97
SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM ALQURAN TERJEMAHAN KEMENTERIAN AGAMA RI (ANALISIS WACANA) Disusun oleh: IBNUAFAN 108024000008 JURUSAN TARJAMAH FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014M/1435H

SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

SKRIPSI

PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM ALQURAN

TERJEMAHAN KEMENTERIAN AGAMA RI

(ANALISIS WACANA)

Disusun oleh:

IBNUAFAN108024000008

JURUSAN TARJAMAH

FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2014M/1435H

Page 2: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu persyaratan memperoleh gelar sarjana strata satu di UIN SyarifHidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan daam penulisan ini telah sayacantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN SyarifHidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli sayaatau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain maka saya bersediamenerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 15 September 2014

Ibnu Afan

Page 3: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM ALQURAN

TERJEMAHAN KEMENTERIAN AGAMA RI (ANALISIS WACANA)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Adab dan Humaniora

untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sastra (S.S)

Oleh

IbnuafanNIM: 108024000008

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Prof. DR. Sukron Kamil M.A Drs. Ikhwan Azizi, M.AgNIP: 19690415199701004 NIP: 1957081 1994031001

Page 4: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi
Page 5: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

Berdasarkan SKB Menteri Agama dan Menteri P & K RI

No. 158/1987 dan No. 0543 b/U/1987

tertanggal 22 Januari 1988

a. Konsonan Tunggal

Fonem konsonan bahasa Arab yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan

dengan huruf, dalam pedoman ini sebagian dilambangkan dengan huruf dan

sebagian dilambangkan dengan tanda, dan sebagian lagi dilambangkan dengan

huruf dan tanda sekaligus.

HurufArab

Nama Huruf Latin Keterangan

ا alif - tidak dilambangkan

ب bā’ b -

ت tā’ t -

ث ṡā’ ṡ s dengan satu titik di atas

ج jīm j -

ح ḥā’ ḥ h dengan satu titik di bawah

خ khā’ kh -

د dāl d -

ذ żāl ż z dengan satu titik di atas

ر rā’ r -

ز zāi z -

س sīn s -

ش syīn sy -

ص ṣād ṣ s dengan satu titik di bawah

ض ḍād ḍ d dengan satu titik di bawah

ط ṭā’ ṭ t dengan satu titik di bawah

ظ ẓā’ ẓ z dengan satu titik di bawah

Page 6: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

ع ʿain ʿ koma terbalik

غ gain g -

ف fā’ f -

ق qāf q -

ك kāf k -

ل lām l -

م mīm m -

ن nūn n -

ه hā’ h -

و wāwu w -

ء hamzahtidak dilambangkan

atau ’

apostrof, tetapi lambang initidak dipergunakan untuk

hamzah di awal kata

ي yā’ y -

b. Konsonan Rangkap

Konsonan rangkap, termasuk tanda syaddah, ditulis rangkap.

Contoh : ربـنا ditulis rabbanâ

قـرب ditulis qarraba

احلد ditulis al-ḥaddu

c. Tā’ marbūṭah di akhir kata

Transliterasinya menggunakan :

a. Tā’ marbūṭah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya

h, kecuali untuk kata-kata Arab yang sudah terserap menjadi bahasa

Indonesia, seperti salat, zakat, dan sebagainya.

Page 7: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

Contoh : طلحة ditulis ṭalhah

وبةالت ditulis al-taubah

فاطمة ditulis Fātimah

b. Pada kata yang terakhir dengan tā’ marbūṭah diikuti oleh kata yang

menggunakan kata sandang al serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka

tā’ marbūṭah itu ditransliterasikan dengan h.

Contoh : روضة االطفال ditulis rauḍah al-aṭfāl

c. Bila dihidupkan ditulis t.

Contoh : روضة االطفال ditulis rauḍatul aṭfāl

Huruf ta marbuthah di akhir kata dapat dialihaksarakan sebagai t atau

dialihbunyikan sebagai h (pada pembacaan waqaf/berhenti). Bahasa

Indonesia dapat menyerap salah satu atau kedua kata tersebut.

Page 8: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhisalah satu persyaratan memperoleh gelar sarjana strata satu di UIN SyarifHidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan daam penulisan ini telah sayacantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN SyarifHidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli sayaatau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain maka saya bersediamenerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 15 September 2014

Ibnu Afan

Page 9: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

ABSTRAK

Judul: PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM ALQURANTERJEMAHAN KEMENTERIAN AGAMA (ANALISIS WACANA)

Terorisme saat ini masih menjadi suatu perbincangan yang menarik di duniainternasional maupun di Indonesia. Teror dan kekerasan yang ditampilkannyaacap kali membuat kengerian di di dalamnya.

Terorisme sendiri seringkali dikaitkan dengan Islam. Seperti halnya padakasus Osama Bin Laden atau di Indonesia lebih terkenal dengan Bom Bali yangdilakukan oleh kelompok Imam Samudra dan kawan-kawannya. KepolisianRepublik Indonesia mengungkap bahwa para pengebom yang masih hidup kali itumengakui kalau aksi yang mereka lakukan itu sebagai bentuk jihad menghadapiAmerika dan sekutu-sekutunya. Polisi pun membongkar jaringan teror yangumumnya mereka adalah kelompok Islam garis keras. Lantas apa yangmemberikan keberanian begitu dahsyat dalam melakukan setiap aksinya?

Dalam hal ini persoalan ideologis mejadi jawabannya. Keyakinanideologis dengan balutan spiritual menjadikan keberanian mereka tidak terhingga.Karena menurut mereka aksi yang dilakukannya itu untuk membela kehormatanIslam. Seperti halnya dalam terjemahan surat al-Baqarah: 191 “Dan bunuhlahmereka di mana saja kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari tempat merekatelah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika merekamemerangi kamu di tempat itu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasanbagi orang-orang kafir.

Atas dasar ayat ini timbul wacana bahwa ada terjemahan Alquran yangmengajak orang untuk berbuat radikal bahkan terorisme. Kasus terorisme yang takkunjung usai seringkali memunculkan term jihad. Jihad semakin populer dalamkaitannya dengan terorisme. Alquran menjadi sarana dalam mendoktrinasi paracalon teroris.

Majelis Mujahidin Indonesia menuding, terdapat banyak kesalahanterjemahan Alquran yang diterbitkan oleh Kementerian Agama. Dan dari sekianbanyak kesalahan diduga memicu orang untuk bertindak radikal. Kemenag punmembantah tudingan miring tersebut. Ini membuktikan terjemahan Kemenagmengundang perdebatan dan menjadikan diskursus menarik dalam mengungkapwacana terjemahan yang berkaitan dengan isu-isu terorisme.

Page 10: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah penulis ucapkan, hanya kepada-Nya ucapan itu

pantas disematkan. Maha Segala yang telah memberikan kemampuan cipta, rasa,

dan karsa kepada makhluknya. Shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi

Besar Muhammad SAW. Pembawa risalah dan rahmat bagi alam semesta.

Ada hal yang patut penulis jelaskan di sini. Seandainya penulis mampu

menggunakan daya upaya yang dimiliki dengan maksimal untuk menyelesaikan

skripsi, mungkin tidak akan ada kata pengantar yang selesai. Namun itu tidak

akan mungkin. Penulis megetahui bahwa kemapuan diri ini terbatas tanpa adanya

bantuan dari orang lain.

Oleh karena itu, meskipun telah banyak hal yang diupayakan, tentunya

terlalu sombong kiranya untuk tidak mengucapkan terima kasih kepada mereka

yang telah memberi banyak bantuan, inspirasi, edukasi dan motivasi dalam

penyelesaian skripsi ini. Dengan senang hati tentunya nama mereka saya abadikan

di kertas ini:

Bapak Dr. Saehudin M.Ag, Kajur Tarjamah atas dedikasinya kepada

mahasiswanya dalam memberikan motivasinya, Bapak Dr. Moch Syarif

Hidayatullah M.Hum Sekjur Tarjamah dan Bapak Drs.H. Ahmad Syatibi M.Ag

yang juga memberikan arahan untuk menuntaskan studi akhir saya.

Bapak Prof. Dr Sukron Kamil M.Ag, dan Bapak Drs. Ikhwan Azizi M.A,

Pembimbing yang sangat sabar menunggu selesainya skripsi saya ini, dan telah

memberi banyak masukan, motivasi juga arahan yang tepat sampai skripsi ini

selesai.

Page 11: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

Yang tercinta kepada orang tua saya, Ibu Rohani karena telah memberikan

segala daya upayanya dalam mengurusi saya hingga sekarang ini. Tanpa kasih

sayang dan doanya setiap waktu mungkin tidak akan pernah ada tulisan ini.

Almarhum Bapak saya, Muchtar berpesan “raih cita-citamu, jadilah anak

yang soleh dan selalu perbaiki akhlak”. Almarhumah Siti Humairoh yang telah

memberi banyak pelajaran kesabaran.

Keluarga Saya yang lain Ncing Lani dan Bu Le, Zani, Baba Molan, Om

Ncup dan Bi Marti, Mamah Neneng, Umi Juju, Nenek Siti Hanah, Ibu Marsih, Ibu

Hj Eti dan Bapak H Priyo Utomo, Pak Ustadz Miftah dan Pak Ustadz Afif, Emak

Fatmah dan guru ngaji saya Kak Nunung yang telah mengajarkan saya membaca

Alquran.

Keluarga-keluarga lain yang telah membesarkan saya, LPM INSTITUT,

Legosodotco, Jurusan Tarjamah, Karang Taruna Rt 05, Kelompok KKN, The Rest

Area KMM RIAK, Marawis Al-Amanah.

Teman-teman saya, Polem Fajar Ismail, Umar Mukhtar buat pinjaman

referensinya, M Gustar Umam, Adnan Syafii, Nurshofa, Nine Gustriani, Siti

Suryani dan teman-teman Tarjamah lainnya, Dika Irawan, Iswahyudi, Hilman

Fauzi, Lilis Khalisotussurur dan Mas Doni Dole Purwanto, Mas Bowo, M

Fanshoby, Iswahyudi, Egi Fajar, Abdul Kharis, Noor Rachmah Julia, Rina

Dwihana, Amelia Fitriani, Iit Septi, Dyah Citra Wardhani, Adhie Satya, Isnen

Hadi, Faris Bimantara, Mozza Dewi, Cimot Zulkifly, Nauli, Rian Bachtera,

Halim, Komeng Jimbe, Ipan, Gustia, dan Mbak Sisi yang udah ngasi hadiah ke

Rinjani, Didik, Wahyu, Bayu, Mpok Nia dan Erni, Bang Maul, Setyarini

Page 12: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

Faradilla, Rachmat Fauzi, Janwar. Terimakasih banyak untuk Isnawati dan Gita

Nawangsari yang sudah menyuruh cepat-cepat menyelesaikan skripsi ini.

Wassalam

Jakarta, 25 April 2014

Penulis

Page 13: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................... iLEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN ................................... iiPEDOMAN TRANSLITERASI ARAB- INDONESIA ....................... iiiKATA PENGANTAR ....................................................................... ivABSTRAK ............................................................................................... vDAFTAR ISI ............................................................................................... viBAB I PENDAHULUAN ....................................................................... 1

A. Latar Belakang Masalah ............................................................... 1B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ..................................... 10C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian .................................................. 10D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 11E. Metodologi Penelitian ................................................................ 11F. Riset Terdahulu ............................................................................. 13G. Sistematika Penulisan ................................................................ 13

BAB II PIJAKAN TEORI ....................................................................... 15A. Analisis Wacana ............................................................................ 15

1. Pengertian Analisis wacana .................................................. 162. Analisis Wacana Teun Van Dijk .................................... 183. Kerangka Wacana Van Dijk .................................... 19

a. Dimensi Teks ............................................................... 21b. Kognisi Sosial ............................................................... 27c. Konteks Sosial ............................................................... 28

B. Teori Penerjemahan Alquran .................................................. 281. Pengertian Terjemah ............................................................... 292. Unsur Teori Menerjemah .................................................. 323. Metode Terjemahan Alquran ................................... 33

a. Terjemahan Harfiyah ............................................... 33b. Terjemahan Tafsiriyah atau Maknawiyah ........... 34

BAB III WACANA TERORISME DAN PENGGUNAAN AYAT-AYATJIHAD DALAM ALQURAN TERJEMAHANKEMENTERIAN AGAMA .................................................................... 39

A. Pengertian Terorisme .......................................................... 39B. Terorisme dan Warisan Pencerahan .................................. 40C. Faktor Pendorong Gerakan Terorisme di Indonesia .......... 43D. Hubungan Terjemahan Ayat Alquran

Kementerian Agama dengan Terorisme .................................. 46.

BAB IV ANALISIS WACANA TERHADAP PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM ALQURAN TERJEMAHAN KEMENTERIANAGAMA ............................................................................................... 50

Page 14: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

A. Kekeliruan Pemahaman Mendasar dalam Terjemahan Ayat-ayatAlquran tentang Jihad dan Perang .................................. 50

B. Analisis Wacana ...................................................................... 521. Struktur Makro .......................................................... 522. Struktur Supra .......................................................... 543. Struktur Mikro .......................................................... 584. Analisis Kognisi Sosial ............................................... 705. Analisis Konteks Sosial ............................................... 74

BAB V PENUTUP ................................................................................... 79A. Kesimpulan ....................................................................... 76B. Saran ................................................................................... 78

DAFTAR PUSTAKA

Page 15: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

1

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Mengapa bangsa yang katanya berbudaya, berbudi luhur dalam balutan

multikultural dan multireligius kini berubah menjadi masayarakat yang saling

memangsa jenisnya (homo homini lupus). Bangsa Indonesia kian hari makin akrab

dengan berbagai bentuk perilaku neo-barbarian, yakni sosok dan komunitas yang

berprofil dan berstatus masyarakat modern, namun perilaku yang ditunjukkan

tergolong barbar.

Pandangan itu menjadi sulit dibantah ketika bangsa ini banyak mencatatkan

peristiwa kelam seputar kekerasan terorisme. Kasus peledakan bom seperti tragedi

Bali dan hotel JW Marriot Jakarta. Peristiwa ini berdampak bahwa Indonesia

dipopulerkan melakukan support to terrorism dan state of terrorism. Karena

(asumsi dan hipotesisnya) di negara ini telah memberi kebebasan bagi masing-

masing pemeluk agama untuk mengimplementasikan dan mengembangkan ajaran

agamanya, termasuk fundamentalisme beragama.1

Selama ini terorisme sering diidentikkan dan dilekatkan pada penganut

fundamentalisme, utamanya fundamentalisme agama yang kemudian disebut

sebagai anak kandung Islam. Artinya agama Islam diposisikan sebagai terdakwa

1 Hasyim Muzadi dalam kata pengantar, Abdul Wahid dkk, Kejahatan Terorisme,Perspektif Agama, HAM dan Hukum, (Bandung: Refika Aditama, 2004) h., v

Page 16: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

2

yang ajaran-ajarannya membenarkan dan menghalalkan kekerasan sebagai tajuk

perjuangan. Apalagi sejak Amerika menuduh Osama bin Laden sebagai satu-

satunya dalang teroris penghancuran gedung kembar WTC dan Pentagon, Islam

makin disudutkan sebagai spirit utama lahirnya kekuatan-kekuatan fundamentalis

dan ekstremis, termasuk pelaku kekerasan atas nama agama atau jihad atas nama

Tuhan.

Di dalam kata pengantar buku Kejahatan Terorisme, Persepektif Agama, Ham

dan Hukum, Hasyim Muzadi berpendapat jika mengikuti asumsi atau tuduhan di

atas, tentu saja jika benar bahwa pelaku terorisme adalah gerakan

fundamentalisme, hal ini disebabkan karena adanya pemahaman keagamaan yang

eksklusif, skriptualis dan miskinnya pemahaman realitas historis dalam

menafsirkan pesan esoteris teks-teks kitab suci, sehingga mewariskan sikap-sikap

yang fanatik, dogmatik, eksklusif dan intoleran dalam menyikapi realitas

perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi. Bahkan

termasuk dalam menyikapi wilayah juang dalam mengimplementasikan prinsip

“menegakkan kebajikan dan mencegah kemunkaran” (amar ma’ruf nahi munkar).

2

Dampak dari sikap negatif di atas tadi tidak menutup kemungkinan bahwa hal

tersebut dapat mengarah ke tindakan terorisme. Teror mengandung arti

penggunaan kekerasan, untuk menciptakan atau mengondisikan sebuah iklim

ketakutan di dalam kelompok masyarakat yang lebih luas. Publikasi massa adalah

2 Hasyim Muzadi dalam kata pengantar, Drs. Abdul Wahid dkk, Kejahatan Terorisme,Perspektif Agama, HAM dan Hukum,. h., vi

Page 17: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

3

salah satu tujuan dari aksi kekerasan dari suatu aksi teror, sehingga pelaku merasa

sukses jika kekerasan dalam terorisme serta akibatnya dipublikasikan secara luas

di media massa.3

Jadi dampak berbagai peristiwa pengeboman yang terjadi selalu saja dikaitkan

dengan Islam. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai sejauh mana

pemahaman ke-Islaman itu sendiri pada tiap penganutnya? Islam sebagai agama

yang memiliki penganut terbanyak di Indonesia mempunyai andil besar dalam

pembentukan lingkungan damai dengan pemeluk agama lain. Ajaran Islam yang

dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia mempunyai implikasi yang kuat

terhadap cara berfikir dan bertindak masyarakat. Karena pada dasarnya Islam

memegang teguh ajaran yang terkandung dalam Alquran sebagai pedoman hidup.

Pemahaman Alquran secara penuh merupakan konsekuensi logis dalam

menjalankan ritus keagamaan baik dengan sang pencipta-Nya maupun dengan

makhluk lainnya. Alquran adalah teks, sebagai petunjuk tentu saja lahir dengan

sendirinya berbagai penafsiran. Mengenai hal itu objek kajian terhadap teks ini

tidak mengacu kepada realitas yang berada di luar teks, melainkan kepada realitas

yang digambarkan oleh teks itu sendiri.

Mengacu pada teks yang multitafsir itu, Alquran bukan hanya sebagai

pedoman hidup, namun di satu sisi juga menimbulkan polemik kebahasaan dan

3Mengutip Yasraf Amir Piliang dalam bukunya yang berjudul Posrealitas: RealitasKebudayaan dalam era Posmetafisika. AM Hendropriyono mengatakan dalam perkembangannyaitu muncul suatu konsep yang memberi pengertian, bahwa terorisme adalah cara atau teknikintimidasi dengan sasaran sistematik, demi suatu kepentingan politik tertentu. A MHendropriyono, Terorisme, Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam. (Jakarta: Penerbit BukuKompas, 2009) h., 25

Page 18: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

4

berdampak lebih lanjut pada kekeliruan pemahaman, contohnya adalah pada kasus

ayat-ayat jihad yang katanya menjadi sarana doktrinasi dalam melakukan aksi-

aksi kekerasan maupun terorisme. Berikut ini adalah beberapa contoh ayat-ayat

jihad dalam Alquran terjemahan Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran

Kementerian Agama Republik Indonesia pada tahun 2007. Contoh dalam QS al-

Anfal 8:39.4

ین ویكون فتنةتكونالحتىتلوھموقا بماهللا انتھوافإن فإن كلھالد

بصیر یعملون

Dan perangilah mereka, sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi

Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah

Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Masih terdapat beberapa ayat Alquran terjemahan Kementerian Agama yang

diterjemahkan dalam memahami teks yang terkait dengan jihad dan perang.

