Proposal Kreativitas Verbal

  • View
    36

  • Download
    2

Embed Size (px)

Transcript

HUBUNGAN KREATIVITAS VERBAL

DENGAN KEBERANIAN MENGUNGKAPKAN PENDAPAT PADA MAHASISWA FAKULTAS PSIKOLOGI ANGKATAN 2009 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh:

Siti Manar Mufidah06410036

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

JANUARI 2010

LATAR BELAKANG

Belajar merupakan aktivitas manusia yang penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, bahkan sejak mereka lahir sampai akhir hayat. Pernyataan tersebut menjadi ungkapan bahwa manusia tidak dapat lepas dari proses belajar itu sendfiri sampai kapanpun dan dimanapun manusia itu berada dan belajar juga menjadi kebutuhan yang terus meningkat sesuai dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan. Menurut Cronbach (dalam Syaiful Bahri, 2002) belajar adalah suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Perubahan perilaku dalam proses belajar didapatkan melalui persepsi. Persepsi menurut Matlin dan Solso (dalam Suharnan 1989; 1988) adalah suatu proses penggunaan pengetahuan yang telah dimiliki (yang disimpan di dalam ingatan) untuk mendeteksi atau memperoleh dan menginterpretasi stimulus (rangsangan) yang diterima oleh alat indera seperti mata, telinga dan hidung.

Hal yang paling penting dalam proses belajar adalah terjadinya interaksi antar sesama, interaksi itu akan mendatangkan pengalaman belajar. Dengan mengacu kepada pendapat Vernon A. Magnessen maka dapat dipahami bahwa belajar adalah 10% dari apa yang dibaca, 20% dari apa yang didengar, 30% dari apa yang dilihat, 50% dari apa yang dilihat dan didengar, 70% dari apa yang dikatakan, 90% dari apa yang dikatakan dan dilakukan. (Bobbi DePorter, Mark readon,Sarah Singer-Nouri, 2007). Puncak dalam proses pembelajaran adalah manakala pembelajar mengatakan sesuatu dan sekaligus juga melaksanakannya dalam proses belajar itu. Pada umumnya dalam sebuah pembelajaran khususnya di perguruan tinggi, masalah yang sering muncul adalah kurangnya aktivitas belajar dan rendahnya penalaran mahasiswa yang disebabkan oleh kurangnya perhatian mahasiswa dalam belajar, baik di kelas maupun di luar kelas. Pada prinsipnya setiap mahasiswa perlu memiliki perhatian yang besar dalam belajar. Dalam sistem pendidikan tinggi kedudukan mahasiswa bukan sebagai penerima ilmu pengetahuan saja, melainkan sebagai pemroses ilmu pengetahuan melalui aktifitas. Mahasiswa harus sadar akan kedudukannya sebagai pelajar, pemikir dan pemrakarsa serta pejuang untuk kelak mengemban misi pembangunan nasional melalui proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. (Tjok Rai Partadjaja dan Made Sulastri, 2007)

Sejak pendidikan dasar, peserta didik di Indonesia, telah dibiasakan untuk bersikap pasif dalam belajar. Di sekolah hanya terjadi komunikasi satu arah oleh pengajar dan sangat kurang ruang untuk berpendapat atau menuangkan gagasan. Secara terus menerus, budaya tersebut terpupuk dan akhirnya tertanam dalam diri peserta didik, bahkan hingga pendidikan tinggi. (http://winarto.in/2009/06/berpendapat-menulis-dan-sistem-pendidikan/). Padahal salah satu hasil akhir dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi adalah tercapainya kemandirian mahasiswa terutama dalam belajar. Mahasiswa diharapkan tidak tergantung kepada dosen melainkan harus aktif dalam proses belajar.

Sistem kredit semester yang berlaku di perguruan tinggi terwujud dalam dua jenis kegiatan belajar, yaitu kegiatan belajar tatap muka dengan dosen (kuliah), dan kegiatan belajar yang dilakukan mahasiswa tanpa kehadiran dosen yakni kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri. Kedua jenis kegiatan tersebut sangat membutuhkan keaktifan belajar yang tinggi dari mahasiswa. Pada kegiatan belajar tatap muka dengan dosen mahasiswa tidak hanya duduk mendengar ceramah dosen serta mencatatnya, melainkan dituntut untuk berpikir, mengungkapkan pendapat, bertanya serta menanggapi apa yang disampaikan dosen bahkan menerapkan apa yang dipelajari di dalam kelas ke dalam aktifitas sehari- hari.

Namun hal- hal di atas tidak dimiliki oleh semua mahasiswa khususnya mahasiswa baru. Bahkan lebih banyak dari mereka yang menunjukkan sikap pasif dalam proses pembelajaran. Hal ini dibuktikan oleh Tjok Rai Partadjaja dan Made Sulastri berdasarkan pengalaman selama menjadi pengajar hanya sekitar 30-40% mahasiswa yang aktif dalam perkuliahan, selebihnya menunjukkan prilaku diam, hanya mendengar atau menyimak penjelasan dosen atau pendapat temannya, bahkan terdapat mahasiswa yang melakukan aktivitas yang membuatnya tidak dapat mengikuti perkuliahan dengan baik, seperti berbicara dengan teman yang duduk di dekatnya. Hal ini tetap saja terjadi meskipun dosen berusaha memotivasi dan memberikan kesempatan untuk aktif bertanya menjawab pertanyaan, ataupun memberikan pendapat, pemikiran dan ide-ide untuk memecahkan suatu persoalan yang muncul dalam proses perkuliahan. Kondisi ini menjadi lebih parah lagi dengan adanya kelas-kelas yang jumlah mahasiswanya mencapai 40-60 orang. (Tjok Rai Partadjaja dan Made Sulastri, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan).

