of 94 /94
Studi Implementasi Rencana Tata Ruang Terpadu Wilayah Metropolitan Mamminasata STUDI SEKTORAL (4) PERTANIAN KRI International Corp. Nippon Koei Co., Ltd

STUDI SEKTORAL (4) - JICA · 1 Data tentang struktur PDRB menurut sub-sektor tahun 2003 tidak tersedia pada dokumen sumber. STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN

  • Author
    others

  • View
    4

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of STUDI SEKTORAL (4) - JICA · 1 Data tentang struktur PDRB menurut sub-sektor tahun 2003 tidak...

  • Studi Implementasi

    Rencana Tata Ruang Terpadu

    Wilayah Metropolitan Mamminasata

    STUDI SEKTORAL (4)

    PERTANIAN

    KRI International Corp.

    Nippon Koei Co., Ltd

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    Daftar Isi

    1. GAMBARAN UMUM SEKTOR PERTANIAN............................................................1

    1.1 Sektor Pertanian ..........................................................................................................1

    1.2 Sub-sektor Peternakan.................................................................................................5

    1.3 Sub-sektor Perikanan...................................................................................................6

    1.4 Sub-sektor Kehutanan .................................................................................................7

    1.5 Sub-sektor Irigasi ........................................................................................................8

    2. ISU-ISU SEKTOR PERTANIAN..................................................................................10

    2.1 Tren Kebutuhan Produk Pertanian dan Perikanan ....................................................10

    2.2 Gambaran Umum Produk Pertanian .........................................................................11

    2.3 Isu-Isu yang akan Dikemukakan ...............................................................................15

    3. RENCANA PENGEMBANGAN PERTANIAN UNTUK MAMMINASATA ..........17

    3.1 Konsep Dasar Pengembangan Pertanian dan Perikanan ...........................................17

    3.2 Tata Guna Lahan Pertanian Strategis ........................................................................17

    3.3 Pengembangan Perikanan dan Peternakan................................................................24

    3.4 Industrialisasi Berbasis Pertanian/Perikanan ............................................................26

    3.5 Kontribusi terhadap Pertumbuhan PDRB .................................................................29

    4. PROGRAM AKSI DAN REKOMENDASI .................................................................30

    4.1 Program Aksi Jangka Pendek....................................................................................30

    4.2 Program Aksi Jangka Menengah dan Jangka Panjang ..............................................31

    4.3 Rekomendasi untuk Dilaksanakan ............................................................................33

    Lampiran 1 Luas Produksi Tanaman di Mamminasata

    Lampiran 2 Diagram Pohon Produk Sampingan (by-products)

    Lampiran 3 Perkiraan Biaya Tanaman, Nilai Produksi, Keuntungan Bersih dan Peruntukan Lahan

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-1

    1. GAMBARAN UMUM SEKTOR PERTANIAN

    1.1 Sektor Pertanian

    1) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

    Propinsi Sulawesi Selatan dikenal sebagai salah satu lumbung pangan terpenting di Indonesia. Secara khusus, Propinsi Sulawesi Selatan memasok padi dan tanaman pangan lainnya untuk propinsi lain di Sulawesi. Selain itu, wilayah Mamminasata memainkan peranan penting sebagai pintu gerbang bagi produk-produk pertanian dan perikanan ke wilayah-wilayah lain dan negara-negara asing.

    Di seluruh wilayah propinsi ini, sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar pada struktur PDRB yang menampung tenaga kerja lebih dari 1,83 juta jiwa atau 57% dari angkatan kerja tahun 2003. Kecuali Kota Makassar, sektor pertanian di tiga kabupaten menyumbang sekitar 45% pada struktur PDRB seperti pada Tabel 1-1.

    Tabel 1-1 Sumbangan Sektor Pertanian pada PDRB menurut Kabupaten/Kota (2003)

    Pendapatan Asli Daerah dari Sektor Pertanian (Juta Rp.)

    Persentase terhadap PDRB

    PDRB menurut Kabupaten/Kota

    (Juta Rp.) Makassar 74.408 2,2 3.442.520 Maros 183.471 44,2 415.111 Gowa 260.494 45,0 579.436 Takalar 112.659 43,5 259.115 Total 631.032 13,4 4.696.182 Sumber: BPS, Makassar, Gowa, Takalar dan Maros dalam Angka, 2003

    Sektor pertanian terdiri atas empat sub-sektor yaitu tanaman pangan/non-tanaman pangan, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Tabel 1-2 berikut menunjukkan struktur PDRB menurut sub-sektor tahun 20021. Di Maros dan Takalar, sub-sektor tanaman pangan/ non-tanaman pangan dan perikanan menyumbang lebih dari 95%, sementara di Gowa hampir mencapai 95%.

