of 46/46
1 USULAN PENELITIAN HIBAH BERSAING UJI RESISTENSI ANTIBIOTIK AKIBAT PAPARAN BAHAN PENGAWET MAKANAN dr. Erna Sulistyowati, M.Kes Yoyon Arif Martino, S.Si, M.Kes dr. R. Hardadi Airlangga, Sp.PD PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG APRIL, 2012

Prop Phb Esw 2012_2013

  • View
    23

  • Download
    5

Embed Size (px)

DESCRIPTION

proposal

Text of Prop Phb Esw 2012_2013

  • 1

    USULAN PENELITIAN HIBAH BERSAING

    UJI RESISTENSI ANTIBIOTIK AKIBAT PAPARAN BAHAN PENGAWET MAKANAN

    dr. Erna Sulistyowati, M.Kes

    Yoyon Arif Martino, S.Si, M.Kes dr. R. Hardadi Airlangga, Sp.PD

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

    UNIVERSITAS ISLAM MALANG APRIL, 2012

  • 2

  • 3

    DAFTAR ISI

    Halaman

    Halaman Sampul .......................................................................................................... 1

    Halaman Pengesahan .................................................................................................... 2

    Daftar Isi ....................................................................................................................... 3

    Abstrak ......................................................................................................................... 5

    BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 6

    1.1 Latar Belakang Penelitian .......................................................................... 6

    1.2 Permasalahan Penelitian ............................................................................ 6

    1.3 Tujuan Khusus ........................................................................................... 7

    1.4 Urgensi Penelitian ..................................................................................... 8

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................. 9

    2.1 Salmonella Typhi Bakteri Penyebab Demam Typhoid dan Escherichia coli

    Bakteri Penyebab Diare ................................................................................... 9

    2.2 Pengolahan Makanan dan Kemungkinan Berkembangnya Resistensi

    Antibiotik ........................................................................................................ 11

    2.2.1.Klasifikasi Resistensi Antibiotik .................................................... 12

    2.2.2. Mekanisme Multidrug Resistance ................................................. 13

    2.2.3. Penggunaan Antibiotik sebagai Bahan Pengawet Makanan ........ 15

    2.3 Diagram Road Map Penelitian ................................................................. 17

    BAB III METODE PENELITIAN ............................................................................. 19

    3.1 Desain Penelitian ...................................................................................... 19

    3.2 Tempat Penelitian .................................................................................... 19

    3.3.Sampel Penelitian....................................................................................19

    3.4 Metode Kultur dan Perlakuan .................................................................. 20

    3.5 Teknik Analisis Data ................................................................................ 23

    3.6 Bagan Alur Penelitian .............................................................................. 25

    BAB IV JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN .............................................. 27

    4.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Tahun Berjalan ....................................... 27

    4.2 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Tahun Kedua .......................................... 28

    Daftar Pustaka ............................................................................................................ 29

  • 4

    REKAPITULASI ANGGARAN PENELITIAN ....................................................... 29

    LAMPIRAN ............................................................................................................... 30

    Lampiran 1.Justifikasi Anggaran Penelitian...... ......................................................... 31

    Lampiran 2.Susunan organisasi tim peneliti dan pembagian tugas...............................33

    Lampiran 3 Ketersediaan sarana dan prasarana penelitian ............................................ 34

    Lampiran 4 Biodata Ketua dan Anggota Tim Peneliti .................................................. 35

    Lampiran 5. Surat Pernyataan Ketua Peneliti ............................................................... 40

  • 5

    ABSTRAK

    Tujuan jangka panjang penelitian ini yakni menemukan desain obat (drug design) yang

    mampu menghambat resistensi antibiotik Salmonella Typhy (S Typhy) dan Escherichia

    coli (E coli) akibat paparan bahan pengawet makanan yakni sodium benzoate, acetic

    acid, dan sodium nitrite. Tujuan jangka pendek penelitian ini adalah untuk mengetahui

    karakter fenotip dan proteomik efek paparan sejumlah bahan pengawet makanan yang

    menyebabkan resistensi sejumlah antibiotik S Typhy dan E coli sehingga penderita

    demam typhoid dan diare tidak sembuh dengan terapi antibiotik tersebut. Antibiotik

    yang diuji resistensinya yakni golongan -lactam, cephalosporin, chloramphenicol dan

    tetracycline. Metode penelitian yakni eksperimental in vitro kultur bakteri S Typhy dan

    E coli yang dipapar sejumlah bahan pengawet makanan yang banyak digunakan oleh

    masyarakat yakni sodium benzoate, acetic acid, dan sodium nitrite. Tahun pertama

    mengukur fenotip KIM (Konsentrasi Inhibisi Minimal) antibiotik golongan -lactam,

    cephalosporin, chloramphenicol dan tetracycline baik pada bakteri S Typhy dan E coli

    mutan. (sebutan bakteri yang dipapar bahan pengawet). Tahun kedua dilakukan

    karakterisasi proteomik (jenis protein) penyebab bakteri S Typhy dan E coli mutan

    resisten terhadap antibiotik. Dengan demikian luaran penelitian ini yakni model

    karakterisasi fenotip dan protein yang memperantarai mutasi bakteri S Typhy dan E coli

    mutan yang kemudian dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui model (desain)

    obat untuk menghentikan aktivitas protein penyebab resistensi antibiotik S Typhy dan E

    coli mutan yang dikaitkan dengan pajanan/paparan bahan pengawet makanan.

    Keyword: resistensi antibiotik, pengawet makanan

  • 6

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Latar Belakang

    Penyakit demam typhoid dan diare yang disebabkan oleh Salmonella Typhy dan

    E coli merupakan penyebab infeksi usus yang banyak diderita oleh masyarakat

    Indonesia (Riskesdas, 2010). Penyakit ini ditularkan melalui makanan yang

    terkontaminasi oleh bakteri tersebut. Masalah resistensi antibiotik menjadi masalah

    kesehatan yang penting saat ini, karena banyak ditemukan pasien yang tidak sembuh

    dengan antibiotik yang ada atau resisten antibiotik. Penggunaan bahan pengawet

    makanan diduga memberikan pengaruh pada resistensi antibiotik. Penelitian di Eropa

    menunjukkan bahwa beberapa isolat bakteri resisten terhadap beberapa antibiotik.

    Mekanisme resistensi diperankan oleh protein tertentu yang ditransfer oleh bakteri

    mutan karena paparan beberapa bahan desinfektan seperti chlorine. (Potenski, Gandhi,

    and Matthew, 2003)

    Bahan pengawet makanan adalah senyawa yang digunakan untuk melindungi

    makanan supaya tidak rusak karena mikroorganisme (bakteri, jamur dan sebagainya).

    Senyawa ini ditambahkan pada makanan dengan ketentuan jenis dan dosis yang

    ditentukan oleh BPOM (Badan Pengelolaan Obat dan Makanan), sehingga aman

    dikonsumsi dan tidak menimbulkan efek bagi kesehatan manusia. Namun beberapa data

    penelitian di luar negeri menyebutkan bahwa penggunaan desinfektan yang bekerja

    hampir mirip dengan bahan pengawet makanan yakni biostatika (menghambat daya

    hidup mikroba) dan dapat menyebabkan perubahan ultrastruktur bakteri sehingga kebal

    terhadap antibiotik.

    Data-data mengenai resistensi antibiotik terhadap S Typhy dan E coli karena

    paparan bahan pengewet makanan masih belum ada. Sedangkan data epidemiologi

    menunjukkan sudah terdapat resistensi obat antibiotik pada beberapa pasien demam

    typhoid dan diare.

    Permasalahan Penelitian

  • 7

    a. Apakah isolat bakteri S Typhy dan E coli yang dipapar paparan bahan pengawet

    makanan (sodium benzoate, acetic acid, dan sodium nitrite) menyebabkan

    resistensi terhadap antibiotik golongan -lactam, cephalosporin,

    chloramphenicol dan tetracycline.

    b. Adakah protein yang memperantarai mutasi bakteri S Typhy dan E coli

    yang dipapar paparan bahan pengawet makanan (sodium benzoate, acetic acid,

    dan sodium nitrite)

    Tujuan Khusus Penelitian

    Tahun pertama penelitian ini bertujuan untuk mengetahui KIM (Konsentrasi

    Inhibisi Minimal) antibiotik golongan -lactam, cephalosporin, chloramphenicol dan

    tetracycline terhadap S Typhy dan E coli mutan (karena paparan bahan pengawet

    sodium benzoate, acetic acid, dan sodium nitrite).

    Tahun kedua bertujuan untuk karakterisasi jenis protein pada Salmonella Typhy

    dan E coli mutan dengan metode SDS-PAGE dan zymography. Protein tersebut menjadi

    perantara proses mutasi bakteri S Typhy dan E coli sehingga resisten terhadap antibiotik

    golongan -lactam, cephalosporin, chloramphenicol dan tetracycline.

    Tahap lanjut penelitian ini yakni karakterisasi struktur dengan metode elusidasi

    protein agen resisten pada S Typhy dan E coli mutan terhadap antibiotik golongan -

    lactam, cephalosporin, chloramphenicol dan tetracycline melalui pengajuan proposal

    lanjutan.

    Urgensi Penelitian

    Indonesia, seperti beberapa negara berkembang lainnya, adalah negara dengan

    prevalensi penyakit infeksi yang tinggi. Salah satu penyakit yang umum ditemukan

    adalah demam typhoid (WHO, 2008). Demam typhoid merupakan penyakit yang

    ditransmisikan melalui jalur fekal-oral, yaitu melalui makanan (food-borne) yang

    terkontaminasi oleh materi fekal dan urin yang mengadung bakteri tersebut. Oleh karena

    itu, demam typhoid lebih sering ditemukan di negara-negara berkembang dengan

    tingkat sanitasi yang rendah dan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, (Parry et al,

    2002).

    Saat ini pemerintah melalui Dinas Kesehatan menganjurkan masyarakat untuk

    menjaga kebersihan dengan mencegah kontaminasi makanan dari bakteri penyebab

    penyakit (foodborne illness). Salah satu cara yang dipakai untuk melindungi makanan

  • 8

    dari kontaminasi bakteri yakni melalui penambahan bahan pengawet makanan seperti

    sodium benzoate, acetic acid, dan sodium nitrite yang banyak digunakan secara luas

    pada produk makanan dan minuman. Selain itu, maraknya penyalahgunaan penggunaan

    zat tambahan makanan berupa bahan pengawet makanan yang dikonsumsi oleh

    masyarakat memperburuk keadaan ini. Akibat dari hal tersebut yakni munculnya

    masalah resistensi antibiotik. Dengan demikian menimbulkan permasalahan lain yakni

    pasien yang terinfeksi bakteri tidak sembuh dengan antibiotika yang sering digunakan

    dalam penggunaan klinik, (Beumer, et.al, 2003).

