of 28/28
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pneumonia Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronchopneumonia). Gejala penyakit ini berupa napas cepat dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit pada anak usia < 2 bulan, 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun (Depkes RI, 2002b). Definisi lainnya disebutkan pneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang biasanya terjadi pada anak-anak tetapi lebih sering terjadi pada bayi dan awal masa kanak-kanak dan secara klinis pneumonia terjadi sebagai penyakit primer atau komplikasi dari penyakit lain (Hockenberry dan Wilson, 2009). Menurut Misnadiarly (2008), pneumonia adalah peradangan yang mengenai parencim paru, dari broncheolus terminalis yang mencakup broncheolus respiratorius dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat. UNICEF/WHO (2006) menyatakan pneumonia merupakan sakit yang terbentuk dari infeksi akut dari daerah saluran pernafasan bagian bawah yang secara spesifik mempengaruhi paru-paru dan Depkes RI (2007) mendefenisikan pneumonia sebagai 11

Pneumonia HL BLUM

  • View
    38

  • Download
    14

Embed Size (px)

DESCRIPTION

IKM

Text of Pneumonia HL BLUM

  • BAB 2

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Pengertian Pneumonia

    Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru

    (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses

    infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronchopneumonia). Gejala penyakit ini

    berupa napas cepat dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas

    napas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit pada anak usia <

    2 bulan, 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1

    tahun, dan 40 kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5

    tahun (Depkes RI, 2002b).

    Definisi lainnya disebutkan pneumonia adalah peradangan pada parenkim

    paru yang biasanya terjadi pada anak-anak tetapi lebih sering terjadi pada bayi dan

    awal masa kanak-kanak dan secara klinis pneumonia terjadi sebagai penyakit primer

    atau komplikasi dari penyakit lain (Hockenberry dan Wilson, 2009). Menurut

    Misnadiarly (2008), pneumonia adalah peradangan yang mengenai parencim paru,

    dari broncheolus terminalis yang mencakup broncheolus respiratorius dan alveoli,

    serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.

    UNICEF/WHO (2006) menyatakan pneumonia merupakan sakit yang terbentuk dari

    infeksi akut dari daerah saluran pernafasan bagian bawah yang secara spesifik

    mempengaruhi paru-paru dan Depkes RI (2007) mendefenisikan pneumonia sebagai

    11

  • salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan akut yang mengenai bagian paru

    (jaringan alveoli).

    2.2 Etiologi Pneumonia

    Diagnosis etiologi pneumonia pada balita sukar untuk ditegakkan karena

    dahak biasanya sukar diperoleh. Sedangkan prosedur pemeriksaan imunologi belum

    memberikan hasil yang memuaskan untuk menentukan adanya bakteri sebagai

    penyebab pneumonia. Hanya biakan dari spesimen pungsi atau aspirasi paru serta

    pemeriksaan spesimen darah yang dapat diandalkan untuk membantu menegakkan

    diagnosis etiologi pneumonia. Meskipun pemeriksaan spesimen fungsi paru

    merupakan cara yang sensitif untuk mendapatkan dan menentukan bakteri penyebab

    pneumonia pada balita akan tetapi pungsi paru merupakan prosedur yang berbahaya

    dan bertentangan dengan etika, terutama jika hanya dimaksudkan untuk penelitian

    (Depkes RI, 2002b).

    Oleh karena alasan tersebut di atas maka penentuan etiologi pneumonia di

    Indonesia masih didasarkan pada hasil penelitian di luar Indonesia. Menurut publikasi

    WHO, penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa Streptococcus pneumoniae

    dan Hemophylus influenzae merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada penelitian

    tentang etiologi di negara berkembang. Jenis jenis bakteri ini ditemukan pada dua

    pertiga dari hasil isolasi, yaitu 73,9% aspirat paru dan 69,1% hasil isolasi dari

    spesimen darah. Sedangkan di negara maju, dewasa ini pneumonia pada anak

  • umumnya disebabkan oleh virus (Fein, dkk, 2006). Berikut beberapa agent penyebab

    terjadinya pneumonia.

    2.2.1 Bakteri

    1. Streptococcus pneumonia

    Streptococcus pneumoniae adalah diplokokus gram-positif. Bakteri ini, yang

    sering berbentuk lanset atau tersusun dalam bentuk rantai, mempunyai simpai

    polisakarida yang mempermudah penentuan tipe dengan antiserum spesifik.

    Organisme ini adalah penghuni normal pada saluran pernapasan bagian atas manusia

    dan dapat menyebabkan pneumonia, sinusitis, otitis, bronkitis, bakteremia,

    meningitis, dan proses infeksi lainnya. Pada orang dewasa, tipe 1-8 menyebabkan

    kira-kira 75% kasus pneumonia pneumokokus dan lebih dari setengah kasus

    bakteremia pneumokokus yang fatal; pada anak-anak, tipe 6, 14, 19, dan 23

    merupakan penyebab yang paling sering. Pneumokokus menyebabkan penyakit

    melalui kemampuannya berbiak dalam jaringan. Bakteri ini tidak menghasilkan

    toksin yang bermakna. Virulensi organisme disebabkan oleh fungsi simpainya yang

    mencegah atau menghambat penghancuran sel yang bersimpai oleh fagosit. Serum

    yang mengandung antibodi terhadap polisakarida tipe spesifik akan melindungi

    terhadap infeksi. Bila serum ini diabsorbsi dengan polisakarida tipe spesifik, serum

    tersebut akan kehilangan daya pelindungnya. Hewan atau manusia yang diimunisasi

    dengan polisakarida pneumokokus tipe tertentu selanjutnya imun terhadap tipe

    pneumokokus itu dan mempunyai antibodi presipitasi dan opsonisasi untuk tipe

    polisakarida tersebut.

