REFARAT DEPRESI

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Referat Jiwa Depresi

Text of REFARAT DEPRESI

BAB IPENDAHULUAN

Depresi merupakan problem kesehatan masyarakat yang cukup serius. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa depresi berada pada urutan keempat penyakit di dunia. Sekitar 20% pada wanita dan 12% pada pria, pada suatu waktu dalam kehidupannya pernah mengalami depresi.1 Depresi adalah suatu perasaan sedih yang sangat mendalam terjadi setelah mengalami suatu peristiwa dramatis atau menyedihkan, misalnya kehilangan seseorang yang sangat disayangi. Depresi merupakan suatu gangguan alam perasaan (suasana hati atau mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang berlebihan, murung, tidak bersemangat, merasa tidak berharga, merasa hidupnya hampa dan tidak ada harapan, pemikirannya berpusat pada kegagalan dan kesalahan diri atau menuduh diri, dan sering disertai iri dan pikiran bunuh diri. Penderita depresi sering tidak berminat pada penampilan diri dan aktivitas sehari-hari.2,3 Seseorang bisa jatuh dalam kondisi depresi jika ia terus-menerus memikirkan kejadian pahit, menyakitkan, keterpurukan dan peristiwa sedih yang menimpanya dalam waktu lama melebihi waktu normal bagi kebanyakan orang. Bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu gangguan depresi.2,4 Depresi bukanlah gangguan yang homogen, tetapi merupakan fenomena yang kompleks. Bentuknya sangat bervariasi, sehingga kita mengenal depresi dengan gejala yang ringan, berat, dengan atau tanpa ciri psikotik, berkomorbiditas dengan gangguan psikiatri lain atau dengan gangguan fisik lain. Keberanekaragaman gejala depresi ini diduga karena adanya perbedaan etiologi yang mendasarinya.1

1

BAB IITINJAUAN PUSTAKA II.1. Definisi Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan dan kesedihan yang mendalam dan berkelanjutan sehingga hilangnya kegairahan hidup, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (Reality Testing Ability, masih baik), kepribadian tetap utuh atau tidak mengalami keretakan kepribadian (Splitting of personality), perilaku dapat terganggu tetapi dalam batasbatas normal (Hawari Dadang, 2006).5 Selain itu depresi dapat juga diartikan sebagai salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan (afektif mood), yang ditandai dengan kemurungan, kelesuan, ketidakgairahan hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain sebagainya.5 Depresi adalah suatu gangguan perasaan hati dengan ciri sedih, merasa sendirian, rendah diri, putus asa, biasanya disertai tandatanda retardasi psikomotor atau kadang-kadang agitasi, menarik diri dan terdapat gangguan vegetatif seperti insomnia dan anoreksia (Kaplan Sadock,2003).5

II.2. Epidemiologi Sebuah survey di AS dan UK: 20 % populasi memiliki sejarah gangguan depresi dalam hidupnya. Sedangkan di Indonesia menurut Survei Kesehatan Mental Rumah Tangga yang dilakukan di 11 kota oleh Jaringan Epidemiologi Psikiatri Indonesia tahun 1995 menunjukan bahwa 185 per 1.000 penduduk rumah tangga dewasa memperlihatkan gejala gangguan kesehatan jiwa. Studi Proporsi Gangguan Jiwa oleh Direktorat Kesehatan Jiwa, Departemen Kesehatan, di 16 kota selama kurun waktu 1996-2000 menjumpai : gangguan disfungsi mental (kecemasan, depresi, dsb) sebanyak 16,2 %. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Depkes menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional pada anggota rumah tangga dewasa (di atas 15 tahun) 140 per 1.000. Pada anak dan remaja (5-15 tahun) 104 per 1.000.6

2

Kejadian depresi pada wanita lebih sering dibandingkan pria (5:2). Bisa terjadi pada setiap umur, tetapi paling banyak terjadi pada usia 25-44 tahun. Pasien depresi juga beresiko terhadap terjadinya alcoholism, penyalahgunaan obat, kejadian bunuh diri, gangguan kecemasan, dan lain-lain. Ada kecenderungan hubungan famili dengan kejadian depresi yaitu sebesar 8-18% pasien depresi memiliki sedikitnya satu keluarga dekat (ayah, ibu, kakak atau adik) yang memiliki sejarah depresi.6 Depresi dapat terjadi pada siapa pun, golongan mana pun, keadaan sosial ekonomi berapa pun. Tetapi umumnya depresi mulai timbul pada usia 20 sampai 40 tahunan. Depresi biasanya berlangsung sampai 6-9 bulan, dan sekitar 15-20% penderita bisa berlangsung sampai 2 tahun atau lebih. Episode depresi cenderung berulang sebanyak beberapa kali dalam kehidupan seseorang.2 Depresi pada anak-anak dan remaja. Fobia sekolah dan menggendong pada orangtua yang berlebihan mungkin merupakan gejala depresi pada anak-anak. Prestasi akademik yang buruk, penyalahgunaan zat, perilaku antisosial, promiskuitas seksual, membolos dan melarikan diri mungkin merupakan gejala depresi pada remaja.7 Depresi pada usia lanjut. Depresi adalah paling sering pada usia lanjut dibandingkan pada populasi umum. Berbagai penelitian telah melaporkan prevalensi terentang dari 25%-50%, walaupun walaupun berapa presentasi kasus tersebut adalah depresi berat adalah tidak diketahui. Sejumlah penelitian telah melaporkan data yang menyatakan bahwa depresi pada usia lanjut mungkin berhubungan dengan status sosioekonomi rendah, kematian pasangan, penyakit fisik yang menyertai, dan isolasi sosial. Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa depresi pada lanjut usia adalah jarang didiagnosa dan jarang diobati, sebagian terutama oleh dokter umum. Jarang dikenalinya depresi pada lanjut usia mungkin karena pengamatan bahwa depresi adalah lebih sering tampak dengan gejala somatik pada lanjut usia daripada kelompok usia muda.7