    Rendahnya pemantauan jenis maupun dosis penggunaan bahan pengawet

    makanan dan pemakaian dalam jangka waktu yang lama menimbulkan permasalahan

    berupa mutasi bakteri. Sehingga beberapa bakteri termasuk yang komensal pada tubuh

    manusia resisten (kebal) terhadap antibiotik. Sebagaimana bakteri S Typhy, penyebab

    demam tifus dan E coli, penyebab diare diduga resisten terhadap antibiotik golongan -

    lactam, cephalosporin, chloramphenicol dan tetracycline yang secara luas digunakan di

    klinik maupun Rumah Sakit. Resistensi ini muncul diduga karena peran bahan pengawet

    makanan yang biasa digunakan. Bakteri ini mengalami mutasi dengan mensintesa agen

    resisten sehingga kebal terhadap antibiotik. Data-data mengenai mekanisme resistensi

    bakteri yang dihubungkan dengan penggunaan bahan pengawet makanan masih belum

    jelas terutama pada bakteri Salmonella Typhy dan E coli. Lebih spesifik dikaitkan

    dengan bahan pengawet makanan seperti sodium benzoate, acetic acid, dan sodium

    nitrite, ((Schmidt, 2004; Karatkaz et. al, 2008).

    Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental in vitro untuk menguji

    aktivitas agen resisten pada bakteri S Typhy dan E coli mutan terhadap beberapa

    antibiotik yang digunakan di klinik. Hasil akhir rangkaian penelitian ini adalah suatu

    protein yang diduga sebagai agen resisten antibiotik. Bilamana agen resisten ini

    diketahui, maka desain obat penghambat resisten ini bisa dibuat. Selanjutnya dilakukan

    penelitian uji in vivo untuk mengetahui efek obat tersebut. Dengan demikian pasien

    demam typhoid dan diare akibat infeksi bakteri S Typhy dan E coli bisa sembuh dengan

    antibiotik yang ada.

    Data dari World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa infeksi akut

    yang disebabkan oleh bakteri menyebabkan kematian pada 25% penduduk dunia dan

    bahkan 45% penduduk di negara berkembang. Tercatat 13 hingga 17 juta penduduk

  • 9

    dunia meninggal tiap tahun selama kurun waktu tahun 1996-2001. Himbauan bagi

    masyarakat dunia mengenai bahaya MDR (Multiple Drug Resistance) oleh WHO yakni

    bila resistensi obat tidak dikendalikan, maka akan kembali pada keadaan dimana belum

    ditemukan antibiotika. Ini menjadi permasalahan kesehatan global melawan infeksi

    yang disebabkan oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik yang banyak digunakan

    di klinik, (Schmidt, 2004). Data pada penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa

    resistensi menyebabkan upregulation protein acrAB dalam jumlah besar yang tidak

    dikendalikan oleh regulator MarA. Dengan demikian karakteristik fenotip resistensi

    ditunjukkan oleh gen ini, (Beumer, et.al, 2003). Namun mekanisme yang jelas masih

    menjadi perdebatan, dan data mengenai karakteristik bakteri yang spesifik di Indonesia

    belum ada. Dengan demikian penelitian ini dilakukan untuk menguji aktivitas resistensi

    bakteri E coli yang dipapar bahan pengawet makanan seperti sodium benzoate, acetic

    acid, dan sodium nitrite. Kemudian diuji mekanisme resistensinya terhadap antibiotik

    golongan -lactam, cephalosporin, chloramphenicol dan tetracycline. Luaran akhir

    penelitian ini hingga tahap yang akan datang yakni didapatkannya suatu biosintetik

    desain obat yang menghentikan aktivitas resistensi antibiotik. Selain itu juga didapatkan

    suatu metode diagnostik semacam biochips yang digunakan untuk skrining resistensi

    antibiotik pada bakteri yang bisa digunakan secara luas di laboratorium klinik maupun

    rumah sakit.

  • 10

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA DAN ROADMAP PENELITIAN

    2.1. Salmonella Typhi Bakteri Penyebab Demam Typhoid dan Escherichia coli

    Bakteri Penyebab Diare

    Demam typhoid merupakan penyakit akibat infeksi bakteri dari genus

    Salmonella. Salmonella, beserta beberapa genus bakteri lain seperti, Escherichia,

    Shigella, Enterobacter, Klebsiella, Serratia, Proteus dan lain-lain, digolongkan ke

    dalam famili Enterobacteriaceae Sesuai dengan namanya, bakteri dari famili ini

    memiliki habitat pada saluran cerna hewan dan manusia. Namun, tidak semua anggota

    famili tersebut bersifat patogen. Beberapa, seperti E coli, merupakan normal flora,

    sedangkan bakteri lainnya, termasuk Salmonella, bersifat patogen terhadap tubuh.

    Bakteri pada famili Enterobacteriaciae memiliki bentuk morfologi basil pendek dan

    bersifat Gram negatif (Brooks et al, 2004).

    Seperti bakteri basil Gram negatif pada umumnya, komponen penyusun bakteri

    pada famili ini merupakan prokariota dengan membran sel yang penyusun utamanya

    dari outer membrane protein (OMP) dan lipopolisakarida. Beberapa jenis bakteri pada

    famili ini memiliki kapsul (pada galur Salmonella, hanya S. Typhi yang memiliki

    kapsul), dan flagella atau fimbriae, (Brooks et al, 2004). Gambaran struktur bakteri

    dapat dilihat pada Gambar 1. Bakteri tersebut ditemukan beberapa antigen yang dapat

    penting untuk uji taksonomi dan epidemiologi. Antigen-antigen tersebut antara lain

    antigen O yang ditemukan pada dinding sel, antigen H pada flagela, dan antigen Vi pada

    kapsul. Antigen flagella yang unik, yaitu antigen Hj, ditemukan pada spesies-spesies

    Salmonella yang ditemukan di Indonesia (Joklik et al, 1992;Levinson et al, 2006;Parry

    et al, 2002). Antigen O yang dimiliki mirip dengan antigen O pada bakteri enterik

    lainnya, namun antigen H pada Salmonella bersifat diphasic, yang berarti dapat

    ditemukan pada dua fase antigenik mayor (Fase 1 atau fase spesifik dan Fase 2 atau fase

    non spesifik). Fase 1 hanya dimiliki oleh beberapa organisme dan akan bereaksi dengan

    antisera yang homolog, namun fase 2 dimiliki oleh organisme yang lebih banyak dan

    akan bereaksi dengan antisera yang heterolog (Joklik et al, 1992).

  • 11

    Gambar 1. a).Gambar skematis susunan antigenik bakteri pada famili

    Enterobactericiae (Brooks et al, 2004), b). Gambar elektron

    mikroskop Salmonella Typhi (Roumagnac et al, 2006).

    Klasifikasi Salmonellae awalnya dikelompokkan berdasarkan epidemiologi, host

    dari bakteri tersebut, reaksi biokimiawi dan apabila ada, struktur dari antigen O, H dan

    Vi. Hibridisasi DNA menunjukkan terdapat tujuh kelompok evolusi. Serotipe yang

    ditemukan paling sering menginfeksi manusia adalah dari kelompok I, meski infeksi

    oleh kelompok IIIa dan IIIb juga pernah ditemukan. Anggota dari kelompok I adalah

    Salmonella enterica subspecies enterica; kelompok lain berupa subspecies lain pula.

    Oleh karena itu, penamaan yang benar adalah sebagai berikut: Salmonella enterica

    subspecies enterica serotype Typhi (Brooks et al, 2004).

    Hampir seluruh spesies Salmonella (kecuali beberapa isolat yang langka), tidak

    dapat memfermentasikan laktosa, bersifat motil, dan menghasilkan H2S dari thiosulfat.

    Serotipe Typhi, berbeda dengan serotipe-serotipe lain, tidak dapat menghasilkan gas

    dari glukosa. Selain itu, dibandingkan dengan bakteri enterik lainnya, Salmonella lebih

    mampu bertahan terhadap asam lambung. Salmonella merupakan organisme kompleks

    yang mampu memproduksi berbagai macam faktor virulensi, termasuk antigen

    permukaan, faktor-faktor yang berperan dalam proses invasi, endotoksin, sitotoksin, dan

    enterotoksin (Joklik et al, 1992).

    Proses pengolahan makanan memerlukan tindakan yang menghambat

    pertumbuhan bakteri patogen tertentu. Beberapa bakteri yang sering ditemukan pada

    makanan antara lain Listeria sp, Shigella sp, E coli dan S Typhi. Bakteri ini masuk ke

    dalam tubuh manusia makanan (foodborne) yang terkontaminasi oleh bakteri tersebut.

  • 12

    Bakteri tersebut merupakan bakteri komensal atau disebut juga Enterobacteriaceae,

    yakni bakteri yang habitat alaminya di dalam saluran cerna (enterik).

    Enterobacteriaceae merupakan bakteri Gram negative dan merupakan normal flora usus

    manusia. Dengan demikian orang sehat pun dapat ditemukan jenis bakteri ini (misalnya

    E coli), sedangkan bakteri Enterobacteriaceae lain merupakan bakteri yang patogen (S.

    Typhi), (Brooks et al, 2006). Bila terjadi peningkatan normal flora ini akan

    menyebabkan suatu penyakit. Manifestasi klinik infeksi E. coli adalah diare atau infeksi

    pada saluran kemih (Brooks et al, 2006).