    Tabel 1-2 Struktur Pertanian menurut Sub-sektor (2002)

    Persentase terhadap Pendapatan Sektor Pertanian Sub-sektor Makassar Maros Gowa Takalar Tanaman Pangan/ Non-Tanaman Pangan N/A 48,4 94,9 48,9Peternakan N/A 4,7 4,3 4,2Kehutanan N/A 0,2 0,03 0,04Perikanan N/A 46,7 0,7 46,9

    Total - 100,0 100,0 100,0Sumber: BPS, Makassar, Gowa, Takalar dan Maros dalam Angka, 2002 dan 2003

    Luas kepemilikan lahan diperkirakan rata-rata sekitar 1,28 ha/rumah di tingkat propinsi, dimana lahan sawah menempati sekitar 0,55 ha (43%), sedangkan rumah

    1 Data tentang struktur PDRB menurut sub-sektor tahun 2003 tidak tersedia pada dokumen sumber.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-2

    tangga yang memiliki kurang dari 0,5 ha adalah sekitar 29% dari total kepemilikan lahan2.

    2) Tata Guna Lahan

    Tata guna lahan di Mamminasata saat ini diperkirakan seperti pada Tabel 1-3.

    Tabel 1-3 Tata Guna Lahan di Mamminasata Saat Ini

    (Unit: ha)Kategori Makassar Maros Gowa Takalar Total Daerah Perkotaan 9.090 1.280 3.780 780 14.930 Kawasan Permukiman 7.310 1.280 3.780 770 13.140 Komersil 810 0 0 10 820 Bisnis/Perkantoran 470 0 0 0 470 Kawasan Perindustrian 500 0 0 0 500Pertanian 3.980 36.900 38.670 26.490 106.050

    Tanaman Campuran Teririgasi 100 0 7.070 3.320 10.500

    Sawah Irigasi 830 0 18.870 8.450 28.140 Tanaman Campuran 830 7.580 8.040 8.540 24.990 Persawahan 2.220 29.290 1.690 6.190 39.390 Perkebunan 0 30 3.000 0 3.030Kawasan Hijau 430 46.610 14.300 10.440 71.780 Padang Rumput 0 1.180 0 1.000 2.180 Semak 0 3.830 470 0 4.300 Hutan 430 41.600 13.830 9.440 65.310

    Perairan 2.690 8.760 5.480 3.620 20.550 Sungai 750 1.990 1.430 850 5.020 Daerah Berawa/Tambak 1.840 6.770 0 2.670 11.280 Waduk 90 0 4.050 110 4.250

    Lain-lain 1.790 11.030 9.980 13.640 36.440 Lahan Kering 850 10.300 9.970 13.610 34.730 Bukit Pasir 70 0 0 0 70 Ruang Terbuka 870 730 10 30 1.640 Total 17.980 104.860 72.210 54.980 250.030

    Sumber: Badan Pertanahan Negara

    Luas lahan pertanian di Mamminasata diperkirakan berkisar 106.050ha, yang berarti sekitar 42% dari total luas lahan. Sebagian besar lahan tanaman campuran dan sawah irigasi berada pada sistem irigasi teknis Proyek Irigasi Bili-Bili. Lahan tanaman campuran, sawah, dan perkebunan merupakan lahan pertanian semi-teknis, non-teknis, dan tadah hujan.

    Sejumlah besar lahan di Maros, Takalar, dan Makassar, digunakan sebagai tambak dimana budidaya tambak dikembangkan secara intensif. Kawasan hijau (padang rumput, semak-semak, dan hutan) terhampar luas di Maros, dimana produk-produk kayu dan madu diproduksi.

    2 Studi Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Wilayah Sungai Jeneberang, JICA Maret 2004.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-3

    3) Produksi Pertanian

    Tanaman pangan utama di Sulawesi Selatan adalah padi, jagung, ubi jalar, ubi kayu, kedelai, kacang hijau dan kacang tanah. Dari tanaman-tanaman pangan tersebut, Sulawesi Selatan menyumbang sekitar 40% pada stok padi nasional. 3 Daerah penghasil padi utama adalah kabupaten Bone, Wajo, dan Pinrang yang menyumbang lebih dari 30% dari total volume produksi di tingkat propinsi.

