Studi RPJMDes-Suara Warga Suara Perubahan

  • View
    143

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

xxx

Transcript

  • Suara Warga Suara Pembangunan

    Sebuah Studi RPJM-Desa di Kabupaten Sumba Timur

  • Suara Warga Suara Pembangunan

    Sebuah Studi RPJM-Desadi Kabupaten Sumba Timur

  • Tim Studi dan Penulis :

    Ferdinand Rondong, Angelus Taseng, John T. Joz, Dianus U. Sunga, dan Imelda S. Seda, dan Martha Hebi

    Editor : Sutoro EkoFoto & Foto Sampul : Yosefina LindaDesain Sampul : candracoret

    Suara Warga Suara PembangunanSebuah Studi RPJM-Desa di Kabupaten Sumba Timur

    Cetakan 1, Januari 2011Hak Cipta dilindungi undang-undangAll Rights Reserved

  • Pengantar

    Bupati Sumba Timur

    Paling tidak ada tiga persoalan penyelenggaraan peme-rintahan desa dalam rangka otonomi desa saat ini, yaitu Pertama, kurangnya data monografi desa yang akurat dan akuntabel, padahal desa merupakan basis dari seluruh kegiatan pemerintahan, baik yang di tingkat desa, kabupaten, provinsi maupun pusat. Kedua, penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa), padahal APBDesa memuat rincian anggaran terhadap pelaksanaan kegiatan dari Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKP-Desa) tahunan yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM-Desa) yang sangat urgent untuk diperhatikan ketika membicarakan otonomi desa. Karena kewenangan desa, tidak hanya dalam mengelola perencanaan pembangunan, tetapi juga pengelolaan keuangan desa. Di dalam APBDesa, RKP-Desa dan RPJM-Desa inilah kita dapat melihat sejauhmana desa dapat mengatur dan mengurus rumah tangga desanya sendiri secara otonom. Ini merupakan indikator penting untuk mengukur kemajuan otonomi desa. Ketiga, masih ada kesan yang kuat bahwa sebagian besar rakyat masih menempatkan diri sebagai warga pemerintah. Akibatnya, terjadi proses perubahan yang menuntut suatu kualitas tertentu dari keterlibatan warga masyarakat, terdapat kesan mereka tidak siap, menunggu, bahkan masih ingin menggantungkan nasib mereka kepada pemerintah.

  • vi

    Studi RPJM-Desa

    Ketiga kondisi di atas, tentu tidak dapat dijadikan alasan atau sebagai justifikasi untuk kembali ke pola lama atau untuk mendiskreditkan warga masyarakat, melainkan perlu menjadikan rujukan untuk memperbiki pengelolaan pembangunan pedesaan agar sesuai dan relevan dengan konteks kebijakan dan realitas sosial, budaya, ekonomi, dan politik kelokalan yang ada. Jika ketiga aspek ini masih belum dapat diperbaiki, maka kita tidak perlu berharap akan terealisasinya otonomi desa. Malahan yang terjadi nanti adalah terus membesarnya permintaan bantuan desa kepada pemerintah tingkat atasnya yang pada gilirannya akan memperkuat struktur dan budaya ketergantungan masyarakat desa kepada pemerintah secara sistemik. Dikatakan demikian karena sudah jelas bagi kita bahwa jika APBDesa, RKP-Desa dan RPJM-Desa tidak disusun, maka tidak ada hal yang diatur dan diurus oleh Kepala Desa dan warga masyarakatnya sebagai konsekuensi dari pelaksanaan otonomi desa, dan tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan oleh Kepala Desa kepada BPD walaupun dana terus dikucurkan dari pemerintah tingkat atas ke pemerintah desa.

    Persoalan ini tentu tidak boleh dibiarkan berlanjut bila kita ingin otonomi desa itu terealisir dan pada akhirnya masyarakat akan lebih mandiri dan sejahtera dalam ke-hidupannya sebagai warga negara. Karena itulah, maka Pemerintah Kabupaten Sumba Timur berusaha mencari solusi terbaik terhadap persoalan-persoalan di atas melalui salah satu Catur Program Pembangunan Sumba Timur yang akan memasuki Jilid III yakni mendorong peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan berkomitmen untuk menjadikan perencanaan pembangunan desa sebagai basis perencanaan pembangunan daerah.

    Dalam rangka menindaklanjuti komitmen tersebut, maka salah satu upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan

  • vii

    Suara Warga Suara Pembangunan

    program itu adalah membangun kemitraan antara Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dengan ACCESS dan Mitra Samya serta LSM lokal melalui kegiatan fasilitasi penyusunan RPJM Desa/Kelurahan pada 11 Desa dan 2 Kelurahan di Kabupaten Sumba Timur dengan menggunakan pendekatan CLAPP-GPI.

    Dalam pelaksanaannya, langkah ini ternyata dapat membentangkan kesempatan yang luas bagi masyarakat, terutama orang miskin dan perempuan, untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan desa. Keraguan yang ada sebelumnya di mana warga masyarakat dan pemerintah desa/kelurahan tidak mampu membuat perencanaan penganggaran yang berkualitas dan dapat diimplementasikan, menjadi hilang. Sejalan dengan itu, mulai muncul harapan dan optimisme baru bahwa warga masyarakat dan pemerintah desa, didukung oleh pemerintah di atasnya dan Organisasi Masyarakat Sipil dan lembaga donor, bisa mewujudkan otonomi desa secara meyakinkan. Hal ini dapat terlihat jelas dari hasil studi pemanfaatan RPJM-Desa/Kelurahan, yang publikasikan dalam buku Suara Warga Suara Pembangunan. Buku ini banyak mengungkapkan berbagai cerita sukses, pendekatan, kekuatan-kekuatan, gambaran positif masa depan desa/kelurahan setelah RPJM-Desa/Kelurahan di 11 Desa dan 2 Kelurahan diterapkan beserta rekomendasi-rekomendasi untuk pemerintah, lembaga donor, LSM serta pemerintah desa/kelurahan dan warga masyarakatnya. Pemaparannyapun dinarasikan secara sederhana, lugas, dan disertai dengan data-data yang valid sehingga mudah dipahami oleh siapapun yang berkepentingan dengan isu-isu penting dan kekinian terkait pembangunan pedesaan/kelurahan seperti otonomi desa, demokrasi, kesejahteraan, pendekatan pembangunan yang partisipatif, pembangunan berbasis kekuatan, dan sebagainya.