    2.2. Pengolahan Makanan dan Kemungkinan Berkembangnya Resistensi

    Antibiotik

    Sejak ditemukannya antibiotik Penicillin pada tahun 1940 menimbulkan

    pengaruh yang baik pada tingkat kesehatan manusia. Tahun 1970-an menjadi masa

    kejayaan antibiotik, atau yang kita kenal sebagai antibiotik, dimana ditemukan beberapa

    senyawa baru dengan efektivitas obat yang sangat bagus dan penyakit infeksi menjadi

    penyakit yang mudah diatasi dengan antibiotik. Namun sejak masa tahun 1980 dan tepat

    diketahui pada tahun 1990-an terjadi resistensi antibiotik dan menyebabkan penyakit

    infeksi tidak lagi sembuh dengan antibiotik. Resistensi bisa muncul akibat peresepan

    obat yang tidak rasional, pasien yang tidak memerlukan antibiotik tetapi diterapi

    dengannya. Kepatuhan pasien dalam meminum obat juga memicu resistensi ini.

    Beberapa tahun terakhir diketahui pula bahwa resistensi muncul akibat penggunaan

    desinfektan dan beberapa bahan yang dipakai dalam pengolahan makanan, (Doyle, et.

    al, 2006).

    2.2.1. Klasifikasi Resistensi Antibiotik

    Resistensi adalah suatu keadaan yang ditandai dengan kemampuan suatu strain

    mikroorganisme untuk tetap hidup dan atau berkembang biak pada lingkungan yang

    normalnya mikroorganisme tersebut tidak bisa hidup maupun berkembang biak.

    Keadaan ini bisa bersifat menetap atau dalam periode waktu tertentu. Resistensi

    antibiotik bisa terjadi baik innate (intrinsik), acquired (ekstrinsik) maupun adaptasi.

    Resistensi Innate (intrinsik)

    Resistensi ini muncul sebagai proses fisiologi dan anatomi yang normal terjadi

    pada suatu mikroorganisme. Jenis resistensi ini berbeda baik pada tipe, genera, spesies

    maupun strain mikroorganisme dan terjadi pada baik keadaan, lingkungan, maupun

  • 13

    konsentrasi tertentu. Pada resistensi ini, mikroorganisme kebal terhadap antibiotik

    karena perubahan pada dinding sel, mekanisme effluks (bakteri memompa ion antibiotik

    keluar dari sel) maupun inaktivasi enzim (menghambat kerja enzim antibiotik). Suatu

    contoh yakni bakteri gram negatif lebih mudah resisten dibanding gram positif karena

    sruktur dinding sel bakteri menjadi ganda (doubled), (Doyle, et. al, 2006).

    Resistensi acquired (ekstrinsik)

    Jenis resistensi ini muncul akibat mutasi genetik pada tempat dimana antibiotik

    bekerja (antimicrobials target) yang menimbulkan perubahan pada struktur bakteri

    maupun penempatan materi kode genetik. Jenis ini adalah yang paling banyak

    ditemukan. Suatu contoh yakni lactamase, yakni enzim yang dihasilkan oleh bakteri,

    yang mampu menghambat kerja antibiotik golongan lactam seperti penisilin dan

    sefalosporin.

    Resistensi Adaptasi

    Jenis ini muncul bilamana konsentrasi antibiotik ditingkatkan secara bertahap

    sehingga bakteri melakukan proses adaptasi. Jenis resistensi ini sering tidak stabil.

    Bilamana bakteri berada pada media yang bebas antibiotik, bakteri kembali pada serotip

    yang sensitif. Namun bila dalam media yang menghambat pertumbuhannya, bakteri

    akan bermutasi menjadi tipe wild agar tetap bisa bertahan hidup dan berkembang biak.

    Bilamana bakteri kembali pada keadaan bebas antibiotik, maka kembali pada serotipe

    semula (sebelum mutasi). Keadaan ini disebut dengan back-mutation, (Doyle, et. al,

    2006).

    2.2.2. Mekanisme Multidrug Resistance (MDR)

    Tanpa diragukan lagi, penemuan agen antibiotik (yang pertama ditemukan

    adalah Penisillin) merupakan salah satu penemuan yang mengubah sejarah dunia

    kesehatan. Pada tahun 1940, Alexander Flemming berhasil menghasilkan senyawa

    Penisilin pertama dari kultur Penicillium notatum (Katzung, 2003). Senyawa tersebut,

    yang dihasilkan oleh suatu jamur, seolah menggambarkan adanya persaingan antara

    jamur dan bakteri untuk bertahan hidup. Untuk alasan itu juga, bakteri mendapatkan

    resistensi terhadap efek toksik agen-agen antibiotik; baik melalui mutasi pada gen-gen

    bakteri tersebut atau melalui transfer gen resistensi dari bakteri lain yang telah resisten

    terhadap obat (WHO, 2010). Kemunculan bakteri resisten menyebabkan kegagalan

  • 14

    dalam upaya pengobatan, bahkan, peningkatan dan penyebaran bakteri resisten dapat

    mengembalikan dunia kesehatan ke era sebelum antibiotika.

    Saat ini, jumlah bakteri yang resisten terhadap agen antibakterial mengalami

    peningkatan dan dapat ditemukan di seluruh dunia, (SCENIHR, 2008). Peningkatan

    tersebut diduga bukan hanya disebabkan oleh mutasi baru, namun juga diakibatkan

    kebiasaan pemakaian dan sifat dari antibiotika itu sendiri, (WHO, 2010). Peningkatan

    penggunaan antibiotika diketahui diikuti suatu peningkatan jumlah bakteri resisten.

    Beberapa antibiotika bersifat broad-spectrum yang menyebabkan kematian bakteri

    secara non-spesifik, sehingga berbagai bakteri flora normal (yang salah satu fungsinya

    menekan pertumbuhan bakteri patogen) juga akan mati. Ketiadaan bakteri flora normal

    akan menyebabkan bakteri yang resisten terhadap antibiotika yang digunakan

    berkembang biak dengan pesat. Transmisi bakteri resisten dari satu manusia ke manusia

    yang lain juga dapat terjadi, baik melalui kontak langsung (misalnya antara pasien

    dengan dokter, atau pasien dengan perawat), melalui berbagai permukaan benda-benda

    di sekitar penderita, ataupun melalui air dan makanan (SCENIHR, 2008; WHO, 2010).

    Pemakaian disinfektan di rumah sakit dan biocide pada makanan ditemukan

    dapat juga menginduksi resistensi pada bakteri. Sejak tahun 1974, bakteri yang resisten

    terhadap biocide yang memiliki zat aktif klorheksidin, senyawa quaternary ammonium,

    iodofor, paraben, glutaraldehid, dan peroksigen telah dilaporkan (SCENIHR, 2008).

    Penelitian juga menemukan pemaparan bakteri dengan agen-agen biocide yang

    digunakan sebagai pengawet makanan seperti sodium nitrit, sodium benzoaet, dan acetic

    acid dapat menginduksi resistensi terhadap antibiotika yang sering digunakan untuk

    terapi, seperti tetracyline, chloramphenicol, nalidixic acid, dan ciprofloxacine. Hal ini

    merupakan masalah, karena pemakaian bahan pengawet dan agen-agen biocide pada

    makanan umum dilakukan (Potenski et al, 2003). Pada makanan sering ditemukan

    berbagai bakteri Enterobactericiae yang merupakan patogen terhadap manusia, seperti

    Shigella, Salmonella dan E coli (Brooks et al, 2004). Sehingga, dicurigai pemakaian

    bahan-bahan tersebut dalam pengolahan pangan dapat memunculkan mekanisme

    resistensi pada bakteri-bakteri patogen yang ditransmisikan melalui makanan (Potenski

    et al, 2003).

    Mekanisme resistensi yang terjadi berhubungan dengan cara kerja antibiotika

    dalam membunuh suatu bakteri. Secara sederhana, antibiotika akan berinteraksi dengan

  • 15

    permukaan sel dan diikuti dengan penetrasi agen tersebut ke dalam sel dan bekerja di

    target site. Interaksi beberapa jenis antibiotika dengan permukaan sel dapat

    menyebabkan terjadinya perubahan pada dinding sel sehingga menurunkan viabilitas sel

    bakteri (McDonell et al, 1999). Penisilin dengan senyawa aktif -lactam, misalnya,

    adalah antibiotika yang bekerja menghambat sintesis dinding sel bakteri. Sebagian besar

    antibiotika bekerja secara intraseluler. Kloramfenikol, Tetrasiklin, dan beberapa

    antibiotika lain menghambat sintesis protein bakteri. Antibiotika lain menyebabkan

    hambatan terjadinya sintesis DNA dan mencegah pembelahan sel bakteri, (Rang et al,

    2007). Sehingga, beberapa mekanisme resistensi dari bakteri bertujuan untuk

    menghambat mekanisme obat antibiotik itu sendiri.

    Berbagai bakteri resisten terhadap lebih dari satu kelas antibiotik maupun karena

    paparan bahan kimia tertentu melalui beberapa mekanisme. Bakteri tersebut dikatakan

    memiliki sifat multi-drug resistance (MDR), (SCENIHR, 2008). Klasifikasi mekanisme

    MDR dibagi menjadi menjadi genetik dan non genetik. Contoh pertahanan yang non-

    genetik adalah dinding sel, endospora, maupun pembentukan biofilm pada beberapa

    bakteri. Mekanisme genetik diartikan sebagai mekanisme yang memiliki dasar di

    genetik bakteri, baik DNA ekstranuklear maupun nuklear (Dzen et al, 2003). Pada

    dasarnya terdapat tiga cara utama bakteri mempertahankan diri dari efek toksik

    antibiotik:

    1) Melalui pertahanan mekanis yang mengubah konsentrai intraseluler dari antibiotika.

    Termasuk dalam mekanisme ini adalah penghambatan influx dari antibiotika,

    dengan mengubah permeabilitas membran, atau dengan membuat suatu pompa

    efflux yang akan mengeluarkan antibiotik yang telah masuk ke dalam sel.

    2) Melalui pertahanan enzimatis yaitu dengan menghasilkan berbagai enzim

    detoksifikasi yang mengubah antibiotika. Bakteri dapat menghasilkan enzim yang

    mampu memotong agen antibakterial sebelum memberikan efek, atau memodifikasi

    antibiotika sehingga inaktif, contohnya dengan asetiltransferase atau

    fosfotransferase.

    3) Melalui pertahanan target, dengan memutasi atau mengekspresi molekul yang

    menghambat aktivitas antibiotika terhadap targetnya. Bakteri dapat memutasi target

    antibiotika sehingga afinitas target tersebut terhadap antibiotika berkurang, atau

  • 16

    dengan menghasilkan target yang mirip dengan target sesungguhnya yang mengikat

    antibiotika dan menurunkan affinitasnya. Selain itu, bakteri dapat mensintesa

    molekul protektif yang menghambat akses antibiotika ke target, (Dzen et al, 2003;

    SCENIHR, 2008).