    Tabel 1-4 Luas Lahan dan Produksi Padi

    Luas Panen (ha) Produksi (ribu ton) Panen (ton/ha) 1999 2003 1999 2003 1999 2003

    Sulawesi Selatan 902.286 847.305 3.870,0 4.003,1 4,29 4,72 Makassar 4.139 2.269 19,5 11,5 4,71 5,07 Maros 39.757 38.590 218,6 213,2 5,50 5,52 Gowa 45.953 49.060 205,9 232,5 4,48 4,74 Takalar 23.857 21.374 124,0 118,7 5,20 5,55

    Total 4 Kabupaten/Kota 113.706 111.293 568 575,9 5,00 5,17 Persentase terhadap Propinsi 12,6% 13,1% 14,7% 14,4% - -

    Sumber : BPS, Sulawesi Selatan, Makassar, Gowa, Takalar dan Maros dalam Angka, 2003

    Seperti terlihat pada Tabel 1-4 di atas, Mamminasata menyumbang sekitar 14,4% pada produksi padi propinsi yang jumlahnya relatif kecil. Meskipun demikian, unit produksinya mencapai 5,17 ton/ha, melebihi angka rata-rata propinsi yang berada pada kisaran 4,72 ton/ha pada tahun 2003. Budidaya padi dengan irigasi menyumbang sekitar 89%, dan sisanya (11%) adalah budidaya padi pada sawah tadah hujan.

    Produksi jagung dalam lima tahun terakhir sangat populer terutama di Gowa dan Takalar, karena peningkatan permintaan untuk penggilingan pakan ternak. Pada tahun 2003, lebih dari 90% (150.000 ton) jagung diproduksi di Gowa dan Takalar. Kabupaten Gowa merupakan salah satu produsen ubi kayu terbesar yang menyumbang lebih dari 33% untuk produksi tingkat propinsi, dan 46% untuk tingkat Mamminasata. (lihat juga Lampiran-I).

    Tabel 1-5 Produksi Tanaman Pangan Lainnya (2003)

    Luas Panen (ha) Produksi (ton) Tanaman Propinsi Mamminasata (%) Propinsi Mamminasata (%) Jagung 213.818 34.818 (16%) 650.832 161.578 (25%) Ubi Kayu 40.808 14.927 (37%) 590.717 271.319 (46%) Ubi jalar 5.748 768 (13%) 61.789 16.967 (27%) Kcg. Tanah 43.385 3.867 (9%) 52.763 5.650 (11%) Kedelai 16.992 1.327 (8%) 24.140 1.890 (8%) Kcg. Hijau 33.180 11.180 (34%) 38.608 8.055 (21%)

    Sumber: BPS, Sulawesi Selatan, Makassar, Gowa, Takalar dan Maros dalam Angka, 2003

    3 Direktori Sulawesi Selatan, Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan, 2004.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-4

    Paddy(Wet&Dry)

    Maize

    Cassava

    0

    100

    200

    300

    400

    500

    600

    700

    2000 2001 2002 2003Year

    1,00

    0 To

    n

    Cowpea

    Groundnuts

    Mungbean

    Soybean

    SweetPotato

    0

    5

    10

    15

    20

    2000 2001 2002 2003Year

    1,00

    0 To

    n

    Sumber : BPS, Sulawesi Selatan, Makassar, Gowa, Takalar dan Maros dalam Angka, 2001, 2002, 2003

    Gambar 1-1 Tren Produksi Tanaman Pangan di Mamminasata

    Gambar 1-1 menunjukkan tren produksi tanaman pangan utama selama periode 2000-2003. Padi, jagung dan ubi kayu telah mencapai produksi yang relatif stabil, sedangkan produksi kedelai dan kacang tanah mengalami penurunan.

    Tanaman perkebunan telah dibudidayakan secara luas, misalnya kopi di Gowa, tebu, kelapa, jambu mete dan kapok di Gowa dan Takalar. Namun demikian, sebagian besar produksi tanaman perkebunan tersebut dikelola pada lahan perkebunan skala kecil, dan sebagaimana yang diamati, perkebunan berskala besar hanya budidaya tebu di Takalar.

    Salah satu komoditas andalan di Sulawesi Selatan adalah kakao, meski skala produksinya di Mamminasata relatif kecil bila dibandingkan dengan daerah-daerah di utara Sulawesi Selatan (misalnya, Mamuju, Luwu Utara, Polmas dan Bone).

