Sistem Kepercayaan Dan Agama

Embed Size (px)

Text of Sistem Kepercayaan Dan Agama

A. Sistem Kepercayaan dan AgamaSistem kepercayaan di Jepang tidak sama dengan negara lain. Mereka tidak menerapkan agama / kepercayaan secara doctrinal, tetapi hanya sebatas permukaannya saja. Mereka bebas mengikuti acara keagamaan apa pun. Kebanyakan penduduk Jepang tidak tahu agama apa yang dianutnya. Mereka tidak peduli dengan agama yang mereka anut, bahkan mereka kadang tidak beragama. Agama merupakan kebebasan bagi kebanyakan orang Jepang. Mereka sama sekali tidak mau terikat dengan salah satu paham agama tertentu. Jadi, tidak aneh apabila mereka mencampuradukkan berbagai ritual agama. Dalam konstitusi Jepang pasal 20 disebutkan bahwa, i. Kebebasan politik. ii. Tidak seorangpun akan dipaksa untuk mengambil bagian dalam, perayaan ritual kegiatan keagamaan, atau praktek (yang berhubungan dengannya). iii. Negara dan organ-organ perusahaan harus menahan diri dari (mencampuri) pendidikan agama atau kegiatan keagamaan lainnya. Jepang merupakan negara sekuler, negara tidak ikut campur dalam urusan agama. Agama tidak diajarkan dalam sekolah, hanya sebatas sejarah saja. Mereka tidak mementingkan agama, yang mereka pentingkan yaitu perilaku dan sopan santun. Jepang merupakan negara yang memegang kepercayaan primitif dengan kuat. Hal ini bisa dipahami dari masih kuatnya nilai-nilai tradisional kepercayaan Shinto dalam masyarakat. Jepang mengenal beberapa agama dalam kehidupan masyarakatnya, diantaranya adalah Shinto, Budha, dan kong Fu Tse. Dari beberapa agama tersebut shinto merupakan agama asli masyarakat Jepang, keberadaanya tetap terpelihara sampai saat ini. Di samping agama yang ada tersebut, Jepang juga memiliki banyak aliran-aliran kepercayaan yag juga berkembang pesat dalam kehidupan warganya. 1. Shinto Shinto, yang berarti Jalan dewa merupakan kepercayaan asli Jepang. Shinto didasarkan pada pemikiran yang percaya dengan banyak dewa (polytheisme) dan kekuatan alam (matahari, bulan, gunung, laut, ombak, angina, petir, dll). Sehingga, hal ini berpengaruh pada sikap hormat yang beragama dijamin bagi semua. Tidak ada organisasi keagamaan harus menerima hak dari Negara, maupun olahraga otoritas

sangat tinggi masyarakat Jepang kepada alam, ditunjukkan dengan sikap merawat alam, hingga saat ini. Shinto pada dasarnya merupakan keyakinan yang terbentuk karena adanya pengaruh Budha yang masuk dari China dan Korea, sehingga Butsudo (Jalan Budha) disebut sebagai kepercayaan dari luar. Pada prosesnya, nilai-nilai Budha disesuaikan dengan nilai-nilai Jepang (diJepangkan). Kegiatan peribadatannya mengutamakan pemujaaan terhadap arwah nenek moyang dan alam lingkungannya, sehingga para penganut agama Shinto mempercayai banyak dewa. Mitos mengenai asal keturunan dewa keluarga kaisar pernah menjadi salah satu prinsip dasar Shinto, yang menyatakan bahwa orang Jepang adalah keturunan dewa matahari (Amaterau Ookami). Setelah Restorasi Meiji pada tahun 1868, dan khususnya selama Perang Dunia II, Shinto diangkat oleh penguasa menjadi agama negara. Namun, berdasarkan Undang-Undang dasar setelah perang, Shinto tidak lagi diberi dukungan resmi ataupun hak khusus, walaupun masih memegang peran pada upacara penting dalam berbagai segi kehidupan Jepang. Masih banyak orang Jepang dewasa ini mengikuti upacara Shinto pada acara pernikahan (Japan Echo Inc. 1989:114). Kegiatan ibadah berlangsung di kuil shinto yang disebut Jinja, yaitu tempat peribadatan yang berfungsi untuk melakukan pemujaan terhadap dewa, ataupun dapat juga digunakan sebagai tempat upacara lain, seperti acara pernikahan. Jinja sering dikunjungi baik oleh orang yang beragama Shinto maupun orang tidak beragama Shinto, misalnya pada saat hatsumode (Hatsumairi) ketika tahun baru, omiyamairi beberapa minggu setelah seseorang melahirkan , atau pada saat Shichigosan bagi anak perempuan yang berusia 3 atau 7 tahun dan anak laki-laki yang berusia 3 atau 5 tahun. Agama Shinto juga memiliki sebutan khusus untuk para pendeta mereka, yaitu kanmushi. Ia bertugas melaksanakan upacara-upacara ritual agama Shinto di Jinja, termasuk dalam pengelolaan keuangan tempat tersebut. Kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh seorang kanmushi antara lain mempersembahkan sesaen dan lelkaukan pemujaan terhadap para dewa, melakukan pembersihan diri (baik orang maupun barang) bagi