    2.2.3. Penggunaan Antibiotik sebagai Bahan Pengawet Makanan

    Tujuan dari proses pengolahan makanan yakni menghasilkan produk yang aman

    bagi kesehatan dan kualitas makanan yang bagus. Supaya tujuan tersebut tercapai,

    pengolahan makanan memerlukan suatu antibiotik yang digunakan untuk menghambat

    pertumbuhan bakteri. Bahan-bahan tersebut ditambahkan sebagai bahan pengawet

    makanan. Keadaan ini merupakan stressor bagi bakteri untuk mengadakan perubahan

    supaya tetap bisa bertahan hidup dan kemudian berkembang biak. Akibatnya timbul

    resistensi terhadap antibiotik. Beberapa bahan yang digunakan sebagai pengawet

    makanan antara lain garam, nitrite dan sulfites. Bahan-bahan ini digunakan untuk

    mencegah kerusakan makanan karena pertumbuhan bakteri sehingga disebut juga food

    antimicrobial agent, (Doyle, et. al, 2006, Pages, 2009).

    Dengan demikian penggunaan antibiotika dalam kehidupan manusia sehari-hari menjadi

    tidak terkontrol. Paparan terhadap bahan-bahan antibiotik ini tentu akan berdampak

    pada resistensi antibiotik itu sendiri, (Doyle, et. al, 2006).

    2.3. Roadmap Penelitian

    Seiring era kemajuan teknologi dan globalisasi, masyarakat (manusia) akan lebih

    banyak terpapar dengan produk-produk dari kemajuan tersebut, seperti limbah produksi

    pabrik, polusi udara seperti asap knalpot kendaraan bermotor, kebakaran hutan dan asap

    pabrik. Selain itu juga akan dipaparkan dengan bahan-bahan yang digunakan untuk

    meningkatkan rasa, warna dan daya tahan makanan, baik secara langsung maupun tidak

    langsung. Bahan-bahan tersebut akan menyebabkan terjadinya stres oksidatif, inflamasi

    kronis serta mempengaruhi sistem imunitas seseorang. Keberadaan berbagai macam

    polutan ini, akan sulit dihindari karena tidak diterapkannya regulasi yang benar.

    Upaya yang bisa dilakukan oleh manusia untuk mencegah dampak negatif dari

    polutan adalah melalui pemanfaatan bahan-bahan yang tersedia di keanekaragaman

    hayati kita, baik di darat maupun di laut, yang dapat digunakan untuk mencegah,

    mengobati dan merehabilitasi berbagai macam penyakit-penyakit degeneratif vaskuler

    dan neuron, kanker, imunitas, infeksi dan endocrine disruptor.

  • 17

    Sesuai visi misi Fak Kedokteran Unisma yakni memanfaatkan keanekaragaman hayati

    sebagai penunjang pengobatan, maka tujuan akhir dan target induk penelitian adalah

    menemukan obat yang berasal dari herbal guna mengatasi dampat negatif polutan.

    Target penelitian Fakultas Kedokteran Unisma pada lima tahun yang akan datang yakni:

    1. Menemukan hubungan antara penyakit degeneratif vaskuler dan neuron, kanker,

    imunitas, infeksi, endocrine disruptor dengan status kesehatan komunitas

    masyarakat yang terpapar secara langsung pada polutan :

    Hubungan insiden penyakit di atas terhadap paparan polusi udara pada

    suatu komunitas

    Hubungan insiden penyakit di atas pada masyarakat (anak-anak, remaja,

    dewasa) terhadap tingkat konsumsi food additive

    2. Menjelaskan patogenesa penyakit degenerative vaskuler (mis: aterosklerosis,

    hipertensi, DM) dan neuron (mis: Dementia, Alzheimer, Agresifitas), kanker,

    imunitas, infeksi, endocrine disruptor akibat berbagai polutan :

    Pengaruh logam berat terhadap patogenesis penyakit di atas

    Pengaruh particulate matter terhadap patogenesis penyakit di atas

    Pengaruh asap knalpot kendaraan bermotor terhadap patogenesis

    penyakit di atas

    Pengaruh zat pengawet, perasa, dan pewarna terhadap patogenesis

    penyakit di atas

    3. Menghasilkan temuan bahan nutrisi (functional food), obat alami (indigenous

    species of plant, animal and bacteria) dan pola hidup indogenous yang

    bermanfaat untuk mencegah, mengobati dan merehabilitasi penyakit di atas.

    Termasuk menemukan cocktail (kombinasi herbal medicine) yang memiliki

    efektivitas lebih tinggi :

    Bahan bersifat antibiotik

    Bahan bersifat antioksidan

    Bahan bersifat antiinflamasi

    Bahan imunostimulan, imunosupresan, dan imunomodulator

    Bahan aktif lain

    Penelitian ini merupakan satu dari polutan makanan yakni pengawet makanan

    dan efek yang dipengaruhi yakni penurunan fungsi antibiotik akibat menurunnya

  • 18

    sensitivitas akibat paparan bahan pengawet makanan tersebut. Sedangkan bakteri yang

    diteliti menyebabkan penyakit demam Typhoid dan diare yang disebabkan oleh

    Salmonela sp dan E coli.

    Secara ringkas tentang roadmap penelitian dapat dilihat pada Bagan 1 berikut.

  • 19

    Bagan 1. Roadmap penelitian

    Penyakit degeneratif vaskuler

    Penyakit degeneratif neuron

    Kanker

    Imunitas

    Infeksi

    Endocrine disruptor

    Polutan

    Udara

    Air

    Makanan

    Patomekanisme

    penyakit

    Pencegahan Terapi Rehabilitasi

    HERBAL

    Antibiotik Imunomodulator Antioksidan Bahan Aktif lain

    Karakterisasi

    Fenotip

    Pengawet makanan

    1. -lactam,

    2. cephalosporin,

    3. chloramphenicol dan

    4. tetracycline

    1. sodium benzoate,

    2. acetic acid, dan

    3. sodium nitrite

    Resistensi Antibiotik

    Kultur S typhy Kultur E coli

    DRUG DESIGN

    BIOCHIPS

  • 20

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    3.1.Desain Penelitian

    Penelitian ini merupakan penelitian eksplorasi secara eksperimental laboratoris

    In Vitro.

    3.2.Tempat Penelitian

    Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran

    Universitas Islam Malang dan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang.

    3.3. Sampel Penelitian

    Sampel pemeriksaan adalah kultur bakteri E. coli dan S. Typhi

    3.4. Metode kultur

    a. Metode kultur bakteri E.coli dan S.Typhi

    Starter bakteri E. coli dan S. Typhi didapatkan dari laboratorium Mikrobiologi

    Universitas Brawijaya dalam media agar LB. Perbanyakan bakteri kedua spesies bakteri

    tersebut dilakukan dengan penumbuhan pada media LB cair yang komposisinya adalah

    (per liter), 10g Tripton, 5g ekstrak yeast, 10g NaCl, dan 1 L dH2O. Bakteri E.coli dan S.

    Typhi ditumbuhkan pada media tersebut dengan pH 7-7.2, diinkubasi pada 37C selama

    24 jam untuk mendapatkan hasil yang terbaik.

    b. Identifikasi bakteri S. Typhi

    Pewarnaan Gram, bentuk basil, Gram negatif.

    c. Exposure S. Typhi dengan Preservatives (bahan pengawet makanan)

    Untuk melihat apakah bahan pengawet yang sering digunakan dalam bahan

    makanan dapat mengakibatkan resistensi, maka S. Typhi dipaparkan dengan

    suplementasi LB menggunakan asam asetat, asam benzoate, maupun sodium nitrit.

    Bakteri yang dikultur selama semalam dalam LB broth, suhu 37oC,

    disentrifugasi, didekantir supernatannya dan dikoleksi pellet bakterinya. Pellet bakteri

    kemudian disuspensi dalam PBS (pH 6) hingga didapatkan konsentrasi akhir suspensi

    sebesar 109

    sel/mL. Selanjutnya dilakukan suplementasi LB menggunakan asam asetat

    (0,05% w/v), asam benzoate (1.0% w/v), maupun sodium nitrit (1,0% w/v). Kemudian

    media LB tersuplementasi tersebut diinokulasikan selama semalam. Selanjutnya media

    tersebut diberikan kultur bakteri S. Typhi sebanyak 100 L merata diseluruh plate dan

  • 21

    diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37C. Bakteri yang masih dapat tumbuh setelah

    berkali-kali pemaparan preservatives disebut sebagai bakteri preservative-induced

    mutan

    Tetracyclin ditambahkan ke dalam media agar LB yang telah diset suhunya

    mencapai 50C untuk mendapatkan konsentrasi akhir 8 g mL-1

    dan dituangkan ke

    dalam plate. S. Typhi yang telah ditumbuhkan dalam 5 mL media broth LB pada 30C,

    disebarkan merata ke dalam plate tersuplementasi tetracycline. Plate tersebut

    selanjutnya diinkubasi selama 36 jam 30C dan diambil koloninya secara random.

    Proses tersebut diulangi menggunakan plate yang mengandung tetracycline 20 g mL-1

    .

    Koloni-koloni yang diambil dari plate-plate tersebut disebut sebagai antibiotic-induced

    mutans.

    Pemberian antibiotik lain dilakukan untuk membandingkan resistensi bakteri

    preservative-induced mutan terhadap resistensi beberapa antibiotik yang sering

    digunakan, yaitu Chloramphenicol, Penicillin dan Ciprofloxacin.

    Pemberian antibiotik dilakukan sebagaimana penentuan terhadap resistensi

    Tetracyclin, dengan konsentrasi yang diberikan Chloramphenicol 16 g/mL, Penicillin

    100 g/mL dan Ciprofloxacin 4 g/mL.