  • Pada suatu saat tertentu, 40-70% manusia adalah pembawa pneumokokus

    virulen, selaput mukosa pernapasan normal harus mempunyai imunitas alami yang

    kuat terhadap pneumokokus. Infeksi pneumokokus menyebabkan melimpahnya

    cairan edema fibrinosa ke dalam alveoli, diikuti oleh sel-sel darah merah dan leukosit,

    yang mengakibatkan konsolidasi beberapa bagian paru-paru. Banyak pneumokokus

    ditemukan di seluruh eksudat, dan bakteri ini mencapai aliran darah melalui drainase

    getah bening paru-paru. Dinding alveoli tetap normal selama infeksi. Selanjutnya, sel-

    sel mononukleus secara aktif memfagositosis sisa-sisa, dan fase cair ini lambat-laun

    diabsorbsi kembali. Pneumokokus diambil oleh sel fagosit dan dicerna di dalam sel.

    Pneumonia yang disertai bakteremia selalu menyebabkan angka kematian

    yang paling tinggi. Pneumonia pneumokokus kira-kira merupakan 60-80% dari

    semua kasus pneumonia oleh bakteri. Penyakit ini adalah endemik dengan jumlah

    pembawa bakteri yang tinggi. Imunisasi dengan polisakarida tipe-spesifik dapat

    memberikan perlindungan 90% terhadap bakteremia pneumonia (Brooks, G.F, dkk,

    1996).

    2. Hemophylus influenza

    Hemophylus influenzae ditemukan pada selaput mukosa saluran napas bagian

    atas pada manusia. Bakteri ini merupakan penyebab meningitis yang penting pada

    anak-anak dan kadang-kadang menyebabkan infeksi saluran napas pada anak-anak

    dan orang dewasa. Hemophylus influenzae bersimpai dapat digolongkan dengan tes

    pembengkakan simpai menggunakan antiserum spesifik. Kebanyakan Hemophylus

    influenzae pada flora normal saluran napas bagian atas tidak bersimpai.

  • Pneumonitis akibat Hemophylus influenzae dapat terjadi setelah infeksi

    saluran pernapasan bagian atas pada anak-anak kecil dan pada orang tua atau orang

    yang lemah. Orang dewasa dapat menderita bronkitis atau pneumonia akibat

    influenzae. Hemophylus influenzae tidak menghasilkan eksotoksin. Organisme yang

    tidak bersimpai adalah anggota tetap flora normal saluran napas manusia. Simpai

    bersifat antifagositik bila tidak ada antibodi antisimpai khusus. Bentuk Hemophylus

    influenzae yang bersimpai, khususnya tipe b, menyebabkan infeksi pernapasan

    supuratif (sinusitis, laringotrakeitis, epiglotitis, otitis) dan, pada anak-anak kecil,

    meningitis. Darah dari kebanyakan orang yang berumur lebih dari 3-5 tahun

    mempunyai daya bakterisidal kuat terhadap Hemophylus influenzae, dan infeksi

    klinik lebih jarang terjadi. Hemophylus influenzae tipe b masuk melalui saluran

    pernapasan. Tipe lain jarang menimbulkan penyakit. Mungkin terjadi perluasan lokal

    yang mengenai sinus-sinus atau telinga tengah. Hemophylus influenzae tipe b dan

    pneumokokus merupakan dua bakteri penyebab paling sering pada otitis media

    bakterial dan sinusitis akut. Organisme ini dapat mencapai aliran darah dan dibawa ke

    selaput otak atau, jarang, dapat menetap dalam sendi-sendi dan menyebabkan artritis

    septik. Hemophylus influenzae sekarang merupakan penyebab tersering meningitis

    bakteri pada anak-anak berusia 5 bulan sampai 5 tahun di AS.

    Bayi di bawah umur 3 bulan dapat mengandung antibodi dalam serum yang

    diperoleh dari ibunya. Selama masa ini infeksi Hemophylus influenzae jarang terjadi,

    tetapi kemudian antibodi ini akan hilang. Anak-anak senng mendapatkan infeksi

    Hemophylus influenzae yang biasanya asimtomatik tetapi dapat dalam bentuk

  • penyakit pernapasan atau meningitis (Hemophylus influenzae adalah penyebab paling

    sering dari meningitis bakterial pada anak-anak dari umur 5 bulan sampai 5 tahun).

    Angka kematian meningitis Hemophylus influenzae yang tidak diobati dapat

    mencapai 90%. Influenzae tipe b dapat dicegah dengan pemberian vaksin konjugat

    Haemophilus b pada anak-anak. Anak-anak berusia 2 bulan atau lebih dapat

    diimunisasi dengan vaksin konjugat Hemophylus influenzae tipe 6 dengan satu dari

    dua pembawa dengan dosis boster yang diperlukan sesuai anjuran standard. Anak-

    anak berusia 15 bulan atau lebih dapat menerima vaksin konjugat

    Hemophylus influenzae tipe b dengan toksoid difteri (yang tidak bersifat

    imunogenik pada anak-anak yang lebih muda). Vaksin tidak mencegah timbulnya

    pembawa untuk Hemophylus influenzae. Pemanfaatan vaksin Hemophylus influenzae

    tipe b secara luas telah sangat menurunkan kejadian meningitis Hemophylus

    influenzae pada anak-anak. Kontak dengan pasien yang menderita infeksi klinik

    Hemophylus influenzae memberi risiko kecil bagi orang dewasa, tetapi member risiko

    nyata bagi saudara kandung yang nonimun dan anak-anak nonimun lain yang berusia

    di bawah 4 tahun yang berkontak erat (Brooks, G.F, dkk, 1996).

