Yang dimaksud dengan pengadaan Calon Hakim / CPNS pada Mahkamah Agung RI adalah

proses kegiatan untuk mengisi formasi yang lowong yang dimulai dari perencanaan,

persiapan, pelaksanaan pengumuman, pelamaran, penyaringan, penetapan kelulusan,

pengumuman kelulusan penetapan Nomor Identitas Pegawai (NIP) sampai dengan

pengangkatan CPNS/Calon Hakim serta Magang PPC (Pendidikan dan Pelatihan Calon

Hakim) Terpadu.

F. PRINSIP PENGADAAN CALON HAKIM / CPNS

Pengadaan Calon Hakim / CPNS dilakukan berdasarkan prinsip netral, obyektif, akuntabel,

bebas dari kolusi dan nepotisme serta transparan, yang dilaksanakan sebagai berikut :

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

23

1. Setiap Warga Negara Indonesia yang memenuhi syarat dapat mengikuti seleksi, tanpa

membedakan jenis kelamin, suku, agama, ras, golongan atau daerah.

2. Pemberitahuan kepada Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta yang terakreditasi untuk

mengirim / mendaftar sebagai peserta Calon Hakim di Mahkamah Agung dari ranking 1

sampai dengan 20.

3. Pengumuman penerimaan CPNS / Calon Hakim diumumkan secara luas dengan

menggunakan media yang tersedia (web site: www.mahkamahagung.go.id,

www.badilag.net, badilum.info dan papan pengumuman) pada masing-masing Pengadilan

Tingkat Banding di seluruh Indonesia.

4. Pengadaan Calon Hakim / CPNS dilaksanakan untuk mengisi lowongan formasi yang

disusun berdasarkan analisa kebutuhan sesuai dengan kebutuhan nyata/riil masing-masing

pengadilan dengan dasar sebagai berikut :

Adanya Pengadilan baru hasil pembentukan provinsi, kota dan kabupaten.

Pembentukan Pengadilan Khusus seperti Pengadilan Tipikor, PHI, Niaga,

Perikanan dan HAM.

Karena diberhentikan Dengan Hormat atau Tidak Dengan Hormat

Karena pensiun

Karena meninggal dunia

Karena Peningkatan Mobilitas jumlah perkara sehingga menjadi peningkatan kelas

Pengadilan, dari Kelas II menjadi Kelas IB, Kelas IB Menjadi IA dan Kelas IA

menjadi Kelas IA Khusus.

5. Pelamar yang dinyatakan lulus dan diterima, harus bersedia ditempatkan di seluruh

wilayah Indonesia.

6. Setiap pelamar tidak dipungut biaya apapun.

7. Pembuatan soal ujian, kunci jawaban soal ujian, lembar jawaban komputer (LJK),

pengolahan LJK hasil ujian serta perangkingan dilakukan oleh Universitas Padjajaran.

8. Penetapan peserta yang lulus dan diterima diumumkan secara terbuka oleh Mahkamah

Agung melalui website dan papan pengumuman pada masing-masing Pengadilan Tingkat

Banding di seluruh Indonesia.

II. PENGADAAN CALON HAKIM / CPNS MAHKAMAH AGUNG RI

A. PERENCANAAN DAN PERSIAPAN PENERIMAAN CALON HAKIM / CPNS.

1. Umum

Pengadaan CPNS / Calon Hakim pada prinsipnya mengacu pada ketentuan PP No. 98 Th.

2000 sebagaimana telah diubah dengan PP No. 11 Th. 2002 dan ketentuan

pelaksanaannya sebagaimana diatur dalam keputusan Kepala BKN Nomor 11 Th. 2002,

kecuali :

a. Penyiapan materi ujian harus mengacu pada kisi-kisi; dan

http://www.mahkamahagung.go.id/http://www.badilag.net/

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

24

b. Pengolahan hasil ujian dengan komputer.

2. Tim Pengadaan CPNS / Calon Hakim

Pembentukan TIM

Tim pengadaan Calon Hakim Mahkamah Agung RI terdiri dari Tim Pengarah dan

Tim Pelaksana. Sub Tim Seleksi Administrasi, Sub Tim Penyusunan Materi Ujian

serta Pengolah Hasil Ujian Tertulis dan Wawancara dan Sub Tim Pelaksanaan Ujian

Tertulis sebagai Pemantau. Tim Pengarah bertugas menetapkan kebijakan dan strategi

pengadaan Calon Hakim Mahkamah Agung RI sesuai peraturan perundang-undangan

yang berlaku.

Tugas Sub Tim Seleksi Administrasi adalah :

1) melakukan koordinasi dengan Panitia Pusat.

2) melaksanakan dan mengkoordinasikan pendaftaran peserta seleksi.

3) menerima dan meneliti keabsahan kelengkapan administrasi.

4) merekap data pelamar di unit kerja masing-masing dan melaporkan ke Panitia

Pusat.

5) merencanakan dan menyiapkan sarana dan prasarana seleksi.

6) menyiapkan dan membuat tanda peserta, daftar hadir peserta, tata tertib peserta,

berita acara sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh panitia pusat.

7) menyampaikan jumlah peserta seleksi kepada Sub Tim Penyusun Materi

serta Pengolah Hasil ujian tertulis dan wawancara.

8) menggandakan dan mendistribusikan pedoman serta pengumuman rekruitmen.

Tugas Sub Tim Penyusun Materi serta Pengolah Hasil ujian tertulis dan Wawancara

adalah :

1) melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan Perguruan Tinggi.

2) menyiapkan dan menetapkan materi ujian tertulis TKD (Tes Kompetensi dasar)

dan TKB (Tes Kompetensi Bidang), TS (Tes Substansi) serta kunci

jawabannya.

3) bekerjasama dengan Perguruan Tinggi yang ditunjuk dan para Ketua Muda serta

Hakim Agung sebagai pembuat Soal ujian TS.