    Pemberian kode terhadap kultur bakteri yang telah dipapar zat kimia dilakukan

    untuk membedakan satu dengan lainnya, misalnya, paparan bakteri dengan Tetracycline

    diberi kode T, Ch untuk Chloramphenicol, P untuk Penicillin, Ci untuk

    Ciprofloxacin, SB untuk sodium benzoate, AA untuk asam asetat, dan SN untuk

    sodium nitrite.

    d. Penentuan Minimum Inhibitory Concentration (MIC) atau (Konsentrasi Inhibisi

    Minimal) KIM

    Setiap mutan yang diperoleh dari tiap-tiap zat pengawet dan antibiotik dilakukan

    pengujian terhadap resistensi pada antibiotik tetracycline, ciprofloxacin,

    chloramphenicol dan Penicillin. Pengujian microbroth dilution dilakukan mengacu pada

    prosedur dari National Committee for Clinical Laboratory Standards.

    e. Subkultur Isolat Mutan

    Isolat mutan yang diperoleh dari pemaparan bahan pengawet makanan

    disubkultur dalam LB broth tanpa agen penginduksi pada 37C selama 10 hari berturut-

    turut. Setelah serial kultur tersebut, koleksi sel MIC yang berasal dari subkultur pertama

  • 22

    dan terakhir dari tetracycline dilakukan pengujian menggunakan microbroth dilution

    assay.

    Metode Penelitian tahap II

    a. Profiling (monitoring) berat molekul protein bakteri galur murni dan

    mutan

    Adanya perubahan profil protein pada S. Typhi setelah terpapar zat

    pengawet dan resisten terhadap antibiotik dijadikan acuan awal mengenai

    mekanisme pengaruh zat pengawet tersebut terhadap terjadinya resistensi.

    Metode profiling yang digunakan menggunakan Sodium dodecyl sulfate

    polyacrilamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) berdasarkan metode

    Laemmli (1970).

    Sampel protein dipanaskan 100C selama 5 menit dalam larutan penyangga

    yang mengandung 5 mM Tris HCl pH 6,8, 2-mercapto ethanol 5%, w/v

    sodium dodecyl sulfate 2,5%, v/v glyserol 10% dengan warna pelacak

    bromophenol blue. Dipilih mini slab gel 12,5% dengan tracking gel 4%.

    Voltase yang digunakan 120 mV. Bahan pewarna yang digunakan adalah

    coomassie brilliant blue. Marker protein yang dipakai adalah prestained

    protein ladder.

    b. Pengujian adanya aktivitas enzimatik oleh bakteri mutan

    Zymografi gelatin digunakan untuk menilai aktifitas enzimatik. Secara

    singkat, disiapkan 7.5% gel poliakrilamid yang mengandung 2 % gelatin

    dan substrat yang digunakan untuk mendetekasi enzim yang diinginkan.

    Filtrat dari kultur dielektroforesis. Sampel-sampel tersebut tidak dididihkan

    sebelumnya. Setelah migrasi pada 120 V, nilai Ampere yang konstan,

    selama 90 menit, gel tersebut dicuci dengan larutan yang berisi 25% Triton-

    X selama 30 menit untuk menghilangkan SDS. Gel tersebut kemudian

    diinkubasikan dalam larutan 50 mM Tris-Cl pH 7,6, 0,2 mM NacL, 5 mM

    CaCl2, 0,2 (v/v) brij 35, pada 37 C selama 1 malam. Gel tersebut kemudian

    diwarnai menggunakan commassie brillian blue R-250.

  • 23

    c. Produksi dan Purifikasi Protein Penanda Resistensi (Protein R)

    Petunjuk penelitian seperti dilakukan oleh Ehara dengan modifikasi

    (Sumarno et al, 1991 dan Winarsih, et al, 1998). Bakteri mutan (resisten

    terhadap antibiotik akibat ekspos pengawet) tersebut dilakukan SDS-PAGE. Gel

    separasi protein tersebut diproduksi sebanyak 20 slab. Selanjutnya gel dipotong

    lurus pada bobot molekul yang dicurigai/ diinginkan dan potongan pita tersebut

    dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam tabung membran dialisa memakai cairan

    penyangga elektroforesis running buffer. Selanjutnya dilakukan elektroelusi

    menggunakan electroforesis horizontal apparatus voltase 125 mV selama 25

    menit. Hasil elektroforesis dilakukan proses dialisa. 24 jam pertama digunakan

    dH2O dan dilanjutkan menggunakan PBS pH 7,4 pada 2x24 jam berikutnya.

    Cairan dialisat berupa protein hasil potongan pita SDS-PAGE tersebut

    dipresipitasi menggunakan etanol absolut dingin. Presipitat selanjutnya disimpan

    pada freezer -20oC dan disebut sebagai protein R.

    d. Pengukuran Konsentrasi protein R

    Pengukuran konsentrasi protein R dilakukan menggunakan instrumentasi

    spektroskopi Visibel dengan larutan standar bovine serum albumin (BSA)

    konsentrasi bertingkat.

    Bagan mengenai tahapan penelitian dapat dilihat pada Bagan 1 dan Bagan 2 berikut.

    3.5. Teknik Analisis Data

    Data koloni bakteri yang tumbuh dikalkulasi dimasukkan pada tabel

    menyesuaikan kolom kelompok variabel. Kolom variabel dipisahkan pada masing-

    masing dosis antibiotik dan dosis bahan pengawet makanan. Dengan demikian variabel

    penelitian ini adalah:

    Variabel bebas:

    1. Dosis antibiotik: -lactam, cephalosporin, chloramphenicol dan tetracycline

    2. Dosis bahan pengawet makanan: sodium benzoate, acetic acid, dan sodium nitrite

    Varibel terikat:

    Jumlah koloni bakteri (tahun pertama penelitian)

    Karakterisasi Fenotip Protein (tahun kedua penelitian)

    Uraian tabulasi data dapat dilihat pada dummy table berikut ini (Tabel 3.1).

  • 24

    Selanjutnya data dianalisa dengan ANOVA dan untuk mengetahui signifikansi perbandingannya dilanjutkan dengan uji LSD (Least

    Significance Different).

    TABEL 3.1. PENGARUH ZAT PENGAWET A TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Escherichia coli

    NO NAMA

    PENGHITUNG

    PERLAKUAN KONTROL

    KET

    POSITIF

    NEGATIF DOSIS I (....)

    DOSIS II ()

    DOSIS III () DOSIS I ()

    DOSIS II

    (.)

    DOSIS III

    () A B C A B C A B C A B C A B C A B C A B C

    1

    2

    3

    4

    5

    6.

  • 25

    Bagan 2. Alur penelitian Tahun Berjalan

    Kultur Starter S. Typhi

    dan E. coli

    Dibiakkan di

    media cair

    )(LBBroth)

    2 tabung

    reaksi, S. Typhi

    dan E. coli

    Dibiakkan di media

    padat (LB Agar)

    Hitung Minimum

    Inhibitory

    Concentration

    (MIC)

    Dibuat media padat

    LB tersupplementasi:

    As.Benzoat (0,5%, 1%, 2%)

    As.Asetat (0,025%, 0,05%, 0,1%)

    Sodium Nitrit (0,5%, 1%, 2%)

    Media Padat LB broth

    3 variasi dosis,

    3 pengulangan.

    27 plate/bakteri

    Untuk 2 bakteri = 54

    plate

    Dibiakkan di

    media cair

    kembali

    Turunkan dosis

    hingga

    setengahnya

    Count:

    3

    Dibiakkan di

    media padat

    tersupplementasi

    antibiotika

    Dibuat media padat

    LB tersupplementasi:

    Tetrasiklin (8 g/mL dan 20g/ml)

    Chloramphenicol (16 g/ml)

    Penisillin (100 g/ml)

    Ciprofloxacin (4 g/ml)

    Media Padat LB broth

    5 variasi dosis,

    0 pengulangan.

    5 x 18 = 90 plate

    Resisten?

    Resisten?

    Hitung Minimum

    Inhibitory

    Concentration

    (MIC)

    Dibiakkan di

    media cair

    kembali

    Count

    : 1

    Hasil

    Hasil

    tidak

    tidak

    ya

    ya

  • 26

    ALUR PENELITIAN TAHUN KEDUA

    Bagan 3. Alur penelitian Tahun Kedua

    Pewarnaan

    CoomasieBrilliant

    Blue

    Hasil

    dibandingkan

    dan Intepretasi

    Produksi Protein

    Hasil dugaan

    Mekanisme

    Resistensi

    Keterangan:

    Zymography

    Protein Profiling

    (SDS- PAGE)

    SDS-PAGE = 18 Slab

    Zymography = 18 Slab

    Produksi = 18 bakteri x 10

    slab = 180 slab

    Jumlah Total: 216 Slab.

    18 Sampel Bakteri

    [9 bakteri E. coli

    dan 9 bakteri S.

    Typhi (Bakteri

    Mutan)] dan 2

    bakteri Non-Mutan

    Poliakrilamid Gel

    disiapkan sebagai stok Gel

    Masukkan

    sampel dalam 10

    sumur/ slab

    dengan 1x SDS

    Running Buffer

    Masukkan sampel

    dalam 10 sumur/

    slab 7,5% gel

    poliakrilamid

    dengan 2% substrat

    Gel di Running

    dengan voltase

    120 mV

    Gel di Running

    dengan voltase

    120 mV

    Ulangan 3x

    Pewarnaan

    Coomasie

    Brilliant Blue

    Substrat:

    -Tetrasiklin

    -Chloramphenicol

    -Penisilin

    -Ciprofloxacin

  • 27

    BAB IV. JADWAL PELAKSANAAN

    4.1.Penelitian Tahun Berjalan

    Penelitian akan dilaksanakan selama delapan bulan. Seluruh kegiatan penelitian direncanakan sebagai berikut :

    Jenis Kegiatan Bulan ke-

    1 2 3 4 5 6 7 8

    1. Persiapan alat dan bahan

    2. Eksplorasi kultur bakteri S typhy dan E coli

    3. Eksplorasi paparan bahan pengawet makanan

    4. Pemeriksaan kultur bakteri S typhy dan E coli mutan

    5. Eksplorasi paparan antibiotik

    6. Pemeriksaan KIM (Konsentrasi Inhibisi Minimum)

    7. Tabulasi dan analisis data

    8. Penulisan draf laporan

    9. Seminar dan diskusi

    10. Perbanyakan laporan

  • 28

    4.1.Penelitian Tahun Kedua

    Penelitian akan dilaksanakan selama delapan bulan. Seluruh kegiatan penelitian direncanakan sebagai berikut :

    Jenis Kegiatan Bulan ke-

    1 2 3 4 5 6 7 8

    1. Persiapan alat dan bahan

    2. Preparasi kultur bakteri S typhy dan E coli

    3. Preparasi Antibiotik Tetrasiklin, Kloramfenikol, Penisilin dan

    Siprofloksasin

    4. Preparasi Gel poliakrilamide

    5. Running SDS PAGE

    6. Running proses zymography

    7. Proses produksi dan purifikasi protein penanda

    8. Pengukuran Konsentrasi protein R

    9. Tabulasi dan analisis data

    10. Penulisan draf laporan

    11. Seminar dan diskusi

    10. Perbanyakan laporan

  • 29

    DAFTAR PUSTAKA

    Brooks G.F., Butel, J.S., Morse, S.A. 2004. Jawetz, Melnick & Adelbergs Medical

    Microbiology 23rd

    edition. McGraw Hill, New York, USA.