Berikut beberapa kutipan ayat lainnya dalam QS. 2:191:

واقتلوھم حیث ثقفتموھم وأخرجوھم من حیث أخرجوكم والفتنة أشد من القتل

وال تقاتلوھم عند المسجد الحرام حتى یقاتلوكم فیھ فإن قاتلوكم فاقتلوھم كذلك

جزاء الكافرین

4 Kemenag, Alquran Terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia (Bandung:Sigma Eksa Media, 2009). Alquran ini diterbitkan dan mengacu pada rekomendai sidang plenoLajnah Pentashihan Mushaf Alquran tahun 2007 di Wisma Haji Tugu Bogor.

Page 19: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

5

Terjemahan : Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu temui mereka, dan

usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu

lebih kejam daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu perangi mereka di

Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu, maka

perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.5

Simak pula QS.9:123 versi Kemenag:

وا یا أیھا الذین آمنوا قاتلوا الذین یلونكم من الكفار ولیجدوا فیكم غلظة واعلم

أن هللا مع المتقین

“Wahai orang-orang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang di sekitar

kamu itu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu, dan ketahuilah,

bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” 6

Menurut asumsi penulis, dalam pandangan masyarakat awam terhadap agama

maka rentan sekali disusupkan doktrin-doktrin mengenai ayat tersebut oleh kaum

radikalis untuk menggerakan aksi teror. Karena Islam adalah suatu keyakinan,

kalau tidak membaca Alquran bagaimana bisa mengetahui ajaran Islam itu sendiri.

Bila saja pemahaman ke-Islaman yang mendasar sebagai agama pembawa

rahmat kepada alam semesta rapuh maka bisa saja menciptakan manusia nihilistis

haus jihad karena merasa harus memerangi agama lain. Tak ada heroisme yang

5 Ibid, Alquran Terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia QS. 2:191

6 Ibid, Alquran Terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia QS.9:123

Page 20: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

6

lebih membanggakan dan memuliakan manusia nihilis yang mengalami defisit

nilai-nilai dalam jiwanya selain dari pada menghabisi nyawa manusia lain atas

nilai-nilai luhur, entah itu hak asasi manusia ataupun nilai-nilai agama.

Dari sebab di atas, sangat mungkin terjadi penodaan agama melalui aksi jihad

bila kaum muslimin tidak memahami petunjuk dalam Alquran. Di dunia, Alquran

tertulis dalam bahasa Arab yang kemungkinan besar dapat menimbulkan berbagai

implikasi. Pertama, bahasa Arab merupakan bahasa yang mewakili unsur budaya

Arab, sebab bahasa adalah sistem tanda dalam masyarakat yang mewakili hampir

seluruh (kalau tidak malah seluruhnya) aspek kehidupan masyarakat pemakainya7.

Kedua proses pemahaman Alquran oleh umat Islam Indonesia haruslah

melalui penerjemahan yang dalam prosesnya subyektifitas seorang penerjemah

menjadi mustahil untuk diikutsertakan. Ketiga, setiap pembaca Alquran saat ini

tidak memiliki akses langsung kepada pembuat teks akibat adanya perbedaan

ruang, waktu, tradisi, sehingga dapat mengakibatkan salah penafsiran.8

Sebagaimana yang dikatakan oleh Komaruddin Hidayat, proses pemahaman,

penafsiran dan penerjemahan atas sebuah teks selalu mengasumsikan adanya tiga

subyek yang terlibat, yaitu; dunia pengarang, dunia teks, dan dunia pembaca yang

masing-masing memiliki konteks tersendiri, sehingga jika memahami yang satu

7 E. Sumaryono, Hermeneutik; sebuah metode filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1999), cet.ke-2, h. 57-58

8 Hilman Latief, Nasr Hamid Abu Zaid; Kritik Teks Keagamaan, (Yogyakarta: eLSAQ,2003), h. 74-75

Page 21: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

7

tanpa mempertimbangkan yang lain maka pemahaman kita atas teks menjadi

miskin.9

Tiga subyek ini yang kemudian dikenal dalam dunia hermeneutika dengan

unsur triadik (the Author, text, the reader)10. Karena itu, pemahaman dan

penafsiran terhadap semua teks, termasuk teks-teks Alquran harus melibatkan

ketiganya. Selain itu, analisis konteks juga sangat diperlukan dalam memahami

peristiwa pewahyuan, sebab ayat Alquran tidak akan dapat dimengerti kecuali

dengan melihat konteks saat wahyu diturunkan.

Namun di satu sisi pula perlu adanya pertimbangan bahwa persoalan bahasa

juga menyangkut masalah komunikasi yang mempunyai keterbatasan fungsi

deskriptif dan hanya berkutat dengan sistem penandaan. Sistem penandaan ini

memungkinkan keterlibatan banyak unsur yang berpengaruh terhadap kesan

pemahaman seseorang terhadap sebuah teks secara subjektif.

Kembali ke persoalan keterkaitan antara pembaca terjemahan Alquran dengan

aksi teror, penulis mengasumsikan bahwa pemahaman yang tidak kontekstual

meyebabkan sempitnya pemikiran seorang pembaca terjemahan. Seperti

pernyataan Umaruddin Masdar, pembacaan Alquran secara tekstual telah

9 Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama Sebuah Kajian Hermeneutik,(Jakarta: Paramadina,1996)

10 Ahmad Muzakky, Kontribusi Semiotika dalam Memahami Bahasa Agama, (UIN-Malang Press, 2007)

Page 22: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

8

menyebabkan dunia pemikiran Islam baik fundamentalis, tradisonalis maupun

yang liberalis tidak pernah simetris dengan kenyataan yang dihadapi umat.11

Dari pernyataan Umar Masdar ini, bila dikaitkan dengan aksi jihad maka

kecenderungan pembaca Alquran dengan tekstual akan berpengaruh terhadap

tingkah laku dalam memahami ayat tanpa mengindahkan kontekstualitas yang

sedang terjadi dalam masyarakat. Di sisi lain pembacaan terjemahan secara

tekstual juga menimbulkan polemik dalam tubuh tim penerjemah Kemenag,

seperti pada mulanya, gagasan mengoreksi terjemah Alquran terbitan

Kementerian Agama oleh Amir Majelis Mujahidin Ustadz Muhammad Thalib,

lahir dari perspektif liberalis yang mendiskreditkan kitab suci umat Islam. Mereka

mengopinikan, bahwa aksi bom yang terjadi di Indonesia dilakukan oleh

kelompok teroris ideologis, yang mendasarkan tindakannya pada Alquran.

Sejumlah ayat Alquran dinilai berpotensi menumbuhkan radikalisme dan

mengajak orang beraliran keras. Pernyataan Dirjen Bimas Islam Depag, Prof. Dr.

Nasaruddin Umar, dalam simposium Nasional bertema: ‘Memutus Mata Rantai

Radikalisme dan Terorisme’ di Jakarta, Rabu 28 Juli 2010, adalah contoh

aktualnya. Nasaruddin Umar menyatakan: “Ada terjemahan harfiyah Alquran

yang berpotensi untuk mengajak orang beraliran keras. Dia mencontohkan, “Dan

bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka…(Qs. 2:191). 12

11 Umaruddin Masdar, Agama Kolonial ; Colonial Mindset dalam Pemikiran IslamLiberal (Yogyakarta: Klik.R, 2003), h. 15-16.

12 Simposium Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme diadakan pada Rabu 28Juli 2010, merupakan sebuah usaha perspektif dan semangat baru atas isu-isu radikalisme dan

Page 23: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

9

Selain itu pula ada faktor lain yang menyebabkan timbulnya aksi jihad di luar

pemahaman teks, yaitu, latar belakang sosial, politik, maupun ekonomi seperti

yang dikemukakan Abdul Jamil dan Muchlis M Hanafi, masing-masing Kepala

Balitbang dan Diklat Kemenag dan Kepala Bidang Pengkajian Alquran Puslitbang

Kemenag,

Katanya, “pemahaman terhadap teks Alquran yang parsial, sempit, dan sikap

antipati terhadap perbedaan pandangan keagamaanlah yang menyebabkan mereka

jadi teroris. Faktanya, mayoritas penduduk di Indonesia menggunakan terjemahan

itu, tapi jumlah teroris tergolong minoritas bahkan bisa dihitung jari. Pada

umumnya mereka anti pemerintah, termasuk anti terjemahan Alquran yang

diterbitkan pemerintah.”13

Dari pemaparan tersebut bisa diasumsikan adanya pengaruh ekstrinsik teks

kepada pembaca dan pembacaan teks secara harfiah melahirkan dampak dan

perang wacana bagaimana teks Alquran bisa mempengaruhi tindakan seseorang

untuk menjadi teroris. Berdasarkan pemikiran di atas penulis membahas skripsi

ini dengan judul: PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD ALQURAN

TERJEMAHAN KEMENTERIAN AGAMA (ANALISIS WACANA).

terorisme. Simposium ini melibatkan Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan RepublikIndonesia,Kepolisian Negara Republik Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Islam NegeriSyarif Hidayatullah, Lazuardi Birru dan Lembaga Survei Indonesia.

13 Abdul Jamil dan M Muchlis Hanafi,http://puslitbang1.balitbangdiklat.kemenag.go.id/index.php Kemenag Bantah Terjemahan PicuAksi Terorisme. Akses pada 25 juni 2011.

Page 24: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

10

B. Pembatasan Masalah dan Perumusan Masalah

Untuk dapat menemukan sebuah pembahasan secara lebih mendalam, penulis

membatasi objek penelitiannya pada ayat-ayat yang sering dijadikan referensi

dalam memperdebatkan aksi jihad yang kerap terjadi di Indonesia. Yaitu QS al-

Anfal 8:39, QS at-Taubah 9:123, QS al-Baqarah 2:191 Sedangkan perumusan

masalah dalam skripsi ini akan didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Bagaimana Lajnah Pentashihan menerjemahkan ayat-ayat jihad yang

memungkinkan munculnya gerakan radikalisme?

2. Bagaimana wacana yang berkembang dalam masyarakat terhadap hasil

terjemahan ayat-ayat jihad Alquran oleh Kementerian Agama?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Skripsi ini ditulis untuk merumuskan ulang terjemah sebagai sebuah disiplin

ilmu yang melahirkan berbagai persepsi tentang dunia asing. Hal ini penting untuk

membuat paradigma baru tentang teks yang dikaitkan dengan konteks ke-

Indonesiaan.

Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah

1. Mengetahui metode terjemahan Alquran yang digunakan oleh

Kementerian Agama RI .

2. Mengetahui sejauh mana dampak yang terjadi ketika pembaca memahami

ayat yang sering digunakan kaum jihadis dari terjemahan Kemenag RI.

Page 25: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

11

D. Manfaat penelitian

1. Penelitian diharapkan menjadi bahan rujukan bagi penerjemah dalam

menerjemahkan ayat-ayat yang mengarah pada terorisme.

2. Penelitian ini juga diharapkan menambah wawasan wacana terhadap

terorisme.

3. Diharapkan menjadi salah satu solusi rujukan mengatasi masalah terorisme

yang didasari pemahaman tekstual terhadap ayat Alquran yang mengarah pada

gerakan terorisme.

E. Metodologi Penelitian

Metode yang penulis pergunakan dalam membahas skripsi ini adalah

deskriptif analitis yang berusaha memberikan pemecahan masalah dengan jalan

mengumpulkan data, menyusun dan mengklarifikasinya, menganalisis dan

menginterpretasinya.

Data yang penulis dapatkan dalam skripsi ini diperoleh dari beberapa sumber,

baik primer maupun sekunder. Sumber primer dalam hal ini adalah Alquran.

Selain itu, penulis juga melakukan pendekatan pustaka melalui buku –buku,

artikel dalam koran dan bunga rampai.

Adapun mengenai metode analisis wacana, penulis gunakan dalam penelitian

ini akan membatasi dalam hal analisis wacana kritis dalam buku Teun A van Dijk

yang berjudul Macrostructure an Interdisciplinary Study of Global Structures in

Page 26: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

12

Discourses, Interaction and Cognition. Secara general analisis wacana dalam

buku ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi

dan reproduksi makna. Bahasa tidak dipahami sebagai medium netral yang

terletak di luar diri si pembicara. Bahasa dipahami sebagai representasi yang

berperan dalam membentuk subyek tertentu, tema-tema wacana tertentu, maupun

strategi-strategi di dalamnya. Analisis wacana tidak hanya didasarkan pada

analisis teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi.

Pemahaman produksi teks pada akhirnya akan memperoleh pengetahuan mengapa

teks bisa demikian. Van dijk juga melihat bagaimana struktur sosial, dominasi,

dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat dan bagaimana kognisi atau

pikiran dan kesadaran yang membentuk dan berpengaruh terhadap teks-teks

tertentu. Oleh karena itu, analisis wacana dipakai untuk membongkar kuasa yang

ada dalam setiap proses bahasa; batasan-batasan apa yang diperkenankan menjadi

wacana, perspektif yang mesti dipakai, topik apa yang dibicarakan.

Secara teknis, penulisan skripsi ini didasarkan pada buku Pedoman Penulisan

Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, Disertasi) yang berlaku di lingkungan UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta yang diterbitkan oleh Center of Qulity Development and

Assurance (CeQDA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

F. Riset Terdahulu

Skripsi ini mengacu pada riset skripsi Nur’aini dalam Analisis semantik pada

kata ƸƲҸljdan pada Alquran Terjemaan Depag dengan H. B Jassin (Studiحكم

Kasus: Surat Al Maidah). Selain itu, Analisis Semantik Terhadap penerjemahan

Page 27: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

13

ayat-ayat tentang pemberlakuan Syariat Islam dalam Alquran Terjemahan

Departeman Agama oleh Makyun Subuki.

Kedua Skripsi ini menjadi landasan penulis bahwa memang penggunaan

terjemahan ayat-ayat Alquran yang keliru bisa membuat pemahaman yang keliru

pula.

G. Sistematika Penulisan

Untuk lebih dapat memberikan penjelasan secara sistematis dan komprehensif

dengan melihat persoalan secara objektif maka penulis menyusun skripsi ini

berdasarkan urutan sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan: terdiri dari lima sub bab yaitu; Pertama, Latar belakang

masalah; kedua pembatasan dan perumusan masalah; ketiga, tujuan dan kegunaan

penelitian; keempat metode pembahasan; kelima manfaat penelitian dan; keenam,

Sistematika penulisan.

Bab II Analisis Wacana dan teori terjemah, terdiri dari empat subbab yaitu:

pertama; pengertian wacana, kerangka analisis, dan ragam analisis wacana;

Kedua:, Terjemah; Sejarah; Pengertian; dan Ragamnya, dan; Ketiga, Relasi antara

Analisis Wacana dan Teori terjemah, berisi tentang hubungan wacana dengan

teori penerjemahan.

Bab III Analsis Wacana Terhadap Penerjemahan Ayat-Ayat “Teror” dalam

Alquran terjemahan Kemenag. Bab ini terdiri dari tiga sub bab, yaitu: Pertama,

Pengertian Terorisme, , identifikasi beberapa hal yang dapat mendorong aksi

teror, menganalisis ayat Alquran yang dijadikan landasan melakukan teror.

Page 28: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

14

Kedua, wacana tentang teror, dalam kasus yang terjadi di Indonesia, dan;

hubungan terjemahan ayat Alquran Kementerian Agama terhadap terorisme.

Bab IV Analisis Wacana Terhadap Penerjemahan Ayat-Ayat “Teror” Dalam

Alquran Terjemahan Kementerian Agama Bab ini terdiri dari tiga sub bab:

Pertama, Kekeliruan Pemahaman Mendasar Dalam Terjemahan Ayat-ayat

Alquran Tentang Jihad dan Perang. Kedua, Analisis Semantik Terjemahan Ayat

“teror” dalam Alquran. Ketiga, Pembentukan Wacana Terhadap Penerjemahan

Ayat-ayat “teror” QS. 2:191, QS. 8:39, QS.9:123. Keempat, Bantahan Terjemahan

“Teror”. Kelima, Analisis Wacana Kritis.

Bab V penutup, terdiri dari dua sub bab; Kesimpulan dan kedua saran.

Page 29: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

15

BAB II

PIJAKAN TEORI

A. Analisis Wacana

1. Pengertian Analisis Wacana

Wacana berasal dari bahasa Sansekerta wac/wak/vak, yang artinya berkata,

berucap. Kata tersebut kemudian mengalami perubahan bentuk menjadi

wacana.14Sedangkan pengertian wacana adalah satuan bahasa terlengkap dalam

hirarki gramatikal tertinggi dan merupakan satuan gramatikal yang tertinggi atau

terbesar. Wacana direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh, seperti novel,

cerpen, atau prosa dan puisi, seri ensiklopedi dan lain-lain serta paragraf, kalimat,

frase, dan kata yang membawa amanat lengkap. Jadi, wacana adalah unit

linguistik yang lebih besar dari kalimat atau klausa. 15

Istilah wacana dipakai dalam bahasa indonesia dipakai sebagai padanan

(terjemahan) kata discourse dalam bahasa Inggris. Secara etimologis kata

discourse itu berasal dari bahasa latin discursus ‘lari kian kemari’. Kata discourse

itu diturunkan dari kata discurrere. Bentuk discurrere itu merupakan gabungan

dari dis dan currere ‘lari, berjalan kencang’.16 Wacana atau discourse kemudian

14 Douglas dalam Mulyana, Kajian Wacana : Teori, Metode dan Aplikasi Prinsip-PrinsipAnalisis Wacana. (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2005), hal. 3.

15 Kridalaksana dalam Yoce Aliah. Analisis Wacana Kritis. (Bandung: Yrama, 2009)

16 Wabster dalam Baryadi Praptomo, Dasar-dasar Analisis Wacana dalam Ilmu Bahasa.(Yogyakarta: Pustaka Gondhosuli, 2002), hal. 1.

Page 30: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

16

diangkat sebagai istilah linguistik. Dalam linguistik, wacana dimengerti sebagai

satuan lingual (linguistic unit) yang berada di atas tataran kalimat. 17

Bagaimana teks dapat menciptakan suatu wacana, secara garis besar, dapat

disimpulkan pengertian wacana adalah satuan bahasa terlengkap daripada fonem,

morfem, kata, klausa, kalimat dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang

berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata,

disampaikan secara lisan atau tertulis ini dapat berupa ucapan lisan dan dapat juga

berupa tulisan, tetapi persyaratanya harus dalam satu rangkaian dan dibentuk oleh

lebih dari sebuah kalimat.