  • viii

    Studi RPJM-Desa

    Bagi pemerintah, tepatlah kiranya apabila program pengembangan atau pemberdayaan masyarakat, didiskusikan dan direncanakan secara matang dan dibuat secara periodik, sebab membangun masyarakat tidak dapat dicapai dengan upaya-upaya yang sifatnya parsial, tetapi harus komprehensif dan terintegrasi. Ia harus menjadi kebutuhan bersama dan digerakkan secara komprehensif, gradual dan terus menerus dengan arah dan tujuan serta strategi yang jelas dan tepat. Pergerakkan semacam ini tidak mungkin dapat terwujud jika tidak ada kesepakatan untuk kita secara bersama-sama mewacanakan dan mendiskusikannya kemudian membuat-nya dalam sebuah domuken perencanaan yang baik untuk ditaati bersama dalam pelaksanaannya.

    Oleh karena itu, bagi segenap jajaran Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dan siapapun juga kiranya perlu mencermati dan memperhatikan hasil studi ini untuk lebih mengoptimalkan komitmen kita untuk membangun desa/kelurahan dalam mewujudkan otonomi desa dan kesejah-teraan warga masyarakat secara adil dan bermartabat. Belajar dari pengalaman, pembelajaran dan cerita sukses 13 desa/kelurahan yang telah memiliki dan menerapkan RPJM-Desa dalam pembangunan desa/kelurahan selama ini, maka Pemerintah Kabupaten Sumba Timur telah mengalokasikan dana dari APBD untuk bekerjasama dengan ACCESS dan LSM lokal untuk memfasilitasi penyusunan RPJM-Desa, RKP-Desa, APBDesa bagi desa-desa yang belum memiliki dokumen perencanaan penganggaran desa yang bermutu dan dapat diterapkan. Selain itu, Pemerintah juga sudah memberikan ADD Proporsional kepada desa untuk mendukung imple-mentasi program-program dalam RPJM-Desa.

    Harapan kami, berbagai cerita sukses dan rekomendasi dari hasil studi ini, dalam pelaksanaannya, dapat meng-kulturasikan diri dalam budaya lokal, dan membuang prinsip-

  • ix

    Suara Warga Suara Pembangunan

    prinsip pemerintahan demokrasi yang fundamental agar bisa terlahir apa yang dinamakan peradaban pemerintahan, sehingga keinginan kita untuk mewujudkan desa sebagai sumber data yang akurat, pengelola pembangunan dan keuangan yang baik dengan mengedepankan prinsip-prinsip partisipasi, transparansi, akutabilitas, dan berkeadilan sosial, serta mampu mewujudkan pelanyanan pemerintahan yang adil, mandiri, dan sejahtera mudah untuk dicapai. Perlu mengantisipasi dan menghindari, agar jangan sampai proses pengenalan, penetrasi dan pemantapan nilai-nilai baru berupa RPMJ-Desa/Kelurahan, yang sesungguhnya atau mungkin saja asing bahkan tidak disukai oleh masyarakat setempat, dapat menimbulkan resistensi dan penolakan dari masyarakat. Sehingga yang muncul bukannya prestasi atau keberhasilan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, demokrasi dan emansipasi desa, tapi malah sebaliknya, ketidakberdayaan dan menghancurkan nilai dan kearifan lokal.

    Demikianlah sambutan kami atas diterbitkannya buku Suara Warga Suara Pembangunan. Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada ACCESS, KOPPESDA, tim peneliti dan pihak-pihak lain yang telah bekerja sehingga lahirnya buku ini. Semoga buku ini dapat menambah wawasan, menjadi panduan sekaligus mendukung sikap kita dalam mengoptimalkan pelaksanaan pembagunan pedesaan/kelurahan secara efesien, efektif dan berkelanjutan.

    Waingapu, 13 Desember 2010

    BUPATI SUMBA TIMUR

    Drs. GIDION MBILIJORA, M.Si

  • Pengantar ACCESS

    Partisipasi Warga dalam Tata Kepemerintahan Lokal Demokratis

    Paul BoonDirektur Program ACCESS Tahap II

    Tata Kepemerintahan Lokal Demokratis (TKLD) me-nuntut peran warga yang aktif dan kritis, melalui partisipasi langsung dalam berbagai kegiatan publik dan menjalin interaksi yang dinamis (engagement) dengan pemerintah (Negara). Ini berarti, warga memiliki peran besar terhadap peningkatan dalam TKLD, dan dalam waktu yang sama juga membutuhkan peran pemerintah (Negara) yang kuat, serta interaksi (engagement) keduanya. Pada dasarnya, peningkatan dalam TKLD berkaitan erat dengan perubahan pada relasi kekuasaan (power relations) yang semakin setara antara warga dan pmerintah (Negara). Pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar partisipasi warga dalam pemerintahan lokal demokratis berkontribusi kepada pe-rubahan sosial yang demokratis dan keadilan sosial yang sungguh-sungguh? Apakah warga membutuhkan ruang dan mekanism