Ppt Psak 48 Revisi

  • View
    215

  • Download
    13

Embed Size (px)

Text of Ppt Psak 48 Revisi

PSAK No. 48 Penurunan Nilai Asset

Ringkasan ArtikelKerugian penurunan nilai terjadi ketika nilai tercatat asset melebihi jumlah yang dapat diperoleh kembali.

Permasalahan impairment: Pada intinya permasalahan mengenai standar, setidaknya menurut Schuetze, 1987, adalah mencakup ketidakjelasan pedoman dan ketidakkonsistenan. Ketiadaan pedoman mengenai impairment sudah diakui secara terus terang pada tahun 1977, misalnya oleh FASB dalam Statement 19, Financial Accounting and Reporting by Oil and Gas Producing Companies, yang menyatakan bahwa pertanyaan tentang apakah menurunkan nilai berjalan dari aset produktif ke jumlah yang diharapkan dapat ditutupi untuk penggunaan di masa depan masih belum diatur dalam prinsip akuntansi.

Alternatif pengukuran yang tersedia adalah termasuk : 1. penggunaan nilai wajar 2. nilai pengganti 3. menggunakan nilai bersih yang dapat direalisasikan 4. arus kas masa depan yang tidak didiskontokan 5. arus kas masa depan yang didiskontokan dengan menggunakan berbagai alternatif tingkat bunga. 6. kombinasi cara-cara di atas Keragaman ini telah memungkinkan praktik penurunan nilai yang berbeda pula, antara lain dengan cara: a) penurunan nilai atas aset yang masih dipelihara, baik yang menganggur maupun masih dipakai, b) penurunan nilai dengan menggunakan probabilitas, c) penurunan nilai yang didasarkan atas pengujian pengurangan manfaat. Selain itu Schuetze juga mengemukakan bahwa ketidakkonsistenan penerapan impairment telah terjadi dalam hal pemilihan keadaan yang membenarkan atau menuntut penurunan nilai.

Di dalam wacana akuntansi pemerintahan ternyata berbagai institusi penanggungjawab pengembangan akuntansi sektor publik atau pemerintahan juga belum dapat menentukan sikap pasti. Persis seperti apa yang dikemukakan oleh Schuetze, para pengembang standar akuntansi tampaknya justru menolak menyeragamkan metode penyusutan. Dua contoh berikut ini adalah buktinya.

Pertama, dalam wacana akuntansi sektor publik, the International Federation of Accountants, melalui International Public Sector Accounting Standards No. 17: Plant, Property and Equipment telah memungkinkan alternatif penyusutan alokatif dan impairment dipakai dalam mengakui adanya penurunan nilai atau potensi jasa suatu aset.

Pangkal masalah yang memungkinkan penyusutan dan impairment dipakai dalam akuntansi sektor publik ini tampaknya adalah ijin yang diberikan kepada suatu entitas untuk melakukan revaluasi aset. Untuk menerapkan impairment, IPSAS 21 membebaskan entitas memakai standar akuntansi terkait yang berlaku internasional maupun nasional. Begitupun, IFAC mengemukakan bahwa IAS 36, Impairment of Assets dapat dipergunakan.

Dalam hal terjadi impaiment, IPSAS implisit mengatur agar nilai yang terimpair dicatat sebagai kerugian yang dicatat dalam Laporan Kinerja Keuangan atau pengurang modal. Sebagai kreditnya, kerugian impairment ini dicatat sebagai langsung menurunkan nilai aset. Hal ini tampak dari penjelasan paragraf 73 IPSAS 21.

Di Amerika Serikat pada tahun 1999 Governmental Accounting Standards Boards (GASB) Statement No. 34, Basic Financial Statementsand Management's Discussion and Analysisfor State and Local Governments, mengatur bahwa pemerintah pada umumnya diminta untuk menyusutkan aset tetap mereka. Dua metode pelaporan diperkenankan oleh GASB 34 ini, terutama untuk aset infrastruktur. Kedua metode itu adalah penyusutan standar dan penyusutan modifikasian. Metode penyusutan yang diakui adalah metode garis lurus. Penyusutan dilaporkan dalam Laporan Kegiatan (Statement of Activities) sebagai beban. Penyusutan modifikasian dilakukan dengan cara memantau dan mengelola kinerja infrastruktur dan entitas yang bertanggung jawab harus menjaga aset infrastruktur tersebut dalam kondisi minimum tertentu. Modifikasi ini perkenankan karena GASB beranggapan bahwa instansi publik tidak menyusutkan aset melainkan melestarikan aset untuk memenuhi atau melebihi standar kondisi yang diinginkan.

Perkecualian ini hanya layak diterapkan jika satuan kerja : 1) membuat komitmen untuk memelihara aset pada kondisi yang ditentukan dan 2) mampu menunjukkan bahwa mereka mempertahankan komitmen tersebut (GFOA, 2002). Metode kedua (modifikasian) ini sangat berdekatan dengan makna impairment karena kewajiban untuk memantau dan mengelola kinerja infrastruktur dalam kondisi tertentu sebelum melakukan penyusutan telah sangat berdekatan dengan aturan SFAS 144 bahwa pengakuan akan adanya impairment dilakukan saat terdapat bukti bahwa nilai berjalan suatu aset atau suatu kelompok aset tidak dapat lagi ditutupi. Satu atau beberapa indikator yang merupakan petunjuk ketidakmampuan menutupi nilai berjalan tersebut. a) penurunan nilai pasar yang signifikan, perubahan fisik atau penggunaan aset b) perubahan yang berlawanan dengan maksud semula penggunaan aset akibat perubahan hukum dan iklim usaha c) pengeluaran biaya yang berlebihan