4) Menggandakan, mengepak materi ujian tertulis dan LJK yang dilaksanakan oleh

pihak ke-III.

5) menerima kembali dan mendokumentasikan berita acara, daftar hadir dan

LJK hasil ujian dari Sub Tim Pelaksana Ujian tertulis.

6) menerima hasil olahan LJK berdasarkan rangking kelulusan dari Perguruan

Tinggi sebagai bahan penentuan kelulusan bagi Tim Pengarah.

7) mengkordinir pelaksanaan psikotes dan wawancara.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

25

8) mengolah hasil psikotes dan wawancara sebagai bahan penentuan kelulusan bagi

Tim Pengarah dan mendokumentasikannya.

9) menyiapkan daftar peringkat nilai ujian tertulis, hasil psikotes dan wawancara

peserta seleksi untuk perangkingan dan penetapan kelulusan sebagai bahan untuk

pengangkatan menjadi CPNS / Calon Hakim.

Tugas Sub Tim Pelaksana Ujian Tertulis adalah :

1) melakukan koordinasi dengan instansi terkait dan Perguruan Tinggi.

2) menyiapkan pedoman ujian tertulis.

3) menyiapkan pengumuman-pengumunan rekruitmen.

4) mengkoordinir pelaksanaan ujian tertulis sesuai jadwal.

5) mengumpulkan dan menyerahkan berita acara, daftar hadir dan LJK hasil isian

kepada Sub Tim Penyusun Materi dan Pengolah Hasil Ujian Tertulis, Psikotes

dan Wawancara.

6) melaksanakan pemberkasan dan pengangkatan CPNS / Calon Hakim Mahkamah

Agung RI ke BKN.

B. PELAKSANAAN PENGADAAN CALON HAKIM.

Pelaksanaan pengadaan CPNS / Calon Hakim Mahkamah Agung RI, diumumkan secara

terbuka melalui papan pengumuman di Pengadilan Tingkat Banding seluruh Indonesia serta

melalui Website Mahkamah Agung RI, Badilag dan Badilum. Pengumuman harus

mencantumkan informasi sebagai berikut:

Jumlah formasi yang tersedia per jenis pendidikan

batas usia;

IPK;

waktu pendaftaran;

persyaratan lamaran;

materi ujian tertulis;

waktu pelaksanaan ujian tertulis, Psikotes dan wawancara serta

waktu pengumuman kelulusan.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

26

1) PERSYARATAN PELAMAR

1. Surat Permohonan Lamaran ditulis tangan dengan tinta warna hitam di atas kertas

double folio bergaris (tidak boleh diketik).

2. Daftar Riwayat Hidup ditulis tangan dengan huruf balok dengan tinta warna hitam.

3. Foto copy Ijasah terakhir + transkrip nilai yang telah dicap stempel Universitas dan

dilegalisir oleh Rektor atau Dekan dan Terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional

(BAN)Perguruan Tinggi.

4. Pas photo hitam putih 3 x 4 (2 lembar) terbaru.

5. Foto copy KTP yang masih berlaku di wilayah setempat.

6. Foto copy surat keterangan dokter (minimal dari dokter Puskesmas).

7. Usia Maksimal 35 tahun

8. Laki-laki tinggi badan minimal 160 cm. Perempuan tinggi badan minimal 152 cm.

9. IPK minimal 2,75.

10. Memiliki sertifikat komputer dan Bahasa Inggris.

11. Tidak mempunyai cacat fisik dan mental.

12. Foto copy legalisir SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) yang masih

berlaku.

13. Tidak berkedudukan sebagai CPNS atau PNS pada Instansi lain.

2) KETENTUAN PENDAFTARAN

1. Berkas lamaran diantarkan langsung pada Pengadilan Tinggi atau Pengadilan Tinggi

Agama setempat sesuai dengan Wilayah Provinsi KTP pelamar, bukan melalui POS

Surat, Email dan tidak bisa diwakili (Contoh: Bekasi, Provinsi Jawa Barat.

Pengiriman berkas langsung ke PT. Bandung atau PTA Bandung).

2. Lamaran ditujukan kepada Sekretaris Mahkamah Agung RI d/a. Jl. Medan Merdeka

Utara No. 9-13 Jakarta Pusat.

3. Berkas lamaran disampaikan pada Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Tinggi Agama

setempat.

4. Berkas lamaran disusun rapi sesuai dengan urutan lampiran dalam map. Formasi

Jabatan yang dilamar ditulis pada pojok kanan atas map. Warna map bagi jabatan

Calon Hakim Umum (Merah Tua), Calon Hakim Agama (Hijau Muda) dan Calon

Hakim TUN (Kuning).

5. Setiap pelamar membuat Surat Pernyataan bersedia ditempatkan di seluruh wilayah

Indonesia dengan bermaterai Rp. 6000.

6. Formasi diperuntukan bagi yang bukan Pegawai Negeri Sipil, bagi Pegawai Negeri

Sipil yang akan mengikuti Ujian Seleksi harus membawa Surat Keputusan telah

mengundurkan diri sebagai Pegawai Negeri Sipil berdasarkan Surat Keputusan dari

Instansi masing-masing, apabila terbukti sebagai PNS, maka pengusulan yang

bersangkutan tidak akan diproses.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

27

7. Bagi Peserta yang dinyatakan lulus harus melampirkan ASLI Kartu Kuning dari

Depnaker, Surat Keterangan Berbadan Sehat dan Surat Keterangan Bebas Narkoba

dari Rumah Sakit Pemerintah setempat ke Mahkamah Agung RI.

