Studi Kasus Plasenta Bab 11 Edit Terbari

  • View
    242

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

98

BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangPlasenta previa didefinisikan sebagai suatu keadaan seluruh atau sebagian plasenta ber-insersi di ostium uteri internum, sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari jalan lahir yang merupakan salah satu risiko dalam kehamilan. Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Umur tua, paritas tinggi, dan endometrium yang cacat merupakan faktor-faktor yang dapat mempertinggi risiko terjadinya plasenta previa. Apabila plasenta previa ini tidak ditangani dengan baik, maka akan menyebabkan perdarahan yang dapat membahayakan jiwa ibu maupun janin. (Nugraheny, Esti, 2009).Plasenta adalah bagian dari kehamilan yang penting. Dimana plasenta memiliki peranan berupa transport zat dari ibu ke janin, penghasil hormon yang berguna selama kehamilan. Melihat pentingnya peranan dari plasenta maka bila terjadi kelainan pada plasenta akan menyebabkan kelainan pada janin ataupun mengganggu proses persalinan. Kelainan pada plasenta dapat berupa gangguan fungsi dari plasenta ataupun gangguan implantasi dari plasenta. Gangguan dari implantasi plasenta dapat berupa kelainan letak implantasinya ataupun kelainan dari kedalaman implantasinya. Penyebab plasenta previa secara pasti sulit ditentukan, tetapi ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjadinya plasenta previa, misalnya bekas operasi rahim (bekas sesar atau operasi mioma), sering mengalami infeksi rahim (radang panggul), kehamilan ganda, pernah plasenta previa, atau kelainan bawaan rahim. Biasanya ibu pada plasenta previa ini mengalami perdarahan dari sedikit hingga banyak tanpa diserta nyeri, perdarahan terjadi pada saat pagi hari setelah bangun tidur dan pada saat beristirahat biasa.Perdarahan pada kehamilan Trimester ketiga pada umumnya merupakan perdarahan yang berat, dan jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat bisa mendatangkan syok dan kematian. Salah satu penyebabnya adalah plasenta previa. Plasenta previa selain menimbulkan penyulit pada ibu, dapat juga menimbulkan penyulit pada janin, yaitu asfiksia sampai kematian janin dalam rahim. Oleh sebab itu, perlulah keadaan ini diantisipasi seawal-awalnya selagi perdarahan belum sampai ketahap yang membahayakan ibu dan janinnya (Chalik, 1997). Menurut data World Health Organization (WHO), di berbagai negara paling sedikit seperempat dari seluruh kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, proporsinya berkisar antara kurang dari 10% sampai hampir 60%. Pada tahun 2010 angka kejadian pasenta previa menurut World Health Organization (WHO), memperkirakan prevalensi plasenta previa pada tahun 2008, sekitar 458 dari 100.000 kelahiran setiap tahunnya, prevalensi plasenta previa pada tahun 2009, sekitar 320 dari 100.000 kelahiran, sedangkan prevalensi plasenta previa pada tahun 2010, sekitar 375 dari 100.000 kelahiran (WHO, 2010).Di Indonesia diperkirakan ada 14 juta kasus perdarahan dalam kehamilan. Setiap tahunnya paling sedikit 128.000 perempuan mengalami perdarahan sampai meninggal. Angka kematian ibu di Indonesia pada tahun 2011 tergolong masih cukup tinggi, mencapai 228 per 100.000 kelahiran. Walaupun sebelumnya Indonesia telah mampu melakukan penurunan dari angka 300 per 100.000 kelahiran pada tahun 2004. Pada tahun 2010 angka kematian ibu ditetapkan pada angka 103 per 100.000 kelahiran (Sutanto, 2011).Menurut Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) tahun 2010, tiga faktor utama kematian ibu melahirkan adalah perdarahan (28%), eklampsia (24%), dan infeksi (11%). Anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil menjadi penyebab utama terjadinya perdarahan yang merupakan faktor utama kematian ibu. Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia merupakan angka tertinggi dibandingkan dengan negaranegara ASEAN lainnya. Berbagai faktor yang terkait dengan resiko terjadinya komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan dan cara pencegahannya telah diketahui, namun demikian jumlah kematian ibu dan bayi masih tetap tinggi. Perdarahan merupakan penyebab kematian nomor satu (40% s/d 60%) kematian ibu melahirkan di Indonesia. Angka Kematian Ibu (AKI) tahun 2010 sebanyak 305 per 100.000 kelahiran hidup, dari jumlah 3509 ibu yang mengalami plasenta previa pada tahun 2010 didapati ibu yang meninggal 34 orang akibat plasenta previa. Pada tahun 2011 dari jumlah 4012 ibu yang mengalami plasenta previa pada tahun 2011 didapati ibu yang meninggal 44 orang meninggal akibat plasenta previa (Depkes RI, 2011).Salah satu sasaran strategis dalam pembangunan kesehatan tahun 2010-2014 yaitu meningkatnya status kesehatan dan gizi masyarakat antara lain dengan meningkatkan umur harapan hidup dari 70,7 tahun menjadi 72 tahun, menurunnya angka kematian ibu melahirkan dari 228 menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup, dan menurunnya angka kematian bayi dari 34 menjadi 24 per 1.000 kelahiran hidup (Kemkes RI, 2010).Prevalensi plasenta