    Dzen, S.M., Roekistiningsih, Santoso, S., Winarsih, S. 2003. Bakteriologi Medik.

    Bayumedia Publishing, Malang.

    Potenski, C.J., Gandhi, M., Matthews, K.R. 2003. Exposure of Salmonella Enteritidis to

    chlorine or food preservatives increases susceptibility to antibiotics. FEMS

    Microbiology Letters 220: 181-186

    Katzung, B.G. 2003. Basic and Clinical Pharmacology 8th

    ed. McGraw Hill, New York,

    USA.

    Potenski, J. Catherine; Gandhi M; Matthews. 2003. Exposure of Salmonella Enteridis ti

    Chlorine or Food Preservatives Increases Susceptibility to Antibiotics. FEMS

    Microbiology Letters 220 : 181-186.

    NCCLS. 1999. Performance Standards for antimicrobial Disk and Dilution

    Susceptibility for Bacteria Isolated from Animals; Approced Standard. NCCLS

    document M31-A. ISBN 1-56238-377-9.

    Scientific Committee on Emerging and Newly Identified Health Risks (SCENIHR).

    2008. Effects of the Active Substances in Biocidal Products on Antibiotic

    Resistance. European Commission.

    World Health Organization (WHO). 2010. Emergence and Spread of Antimicrobial

    Resistance.http://www.who.int/drugresistance/AMR_Emergence_Spread/en/index

    .html. Diakses pada: 5 April 2010.

    REKAPITULASI ANGGARAN PENELITIAN

    No. Jenis Pengeluaran Biaya yang diusulkan (Rpx1000)

    Tahun Pertama Tahun Kedua

    1. Gaji dan Upah 9.440 10.600

    2. Bahan habis pakai dan peralatan 22.060 30.600

    3. Perjalanan lokal dan perjalanan

    antar kota untuk seminar

    2.000 3200

    4. Pelaporan, publikasi dan seminar 2.500 3000

    Jumlah 36.000 47.400

    Keterangan: uraian rekapitulasi dana dapat dilihat pada lampiran

  • 30

    LAMPIRAN

    Lampiran 1. Justifikasi anggaran penelitian

    Lampiran 1.1. Justifikasi anggaran penelitian (untuk tahun berjalan)

    1.1. Anggaran untuk Pelaksana (rupiahx1000)

    Jumlah Jam per Minggu

    per Bulan Tarif per

    Sub Total orang minggu bulan kerja jam

    Ketua 1 15 4 8 9 4,320

    Anggota 2 10 4 8 7 4.120

    Sub Total 9.440

    1.2.Anggaran Bahan Habis Pakai , Peralatan dan Jasa Teknisi (rupiahx1000)

    No. Alat/ Bahan Jumlah Satuan Harga Satuan

    (Rp) Jumlah

    1. Media LB Padat 8640 ml 1 2640

    2. Media LB Cair 900 ml 1 700

    3. Kultur Starter 2 bakteri 500 1000

    4. As. Benzoat 250 gram 860

    5. As. Asetat 250 gram 875

    6. Sodium Nitrat 250 gram 925

    7. Tetrasiklin 250 gram 720

    8. Chloramphenicol 250 gram 980

    9. Penisillin 250 gram 900

    10. Ciprofloxacin 250 gram 900

    11. Plate 144 buah 10 1040

    12. Tabung Reaksi 10 buah 10 100

    13. Erlenmeyer 10 buah 50 400

    14. Blue Tip 400

    15. White Tip 400

    16. Yellow Tip 400

    17. PBS 100 ml 1 100

    18. Jasa Teknisi 4 bulan 1500 6000

    Sewa Alat:

    19.. Spektrofotometri 40 sampel 60 120

    20. Sentrifus 200 putaran 10 2000

    21. LAF 20 kali 12 240

    22. Freezer 5 bulan 80 400

    Jumlah 22.060

  • 31

    1.3. Perjalanan lokal dan interlokal (rupiahx1000)

    No. Uraian Beaya

    1. Perjalanan lokal untuk persiapan penelitian 350

    2.

    Perjalanan lokal selama pelaksanaan

    penelitian 700

    3.

    Perjalanan interlokal untuk pembelian

    bahan dan peralatan 500

    4.

    Perjalanan lokal untuk pelaporan dan

    seminar 450

    Jumlah 2000

    1.4. Pelaporan, Publikasi dan seminar (rupiahx1000)

    No. Uraian Beaya

    1 Alat Tulis Kantor 850

    2 Fotokopi dan Penjilidan 750

    3 Penelusuran pustaka 375

    4. Sosialisasi dan Dokumentasi 525

    Jumlah 2500

    1.5. Rincian Anggaran Penelitian Tahun Berjalan (rupiahx1000)

    No.

    PERINCIAN PENGELUARAN

    UANG JUMLAH

    1 Gaji dan Upah 10.560

    2 Bahan Habis Pakai dan Peralatan 30.000

    3 Biaya Perjalanan 2.000

    4.

    Biaya kelengkapan dokumen, pelaporan,

    publikasi dan seminar penelitian 2.500

    Jumlah 45.100

    Lampiran 1.2. Justifikasi anggaran penelitian (untuk tahun kedua)

    1.1. Anggaran untuk Pelaksana (rupiahx1000)

    Jumlah Jam per Minggu

    per Bulan Tarif per

    Sub Total orang minggu bulan kerja jam

    Ketua 1 15 4 8 10 4,800

    Anggota 2 10 4 8 9 6.400

    Sub Total 10.560

  • 32

    1.2.Anggaran Bahan Habis Pakai ,Peralatan dan Jasa Teknisi

    No. Uraian Volume Beaya

    1. SDS PAGE 1 paket 3.000

    2. Zymogram 1 paket 6.000

    3. SDS PAGE slab untuk

    produksi 1 paket 21.600

    Jumlah 30.600

    1.3. Perjalanan lokal dan interlokal (rupiahx1000)

    No. Uraian Beaya

    1. Perjalanan lokal untuk persiapan penelitian 650

    2. Perjalanan lokal selama pelaksanaan penelitian 1000

    3.

    Perjalanan interlokal untuk pembelian bahan

    dan peralatan 800

    4. Perjalanan lokal untuk pelaporan dan seminar 750

    Jumlah 3.200

    1.4. Pelaporan, Publikasi dan seminar (rupiahx1000)

    No. Uraian Beaya

    1 Alat Tulis Kantor 975

    2 Fotokopi dan Penjilidan 875

    3 Penelusuran pustaka 500

    4. Sosialisasi dan Dokumentasi 650

    Jumlah 3.000

    1.5. Rincian Anggaran Penelitian Tahun Kedua (rupiahx1000)

    No.

    PERINCIAN PENGELUARAN

    UANG JUMLAH

    1 Gaji dan Upah 10.560

    2 Bahan Habis Pakai dan Peralatan 30.600

    3 Biaya Perjalanan 3.200

    4.

    Biaya kelengkapan dokumen, pelaporan,

    publikasi dan seminar penelitian 3.000

    Jumlah 47.400

  • 33

    Lampiran 2. Susunan organisasi tim peneliti dan pembagian tugas

    No. Nama dan Gelar Akademik NIDN Bidang

    Ilmu

    Alokasi

    waktu

    (jam per

    minggu)

    Uraian Tugas

    1. dr. Erna Sulistyowati, M.Kes 0713087

    501 Patologi 15 jam

    Membuat konsep penelitian

    dan mengkoordinasi tahapan

    penelitian dari persiapan

    hingga pelaporan.

    Bertanggung jawab penuh

    terhadap konten penelitian

    2. Yoyon Arif Martino, S.Si.,

    M.Kes

    0718117

    601

    Mikrobiolo

    gi 10 jam

    Keahlian dalam ilmu

    mikrobiologi yang berkaitan

    dengan topik penelitian

    tentang perubahan

    karakteristik bakteri akibat

    paparan bahan pengawet.

    3. dr. R. Hardadi Airlangga,

    SpPD

    Ilmu

    Penyakit

    Dalam

    10 jam

    Keahlian dalam bidang

    penyakit yang berkaitan

    derngn penanganan infeksi

    di saluran pencernaan.

    Berkontribusi menjadi

    sumber referensi penyakit

    yang sesuai dengan topik

    penelitian..

    Lampiran 3. Ketersediaan sarana dan prasarana penelitian

    Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Islam

    Malang mempunyai sarana dan prasarana laboratorium yang berupa 3 (tiga) unit

    terpadu. Laboratorium terpadu I yang mempunyai luas 36 m2 dan laboratorium terpadu

    II luas 36 m2. Laboratorium terpadu I adalah laboratorium yang digunakan secara

    bersama-sama untuk kegiatan praktikum mata kuliah Histologi dan Patologi Anatomi,

    Parasitologi Kedokteran dan Biologi Kedokteran. sedangkan laboratorium terpadu II

    adalah laboratorium yang digunakan secara bersama-sama untuk kegiatan praktikum

    Mikrobiologi, Patologi Klinik, Biokimia dan Keragaman Hayati, Kimia Kedokteran,

    Fisika Kedokteran dan Fisiologi. Ketersediaan sarana prasarana di kedua laboratorium

    tersebut mendukung kegiatan penelitian ini terutama pada tahap kultur bakteri.

  • 34

    Sedangkan pemeriksaan SDS PAGE dan Zymography dilakukan di laboratorium

    Biomedik Fak Kedokteran Univ Brawijaya Malang yang kebetulan menjadi pembina

    pada Program Hibah PHK-PKPD (HPEQ) Unisma.