    2.2.2 Virus

    Setengah kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Virus yang

    sering menyebabkan pneumonia adalah Respiratory Syncial Virus (RSV). Meskipun

    virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernafasan bagian atas pada balita,

    gangguan ini bias memicu pneumonia. Tetapi pada umumnya sebagian besar

    pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat. Namun bila infeksi

  • terjadi bersamaan dengan virus influenza, gangguan bias berat dan kadang

    menyebabkan kematian (Misnadiarly, 2008).

    2.2.3 Mikoplasma

    Mikoplasma adalah agen terkecil di alam bebas yang menyebabkan penyakit

    pada manusia. Mikoplasma tidak bias diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri,

    meski memiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan biasanya

    berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala jenis usia, tetapi

    paling sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka kematian sangat rendah,

    bahkan juga pada yang tidak diobati (Misnadiarly, 2008).

    2.2.4 Protozoa

    Pneumonia yang disebabkan oleh protozoa sering disebut pneumonia

    pneumosistis. Termasuk golongan ini adalah Pneumocysititis Carinii Pneumonia

    (PCP). Pneumonia pneumosistis sering ditemukan pada bayi yang prematur.

    Perjalanan penyakitnya dapat lambat dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan,

    tetapi juga dapat cepat dalam hitungan hari. Diagnosis pasti ditegakkan jika

    ditemukan P. Carinii pada jaringan paru atau specimen yang berasal dari paru

    (Misnadiarly, 2008).

    2.3 Patogenesis dan Penularan Pneumonia

    Pada pneumonia mikroorganisme biasanya masuk secara inhalasi atau

    aspirasi. Umumnya mikroorganisme yang terdapat di saluran nafas bagian atas sama

    dengan di saluran nafas bagian bawah, akan tetapi pada beberapa penelitian

  • ditemukan jenis mikroorganisme yang berbeda. Pneumonia terjadi jika mekanisme

    pertahanan paru mengalami gangguan sehingga kuman patogen dapat mencapai

    saluran nafas bagian bawah. Agen-agen mikroba yang menyebabkan pneumonia

    memiliki tiga bentuk transmisi primer yaitu aspirasi secret yang berisi

    mikroorganisme patogen yang telah berkolonisasi pada orofaring, infeksi aerosol

    yang infeksius dan penyebaran hematogen dari bagian ekstrapulmonal. Aspirasi dan

    inhalasi agen-agen infeksius adalah dua cara tersering yang menyebabkan

    pneumonia, sementara penyebaran secara hematogen lebih jarang terjadi

    (Perhimpunan Ahli Paru, 2003).

    Menurut WHO (2010), pneumonia dapat menyebar dalam beberapa cara.

    Virus dan bakteri biasanya ditemukan di hidung atau tenggorokan anak yang dapat

    menginfeksi paru-paru jika dihirup. Virus juga dapat menyebar melalui droplet udara

    lewat batuk atau bersin. Selain itu, radang paru-paru bias menyebar melalui darah,

    terutama selama dan segera setelah lahir.

    2.4 Faktor Risiko

    Di Indonesia, hasil Survei Kesehatan Nasional (SURKESNAS) menunjukkan

    bahwa proporsi kematian bayi akibat ISPA 28%. Artinya bahwa dari 100 bayi yang

    meninggal 28 disebabkan oleh penyakit ISPA dan terutama 80% kasus kematian

    ISPA pada balita adalah akibat pneumonia. Angka kematian akibat pneumonia pada

    akhir tahun 2000 diperkirakan sekitar 4,9/1000 balita (Surkesnas, 2001).

  • Menurut Depkes RI (2002), pneumonia dapat menyerang semua orang, semua

    umur, jenis kelamin serta tingkat sosial ekonomi. Kejadian kematian pneumonia pada

    balita berdasarkan SKRT (2001) urutan penyakit menular penyebab kematian pada

    bayi adalah pneumonia, diare, tetanus, infeksi saluran pernafasan akut sementara

    proporsi penyakit menular penyebab kematian pada balita yaitu pneumonia (22,5%),

    diare (19,2%), infeksi pernafasan akut (7,5%), malaria (7%) serta campak (5,2%).

    Dari tahun ke tahun pneumonia selalu menduduki peringkat atas penyebab

    kematian bayi dan balita di Indonesia. Pneumonia merupakan penyebab kematian

    balita kedua setelah diare (15,5% diantara semua balita) dan selalu berada pada daftar

    10 penyakit terbesar yang ada di fasilitas pelayanan kesehatan. Hal ini menunjukkan

    bahwa pneumonia merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat

    utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian pada balita di

    Indonesia. Kematian akibat pneumonia sangat terkait dengan kekurangan gizi,

    kemiskinan dan akses pelayanan kesehatan. Lebih 98% kematian balita akibat

    pneumonia dan diare terjadi di Negara berkembang (Riskesdes 2007).

    Banyak faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya pneumonia pada

    balita. Menurut Depkes (2004), dibagi menjadi faktor balita, faktor ibu dan faktor

    lingkungan dan sosioekonomis. Beberapa faktor risiko yang meningkatkan insidens

    pneumonia antara lain umur kurang dari 2 bulan, laki-laki, gizi kurang, BBLR, tidak

    mendapat ASI memadai, polusi udara, kepadatan tempat tinggal, imunisasi tidak

    memadai, membedong anak (menyelimuti berlebihan) dan defisiensi vitamin A.

  • Sedangkan faktor risiko meningkatkan angka kematian pneumonia antara lain

    umur kurang dari 2 bulan, tingkat sosioekonomi rendah, gizi kurang, BBLR, tingkat

    pendidikan ibu rendah, tingkat jangkauan pelayanan kesehatan rendah, kepadatan

    tempat tinggal, imunisasi tidak memadai, dan menderita penyakit kronis. (Depkes RI,

    2000). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia dibagi menjadi 3

    faktor yaitu: faktor balita, faktor lingkungan dam faktor perilaku.