8. Diberikan kewenangan kepada Pengadilan Tingkat Banding untuk membentuk Tim

Penguji Ujian Persyaratan Tinggi Badan yang telah ditetapkan dan Praktek

Komputer (Soal Ujian dari Panitia Pusat) serta kelengkapan persyaratan dokumen

lamaran bagi semua Calon Peserta, apabila calon peserta dinyatakan lulus dari 3

(tiga) tingkatan tersebut, baru mendapatkan nomor peserta ujian.

3) TEMPAT PENDAFTARAN

Tempat Pendaftaran adalah Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Tinggi Agama seluruh

Indonesia sesuai dengan KTP yang berlaku di wilayah tersebut.

4) MATERI UJIAN

Materi Seleksi Ujian Penerimaan Calon Hakim terdiri dari :

1) Ujian Tertulis dibuat oleh Universitas Padjajaran, yaitu dengan materi soal sebagai

berikut :

1. Test Kompetensi Dasar (TKD), dimaksudkan untuk menggali pengetahuan,

keterampilan dan sikap/perilaku peserta ujian. materinya terdiri dari :

Test Pengetahuan Umum (TPU).

Test Bakat Skolastik (TBS).

Test Skala Kematangan (TSK)

2. Test Kompetensi Bidang (TKB), dimaksudkan untuk mengukur kemampuan dan

atau keterampilan peserta ujian yang berkaitan dengan kompetensi jabatan atau

pekerjaan yang dilamar.

3. Pengetahuan Ilmu Hukum (Tes Substansi)

2) Ujian Tahap 3 (setelah dinyatakan lulus ujian tertulis), terdiri dari :

Wawancara, penguji dari Ketua Muda dan Hakim Agung.

Psikotest dan wawancara, penguji dari Universitas Indonesia.

Baca Kitab (untuk Calon Hakim Agama), penguji dari pejabat struktural Eselon I

dan II pada Ditjen Badan Peradilan Agama.

Penguasaan kode etik dan pedoman prilaku Hakim dilakukan oleh Komisi

Yudisial.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

28

C. PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PENGADAAN CALON HAKIM / CPNS.

1. Tim Pelaksanaan Pengadaan Calon Hakim / CPNS dalam melakukan pengawasan dan

pengendalian pengadaan Calon Hakim / CPNS bersama-sama Mahkamah Agung dan

wajib Badan Kepegawaian Negara) serta Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara

dan Reformasi Birokrasi yang dilaksanakan di 30 Propinsi seluruh Indonesia.

2. Pengawasan dan Pengendalian tersebut, dilakukan melalui monitoring terhadap :

a. Rencana Pelaksanaan Seleksi, meliputi :

1) Memantau pengumuman penerimaan Calon Hakim.

2) Memantau kesiapan penyediaan soal ujian, formulir lembar jawaban,

pendistribusian soal, dan pengamanannya.

b. Seleksi, Meliputi :

1) Memantau distribusi soal dan formulir lembar jawaban dari Panitia

Penyelenggara kepada pengawas ujian.

2) Memantau penyimpanan dan pengamanan sisa soal ujian dan lembar jawaban

serta pemusnahan sisa soal yang telah dipergunakan.

3) Memantau penyimpanan dan pengamanan sisa soal ujian dan lembar jawaban

serta pemusnahan sisa soal yang telah dipergunakan.

c. Pengumuman hasil seleksi, meliputi :

1) Memantau lembar jawaban ujian dan pengamanannya.

2) Memantau prosedur dan mekanisme pemeriksaan lembar jawaban.

3) Evaluasi kesesuaian hasil pemeriksaan lembar jawaban ujian dengan keputusan

penetapan kelulusan peserta ujian.

d. Penetapan NIP, meliputi :

1) Verifikasi kesesuaian usul permintaan NIP pengangkatan CPNS / Calon Hakim

dengan peserta seleksi yang dinyatakan lulus dan diterima.

2) Memantau penyampaian penetapan NIP kepada Pejabat Pembina Kepegawaian.

e. Pengangkatan CPNS / Calon Hakim meliputi pemantauan penetapan keputusan

CPNS / Calon Hakim dan penyerahannya kepada yang bersangkutan.

f. Informasi atau reaksi/pengaduan resmi masyarakat, meliputi pemantauan

reaksi/pengaduan resmi masyarakat terhadap pelaksanaan seleksi penerimaan

CPNS / Calon Hakim dan penyelesaiannya.

3. Pembiayaan

Biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan pengadaan CPNS / Calon Hakim Mahkamah

Agung, dibebankan pada DIPA Biro Kepegewaian Mahkamah Agung RI.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

29

D. EVALUASI PENGADAAN CALON HAKIM / CPNS.

1. Tim Pengadaan CPNS / Calon Hakim Mahkamah Agung RI membuat laporan hasil

Evaluasi tentang pelaksanaan perencanaan, pengumuman, pelamaran, penyaringan,

penetapan kelulusan, penetapan NIP, pengangkatan dan penempatan CPNS / Calon

Hakim dilaksanakan paling lambat 1 (satu) bulan setelah selesai proses penempatan

Calon Hakim di unit kerja masing-masing, kepada Kepala BKN.

2. Evaluasi terhadap pelaksanaan pengadaan CPNS / Calon Hakim hasilnya menjadi bahan

masukan dalam penyempurnaan pedoman pelaksanaan pengadaan CPNS / Calon Hakim.

3. Hasil evaluasi pelaksanaan Pengadaan Calon Hakim / CPNS di sampaikan pada pimpinan

sebagai masukan atau bahan untuk pengambilan keputusan atau meningkatkan kualitas

dan pengadaan lebih lanjut.

E. MAGANG PPC (PENDIDIKAN DAN PELATIHAN CALON HAKIM) TERPADU

1. LATAR BELAKANG

Mahkamah Agung RI memiliki serangkaian tanggung jawab dan peran strategis, baik

secara teknis maupun non teknis. Mahkamah Agung selain mengadili pada tingkat kasasi,

menguji peraturan di bawah Undang-Undang, juga membawahi 4 (empat) lingkungan

peradilan di bidang manajemen dan administratif, personil, finansial dan sarana serta

prasarana. Mahkamah Agung dituntut menunjukan kemampuannya untuk mewujudkan

organisasi lembaga yang profesional, efektif, efisien, transparan dan akuntabel.

