SINKRETISME DALAM SISTEM KEPERCAYAAN MASYARAKAT Melihat kenyataan-kenyataan sistem keberagamaan masyarakat

Embed Size (px)

Text of SINKRETISME DALAM SISTEM KEPERCAYAAN MASYARAKAT Melihat kenyataan-kenyataan sistem keberagamaan...

  • 1

    SINKRETISME DALAM SISTEM KEPERCAYAAN

    MASYARAKAT TIONGHOA DI KOTA MAKASSAR

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Masyarakat Cina/Tionghoa di Makassar menganut system kepercayaan yang

    bermacam-macam. Mereka menganut agama yang telah di syahkan oleh Pemerintah

    RI yakni Islam, Kristen, Katolik, Budha, dan Hindu. Meskipun pernah juga

    mengesahkan Konghucu sebagai agama yang bisa dianut oleh warga Indonesia

    khususnya oleh warga Tionghoa.

    Pada masa awal kedatangan masyarakat Tionghoa ke Indonesia khususnya

    di Makassar, mereka pada umumnya menganut sistem kepercayaan (agama)

    Konghucu, sebagaimana kepercayaan masyarakat di Tiongkok. Sebagian kecil

    mereka yang datang sudah mengenal agama Islam yang sudah masuk ke China sejak

    kekuasaan Dinasti Tang (619-907) terutama di daerah Quanzhou 1

    Dalam perjalanan kehidupan masyarakat Tionghoa di Nusantara mereka

    menyesuaikan diri dengan kebudayaan dimana mereka berada. Demikian halnya

    dengan sitem kepercayaan yang dianutnya.

    .

    B. Rumusan Masalah

    Melihat kenyataan-kenyataan sistem keberagamaan masyarakat Tionghoa

    tersebut menjadi fenomena yang menarik dalam sistem kepercayaan, untuk dianalisis

    sebagai sebuah fenomena keberagamaan guna mengetahui konsep system

    1 Hembing Wijaya Kusuma, Muslim Tionghoa Cheng Ho (Jakarta : Pustaka Populer,2000) h.47

  • 2

    kepercayaan yang ada dalam masyarakat Tionghoa. Untuk itu dalam rencana

    penelitian ini dirumuskan masalah sebagai berikut:

    1. Apakah konsep sistem kepercayaan dalam masyarakat Tionghoa?

    2. Bagaimanakah orang Tionghoa mempertahankan system kepercayaan

    nenek moyang mereka meskipun sudah memeluk agama baru?

    3. Bagaimanakah proses singkritismen dalam aktifitas keberagamaan

    masyarakat Tionghoa?

    C. Tujuan Penelitian

    1. Untuk mengungkapkan konsep sistem keberagamaan dalam masyarakat

    Tionghoa.

    2. Untuk mengetahui cara orang Tionghoa mempertahankan system

    kepercayaan nenek moyang mereka, meskipun sudah memeluk agama

    baru.

    3. Untuk mengetahui proses singkritisme dalam aktifitas keberagaman

    masyarakat Tionghoa.

    D. Manfaat Penelitian

    1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi khasanah

    ilmu Perbandingan Agama

    2. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam menata

    ummat beragama ke depan

    3. Dapat dimanfaatkan untuk maksud penelitian sejenis dalam skala yang

    lebih luas dan mendalam pada waktu mendatang

    I. Tinjauan Pustaka

    Dalam system religi,di Indonesia umumnya orang menganggap bahwa

    orang tionghoa itu memeluk agama Budha. Memang dinegara asalnya di cina

    sebagian besar rakyatnya memeluk agama Budha, tetapi di Indonesia orang Tionghoa

    adalah pemeluk agama Budha, Kung Fu-tse, Tao, Kristen, Katolik dan Islam 2 . Hal

    2 Ibid,h.367

  • 3

    tersebut dapat kita pahami setelah melihat asal serta perjalanan mereka yang bertemu

    dengan berbagai kebudayaan yang mereka datangi.

    Apabila terjadi pertemuan dua suku bangsa, maka sekaligus terjadi juga

    pertemuan kebudayaan atau lebih. Terjadinya pertemuan tersebut ada beberapa

    kemungkinan yang terjadi, antara lain mereka akan saling mempengaruhi sehingga

    terjadi percampuran ras maupun percampuran budaya. Dalam percampuran budaya

    tersebut bisa terjadi akulturasi, asimilasi maupun sinkretisme. Demikian juga dengan

    kedatangan orang Tionghoa di Indonesia , mereka akan bertemu dengan orang-orang

    Indonesia yang mempunyai suku-suku yang beraneka ragam, begitupun dengan

    budayanya.

    Sinkretisme adalah paham (aliran) baru yang merupakan perpaduan dari

    beberapa paham (aliran) yang berbeda untuk mencari keserasian, keseimbangan, dan

    sebagainya. 3 Khusunya di Makassar orang Tionghoa tentu akan bertemu dengan

    suku-suku yang berada di Makassar, dimana suku-suku tersebut adalah yang berada

    di Sulawesi Selatan yaitu suku Bugis, Makassar ,Mandar dan Toraja 4 Pertemuan

    tersebut melibatkan pertemuan unsur-unsur kebudayaan. Salah satu unsur kebudayaan