    2.4.1 Faktor Anak

    a. Umur

    Bayi lebih mudah terkena pneumonia dibandingkan dengan anak balita. Anak

    berumur kurang dari 1 tahun mengalami batuk pilek 30% lebih besar dari kelompok

    anak berumur anatara 2 sampai 3 tahun. Mudahnya usia di bawah 1 tahun

    mendapatkan risiko pneumonia disebabkan imunitas yang belum sempurna dan

    lubang saluran pernafasan yang relatif masih sempit. Menurut Daulaire (1991), risiko

    untuk terkena pneumonia lebih besar pada anak berumur dibawah 2 tahun

    dibandingkan yang lebih tua, hal ini dikarenakan status kerentanan anak dibawah 2

    tahun belum sempurna dan lumen saluran nafas yang masih sempit.

    b. Jenis kelamin

    Dalam program pemberantasan penyakit infeksi saluran pernafasan akut (P2

    ISPA) dijelaskan bahwa laki-laki adalah faktor risiko yang mempengaruhi kesakitan

    pneumonia (Depkes RI, 2004). Menurut Sunyataningkamto (2004), hal ini

    disebabkan karena diameter saluran pernafasan anak laki-laki lebih kecil

    dibandingkan dengan anak perempuan atau adanya perbedaan dalam daya tahan

  • tubuh antara anak laki-laki dan perempuan. Dari penelitian di Indramayu yang

    dilakukan selama 1,5 tahun didapatkan kesimpulan bahwa pneumonia lebih banyak

    menyerang balita berjenis kelamin laki-laki (52,9%) dibandingkan perempuan

    (Sutrisna, 1993).

    c. Status Imunisasi Campak

    Kekebalan dapat dibawa secara bawaan, keadaan ini dapat dijumpai pada

    balita umur 5-9 bulan, dengan adanya kekebalan ini balita terhindar dari penyakit.

    Dikarenakan kekebalan bawaan hanya bersifat sementara, maka diperlukan imunisasi

    untuk tetap mempertahankan kekebalan yang ada pada balita. Salah satu pencegahan

    untuk mengurangi kesakitan dan kematian akibat pneumonia adalah dengan

    pemberian imunisasi. Sekitar 43,1% - 76,6% kematian akibat ISPA yang berkembang

    dapat dicegah dengan imunisasi seperti Difteri, Pertusis, dan Campak. Bila anak

    sudah dilengkapi dengan imunisasi DPT dan campak, dapat diharapkan

    perkembangan penyakit ISPA tidak akan menjadi berat. Sebagian besar kematian

    ISPA berasal dari jenis ISPA yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah

    dengan imunisasi seperti Difteri, Pertusis dan Campak. Maka peningkatan cakupan

    imunisasi akan berperan besar dalam pemberantasan ISPA. Dengan imunisasi

    campak yang efektif, sekitar 11% kematian pneumonia balita dapat dicegah. Dari

    hasil pengamatan selama 58 tahun periode penelitian di Amerika Serikat terhadap

    kematian karena pneumonia balita diamati sejak tahun 1939 sampai 1996

    menunjukkan vaksinasi campak berperan dalam menurunkan kematian akibat

    pneumonia (Sjenileila, 2002).

  • d. Imunisasi DPT

    Imunisasi membantu mengurangi kematian anak dari pneumonia dalam dua

    cara. Pertama, vaksinasi membantu mencegah anak dari infeksi yang berkembang

    langsung menyebabkan pneumonia, misalnya Haemophilus influenza tipe b (Hib).

    Kedua, imunisasi dapat mencegah infeksi yang dapat menyebabkan pneumonia

    sebagai komplikasi dari penyakit (misalnya, campak dan pertusis). Tiga vaksin yang

    memiliki potensi untuk mengurangi kematian anak dari pneumonia adalah vaksin

    campak, Hib, dan vaksin pneumokokus. Imunisasi DPT merupakan salah satu

    imunisasi yang efektif untuk mengurangi faktor yang meningkatkan kematian akibat

    ISPA (UNICEF, WHO 2006). Menurut Susi (2011), balita yang tidak mendapatkan

    imunisasi DPT mempunyai peluang mengalami pneumonia sebanyak 2,34 kali

    disbanding balita yang mendapatkan imunisasi DPT dan hasil uji statistic menyatakan

    ada hubungan yang bermakna antara riwayat imunisasi DPT pada balita dengan

    kejadian pneumonia (p value = 0,049: = 0,05).

    e. Status Pemberian Vitamin A

    Sejak tahun 1985 setiap 6 bulan posyandu memberikan kapsul 200.000 IU

    vitamin A pada balita dari umur satu sampai dengan empat tahun. Pemberian kapsul

    vitamin A diberikan setahun dua kali pada bulan Februari dan Agustus, sejak anak

    berusia enam bulan. Kapsul merah (dosis 100.000 IU) diberikan untuk bayi umur 6-

    11 bulan dan kapsul biru (dosis 200.000 IU) untuk anak umur 12-59 bulan.

    Pemberian vitamin A berperan sebagai protektif melawan infeksi dengan memelihara

  • integritas epitel/fungsi barier, kekebalan tubuh dan mengatur pengembangan dan

    fungsi paru (Klemm, 2008).

    Menurut Sutrisna (1993), dikatakan bahwa ada hubungan antara pemberian

    vitamin A dengan risiko terjadinya ISPA. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa

    anak dengan Xerophtalamin ringan memiliki risiko dua kali menderita ISPA,

    terutama anak-anak yang berusia kurang dari 3 tahun.

    f. Status Gizi Balita

    Keadaan gizi adalah faktor yang sangat penting bagi timbulnya pneumonia.

