Pola Asuh Otoritatif Dan Self-Esteem Sebagai Prediktor .pola asuh otoritatif dan self-esteem sebagai

  • View
    214

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Pola Asuh Otoritatif Dan Self-Esteem Sebagai Prediktor .pola asuh otoritatif dan self-esteem sebagai

POLA ASUH OTORITATIF DAN SELF-ESTEEM SEBAGAI PREDIKTOR

KEMANDIRIAN MAHASISWA YANG TINGGAL DI RUMAH KOST DI

SALATIGA

OLEH:

ANA VERONIKA SUGIANTO

802011801

TUGAS AKHIR

Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Guna Memenuhi Sebagian Dari Persyaratan Untuk

Mencapai Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2014

i

ii

iii

iv

POLA ASUH OTORITATIF DAN SELF-ESTEEM SEBAGAI PREDIKTOR

KEMANDIRIAN MAHASISWA YANG TINGGAL DI RUMAH KOST DI

SALATIGA

Ana Veronika Sugianto

Berta Esti Ari Prasetya

Krismi Diah Ambarwati

Program Studi Psikologi

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2014

v

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola asuh otoritatif dan self-

esteem secara simultan terhadap kemandirian mahasiswa yang tinggal di rumah kost

di Salatiga. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Kristen Satya

Wacana angkatan 2013 yang tinggal di rumah kost di Salatiga yang berjumlah 110

mahasiswa. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian dilakukan

dengan cara menyebarkan skala. Ada tiga skala yang digunakan, yaitu Skala Pola

Asuh Otoritatif (Robinson, Mandleco, Olsen, Hart, 1995), Skala Self-Esteem

(Tafarodi dan Swann, 2001), dan Skala Kemandirian (Steinberg, 1993). Data yang

terkumpul dianalisis dengan analisis regresi linear berganda melalui program SPSS

windows versi 16.00. Melalui analisis regresi linear berganda, diperoleh hasil bahwa

pola asuh otoritatif dan self-esteem dapat dijadikan sebagai prediktor kemandirian

mahasiswa yang tinggal di rumah kost di Salatiga. Besar kontribusi secara simultan

variabel pola asuh otoritatif dan self-esteem terhadap kemandirian sebesar 28,3%

(R= 0,283), dan Fhitung = 22,512; dengan taraf signifikansi sebesar 0,000 , p< 0,05.

Nilai untuk variabel pola asuh otoritatif sebesar -0,384, dan nilai untuk variabel

self-esteem sebesar 0,422.

Kata Kunci : Pola Asuh Otoritatif, Self-Esteem, dan Kemandirian Mahasiswa

vi

Abstract

This study aims to know the effect of authoritative parenting and self-esteem

simultaneously towards autonomy boarding students living at home in Salatiga. The

subjects were students of Christian University of Satya Wacana Force 2013 that lived in

the boarding house Salatiga totaling 110 students. Data collection techniques were

performed in the study is done by distributing questionnaires. There are three were used,

namely Authoritative Parenting Scale (Robinson, Mandleco, Olsen, Hart, 1995), Self-

Esteem Scale (Tafarodi and Swann, 2001) and Autonomy Scale (Steinberg, 1993). The

data were analyzed with multiple linear regression analysis through SPSS windows

version 16.00. Through multiple linear regression analysis, the results showed that

authoritative parenting and self-esteem can be used as a predictor of autonomy of

student who lives in boarding house in Salatiga. Major contribution simultaneously

authoritative parenting variables and self-esteem to autonomy by 28.3% (R= 0.283), and

Fcount = 22,512; with a significance level of 0.000, (p

1

PENDAHULUAN

Setiap individu pasti mempunyai keinginan untuk mendapatkan masa depan

yang cerah, mempunyai pekerjaan yang layak dengan penghasilan yang baik, dan

menjalani suatu kehidupan yang cukup, bahkan lebih dari cukup untuk memenuhi

semua kebutuhan di dalam kehidupannya. Dengan didorong oleh keinginan

tersebut, banyak usaha yang dilakukan, salah satu cara yang banyak dilakukan

masyarakat untuk meningkatkan taraf kehidupannya adalah mengenyam pendidikan

yang tinggi, hingga masuk ke perguruan tinggi, sebab di perguruan tinggi individu

dapat menentukan bidang pekerjaan apa yang ia minati, dan setelah itu individu

tersebut dapat mencari jurusan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang

diinginkannya. Oleh karena itu, banyak individu yang menuntut ilmu disebuah

lembaga pendidikan atau perguruan tinggi yang bermutu, terkenal, dan sering

mencetak lulusan yang berkualitas, supaya dapat dijadikan sebuah bekal dan acuan

untuk dapat masuk ke dalam dunia kerja dengan penghasilan yang menjanjikan

(Umar, 2009).