Sebagai objek kajian dan penelitian kebahasaan, Aspek-aspek yang

terkandung didalam wacana menyuguhkan kajian yang sangat beragam. Dalam

memahami wacana ada tiga hal yang paling penting yaitu, teks, konteks dan

wacana. Teks dalam pengertian umum, seperti yang diungkap oleh Rina Ratih

adalah dunia semesta, bukan hanya pada teks tertulis atau teks lisan. Adat istiadat,

kebudayaan, film dan drama juga termasuk teks.18 Dengan kata lain teks adalah

semua bentuk bahasa yang bukan hanya kata-kata baik dalam bentuk lisan

maupun tertulis. Teks adalah bentuk pelembagaan sebuah peristiwa dalam bentuk

tulisan bahkan teks juga dapat digambarkan sebagai setiap bentuk bahasa yang

tidak terbatas pada bahasa verbal lisan dan tulisan.19 Konteks adalah situasi di luar

17 Baryadi Praptomo, Dasar-dasar Analisis Wacana dalam Ilmu Bahasa. (Yogyakarta:Pustaka Gondhosuli, 2002), hal. 2.

18 Rina Ratih, “Pendekatan Intertekstual dalam pengkajian sastra,” dalam MetodologiPenelitian Sastra, ed. Jabrohim (Yogyakarta: Hanindita Graha Widia, 2001), h. 137

19 Alex Sobur, Analisis Teks Media; Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, AnalisisSemiotik, dan Analisis Framming, (Bandung: Rosdakarya, 2001) h. 53

Page 31: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

17

teks yang mempengaruhi penggunaan bahasa. Sedangkan wacana adalah apabila

konteks dan teks berada dan dimaknai secara bersama-sama.

Dalam konteks wacana, menurut J. D. Parera, harus terdiri dari tiga hal; (i)

setting, menyangkut waktu, tempat, dan situasi kejadian (ii) kegiatan, semua

kegiatan yang terjadi dalam interaksi berbahasa dan (iii) relasi, hubungan dan

jenis hubungan yang terjadi dalam interaksi tersebut.20

Konteks memasukkan semua situasi dan hal yang berada di luar teks dan

memengaruhi pemakaian bahasa, seperti partisipan dalam bahasa, situasi di mana

teks tersebut diproduksi, fungsi yang dimasukkan dan sebagainya. Di sini wacana

kemudian dimaknai sebagai teks dan konteks bersama-sama. Titik perhatian dari

analisis wacana adalah menggambarkan teks dan konteks secara bersama-sama

dalam suatu proses komunikasi.

Di sini tidak hanya proses kognisi dalam arti umum, tetapi juga gambaran

spesifik dari budaya yang dibawa. Studi mengenai bahasa di sini memasukkan

konteks, karena bahasa selalu berada dalam konteks, dan tidak ada tindakan

komunikasi tanpa partisipan, interteks, situasi dan sebagainya.21

2. Analisis Wacana Teun van Dijk

Secara garis besar analisis wacana adalah tindakan dalam mengupas

ideologi yang tersirat dalam sebuah teks. Karena penelitian ini menggunakan

20 J. D. Parera, Teori Semantik (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), h. 120-121.

21 Eriyanto, Analisis Wacana : Pengantar Analisis Teks Media. (Yogyakarta: LKIS, 2001)h. 9.

Page 32: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

18

model teori Van Dijk maka perlu diketahui terminologi analisis wacana dari Van

Dijk sendiri yang dikutip dari buku “Aims of Critical Discourse Analysis”

Critical Discourse Analysis (CDA) has beome the general label forstudy of text and tal, emerging from critical linguistics, criticalsemiotics and in general rom socio-politically conscious andoppsitional way of investigating language, discourse andcommunication. As is the case many fields, approaches, andsubdiscipline in language and discourse studies, however it is noteasy precisely delimit the special principles, practice, aims, theoriesor methods of CDA. 22

Studi wacana ini berasal dari analisis linguitik kritis. Merambah pada ilmu

social lainnya, seperti analisis semiotik kritis, bahasa, wacana, komunikasi, dan

ilmu sosial lainnya. Meski awalnya berasal dari bahasan wacana linguistic, tapi

tidak menutup kesempatan pada ilmu sosial lainnya.

Van Dijk memfokuskan kajiannya pada peranan strategis wacana dalam

proses distribusi dan reproduksi pengaruh hegemoni atau kekuasaan tertentu.

Salah satu elemen penting dalam proses ananlisi terhadap relasi kekuasaan atau

hegemoni dengan wacana adalah pola-pola akses terhadap wacana publik yang

tertuju pada kelompok-kelompok masyarakat. Secara teoritis bisa dikatakan agar

relasi antara suatu hegemoni dengan wacana bisa terlihat jelas, maka kita

membutuhkan hubungan kognitif dari bentuk-bentuk masyarakat, ilmu

pengetahuan, ideologi beragam representasi sosial lain yang terkait dengan pola

pikir sosial. Kaitannya adalah hubungan individu dengan masyarakat, serta

struktur sosial makro dengan mikro.

22 Teun Van Dijk, Aims of Critical Discourse Analysis, (Japan Siscorse, 1995) Vol. 1, h.17.

Page 33: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

19

Menurut Van Dijk, analisis wacana memiliki tujuan ganda: sebuah teoretis

sistematis dan deskriptif, yaitu struktur dan strategi di berbagai tingkatan wacana

lissan tertulis, dilihat baik sebagi objek tekstual dan sebagai bentuk praktik sosial

budaya antar tindakan dan hubungan. Sifat teks ini berbicara dengan relevan pada

struktur kognitif, sosial, budaya dan konteks sejarah. Dengan kata lain studi

analisis teks dalam konteks. Momentum penting dalam pendekatan tersebut

terletak pada fokus khusus yang terkait pada isu sosial-politik, dan terutama

membuat eksplisist cara penyalahgunaan kekuasaan kelompok dan mengakibatkan

ketidaksetaraan, legitimasi, atau ditantang dalam dan dengan wacana.23

3. Kerangka Wacana Van Dijk

Wacana digambarkan mempunyai tiga dimensi, yaitu teks, kognisi sosial

dan konteks sosial. Inti analisis Van Dijk adalah menggbungkan ketiga dimensi

tersebut dalam kesatuan analisis.

23 Teun Van Dijk, Discourse and society: Vol 4 (2). (London: Newbury Park and NewDelhi: Sage, 1993), h. 249.

Page 34: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

20

Konteks Sosial

Kognisi Sosial

Teks

Gambar 1.24

Diagram Model Analisis Van Dijk

Sedangkan skema penelitian dan metode yang biasa dilakukan dalam

kerangka Van Dijk adalah sebagai berikut:

Tabel 125

Skema Penelitian dan Metode Van Dijk

Struktur Metode

Teks

Menganalisis strategi wacana yangdigunakan untuk menggambarkanseseorang atau peristiwa tertentu.Bagaimana strategi tekstual yang

dipakai untuk memarjinalkan suatukelompok, gagasan atau peristiwa

tertentu.

Linguistik Kritis

Kognisi Soisial

Menganalisis bagaimana kognisipenulis dalam memahami seseorang

atau peristiwa tertentu yang akanditulis.

Wawancara

Konteks Sosial

Menganaisis bagaimana wacana yang

Studi Pustaka, penelusuran sejarah,dan wawancara.

24 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, h. 22425 Ibid, h. 225

Page 35: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

21

berkembang di masyarakat, prosesproduksi dan reproduksi seseorang

atau peristiwa digambarkan.

a. Dimensi Teks

Sebagai bagian dari model analisis wacana dalam pewacanaan yang lebih

kompleks, Teun Van Dijk membagi dimensi teks pada pendekatan pencermatan

atas tiga tingkatan struktur wacana, yaitu: Struktur makro, strukutur supra, dan

struktur mikro (macrostructure, superstructure, and microstructure). Van Dijk

membuat kerangka analisis wacana yang dapat digunakan untuk melihat suatu

wacana yang terdiri dari berbagai tingkatan atau struktur dari teks yaitu

Tabel 2

Struktur Teks Van Dijk26

Struktur Makro

Makna global dari suatu teks yang dapat diamati dari topik atau tema yangdiangkat suatu teks

Struktur Supra

Kerangka suatu teks: bagaimana struktur dan elemen wacana itu disusun dalamteks secara utuh, seperti bagian pendahuluan, isi, penutup, dan kesimpulan

Struktur Mikro

Makna lokal dari suatu teks yang dapat diamati dari pilihan kata, kalimat, dangaya bahasa yang dipakai oleh suatu teks.

26 Ibid, 227.

Page 36: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

22

1) Struktur Makro

Struktur makro dalam teori wacana memiliki fungsi lebih terbatas. Hal ini

digunakan untuk menjelaskan berbagai pengertian tentang makna global, seperti

topik, tema, atau inti. Ini berarti bahwa struktur makro dalam wacana adalah objek

semantik. Menurut prinsip-prinsip semantik eksplisit, aturan yang harus

dirumuskan untuk menghubungkan makna kata dan kalimat (yaitu, struktur lokal)

dengan struktur makro semantik. Selanjutnya, struktur makro dalam teori wacana

diperlukan untuk menjelaskan gagasan intuitif koherensi: wacana A tidak hanya

koheren di tingkat lokal (misalnya, dengan koneksi berpasangan antara kalimat),

tetapi juga di tingkat global. 27

Van Dijk menggambarkan gagasan struktur global adalah relatif jika hal itu

dapat didefinisikan hanya berkenaan dengan beberapa gagasan seperti struktur

lokal. Hal yang sama harus berlaku untuk gagasan struktur makro. Struktur makro

pada akhirnya dibutuhkan dalam menentukan makna global. Dalam prosesnya,

teori umum interaksi berbagai jenis struktur sosial, seperti konteks sosial dan

frame interaksi, aturan, konvensi, norma, dan berbagai kategori peserta seperti

fungsi atau peran, mungkin terkait dengan tindakan global dan tidak selalu

tindakan lokal masing-masing.28

Maka dalam artian ini pewacanaan yang disajikan dalam suatu teks

interaksi tidak hanya memungkinkan perencanaan dan pengendalian urutan

27 Teun A. van Dijk, Macrostructures An Interdisciplinary Study of Global Structures inDiscourse, Interaction, and Cognition, (Hillsdale, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates,Publishers 1980), h. 10.

28 Ibid, h. 11

Page 37: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

23

tindakan di masa depan dan global tetapi juga menjamin koherensi dan fungsi

yang tepat dalam konteks sosial. Van Dijk mengasumsikan bahwa struktur makro

adalah semantik, analisis ini dimaksudkan sebagai kontribusi terhadap struktur

semantik global dalam bahasa alami.

Struktur global pada makro struktur adalah bagian dari wacana. Hal yang

sama berlaku untuk hubungan antara macrostructures semantik dan pragmatis.

Wacana dalam bahasa alami bukan hanya objek gramatikal tapi ucapan pada saat

yang sama yang dapat berfungsi sebagai aksi sosial (tindak tutur). Urutan tindak

tutur, diungkapkan oleh ucapan-ucapan berikutnya kalimat dari wacana, juga

dapat diselenggarakan di tingkat global, sebagai tindakan macrospeech. Dengan

kata lain, wacana juga mungkin menunjukkan struktur global yang tidak boleh

diperhitungkan dalam semantik atau dalam istilah skema melainkan dalam hal

tindakan, interaksi, dan khususnya tindak tutur dan konteks pragmatis yang sesuai

atau tidak.

2) Struktur Supra

Struktur supra atau (suprastructure) menunjuk pada kerangka suatu wacana

atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari

pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri

dengan penutup.29 Jadi struktur supra adalah salah satu cara untuk lebih mengatur

29 Sakban Rosidi, Analisis Wacana Kritis Sebagai Ragam Paradigma Kajian Wacana.Makalah pernah disajikan di Sekolah Bahasa, atas prakarsa Himpunan Mahasiswa IslamKomisariat Bahasa, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, 15 Desember 2007.

Page 38: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

24

urutan kalimat atau proposisi adalah untuk menetapkan berbagai fungsi untuk

kalimat-kalimat atau proposisi dalam urutan.

Dengan demikian, kita telah melihat bahwa kita dapat mengatakannya

'retoris', berfungsi sebagai 'penjelasan', 'spesifikasi,' 'perbandingan', atau

'kontradiksi. "Dalam hal ini Van Dijk memberikan kalimat atau proposisi untuk

kategori fungsional, yang menentukan jenis hubungan fungsional yang memiliki

hubungan dengan kalimat atau proposisi lainnya. Dengan demikian, B adalah

'spesifikasi' A, jika informasi dari B memerlukan informasi dari A, yang berarti

bahwa B harus memberikan keterangan lebih dari informasi umum bahwa A dan

B memiliki kesamaan.30 Berikut ini adalah jenis-jenis struktur supra

1. Narasi:, seperti novel, drama, cerita pendek, cerita rakyat, dan mitos,

Dijk menceritakan kisah-kisah dalam percakapan sehari-hari untuk

mengungkapkan pengalaman pribadi atau untuk mengesankan

pendengar dengan apa yang terjadi pada diri kita.

2. Argumen: merupakan struktur penalaran dan argumentasi Skema untuk

penalaran diterima di dalam silogisme, dengan demikian, merupakan

karakteristik untuk apa yang kita pahami dengan gagasan yang lebih

umum dari suprastruktur.

3. Makalah Ilmiah atau Laporan Eksperimental: karya ilmiah yang

memiliki jenis skema konvensional atau bahkan kelembagaan yang

lebih dikenal pembaca buku juga menentukan skema dalam wacana.

30 Teun A. van Dijk, Macrostructures An Interdisciplinary Study of Global Structures inDiscourse, Interaction, and Cognition, h. 108.

Page 39: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

25

4. Artikel Surat Kabar: artikel dari surat kabar juga memiliki skema

tertentu dalam menentukan wacana yang tersusun dari pendahuluan,

ringkasan, maupun spesifikasi di dalamnya.

3) Struktur Mikro

Istilah macrostructures diperkenalkan oleh Van Dijk didasarkan atas

kolektif praktis dan bukanlah sebagi istilah teoretis. Struktur mikro adalah nama

struktur yang terbangun dan berproses pada tingkat terpendek (Kata, frasa, klausa,

kalimat, dan hubungan antara kalimat), dengan kata lain mikro struktur

menjelaskan struktur wacana secara langsung.31

Istilah pertama terkenal dari tata bahasa klasik dan istilah kedua telah

diperkenalkan terutama yang disebut tata bahasa teks. Tata bahasa teks adalah tata

bahasa (apapun) yang tidak terbatas pada deskripsi kalimat yang terisolasi tetapi

juga memperhitungkan struktur di luar tingkat kalimat atau struktur karakteristik

wacana dan percakapan secara keseluruhan. Dengan teks kita memahami struktur

dasar abstrak wacana. Oleh karena itu, wacana merupakan gagasan observasional,

sedangkan teks adalah gagasan teoritis. Pada prinsipnya, wacana biasanya harus

menunjukkan struktur sentensial dan tekstual untuk dapat diterima dalam sebuah

komunitas bahasa, tapi ini tidak berarti bahwa teks dan wacana benar-benar selalu

memiliki struktur ini.

31 Ibid, h. 29. Diskursus kewacanaan yang dijelaskan oleh Van Dijk membuat suatuperbedaan signifikan antara penyebutan teks dan wacana 'wacana', bukan istilah 'teks', yang hanyadigunakan dalam rekonstruksi tata bahasa abstrak bahasa alami. Perbedaan serupa sebenarnyaakan berada di tempat untuk gagasan kalimat, yang juga digunakan ambigu baik sebagai istilahteoretis atau sebagai istilah observasional.

Page 40: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

26

Jika dikaitkan dengan apa yang disebut dengan satuan mikro adalah wacana

struktur makro tidak akan terbentuk apabila tidak memiliki kelengkapan

komponen struktur mikro yang menyusunnya. Dengan kata lain microstructures

memegang peranan penting dalam pembentukan macrostructures yang saling

berkaitan dengan konteks yang ada.

Ini berarti bahwa wacana global ditentukan oleh hubungan antara struktur

makro di satu sisi dan struktur semantik kalimat dan urutan (yaitu, mikro) di sisi

lain. Dalam bab ini, maka, penulis mulai merumuskan berbagai aturan yang

berkaitan dengan struktur makro-mikro. Meskipun memberikan ringkasan singkat

dari 'microlevel' analisis wacana (Fenomena seperti koneksi linear dan koherensi),

penulis juga membatasi diri pada semantik makro seperti tata bahasa dan hanya

menentukan bagaimana mikro menentukan, dan ditentukan oleh, struktur makro.

32

Hipotesa dari bab ini, kemudian, adalah bahwa wacana tidak dapat cukup

diperhitungkan di level mikro saja. Tanpa tingkat struktur makro, semantik tidak

dapat menjelaskan berbagai sifatnya.

Makna global dari wacana pada saat yang sama terlihat bahwa interpretasi

makro juga merupakan kondisi yang diperlukan untuk interpretasi kalimat dan

pembentukan koherensi lokal di level mikro tersebut. Akhirnya, hal ini diklaim

32 Van Dijk dalam Macrostructures an Interdisciplinary Study of Global Structures inDiscourse, Interaction, and Cognition, menjelaskan bagaimana struktur makro dan mikro itusaling berkaitan. Pada ranah tertentu yang tingkatannya lebih tinggi untuk menunjukkan relevansilinguistik dan tata bahasa dari analisis macrostructures semantik, Van Dijk juga menganalisisberbagai cara di mana struktur makro mungkin lebih atau kurang langsung muncul dalam'permukaan struktur' kalimat masing-masing wacana.

Page 41: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

27

bahwa komponen makro adalah bagian sah dari semantik linguistik wacana dan

bukan hanya sebuah komponen dari model psikologis pengolahan wacana. 33

b. Kognisi Sosial

Dalam kerangka analisis Van Dijk, pentingnya kognisi soial yaitu sebagai

model analisis pada kesadaran mental wartawan yang membentuk teks tersebut.

Karena, setiap teks pada dasarnya dihasilkan lewat kesadaran, pengetahuan,

prasangka, atau pengetahuan tertentu atas suatu peristiwa.. Dijk menggambarkan

bahwa setiap penulis memiliki beragam nilai, pengalaman, dan pengaruh ideologi

yang didapatkan dari kehidupannya,

Peristiwa dalam sebuah penulisan wacana dipahami berdasarkan skema atau

model. Skema dikonseptualisasikan sebagai struktur mental di mana tercakup cara

pandang manusia, peranan sosial dan peristiwa liannya pada tiap penulis. Terdapat

beberapa skema/model yang dapat digunakan dalam analisis kognisi sosial

penulis, digambarkan sebagai berikut:34

Tabel 3Skema/Model Kognisi Sosial Van Dijk

Skema Person (Person Schemas)Skema ini menjelaskan bagaimana seseorang menggambarkan dan

memandang orang lain.Skema Diri (Self Schemas)

Skema yang berhubungan dengan bagaimana diri sendiridipandang, dipahami, dan digambarkan oleh seseorang.