    Tingkat pertumbuhan fisik dan kemampuan imunologik seseorang sangat dipengaruhi

    adanya persediaan gizi dalam tubuh dan kekurangan zat gizi akan meningkatkan

    kerentanan dan beratnya infeksi suatu penyakit seperti pneumonia (Sutrisna, 1993).

    Beberapa studi melaporkan kekurangan gizi akan menurunkan kapasitas kekebalan

    untuk merespon infeksi pneumonia termasuk gangguan fungsi granulosit, penurunan

    fungsi komplemen dan menyebabkan kekurangan mikronutrien (Sunyataningkamto,

    2004). Sjenileila Boer (2002) menjelaskan bahwa status gizi mempunyai hubungan

    yang bermakna dengan kejadian pneumonia dengan nilai OR: 3,194 (95% CI: 1,585-

    6,433).

    g. Pemberian ASI Eksklusif

    Air susu ibu diketahui memiliki zat yang unik bersifat anti infeksi. ASI juga

    memberikan proteksi pasif bagi tubuh balita untuk menghadapi patogen yang masuk

    ke dalam tubuh. Pemberian ASI eksklusif terutama pada bulan pertama kehidupan

    bayi dapat mengurangi insiden dan keparahan penyakit infeksi. Sehingga pemberian

  • ASI secara Eksklusif selama 6 bulan dapat mencegah pneumonia oleh bakteri dan

    virus. Hasil penelitian Naim (2001) di Jawa Barat menjelaskan anak usia 4 bulan 24

    bulan yang tidak mendapat ASI Eksklusif menunjukkan hubungan yang bermakna

    terhadap terjadinya pneumonia dan memiliki risiko terjadinya pneumonia 4,76 kali

    disbanding anak umur 4 bulan-24 bulan yang diberi ASI eksklusif ditunjukkan

    dengan nilai statistic OR=4,76 (95% CI: 2,98-7,59).

    h. Berat Badan Lahir

    Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian

    yang lebih besar dibandingkan dengan bayi berat lahir normal. Hal ini terutama

    terjadi pada bulan-bulan pertama kelahiran sebagai akibat dari pembentukan zat anti

    kekebalan yang kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi

    terutama pneumonia dan penyakit saluran pernafasan lainnya. Hasil penelitian

    Herman (2002) di Sumatera Selatan menjelaskan balita yang mempunyai riwayat

    berat badan lahir rendah memilki risiko 1,9 kali untuk terkena pneumonia

    dibandingkan dengan bayi yang mempunyai riwayat berat badan normal namun efek

    tersebut secara statistic tidak bermakna hal ini ditunjukkan dengan nilai OR= 1,9

    (95% CI: 0,7-4,9) p=0,175.

    i. Riwayat Asma

    Dawood (2010) menjelaskan anak-anak dengan asma akan mengalami

    peningkatan risiko terkena radang paru-paru sebagai komplikasi dari influenza. Bayi

    dan anak-anak kurang dari lima tahun berisiko lebih tinggi mengalami pneumonia

  • sebagai komplikasi dari influenza saat dirawat di rumah sakit. Bayi usia 6 bulan-2

    tahun dengan asma mempunyai risiko dua kali lebih tinggi menderita pneumonia.

    2.4.2 Faktor Lingkungan

    a. Pendidikan Ibu

    Pendidikan adalah suatu proses yang unsur-unsurnya terdiri dari masukan

    yaitu sasaran pendidikan dan keluaran yaitu suatu bentuk perilaku atau kemauan baru.

    Pendidikan formal maupun non formal mempengaruhi seseorang dalam membuat

    keputusan dan bekerja. Semakin tinggi pendidikan formal seorang ibu, semakin

    mudah pula ia menerima pesan-pesan kesehatan dan semakin tinggi pula tingkat

    pemahamannya terhadap pencegahan dan penatalaksanaan penyakit pada bayi dan

    anak balitanya. Hasil penelitian Hananto (2004) menjelaskan bahwa ada hubungan

    yang bermakna antara pendidikan ibu dengan kejadian pneumonia pada anak balita

    dimana ibu yang berpendidikan rendah mempunyai risiko 2 kali anak balitanya

    menderita pneumonia dibanding ibu yang berpendidikan tinggi (95%CI: 0,95-4,21).

    b. Pekerjaan Ibu

    Pekerjaan ibu akan mempengaruhi waktu terbanyak yang terpakai setiap

    harinya. Hal ini memiliki kecenderungan menyita waktu dan perhatian ibu terhadap

    balita baik dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Sehingga kondisi atau

    pekerjaan ibu akan berisiko terhadap kemungkinan risiko balita terkena pneumonia.

    c. Sosial Ekonomi

    Keluarga dengan tingkat pendapatan yang tinggi, memiliki peluang lebih

    besar untuk mencukupi makanan untuk bayi dan balitanya sehingga anak akan

  • mempunyai daya tahan yang lebih baik untuk menangkal ISPA/pneumonia.

    Disamping itu, tingkat pendapatan yang tinggi juga akan memberikan peluang yang

    lebih besar untuk mempunyai perumahan yang lebih memenuhi syarat sehingga lebih

    memungkinkan terhindar dari serangan ISPA. Hasil penelitian yang dilakukan

    Hananto (2004) menjelaskan bahwa ada hubungan antara status ekonomi dengan

    kejadian pneumonia dengan nilai p=0,0005 dengan nilai OR 2,39 yang artinya anak

    balita yang berasal dari keluarga status ekonomi rendah mempunyai risiko 2,39 kali

    terkena pneumonia daripada balita dari status ekonomi tinggi.