Badan Litbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI sebagai garda terdepan dalam

pembentukan dan pembinaan SDM Mahkamah Agung RI telah melakukan pembaharuan

programnya, diantaranya adalah melakukan pembaharuan sistem pendidikan dan

pelatihan Calon Hakim, dengan istilah Program PPC Terpadu (Program Pendidikan dan

Pelatihan Calon Hakim Terpadu), yakni terpadu dan berkesinambungan antara diklat dan

magang.

Penyusunan Program PPC Terpadu didasarkan pada SK-KMA Nomor

147/KMA/SK/X/2008 dengan dukungan The National Legal Reform (NLRP) dan

bekerjasama dengan Fakultas Psikologi UI dalam melaksanakan Analisis Kebutuhan

Pendidikan (AKP) untuk menyempurnakan kurikulum dan manajemen pendidikan dan

pelatihan calon hakim di Indonesia.

2. PENGERTIAN

Magang merupakan model pembelajaran learning by doing bersifat wajib dalam proses

PPC (Pendidikan dan Pelatihan Calon Hakim) Terpadu. Magang didesain sebagai bekal

bagi peserta PPC Terpadu untuk mengenali sejak dini proses alur kerja di pengadilan

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

30

melalui bimbingan, arahan, pengawasan dan penilaian langsung oleh Mentor dalam setiap

satuan kerja di pengadilan.

3. PENDEKATAN

Pendekatan yang digunakan dalam magang bersifat Kognitif, Afektif dan Psikomotorik1.

Hal ini dimaksudkan untuk memberikan keterampilan kepada peserta PPC Terpadu baik

di bidang teknis yudisial maupun non teknis yudisial.

Melalui Magang Program PPC Terpadu, dapat dibangun rasa percaya diri dan muncul

pemahaman tentang teknis dan administrasi peradilan yang lebih baik dan lengkap pada

saatnya nanti.

4. REGULASI PROGRAM PPC TERPADU

Magang merupakan bagian dari pelaksanaan Program PPC Terpadu yang diselenggarkan

oleh PUSDIKLAT TEKNIS PERADILAN MAHKAMAH AGUNG RI, dengan mengacu

kepada :

a. UU No. 31 Tahun 1997 Tentang Peradilan Militer;

b. UU No. 3 Tahun 2009 Tentang Mahkamah Agung;

c. UU No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman;

d. UU No. 49 Tahun 2009 Tentang Peradilan Umum;

e. UU No. 50 Tahun 2009 Tentang Peradilan Agama;

f. UU No. 51 Tahun 2009 Tentang PeradilanTata Usaha Negara;

g. SK. KMA RI No. 140 Tahun 2008 Tentang Panduan Pengelolaan dan

Penyelenggaraan Penelitian dan Pengembangan dan Pendidikan dan Pelatihan

Hukum dan Peradilan.

h. SK. KMA RI No. 147 Tahun 2008 Tentang Tim Penyusunan Kurikulum, Silabus,

Bahan dan Metode Pengajaran Bagi Pendidikan dan Pelatihan Teknis Hukum dan

Peradilan.

i. SK. KMA RI No. 169 Tahun 2010 Tentang Penetapan dan Pelaksanaan Program

Pendidikan dan Pelatihan Calon Hakim Terpadu.

j. SK. KMA RI No. 003/KMA/SK/I/2011 Tentang Penunjukan Pengadilan Magang

untuk Program Pendidikan dan Pelatihan Calon Hakim Terpadu.

1 Kognitif ialah mengenali suatu hal yang akan dikerjakan melalui sosialisasi (proses pembelajaran), Afektif

adalah aplikasi (action) atau praktik terhadap pekerjaan yang akan menjadi kewajibannya. Psikomotorik adalah

daya imajenasi/daya kerja/sinergitas antara bekal yang dimiliki dengan suasana praktik yang melahirkan

gagasan baru.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

31

k. SK. Kepala Badan Litbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI No.

04B/BLD/SK/I/2011 Tentang Penunjukan Tutor Program Pendidikan dan Pelatihan

Calon Hakim Terpadu.

l. SK. Kepala Badan Litbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung RI No.

05/BLD/SK/I/2011 Tentang Penyelanggaraan Penanggungjawab Pendidikan dan

Pelatihan Teknis Fungsional Hakim, Calon Hakim, Panitera, Panitera Pengganti,

Jurusita, Jurusita Pengganti dan Calon Panitera Pengganti Pengadilan Tingkat

Pertama dari 4 (empat) Lingkungan Peradilan.

5. TUJUAN MAGANG PPC TERPADU

Program Magang PPC Terpadu didesain untuk mencapai tujuan sebagai berikut:

1) Menunjang kemampuan kognitif dan afektif Peserta Program PPC Terpadu, sehingga

nantinya mampu menjadi Hakim yang Profesional dan responsif dalam penguasaan

regulasi, teori dan mahir dalam praktik.

2) Meningkatkan pengetahuan, wawasan dan kemampuan Psikomotorik Peserta PPC

Terpadu dalam mengaplikasikan pengetahuan Kognitif yang telah diperoleh selama

proses Diklat.

3) Memperkenalkan dan mempersiapkan sejak awal kepada Peserta PPC Terpadu akan

realitas dunia kerjanya, sehingga diharapkan setelah menyelesaikan seluruh tahapan

Magang PPC Terpadu telah siap untuk bekerja pada level standar kualitas yang ideal.