Skema Peran (Role Schemas)Skema ini berhubungan dengan bagaimana seseorang memandang

dan menggambarkan peranan dan posisi seseorang dalammasyarakat.

33 Teun A. van Dijk, Macrostructures An Interdisciplinary Study of Global Structures inDiscourse, Interaction, and Cognition, h. 26.

34 Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media, h. 262.

Page 42: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

28

Skema Peristiwa (Event Schemas)Skema yang paling sering dipakai, karena setiap peristiwa selalu

ditasirkan dan dimaknai dengan skema tertentu

c. Konteks Sosial

Dimensi ketiga dari analisis Van Dijk ini adalah konteks sosial, yaitu

bagimana wacana komunikasi diproduksi dalam masyarakat. Titik tekannya

adalah untuk menunjukkan makna dihayati bersama, kekuasaan sosial diproduksi

lewat praktik diskursus dan legitimasi. Menurut Van Dijk, terdapat dua poin

penting, yakni praktik kekuasaan (power) dan akses (acces).

Praktik kekuasaan didefinisikan sebagai kepemilikan oleh suatu kelompok

atau anggota untuk mengontrol kelompok atau anggota lainnya. Hal ini disebut

dengan dominasi, karena praktik seperti ini dapat memengaruhi letak atau konteks

sosial pemberitaan tersebut.

Kedua, akses dalam memengaruhi wacana. Akses ini menjelaskan

bagaimana kaum mayoritas memiliki akses yang lebih besar dibandingkan kaum

minoritas. Oleh karenanya, kaum mayoritas lebih punya akses kepada media

dalam memengaruhi wacana.

B. Teori Penerjemahan Alquran

1. Pengertian Terjemah

Sebelum menganalisis wacana pada ayat-ayat jihad dalam Alquran, ada

baiknya penulis menyinggung teori penerjemahan Alquran yang telah menjadi

panduan sejak lama. Dalam bahasa Indonesia, istilah terjemah diserap dari bahasa

Page 43: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

29

Arab, tarjamah. Bahasa Arab sendiri menyerap istilah tersebut dari bahsa

Armenia, turjuman35. Kata turjuman sebentuk dengan tarjaman dan turjuman

yang berarti orang yang mengalihkan tuturan dari satu bahasa ke bahasa lain36.

Dalam kegiatan penerjemahan, setiap jenis nash sepatutnya diperlakukan

secara khusus. Perlakuan ini menyangkut masalah teoretis yang bertalian dengan

metode dan prosedur penerjemahan. Karena itu penerjemahan nash keagamaan

berbeda dengan penerjemahan nash ilmiah, nas sastra dan jenis nas lainnya.

Perbedaan perlakuan ini terkait erat dengan karakteristik isi dan bahasa yang

mengungkapkan konteks wacana di dalamnya.

Penerjemahan Alquran memang memerlukan penanganan tersendiri

karena bagi umat Islam, Alquran memiliki aneka dimensi dan fungsi yang perlu

dijaga. Di samping itu, cara pandang penerjemah nas-nas keagamaan tentu saja

berbeda dengan sudut pandang penerjemah lain.

Proses penerjemahan Alquran merupakan rangkaian tindakan yang

dilakukan penerjemah berdasarkan atas kualifikasinya dalam mengalihkan makna

dan maksud nas sumber ke dalam nas penerima untuk memperoleh terjemahan

yang berkualitas.

35 M. Didawi, dalam Syihabuddin, Penerjemahan Arab Indonesia. (Jakarta: Humaniora,

2005), h. 7

36 I. Manzhur, dalam Syihabuddin, Penerjemahan Arab Indonesia, h. 7

Page 44: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

30

Terjemah memiliki arti mengalihbahasakan, sedangkan secara

terminologis, begitu banyak definisi yang tersaji. J. Levy seperti dikutip

Nurachman Hanafi mendefinisikan terjemah sebagai “a creative process which

always leaves the translation of freedom of choice between several approximately

equivalent possibilities of relizing situational meaning”.37 Atau seperti dikutipnya

juga, Julian House menyebut terjemah sebagai “replacement of text in the source

language by semantically and pragmatically equivalent text in the target

language”.38 Singkat kata, terjemah merupakan aktifitas pemindahan pesan dari

bahasa sumber ke bahasa sasaran, tanpa mengubah makna dan gaya bahasa yang

terkandung di dalamnya.

Meski secara pengertian terlihat sederhana, namun proses menerjemah

tidaklah mudah. Dalam proses penerjemahan, hal ihwal teks melewati serangkaian

interpretasi ulang tentang apa yang dipahami oleh seorang penerjemah pada

sebuah bahasa untuk diterjemahkan ke bahasa lainnya. Proses ini tetunya

melewati sebuah proses pencitraan, di mana gambaran tentang sebuah konsep,

baik itu sebagai sebuah peristiwa atau sebuah benda, direpresentasikan hanya

dengan satu atau beberapa kata. Hal ini dikarenakan bahasa merupakan simbol

dan sistem penandaan dari dunia nyata. Realitas adalah sebuah realitas yang

37 Nurrachman Hanafi, Teori dan Seni Menerjemahkaan, (Flores; Nusa Indah, 1986) h. 24

38 Ibid, h. 26

Page 45: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

31

diketahui setelah dialihbahasakan, atau, realitas adalah realitas yang

terbahasakan.39

2. Unsur Teori Menerjemah

Dalam bidang linguistik, penerjemahan memang dikelompokkan dalam

bidang linguistik terapan karena sebagai teori yang yang telah dirumuskan dalam

linguistik teoretis diterapkan pada bidang penerjemahan. Linguistik teoretis

berfungsi sebagai pengembangan dan pemerkaya teori penerjemahan.

Lingusitik terapan atau linguistik interdisipliner merupakan sutu disiplin

ilmu karena dapat memenuhi syarat-syarat keilmiahan, yaitu bahwa ilmu ini

dikembangkan dengan metode ilmiah yang diakui kesahihannya di kalangan para

ahli bahasa secara objektif40.

Jadi tugas teori terjemah ialah (1) mengidentifikasi dan mendefinisikan

masah-masalah penerjemahan, (2) menunjukkan faktor-faktor yang perlu

dipertimbangkan dalam memecahkan masalah tersebut, (3) menyenaraikan

prosedur penerjemahan yang dapat diterapkan, dan (4) merekomendasikan

prosedur penerjemahan yang paling sesuai. Oleh karena itu, teori penerjemahan

yang berguna ialah yang muncul dari praktik penerjemahan. Tidak ada praktik

berarti tidak ada penerjemahan41.

39 H. Tedjoworo, Imaji dan Imajinasi; Suatu telaah filsafat postmodernisme, (Yoyakarta;Kanisius, 2001), h.27

40 Syihabuddin, Penerjemahan Arab Indonesia h. 14.

41 P Newmark, dalam Syihabuddin, Penerjemahan Arab Indonesia, h. 13

Page 46: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

32

Unsur teori sangatlah penting bagi penerjemah yang berkedudukan sebagai

mediator antara penulis dan pembaca. Dia bertugas mengungkapkan ide penulis

kepada para pembaca dengan bahasa penerima yang ekuivalen dengan bahasa

sumber.42

3. Metode Terjemahan Alquran

Kualitas terjemahan Alquran sangat berkaitan erat dengan keterpahaman

terjemahan itu sendiri. Kualitas ini dapat bersifat intrinsik yaitu bertalian dengan

ketepatan, kejelasan, dan kewajaran nash. Namun, dapat pula bersifat ekstrinsik,

yaitu berkenan dengan tanggapan pembaca dan pemahamannya terhadap

terjemahan.

Dalam telaah tentang nash, kualitas intrinsik tersebut diistilahkan dengan

keterbacaan, keterpahaman, dan atau ketedasan. Ketiga istilah tersebut dipahami

secara bergantian dan didefinisikan sebagai derajat kemudahan sebuah nash untuk

dapat dipahami. Maka dalam hal ini, dari sudut tinjauan teoretis terdapat dua

metode utama dalam penerjemahan, yaitu metode hariah (literal) dan metode

maknawiah.43

a. Terjemahan Harfiah

Terjemahan harfiah adalah pengalihan bahasa yang dilakukan sesuai urut-

urutan kata bahasa sumber. Dalam hal ini terdapat upaya memindahkan sejumlah

kata dari suatu bahasa kepada bahasa lain dengan kosa kata dan susunan bahasa

42 Ibid, h. 15.

43 A. Sakri dalam Syihabuddin Penerjemahan Arab Indonesia, h. 194

Page 47: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

33

yang susuai dengan bahasa aslinya.44 Menurut Az-Zarqaniy, terjemahan seperti ini

tak ubahnya dengan kegiatan mencari padanan kata. Terjemahan ini juga disebut

dengan terjemahan lafdziyah atau musawiah

Terjemahan jenis ini dilakukan dengan cara memahami arti kata demi kata

yang terdapat dalam teks terlebih dahulu. Kemudian dicari padanan kata dalam

bentuk bahasa penerima, dan disusun sesuai dengan urut-urutan kata bahasa

sumber meskipun maksud kalimat menjadi tidak jelas. Sejatinya

terjemahan harfiah dalam definisi urut-urutan kata dan cakupan makna persis

seperti bahasa sumber tidak mungkin dilakukan, karena masing-masing bahasa

selain mempunyai ciri khas sendiri dalam urut-urutan kata dan makna yang

terkandung di dalamnya.

b. Terjemahan tafsiriyah atau maknawiah

Terjemahan jenis ini adalah alih bahasa tanpa terikat dengan urut-urutan

kata atau susunan kalimat bahasa sumber. Dalam definisi lain adalah

menerangkan pengertian yang terkandung dalam suatu kalam dengan bahasa yang

lain dengan terlepas dari kosa kata dan struktur kalimat bahasa lainnya.

Terjemahan tafsiriyah mengutamakan ketepatan makna dan dimaksud secara

sempurna dengan konsekuensi terjadi perubahan urut-urutan kata atau susunan

kalimat. Karena itu terjemahan ini juga dinamakan dengan

terjemahan maknawiah karena mendahulukan ketepatan makna. Az-Zarqaniy dan

44Miftah Faridl dan Drs. Agus Syihabuddin, Al-Qur’an Sumber Hukum Islam (Bandung:Pustaka, 1989)h. 307

Page 48: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

34

Manna’ al-Qattan sama-sama menamakan terjemahan tafsiriyah dengan

terjemahan maknawiah, walaupun di antara keduanya memiliki perbedaan dalam

aspek lain.45 Az-Zarqaniy memberikan nama terjemahan tafsiriyah karena teknik

yang digunakan oleh penerjemah dalam memperoleh makna dan maksud yang

tepat, mirip dengan teknik penafsiran, padahal bukan semata-mata tafsir.

Metode yang dipakai dalam terjemahan tafsiriyah adalah dengan

memahami terlebih dahulu maksud teks bahasa sumber, kemudian maksud

tersebut disusun dalam kalimat bahasa penerima tanpa terikat dengan urut-urutan

kata atau kalimat bahasa sumber. Berikut ini adalah syarat-syarat kualifikasi

penerjemahan tafsiriyah kriteria diperbolehkannya sebuah terjemahan dapat

diidentifikasi46:

a) Penerjemahan harus sesuai dengan konteks bahasa sumber dan konteks

bahasa penerima. Yang dimaksudkan penerjemahan harus sesuai

dengan konteks bahasa sumber adalah penerjemahan harus benar-benar

sejalan dengan yang dibicarakan dalam bahasa sumber. Contohnya

adalah tentang kata Dalam konteks kisah Nabi Yusuf dalam .السیا رة

surat Yusuf ayat 10, kata السیا رة berbeda dengan kata السیا رة dalam

konteks teknologi otomotif yang berarti mobil. Kata السیارة dalam

kisah Nabi Yusuf tersebut bermakna beberapa orang musafir.

45 Ibid, h. 307.

46 Dr. Ismail Lubis, MA., Falsifikasi Terjemahan Al-Qur’an Departemen Agama Edisi

1990, Jogja: Tiara Wacana, 2001, hal. 62-63

Page 49: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

35

b) Penerjemahan harus sesuai dengan gaya bahasa sumber dan gaya

bahasa penerima. Yang dimaksud dalam poin ini adalah penerjemahan

benar-benar memperlihatkan kesesuaian gaya bahasa yang

dipertemukan. Contoh yang dapat diajukan adalah: gaya ath-thibāq

dalam bahasa arab sama dengan gaya bahasa antitesis dalam (الطباق)

bahasa Indonesia. Secara etimologi berarti berlawanan atau

bertentangan. Selain itu, terdapat beberapa gaya bahasa yang mesti

diketahui sebelum melakukan terjemahan, seperti:

(i) Gaya bahasa al-itnāb (االطنا ب) dalam bahasa Arab sepadan dengan

gaya bahasa pleonasme47 dalam bahasa Indonesia. Contohnya

dalam kalimat bahasa Indonesia: Kejadian itu saya lihat dengan

mata kepala sendiri. Dalam al-Qur’an contohnya dalam ayat : تنزل

.......المال ئكة والروح فیما (Pada malam itu turun malaikat-malaikat

dan malaikat Jibril...).

(ii) Dalam bahasa Indonesia terdapat gaya bahasa metonimia48 yang

sepadan dengan gaya bahasa majaz mursal dalam bahasa Arab,

47 Dr. Ismail Lubis, MA., Falsifikasi Terjemahan Al-Qur’an Departemen Agama Edisi

1990. Gaya bahasa pleonasme adalah gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata lebih banyak

dari yang diperlukan untuk menyatakan suatu pikiran atau gagasan. Namun, meskipun kata yang

berlebihan tersebut dihilangkan, maknanya tetap utuh.

48Metonimia adalah gaya bahasa yang menggunakan sebuah kata untuk menyatakan

suatu hal yang lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. ایاد yang memiliki arti tangan

bisa dimaksudkan dengan pemberian

Page 50: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

36

contohnya: لھ ایاد علي yang memiliki arti dia banyak pemberiannya

terhadapku.

c) Penerjemahan harus sesuai dengan ciri khas bahasa sumber dan ciri

khas bahasa penerima. Untuk memperoleh deskripsi yang jelas tentang

ciri khas bahasa sumber dan bahasa penerima akan dilihat

dari peristiwa bahasa, contohnya adalah:

(i) Bahasa Indonesia tidak mengenal fleksi (perubahan bentuk kata),

baik konjugasi/tasrif (perubahan bentuk kata kerja),

maupun deklinasi/i’rab (perubahan bentuk kata benda/sifat) seperti

terdapat dalam bahasa Arab.

Konjugasi Tasrif

Bahasa Indonesia Bahasa Arab

Saya pergi ke pasar انا اذھب الي السوق

Saya telah pergi ke pasar السوقذھبت الي

Pergilah ke pasar اذھب الي السوق

Deklinasi

Bahasa Indonesia Bahasa Arab

Mansur sudah datang جاء منصور Saya sudah melihat Mansur رایت منصوراSaya pergi dengan Mansur ذھبت مع منصور Ali kecil علي صغیر Ali lebih kecil dari Mansur من منصور علي أصغر

Page 51: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

37

(ii) Bahasa Indonesia tidak mengenal jenis kelamin kata seperti yang

terdapat dalam bahasa Arab.

Bahasa

Indonesia

Bahasa Arab

Kamu kamu laki-laki:أنت

kamu perempuan:أنت

Ia ia laki-laki:ھو

ia perempuan:ھي

Mereka mereka laki-laki:ھم

mereka perempuan:ھن

Kamu sekalian kamu sekalian laki-laki:أنتم

kamu sekalian perempuan:أنتن

(iii) Bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk jamak dualis dan

bentuk jamak pluralis (jam’u at-taksir/broken plural, jam’u al-

muzakkar as-salim/masculine sound plural, jam’u al-mu’annas as-

salim/feminime sound plural) seperti dalam bahasa Arab.

Bahasa Indonesia Bahasa Arab

Sebuah buku كتاب Dua buah buku كتابان Beberapa buah buku كتب

Page 52: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

38

BAB III

WACANA TERORISME DAN PENGGUNAAN AYAT-AYAT JIHAD

DALAM ALQURAN TERJEMAHAN KEMENAG

A. Pengertian Terorisme

Dalam masyarakat Indonesia term terorisme akan selalu menjadi momok

perdebatan dan seolah-olah kerap kali dikaitkan dengan penganut Islam radikal.

Padahal kenyataanya gerakan terorisme tidak diajarkan oleh agama manapun.

Para ahli kontraterorisme mengatakan, teroris adalah para pelaku yang tidak

tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan

angkatan bersenjata tersebut.

Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan "teroris" dan

"terorisme", para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis,

pejuang pembebasan, pasukan perang salib, militan, mujahidin, dan lain-lain. Kata

teroris (pelaku) dan terorisme (aksi) berasal dari kata Latin terrere yang berarti

membuat gemetar atau menggetarkan. Kata teror juga bisa menimbulkan

kengerian. Pada dasarnya istilah terorisme merupakan sebuah konsep yang

memiliki konotasi sensitif karena terorisme menyebabkan terjadinya pembunuhan

dan penyengsaraan terhadap orang-orang yang tidak berdosa. 49

49 Abdul Wahid dkk, Kejahatan Terorisme, Perspektif Agama, HAM dan Hukum,(Bandung: Refika Aditama, 2004) h., 22.

Page 53: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

39

Pengertian terorisme untuk pertama kali dibahas dalam European

Convention on the Suppression of Terrorism (ECST) di Eropa tahun 1977 terjadi

perluasan paradigma arti dari Crimes Againts State menjadi Crimes Against

Humanity. Crimes Againts Humanity meliputi tindak pidana untuk menciptakan

suatu keadaan yang mengakibatkan individu, golongan dan masyarakat umum ada

dalam suasana teror.50

Sedangkan Menurut Loebby Loqman, terorisme sebagai senjata psikologis

untuk menciptakan suasana tidak menentu serta menciptakan ketidakpercayaan

masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat atau

kelompok tertentu untuk menaati kehendak pelaku teror. Kegiatan terorisme

umumnya di lakukan dengan sasaran acak, bukan langsung kepada

lawan,sehingga dengan dilakukan teror tersebut diharapkan akan mendapatkan

perhatian pihak yang dituju.51

B. Terorisme dan Warisan Pencerahan

Ideologi eksplisit para teroris yang menyerang Twin Towers dan Pentagon

pada 11/9 ialah penolakan atas jenis modernitas dan sekularisasi yang di dalam

tradisi filsafat diasosiasikan dengan konsep Pencerahan. Dalam filsafat,

Pencerahan menggambarkan bukan hanya sebuah periode spesifik, yang secara

historis bertepatan dengan abad ke-18 melainkan juga afirmasi atas demokrasi dan

50ibid, h., 23.