    2.4.3 Faktor Perilaku

    Dari hasil penelitian yang dilakukan di Jawa Tengah didapat ada hubungan

    antara keberadaan anggota keluarga yang merokok dengan kejadian ISPA balita yang

    orang tuanya merokok mempunyai risiko 4,63 kali lebih besar terkena penyakit ISPA

    dibandingkan dengan balita yang orang tuanya tidak merokok (Suhandayani, 2007).

    Sunyataningkamto (2004), menjelaskan bahwa asap rokok akan mengurangi fungsi

    silia, menghancurkan sel epitel bersilia yang akan diubah menjadi sel skuamosa dan

    menurunkan humoral/imunitas seluler baik local maupun sistemik. Kebiasaan

    merokok juga dapat menambah pengeluaran rumah tangga yang tidak memiliki

    pengaruh penting terhadap peningkatan status kesehatan keluarga.

    2.4.4 Faktor Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

    Menurut Hatta (2001), jarak ke fasilitas pelayanan kesehatan mempunyai

    hubungan yang bermakna dengan kejadian pneumonia balita. Dikatakan bahwa balita

  • yang dekat dengan sarana kesehatan mempunyai efek perlindungan yang lebih tinggi

    dibandingkan dengan balita yang jauh dari sarana kesehatan.

    2.5 Klasifikasi dan Diagnosis Pneumonia

    2.5.1 Klasifikasi Pneumonia Berdasarkan Klinis dan Epidemiologi

    Klasifikasi pneumonia berdasarkan klinis dan epidemiologi dapat dibedakan

    menjadi 3 kategori yaitu:

    1. Community Acquired Pneumonia (CAP) atau pneumonia komunitas yaitu

    pneumonia yang terjadi infeksi diluar rumah sakit, seperti rumah jompo, home

    care (Schmidt, 2007).

    2. Hospital Acquired Pneumonia (HAP) atau pneumonia nosokomial yaitu

    pneumonia yang terjadi lebih 48 jam atau lebih setelah penderita dirawat di

    rumah sakit baik di ruang perawatan umum maupun di ICU tetapi tidak

    sedang menggunakan ventilator. Hampir 1% dari penderita yang dirawat di

    rumah sakit mendapatkan pneumonia selama dalam perawatan dan

    sepertiganya mungkin akan meninggal (Fein, dkk, 2006)

    3. Ventilator Associated Pneumonia (VAP) yaitu, pneumonia yang terjadi

    setelah 48-72 jam intubasi tracheal atau menggunakan ventilasi mekanik di

    ICU (Torres, S. Ewig, 2011).

  • 2.5.2 Pembagian Kuman Penyebab Pneumonia

    Beberapa kuman penyebab terjadinya pneumonia dapat dibagi menjadi:

    1. Pneumonia bacterial/tipikal adalah pneumonia yang dapat terjadi pada semua

    usia. Beberapa kuman mempunyai tendensi menyerang seseorang yang peka,

    misalnya klebsiela pada penderita alkoholik dan staphylococcus pada

    penderita pasca infeksi influenza.

    2. Pneumonia atipikal adalah pneumonia yang disebabkan oleh mycoplasma,

    legionella dan Chlamydia

    3. Pneumonia virus

    4. Pneumonia jamur adalah pneumonia yang sering merupakan infeksi sekunder,

    terutama pada penderita dengan daya tahan tubuh lemah

    (immunocompromised)

    Kriteria yang digunakan dalam tata laksana penderita ISPA adalah balita

    dengan gejala batuk dan atau kesukaran bernafas.

    2.5.3 Pola Tatalaksana Pneumonia Menurut Depkes RI (2000)

    Pola tata laksana ini dapat dibagi menjadi 4 bagian yaitu:

    1. Pemeriksaan

    2. Penentuan ada tidaknya tanda bahaya

    3. Penentuan klasifikasi penyakit

    4. Pengobatan

  • 2.5.4. Klasifikasi Pneumonia Berdasarkan Ditjen PP dan PL (2005)

    Pada balita klasifikasi penyakit pneumonia dibedakan untuk golongan umur <

    2 bulan dan umur 2 bulan sampai 5 tahun yaitu sebagai berikut:

    1. Untuk golongan umur kurang dari 2 bulan, diklasifikasikan menjadi 2 yaitu:

    a. Pneumonia berat: ditandai dengan adanya nafas cepat, yaitu frekuensi

    pernafasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih, atau adanya tarikan

    yang kuat pada dinding dada bagian bawah ke adalam (severe chest

    indrawing)

    b. Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan kuat

    dinding dada bagian bawah atau nafas cepat

    2. Untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun, diklasifikasikan menjadi

    3 yaitu:

    a. Pneumonia berat: bila disertai nafas sesak yaitu adanya tarikan dinding

    bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik nafas (pada saat anak

    diperiksa anak harus dalam keadaan tenang tidak menangis atau meronta)

    b. Pneumonia: bila disertai nafas cepat

    c. Bukan pneumonia: mencakup kelompok penderita balita dengan batuk

    yang tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat)

    dan tidak menunjukkan adanya tarikan dinding dada bawah ke dalam.

