Referat Virtual Autopsy

  • View
    866

  • Download
    73

Embed Size (px)

Text of Referat Virtual Autopsy

KATA PENGANTARPuji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang maha Esa karena atas rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan yang berjudul Virtual Otopsi.Laporan ini dibuat guna memenuhi salah satu syarat tugas kepaniteraan klinik di bagian Ilmu kedokteran Forensik FK UNDIP. Referat ini disusun sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam rangka menyelesaikan program pendidikan profesi dokter pada bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas kedokteran Universitas Diponegoro. Dalam usaha penyelesaian ini, kami banyak memeperoleh bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu kami ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada : 1. dr. Bambang L. Prameng Sp.F selaku pembimbing dalam penulisan laporan selama berada di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik. 2. dr. M. Faizal Zulkarnaen, selaku pembimbing dalam penulisan laporan selama berada di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Akhir kata semoga referat ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

Semarang, Januari 2012

Penyusun

1

DAFTAR ISIKata Pengantar Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Bab I Pendahuluan Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penulisan Bab II Tinjauan Pustaka Definisi Otopsi Sejarah Otopsi Penolakan Otopsi Konvensional Definisi Otopsi Virtual Teknik Otopsi Virtual Akurasi Otopsi Virtual Otopsi Virtual vs Otopsi Konvensional Keuntungan dan Kerugian Otopsi Virtual Dasar Hukum Otopsi Virtual Bab III Penutup Kesimpulan Saran 34 35 9 9 10 11 12 16 22 24 26 5 7 8 1 2 3 4

2

Daftar Pustaka

36

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Herniasi Tonsil dengan Pemeriksaan (a) MRI, (b) Otopsi Konvensional Gambar 5. Perdarahan Intamedular pada Medulla Oblongata dengan Pemeriksaan (a) MRI, 18 (b) Otopsi Konvensinal, (c) Histopatologi H&E x400

13 14 16 17

18 Gambar 6. I. Acute Myocardial Infarction, (A) MRI, (B) Histologi: Nekrosis Sentral pada Lesi dengan Serat-Serat Eoshinophilik tanpa Inti dan terdapat Contraction Band Necrosis. H$E x400 II.Chronic Myocardial Infarction, (A,B,C) MRI, (D) Makropatologi, 20 Gambar 7.A. Sedimentasi Aspirasi, B. Histologi, H&E x 400 (1).Bronkospasme, Emfisema; 21 (2).Paru-paru Normal. (E&F) Histologi. H&E x 100

3

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Temuan Hasil Pemeriksaan Radiologi dengan Hasil Temuan Otopsi Konvensional 19 Tabel 2. Kemampuan Mendeteksi Trauma antara Otopsi dan PMCT 22

4

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Pada periode-periode awal, pemeriksaan otopsi merupakan hal penting dalam dunia kedokteran.Otopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, yang meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan` interpretasi atau penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebab kematian serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian.1 Pemeriksaan otopsi akhir-akhir ini lebih banyak untuk kepentingan peradilan (otopsi medikolegal atau otopsi forensik) dibandingkan untuk pembelajaran penyakit (otopsi klinik). Pusat-pusat pendidikan kedokteran dan rumah-rumah sakit sangat jarang melakukan otopsi klinik. Di Inggris kurang dari 10 % pemeriksaan otopsi yang dilakukan diluar sistem coroner,

5

begitu juga di Indonesia, fakultas kedokteran jarang melakukan otopsi klinik.Banyak alasan mengapa penurunan ini terjadi, diantaranya karena masalah agama dan budaya, biaya pemeriksaan yang tinggi, ketakutan keluarga dan dokter mengetahui sebab kematian yang pasti. Di Inggris tahun 1999-2000 kurang lebih 23 % kematian post operatif terrnyata diagnosis premortem berbeda dengan diagnosis postmortem. Hal ini menyebabkan ketakutan bagi dokter karena dapat dituntut telah melakukan malpraktek.1,2 Di RSUP Dr. Kariadi Semarang pemeriksaan otopsi yang sering dilakukan adalah otopsi forensik. Permintaan pemeriksaan Visum Et Repertum Jenazah di rumah sakit ini tahun 2005 terdapat 206 kasus, tahun 2006 sebanyak 190 kasus, tahun 2007 sebanyak 193 kasus. Dari permintaan tersebut sebagian besar hanya meminta pemeriksaan luar saja, sedangkan permintaan pemeriksaan lengkap, baik pemeriksaan luar dan dalam (otopsi) yaitu tahun 2005 sebanyak 38 kasus, tahun 2006 sebanyak 41 kasus dan 2007 sebanyak 22 kasus.1 Beragamnya jenis kasus yang dihadapi memerlukan teknik pemeriksaan otopsi tersendiri. Seorang dokter perlu mengetahui berbagai macam teknik otopsi karena akan mempermudah tugasnya dalam melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan akan menjadi lebih teliti sehingga dapat menyimpulkan sebab kematian dengan lebih baik.1 Salah satu jenis pemeriksaan nya ada di beberapa negara berkembang, dimana radiografi menjadi hal yang langka bagi kehidupan pasien, dan beberapa standar bantuan terhadap ahli patologi yang tidak dapat diharapkan. Dalam konsepsi yang lebih besar, negara-negara kaya, selalu menelaah masalah ini secara benar, disini adanya mobilisasi peralatan atau perlengkapan yang tersedia dan kadang-kadang digunakan oleh ahli patologi forensik.2 Pada otopsi virtual tidak memerlukan tindakan (pemotongan) jaringan tubuh, melainkan menggunakan alat-alat diagnostik canggih untuk melihat kelainan yang terjadi dalam organ-