6. KOMPETENSI MAGANG PPC TERPADU

Proses magang peserta PPC Terpadu merupakan pembekalan pengetahuan, keterampilan

dan kualitas karakter yang mengarah pada perilaku yang dapat dikenali dalam diri

seorang Calon Hakim, sehingga dapat dinilai dan dapat pula diperbaiki menjadi lebih baik

dalam proses PPC Terpadu.

Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta magang PPC Terpadu antara lain

meliputi :

a. Kerjasama

Peserta magang PPC Terpadu harus bekerja sama dengan yang lain guna mencapai

tujuan umum, walaupun tujuan itu tidak secara langsung terkait dengan

kepentingannya.

b. Disiplin

Peserta Magang PPC Terpadu harus memenuhi prosedur dan mematuhi tata tertib

yang berlaku.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

32

c. Kemauan dan kemampuan belajar

Peserta Magang PPC Terpadu harus bersedia dan berkemampuan untuk berkembang

demi meningkatkan skill dan professionalitasnya secara luas dan mendalam.

d. Integritas

Peserta Magang PPC Terpadu harus berperilaku (dalam kata dan perbuatan) sesuai

dengan norma sosial, etika dan nilai yang berlaku umum dan bertanggung jawab atas

tindakannya.

III. PENUTUP

Hal-hal yang belum tercantum dalam pedoman ini, dapat dilihat dan mengacu pada Peraturan

Kepala BKN Nomor 30 tahun 2007 tanggal 27 Agustus 2007 tentang Pedoman Pelaksanaan

Pengadaan Calon Pegawai Negeri Sipil.

Demikian bahan Rakernas mengenai Pengadaan Calon Hakim / CPNS pada Mahkamah Agung

RI sebagai bahan masukan pada Komisi VI.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

33

KEUANGAN

TEMUAN PEMERIKSAAN TIM PEMERIKSA BPK RI ATAS LAPORAN

KEUANGAN MAHKAMAH AGUNG RI TAHUN ANGGARAN 2010

I. TEMUAN PEMERIKSAAN ATAS SISTEM PENGENDALIAN INTERN

1. Sistem pengendalian akuntansi dan laporan keuangan

- Terdapat kelemahan dalam penyusunan laporan keuangan audited

Mahkamah Agung RI tahun anggaran 2010

2. Sistem pengendalian belanja

- Pengelompokan jenis belanja pada saat penganggaran tidak sesuai

dengan kegiatan yang dilakukan.

- Pengelolaan uang persediaan / tambahan uang persediaan tidak sesuai

dengan ketentuan serta terdapat pertanggungjawaban SPM GU nihil

akhir tahun yang tidak dilengkapi dengan bukti-bukti

pertanggungjawaban

3. Sistem pengendalian persediaan

- Sistem pencatatan dan pelaporan persediaan pada neraca Mahkamah

Agung RI per 31 desember 2010 belum tertib

4. Sistem pengendalian aset tetap

- Hasil inventarisasi dan penilaian (IP) kembali aset Mahkamah Agung

RI belum sepenuhnya diinput ke dalam SIMAK-BMN sesuai dengan

berita acara IP belum menunjukkan data yang valid

- Tindak lanjut nota kesepakatan bersama antara Mahkamah Agung RI

dan Kementerian Hukum dan HAM tidak terkoordinir dengan baik,

sehingga status aset tetap yang dikecualikan penyerahannya ke

Mahkamah Agung RI dan aset tetap yang tidak dimanfaatkan oleh

Mahkamah Agung RI, tidak jelas statusnya

- Mekanisme pengadaan barang inventarisasi yang dilaksanakan oleh

unit Eselon I Mahkamah Agung RI ke satuan kerja pengadilan belum

memadai

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

34

TINDAK LANJUT ATAS TEMUAN PEMERIKSAAN SISTEM

PENGENDALIAN INTERN

1. Memperbaiki sistem serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam

menyusun laporan keuangan di seluruh unit akuntansi dan meningkatkan

pelaksanaan review auditor internal atas laporan keuangan Mahkamah Agung RI

yang akan datang

2. Memperingatkan bagian perencanaan anggaran pada semua unit Eselon I agar

lebih cermat dan memperhatikan klasifikasi belanja dalam menyusun anggaran

dan DIPA, serta memperingatkan PPK agar mematuhi klasifikasi dan alokasi

anggaran pada DIPA

3. Pelaksanaan pertanggungjawaban belanja untuk kegiatan pemeriksaan agar

dilaksanakan sesuai dengan SBK yang telah ditetapkan dengan memperbaiki

administrasi per-tanggungjawaban belanja serta mempertanggungjawabkan

belanja yang tidak ada bukti-bukti pertanggungjawabannya

4. Mengoptimalkan pembinaan teknis sistem akuntansi instansi (SAI) yang telah

dilaksanakan, terutama pelatihan aplikasi sistem persediaan serta meningkatkan

koordinasi pengawasan dan pengendalian terhadap pengelolaan,

pertanggungjawaban dan pelaporan barang persediaan sesuai standar akuntansi

pemerintahan

5. Menginstruksikan kepada seluruh satuan kerja pengadilan agar memverifikasi

kembali penginputan hasil IP ke dalam SIMAK BMN dan berkoordinasi dengan

KPKNL setempat serta menginstruksikan kepada Kepala BUA agar

mengkoordinirkan verifikasi penginputan hasil IP dengan berkoordinasi dengan

DJKN.

6. Menginventarisasikan tanah dan bangunan yang dikecualikan penyerahannya ke

Mahkamah Agung RI oleh kementerian hukum dan ham namun akan digunakan

oleh Mahkamah Agung RI, serta tanah dan bangunan lama yang tidak

dimanfaatkan, untuk selanjutnya dibuatkan Berita Acara Serah Terima (BAST)

penyerahannya.