    WHO merekomendasikan klasifikasi klinis dan pengobatan yang diberikan

    pada balita usia 2 bulan sampai 5 tahun yang memiliki batuk atau kesukaran bernafas,

    dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut (Rizanda, 2006):

  • Tabel 2.1 Kriteria WHO terhadap Pengobatan pada Usia 2 Bulan Sampai 5 Tahun yang Memiliki Batuk atau Kesukaran Bernafas Sesuai dengan

    Klasifikasi Klinis Penderita

    Kriteria Pneumonia Gejala Klinis dan Pengobatannya Bukan Pneumonia Pneumonia Pneumonia Berat

    Tidak ada sesak nafas, tidak ada tarikan dinding dada. Tidak diberikan antibiotik. Nafas cepat, tidak ada tarikan dinding dada. Pengobatan di rumah dengan pemberian antibiotic kotrimoxal atau amoksisilin. Nafas cepat, tarikan dinding dada, tidak ada sianosis, masih mampu makan/minum. Dirujuk ke rumah sakit

    Pneumonia sangat Berat Nafas cepat, tarikan dinding dada, ada sianosis, tidak mampu makan/minum, kejang, sukar dibangunkan, stidor sewaktu tenang, gizi buruk. Dirujuk ke rumah sakit

    2.5.5 Diagnosis Pneumonia

    Dalam pola tatalaksana penderita pneumonia yang dipakai program P2 ISPA,

    diagnosis pneumonia pada balita didasarkan pada adanya batuk atau kesukaran

    bernafas disertai dengan peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat sesuai umur).

    Panduan WHO dalam menentukan seorang anak menderita nafas cepat dapat

    dilihat pada tabel 2.2 sebagai berikut (Rizanda, 2006):

    Tabel 2.2 Kriteria Nafas Cepat Menurut Frekuensi Pernafasan Menurut Umur Anak

    Umur Anak Nafas Cepat Bila Frekuensi Nafas Lebih Dari

    Kurang dari 2 bulan 2 bulan sampai 12 bulan 12 bulan sampai 5 tahun

    60 kali per menit 50 kali permenit 40 kali permenit

    Menurut Misnadiarly (2008), tanda penyakit pneumonia pada balita antara

    lain: batuk nonproduktif, ingus (nasal discharge), suara nafas lemah, pemanfaatan

  • otot bantu nafas, demam, cyanosis (kebiru-biruan), Thorax Photo menunjukkan

    infiltrasi melebar, sakit kepala, kekakuan dan nyeri otot, sesak nafas, menggigil,

    berkeringat, lelah, terkadang kulit menjadi lembab, mual dan muntah.

    Gejala penyakit pneumonia biasanya didahului dengan infeksi saluran nafas

    akut selama beberapa hari. Selain didapatkan demam, menggigil, suhu tubuh

    meningkat dapat mencapai 40 derajat celcius, sesak nafas, nyeri dada dan batuk

    dengan dahak kental, terkadang dapat bewarna kuning hingga hijau. Pada sebagian

    penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan dan sakit

    kepala.

    2.6 Penanggulangan Pneumonia

    2.6.1 Upaya Penyuluhan Kesehatan Masyarakat

    Penyuluhan kesehatan masyarakat dianggap sebagai upaya yang paling

    penting dalam pengendalian pneumonia dan tidak dapat dipisahkan dari kegiatan

    penatalaksanaan kasus dan perbaikan kesehatan lingkungan. Sasaran dari penyuluhan

    kesehatan adalah ibu dan pengasuh balita sebagai sasaran primer sedangkan sasaran

    sekunder adalah petugas kesehatan, kader posyandu, pengambil keputusan,

    perencana, pengelola program serta sektor lain yang terkait. Tujuan dari promosi

    kesehatan adalah mengupayakan agar masyarakat mengambil perilaku sehingga

    sesuai dengan syarat-syarat kesehatan.

  • 2.6.2 Upaya Pencegahan Pneumonia

    Menurut WHO (2010), WHO dan UNICEF pada tahun 2009 membuat

    rencana aksi global Global Action Plan For The Prevention (GAPP) untuk

    pencegahan dan pengendalian pneumonia. Tujuannya adalah untuk mempercepat

    kontrol pneumonia dengan kombinasi intervensi untuk melindungi, mencegah dan

    mengobati pneumonia pada anak dengan tindakan yang meliputi 1) melindungi anak

    dari pneumonia termasuk mempromosikan pemberian ASI Eksklusif dan mencuci

    tangan, mengurangi polusi udara didalam rumah, 2) mencegah pneumonia dengan

    pemberian vaksinasi, 3) mengobati pneumonia difokuskan pada upaya bahwa setiap

    anak sakit memiliki akses ke perawatan yang tepat baik dari petugas kesehatan

    berbasis masyarakat atau di fasilitas kesehatan jika penyakitnya bertambah berat dan

    mendapatkan antibiotic serta oksigen yang mereka butuhkan untuk kesembuhan.

    Upaya pencegahan yang ditujukan untuk mengurangi kesakitan dan kematian

    akibat pneumonia antara lain dengan:

    1. Status imunisasi campak

    Imunisasi campak untuk mencegah kematian pneumonia yang diakibatkan oleh

    komplikasi penyakit campak. Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa

    imunisasi campak berperan dalam menurunkan kematian akibat pneumonia.

    2. Perbaikan gizi keluarga untuk mengurangi malnutrisi sebagai salah satu faktor

    risiko terjadinya pneumonia

    3. Peningkatan kesehatan ibu dan bayi baru lahir dengan berat rendah melalui upaya

    perbaikan kesehatan ibu dan anak

  • 4. Perbaikan kualitas lingkungan terutama mengurangi polusi udara dalam ruangan.