6

organ dalam. Teknik pemindaian canggih sebenarnya sudah mulai digunakan dalam proses melakukan otopsi sejak tahun 1977 dan terus berkembang sampai sekarang. Pada otopsi virtual tidak diperlukan pembukaan rongga-rongga badan dan maupun pemotongan jaringan tubuh. Dengan menggunaan teknik pemindaian yang memungkinkan melihat secara komplet keadaan tubuh dalam 3 dimensi, semua informasi yang penting seperti posisi dan ukuran luka maupun keadaan patologis lainnya dapat diketahui dan didokumentasikan tanpa harus melakukan tindakan invasif.3 3D virtual autopsy table adalah alat visualisasi medis yang unik dan baru, dimana dapat memungkinkan orang untuk mengeksplorasi dalam tubuh manusia. Beberapa pengguna dapat berinteraksi secara kolaboratif dan secara bersamaan, bekerja dengan data yang besar dan kompleks untuk memperoleh lebih pemahaman dan wawasan ke dalam fungsi dan proses di dalam tubuh. Virtual otopsi sudah dimanfaatkan berhasil untuk melengkapi autopsi konvensional. Itu membagi-bagikan dengan kebutuhan untuk prosedur bedah invasif yang memungkinkan ahli medis untuk melihat hal-hal yang akan sulit untuk menemukan dengan metode konvensional. Teknik juga dapat diterapkan dalam banyak bidang kesehatan dan praktek medis. 3D virtual autopsy table juga sedang digunakan untuk mendidik mahasiswa kedokteran tentang anatomi manusia tanpa memerlukan mayat. Hal ini juga membantu untuk perencanaan operasi.Tim medis dapat memutuskan pada strategi bedah terbaik untuk kasus individual sebelum membuat pertama dipotong. Pencitraan postmortem bukanlah hal yang baru, tetapi dengan 3D pencitraan itu telah membuatnya menjadi lebih berlaku untuk Kedokteran forensik.4 Diduga banyak ditemukan keuntungan dari teknologi yang baru yaitu 3D virtual autopsy table yang belum ada di Indonesia, maka dengan ini kami mengambil kasus 3D virtual autopsy table sebagai judul refarat kami.

7

Rumusan Masalah 1. Apakah pengertian dari otopsi virtual? 2. Apakah keuntungan dan kerugian dari otopsi virtual? 3. Bagaimanakah dasar hukum dari otopsi virtual di Indonesia?

Tujuan Penulisan Tujuan Umum Tujuan umum dari pembuatan referat ini adalah untuk memberikan pengetahuan mengenai otopsi virtual kepada tenaga medis khususnya dokter dan calon dokter.

Tujuan Khusus 1. Mengetahui pengertian dari otopsi virtual 2. Mengetahui keuntungan dan kerugian dari otopsi virtual 3. Mengetahui dasar hukum dari otopsi virtual

8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Otopsi Otopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, Autopsi berasal kata dari Auto = sendiri dan Opsis = melihat.yang meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atau penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebab kematian serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian.

Sejarah Otopsi Ahli anatomi dan patologi zaman dahulu dahulu adalah pemburu,penjual daging, dan koki yang harus mengenali organ-organ dan menentukan organ tersebut dapat digunakan atau tidak. Di zaman Babylonia kuno, sekitar 3500 SM, pelaksanaan otopsi pada hewan bertujuan 9

untuk kepentigan mistik seperti memprediksi masa depan degan berkomunikasidengan kekuatan gaib. Bangsa Mesir, Yunani, Romawi dan Eropa melakukan pembedahan hewan selain untuk alasan keagamaan juga untuk mempelajari susunan anatominya, namun hal ini tidak dilakukan secara sistemik. Pada zaman Yunani kuno (131-200 SM) Galen, seorang filsuf yang sangat dihormati, berkuasa dan mempunyai pemikiran yang mendominasi bahkan sampai ratusan tahun kemudian, melakukan pembedahan binatang dan manusia untuk mempelajari susunan anatominya. Sikap umum masyarakat sebelum abad ke-17 terhadap otopsi tubuh manusia adalah negatif.Pada sekitar akhir tahun 1200, Fakultas Hukum Universitas Bologan mempunyai dominasi yang besar, memerintahkan dilakukan otopsi untuk membantu memecahkan masalahmasalah hukum.Pada akhir tahun 1400 Paus Sixtus IV mengeluarkan aturan yang mengizinkan pembedahan tubuh manusia oleh mahasiswa kedokteran untuk pendidikan.Sebelum aturan dari pemimpin agama tersebut dikeluarkan, pembedahan tubuh manusia termasuk tindakan kejahatan. Pada tahun 1500, otopsi secara umum diterima oleh Gereja Katolik, sehingga

pemeriksaan terhadap anatomi tubuh manusia dapat dilakukan secara sistemik. Sementara itu beberapa ahli saat itu, seperti Vesalius (1514-1564), Pare (1510-1590), Lancisi (1654-1720), dan Boerheave (1668-1771) mengembangkan otopsi, Giovanni Bathista Morgagni (1682-1771) dianggap ahli otopsi pertama terhebat. Selama observasinya selama 6