previa di negara berkembang seperti Indonesia berkisar antara 0,26 - 2,00% dari seluruh jumlah kehamilan. Angka kejadian dari plasenta previa adalah 0,5% atau 1 diantara 200 persalinan. Di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo terjadi 42 kasus plasenta previa di antara 6587 persalinan yang terdaftar, atau kira-kira 2 di antara 250 persalinan terdaftar (RSCM, 2009). Di Kota Semarang sendiri, berdasarkan laporan Puskesmas jumlah kematian ibu maternal pada tahun 2008 sebanyak 27 kasus dengan jumlah kelahiran hidup sebanyak 25.160. Kejadian kematian ibu maternal paling banyak terjadi pada masa nifas sebesar 11 kasus, kemudian pada persalinan 6 kasus dan masa kehamilan 10 kasus (Profil Kesehatan Kota Semarang 2008). Untuk kasus plasenta previa, di RSUD Kota Semarang selama 2 tahun terakhir (2008-2009) telah terjadi 44 kasus ibu hamil dengan plasenta previa. Dari 20 pasien tersebut, 17 diantaranya adalah multipara (melahirkan lebih dari 1 kali), atau sebanyak 85% pasien dengan plasenta previa pernah melahirkan lebih dari 1 kali.Kasus ini masih menarik dipelajari terutama di negara berkembang termasuk Indonesia, karena faktor predisposisi yang masih sulit dihindari, serta karena kurangnya pengawasan ataupun ketidaktahuan ibu tentang faktor yang bisa menyebabkan terjadinya plasenta previa. Dampak yang terjadi akibat plasenta previa itu sendiri adalah perdarahan yang hebat sebelum atau selama persalinan, yang dapat mengancam kehidupan ibu dan janinnya, persalinan prematur atau preterm (sebelum usia kehamilan 37 minggu), yang mana merupakan resiko terbesar bagi janin (Nugraheny, Esti, 2009).Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat penyebab utama kematian ibu belum ada survei khusus, tetapi secara nasional disebabkan karena komplikasi persalinan (55%), retensio plasenta (15%), robekan jalan lahir (19%), plasenta previa (21%), perdarahan dan eklampsia masing-masing (10%), dan komplikasi selama nifas (5%). Berdasarkan data Departemen Kesehatan Sumatra Barat (Depkes Sumbar, 2011). Sementara di Provinsi Sumatera Barat Angka Kematian Ibu (AKI) sebanyak 34% diakibatkan perdarahan. Penderita plasenta previa setiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 prevalensi plasenta previa terjadi sekitar 29 dari 250 kelahiran setiap tahun, pada tahun 2009 prevalensi plasenta previa terjadi sekitar 40 dari 250 kelahiran setiap tahun, pada tahun 2010 prevalensi plasenta previa terjadi sekitar 48 dari 253 kelahiran setiap tahun, pada tahun 2011 prevalensi plasenta previa terjadi sekitar 53 dari 253 kelahiran setiap tahunnya (Depkes, 2009).Untuk mengetahui gambaran penderita plasenta previa berdasarkan faktor resiko di RS.Dr.M.Djamil Padang pada periode Januari 2005-Desember 2006. Ditemukan 75 kasus plasenta previa dari 2967 persalinan. Berdasarkan paritas penderita kejadian terbanyak ditemukan pada grande mulipara (17.39%). Berdasarkan umur penderita kejadian terbanyak ditemukan pada ibu berusia 21-34 tahun (56%). Berdasarkan adanya riwayat seksio sesaria kejadian terbanyak pada ibu yang tidak mempunyai riwayat seksio sesaria (90,67%). Berdasarkan jenis kehamilan, kejadian terbanyak pada ibu dengan jenis kehamilan tunggal (98,7%). Berdasarkan adanya riwayat abortus, kejadian terbanyak pada ibu dengan tidak ada riwayat abortus (89,33%).Dilihat dari angka kejadian yang meningkat setiap tahunnya diketahui bahwa terdapat kesenjangan pada ibu pariatis beresiko tinggi. Faktor-faktor risiko terjadinya plasenta previa termasuk umur ibu, banyaknya jumlah kehamilan dan kelahiran, merokok selama hamil dan riwayat operasi sesar. Pengaruh paritas terhadap terjadinya plasenta previa cukup besar, hal ini mungkin disebabkan terjadinya respon inflamasi dan perubahan atrofi di permukaan endometrium. Namun ternyata efek dari paritas kurang mempengaruhi terjadinya plasenta previa dibandingkan faktor risiko yang lain (Clark SL, 1985). Pravelensi meningkat setiap tahun sehingga menjadi perhatian yang lebih dalam menangani plasenta previa sangat penting dilakukan untuk mempertahankan kesehatan dan kesejahteraan bayi dan janin. Maka dari itu, penulis tertarik untuk menganalisis asuhan keperawatan pada klien plasenta previa di bangsal kebidanan RSUP.DR.M.DJAMIL Padang.B. Rumusan MasalahBerdasarkan dari latar belakang tersebut maka peneliti merumuskan masalah yang diangkat adalah Bagaimanakah Cara Penerapan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Plasenta Previa Mulai Dari Pengkajian Sampai Dokumentasi di Bangsal Kebidanan RSUP. Dr.M.DJAMIL Padang Tahun 2013 C. Tujuan Studi Kasus1. Tujuan UmumAgar penulis mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami Plasenta Previa di Bangsal Kebidanan RSUP. Dr.M.DJAMIL Padang Tahun 2013 2. Tujuan Khusus

a. Untuk dapat melakukan Pengkajian terhadap klien dengan Plasenta Previa.b. Untuk dapat merumuskan Diagnosa Keperawatan terhadap klien dengan Plasenta Previa.

c. Untuk dapat menyusun Intervensi Keperawatan terhadap klien dengan Plasenta Previa.

d. Untuk dapat melakukan Implementasi Keperawatan yang telah disusun atau di