    2.7 Landasan Teori

    2.7.1 Pendekatan Model Segitiga Epidemiologi

    Teori segitiga epidemiologi menjelaskan bahwa timbulnya penyakit

    disebabkan oleh adanya pengaruh faktor penjamu (host), penyebab (agent) dan

    lingkungan (environment) yang digambarkan sebagai segitiga. Perubahan dari sektor

    lingkungan akan mempengaruhi host, sehingga akan timbul penyakit secara individu

    maupun keseluruhan populasi yang mengalami perubahan tersebut. Demikian juga

    dengan kejadian penyakit pneumonia yang berhubungan dengan penjamu, lingkungan

    dan agent. Pneumonia balita merupakan salah satu penyakit infeksi saluran

    pernafasan akut, yaitu terjadi peradangan atau iritasi pada salah satu atau kedua paru,

    disebabkan oleh infeksi Streptococcus pneumoniae dan Hemophylus influenza,

    dimana merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada penelitian tentang etiologi

    pneumonia di negara berkembang. Pada prinsipnya kejadian penyakit yang

    digambarkan sebagai segitiga epidemiologi menggambarkan hubungan tiga

    komponen penyebab penyakit yaitu penjamu, agen dan lingkungan seperti gambar 2.3

    dibawah ini:

    Gambar 2.1. Model Klasik Kausasi Segitiga Epidemiologi

    Sumber: Anderson (2000) dan Hockenberry, Wilson (2009)

    AGENT

    ENVIRONMENT HOST

  • Untuk memprediksi pola penyakit, model ini menekankan perlunya analisis

    dan pemahaman masing-masing komponen. Perubahan pada satu komponen akan

    mengubah komponen lainnya, dengan akibat menaikkan atau menurunkan kejadian

    penyakit.

    Komponen untuk terjadinya penyakit Pneumonia adalah:

    1. Host

    Penjamu adalah manusia atau organisme yang rentan terhadap pengaruh

    agent. Dalam penelitian ini yang diteliti dari faktor penjamu adalah faktor balita

    (umur, jenis kelamin, status imunisasi campak, imunisasi DPT, status pemberian

    vitamin A, riwayat menderita campak, status gizi balita, pemberian ASI Eksklusif,

    berat badan lahir, riwayat asma).

    2. Agent

    Agent penyebab Pneumonia disebabkan infeksi Streptococcus pneumoniae

    dan Hemophylus influenza, dimana merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada

    penelitian tentang etiologi pneumonia di negara berkembang

    3. Environment

    Lingkungan adalah kondisi atau faktor berpengaruh yang bukan bagian agent

    maupun penjamu, tetapi mampu menginteraksikan agent penjamu. Dalam penelitian

    ini yang berperan sebagai faktor lingkungan meliputi faktor lingkungan (pendidikan

    ibu, pekerjaan ibu, sosial ekonomi)

  • 2.7.2 Konsep Model Hendrik L.Blum

    Menurut teori Hendrik L. Blum dalam Notoatmodjo (2007), status kesehatan

    dipengaruhi secara simultan oleh empat faktor penentu yang saling berinteraksi satu

    sama lain.

    Keempat faktor tersebut adalah lingkungan, perilaku, keturunan dan

    pelayanan kesehatan.

    Gambar. 2.2 Faktor yang mempengaruhi Status Kesehatan

    Sumber: Hitchock, Schubert, Thomas (2001) dan Notoatmodjo (2007)

    Keempat faktor risiko yang mempengaruhi kejadian pneumonia pada balita

    adalah:

    1. Keturunan

    Faktor yang sulit untuk diintervensi karena bersifat bawaan dari orang tua.

    Penyakit yang dapat diturunkan orang tua dan dapat menjadi faktor risiko infeksi

    pneumonia adalah penyakit asma.

    2. Pelayanan Kesehatan

    Dari hasil penelitian Djaja (2001), menjelaskan bahwa ibu dengan pendidikan

    tinggi akan lebih sadar membawa anaknya berobat ke fasilitas kesehatan, tetapi ibu

    PELAYANAN KESEHATAN

    PERILAKU

    LINGKUNGAN

    KETURUNAN

    STATUS KESEHATAN

  • dengan pendidikan rendah akan lebih memilih anaknya untuk berobat ke dukun dan

    mengobati sendiri.

    3. Perilaku

    Menurut Depkes RI (2001), semakin banyak jumlah rokok yang dihisap oleh

    anggota keluarga semakin besar risiko terhadap kejadian ISPA, khususnya jika

    merokok dilakukan oleh ibu bayi.

    4. Lingkungan

    Dalam penelitian ini yang berperan sebagai faktor lingkungan meliputi faktor

    lingkungan (pendidikan ibu, pekerjaan ibu, sosial ekonomi)

  • 2.8 Kerangka Konsep

    Kerangka konsep dalam peneltian ini dapat dilihat pada Gambar 2.3. berikut

    ini :

    Variabel Independen Variabel Dependen

    Gambar 2.3. Kerangka Konsep Penelitian

    Sumber: Modifikasi Anderson (2000) dan Hockenberry, Wilson (2009), Hitchock, Schubert, Thomas (2001) dan Notoatmodjo (2007)

    Dari gambar 2.3 di atas, dapat diketahui bahwa penyakit pneumonia dapat

    disebabkan oleh beberapa faktor risiko yaitu faktor manusia dan perilakunya, faktor

    lingkungan dan faktor agen. Pada penelitian ini variabel dependen adalah kejadian

    Pneumonia Balita

    Faktor Balita: a. Status imunisasi campak b. Status Imunisasi DPT c. Status pemberian vitamin A d. Status gizi balita e. Pemberian ASI Eksklusif f. Berat badan lahir g. Riwayat Asma

    Faktor Lingkungan: a. Pendidikan Ibu b. Pekerjaan Ibu c. Sosial ekonomi

    Faktor Perilaku: Kebiasaan Merokok

    Faktor Pelayanan Kesehatan: Pemanfaatan pelayanan kesehatan

  • pneumonia balita sedangkan variabel independennya adalah berdasarkan faktor balita,

    faktor lingkungan, faktor perilaku dan faktor pemanfaatan pelayanan kesehatan