Rencana Proyek Taman Nasional Web view Rencana Proyek Kampanye Pride Taman Nasional Wakatobi Ucapan

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

Rencana Proyek Taman Nasional Wakatobi

Rencana Proyek Kampanye Pride Taman Nasional Wakatobi

Ucapan Terimakasih dan Persetujuan Dokumen Proyek

Dengan tersusunnya dokumen Perencanaan Proyek Kampanye Pride Campaign di Taman Nasional Wakatobi ini, ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan dan penyelesaian Dokumen Proyek ini. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada :

1. Bapak Wahju Rudianto, S.Pi, selaku Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi

2. Tim RARE Indonesia

3. Bapak La Ode Ahyar Thamrin Mufti, S.Pi, M.T selaku Kepala SPTNW-I Wanci dan sebagai supervisor dalam Program Pride Campaign di TN.Wakatobi

4. Bapak Untung Suripto, S.T, M.T, selaku Kepala SPTNW-II Kaledupa yang menjadi fokus lokasi kegiatan Pride Campaign

5. Tim Survey KAP Pra Kampanye (Teman-teman FORKANI, Polhut SPTNW-II Kaledupa, dan masyarakat Pulau Kaledupa).

Serta semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyelesaian dokumen rencana proyek Pride Campaign Rare ini. Semoga sebagai dokumen perencanaan yang bersifat adaptif, dokumen ini mampu digunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan program ini dan memberikan pembelajaran yang bermanfaat bagisemuapihak.

Contents

iiiUcapan Terimakasih dan Persetujuan Dokumen Proyek

viDaftar Tabel

viDaftar Gambar

11. RINGKASAN EKSEKUTIF

11.1. Ringkasan Teori perubahan

11.2. Gambaran kampanye yang memberikan tinjauan lokasi, demografi, ringkasan hasil analisis survey KAP

21.3. Strategi Kampanye Secara Umum

21.4. Adaptif management

32. PENDAHULUAN

32.1. Kondisi Penangkapan Berlebih ( Kondisi Perikanan di lokasi Kampanye )

32.2. Mengenai Campaign Manager

43. LOKASI PROYEK

43.1. Deskripsi Lokasi

43.1.1. Nama lokasi , Propinsi, Kabupaten

53.1.2. Peta lokasi (Koordinat dengan zonasi

53.1.3. Status Kawasan Lindung (UU, Peraturan Pemerintah)

63.1.4. Luasan hektar kawasan yang menjadi fokus kampanye

63.2. Khalayak utama dan Penduduk

63.3. Target konservasi (Terumbu Karang, Habitat dll)

143.4. Strategi Konservasi, Kegiatan, dan Pengalaman Lembaga Bekerja di Kawasan Proyek

164. TIM KAMPANYE dan PEMANGKU KEPENTINGAN

164.1. Tim Kampanye

174.2. Analisa Pemangku Kepentingan

215. CONCEPT MODEL

215.1. Diagram Konsep Model

215.2. Narasi Konsep Model

216. ANALISIS ANCAMAN

216.1. Peringkat Ancaman

226.2. Analisis dari Rantai faktor yang menjadi ancaman, hubungan sebab akibat secara logis

237. RANTAI HASIL DAN SASARAN AWAL

237.1. Diagram dan Narasi dari RANTAI HASIL

267.2. Sasaran Sasaran Awal

278. PENELITIAN KUALITATIF/KUANTITATIF

278.1. Penelitian Kualitatif

278.1.1. Focus Group Discussion (METODE,HASIL ANALISIS)

288.2. Penelitian Kuantitatif Mendapatkan Data Dasar ( BASELINE, METODE, ANALISIS)

288.2.1. K A IC BC Data ( METODE, , ANALISIS)

478.2.2. TR dan CR Data ( METODE, ANALISIS)

489. STRATEGI KAMPANYE

489.1. Memahami Khalayak

519.2. SMART Objective

539.3. Rencana Pemantauan Kampanye

549.4. Rencana Pemantauan KAP IC dan BC

549.5. Rencana Pemantauan TR

549.6. Rencana Pemantauan CR

549.7. Rencana Pemantauan BROP

5510. STRATEGI PENYINGKIRAN HALANGAN

5510.1. Pemangku Kepentingan Strategi Penyingkiran halangan dan tugasnya

5610.2. Tim Penyingkiran Halangan

Error! Bookmark not defined.Tim Proyek Utama Penyingkiran Halangan

5910.3. BR audience

6010.4. Objective proyek

6410.5. Kegiatan kunci

Error! Bookmark not defined.* dalam jutaan rupiah

6610.6. Resiko resiko

6711. TATA WAKTU dan ANGGARAN

6711.1. Workplan ( Gantt Chart)

6711.2. Anggaran Kampanye

6711.3. Anggaran Penyingkiran Halangan

6812. THEORY OF CHANGE

6812.1. Tabel TOC

6912.2. Narasi TOC

Daftar Tabel

Daftar Gambar

1. RINGKASAN EKSEKUTIF 1.1. Ringkasan Teori perubahan

Teori perubahan untuk kampanye Pride di kawasan Taman Nasional Wakatobi, Pulau Kaledupa adalah untuk mengimplementasikan secara efektif Wilayah Larang Tangkap (Zona Perlindungan Bahari dan Zona Pariwisata) yang terjaga sebagai upaya mengurangi dampak penangkapan ikan berlebihan (overfishing). Maka pengetahuan bahwa Wilayah Larang Tangkap (Zona Perlindungan Bahari dan Zona Pariwisata) yang berfungsi sebagai “bank ikan” dan mampu memulihkan kondisi sumberdaya perikanan disampaikan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat dengan sukarela mendukung zonasi sebagai sistem pengelolaan TN.Wakatobi yang didalamnya terdapat wilayah larang tangkap dan mendukung aturan penghentian penangkapan ikan dalam kawasan larang tangkap tersebut. Untuk menghilangkan hambatan teknis dan psikologi dalam perubahan perilaku tersebut maka dilakukan pemasangan marka sebagai penunjuk dan penanda batas kawasan larang tangkap, patroli pengawasan oleh masyarakat atas aktifitas yang masih ada dalam kawasan larang tangkap untuk mendukung penegakan aturan mengenai Kawasan Larang Tangkap tersebut. Keberhasilan Program Pride ini ditunjukkan dengan meningkatnya biomassa ikan karang sebesar 10% pada 2 (dua) lokasi kawasan larang tangkap yang ada di Pulau Kaledupa.

