Senopati Pamungkas Seri 6

  • View
    280

  • Download
    6

Embed Size (px)

DESCRIPTION

jazz

Text of Senopati Pamungkas Seri 6

  • TxwTxwTxwTxw T|T|T|T|

    wttwttwttwtt

    fxt| ctz~tfxt| ctz~tfxt| ctz~tfxt| ctz~t fx| Ifx| Ifx| Ifx| I

  • fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fx| fx| fx| fx| IIII

    Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv DDDD

    Judul : Senopati Pamungkas I Karya : Arswendo Atmowiloto Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

    Di edit kembali oleh pupuyaya.wordpress.com

  • fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fx| fx| fx| fx| IIII

    Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv EEEE

    Senopati Pamungkas I - 6 Aku mendengar suara-suara bahwa disebut nama-nama Nambi, Sora, Lawe, Kuti, Semi, Tanca, Pangsa, Wedeng, Yuyu, dan entah siapa lagi. Dengan mata tertutup pun aku bisa memilih salah seorang di antara mereka. Atau yang lain sama sekali. Mereka adalah rakyat jelata. Yang tadinya hanya bisa membalik tanah menjadi sawah. Akulah yang mengangkat mereka dengan derajat dan pangkat. Memberikan kehormatan yang seumur hidup mereka tak pernah diperoleh. Mereka hanyalah cemeng dan bukan gogor. Sejak lahir sebagai cemeng besarnya tetap akan menjadi kucing. Sakti seperti apa pun, tetap seekor kucing. Tak akan bisa menjadi harimau. Hanya gogor yang bisa menjadi harimau. Akulah dulu gogor, anak harimau yang tetap tak bisa menjadi kucing. Inilah bedanya antara seorang raja dan bukan raja. Kelak kalian inilah yang akan melahirkan gogor, yang akan meneruskan takhta dan kebesaran Keraton ini. Bukan para senopati. Baginda menghela napas. Bagaimana pendapatmu, Tribhuana? Segala apa yang Baginda katakan, benar adanya. Kamu yang mengerti tentang tata Keraton tentu lebih mengerti bahwa seorang raja tidak perlu menanyai permaisurinya untuk masalah seperti ini. Tetapi aku bisa melakukan. Mahadewi, apa pendapatmu? Segala yang Baginda katakan, benar adanya. Seekor anak kucing tetap berbeda dan tak akan menjadi anak harimau. Takdir dari Dewa yang Maha Penentu sejak dulu sudah membedakan itu. Bagaimana pendapatmu, Jayendradewi? Segala yang Baginda katakan, benar adanya.

  • fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fx| fx| fx| fx| IIII

    Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv FFFF

    Siapa yang pantas menjadi mahapatih menurut pendapatmu, Gayatri? Gayatri menghaturkan sembah, seperti kakak-kakaknya, sebelum menjawab pertanyaan Baginda. Segala yang Baginda katakan, menjadi benar adanya. Sejenak Baginda terdiam. Apa maksudmu? Gayatri menyembah lagi. Seperti hamba haturkan, segala yang Baginda katakan atau isyaratkan, menjadi benar adanya. Baginda tersenyum. Gayatri, kamu ini selalu menjadi lain. Putri Singasari yang paling jelita, tetapi juga paling keras kepala. Entah kenapa aku justru menyayangimu seperti aku menyayangi yang lain. Aku sudah mendengar semua laporan perjalanan ke Perguruan Awan. Sampai ke hal yang sekecil-kecilnya. Kenapa kamu katakan segala apa yang aku katakan akan menjadi benar? Kenapa tidak kaukatakan bahwa yang aku katakan memang benar adanya? Gayatri menunduk. Makin menunduk. Kalau Baginda sumber kebenaran, segala apa akan menjadi benar. Ah, kamu pun menyangsikan. Gayatri menyembah. Sama sekali tidak mungkin, Baginda. Baginda memandang Permaisuri Indreswari. Apa yang akan kaukatakan, Indreswari? Baginda, hamba menunggu dawuh Baginda.

  • fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fx| fx| fx| fx| IIII

    Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv GGGG

    Kamu benar, Indreswari. Meskipun secara resmi kamu telah menjadi permaisuri utama, hari ini aku bersabda, bahwa putramu kelak yang menjadi putra mahkota. Putusan ini berlaku sampai aku mencabut kembali. Halayudha, catat semua ini. Senopati Halayudha, yang berada di luar ruangan, menyembah hormat. Lalu Baginda Raja melambaikan tangannya. Kembali ke peraduannya. Kelima permaisuri melakukan sembah hormat, lalu berjongkok keluar dari ruangan. Tanpa suara, seakan kesepuluh kaki berkain itu tak menginjak lantai. Halayudha! Yang dipanggil segera menghadap dengan berjongkok, melakukan sembah, dan menunggu. Kamu selalu tahu apa yang terjadi di ruang ini. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu. Siapa di antara senopatiku yang pantas menduduki kursi mahapatih? Halayudha menyembah lagi. Tubuhnya makin dalam membungkuk. Kalau hamba seratus kali lebih pintar, tetap tak akan bisa menjawab pertanyaan Baginda. Anak kucing kecil tak akan bisa menilai anak kucing yang lain. Bagaimana kalau Nambi? Halayudha menyembah hormat. Tiada putusan yang lebih tepat dari yang Baginda katakan. Apa alasanmu? Pertama, Mpu Nambi sangat setia kepada Baginda. Kedua, jasanya di saat peperangan tak diragukan lagi. Ketiga, Mpu Nambi adalah senopati yang juga memimpin prajurit telik sandi. Keempat, rasanya tidak ada yang bisa menandingi Mpu Nambi dalam melaksanakan kehendak Baginda. Kelima, Baginda telah mengatakan sendiri. Sabda seorang raja adalah rahmat dan anugerah. Keenam Jarang aku menemui seseorang yang begitu tulus memuji orang lain.

  • fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fx| fx| fx| fx| IIII

    Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv HHHH

    Sesungguhnya hamba hanya mengatakan apa adanya, Baginda. Sama sekali jauh dari keinginan memuji yang memang tidak hamba miliki. Baik kalau begitu. Segera umumkan pasewakan agung. Aku tak ingin hal ini tertunda lebih lama. Dua hari lagi adalah hari yang sangat baik, karena saat itu bulan purnama, saat Baginda dilahirkan untuk memimpin Keraton yang makin agung ini. Baik kalau begitu. Ada yang mau kamu katakan? Halayudha seperti mau mencium lantai ketika menghaturkan sembah. Duh, Baginda Raja sesembahan semua makhluk hidup di sepanjang lautan hingga ke puncak gunung, hamba hanya ingin menghaturkan bahwa Nyai Demang telah datang. Baginda Raja mengangguk pelan. Itu merupakan isyarat bagi Halayudha untuk menyembah lagi, dan merasa kalimatnya berkenan. Nyai Demang bisa nembang kidungan dengan sangat baik, Baginda. Itu yang pertama. Yang kedua, Nyai Demang tak mungkin dipercaya jika mengatakan bahwa ia dipanggil menghadap Baginda. Kamu pintar, Halayudha. Mudah-mudahan pujian Baginda diperkenankan Dewa Agung sekuku hitamnya. Baginda menarik napas. Soal kidungan Kitab Bumi tak peduli. Tapi aku ingin tahu wanita seperti apa Nyai Demang itu. Apa benar seperti yang diceritakan orang selama ini. Nyai Demang di Kamar Peraduan

  • fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fxt| ctz~t \ fx| fx| fx| fx| IIII

    Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv Zwtz U~ b|x M ttAwxAv IIII

    HALAYUDHA menyembah sekali lalu mundur dengan tetap jalan berjongkok. Tak lama kemudian pintu terbuka kembali. Baginda Raja melihat sesosok bayangan yang masuk, diiringi oleh Halayudha. Dalam hati Baginda memuji cara kerja Halayudha yang sangat rapi. Ternyata Nyai Demang telah berada di sekitar Keraton. Di depan pintu peraduan. Tanpa menimbulkan kecurigaan, karena diberi pakaian seperti prajurit lelaki. Rambut Nyai Demang yang ikal dan lebat baru kelihatan ketika ikat kepala