51 Loqman Loebby, Analisis Hukum dan Perundang-Undangan Kejahatan TerhadapKeamanan Negara Indonesia,(Jakarta: Universitas Indonesia,1990) h. 98

Page 54: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

40

pemisahan kekuasaan politik dari kepercayaan keagamaan yang dijadikan fokus

oleh revolusi Perancis dan Revolusi Amerika.52

Dalam tulisannya, Kant menyatakan bahwa pencerahan ialah kebangkitan

manusia dari ketidakdewasaanya yang ditimpakan pada dirinya sendiri.

Ketidakdewasaan merupakan ketidakmampuan menggunakan pemahamannya

sendir tanpa bimbingan orang lain. Lebih sekadar segugus kepercayaan.

Pencerahan menandai putusnya hubungan masa lalu, yang dimungkinkan hanya

atas ketidaktergantungan individu di hadapan otoritas. Tepatnya

ketidaktergantungan inilah merupakan ciri modernitas.53

Lalu apa kaitan terorisme dengan Pencerahan? Di sini Habermas berpaling

dari modernitas dan menganggap bahwa fundamentalisme merupakan

inkarnasinya. Habermas berpendapat bahwa fundamentalisme sebagai suatu

fenomen yang secara eksklusif bersifat modern. Sebagaimana Kant, Habermas

memahami modernitas lebih merupakan suatu perubahan dalam sikap

kepercayaan dari pada sebuah korpus kepercayaan-kepercayaan yang koheren.54

Suatu sikap kepercayaan lebih menunjukkan jalan di mana kita percaya

ketimbang apa yang kita percaya. Jadi, fundamentalisme kurang berurusan dengan

suatu teks atau dogma keagamaan yang spesifik dan lebih berurusan dengan

modaitas kepercayaan. Apakah kita mendiskusikan kepercayaan fundamentalisme

52 Borradori Giovanna, Filsafat Dalam Masa Teror, Dialog dengan Jurgen Habermasdan Jacques Derrida, Pnrj. St Sunardi (Jakarta: Kompas, 2005), h. 22

53 Ibid, h. 22

54 Ibid, h. 22

Page 55: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

41

Islam, Kristiani, atau Hindu, kita bicara tentang reaksi dalam bentuk kekerasan

terhadap cara modern memahami dan mempraktikkan agama. Dalam perspektif

ini, fundamentalisme bukanlah gerak kembali yang sederhana kepada suatu cara

pra-modern dalam berhubungan dengan agama: itu suatu respon panik kepada

modernitas yang dipersepsikan lebih sebagai ancaman daripada peluang.55

Selain hal tadi Habermas pun menyetujui bahwa setiap doktrin agama

didasarkan pada sebuah inti kepercayaan dogmatis; jika tidak, tidak akan ada iman

yang dimunculkannya. Namun dengan serbuan modernitas, agama-agama harus

“melepaskan diri dari doktrin mereka yang bersifat mengikat secara universal dan

penerimaannya secara politis,” agar sama-sama menjalani eksistensi di dalam

masyarakat majemuk. Transisi kepercayaan dari pra-modern ke yang modern

telah menjadi tantangan monumental bagi agama-agama dunia. Terdapat agama-

agama yang klaimnya pada kebenaran ditunjang dan diteguhkan oleh situasi-

situasi politik “yang periferinya tampak kabur meremang di luar batas-batasnya.”

Modernitas menghasilkan suatu pluralitas bangsa-bangsa dan suatu pertumbuhan

begitu rupa di dalam kompleksitas sosial dan politik. Sehingga eksklusifitas

klaim-klaim yang mutlak menjadi begitu saja tidak dapat dipertahankan. 56

55 Borradori Giovanna dalam terjemahan St Sunardi, Filsafat Dalam Masa Teror, Dialogdengan Jurgen Habermas dan Jacques Derrida, h. 23

56 Ibid, h. 28-29

Page 56: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

42

C. Faktor Pendorong Gerakan Terorisme di Indonesia

Terorisme memang menjadi momok tersendiri bagi masyarakat di

Indonesia. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah mengapa terorisme selalu

diidentikkan dengan Islam? Padahal tidak menutup kemungkinan oknum agama

lainpun juga melakukan hal serupa. Memang semua aksi tersebut tidak mungkin

berlatar hanya dari sekadar aksi jihad saja, namun faktor dasar yang

mempengaruhi aksi terorisme adalah kemiskinan. Mahfudz Siddiq, Ketua komisi I

DPR (Kompas, 14/09/2011) mengatakan bahwa faktor utama terorisme dan

konflik agama di Indonesia dan mengambil konflik Ambon sebagai contohnya

adalah Kemiskinan di Ambon, sensitivitas kelompok pasca konflik dan akibat

konflik masa lalu berdasarkan etnis dan agama.

Namun Kapolri Jendral Timur Pradopo (Lampung Pos, 21/03/2012)

Mengatakan bahwa permasalahan yang menjadi akar kekerasan, radikalisasi dan

terorisme adalah; Pertama, persoalan kemiskinan yang masih melanda sebagian

umat. Kemiskinan seringkali memaksa seseorang untuk menghalalkan segala cara

untuk mendapatkan kehidupan. Kedua, ketidakpercayaan terhadap Negara dan

tidak memiliki perasaan takut terhadap penyelenggara negara. Ketiga, kurangnya

pendidikan dan keterbelakangan dalam memahami wacana bermasyarakat.

Ketika melihat term “terorisme” hal ini bukanlah sekadar persoalan

semantik. Apakah orang menggunakan kata “teroris” ataupun tidak untuk

menggambarkan aksi-aksi kekerasan bergantung pada apakah aksi-aksinya dapat

dibenarkan. Pada tataran yang lebih luas, penggunaan istilah terebut bergantung

Page 57: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

43

pada pandangan orang yang bersangkutan: jika dunia dipandang damai, aksi-aksi

kekerasan akan sebagai suatu bentuk terrorisme. Jika dunia dianggap dalam

keadaan perang, aksi-aksi kekerasan bisa jadi diakui sebagai tindakan absah.57

Hal ini mengantarkan kembali pada pertanyaan lain, ketika agama

membenarkan kekerasan, apakah dengan demikian hal itu digunakan untuk

tujuan-tujuan politis? Ini bukanlah pertanyaan yang sederhana, sebagaimana ia

pertama kali mengemuka. Kejadian ini benar-benar pelik karena agama tidak

dapat disalahkan. Tapi tidak selalu mengarah pada kekerasan. Kasus-kasus

`seperti ini akan terjadi bila terdapat perpaduan dari sederetan situasi tertentu yang

bersifat politis, sosial dan ideologis58

Dari pemaparan tadi kita bisa mengambil hipotesa bahwa banyak orang

yang hanya mengutuk, atau paling banter memerangi terorisme. Namun mereka

lupa mengutuk dan tidak berupaya melenyapkan pemicu yang menyebabkan aksi

anarkistis tersebut. Senyatanya, kehadiran aksi-aksi semacam teroris, salah

satunya diakibatkan oleh semacam keangkuhan suatu atau sekelompok bangsa

tertentu dalam menyikapi kehidupan global. Dalam kondisi seperti itu, kelompok

yang memiliki power sering dan mudah menindas kelompok yang lebih lemah

dengan menggunakan alasan yang terkadang terlalu dicari-cari.59

57Mark Jurgensmeyer, Teror atas nama Tuhan, Kebangkitan Global Kekerasan Agama,Pnrj M. Sadat Ismail (Jakarta, Nizam Press:2002), h. 12.

58 Ibid., h.13

59 Abd, A’la, Melampaui Dialog Agama (Jakarta, Kompas: 2002), h. 65-66.

Page 58: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

44

Sementara kelompok yang lemah – dengan melakukan berbagai justifikasi

- mencoba melawan kekuasaan dan tekanan yang membelenggu mereka dengan

cara mereka sendiri. Oleh karena itu inti persoalan sebenarnya yang perlu

diselesaikan adalah bagaimana melenyapkan keangkuhan kekuasaan, dan

menggantinya dengan penciptaan dan pengembangan suatu sistem kehidupan

yang lebih manusiawi dalam arti yang sebenar-benarnya.

Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin jelas menolak dan

melarang penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan al-ghayat ,(الغایة)

termasuk tujuan yang baik sekalipun.60 Dalam hal ini Azyumardi Azra

berpendapat, bahwa terorisme sebagai kekerasan politik sepenuhnya bertentangan

dengan etos kemanusiaan. Islam menganjurkan umatnya untuk berjuang

mewujudkan perdamaian keadilan dan kehormatan, akan tetapi, perjuangan itu

haruslah tidak dilakukan dengan cara-cara kekerasan atau terorisme. Islam

menganjurkan dan memberi justifikasi kepada muslim untuk berjuang, berperang

harb dan menggunakan kekerasan (حرب) qitâl terhadap para penindas musuh (قتال)

Islam dan pihak luar yang menunjukan sikap bermusuhan atau tidak mau hidup

berdampingan secara damai dengan Islam kaum muslimin.61 Selanjutnya, Azra

pun menambahkan bahwa dalam kaidah ushul dalam Islam menegaskan الغایة التبرر

الوصیلة (tujuan tidak bisa menghalalkan segala cara). Islam menegaskan bahwa

pembasmian suatu kemungkaran tidak boleh dilakukan dengan kemungkaran pula.

60 Abdul Wahid dkk, Kejahatan Terorisme, Perspektif Agama, HAM dan Hukum,(Bandung: Refika Aditama, 2004) h., 42

61 Azyumardi Azra, Terorisme dalam perspektif Agama, dalam Kejahatan Terorisme,Perspektif Agama, HAM dan Hukum komentar diterbitkan dalam harian Kompas 2 November2002.

Page 59: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

45

D. Hubungan Terjemahan Ayat Alquran Kementerian Agama dengan

Terorisme

Dari semua hal tadi ada satu faktor yang menjadi perhatian penulis dalam

menyikapi fenomena yang terjadi. Faktor itu adalah ayat Alquran yang dijadikan

landasan “mereka” (teroris) dalam melakukan aksinya. Salah satunya adalah

ل وال تقاتلوھم عند واقتلوھم حیث ثقفتموھم وأخرجوھم من حیث أخرجوكم والفتنة أشد من القت

المسجد الحرام حتى یقاتلوكم فیھ فإن قاتلوكم فاقتلوھم كذلك جزاء الكافرین

Terjemahan : Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka,

dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah

itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi

mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu (di tempat itu),

maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.(QS. 2:191)

Selain itu dalam surat at-Taubah, ayat 123 versi Kemenag:

وا أن هللا مع المتقین یا أیھا الذین آمنوا قاتلوا الذین یلونكم من الكفار ولیجدوا فیكم غلظة واعلم

“Wahai orang-orang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang

disekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan

ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Kembali ke pembahasan sebelumnya, pada dasarnya, kemunculan

gerakan-gerakan keagamaan radikal itu dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya

Page 60: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

46

dapat dilacak pada sisi pemahaman keagamaan mereka. Dalam Islam, pemahaman

yang literal dan parsial serta sepotong-sepotong terhadap Alquran dan Sunah Nabi

mengakibatkan seseorang terperangkap ke dalam wawasan sempit dan tidak

mampu melakukan kontekstualisasi ajaran dalam kehidupan konkret.62

Umpamanya, mereka mengartikan jihad dalam Alquran sebatas arti harfiah

yang tersurat. Mereka tidak mencoba lebih jauh melalui cara pemahaman terhadap

sebab-sebab historis yang terkait dengan konsep itu, lalu menangkap nilai-nilai

universal yang dikandungnya untuk diaplikasikan ke dalam situasi konkret saat

ini, yang jelas berbeda dengan situasi yang ada pada masa turunnya Alquran.

Hal ini semakin mengeras ketika faktor-faktor lain, semisal politik

ekonomi, ikut masuk ke dalamnya. Suatu kelompok dengan pemahaman

keagamaan yang literalis akan bermetamorfosis menjadi gerakan radikal manakala

kelompok itu secara ekonomi atau politik merasa ditindas oleh kelompok pemeluk

agama lain.

Selain itu, unsur lain yang membuat seseorang atau suatu kelompok

bersikap radikal adalah sikap curiga terhadap kelompok atau penganut agama lain.

Adanya kecurigaan semacam tuduhan bahwa suatu umat dari agama lain

melakukan kecurangan dalam menyebarkan misi agama, menjadi peluang pada

62 Abd A’la, Melampaui Dialog Agama, h. 17.

Page 61: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

47

kelompok yang memiliki kecurigaan itu untuk menanggapinya melalui cara-cara

reaksioner yang mengarah kepada bentuk kekerasan dan semacamnya.63

Dalam kondisi yang penuh kecurigaan ini, suatu kelompok radikal akan

melihat segala persoalan yang berkaitan dengan umat dari agama lain dalam

perspektif teologi eksklusif. Jika kelompok itu dari Islam, ia akan melihat

permusuhan yang kebetulan terjadi antara seorang muslim dan seorang Kristen

sebagai permusuhan agama. Meskipun sebenarnya persoalannya bersifat pribadi,

kultural atau tidak ada hubungan sedikitpun dengan persoalan akidah. 64

Seringkali sikap-sikap menentang, khususnya dalam kancah pemikiran,

disebabkan oleh “ketidaktahuan” atau adanya proses “kekaburan” yang timbul

dari anggapan picik bahwa “apa yang ada dalam pikiran” identik dengan “apa

yang ada dalam kenyataan”. Tingkat kerancuan ini – dan ketidakpahaman yang

ditimbulkannya serta penentangan dan permusuhan sebagai kelanjutannya – kian

bertambah kompleks ketika “apa yang ada dalam pikiran” tersebut merupakan

sesuatu yang kuno dan berakar dalam. Sebab, kekunoan itu telah memberinya sifat

kepurbaan, suatu sifat yang membuatnya bernilai otoritatif dan tidak dapat diotak-

atik atau didekati, karena merupakan otoritas suci.65

Abu Zaid juga mengatakan, salah satu pemikiran yang mengakar kuat dan

otoritatif tersebut – yang hampir merupakan akidah karena kepurbaan dan

63 Ibid , h. 1864 Ibid.,h. 19

65 Nasr Hamid Abu Zaid, , Teks Otoritas Kebenaran, dari judul asli An;Nashsh, as-Shulthah, al-Hakikah,Pnrj. Sunarwoto Dema (Yogyakarta: LKIS, 2012), h. 85.

Page 62: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

48

dominasinya adalah pemikiran bahwa Alquran yang diturunkan melalui Jibril

kepada Muhammad adalah teks yang qadim dan azali dan ia merupakan salah satu

di antara sifat-sifat Dzat Tuhan. Karena Dzat Tuhan adalah azali dan tak bermula

maka demikian pula halnya dengan sifat-sifat-Nya dan segala yang berasal dari-

Nya. Alquran adalah firman Allah, dengan demikian, ia juga qadim karena

termasuk di antaranya sifat-sifat yang azali dan qadim tersebut.

Page 63: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

49

BAB IV

ANALISIS WACANA TERHADAP PENERJEMAHAN AYAT-AYAT

JIHAD DALAM ALQURAN TERJEMAHAN KEMENTERIAN

AGAMA

A. Kekeliruan Pemahaman Mendasar dalam Terjemahan Ayat-ayat Alquran

tentang Jihad dan Perang

Seperti telah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya, skripsi ini bertujuan untuk

menelaah lebih lanjut tentang kajian wacana hasil terjemahan Alquran oleh

Kementerian Agama, lebih khusus kepada ayat-ayat yang sering dijadikan acuan

dalam gerakan radikalisme. Titik pembahasan penulis adalah pada QS. 2:191, QS.

8:39, QS.9:123.

Surat Al Baqarah : 191

واقتلوھم حیث ثقفتموھم وأخرجوھم من حیث أخرجوكم والفتنة أشد من القتل

ك وال تقا تلوھم عند المسجد الحرام حتى یقاتلوكم فیھ فإن قاتلوكم فاقتلوھم كذل

جزاء الكافرین

Terjemahan : Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan

usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu

lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi

Page 64: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

50

mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu (di tempat itu),

maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.

Selanjutnya, QS al-Anfal 39

ن هللا بما

یعملون بصیر

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu

semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka

sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Simak pula at-Taubah : 123

وا یا أیھا الذین آمنوا قاتلوا الذین یلونكم من الكفار ولیجدوا فیكم غلظة واعلم

أن هللا مع المتقین

“Wahai orang-orang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang disekitar kamu

itu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu dan ketahuilah,

bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Dari pemaparan di atas bisa dikatakan bahwa semua ayat-ayat tadi

menerangkan tentang jihad dan perang. Jihad memang dipahami secara beragam

oleh umat Islam. Masing-masing golongan umat memiliki metodologi sendiri

dalam menjelaskan definisi jihad yang paling benar. Dalam tulisannnya

Page 65: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

51

Mu’ammar Zayn Qadafy menjelaskan secara garis besar pemaknaan jihad oleh

para sarjana muslim dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu fundamentalisme dan

post-modernisme. Pada permasalah seputar jihad, keduanya sangat berbeda dalam

menyusun definisinya masing-masing. Kelompok Fundamentalis terkesan

literalis, eksklusif dan sederhana dalam mendefinisikan jihad. Bagi mereka, jihad

adalah perang fisik melawan musuh (orang kafir).66

Sedangkan kelompok modernis, memiliki konsep jihad yang lebih kompleks

dari sekadar perang. Pada umumnya kelompok ini membentuk jihad menjadi

sebuah perjuangan yang elegan, akomodatif, dan bersahabat bagi golongan lain.

Jihad tidak diilustrasikan perjuangan hidup mati memikul senjata ke medan

perang, tetapi ia adalah usaha-usaha serius yang dilakukan dalam menegakkan

ajaran Allah apapun bentuknya.67

B. Analisis Wacana

1. Struktur Makro

Sebagai salah satu bagian dari dimensi teks dan berangkat dari terjemahan

ayat-ayat jihad di atas, struktur makro adalah suatu makna global yang berisikan

topik atau tema yang diangkat di dalamnya. Sederhananya struktur makro

merupakan makna global dari suatu teks yang dapat diamati dari topik atau tema

66 Mu’ammar Zayn Qadafy pada makalah Aplikasi Teori Interpretasi Nashr Hamid AbuZaid dalam Ayat-ayat Qitâl, salah satu tulisan dari bunga rampai Memutus Mata RantaiRadikalisme dan Terorisme, (Jakarta: Lazuardi Birru, 2010), h. 118.

67 Mu’ammar Zayn, Aplikasi Teori Interpretasi Nashr Hamid Abu Zaid dalam Ayat-ayatQitâl, h. 119.

Page 66: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

52

yang diangkat suatu teks Pada bab ini, menurut penulis struktur makro yang

tersaji di dalam fragmen-fragmen ayat-ayat jihad tadi adalah objek semantik.