7. Menyusun Standard Operating Procedure (SOP) terhadap pelaksanaan

pendistribusian barang hasil pengadaan unit Eselon I ke satuan kerja

pengadilan dan meningkatkan koordinasi serta pengendalian dan pengawasan

terhadap ketertiban pengadministrasian Barang Milik Negara (BMN)

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

35

II. TEMUAN PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN TERHADAP PERATURAN

PERUNDANG-UNDANGAN

1. BELANJA

Jangka waktu pengembalian sisa belanja perjalanan dinas belum sesuai dengan

Peraturan Menteri Keuangan dan terdapat pengembalian belanja tahun 2010 yang

belum disetor ke kas negara.

Terdapat duplikasi pekerjaan pemeliharaan gedung dan bangunan

Barang yang diterima dalam pengadaan inventaris kantor tidak sesuai dengan

spesifikasi yang tercantum dalam kontrak.

Bukti pertanggungjawaban perjalanan dinas berupa 284 tiket penerbangan berbeda

dengan database perusahaan penerbangan

2. ASET

Pemanfaatan sebagian ruangan gedung Mahkamah Agung RI oleh bank, kantor pos,

koperasi, wartel, dan kantin belum mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan dan

belum dipungut biaya sewa

Tanah seluas 18.490 m2 belum memiliki bukti kepemilikan dan seluas 3.776 m2

sertifikatnya hilang.

Pengelolaan rumah dinas belum memadai dan terdapat rumah negara/dinas dihuni

oleh pihak yang tidak berhak.

TINDAK LANJUT ATAS TEMUAN PEMERIKSAAN KEPATUHAN

TERHADAP PERUNDANG-UNDANGAN

1. Memperbaiki mekanisme pengendalian belanja negara.

2. Mengajukan perijinan pemanfaatan aset di lingkungan Mahkamah Agung RI oleh

pihak ketiga kepada direktorat jenderal kekayaan negara Kementerian Keuangan RI

dan mengadakan perikatan dengan pihak yang memanfaatkan aset.

3. Segera melakukan inventarisasi tanah pada seluruh satuan kerja di lingkungan

Mahkamah Agung RI yang memiliki bukti kepemilikan maupun yang belum memiliki

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

36

bukti kepemilikan atas nama Mahkamah Agung RI, dan segera menyelesaikan

penyusunan bukti kepemilikan tanah.

4. Menginventarisasi penghunian rumah dinas yang dimiliki oleh Mahkamah Agung RI

beserta SK Penunjukan Penghunian Rumah Dinas, serta mengosongkan rumah dinas

yang masih dihuni oleh yang tidak berhak.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

37

PERLENGKAPAN

KONDISI, KENDALA DAN EKSPEKTASI DALAM RANGKA PERSIAPAN

PERBAIKAN DAN PENINGKATAN AKUNTABILITAS DAN KEHANDALAN

LAPORAN BARANG MILIK NEGARA PADA TAHUN 2011

PENDAHULUAN

Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004

tentang Perbendaharaan Negara Mahkamah Agung Republik Indonesia selaku salah

satu entitas Kementerian Negara/Lembaga berkewajiban menyusun dan

menyampaikan Laporan Barang Milik Negara sebagai wujud pertanggungjawaban

atas pengelolaan dan penyerapan realisasi belanja barang di lingkungan Mahkamah

Agung Republik Indonesia.

Dalam rangka melaksanakan pertanggungjawaban penyusunan Laporan

Barang Milik Negara (BMN) mengenai pengelolaan dan penyerapan realisasi belanja

barang di lingkungan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Biro Perlengkapan

selaku salah satu unit kerja dibawah Badan Urusan Administrasi Mahkamah Agung

RI melaksanakan kompilasi dan menyusun laporan BMN dengan

mengumpulkan Arsip Data Komputer (ADK) serta cetakan laporan dengan disertai

kelengkapan dokumen pendukung yang berasal dari 804 (delapan ratus empat) satuan

kerja, terdiri dari 797 (tujuh ratus sembilan puluh tujuh) satuan kerja tingkat Unit

Akuntansi Kuasa Pengguna Barang (UAKPB) dan 7 (tujuh) satuan kerja tingkat Unit

Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Eselon I (UAPPB-E1) untuk menjadi Laporan

Barang Pengguna Mahkamah Agung RI.

Penyusunan laporan BMN Mahkamah Agung RI mengacu pada Peraturan

Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi dan

Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat serta Peraturan Direktur Jenderal

Perbendaharaan Nomor PER-51/PB/2008 tentang Pedoman Penyusunan Laporan

Keuangan Kementerian Negara/Lembaga. Informasi yang terdapat dalam Laporan

BMN dengan memperhatikan hal-hal yang menjadi acuan dan petunjuk serta telah

disusun sesuai dengan ketentuan Perundang-undangan yang berlaku.

Dalam melaksanakan penyusunan laporan BMN baik dari tingkat Koordinator

Wilayah (Korwil) maupun tingkat Eselon I untuk menjadi laporan BMN Mahkamah

Agung RI, Biro Perlengkapan melakukan koordinasi dengan dengan

seluruh satker tingkat korwil dan tingkat eselon-I di lingkungan Mahkamah Agung RI

baik melalui surat edaran, telepon maupunt internet (e-mail) mengenai

jadwal dan teknis penyusunan laporan BMN. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi

kemungkinan terjadinya kesalahan dalam hal pencatatan dan atau penginputan data

pada saat penyusunan dan pengiriman laporan BMN.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

38

HASIL PEMERIKSAAN BPK-RI

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan

(BPK) dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan

dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, mengamanatkan Badan Pemeriksa Keuangan

untuk melaksanakan pemeriksaan atas laporan BMN pada Kementerian

Negara/Lembaga dengan memperhatikan kewajaran dalam penyusunan dan

pengelolaan laporan BMN sesuai Standar Akuntansi Pemeritahan (SAP),

pengungkapan informasi, kepatuhan terhadap peraturan Perundang-Undangan dan

efektifitas Sistem Pengendalian Intern (SPI).