pengunjung yang menginginkan kesehatan, keselamatan, kebahagiaan atau kesejahteraan dan ia juga bertugas melaksankan upacara pernikahan. Dalam pengelolaan keuangan kuil, kanmushi turut mengawasi

pendapatan dan pengeluaran keuangan, seperti dalam perhitungan hasil penjualan Omikuji, atau Engimono serta dalam perhitungan Saisen (uang sekolah) yang terkumpul dari pengunjung kuil. Para penganut agama Shinto memiliki tempat pemujaan yang khusus disediakan di rumahrumah mereka, benda ini disebut dengan kamidana (altar shinto). Kamidana adalah benda/tempat yang dianggap suci bagi penganut agama shinto dan dipasang dalam rumah untuk mengadakan pemujaan terhadap arwah leluhur juga para dewa. Namun, tidak semua orang Jepang yang melengkapi rumahnya dengan kamidana ini. Di dalam kamidana antara lain tersimpan Omamori, Kanai anzen, dan sebagainya yang dipercaya sebagai benda yang memiliki kekuatan untuk menjaga kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan seluruh anggota keluarga. Di depan Kamidana biasanya orang Jepang menyalakan lilin dan melengkapinya dengan berbagai makanan, minuman (mis: sake), dan sebagainya. Kamisama Konsep Tuhan dalam kepercayaan Shinto adalah sangat sederhana yaitu semua benda di dunia baik yang bernyawa atau pun tidak, pada hakikatnya memiliki roh, spirit, atau kekuatan jadi wajib dihormati. Kekuatan supernatural ini disebut dengan istilah KAMI., kemudian diberi akhiran SAMA, bentuk hormat untuk nama orang atau dewa, sehingga menjadi KAMISAMA. Pengakuan, kekaguman, kekuatan dan juga kerinduan pada Spirit atau kekuatan besar yang disebut KAMISAMA tersebut diwujudkan dalam bentuk tarian, upacara, dan festival budaya. Kamisama adalah Tuhan bagi orang Jepang. Kamisama sebagai Tuhan hidup di segala tempat dan memiliki nama sesuai dengan benda yang ditempatinya. Tuhan yang berdiam di gunung diberi nama Kami no Yama, kemudian ada Kami ni Kawa (Tuhan sungai), Kami no Hana (Tuhan bunga).