Indikasi Penurunan Nilai Entitas harus menilai pada setiap tanggal pelaporan apakah terdapat indikasi bahwa ada asset yang turun nilainya. Jika indikasi tersebut ada, entitas harus mengestimasi nilai wajar dikurangi dengan biaya untuk menjual asset tersebut. Jika tidak terdapat indikasi penurunan nilai, tidak diperlukan untuk mengestimasi nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual. Dalam menilai apakah terdapat indikasi bahwa asset kemungkinan diturunkan nilainya, entitas harus mempertimbangkan setidaknya indikasi-indikasi berikut: Sumber informasi internal 1. Tersedianya bukti keusangan atau kerusakan fisik dari asset. 2. Terjadi perubahan yang signifikan dengan pengaruh negative pada periode tertentu atau dalam waktu dekat atas cara dan bagaimana asset digunakan atau diharapkan akan digunakan. Perubahan ini termasuk asset yang tidak digunakan, pabrik yang berhenti beroperasi atau rekstrukturisasi operasional dimana asset tersebut berlokasi, rencana untuk melepaskan asset sebelum tanggal yang diharapkan sebelumnya, dan penilaian ulang umur asset menjadi terbatas dari tidak terbatas. 3.Tersedianya bukti dari pelaporan internal yang mengidentifikasikan bahwa kinerja ekonomis dari asset memburuk dari yang diharapkan.

Sumber informasi eksternal 1. Selama periode tertentu, nilai pasar asset menurun secara signifikan lebih dari yang diekspektasikan akibat berlalunya waktu atau penggunaan normal. 2.Terjadi perubahan yang signifikan dengan pengaruh negative dalam periode tertentu atau dalam waktu dekat dalam bidang lingkungan teknologi, pasar, ekonomi, atau hukum dimana entitas beroperasi atau dalam pasar dimana asset tersebut diperuntukkan. 3.Tingkat suku bunga pasar atau tingkat kembalian investasi pasar mengalami kenaikan selama periode berjalan, dan kenaikan tersebut akan berpengaruh secara material terhadap tingkat diskonto untuk menghitung nilai asset dan menurunkan nilai wajar asset dikurangi biaya untuk menjual. 4.Jumlah tercata dari asset bersih entitas lebih besar dibandingkan kapitalisasi pasarnya. Jika terdapat indikasi bahwa asset kemungkinan turun nilainya, secara otomatis juga mengidentifikasikan bahwa entitas harus menelaah ulang sisa umur dan manfaat asset atau metode penyusutan (amortisasi) untuk asset dan penyesuaiannya sesuai dengan asset tersebut.

Pengukuran Nilai Wajar Dikurangi Biaya untuk Menjual Nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual adalah jumlah yang bisa diperoleh dari penjualan sebuah atau kelompok asset antara pihakpihak yang paham dan berkeinginan untuk melakukan transaksi dengan wajar, dikurangi dengan biaya penghentian asset tersebut. Jika entitas tidak dapat mengestimasi nilai wajar asset tunggal, maka entitas harus mengukur nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual untuk kelompok asset. Untuk tujuan ini nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual harus diestimasi untuk kelompok asset paling kecil yang bisa diidentifikasi: 1. Termasuk asset yang terindikasi penurunan nilai dan 2. Memiliki nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual yang dapat diestimasi.

Nilai Wajar Dikurangi Biaya Untuk Menjual Entitas harus menentukan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual berdasarkan hirarki keandalan bukti sebagai berikut: 1. Harga dalam suatu perjanjian yang mengikat dalam transaksi antara pihak-pihak yang paham dan berkeinginan melakukan transaksi dengan wajar, disesuaikan untuk biaya tambahan yang dapat diatribusikan secara langsung dengan pelepasan asset. 2. Jika tidak terdapat perjanjian penjualan yang mengikat tetapi asset diperdagangkan dalam pasar aktif, maka nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual adalah harga pasar asset dikurangi dengan biaya pelepasan, biasanya berdasarkan harga penawaran kini. 3. Jika harga penawaran kini tidak tersedia, maka harga trasaksi terkini bisa menjadi dasar untuk mengestimasi nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual. 4. Jika tidak terdapat perjanjian penjualan yang mengikat atau pasar aktif untuk suatu asset, maka nilai wajar dikurangi biaya menjual didasarkan pada informasi terbaik yang tersedia untuk merefleksikan jumlah yang bisa diperoleh entitas, pada akhir periode pelaporan, dari pelepasan asset pada transaksi antar pihak-pihak yang paham dan berkeinginan untuk melakukan transaksi dengan wajar setelah dikurangi biaya pelepasan.

Jika nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual sebuah asset kurang dari jumlah tercatatnya, maka entitas harus menurunkan jumlah tercatat asset tersebut pada nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual. Penurunan ini diakui sebagai rugi penurunan nilai. Entitas harus mengakui segera kerugian penurunan nilai dalam laporan laba rugi. Jika jumlah estimasi kerugian penurunan nilai asset lebih besar dari jumlah tercatat asset, maka entitas harus mengakui kewajiban hanya jika hal tersebut disyaratkan oleh SAK ETAP. Setelah kerugian penurunan nilai diakui, beban penyusutan (amortisasi) asset untuk periode mendatang harus disesuaikan untuk mengalokasikan jumlah tercatat asset yang telah direvisi dikurangi dengan nilai residunya (jika ada)