Struktur makro yang penulis gunakan dalam wacana terjemahan ayat-ayat jihad

Kemenag untuk menjelaskan gagasan intuitif koherensi: wacana jihad pada ayat-

ayat tadi tidak hanya koheren di tingkat lokal (misalnya, dengan koneksi

berpasangan antara kalimat), tetapi juga di tingkat global.

Sebagai gambaran, struktur wacana dapat tersusun atas adanya elemen-

elemen dari struktur makro, struktur supra dan struktur mikro. Secara

sederhananya penyusunan struktur wacana tersusun seperti gambar berikut.

Tabel

Elemen Wacana Teks Van Dijk

StrukturWacana

Elemen Temuan

StrukturMakro

Tematik/ Topik Wacana hasil terjemahan Ayat-ayat JihadKementerian Agama

StrukturSupra Skema/ Alur

1. Pernyataan beragam olehkelompok-kelompok ideologismengenai ayat-ayat jihadterjemahan Kemenag.

2. Pemaparan kasus-kasus terorismedan argumen atas kekeliruandalam memahami ayat-ayat jihad.

StrukturMikro

Semantik,Sintaksis,

Stilistik, Retoris

Analisis terjemahan dari ketiga fragmen ayatjihad yang disebutkan, yaitu QS. 2:191, QS.8:39, QS.9:123.

2. Struktur Supra

Penulis menyepakati bahwa dalam setiap wacana juga terdapat ideologi di

dalamnya. Wacana akan selalu bersinggungan dengan ideologi. penulis ingin

Page 67: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

53

mengemukakan bahwa penggunaan dan pemahaman teks agama secara sempit

berimplikasi menimbulkan suatu kerancuan keyakinan. Hal ini menurut penulis

adalah sebagai dasar pembentukan wacana mengenai adanya terjemahan harfiyah

ayat-ayat Alquran yang berpotensi untuk mengajak orang beraliran keras.

Seperti dalam hal ini penulis mengutip hasil kajian dari Saifur Rohman dalam

studi kasus buku Imam Samudra yang berjudul Aku Melawan Teroris (2004).

Imam Samudra mengatakan “Bom Bali adalah satu di antara perlawanan yang

ditujukan terhadap penjajah Amerika dan sekutunya”.68 Di dalam kesimpulan

buku tersebut Imam Samudera menulis: Umat Islam harus bangkit melawan

mereka dengan segala daya dan upaya. Perlawanan yang disyariatkan oleh Islam

adalah dengan cara jihad. Maka, bom Bali adalah salah satu bentuk jawaban

yang dilakukan segelintir kaum Muslimin yang sadar dan mengerti arti sebuah

pembelaan dan harga dirii.69

Dari tulisan tadi Imam Samudera memperkenalkan kata bom yang dirangkai

dengan perlawanan, penjajah, syariat, jihad, dan sekutu. Konstruksi yang hendak

dihadirkan adalah legitimasi terhadap aksi pengeboman itu karena didasari oleh

gerakan perlawanan. Amerika adalah musuh yang selama ini dianggap sebagai

68 Dalam sebuah tulisan Memutus Mata Rantai Radikalisme DanTerorisme Di Indonesia: Analisis Psikologi, Filsafat, Dan Kultural,. SaifurRohman, mengatakan Terorisme pada mulanya adalah sebuah perwujudan dariendapan pemahaman mistis. Pemahaman itu diwadahi oleh produk keyakinanyang dimiliki oleh kaum Semit, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam. Masing-masingkeyakinan itu melahirkan identitas sebagai fundamentalis. Di dalam araskebudayaan, ia memanfaatkan teori konflik kebudayaan sebagaimana diwariskanoleh Huntington.Intinya, kebudayaan sebagai identitas eksklusif itu salingberhadap-hadapan untuk melancarkan pembenaran.

69 Imam Samudera, Aku Melawan Teroris., h. 114.

Page 68: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

54

penjajah yang harus diserang. Bila membaca lebih jauh, dasar penyerangan itu

adalah ayat-ayat suci yang diyakini sebagai benar. Sebab, menurutnya, ayat itu

memberikan jaminan surga kepada mereka yang melakukan jihad di jalan Tuhan.

Dengan kata lain, konstruksi wacana yang berkembang di masyarakat adalah

telah terjadi penyalahgunaan terjemahan Alquran yang dilakukan oleh Imam

Samudra. Terjemahan telah dijadikan alat propaganda dalam menebarkan

hegemoni terorisme dan menyebabkan kekusutan situasi dalam pemikiran

masyarakat. Hendropriyono juga berpendapat dengan memanfaatkan Ludwig

Wittgenstein sebagai titik tolak teoretisnya untuk mengkaji terorisme.

Bahwasanya tudingan-tudingan teror antara fundamentalisme Kristen dan Islam

tidak lebih sebagai permainan bahasa. Adapun rumusan penulisnya menyatakan

bahwa: Walau pelaku terorisme berangkat dari perbedaan sumber pengetahuan

dengan pembenaran masing-masing yang berbeda, tetapi keyakinan ontologis

mereka terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa bersifat jumbuh (identik). Artinya,

semua pihak sama-sama mengacu kepada sesuatu keyakinan yang sama, yang

identik, yaitu kepada “yang ada”, yang berada di atas segala-galanya.70

Selain hal tadi terdapat temuan penulis mengenai pernyataan dari Ketua

Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Pusat, Irfan S. Awwas

mengenai kualitas terjemahan dari kementerian Agama yang dimuat di

tempo.co pada Senin, 25 April 2011. Irfan mengatakan, bom bunuh diri di masjid

Kepolisian Resor Kota Cirebon pada medio April 2011 lalu adalah tanggung

70 AM Hendropriyono, Terorisme, Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam. (Jakarta: PenerbitBukuKompas, 2009)

Page 69: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

55

jawab Kementerian Agama. Ia menilai pemerintah salah menerjemahkan Alquran

selama puluhan tahun. Kesalahan terjemahan pada sekitar 3.400 ayat itu diduga

memicu tindakan radikalisme.71 Selain itu Irfan juga menyebutkan secara spesifik

salah satu terjemahan surat at-Taubah, ayat 123 versi Depag (sekarang Kemenag):

“Wahai orang-orang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang disekitar kamu

itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah,

bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” Irfan pun mengatakan,

Apabila muncul ideologi permusuhan terhadap orang kafir, lalu terjadi konflik

horizontal, bahkan pembunuhan disebabkan membaca teks terjemahan di atas.

Maka bukan salah pembaca, karena kalimat dalam terjemahan memang salah,

yang menyimpang dari sababun nuzul (sebab turunnya) ayat tersebut.72

Meskipun begitu fragmen bantahan dari Abdul Jamil dan Muchlis M

Hanafi, masing-masing Kepala Balitbang dan Diklat Kemenag dan Kepala Bidang

Pengkajian Alquran Puslitbang Kemenag pun tak kalah menarik. Menurut mereka,

asumsi MMI tentang terjemahan Alquran terbitan Kemenag sebagai pemicu aksi

terorisme, sangat bertentangan dengan sejumlah fakta yang ada. Fakta tersebut di

antaranya, mayoritas warga Muslim Indonesia mengandalkan terjemahan dalam

memahami Alquran. “Jika betul asumsi itu, teroris di Indonesia pasti lebih

71 Artikel diakses dari situs http://www.tempo.co/read/news/2011/04/24/078329688/ padatanggal 29 Nopember 2013.

72 Artikel diakses melalui situshttp://www.arrahmah.com/read/2011/05/12/12463-apologi-tim-terjemah-alquran-depag.html pada tanggal 29 Nopember 2013.

Page 70: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

56

banyak. Sedangkan faktanya kelompok teroris jumlahnya sedikit dan mereka

umumnya anti pemerintah, termasuk anti terjemahan Alquran yang diterbitkan

oleh pemerintah.”

Dari berbagai rangkaian fragmen tadi, penulis melihat terdapat skema

yang menunjukkan kesesuaian alur. Penulis melihat bahwa terdapat ungkapan

'retoris', yang berfungsi sebagai 'penjelasan', 'spesifikasi,' 'perbandingan', atau

'kontradiksi. "Dalam hal ini penulis sejalan dengan Van Dijk memberikan kalimat

atau proposisi untuk kategori fungsional, yang memiliki hubungan dengan kalimat

atau proposisi lainnya. Dengan demikian, skema kontradiksi dari fragmen

argumen di atas menjelaskan bahwa argumen adalah salah satu jenis struktur

supra. Argumen merupakan struktur penalaran dan argumentasi skema untuk

penalaran diterima di dalam silogisme, dengan demikian, merupakan karakteristik

untuk apa yang kita pahami dengan gagasan yang lebih umum dari

suprastruktur.73

3. Struktur Mikro

Pada BAB II sebelumnya dijelaskan struktur mikro (microstructures)

memegang peranan penting dalam pembentukan (macrostructures) yang saling

berkaitan dengan konteks yang ada. Seperti diketahui wacana global ditentukan

oleh hubungan antara struktur makro di satu sisi dan struktur semantik kalimat

dan urutan (yaitu, mikro) di sisi lain. Dalam bagian ini, penulis akan menyajikan

73 Lihat kembali Teun A. van Dijk, Macrostructures An Interdisciplinary Study of GlobalStructures in Discourse, Interaction, and Cognition, h. 108.

Page 71: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

57

aspek semantik, stilistik dan retorik yang tertuang dalam analisis ayat qitâl dan

jihad.

a. Penerjemahan Ayat Qitâl

Sebelum melangkah ke pembahasan wacana, terlebih dahulu penulis akan

menganalisis penerjemahan kata qitâl. Lantas apa hubungan antara jihad dengan

qitâl? Kata jihad dan qitâl meski memiliki bentuk/mabna yang sama, belum tentu

memiliki makna yang sama pula. Lalu apa saja derivasi dari kata qitâl yang

terdapat di dalam al-Qur’an, dan digunakan untuk makna apa saja kata-kata

tersebut? Dalam Lisan al-Arab, Ibnu Manzhur memaparkan bahwa kata القتـال (al-

qitâl) adalah bentuk masdar dari kata ل یقـات -قاتـل (qâtala-yuqâtilu) -tepatnya

tsulatsi mazid satu huruf bab fi’âl dari kata قتل yang mengandung tiga pengertian

yaitu (1) ‘berkelahi melawan seseorang’, (2) عاداه (‘âdâhu/memusuhi), dan (3)

74.(hâraba al-a‘dâ’/memerangi musuh)حارب األعداء

Kata قتال (qitâl) merupakan salah satu bentuk kata turunan dari kata -قتـل

قتـال-یقتل (qatala – yaqtulu – qatlan). Kata قتـل menurut Ibnu Faris mengandung

dua pengertian, yaitu إذالل (idzlal= merendahkan, menghina, melecehkan) dan ـاتة إم

(imâtah = membunuh, mematikan).75 Pendapat ini sama dengan apa yang

diungkapkan oleh Ibn Manzhur. Ibn Manzhur menulis ...قتلھ إذا أماتھ بضرب أو حجر

(qatalahu yaitu jika ia membunuhnya dengan memukul, dengan batu…).

74 Al-Imam al-‘Alamah Ibn Manzur, Lisân al-Arab, (Qahirah: Dar al-Ma’ârif, [t.th]),Jilid.V, h. 3531.

75 Abiy al-Husain Ahmad ibn Faris ibn Zakariyya, Mu’jam Maqâyis al-Lughah, tahqiq‘abd al-Salam Muhammad Harun (Beirut: Dar al-Fikr, 1979), Juz. V, h. 56

Page 72: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

58

Quraish Shihab dalam tafsir Al Misbah menerangkan bahwa makna qâtala

di dalam ayat adalah berperang. Beliau menambahkan, bahwa ada juga yang

membaca dengan qutila (terbunuh). Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa ayat-

ayat Alquran-baik ayat ini maupun ayat lain- tidak ada yang menjelaskan berapa

orang di antara para Nabi tersebut yang berperang atau yang terbunuh.76

Selanjutnya, untuk dapat menangkap tema dan wacana yang terkandung di

dalam Alquran terjemahan Kementerian Agama, penulis akan menyajikannya

berdasarkan tema yang terkandung pada setiap kalimat dalam ayat yang telah

disebutkan.

Baik QS. 2:191, QS. 8:39, QS.9:123 ini bercerita tentang kapan

peperangan tersebut dimulai dan harus dihentikan yaitu ketika tidak ada lagi

fitnah. Adapun yang dimaksud dengan fitnah adalah syirik dan penganiayaan.

Jalaluddin As-Suyuthi & Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahally, dalam

tafsirnya menjelaskan tentang surat al-Baqarah ayat 191 bahwa penggunaan kata

(Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menjumpai mereka, serta usirlah

mereka di mana mereka mengusir kamu) artinya di Mekah, dan ini telah dilakukan

oleh nabi terhadap mereka pada tahun pembebasan. Sedangkan fitnah itu, artinya

kesyirikan mereka (lebih berat), maksudnya lebih berbahaya (dari pembunuhan)

terhadap mereka, yakni di tanah suci atau sewaktu ihram yang mereka hormati itu.

(Dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjid al-Haram), maksudnya di

tanah suci, (sebelum mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka

76 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Alquran, (Jakarta:Lentera Hati, 2008), Cet. X, Vol. 2, h. 237

Page 73: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

59

memerangi kamu) di sana, (maka bunuhlah mereka). Menurut satu qiraat tanpa

alif pada kata kerja yang tiga, 'wala taqtuluuhum, hatta yaqtuluukum fiih, dan fa-

in qataluukum'. (Demikianlah), maksudnya pembunuhan dan pengusiran (menjadi

balasan bagi orang-orang kafir).77

Kata qâtala, baik fi’il madhi maupun fi’l mudhâri’ di dalam surat al-

Baqarah ayat 191 dan al-Anfal:39 adalah bermakna perang. Di dalam ayat

sebelumnya Allah melarang untuk melampaui batas, maka di dalam ayat ini

dijelaskan apabila orang-orang kafir tersebut melampaui batas, maka

diperbolehkan untuk membunuh mereka. Maka dengan menggunakan fi’il amr,

Allah berfirman bahwa mereka (orang kafir yang memerangi Islam) boleh

dibunuh jika akan membunuh orang Islam, dan diusir, jika mengusir umat Islam.

Bahkan di Masjid al-Haram sekalipun, jika orang kafir memerangi di tempat itu,

maka diperbolehkan, bahkan Allah menyuruh untuk memerangi mereka.

Berangkat dari pemaparan tadi ada yang perlu diketahui yakni konteks

historis turunnya ayat ini dan kaitannya dengan perjanjain Hudaybiyyah. Setelah

Rasullah saw dan para sahabat menjaga Masjidil Haram, kemudian mereka

menyembelih hewan kurban di Hudaybiyyah dan berekonsiliasi dengan orang-

orang musyrik untuk kembali ke Masjidil Haram pada musim haji tahun

depannya. Pada tahun berikutnya, Nabi hendak melaksanakan “Umrah al-Qadha”

dan beliau khawatir tidak bisa memasuki Masjid al-Haram. Kemudian Allah

77 Jalaluddin As-Suyuthi & Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahally, TafsirJalalain, Pnrj. Mahyudin Syaf dan Bahrun Abubakar, (Bandung: Pustaka al-Hidayah, 1990)terjemahan dalam Alquran bahasa Indonesia oleh Lajnah Pentashih Alquran Kementerian AgamaRI.

Page 74: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

60

menurunkan ayat tersebut sebagai perintah agar memerangi mereka yang

memerangi Islam tapi jangan sampai melampaui batas.78

Penulis berpendapat, Allah memang tidak menyuruh umat Islam untuk

melakukan peperangan kecuali orang-orang yang memeranginya. Perintah ini

sudah jelas dan dijelaskan kembali pada ayat 192, “Tetapi jika mereka berhenti,

maka sungguh, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang”. Kaitan

diturunkannya ayat ini juga saat bulan haram (bulan Zulkaidah, Zulhijah,

Muharram dan Rajab) di mana pada bulan ini umat Islam tidak diperbolehkan

berperang. Tapi kalau umat islam diserang maka diperbolehkan membalas

serangan itu di bulan itu juga.

Dari penjelasan tadi penulis melihat, walaupun peperangan itu suatu

kewajiban, pada waktu-waktu tertentu, seperti pada bulan haram (, kewajiban itu

tidak boleh dilakukan. Bahkan, Alquran menyatakan bahwa berperang pada bulan

itu termasuk kategori dosa besar. Mengenai perang, Alquran menggariskan

beberapa ketentuan, antara lain mengenai kapan perang dibolehkan, etika

peperangan seperti perlakuan terhadap tawanan perang- pemanfaatan harta

rampasan perang, dan kapan suatu peperangan harus diakhiri.

Tentang kapan perang dibolehkan, antara lain disebutkan sebagai berikut:

Pertama, perang boleh dilakukan untuk mempertahankan diri dari serangan

musuh, seperti dinyatakan di dalam Surat al-Baqarah: 190. kedua, untuk

membalas serangan musuh, antara lain diungkap di dalam Surat al-Hajj: 39;

78 Zuhairi Misrawi, Al-Quran, Kitab Toleransi; Inklusivisme, Pluralisme, danMultikulturalisme (Jakarta: Fitrah, 2007), h. 394.

Page 75: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

61

ketiga, untuk menentang penindasan dikemukakan di dalam Surat al-Nisâ’: 75;

keempat, untuk mempertahankan kemerdekaan beragama, seperti tersurat di

dalam Surat al-Baqarah: 191; kelima, untuk menghilangkan penganiayaan,

dinyatakan pada Surat al-Baqarah: 193; Keenam, untuk menegakkan kebenaran,

misalnya pada Surat al-Taubah: 12.79

Allah swt juga telah berfirman untuk menghentikan perang apabila oaring-

orang kafir sudah tidak lagi memerangi kamu muslim dan hal ini tertuang dalm

surat an-Nisa: 90

نھم میثاق أو جاءوكم حصرت صدورھم أن یقاتلوكم أو إال الذین یصلون إلى قوم بینكم وبی

لسلطھم علیكم فلقاتلوكم فإن اعتزلوكم فلم یقاتلو كم وألقوا إلیكم یقاتلوا قومھم ولو شاء هللا

لم فما جعل هللا لكم علیھم سبیال الس

Terjemahan : Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada

sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu Telah ada perjanjian (damai) atau

orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan

untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. kalau Allah menghendaki, tentu

dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu Pastilah mereka

memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu

serta mengemukakan perdamaian kepadamu, maka Allah tidak memberi jalan

bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.