    yaitu sistem religi atau kepercayaan. 5

    Latar Belakang Kepercayaan Masyarakat Tionghoa

    Kepercayaan tradisional Tionghoa ialah tradisi kepercayaan rakyat yang

    dipercayai oleh kebanyakan bangsa Tionghoa. Kepercayaan ini merupakan

    sinkretisme antara beberapa kepercayaan atau filsafat antara lain Buddhisme,

    Konfusianisme dan Taoisme. Secara Umum kepercayaan tradisional Tionghoa ini

    mementingkan ritual penghormatan leluhur yang merupakan intisari dalam

    kepercayaannya yang merupakan pengaruh ajaran Konfusianisme yang

    mengutamakan bakti kepada orang tua dan leluhur. Disamping itu penghormatan

    3 M.Dahlan Yacub Al-Barry, Kamus Sosiologi Antropologi ( Surabaya:Indah, 2001),h.304

    4 Koentjaraningrat, op.cit,, h.266

    5 Shaifuddin Bahrum,Cina Peranakan Makassar (Makassar : Yayasan Baruga Nusantara,2003),h.89

  • 4

    dewa-dewi yang tak terhitung jumlahnya juga sangat penting. Kepercayaan yang

    demikian dilandasi atas konsep ketuhanan. 6

    A. Konsep Ketuhanan dan Kosmologi Orang Tionghoa.

    Dalam masyarakat Tionghoa di Indonesia terdapat kelompok agama

    tridarma yaitu Taoisme, Khonghucu dan Budhiisme. Dalam agama tersebut juga

    mengenal pandangan kosmologi, yaitu seperangkat keyakinan yang meliputi konsep

    mengenai dewa-dewa, roh-roh, roh-roh leluhur, hidup setelah kematian, hidup di

    dunia dan lain-lain 7 .

    Leluhur orang Tionghoa menuliskan mitologi yang berupa pandangan

    mereka terhadap alam semesta. Mereka menganggap bahwa sebelum dunia ini

    terbentuk langit dan bumi masih bersatu dan belum berbentuk, nanti setelah 18 ribu

    tahun kemudian seorang yang bernama Pan 2 Gu 3 yang memisahkan menjadi langit

    dan bumi yang semakin hari semakin bertambah tebal dan tinggi. Dan setelah wafat

    tubuh Pan Gu pun menjadi matahari, bulan, gunung,laut, sungai dan danau . Pan Gu

    menjadi raja langit pertama.,

    Pandangan mereka tentang alam semesta terdiri dari dari dua bagian yaitu

    langit dan bumi mengalami pergeseran setelah munculnya Taoisme dan

    Buddisme yang memberi pandangan mengenai alam semesta sehingga berkembang

    menjadi tiga bagian yang disebut sebagai konsep tiga alam yaitu alam langit, alam

    bumi dan alam baka yang mempunyai peranan dalam keseimbangan alam ini. Alam

    langit adalah tempat raja-raja dan dewa-dewi langit. Langit adalah pusat

    pemerintahan alam semesta dan mengatur seluruh kehidupan di alam bumi dan alam

    baka.. Alam bumi adalah tempat kediaman semua mahluk hidup. Alam Baka adalah

    alam di bawah bumi atau alam sesudah kematian yang menjadi tempat roh-roh dan

    hantu hantu dari manusia yang meninggal. Baik di alam bumi maupun alam baqa

    terdapat pejabat langit atau dewa-dewi yang bertanggung jawab dalam alam ini.

    6 Kepercayaan tradisional Tionghoa-Wikipedia bahasa Indonesia. Id.wikipedia.org/wiki/Kepercayaan

    tradisional Tionghoa –li /(08 Agustus 2011) 7 M.Ikhsan Tanggok, mengenal lebih dekat Agama Tao (Jakarta: UIN Jakarta, 2010),h.1.

  • 5

    Mereka mempercayai bahwa kehidupan di bumi kurang lebih sama saja

    dengan kehidupan di alam baka, namun orang-orang besar dan berjasa dibumi ketika

    meninggal dapat naik menjadi dewa-dewi di alam langit. Di alam baka orang-orang

    akan di beri imbalan berupa hadiah atau hukuman dari dewa-dewi dari langit sesuai

    apa yang telah dikerjakan di alam bumi. Di alam baka terdapat 10 istana dan 18

    tingkat neraka .Konsep alam baka ini kemudian berkembang dengan masuknya

    konsep reinkarnasi atau kelahiran kembali dari Buddhisme. Mereka percaya bahwa

    roh yang hidup dialam baka akan terlahir kembali sebagai manusia di bumi dan bukan

    sebagai mahluk lain. 8

    B. Konsep Tuhan dalam Agama Khonghucu

    Dalam pandagan agama Konghucu Tuhan dinamai Thian. Thian adalah

    sumber dari segala yang ada di dunia ini. Thian juga bersifat Roh .Dalam sebutannya

    menggunakan Thin, thian Li dan Thian Ming. Thian adalah Tuhan, Thian li adalah

    Tuhan yang berbentuk peraturan, suruhan dan larangan, sedangkan Thian Ming

    adalah manusia yang mampu melaksanakan perintah Tuhan. 9

    Menurut Huston Smith, dimensi utama ajaran Khonghucu tidak terlepas dari

    kepercayaan ajaran cina kuno, yaitu bahwa ada dua unsure yang saling berkaitan

    yaitu langit dan bumi .Orang yang berdiam di langit adalah nenek moyang (Ti) yang

    telah meninggal dunia. Sedang yang tinggal dibumi adalah orang yang masih hidup.

    Kehidupan langit lebih terhormat dan berkuasa, oleh karena itu orang di bumi harus

    selalu patuh dan hormat pada orang di langit. Hubungan langit dan bumi merupakan

    hubungan cinta kasih yang dijalin melalui cara pengorbanan. 10

    Khonghucu meneguhkan pemujaan terhadap leluhur, kesetiaan terhadap

    keluarga dan penghormatan terhadap orang tua. Keyakinan terhadap roh-roh leluhur