    Lampiran 4. Biodata Ketua dan Anggota Tim Peneliti

    4.a.Biodata Ketua Peneliti

    1. Nama Lengkap ( dengan

    gelar ) dr Erna Sulistyowati., M.Kes (P)

    2. Jabatan Fungsional Lektor/III-C

    3. Jabatan Struktural Kepala Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

    Fak Kedokteran Unisma

    4. NPP 205.02.00004

    5. NIDN 0713087501

    6. Tempat lahir/Tanggal Lahir Nganjuk/13 Agustus 1975

    7. Alamat Rumah Bukit Cemara Tidar A59B Malang

    8. Nomor handphne 081333859975

    9. Alamat Kantor Jl. MT Haryono 193 Malang

    10. Nomor Telpon/Fax (0341)578920/(0341)558958

    11. Alamat e mail [email protected]

    12. Lulusan yang telah dihasilkan S1=86 orang

    13. Mata Kuliah yang Diampu

    1.Patologi Anatomi

    2.Pertumbuhan Perkembangan Manusia

    3.Sistem Kardiovaskuler

    4.Sistem Muskuloskeletal

    5. Sistem Perkemihan

  • 35

    5.a.Riwayat Pendidikan

    S1 S2

    Nama Perguruan Tinggi Universitas Brawijaya Universitas Brawijaya

    Bidang Ilmu Pendidikan Dokter Biomedik

    Tahun Masuk-Lulus 1995-2001 2002-2006

    JudulSkripsi/Thesis Promosi Penggunaan ASI dan

    MP-ASI yang Benar pada Bayi

    Usia 0-2 tahun sebagai Upaya

    Menekan Tingginya Jumlah

    Morbiditas dan Mortalitas

    Diare

    Efek Shear Stress

    terhadap Perubahan

    Morfologi, Struktur

    Vascular Endothelial

    Cadherin (VE-

    Cadherin) dan Densitas

    Sel Endotel pada kultur

    sel Endotel Umbilikus

    (HUVECs) yang

    dengan paparan

    Glukosa Tinggi

    Nama Pembimbing dr.Nurtjahjo Budi Santoso,SpA Prof.dr.H.M.Aris

    Widodo,MS., SpF.,

    PhD

    5.a.Pengalaman Penelitian 5 (lima) tahun terakhir

    No. Tahun Judul Penelitian

    Pendanaan

    Sumber Jumlah

    (Juta Rp)

    1. 2006

    Peran VE-Cadherin pada lepasnya

    sel endotel dalam Kultur Sel

    Endotel Umbilikus Bayi

    (HUVECs) yang diekspos Fluid Shear Stress

    Penelitian Dosen

    Muda

    DITLITABMAS

    DIKTI

    10

    2. 2007

    Lepasnya Sel Endotel dan

    Vascular Endothelial Cadherin

    (VE-Cadherin) dalam Kultur Sel

    Endotel Umbilikus Bayi

    (HUVECs) yang diekspos Glukosa dan Fluid Shear Stress

    Penelitian Dosen

    Muda

    DITLITABMAS

    DIKTI

    10

    3. 2008

    Pemanfaatan Ekstrak Daun Ubi

    Jalar Ungu (Ipomoea

    batatas(L)Lam) sebagai bahan

    Tabir Surya untuk Sediaan

    Kosmetika

    Penelitian Dosen

    Muda

    DITLITABMAS

    DIKTI

    10

    4. 2009

    Peran Gingipain terhadap

    Ekspresi TLR-4, IL-6 dan TNF- dari kultur jaringan adipose

    subkutan dan pengaruhnya

    terhadap disfungsi jaringan

    adipose subkutan (Studi

    Adiposopati in vitro Kultur

    Risbin Iptekdok

    Balitbang

    DEPKES

    125

  • 36

    Adiposit Subkutan)

    5. 2010

    Kemandirian Masyarakat Miskin

    Bantaran Sungai Brantas Kota

    Malang Melalui Metode

    Partisipatory Urban

    Empowerement yang Berbasis

    Edukasi Guna Mencapai

    Kesejahteraan masyarakat

    Penelitian

    Education for

    Sustainable

    (ESD)

    DITLITABMAS

    DIKTI

    150

    6. 2010

    Efek Ekstrak Etanolik Daun Ubi

    Jalar Ungu [Ipomoea batatas (L.)

    Lam] Terhadap Kadar MDA dan

    Kadar SOD Jaringan Otot Skelet

    Mencit dengan Aktivitas Fisik

    Maksimal

    Insentif Penelitian

    Fak Kedokteran

    Unisma

    10

    6. a.Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 (lima) tahun terakhir

    No. Tahun Kegiatan Pengabdian pada

    Masyarakat

    Pendanaan

    Sumber Jumlah

    (Juta Rp)

    1. 2009

    Kemandirian Perawatan Kesehatan

    Santri Pada Pesantren Dhuafa An-Nur

    III Bululawang Melalui Teknologi

    Budidaya TOGA dan Ramuan Obat

    Pencegah Penyakit

    Penerapan

    Ipteks

    DITLITABMAS

    DIKTI

    7,5

    2. 2009 Advokasi dan Penguatan Kuasa (Kelola

    dan Manfaat) DEPAG 2

    3 2010

    IbM (Ipteks bagi Masyarakat) bagi

    Ponpes An Nur Bululawang Kab

    Malang

    IbM

    DITLITABMAS

    DIKTI

    50

    4. 2010

    Program ESD (Education for

    Sustainable Development),

    Kemandirian Masyarakat Miskin

    Bantaran Sungai Brantas Kota Malang

    melalui metode Partisipatory Urban

    Empowerement yang berbasis edukasi

    guna mencapai kesejahteraan

    Masyarakat

    Penelitian

    Education for

    Sustainable

    (ESD)

    DITLITABMAS

    DIKTI

    150

    5. 2011

    Bakti sosial Masyarakat dalam rangka

    kegiatan Malang Health Community

    Bekerjasama dengan GP Ansho, Fatayat

    NU se- Malang Raya dan Radar Malang

    Jawa Pos

    Fak Kedokteran

    Unisma dan

    Jawa Pos Group

    25

  • 37

    7.a.Penulisan Artikel Ilmiah dalam Jurnal dalam lima tahun terakhir

    No. Judul Artikel Ilmiah Nomor/volume/tahun Nama Jurnal

    1.

    Peran VE-Cadherin pada lepasnya

    sel endotel dalam Kultur Sel

    Endotel Umbilikus Bayi

    (HUVECs) yang diekspos Fluid Shear Stress

    2012 (in press)

    MKI (Majalah

    Kedokteran

    Indonesia)

    8.a.Pengalaman Penyampaian Makalah Secara Oral Pada Pertemuan / Seminar

    Ilmiah Dalam 5 Tahun Terakhir

    No. Nama Pertemuan Ilmiah Judul Artikel Ilmiah Waktu dan

    Tempat

    1.

    Seminar Hasil Penelitian Dosen

    Muda dan Kajian Wanita, Hibah

    DP2M Dikti Kemdikbud,

    Unisma, Malang

    Lepasnya Sel Endotel

    dan Vascular

    Endothelial Cadherin

    (VE-Cadherin) dalam

    Kultur Sel Endotel

    Umbilikus Bayi

    (HUVECs) yang diekspos Glukosa dan

    Fluid Shear Stress

    Malang

    2.

    Seminar Hasil Penelitian Hibah

    Risbin Iptekdokkes Departemen

    Kesehatan

    Peran Gingipain

    terhadap Ekspresi TLR-

    4, IL-6 dan TNF- dari kultur jaringan adipose

    subkutan dan

    pengaruhnya terhadap

    disfungsi jaringan

    adipose subkutan (Studi

    Adiposopati in vitro

    Kultur Adiposit

    Subkutan)

    Yogyakarta

    3.

    Presentasi Poster Abstrak

    Penelitian pada The 9th

    International Congress on AIDS

    in Asia and the Pacific (ICAAP)

    The role phychological

    inhibitation and CD4 T-

    Cell levels in HIV-

    Seropositive

    Nusa Dua, Bali

    4.

    Seminar Hasil Penelitian Hibah

    Penelitian Internal Fakultas

    Kedokteran Unisma

    Efek Ekstrak Etanolik

    Daun Ubi Jalar Ungu

    [Ipomoea batatas (L.)

    Lam] Terhadap Kadar

    MDA dan Kadar SOD

    Jaringan Otot Skelet

    Mencit dengan Aktivitas

    Fisik Maksimal

    Unisma

    5.

    Seminar Hasil Pengabdian pada

    Short ourse Dirjen Pendis Depag

    RI

    Advokasi dan Penguatan

    Kuasa (Kelola dan

    Manfaat)

    Unisma

  • 38

    6. Seminar Hasil Pengabdian IbM

    Ditlitabmas Dikti

    IbM (Ipteks bagi

    Masyarakat) bagi Ponpes

    An Nur Bululawang Kab

    Malang

    Surabaya

    7.a.Penghargaan yang Pernah Diraih dalam 10 tahun Terakhir (dari pemerintah,

    asosiasi atau institusi lainnya)

    No. Jenis Penghargaan Tingkat Tahun

    1. Pembimbing Pendamping Skripsi Terbaik Fakultas Kedokteran

    Unisma 2012

    2. Pemenang Kompetisi Tingkat Nasional

    Bidang Pengabdian Masyarakat ESD Unisma 2010

    3.

    Pemenang Kompetisi Tingkat Nasional

    Bidang Pengabdian Masyarakat

    Ipteksbagi Masyarakat

    Unisma 2010

    Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat

    dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai

    ketidak-sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima risikonya.

    Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu

    persyaratan dalam pengajuan Hibah Bersaing.