79 Shihab, Vol. I, h. 460

Page 76: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

62

Di dalam ayat ini pun kata yuqâtilu juga bermakna memerangi. Di sini

dijelaskan mereka-mereka yang tidak boleh diperangi diantaranya yaitu: orang-

orang kafir yang lari dari wilayah Islam sehingga mereka sampai pada suatu kaum

untuk meminta perlindungan dari kaum tersebut, yang antara kaum tersebut

dengan umat Islam telah ada perjanjian untuk tidak saling berperang/menyerang,

atau terhadap mereka yang merasa keberatan untuk memerangi umat Islam dan

dalam saat yang sama merekapun juga enggan memerangi kaumnya.80

b. Relasi kata Jihad dan Qitâl

Dari pemaparan akar kata qitâl tadi pada pembahasan kali ini ada perlunya

kita memahami akar kata dari jihad. Mengutip dari Ibnu Manzur dalam Lisan Al-

Arab, h. 239-241 akar kata jihad adalah al-juhd yang berarti daya, (al-thaqah),

kerja keras (al-masyaqqah), usaha (al-wus’u). Lalu kata tersebut bermetamorfosa

menjadi kata al-jihad yang berarti menghimpun upaya dan kekuasaan untuk

melawan musuh di medan perang. Tetapi di samping itu, jihad dalam arti fisik

juga berupaya menghimpun kekuatan untuk menjaga lisan dari hal-hal yang tidak

baik. Sedangkan bagi kalangan sufi, istilah jihad dikenal dengan upaya

membersihkan jiwa guna menghadapi Sang Pencipta, yaitu mujahadah wa

riyadhat al-nafs.81

80 Shihab, Vol. II, h. 546

81 Zuhairi Misrawi, Al-Quran, Kitab Toleransi; Inklusivisme, Pluralisme, danMultikulturalisme h. 390

Page 77: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

63

Pada masa jahiliyah, kata “jihad” telah ada sebagai bentuk kata yang memiliki

konteks sosial sendiri. Dalam beberapa kata yang mendampingi kata jihad lebih

mempunyai relasi makna yang berhubungan dengan muamalah kemanusiaan, al-

jihad fi al-‘amal (berkemampuan untuk bekerja), al-jihad fi al-mal

(berkemampuan harta benda), al-jihad fi al-fikr (berkemampuan berfikir).

Sedangkan penyandingan kata sabilillah pada jihad biasanya digunakan dalam

bentuk fi’il amr yaitu jaahadu fi sabilillah yang artinya adalah berjuang di jalan

Allah. Kata jaahada memiliki arti lil-musyarakah (bermakna saling). Beberapa

kata jihad yang memiliki makan berjuang atau atau berperang, adalah murni dari

kepentingan sosiologis zaman Rasul untuk saling memberikan ketenteraman dan

kesejahteraan dari gangguan secara fisik oleh kelompok lain (kafir Quraisy)82.

Kecenderungan ini bisa dibenarkan ketika “jihad” diambil dari kata dasar

jahada yang kemudian menjadi kata “jihad”.83 Pengertian jihad juga akan berubah

bila melibatkan pembentukan kata yang masih berkaitan dengan jahada misalnya

istajhada dan ijtihad.

Jihad dalam Islam bukan bertujuan merampas harta, atau lainnya. Pada

hakikatnya, perang merupakan alternatif terakhir dalam dakwah. Perang dalam

Islam bukan untuk menyerang, tetapi untuk mempertahankan diri dari serangan

musuh dan menangkis tindakan yang melampaui batas dari musuh.84 Untuk

memperjelas subtansi jihad agar tidak diidentikan dengan aksi mengangkat

82 Muhammad Halaby Hamdy, Menyambut panggilan Jihad, (Yogyakarta: MadaniPustaka, 2000), h. 11

83 Muhammad Chirzin, Jihad dalam Alquran, (Yogyakarta: Mitra Pustaka,1997), h. 19.

84 Muhammad Faiz al-Math, Keistimewaan Islam (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), h.127

Page 78: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

64

senjata, Alquran membedakan antara konsep qital (interaksi bersenjata) dengan

konsep jihad seperti pada pembahasan qital sebelumnya.

Jihad jelasnya menunjuk kepada suatu konsep yang lebih komprehensif, di

mana salah satu sisinya adalah berjuang di jalan Allah melalui penggunaan

senjata. Namun, jihad dengan pengertian sempit ini, oleh Alquran dibatasi pada

saat-saat tertentu khususnya sebagai upaya dalam mempertahankan diri.85

Agaknya karena pengertian sisi sempit inilah yang secara keliru dianggap sebagai

ciri utama jihad yang mengundang kontroversi dan pertikaian pendapat. Seperti

pandangan dunia Barat yang memandang Islam sebagai teroris, penuh dengan

kekerasan dan mengartikan jihad sebagai holy war (perang suci).86 Seperti halnya

berkaitan dengan Imam Samudra. Dalam buku “Aku Melawan Teroris”, jihad

merupakan terminologi Islam yang sering banyak dizhalimi. Ia sering

dipersepsikan sebagai perang, padahal konsep jihad lebih luas daripada sekadar

perang. Persepsi inilah yang menjadi kiblat oleh Imam Samudra dan kawan-

kawannya yang mengartikan jihad secara sempit sebagai perang atau qital untuk

menegakkan dan menyebarkan Islam kepada kaum kafir87

Muhammad Said Ramadhan al-Buthi menulis, bahwa perintah jihad kepaada

Nabi telah turun sejak periode Makkah. Jihad periode Makkah diwarnai dengan

jihad dakwah. Sedangkan jihad pada periode Madinah diwarnai dengan perang.88

85 Lihat kembali QS 2: 190-191

86 Abdurrahman Wahid, Islam Tanpa Kekerasan (Yogyakarta: LKiS, 2000), Cet. 2, h. 1087 Imam Samudera, Aku Melawan Teroris (Solo: Jazeera, 2004) h. 108

88 Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, al-Jihad Fil Islam Kaif Nafhamuh wa KaifNumarisuh ((Beirut, Darul-Fikr al-Mu’ashir, 1993), h.19. Dalam versi terjemahan Indonesiaberjudul Fikih Jihad, Penerjemah M. Abdul Ghofar, (Jakarta: Pustaka an-Nabba’ : 2001)

Page 79: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

65

Kata jihad sendiri dalam Alquran telah disebutkan sebanyak 41 kali.89 Ayat-ayat

jihad dalam konteks perjuangan berjumlah 28 sebagai berikut; al-Baqarah/2: 218,

ali-Imran/3:142, an-Nisa/4: 95, al-Maidah/5: 35,54, al-Anfal/8: 72,74,75, at-

Taubah/9: 16, 19, 20, 24, 41, 44, 73, 81 ,86,88, an-Nahl/16:110, al-Hajj/22:78, al-

Furqan/25 :52, al-Ankabut/29: 6,69, Muhammad/47:31, al-Hujurat/49:15, al-

Mumtahanah/60 :1, ash-Shaff/61:11, at-Tahrim/66:9.

Dalam rangka memanusiakan jihad, kajian fikih juga mempunyai beberapa

pandangan yang patut diperhatikan. Seperti pendapat Ibnu Rushd, pertama,

hukum jihad adalah fardl kifayah, artinya kewajiban jihad bukanlah kewajiban

individual, tetapi kewajiban yang bersifat kolektif. Kalau sebagian orang atau

kelompok sudah melakukan jihad, maka kelompok yang lain tidak wajib

melaksanakannya. Karena itu, dalam melaksanakan jihad harus menggunakan

konsensus.90

Pada hal ini, penjelasan Majelis Ulama Indonesia menjadi penting. Fatwa

MUI untuk mengharamkan bom bunuh diri dan terorisme merupakan sikap yang

tepat untuk memecahkan persoalan yang masuk dalam kategori fardl kifayah.

Sayang, fatwa MUI itu baru tersosialisasikan kepada publik pasca tewasnya

Azhari, yang diduga sebagai gembong terorisme di Asia Tenggara, khususnya di

Indonesia. Fatwa semacam ini perlu disampaikan kepada publik, sehingga publik

89 Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Mujamul Mufahras li Alfazhil Quranil Karim (Kairo: Darul Hadist,1991), h. 232-233.

90 Zuhairi Misrawi, Al-Quran, Kitab Toleransi; Inklusivisme, Pluralisme, danMultikulturalisme h. 387. Zuhairi mengutip kembali, kitab Ibnu Rushd yang berjudul Biddyat Al-Mujtahid wa Nihayat Al-Muqtahsid, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, (Beirut: Cetakan II, 2004), h.347

Page 80: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

66

bisa menentukan sikap, apakah sebuah kasus bisa dimasukkan dalam kategori

jihad?91

Kedua, jihad meniscayakan izin dari orang tua karena restu dari orang tua

merupakan prasyarat mutlak untuk bisa melakukannya. Artinya bila jihad

dilakukan tanpa sepengetahuan orang tua, maka dalam kaca mata hukum Islam,

hal tersebut tidak bisa disebut jihad. Rasullullah sendiri selalu menanyakan

kepada umatnya yang mau ikut berperang, “Apakah orang tuamu masih hidup?”

Jika orang tuanya masih hidup, Rasullulah berpesan, “Mintalah izin para

orangtuamu”.

Ketiga, jihad mempunyai sasaran yang ketat. Dalam perang, kalangan

perempuan, anak-anak, orang-orang usia lanjut dan pendeta tidak diperkenankan

untuk dibunuh. Maka jelas sudah ketika Islam menjelaskan konsep jihad

berdasarkan ayat dan hadis.

Dalam kaitannya dengan ayat-ayat qitâl tampaknya hal ini tidak terlepas dari

latar belakang sejarah dan perkembangan Islam itu sendiri. Jihad muncul ketika

Islam bergerak ke arena pergulatan politik dalam komunitas muslim dan non-

muslim. 92 Meskipun demikian tidak dapat ditolak bahwa jihad dalam Alquran

juga bisa berarti perang atau perjuangan dengan cara-cara kekerasan dan

bersenjata, utamanya terhadap orang-orang "kafir". Dengan demikian, menurut

pendapatnya Nur Khalik Ridwan bahwa jihad diperbolehkan untuk melawan

dengan fisik bila terjadi sebuah kekuatan luar yang mengganggu territorial

91 Ibid, h.38792 Jamal Albana, Revolusi Sosial Islam: Dekonstruksi Jihad dalam Islam, Pnrj Kamran A

Insyadi (Yogyakarta: Pilar Media, 2005), h. 91

Page 81: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

67

Muslim atau territorial yang disepakati Muslim sebagai negeri perjanjian dengan

komunitas lain.93

Sementara penulis Indonesia lain yang membahas tentang jihad juga

berpandangan ke arah yang lebih konstruktif, seperti H.A.R Sutan Mansur yang

menekankan makna jihad di masa damai dalam konteks Indonesia merdeka, yakni

bekerja dengan sepenuh hati dilengkapi semangat yang dapat ditimbulkan oleh

ilmu dan tenaga benda.94Azra pun memiliki pandangan serupa bahwa kekerasan

atas nama jihad pada zaman sekarang ini sudah semakin tidak efektif dan

kontraproduktif.95

Hal senada juga dituturkan oleh Samsurizal Pangabean tentang konsep jihad

dalm Alquran yang berkorelasi dengan perang. Ia mencatat, ayat-ayat jihad yang

lebih awal diwahyukan mengiisyaratkan makna pengorbanan dan perjuangan

manusia dalam hubungannya dengan Tuhan yang tidak selalu berarti konfrontasi

fisik dengan musuh.96

Quraish Shihab pun berpendapat hal yang serupa bahwa jihad merupakan

salah satu persoalan umat. Demikianlah persoalan jihad memang memiliki

pengertian beragam. Jihad memberantas kebodohan, kemiskinan dan penyakit

merupakan perbuatan yang tak kalash pentingnya daripada mengangkat senjata.

93 Nur Khalik Ridwan, Detik-detik Pembongkaran Agama, Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2003,h. 209.

94 H.A.R Sutan Mansur, Jihad (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982)

95 Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme,hingga Post-modernisme. (Jakarta: Paramadina, 1996).

96 Samsurizal Pangabean, Makna Jihad dalam Alquran. Dalam Jurnal Islamika Nomor 4,1994, h. 93-99

Page 82: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

68

Ilmuwan berjihad dengan memanfaatkan ilmunya, karyawan bekerja dengan baik,

guru berjuang dengan pendidikannya yang sempurna, pemimpin dengan

keadilannya, pengusaha dengan kejujurannya dan seterusnya.97

4. Analisis Kognisi Sosial

Dalam kerangka analisis Van Dijk,pentingnya kognisi sosial yaitu adanya

kesadaran mental penulis yang membentuk teks tersebut. Karena, setiap teks pada

dasarnya dihasilkan lewat kesadaran, pengetahuan, prasangka, atau pengetahuan

tertentu atas suatu peristiwa. Namun dalam hal ini penulis membatasi analisis

kognisi berdasarkan pendekatan psikologis penerjemah. Penulis mempertanyakan

kembali kognisi lajnah pentashih Alquran Kementerian Agama, karena pada

dasarnya tim penerjemah memiliki beragam nilai, pengalaman, dan pengaruh

ideologi yang didapatkan dari kehidupannya, layaknya seorang wartawan seperti

yang diungkapkan oleh Van Dijk.

Peristiwa dalam nash-nash Alquran mesti dipahami berdasarkan skema atau

model. Skema dikonseptualisasikan sebagai struktur mental di mana tercakup cara

pandang manusia, peranan sosial dan peristiwa. Dalam hal ini Lajnah pentashih

memiliki kaidah dan prosedur dalam menyebarluaskan pemahaman Alquran yang

mudah dibaca dan dipahami dengan baik oleh masyarakat. Tentunya sebagai

institusi di bawah naungan Kementerian Agama, Lajnah Pentashih Mushaf

Alquran adalah lembaga pembantu Menteri Agama dalam bidang pentashihan

mushaf Alquran. Dasar hukum dibentuknya Lajnah adalah Peraturan Menteri

97 Ibid, h. 100

Page 83: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

69

Muda Agama nomor 11 tahun 1959 tentang Lajnah.98. Namun yang menjadi

perhatian penulis adalah Alquran itu sendiri sebagai suatu nash yang memiliki

eksklusivitas.Eksklusivitas dalam hal ini dikatakan sebagai sebuah teks yang

diyakini memiliki kebenaran mutlak. Meskipun begitu, sebagai sebuah

terjemahan, nash keagamaan dalam pembahasan wacana jihad adalah hasil

reproduksi Lajnah Pentashih. Dalam kasus ini menurut pandangan penulis,

terjemahan Alquran yang diterjemahkan oleh Lajnah Pentashih menghegemoni

konsumen terjemah Alquran Kemenag. Hegemoni yang dimaksud di sini adalah

Lajnah Pentashih memiliki aturan baku untuk mengontrol opini masyarakat

bahwa terjemahan Kemenag adalah yang paling mendekati kebenaran. Seperti

diungkapkan oleh Muchlis Hanafi, ia mengatakan asumsi MMI tentang

terjemahan Alquranterbitan Kemenag sebagai pemicu aksi terorisme, sangat

bertentangan dengan sejumlah fakta yang ada. Fakta tersebut di antaranya,

mayoritas warga Muslim Indonesia mengandalkan terjemahan dalam memahami

Alquran. “Jika betul asumsi itu, teroris di Indonesia pasti lebih banyak. Sedangkan

faktanya kelompok teroris jumlahnya sedikit dan mereka umumnya anti

pemerintah, termasuk anti terjemahan Alquranyang diterbitkan oleh pemerintah”.

Muchlis juga menambahkan bahwa Alquran memiliki dua makna, yaitu

makna primer dan makna sekunder. Makna primer Alquran adalah yang

diterjemahkan ke dalam bahasa manapun, sedangkan makna sekunder adalah

makna tambahan yang dibangun karena karakteristik bahasa Arab dan bahasa

98 Lajnah Pentashih dari situs http://lajnah.kemenag.go.id/buku/unduh/category/14-pentashihan, artikel diakses pada tanggal 12 september 2014.

Page 84: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

70

Alquran yang sulit diterjemahkan. Hal ini menimbulkan fakta bahwa tidak ada

terjemahan Alquran yang murni harfiyah. Oleh karena itu tim penyusun

terjemahan Alquran Kementerian Agama menggabungkan antara metode terjemah

harfiyah dengan terjemah tafsiriyah, yang dapat dilihat dari banyaknya kalimat di

dalam kurung dan footnote yang jumlahnya mencapai 930 buah.99

Sedangkan Ali Musthafa Ya’kub menyatakan kekagetannya karena terjemah

al-Qur’an berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Agama sudah

ada sejak tahun 1965 - sedangkan terorisme yang membawa isu agama baru

muncul sekitar tahun 2000 - yang berarti beda jarak antara sebab dengan yang

disebabkan sekitar 35 tahun. “Itu jauh sekali jaraknya, sesuatu yang tidak

rasional”.100

Dari pendapat ini penulis melihat kognisi sosial yang memunculkan

terbentuknya eksklusivitas pada Lajnah Pentashih Alquran Kemenag.

Eksklusivitas di sini merupakan proses yang bergerak simultan antara produsen

teks (Lajnah Pentashih) dengan konsumennya (pembaca terjemahan Alquran).

Lajnah Pentashih menurut penulis telah membangun jalan legitimasi seperti

sakralisasi duplikat (terjemahan).

Peraturan Lajnah Pentashih (pemerintah) menuntut kepatuhan masyarakat

yang bersifat mengikat; sementara konsumen pun mencari sandaran tempat dalam

99 Kemenag RI http://puslitbang1.balitbangdiklat.kemenag.go.id/index.phpKemenag Bantah Terjemahan Alquran Picu Aksi Terorisme Akses pada tanggal 3Agustus 2013.

100 Ibid

Page 85: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

71

mempertanyakan makna-makna Alquran. Jadi terjemahan Alquran yang

transendental menjadi eskapisme dari realita yang dihadapi. Pengonsumsian

masyarakat tanpa mendialogkan ulang terhadap produk terjemahan Alquran versi

Kemenag ditangkap dengan beberapa alasan pendukung; pertama, terjemahan

Alquran versi Kemenag merupakan versi resmi yang bisa dipertanggungjawabkan

kebenarannya. Kedua, peraturan negara menuntut kepatuhan, dan kontrol terhadap

terjemahan, seperti halnya sebelum penerbit melakukan cetak ulang Alquran

wajib mengajukan pentashihan ulang dan mendapatkan izin dari Lajnah

Pentashihan Mushaf Alquran. Ketiga, produk terjemahan ikut menjadi sakral

karena teks yang diterjemahkannya merupakan ‘kebenaran mutlak’. Inilah yang

kemudian mengakibatkan terjemahan Alquran menjadi bernilai mitis dan sakral.