Konsep Sorga, Neraka, dan Akherat Konsep sorga dan neraka ataupun ajaran tentang kehidupan alam akhirat sepertinya adalah hal yang umum ditemukan pada ajaran agama ataupun kepercayaan primitif sekalipun. Shinto sepertinya memiliki tradisi yang sedikit menyimpang. Konsep tentang sorga dan neraka hampir tidak disentuh sama sekali dalam kepercayaan Shinto. Hal ini bisa dilihat dari hampir tidak ditemukannya ada ritual upacara kematian pada tradisi Shinto. Seperti yang telah saya sebutkan di atas, ritual dan tata cara pemakaman di Jepang sepenuhnya dilakukan dengan tata cara agama Buddha dan sisanya menggunakan ritual Kristen. Kuburan dan tempat makam juga umumnya berada di bawah organisai kedua agama tersebut. Sepertinya ritual Shinto lebih difokuskan pada kehidupan duniawi atau kehidupan sekarang terutama yang berhubungan dengan alam khususnya keselaran antara manusia dengan alam sekitarnya. Kosep Doa dan Sembahyang Tidak mengenal konsep ibadah Shinto kurang begitu akrab dengan aktivitas ibadah dalam arti menyembah dengan tujuan memuji dan mengagungkan kebesaran Kamisama atau Tuhan. Mereka cendrung lebih dekat dengan konsep "doa" yaitu menyembah dengan tujuan "meminta sesuatu" kepada Tuhan seperti agar lulus ujian, diterima bekerja di perusahaan tertentu, dikaruniai kesehatan, umur panjang dan berbagai permintaan yang bersifat duniawi. Dengan konsep ini tentu saja ibadah bukanlah sesuatu yang wajib dan menjadi keharusan. Kebanyakan tempat ibadah di negara ini, baik Jinja ataupun Tera (Buddha) adalah berfungsi juga sebagai tempat wisata. Jadi kebanyakan pengunjung menjadikannya saat berwisata sekaligus sebagai kesempatan untuk berdoa. Jadi orang yang datang ke kuil dengan niat dari awal untuk ibadah sepertinya sangat jarang ditemukan. Namun aktivitas keseharian yang sangat sibuk membuat aktivitas wisata

semacam ini hampir tidak memungkinkan untuk dilakukan dalam banyak kesempatan. Berdoa cukup setahun sekali Seperti yang saya telah tulis di atas, berdoa bukanlah sebuah keharusan sehingga kebanyakan orang sangat jarang berkunjung ke kuil kecuali saat ada perayaan kuil atau saat tahun baru. Jadi secara umum bisa dikatakan kebanyakan orang Jepang berdoa cukup hanya setahun sekali yaitu saat tahun baru. Sehingga bukanlah pemandangan aneh kalau perayaan tahun baru di negara ini cendrung sepi dari hinggar bingar pesta atau perayaan karena kebanyakan penduduk khususnya golongan muda melewatkan pergantian tahun di kuil dengan berdoa. Keramaian ini bisanya akan berlanjut sampai beberapa hari setelah tahun baru. Pada saat itu kita bisa menyaksikan puluhan bahkan ratusan ribu orang yang datang memenuhi memadati areal kuil. Shinto adalah pemuja alam Sinto adalah (agama) pemuja alam. Sebutan ini sepertinya yang paling tepat untuk dipakai. Hal ini bisa dilihat dari tradisi Shinto yang memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada alam. Pohon besar misalnya tidak boleh sembarangan ditebang karena dipercaya ada Kami yang berdiam di dalamnya. Kebanyakan penduduk jaman dulu akan taat dan tidak merusak tempat alam atau bahkan kadang dengan jalan tidak memasuki hutan, gunung bahkan pulau tertentu karena dipercaya adanya Kami yang bersemayam di tempat tersebut. Lahirnya seni Ikebana (merangkai

bunga), Bonsai (mengkerdilkan tumbuhan) dan seni taman ala Jepang yang memadukan tanaman, batu dan air juga (sepertinya) tidak lepas dari philosophy Shinto. Dengan konsep kepercayaan yang sangat sederhana seperti ini bisa dibilang mereka cukup termasuk sukses menjaga kelestarian alamnya. Saat ini tempat yang bisa dihuni di Jepang hanyalah 30 % dari luas dataran yang ada, selebihnya, 70% masih dibiarkan berupa gunung dan bukit. Jalan layang atau kereta tidak dibangun

tidak

dengan

merobohkan