    Malang, 9 April 2012

    Pengusul,

    dr. Erna Sulistyowati,M.Kes

  • 39

    4.b.Biodata Anggota Peneliti Pertama

    1. Nama Lengkap ( dengan gelar ) Yoyon Arif Martino, S.Si., M.Kes (L)

    2. Jabatan Fungsional Asisten Ahli/III-B

    3. Jabatan Struktural Wakil Unit Lab Keterampilan Klinik FK

    Unisma

    4. NPP 205.02.00002

    5. NIDN 0718117601

    6. Tempat lahir/Tanggal Lahir Malang/18 Nopember 1976

    7. Alamat Rumah Jl.Bantaran Gang VA/6C Malang

    8. Nomor handphne 081334484187

    9. Alamat Kantor Jl. MT Haryono 193 Malang

    10. Nomor Telpon/Fax (0341)578920/(0341)558958

    11. Alamat e mail [email protected]

    12. Lulusan yang telah dihasilkan S1=86 orang

    13. Mata Kuliah yang Diampu

    1.Biologi Kedokteran

    2.Mikrobiologi

    3.Patofisiologi Penyakit Genetik

    4.Biologi Molekuler Sel

    5.b.Riwayat Pendidikan

    S1 S2

    Nama Perguruan

    Tinggi Universitas Islam Malang Universitas Brawijaya

    Bidang Ilmu Fakultas Matematika dan Ilmu

    Pengetahuan Alam/ Biologi

    Biomedik

    Tahun Masuk-

    Lulus 1996-2000 2000-2003

    JudulSkripsi/Tesis Pemeriksaan Kualitas Air Sumur dan

    Indeks Adhesi Isolat Eschericia coli

    Asal Sumur Penduduk Keluraha

    Rampal Celaket Pada Ephitelium

    Usus Kelinci (Lepus sp)

    Deteksi Protein

    Adhesin Outer

    Membrane Protein

    (OMP) Pseudomonas

    aeroginosa 9064 pada

  • 40

    Sel Epitelium Vesika

    Urinaria Kelinci

    Nama

    Pembimbing/ Prof.Dr.dr.H.Soemarno,

    MS., SpMK

    6.b.Pengalaman Penelitian 5 (lima) tahun terakhir

    No. Tahun Judul Penelitian

    Pendanaan

    Sumber Jumlah

    (Juta Rp)

    1. 2010

    Potensi Larvasida Minyak Atsiri

    Serai Wangi (Cymbopogin nardus

    L) Terhadap Larva Nyamuk Culex

    sp

    Insentif

    Penelitian

    Fak Kedokteran

    Unisma

    10

    6. 2010

    Efek Ekstrak Etanolik Daun Ubi

    Jalar Ungu [Ipomoea batatas

    (L.) Lam] Terhadap Kadar MDA

    dan Kadar SOD Jaringan Otot

    Skelet Mencit dengan Aktivitas

    Fisik Maksimal

    Insentif

    Penelitian

    Fak Kedokteran

    Unisma

    10

    7.b.Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 (lima) tahun terakhir

    No. Tahun Kegiatan Pengabdian pada

    Masyarakat

    Pendanaan

    Sumber Jumlah

    (Juta Rp)

    1. 2009 Pemberdayaan Masyarakat Bantul pasca

    Gempa

    Fak Kedokteran

    Unisma 15

    2. 2010 Pemberdayaan Masyarakat Lereng Gunung

    Merapi Sleman pasca letusan

    Fak Kedokteran

    Unisma 15

    3. 2011

    Bakti sosial Masyarakat dalam rangka

    kegiatan Malang Health Community

    Bekerjasama dengan GP Ansho, Fatayat

    NU se- Malang Raya dan Radar Malang

    Jawa Pos

    Fak Kedokteran

    Unisma dan

    Jawa Pos Group

    25

    8.b. Pengalaman Penyampaian Makalah Secara Oral Pada Pertemuan / Seminar

    Ilmiah Dalam 5 Tahun Terakhir

    No. Nama Pertemuan Ilmiah Judul Artikel Ilmiah Waktu dan

    Tempat

    1. Seminar Hasil Penelitian Internal

    Fak KedokteranUnisma

    Potensi Larvasida Minyak

    Atsiri Serai Wangi

    (Cymbopogin nardus L)

    Terhadap Larva Nyamuk

    Culex sp

    Malang

  • 41

    Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat

    dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai

    ketidak-sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima risikonya.

    Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu

    persyaratan dalam pengajuan Hibah Bersaing.

    Malang, 9 April 2012

    Pengusul,

    Yoyon Arif Martino, S.Si.,,M.Kes

  • 42

    4.c.Biodata Anggota Peneliti Kedua

    1. Nama Lengkap ( dengan gelar ) Dr. H.R.M.Hardadi Airlangga,SpPD

    (L)

    2. Jabatan Fungsional Asisten Ahli/III-B

    3. Jabatan Struktural Dekan Fak Kedokteran

    4. NPP 208.02.00001

    5. NIDN 0707116401

    6. Tempat lahir/Tanggal Lahir Malang/7 Nopember 1964

    7. Alamat Rumah Jl.Ronggolawe Singosari Kab Malang

    8. Nomor handphne 0341-7768404, 08125243868

    9. Alamat Kantor Jl. MT Haryono 193 Malang

    10. Nomor Telpon/Fax (0341)578920/(0341)558958

    11. Alamat e mail [email protected]

    12. Lulusan yang telah dihasilkan S1=86 orang

    13. Mata Kuliah yang Diampu

    1.Ilmu Penyakit Dalam

    2.Sistem Gastroenterohepatologi

    3. Sistem Endokrinologi

    4. Sistem Kegawatdaruratan Medik

    5.c.Riwayat Pendidikan

    S1 S2

    Nama Perguruan Tinggi Universitas YARSI Universitas Airlangga

    Bidang Ilmu Fakultas Matematika dan Ilmu

    Pengetahuan Alam/ Biologi

    Spesialisasi Penyakit Dalam

    Tahun Masuk-Lulus 1985-1991 2000-2005

    JudulSkripsi/Thesis

    Nama Pembimbing/ Prof.Dr.dr.H.Soemarno,MS.,

    SpMK

  • 43

    6.c.Pengalaman Penelitian 5 (lima) tahun terakhir

    No. Tahun Judul Penelitian

    Pendanaan

    Sumber Jumlah

    (Juta Rp)

    1. 2001

    Perbedaan Perubahan Klinis dan

    Laboratoris penderita Demam

    Typhoid Pada Pemberian Nutrisi

    Tinggi Kalori Tinggi Protein,

    Viitamin dan Mineral dibanding

    kelompok kontrol di Ruang

    Tropik Infeksi SMF Penyakit

    Dalam RSUD Dr Soetomo- Lab

    Penyakit Dalam FK Universitas

    Airlangga Surabaya

    CV. Otsuka dan

    Lab IPD RSUD

    dr. Soetomo

    50

    2. 2009

    Manfaat Ekstrak Ubi Jalar Ungu

    (Ipomoea batatas (L) Lam untuk

    Mengurangi Kerusakan Jaringan

    Paru karena Asap Rokok

    Insentif

    Penelitian

    Fak Kedokteran

    Unisma

    10

    3. 2010

    Efek Ekstrak Etanol Daun

    Seledri (Apium Graviolense L)

    Terhadap Kadar Ldl Dan

    Trigliserida Tikus Tua Strain

    Wistar

    Insentif

    Penelitian

    Fak Kedokteran

    Unisma

    10

    7.c.Pengalaman Pengabdian Kepada Masyarakat dalam 5 (lima) tahun terakhir

    No. Tahun Kegiatan Pengabdian pada

    Masyarakat

    Pendanaan

    Sumber Jumlah

    (Juta Rp)

    1. 2009 Pemberdayaan Masyarakat Bantul pasca

    Gempa

    Fak

    Kedokteran

    Unisma

    15

    2. 2010 Pemberdayaan Masyarakat Lereng

    Gunung Merapi Sleman pasca letusan

    Fak

    Kedokteran

    Unisma

    15

    3. 2011

    Bakti sosial Masyarakat dalam rangka

    kegiatan Malang Health Community

    Bekerjasama dengan GP Ansho, Fatayat

    NU se- Malang Raya dan Radar Malang

    Jawa Pos

    Fak

    Kedokteran

    Unisma dan

    Jawa Pos

    Group

    25

  • 44

    8.b. Pengalaman Penyampaian Makalah Secara Oral Pada Pertemuan / Seminar

    Ilmiah Dalam 5 Tahun Terakhir

    No. Nama Pertemuan Ilmiah Judul Artikel Ilmiah Waktu dan

    Tempat

    1.

    Pertemuan Ilmiah Tahunan Ilmu

    Penyakit Dalam, Asosiasi Dokter

    Spesialis Penyakit Dalam tahun

    2002

    Perbedaan Perubahan

    Klinis dan Laboratoris

    penderita Demam

    Typhoid Pada

    Pemberian Nutrisi

    Tinggi Kalori Tinggi

    Protein, Viitamin dan

    Mineral dibanding

    kelompok kontrol di

    Ruang Tropik Infeksi

    SMF Penyakit Dalam

    RSUD Dr Soetomo-

    Lab Penyakit Dalam

    FK Universitas

    Airlangga Surabaya

    Surabaya

    2. Seminar Hasil Penelitian Internal

    Fak KedokteranUnisma

    Efek Ekstrak Etanol

    Daun Seledri (Apium

    Graviolense L)

    Terhadap Kadar Ldl

    Dan Trigliserida Tikus

    Tua Strain Wistar

    Malang

    Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat

    dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila di kemudian hari ternyata dijumpai

    ketidak-sesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima risikonya.

    Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu

    persyaratan dalam pengajuan Hibah Bersaing.

    Malang, 9 April 2012

    Pengusul,

  • 45

    dr. H.R.M.Hardadi Airlangga,Sp.PD

    SURAT PERNYATAAN

    Yang bertanda tangan di bawah ini:

    Nama : dr. Erna Sulistyowati, M.Kes

    NPP / NIDN : 205.02.00004/0713087501

    Pangkat / Golongan : Penata/III-C

    Jabatan Fungsional : Lektor

    Alamat : Bukit Cemara Tidar A59B Malang

    Dengan ini menyatakan bahwa proposal penelitian saya dengan judul Uji Resistensi

    Antibiotik Akibat Paparan Bahan Pengawet Makanan yang diusulkan dalam skim

    Penelitian Hibah Bersaing tahun anggaran 2013-2014 bersifat original dan belum pernah

    dibiayai oleh lembaga / sumber dana lain.

    Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidak sesuaian dengan pernyataan ini, maka saya

    bersedia dituntut dan diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mengembalikan

    seluruh biaya penelitian yang sudah diterima ke kas negara.

    Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenar-benarnya.

    Malang, 8 April 2012

    Mengetahui, Yang menyatakan,

    Ketua Lembaga Penelitian

    Dr.Ir.H.Masyhuri M.,MP dr. Erna Sulistyowati, M.Kes

    NIDN. 07.25.066.501 NPP. 205.02.00004

  • 46