Rendahnya keaktifan belajar ini terdapat berbagai faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal atau faktor yang berasal dari diri mahasiswa itu sendiri maupun faktor eksternal yakni faktor yang berasal dari luar diri mahasiswa. Faktor internal yang dapat berpengaruh pada aktivitas belajar antara lain sikap, motivasi, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kepercayaan diri, bakat, dan minat. Sedangkan faktor eksternal antara lain bahan ajar, sumber belajar, lingkungan tempat belajar, dan faktor guru (dosen). Terkait dengan sikap kurangnya keaktifan berpendapat yang dilakukan oleh mahasiswa berhubungan dengan rasa percaya diri mahasiswa, seperti yang diungkapkan oleh Lauster (dalam Sri Weni, 2009) bahwasannya karakteristik seseorang yang memiliki kepercayaan diri adalah percaya pada kemampuannya sendiri, bertindak mandiri dalam mengambil keputusan, memiliki konsep diri yang positif serta berani mengungkapkan pendapat. Sehingga seseorang yang berani mengungkapkan pendapat adalah orang yang memiliki kepercayaan diri. Bagi seorang mahasiswa kepercayaan diri sangat diperlukan sekali. Berbeda dengan masa selama menjadi siswa, di tingkat Perguruan Tinggi mahasiswa dihadapkan pada situasi belajar yang menuntut mereka lebih mandiri, aktif, dan berinisiatif dalam mencari informasi. Selain itu, mahasiswa juga dituntut untuk berani dan percaya diri dalam berhubungan dengan orang lain serta mengungkapkan pendapat atau ide- ide yang ada dipikirannya. Semua ini untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi pribadi yang mandiri dan inovatif ketika terjun ke masyarakat mengabdikan ilmunya.

Dalam suasana akademik baik secara formal maupun informal, kepercayaan diri sangat diperlukan bagi seorang mahasiswa. Adanya kepercayaan diri mampu mendorong mahasiswa berani dalam berpendapat. Umumnya kegiatan yang melibatkan siswa dalam mengeluarkan pendapatnya adalah ketika terdapat diskusi di dalam kelas pada pelaksanaan perkuliahan. Kaitannya dengan kepercayaan diri, bahwa sebagian besar dari mereka yang ikut aktif dalam diskusi adalah mereka yang percaya diri untuk mengungkapkan pendapat mereka.

Hal tersebut sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Siti Fatimah (2003) dalam skripsinya yang menyatakan bahwa antara tingkat percaya diri dengan tingkat keaktifan berdiskusi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan positif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kepercayaan diri seseorang maka semakin tinggi pula tingkat keaktifan berdiskusi atau keberanian seseorang dalam mengungkapkan dan mengutarakan pendapat serta ide- ide yang dimilikinya

Keberanian mengungkapkan pendapat berkaitan erat dengan keberanian berbicara. Guntur Tarigan (1981:15) mengemukakan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, mengatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Arsjad dan Mukti U.S. (1993: 17-20) mengemukakan bahwa untuk menjadi pembicara yang baik, seorang pembicara harus menguasai masalah yang sedang dibicarakan, dan harus berbicara dengan jelas dan tepat. Selanjutnya Arsjad dan Mukti menjelaskan bahwa terdapat faktor- faktor keefektifitasan dalam berbicara, yaitu faktor kebahasaan yang meliputi ketepatan ucapan, penempatan tekanan, nada sandi, dan durasi yang sesuai, pilihan kata dan ketepatan sasaran kebahasaan. Dan faktor non kebahasaan yang meliputi sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku, pandangan harus diarahkan pada lawan bicara, kesediaan menghargai pendapat orang lain, kenyaringan suara, kelancaran, relevansi atau penalaran dan penguasaan topik.

Melihat teori tersebut maka seseorang yang berani mengungkapkan pendapat lebih cenderung kepada faktor non- kebahasaan. Yaitu memiliki sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku, pandangan harus diarahkan pada lawan bicara, kesediaan menghargai pendapat orang lain, kenyaringan suara, kelancaran, relevansi atau penalaran dan penguasaan topik.Torrance (Munandar, 1999b) mengungkapkan kreativitas verbal sebagai kemampuan berpikir kreatif yang terutama mengukur kelancaran, kelenturan, dan orisinalitas dalam bentuk verbal. Kreativitas verbal merupakan kemampuan mencipta yang berhubungan dengan kelancaran dalam pengungkapan gagasan, memiliki banyak alternatif gagasan serta mengungkapkan gagasan yang baru dan unik dalam bentuk verbal. Selain itu juga mampu membuat orang lain memahami dan menerima ide tersebut. (http://klinis.wordpress.com/2008/11/22/kreativitas-verbal/)Untuk menumbuhkan kreatifitas verbal yang baik dapat dimulai melalui lingkungan yang responsif. Sebagaimana yang dikatakan Torrance (dalam Ali dkk, 1981) bahwa lingkungan keluarga adalah salah satu faktor berkembang atau terhambatnya kreativitas anak. (Torrance, dalam Ali dkk, 1981:55). Hubungan orang tua dengan anak yang