Hasil Pemeriksaan BPK Tahun 2007, 2008 dan 2009

Hasil pemeriksaan BPK atas laporan keuangan dan laporan BMN Mahkamah

Agung RI tahun 2007, 2008 dan 2009 memberikan opini disclaimer (tidak

memberikan pendapat) yang mana masih terdapat kelemahan dalam

Sistem Pengendalian Intern (SPI) atas penatusahaan aset di lingkungan Mahkamah

Agung RI. Pokok-pokok temuan BPK sebagai berikut :

1. Pencatatan dan pengelolaan persediaan yang tidak tertib dan nilai persediaan pada

neraca tidak berdasarkan pada stock opname.

2. Pencatatan dan penyajian aset tetap dalam neraca belum sepenuhnya sesuai

dengan prosedur yang berlaku sehingga neraca yang disajikan tidak dapat diyakini

kewajarannya.

3. Masih terdapat aset Negara berupa tanah yang belum mempunyai bukti

kepemilikan (sertifikat) dan bukti kepemilikan belum atas nama Pemerintah

Republik Indonesia cq. Mahkamah Agung.

4. Adanya aset BMN yang tidak ditemukan dan masih tercatat dalam laporan BMN.

5. Pungutan dalam pengelolaan BMN yang merupakan Penerimaan Negara Bukan

Pajak (PNBP) belum diterapkan secara tertib.

Hasil Pemeriksaan BPK Tahun 2010

Hasil pemeriksaan BPK atas laporan keuangan dan laporan BMN Mahkamah

Agung RI tahun 2010 memberikan opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP), hal ini

menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan kualitas Laporan Keuangan

Kementerian Negara/ Lembaga (LKKL) Mahkamah Agung RI, yang dilaksanakan

dengan segala upaya dan secara terus menerus berubah ke arah yang lebih baik dalam

hal transparansi dan akuntabilitas laporan keuangan dan laporan BMN Mahkamah

Agung RI.

Dalam rangka meningkatkan opini BPK atas laporan keuangan dan laporan

BMN Mahkamah Agung RI tahun 2010 dari disclaimer menjadi Wajar Dengan

Pengecualian (WDP), Biro Perlengkapan telah melaksanakan langkah-langkah

tindak lanjut sebagai upaya perbaikan laporan BMN sesuai dengan temuan

permasalahan dan rekomendasi yang diberikan oleh BPK-RI antara lain :

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

39

1. Melaksanakan verifikasi dan validasi laporan BMN, dalam rangka evaluasi

terhadap laporan yang berpotensi menjadi temuan permasalahan, sehingga dapat

ditindaklanjuti perbaikan laporan pada periode berikutnya.

2. Menindaklanjuti Nota Kesepakatan Bersama antara Mahkamah Agung RI

dengan Kementerian Hukum dan HAM dengan melaksanakan inventarisasi

tanah dan bangunan yang dikecualikan penyerahannya untuk digunakan oleh

Mahkamah Agung serta tanah dan bangunan lama yang tidak dimanfaatkan

untuk selanjutnya dibuatkan BAST penyerahannya.

3. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) pengelolaan dan

pengadministrasian persediaan.

4. Membuat Surat Edaran berkaitan dengan LHP BPK-RI, antara lain :

1) Surat KABUA No. 144/BUA/PL/V/2010, tanggal 06-05-2010, perihal

Pensertifikatan Aset BMN Berupa Tanah;

Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Kepala Badan Pertanahan

Nasional Nomor : 186/PMK.06/2009 dan Nomor 24 Tahun 2009

tentang Pensertifikatan BMN berupa tanah.

2) Surat SEKMA No. 463/SEK/01/IX/2010, tanggal 02-09-2010, perihal

Pemanfaatan BMN Dalam Bentuk Sewa.

3) Surat SEKMA No. 491/SEK/01/IX/2010, tanggal 21-09-2010, perihal

Upaya Peningkatan Kualitas Laporan Barang Pengguna Tahun 2010 Sebagai

Tindak Lanjut Temuan Hasil Pemeriksaan BPK-RI.

4) Surat KABUA No. 355/BUA/PL/X/2010, tanggal 07-10-2010, perihal

Tindak Lanjut Terhadap Hasil Pelaksanaan Inventarisasi dan Penilaian BMN

Khususnya Yang Tidak Diketemukan.

5) Surat KABUA No. 356/BUA/PL/X/2010, tanggal 07-10-2010, perihal

Inventarisasi Aset Berupa Tanah dan Bangunan.

Berdasarkan surat edaran sebagaimana tersebut diatas, menghasilkan data sebagai

berikut :

- Yang sudah melaksanakan balik nama sertifikat menjadi atas nama Pemerintah

Republik Indonesia cq. Mahkamah Agung sebanyak 383.786 m2 pada 11 lokasi.

- Yang sudah memiliki Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) sebanyak 90 unit

bangunan.

- Tentang penyerahan BMN berupa Tanah dan Bangunan Tempat Sidang Tetap

(TST) yang sudah ditindak lanjuti sebagai berikut :

Tingkat

Banding

Lokasi

Luas Tanah

Di serahkan (m2)

Luas Bangunan

Di serahkan (m2)

Luas Tanah Yg

Tidak Di serahkan (m2)

Luas Gedung Yg

Tidak Diserahkan (m2)

Keterangan

22

210

293.002

55.701

100.996

16.082

Data tersebut

sesuai dengan

yang dikirim dari

masing2 Satuan

kerja (terlampir)

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

40

- Sedangkan Tempat Sidang Tetap (TST) yang belum dan harus ditindak lanjuti sebagai

berikut :

Tingkat

Banding

Lokasi

Luas Tanah

(m2)

Luas Bangunan

(m2)

Jumlah

Nilai (Rp)

Keterangan

4

71

137.662

15.045

56.667.082

Satuan Kerja antara lain :

1. Jawa Tengah 2. Nusa Tenggara Barat 3. Nusa Tenggara Timur 4. Papua.

(rincian terlampir)

5. Menindaklanjuti Nota Kesepakatan Angka Laporan Keuangan Mahkamah Agung

Tahun 2010 Nomor : NK-036/pb.6.4/2011 terhadap 30 (tiga puluh) temuan

pemeriksaan BPK atas Laporan Keuangan dan Laporan Barang Milik Negara

terhadap kesalahan penginputan dan pencatatan dalam laporan SIMAK-BMN dan

SAKPA Semester II Tahun 2010.