Namun, universitas atau perguruan tinggi tidak dimiliki oleh semua kota di

Indonesia. Oleh karena itu, banyak individu yang berasal dari luar kota biasanya

memilih untuk memiliki tempat tinggal sementara (tempat kost) di dekat perguruan

tinggi tempat mereka mengenyam pendidikan dengan tujuan untuk mempermudah

mobilitas selama masa belajar. Hal ini yang membuat mereka menjadi mahasiswa

yang tinggal ditempat kost. Mahasiswa yang tinggal ditempat kost merupakan

pelajar yang sedang menetap dirumah orang lain untuk kepentingan melanjutkan

kepentingan formal, serta melanjutkan rutinitas sehari hari, dilingkungan kost,

2

seperti: istirahat, belajar, berdiskusi, berkreasi, mengerjakan tugas kuliah, dan

kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Bagi mahasiswa yang tinggal ditempat kost memang membutuhkan sikap

kemandirian yang tinggi, mengingat mereka tinggal jauh dari keluarga, terutama

orangtua (Arifin, 2009).

Kemandirian, menurut Steinberg (1993), istilah independence dan autonomy

sering disejajarartikan dalam penelitan mengenai remaja. Autonomy memiliki arti

yang sedikit berbeda dari independence. Independence secara umum mengacu pada

kapasistas seseorang untuk memperlakukan diri sendiri. Sementara itu, Steinberg

menyimpulkan bahwa Autonomy merupakan kemampuan seseorang untuk

mengatur dirinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa adanya pengawasan dari

orangtua maupun guru. Ada tiga dimensi kemandirian menurut steinberg (1993),

yaitu kemandirian emosi (emotional autonomy), kemandirian perilaku (behavioral

autonomy), dan kemandirian nilai (value autonomy).

Namun kenyataannya, terdapat beberapa mahasiswa kost yang belum dapat

membagi waktu antara belajar dan bermain. Masalah lain yang muncul, yaitu

mereka kurang mampu dalam mengambil keputusan yang tepat bagi diri mereka

sendiri. Seperti misalnya pada saat menghadapi masalah dengan teman-temannya,

mereka selalu bertanya dan meminta bantuan serta pendapat dari orang tua,

mengenai langkah apa yang harus mereka lakukan untuk dapat menghadapi

masalah tersebut.

Menurut Walgito (1982), remaja yang biasanya dilindungi dan disayang oleh

orangtua, bila kemudian tiba-tiba harus berpisah jauh dengan orangtua, karena

3

menuntut ilmu diluar kota, akan mempunyai sikap ragu-ragu, tidak berani berdiri

sendiri, tidak berani mengambil resiko, dan selalu menggantungkan diri pada orang

lain.

Menurut Monks, (1999) orang yang mandiri, akan memperlihatkan perilaku

yang eksploratif, mampu mengambil keputusan, percaya diri, dan kreatif. Selain itu,

mampu bertindak kritis, tidak takut berbuat sesuatu, mempunyai kepuasan dalam

aktifitasnya, percaya diri, mampu menerima realitas, serta mampu memanipulasi

lingkungan, mampu berinteraksi dengan teman sebaya, terarah pada tujuan, dan

mampu mengendalikan diri. Sebaliknya, tidak adanya kemandirian pada individu,

akan menghasilkan berbagai macam problem, yaitu rendahnya harga diri, pemalu,

tidak punya motivasi sekolah, kebiasaan belajar yang jelek, perasaan yang tidak

aman, dan kecemasan.

Kemandirian merupakan aspek kepribadian yang sangat penting untuk dimiliki

oleh setiap individu, karena seseorang dalam menjalani kehidupan ini tidak pernah

lepas dari cobaan dan tantangan kehidupan. Individu yang memiliki kemandirian

yang tinggi, relatif mampu menghadapi segala permasalahan, karena individu yang

mandiri tidak tergantung pada orang lain, selalu berusaha untuk menghadapi dan

memecahkan masalah yang ada. Sebaliknya individu yang tidak dapat hidup

mandiri, akan mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada tanggung jawab serta

peran yang lebih besar, sebab seiring dengan bertambahnya usia seseorang, maka

semakin besar pula tanggung jawab serta pilihan hidup yang harus diambil

(Manoppo, 2012).

Menurut Masrun, dkk (dalam Goeritno, Soeharsono, dan Arsitasari, 2006),

kemandirian secara sosiopsikologis dianggap penting karena seseorang berusaha

4

untuk menyesuaikan diri secara aktif dengan lingkungan. Tanpa kemandirian usaha

penyesuaian diri tidak mungkin berhasil untuk mempengaruhi dan menguasai

lingkungan, bahkan seseorang akan dikuasai oleh lingkungan. Dengan kata lain,

kemandirian merupakan modal dasar bagi manusia dalam menentukan sikap dan

perbuatan terhadap lingkungan. Selanjutnya Dahlan (dalam Goeritno, dkk 2006),

mengemukakan bahwa kemandirian merupakan aspek kualitas non fisik yang

menjadikan seseorang mau atau mampu mencari sendiri pemecahan masalahnya.

Kemandirian bukanlah semata-mata merupakan pembawaan yang melekat pada

diri individu sejak lahir. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh berbagai

stimulasi yang datang dari lingkungannya, selain pot

Recommended

View more >