1.2. Gambaran kampanye yang memberikan tinjauan lokasi, demografi, ringkasan hasil analisis survey KAP

Kampanye Pride ini akan dilaksanakan di Pulau Kaledupa yang merupakan salah satu pulau yang ada dalam kawasan Taman Nasional Wakatobi (TNW) yang terletak di Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara Indonesia. Wakatobi merupakan singkatan dari 4 (empat) pulau besar yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. TNW merupakan kawasan perairan yang berfungsi utama sebagai sistem penyangga kehidupan, sebagai perwakilan ekosistem wilayah ekologi perairan laut Banda-Flores (Banda Flores Marine Eco-region) yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Kepulauan Wakatobi termasuk pada wilayah Pusat Segitiga Karang Dunia (Coral Tri-Angle Center) yang memiliki keanekaragaman terumbu karang dan jenis biota laut lainnya khususnya ikan tertinggi di dunia.

Salah satu keistimewaan Pualu Kaledupa adalah adanya karang atol dengan Panjang lebih kurang 49.26 km dan lebar 9.75 km yang merupakan atol tunggal terpanjang di Asia Pasifik. Secara administratif Pulau Kaledupa dibagi menjadi 2 (dua) Kecamatan, yaitu Kecamatan Kaledupa dan Kecamatan Kaledupa Selatan. Kecamatan Kaledupa terdiri dari 12 (Dua Belas ) desa dan 4 (empat) kecamatan dengan luas total 45,50 Km2. Dimana jumlah total penduduk periode September 2010 berjumlah 11.994 Jiwa. Sedangkan Kecamatan Kaledupa Selatan terdiri dari 10 (sepuluh) desa,dengan luasan 58,50 Km2. Dengan jumlah penduduk pada periode Sepetember 2010 sekitar 7.698 Jiwa. Sebagian besar penduduk yang ada di Pulau Kaledupa menggantungkan hidupnya pada sumberdaya laut, yaitu sebagai nelayan dan petani rumput laut.

Dari hasil survey KAP (Knowledge, Attitude, and Practice) sebagian besar penduduk Kaledupa yang bermatapencaharian sebagai nelayan adalah laki-laki, sedangkan peranan wanita sebagai penjual hasil tangkapan ikan yang dipasarkan di desa maupun pasar. Target tangkapan utama para nelayan di Pulau Kaledupa adalah ikan karang/ikan dasar (demersal) sebagai target tangkapan utama. Berdasarkan pengalaman para nelayan dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir ini, sebagian besar nelayan (54,7% dari responden) mengatakan bahwa sumberdaya perikanan dalam kondisi menurun. Bentuk-bentuk penurunan kondisi sumberdaya perikanan tersebut berupa :

· 42% responden menyebutkan bahwa ukuran ikan saat ini lebih kecil dibandingkan 5 tahun lalu

· 29% responden menyebutkan bahwa tidak ditemukan lagi beberapa jenis ikan (misal: kerapu, napoleon).

· 15% responden mengatakan bahwa biaya untuk setiap kali trip lebih besar dibandingkan 5 tahun yang lalu.

· 13% rsponden menjawab bahwa waktu menangkap ikan dalam jumlah yang sama dibandingkan 5 tahun yang lalu lebih lama.

Beberapa penyebab menurunnya kondisi sumberdaya perikanan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :

· 45% responden menjawab, Alat tangkap yang digunakan semakin banyak jenis dan jumlahnya

· 22% responden menjawab, Jumlah nelayan semakin banyak untuk suatu areal tangkapan yang sama

· 21% responden menjawab, Alat tangkap yang digunakan merusak (misal: bom, bius,dll)

· 6% responden menjawab, Penegakan aturan bidang perikanan lemah (mis: penggunaan jenis alat tangkap, perijinan).

· 2% responden menjawab, Kepatuhan nelayan terhadap peraturan bidang perikanan dan tata ruang wilayah perairan (zonasi) rendah.

Berdasarkan informasi yang didapatkan melalui survey KAP Pra Kampanye, hasil Focus Group Discussion (FGD) dengan kelompok nelayan dan monitoring kondisi perikanan, dapat disimpulkan bahwa di perairan Pulau Kaledupa telah terjadi fenomena penangkapan ikan berlebihan (overfishing). Namun demikian kesadaran akan ancaman overfishing tersebut belum masuk ke dalam komunitas nelayan, fenomena overfishing dikalangan para nelayan lebih dikenal dengan fenomena menurunnya sumberdaya perikanan. Hal ini terlihat dalam hasil survey, bahwa sebagian besar responden nelayan (68%) mengatakan bahwa mereka tidak pernah mendengar tentang penangkapan ikan berlebih di Taman Nasional Wakatobi. Jika dikaitkan dengan tahapan perubahan perilaku dalam kaitannya dengan permasalahan penangkapan berlebih ini, maka sebagian besar nelayan dalam tahapan pra kontemplasi.

Pengetahuan nelayan terkait zonasi Taman Nasional Wakatobi juga cukup minim, hal ini terlihat da