II.3. Penyebab dan Faktor Risiko Hingga sekarang, seperti juga pada kebanyakan gangguan jiwa, penyebab dari depresi belum diketahui secara pasti. Beberapa penyakit mempunyai penyebab

3

yang jelas dan spesifik sehingga pengobatannya juga bisa khusus atau spesifik untuk mengatasi penyakit tersebut. Namun tidak demikian halnya dengan depresi. Sepertinya penyebab depresi bersifat komplek atau multi faktor. Depresi bukan hanya disebabkan oleh adanya gangguan keseimbangan kimia didalam otak yang cukup disembuhkan dengan minum obat obatan. Para ahli berpendapat bahwa depresi disebabkan oleh kombinasi faktor biologis, psikologis dan sosial.3 Depresi bisa terjadi dan semakin memburuk dengan atau tanpa disertai stress karena masing-masing bisa berdiri sendiri, tidak saling terkait. Biasanya para wanita dua kali lebih mudah mengalami depresi dibandingkan pria. Kecenderungan ini belum diketahui dengan jelas apa penyebabnya, tetapi mungkin karena tergantung pada orang lain, terutama pada suaminya. Atau karena wanita cenderung memberikan respon terhadap kesengsaraan atau kesulitan hidup dengan cara menarik diri/menyendiri dan menyalahkan diri sendiri. Sebaliknya pria yang mengalami kesulitan hidup cenderung menolak atau mengalihkannya ke berbagai kegiatan lain.2 Ada beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab atau faktor resiko terkena depresi, yaitu antara lain:3 Kesepian atau keterasingan (loneliness) Pengalaman hidup yang menekan (stressful) akhir akhir ini Kurangnya dukungan sosial Riwayat penyakit depresi pada keluarga Perbedaan biologis (neurotransmitter atau hormonal) Adanya masalah keluarga atau masalah perkawinan Masalah keuangan, menganggur atau tidak punya pekerjaan Adanya trauma atau pelecehan pada masa kanak kanak Penyalahgunaan obat atau narkotika Pola pikir yang negatif. Menurut teori stress-vulnerability model, ada beberapa resiko atau faktor penyebab depresi, yaitu:3 1. Genetika dan riwayat keluarga. Riwayat pada keluarga dengan penyakit depresi bukan berarti anak atau saudara akan menderita depresi. Penelitian menunjukkan bahwa pada orang-orang4

dengan riwayat keluarga penderita depresi maka kemungkinannya terkena depresi akan sedikit lebih besar dibandingkan masyarakat pada umumnya. Penelitian pada anak kembar, bila salah satunya terkena depresi, maka anak yang lebih mempunyai kemungkinan 40-50% terkena depresi. Artinya ada faktor predisposisi terhadap depresi. Hanya saja, tanpa adanya faktor pemicu, maka yang bersangkutan tidak akan terkena depresi. Faktor predisposisi depresi bisa terjadi juga karena anak meniru cara bereaksi yang salah dari orang tuanya yang menderita depresi. 2. Kerentanana psikologis(psychological vulnerability). Kepribadian dan cara seseorang menghadapi masalah hidup kemungkinan juga berperan dalam mendorong munculnya depresi. Orang orang yang kurang percaya diri, sering merasa cemas, terlalu bergantung pada orang lain atau terlalu mengharap pada diri sendiri, perfeksionist (maunya sempurna), merupakan jenis orang yang gampang terkena depresi. 3. Lingkungan yang menekan (stressful) dan kejadian dalam hidup (live events). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pelecehan diwaktu kecil, perceraian atau ditinggal mati orang tua, kejadian pada orang dewasa diberhentikan-PHK, pensiun, ditinggal mati suami/istri, masalah keuangan keluarga yang serius, bisa memicu timbulnya depresi. Menderita penyakit berat yang lama dan hidup menderita dalam jangka lama juga sering menjadi faktor penyebab depresi. 4. Faktor biologis. Diduga kuat bahwa norepinephrin dan serotonin adalah dua jenis neurotransmitter yang bertanggungjawab mengendalikan patofisiologi gangguan alam perasaan pada manusia. Pada binatang percobaan, pemberian anti depressan dalam waktu sekurang-kurangnya dua sampai tiga minggu, berkaitan dengan melambatnya penurunan sensitifitas pada reseptor post synaptic beta adrenergic dan 5HT2. Temuan terakhir penelitian biogenic amine menunjukkan dukungan terhadap hipotesa bahwa gangguan alam perasaan (mood) pada umunya, khususnya episode depresif terjadi kekacauan regulasi norepinephrin dan serotonin dijaringan otak yang dapat dikoreksi oleh zat antidepressant dalam jangka waktu dua sampai tiga minggu. Depresi kadang muncul setelah melahirkan atau terkena infeksi virus atau infeksi lainnya. Hal ini menunjukkan adanya faktor biologis dalam masalah depresi.

5

Mengetahui penyebab kenapa seseorang menderita depresi akan sangat memudah