Perbaikan laporan keuangan dan laporan BMN semester II tahun 2010

terhadap 30 (tiga puluh) temuan pemeriksaan telah menghasilkan laporan keuangan dan

laporan BMN sebagai asersi final laporan audited pada tahun 2010 yang harus

dipertahankan konsistensi dan kepatuhan dalam melaksanakan dan menyesuaikan

laporan keuangan dan laporan BMN audited tahun 2010 untuk menjadi saldo awal

tahun 2011 yang merupakan salah satu penilaian bagi BPK dalam memberikan opini

atas laporan keuangan dan laporan BMN Mahkamah Agung RI tahun 2011.

KONDISI SAAT INI

Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK atas laporan BMN Mahkamah Agung RI

tahun 2010 masih terdapat catatan temuan ketidakpatuhan terhadap peraturan

perundang-undangan yang harus ditindaklanjuti yang akan mempengaruhi terhadap

opini atas laporan keuangan dan laporan BMN tahun 2011. Terkait dengan

pelaksanaan penatausahaan BMN yang perlu mendapat perhatian seluruh satuan kerja

di lingkungan Mahkamah Agung RI dalam penyusunan laporan BMN tahun 2011

sebagai berikut :

1. Sistem pencatatan dan pelaporan persediaan pada laporan BMN tahun 2010 belum

dilaksanakan dengan tertib yang mengakibatkan laporan persediaan tidak dapat

dijadikan sebagai alat kendali pengelolaan persediaan dan barang persediaan

berpotensi disalahgunakan.

2. Hasil Inventarisasi dan Penilaian (IP) belum sepenuhnya diinput ke dalam SIMAK

BMN sesuai dengan Berita Acara IP dan hasil IP belum menunjukkan data yang

valid dan diragukan kewajarannya.

3. Tindak lanjut Nota Kesepakatan Bersama antara Mahkamah Agung RI dengan

Kementerian Hukum dan HAM belum terlaksana dengan baik sehingga aset tetap

yang dikecualikan penyerahannya ke Mahkamah Agung dan aset tetap yang tidak

dimanfaatkan Mahkamah Agung belum selesai penetapan statusnya.

Rapat Kerja Nasional (Rakernas)

TAHUN 2011

41

4. Mekanisme pendistribusian barang inventaris yang dilaksanakan oleh Unit Eselon

I MA kepada satuan kerja pengadilan belum memadai, mengakibatkan berpotensi

terjadi kesalahan pencatatan dalam laporan BMN, serta jenis barang yang

dilaporkan dalam laporan BMN tidak sesuai dengan barang yang sesungguhnya.

5. Masih terdapat bukti kepemilikan tanah yang tidak jelas yang mengakibatkan

tidak ada kepastian hukum dan berpotensi menimbulkan masalah penguasaan/

pengakuan kepemilikan oleh pihak lain.

6. Pengelolaan rumah dinas belum memadai dan masih terdapat rumah dinas/ negara

dihuni oleh pihak yang tidak berhak, mengakibatkan tujuan pembangunan rumah

negara/ jabatan tidak tercapai dan pendistribusian rumah jabatan kepada yang

berhak tidak dapat dilaksanakan.

Sehubungan dengan hal tersebut BPK merekomendasikan sebagai berikut :

1. Melakukan optimalisasi dalam pembinaan teknis Sistem Akuntansi Instansi (SAI),

terutama pelatihan aplikasi sistem persediaan serta meningkatkan koordinasi,

pengawasan dan pengendalian terhadap pengelolaan, pertanggungjawaban dan

pelaporan barang persediaan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP).

2. Agar seluruh pengadilan melakukan verifikasi kembali dan penginputan hasil

Inventarisasi dan Penilaian (IP) BMN ke dalam SIMAK BMN dan berkoordinasi

dengan KPKNL setempat.

3. Menginventarisasi tanah dan bangunan yang dikecualikan penyerahannya ke

Mahkamah Agung oleh Kementerian Hukum dan HAM namun akan digunakan

oleh Mahkamah Agung serta tanah dan bangunan lama yang tidak dimanfaatkan.

4. Memperbaiki sistem serta meningkatkan pengawasan dan pengendalian dalam

menyusun laporan BMN diseluruh unit akuntansi dan meningkatkan pelaksanaan

review internal atas laporan BMN yang akan datang.

5. Melakukan inventarisasi tanah pada seluruh satker di lingkungan Mahkamah

Agung yang memiliki bukti kepemilikan maupun belum atas nama Mahkamah

Agung dan segera menyelesaikan pengurusan bukti kepemilikan tanah.

6. Menginvetarisir penghunian rumah dinas yang dimiliki oleh Mahkamah Agung

beserta SK Penunjukkan Penghunian Rumah Dinas serta mengosongkan rumah

dinas yang masih ditinggali oleh yang tidak berhak.

Dari hasil verfikasi dan validasi laporan BMN semester I tahun 2011 terhadap

804 (delapan ratus empat) satker dilingkungan Mahkamah Agung RI masih terdapat

permasalahan yang berpotensi menjadi temuan dan perlu mendapat perhatian bagi

seluruh satker dalam penyusunan laporan BMN tahun 2011 an