Gagasan mitis mengenai eksistensi azali dan qadim dari teks Alquran berbahasa

Arab di lauh mahfuz, senantiasa hidup dalam budaya kita. Hal ini terjadi karena

wacana keagamaan direproduksi terus-menerus melalui media informasi seperti di

masjid-masjid atau koran-koran keagamaan, siaran radio dan televisi, simposium

dan seminar-seminar. Disamping itu buku-buku dan karya-karya terbitan individu

maupun kelompok masyarakat yang memiliki kecenderungan berpikir ideologis

dalam setiap momen keagamaan ataupun lainnya.101

Selanjutnya dalam pemahaman Nasr Hamid, dikatakan bahwa gagasan mitis

pada esensinya mengabaikan dialektika ketuhanan dan kemanusiaan, saksral dan

profan di dalam struktur teks. Ini membuka lebar kemungkinan penyelewengan

101 Nasr Hamid Abu Zaid, Teks Otoritas Kebenaran, dari judul asli An;Nashsh, as-Shulthah, al-Hakikah,Pnrj. Sunarwoto Dema (Yogyakarta: LKIS, 2012), h. 139.

Page 86: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

72

penakwilan teks dengan melompati sebagian konteks atau keseluruhannya.

Dengan begitu teks menjadi suaka (payung pelindung) untuk memproduksi

berbagai ideologi. Karena dalam setiap situasi, teks keagamaan menjadi objek

(maf’ul bih) dan ideologi menjadi subjek (fa’il). Artinya, pembentukan ideologi

terjadi melalui bahasa teks, sehingga menyandang watak agama. Hal ini memberi

arti bahwa metode penakwilan tidak saja mengabaikan watak teks dan melalaikan

berbagai konteksnya, tetapi juga cenderung memoles wajah ideologis-politisnya

dengan kedok agama itu sendiri.102

Dengan kata lain kognisi Lajnah Pentashih yang dimunculkan dari berbagai

peraturan yang dibuat adalah sebuah bentuk otorisasi nash-nash kegamaan.

Meskipun satu-satunya otoritas yang mengatur perihal Alquran, dibentuknya

Lajnah Pentashis dimaksudkan sebagai upaya pemerintah dalam memelihara kitab

suci yang shahih dan dapat dipahami oleh masyarakat.103

5. Analisis Konteks Sosial Terjemahan Ayat-ayat Jihad

Analisis sosial (konteks sosial) berkitan dengan hal-hal yang memengaruhi

pemakaian bahasa, dan terbentuknya sebuah wacana. Seperti latar, situasi,

peristiwa, dan kondisi sosial yang sedang terjadi saat itu. Pada konteks sosial

tertentu, sebuah wacana dapat diteliti, dianalisis, dan dimengerti.

102 Abu Zaid, Teks, Otoritas Kebenaran, h. 139-140.

103 Lihat kembali Visi Misi Lajnah Pentashih Mushaf Alquran Kemenag RI pada situshttp://lajnah.kemenag.go.id/

Page 87: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

73

Konteks ini juga berkaitan dengan who atau siapa dalam hubungan

komunikasi. Siapa yang menjadi komunikatornya, siapa komunikannya, dalam

situasi bagaimana, apa mediumnya dan mengapa ada peristiwa tersebut. Dalam

analisis sosial ini, meneliti wacana yang sedang berkembang di masyarakat pada

konteks terbentuknya sebuah wacana dalam masyarakat. Bagaimana masyarakat

memproduksi dan mengkonstruksikan sebuah wacana.

Dalam konteks peristiwa terjemahan ayat-ayat Jihad Kemenag ini yang

menjadi komunikator dan komunikannya adalah Lajnah Pentashih Mushaf

Alquran Kemenag RI dan masyarakat (pembaca ayat-ayat jihad). Di dalam

masyarakat sendiri terdapat berbagai kelompok ideologis yang masing-masing

memiliki cara pandang berbeda terhadap teks Alquran (fundamentalis dan

rasionalis). Kedua elemen komunikasi ini masing-masing memiliki latarbelakang

keilmuan dalam memahami wacana kekinian tentang kasus-kasus terorisme.

Lajnah Pentashih dan Mushaf Alquran menjadi medium terciptanya wacana di

samping pemberitaan seputar terorisme yang selalu menjadi perbincangan hangat

di media massa.

Penulis menganalisis konteks sosial ini terbagi ke dalam dua bagian, yaitu:

a. Praktik Kekuasaan

Konstruksi praktik kekuasaan dalam terjemahan ayat-ayat jihad ini adalah

Lajnah Pentashih Alquran yang memiliki otoritas lebih besar dalam melegalkan

terjemahan Mushaf Alquran yang diterbitkan oleh tiap penerbit buku. Tentunya

Page 88: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

74

sebagai masyarakat pembaca, kelompok-kelompok ideologis secara tidak

langsung terpengaruh oleh konstruksi terjemahan Alquran yang disajikan oleh

Lajnah Pentashih. Seperti yang dikatakan oleh Mustafa Ya’kub:

Ali Musthafa Ya’kub menyatakan kekagetannya karena terjemah al-Qur’an

berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Agama sudah ada sejak

tahun 1965 - sedangkan terorisme yang membawa isu agama baru muncul sekitar

tahun 2000 - yang berarti beda jarak antara sebab dengan yang disebabkan

sekitar 35 tahun. “Itu jauh sekali jaraknya, sesuatu yang tidak rasional”.

Dari pernyataan paragraf di atas, jelas sekali bagaimana praktik otorisasi teks

terjemahan menjadi suatu kebenaran absolut mengenai kualitas terjemahan

mushaf Alquran yang diterjemahkan oleh Lajnah Pentashih. Karena sebagai

otoritas yang berwenang mengatur terbitnya terjemahan Alquran, Lajnah

Pentashih dapat saja menghentikan peredaran Alquran terjemahan sebuah penerbit

bila tidak sesuai dengan kaidah yang ditetapkan oleh Lajnah Pentashih Kemenag

RI.

b. Akses Memengaruhi Wacana

Dalam hal memengaruhi wacana, tentu saja Lajnah Pentashih memiliki

dominasi besar di dalamnya. Sebuah terjemahan mushaf Alquran yang dibaca oleh

pembaca tentunya memiliki metode tersendiri dalam penyusunan terjemahannya.

Metode terjemahan secara harfiah dan tafsiriyah yang dipakai turut memberikan

pemahaman kepada pembaca mengenai cara berpikir dan bersikap. Hal ini yang

Page 89: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

75

kemudian mempengaruhi pembaca menjadi kritis, eksklusif, diskriminatif, bahkan

intimidatif seperti halnya kasus Imam Samudra.

Ketersajian informasi pada media pembawa terjemahan seperti dalam buku-

buku, televisi, internet maupun dialog publik terhadap terjemahan semakin

menguatkan wacana ayat-ayat jihad yang memiliki signifikansi terorisme. Dari

proses ini terjadi dialektika terjemahan Alquran yang bersifat ideologis dan

propagandis. Di sinilah teks propagandis (ayat-ayat jihad) mengandalkan

eksploitasi sebagian besar aspek pengetahuan positif dari sistem bahasa.

Sementara di sisi lain dalam pembentukan pemahaman pembaca diperlukan suatu

kejernihan pesan dan kejernihan makna agar maksud dalam terjemahan tersebut

tersampaikan. Sedangkan pada teks-teks yang propagandis telah membungkam

pihak pembaca dari segala bentuk kritisisme. Dan di antara kedua tipe teks-teks

yang berlawanan itu terdapat teks-teks kebahasaan dan komunikatif yang

sebenarnya, di mana sistem kebahasaan berfungsi sebagai saluran komunikasi

yang mencerminkan aspek epistemologi sementara aspek ideologinya muncul

melalui sistem teks.104

Nasr Hamid mengatakan pula bahwa perbedaan antara sistem bahasa dengan

sistem teks inilah yang menetukan pesan. Perbedaan tersebut pada dasarnya

muncul dari ideologi pengirim. Sedangkan dari pihak penerima sistem bahasa

mencerminkan kerangka penafsiran pesan, sementara sistem teks (makna)

mencerminkan fokus penilaian karena ideologi penerima turut terlibat untuk

104 Nashr Hamid Abu Zaid, Kritik Wacana Agama, Penerjemah Khoiron Nahdiyyin(Yogyakarta: LKiS, 2003), h. 25-26

Page 90: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

76

menilai dan memutuskan.105 Kesimpulannya sebuah pesan teks merupakan

perpaduan dan hasil negosiasi kedua pihak, pengirim dan penerima. Sementara

hasil pesannya ditentukan oleh kualitas hubungan komunikasi keduanya, yakni

tergantung apakah komunikasi berlangsung dengan sehat atau tidak. Dialog yang

seimbang atau tidak untuk menghasilkan titik temu.

105 Abu Zaid, Kritik Wacana Agama, h. 121

Page 91: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

77

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah menjelaskan dan menganalisis hasil terjemahan ayat-ayat jihad

oleh Lajnah Pentashih Mushaf Alquran Kementerian Agama RI, penulis

menyimpulkan bahwa ternyata jelas ayat-ayat qital sering disalahpahami

sebagai ayat-ayat jihad. Pengertian jihad yang sesungguhnya mengalami

pergeseran makna akibat persepsi ideologis pembaca dalam memahami

ayat-ayat perang (qital). Ditambah lagi adanya kasus-kasus terorisme

semakin membawa terminologi jihad ke arah negatif seperti pada kasus

Imam Samudra.

Sebagai sebuah ilmu yang berkaitan dengan linguistik dan terjemah,

analisis wacana dan terjemah merupakan disiplin lmu yang dapat dijadikan

pegangan untuk mendapatkan makna dan penyelesaian masalah di dalam

tataran sosial masyarakat. Pemahaman terhadap wacana akan menjadi

sebuah pengetahuan baru dalam memahami terjemahan yang disajikan

oleh Lajnah Pentashih Alquran Kemenag RI. Dengan menggunakan

analisis Van Dijk maka:

1. Struktur makro, dapat menyajikan gambaran global tentang suatu

wacana yang berkembang di masyarakat. Ditinjau dari fragmen ayat-

Page 92: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

78

ayat jihad tidak hanya koheren pada tingkat lokal teks, tetapi juga pada

tingkat global (wacana).

2. Struktur Supra, sebagai sebuah skema telah memberikan pijakan dalam

memahami pergulatan wacana terjemahan ayat-ayat jihad dari masing-

masing kelompok ideologis.

3. Strutur mikro telah memberikan jawaban dari ketiga fragmen ayat-ayat

jihad yang disajikan melalui telaah semantik historis. Hasilnya adalah

terdapat perbedaan makna antara jihad dan perang (qital).

4. Kognisi Sosial dan konteks sosial yang tersaji pada hasil terjemahan

Lajnah Pentashih memberikan kesadaran bahwa terdapat suatu sistem

kuasa yang mengatur peredaran terjemahan Alquran di masyarakat.

Sebagai lembaga otoritas, Lajnah Pentashih menyajikan terjemahannya

sebagai satu-satunya terjemahan yang paling mendekati kebenaran dan

bisa dipertanggungjawabkan keilmiahannya. Sedangkan wacana yang

berkembang (konteks sosial) dalam analisis ini adalah tudingan

Majelis Mujahidin Indonesia terhadap buruknya kualitas terjemahan

Lajnah Pentashih Mushaf Alquran Kementerian Agama RI.

B. Saran

Mencermati wacana jihad dan terorisme tersebut, penulis ingin

memberikan beberapa catatan sebagai saran untuk mengarahkan kita pada

suatu cita-cita agar kualitas keterpahaman pada ayat-ayat jihad dan qital bisa

dipahami dengan mudah oleh pembacanya.

Page 93: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

79

1. Baca kembali Alquran, hadis dan berbagai pengetahuan sosial lainnya.

Karena memahami Islam tidak bisa secara dogmatis, khususny tentang

pemahaman agama yang menjelaskan ayat-ayat jihad dan wacana

terorisme di masyarakat.

2. Penerjemah tidak cukup sekadar pengalih bahasa sumber ke bahasa

sasaran. Penerjemah pula dalam hal ini dituntut untuk memainkan

peran dalam mengetahui berbagai wawasan artinya sebagai subjek

sosiologis, politis, filosofis, ekonomis maupun beragam ilmu lainnya.

Artinya, penerjemah dituntut untuk melek pengetahuan. Terlebih lagi

era akses keterbukaan informasi semakin mudah. Hal ini adalah

peluang dalam memahami kembali berbagai kebudayaan lain melalui

terjemahan.

3. Adakan kembali dialog antara Lajnah Petashih Alquran Kemenag RI

dengan masyarakat untuk membahas kualitas terjemahan. Semakin

sering diadakan dialog maka akan semakin baik pula kualitas

terjemahan Alquran dan tentunya tingkat keterpahaman dalam

membaca Alquran akan semakin baik.

Page 94: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

DAFTAR PUSTAKA

A’la Abd, Melampaui Dialog Agama (Jakarta, Kompas: 2002).

Abas, Nasir, Membongkar Jamaah Islamiyyah (Jakarta: Grafindo, 2005).

Abu Zaid, Nasr Hamid, Teks Otoritas Kebenaran, dari judul asli An;Nashsh, as-

Shulthah, al-Hakikah Penerjemah Sunarwoto Dema (Yogyakarta: LKIS,

2012).

Albana, Jamal, Revolusi Sosial Islam: Dekonstruksi Jihad dalam Islam, Pnrj

Kamran A Insyadi (Yogyakarta: Pilar Media, 2005).

al-Buthi, Muhammad Said Ramadhan, Fikih Jihad, Penerjemah M. Abdul Ghofar,

(Jakarta: Pustaka an-Nabba’ : 2001).

Azra, Azyumardi, Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme,

Modernisme, hingga Post-modernisme. (Jakarta: Paramadina, 1996).

Borradori, Giovanna, Filsafat Dalam Masa Teror, Dialog dengan Jurgen

Habermas dan Jacques Derrida, Penerjemah St Sunanrdi (Jakarta: Penerbit

Buku Kompas, 2005).

Chirzin, Muhammad, Jihad dalam Alqur.an, (Yogyakarta: Mitra Pustaka,1997).

Choiri Fauzi, Arifatul, Kabar-kabar Kekerasan Dari Bali, (Yogyakarta: Lkis),

2007.

Dijk, Teun Adrianus Van, Macrostructures An Interdisciplinary Study of Global

Structures in Discourse, Interaction, and Cognition, (Hillsdale, New Jersey:

Lawrence Erlbaum Associates, Publishers 1980).

Page 95: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

____________________. Aims of Critical Discourse Analysis, (Japan Siscorse,

1995) Vol. 1

_____________________. Discourse and society: Vol 4 (2). (London: Newbury

Park and New Delhi: Sage, 1993)

_____________________. Text and Context. Explorations in the semantics and

pragmatics of discourse ( Published in the United States of America by

Longman Inc., New York) cetakan ke-6.

E. Sumaryono, Hermeneutik; sebuah metode filsafat, (Yogyakarta: Kanisius,

1999), cet. ke-2.

Eriyanto. 2001. Analisis Wacana : Pengantar Analisis Teks Media. (Yogyakarta:

LKIS).

Faiz al-Math, Muhammad, Keistimewaan Islam (Jakarta: Gema Insani Press,

1995).

Halaby Hamdy, Muhammad, Menyambut panggilan Jihad, (Yogyakarta: Madani

Pustaka, 2000).

Hendropriyono AM, Terorisme, Fundamentalis Kristen, Yahudi, Islam. (Jakarta:

Penerbit Buku Kompas, 2009).

Hidayat, Komaruddin, Memahami Bahasa Agama Sebuah Kajian Hermeneutik,

(Jakarta: Paramadina,1996).

Homaidi, Hamid, dalam jurnal Memutus Mata Rantai Radikalisme dan

Terorisme. (Jakarta: Lazuardi Birru, 2010).

Jurgensmeyer, Mark, Teror atas nama Tuhan, Kebangkitan Global KekerasanAgama, Penerjemah M Sadat Ismail (Jakarta, Nizam Press:2002).

Page 96: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

Kemenag RI, Alquran Terjemahan Kementerian Agama Republik Indonesia

(Bandung: Sigma Eksa Media, 2009).

Khalik Ridwan, Nur, Detik-detik Pembongkaran Agama, Yogyakarta: Ar-Ruzz,

2003.

Kridalaksana Harimurti, Kamus Linguistik. (Jakarta: Gramedia, 1984).

Latief, Hilman, Nasr Hamid Abu Zaid; Kritik Teks Keagamaan, (Yogyakarta:

eLSAQ), 2003.

Loqman, Loebby, Analisis Hukum dan Perundang-Undangan Kejahatan terhadap

Keamanan Negara Indonesia,(Jakarta: universitas Indonesia,1990).

Masdar, Umaruddin, Agama Kolonial ; Colonial Mindset dalam Pemikiran Islam

Liberal (Yogyakarta; Klik.R, 2003).

Misrawi, Zuhairi, Al-Quran, Kitab Toleransi; Inklusivisme, Pluralisme, dan

Multikulturalisme (Jakarta: Fitrah, 2007).

Moeliono A. M. (1989) Kembara Bahasa. Jakarta, Gramedia.

Muzakky Ahmad, Kontribusi Semiotika dalam Memahami Bahasa Agama, (UIN-

Malang Press, 2007).

Pangabean, Samsurizal, Makna Jihad dalam Alquran. Dalam Jurnal Islamika

Nomor 4, 1994.

Praptomo, Baryadi, Dasar-dasar Analisis Wacana dalam Ilmu Bahasa.(Yogyakarta: Pustaka Gondhosuli, 2002).

Ratih Rina, “Pendekatan Intertekstual Dalam Pengkajian Sastra,” dalam

Metodologi Penelitian Sastra, ed. Jabrohim (Yogyakarta: Hanindita Graha

Widia,2001).

Page 97: SKRIPSI PENERJEMAHAN AYAT-AYAT JIHAD DALAM …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/29409/1/IBNU... · perbedaan dan kondisi pluralitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi

Rosidi, Sakban Analisis Wacana Kritis Sebagai Ragam Paradigma Kajian

Wacana, Universitas Islam Negeri Malang 2007.

Samudera Imam, Aku Melawan Teroris (Solo: Jazeera, 2004).

Shihab, Quraish, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Alquran,(Jakarta: Lentera Hati, 2008), Cet. X, Vol. 2.

Sobur, Alex, Analisis Teks Media; Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana,

Analisis Semiotik, dan Analisis Framming, (Bandung: Rosdakarya, 2001).

Suhendra, Yusuf, Teori Terjemah, (Bandung: Mandar Maju, 1999)

Syihabuddin, Penerjemahan Arab Indonesia. (Jakarta: Humaniora, 2005).

Tedjoworo H., Imaji dan Imajinasi; Suatu Telaah Filsafat Postmodernisme,

(Yoyakarta; Kanisius, 2001).

Wahid, Abdul dkk, Kejahatan Terorisme, Perspektif Agama, HAM dan Hukum,

(Bandung: Refika Aditama, 2004).

Wahid, Abdurrahman, Islam Tanpa Kekerasan (Yogyakarta: LKiS, 2000)

Internet:

Kemenag RI, http://puslitbang1.balitbangdiklat.kemenag.go.id/index.php Apologi

Terjemah, Kementerian Agama RI.

Lajnah Pentashih, http://lajnah.kemenag.go.id/buku/unduh/category/14-pentashihan pada tanggal 12 september 2014.