    Gambar 1-2 menunjukkan tren produksi tanaman perkebunan utama. Produksi kelapa, kopi, jambu mete dan kakao sedikit meningkat sejak tahun 1999, sedang tebu merosot di tahun 2000-2002.

    Coffee

    Cacao

    Cashew

    Coconuts

    0

    500

    1,000

    1,500

    2,000

    2,500

    3,000

    1999 2000 2001 2002 2003

    Year

    Ton

    Sugarcane

    01020304050607080

    1999 2000 2001 2002 2003Year

    1,00

    0 To

    n

    Sumber: BPS, Sulawesi Selatan, Makassar, Gowa, Takalar dan Maros dalam Angka, 2001, 2002, 2003

    Gambar 1-2 Tren Produksi Tanaman Perkebunan Utama di Mamminasata

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-5

    Produksi buah-buahan juga berjalan dengan baik di Mamminasata, misalnya, mangga, pepaya, jeruk, dan pisang, serta markisa (di Gowa). Tana Toraja dan Gowa (Malino) merupakan produsen buah-buahan utama (lihat juga Lampiran-I).

    Produksi sayur-mayur berlangsung sangat intensif di Gowa, diikuti oleh Maros. Sayur-mayur biasanya dibudidayakan sebagai sarana penyambung hidup oleh petani. Meski demikian, kelebihan produksi juga dipasarkan terutama di pusat-pusat kota di Makassar.

    1.2 Sub-sektor Peternakan

    Hewan ternak yang paling banyak dikembangbiakkan di Mamminasata adalah sapi potong, kerbau, kambing, itik dan ayam, sedangkan sapi perah, kuda, domba dan babi dikembangbiakkan dalam jumlah relatif kecil seperti terlihat pada Tabel 1-6.

    Tabel 1-6 Populasi Hewan Ternak (2003) (Unit: ekor)

    Sapi PerahSapi

    Potong Kerbau Kuda Kambing Domba Babi Itik Ayam Potong

    Ayam Kampung

    Makassar 29 1.322 665 126 4.152 0 3.247 36.669 9.058 300.567Maros 0 40.488 10.465 4.403 17.490 0 60 311.511 318.709 773.304Gowa 0 70.572 22.568 8.380 17.822 0 5.159 215.913 709.680 831.217Takalar 0 17.392 5.137 1.079 20.237 7 0 101.867 236.900 359.952

    Total 29 129.774 38.835 13.988 59.701 7 8.466 665.960 1.274.347 2.265.040Sumber: BPS, Sulawesi Selatan, Makassar, Gowa, Takalar dan Maros dalam Angka, 2001, 2002, 2003

    Pengembangbiakan sapi perahan hanya dilakukan di Makassar, dan jumlahnya pun sangat terbatas yakni 29 ekor. Jumlah ini menunjukkan bahwa produksi susu tidak begitu aktif di Mamminasata. Sedangkan sapi potong, kerbau dan kuda dikembangbiakkan terutama sebagai hewan peliharaan untuk keperluan pertanian dan transportasi.

    Tabel 1-7 Produksi Hewan Ternak di Mamminasata (2003) (Unit: ton)

    Sapi Potong Kerbau Kuda Kambing Babi Itik Ayam Potong

    Ayam Kampung

    Ayam Petelur

    Itik Petelur

    Makassar 2.590 1.789 0 59 829 26 186 183 2.927 294Maros 234 214 0 0 0 199 221 472 1.466 1.930Gowa 1.953 427 10 9 0 149 512 531 829 1.220Takalar 199 210 76 0 0 18 137 270 762 281Total 4.976 2.639 85 68 829 392 1.057 1.457 5.984 3.725

    Sumber: BPS, Sulawesi Selatan, Makassar, Gowa, Takalar dan Maros dalam Angka, 2001, 2002, 2003

    Produksi sapi potong, kerbau, babi dan ayam petelur terkonsentrasi di Makassar, sedangkan ayam potong, itik potong dan itik petelur diproduksi secara intensif di Maros dan Gowa. Kambing, ayam, itik dan telur dipasarkan secara lokal untuk konsumsi rumah tangga.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-6

    1.3 Sub-sektor Perikanan

    Produksi perikanan di Sulawesi Selatan berada pada posisi ketiga terbesar di Indonesia dan merupakan sub-sektor terbesar kedua di Mamminasata. Perikanan laut menyumbang sekitar 20,4% dari volume produksi tingkat propinsi, diikuti oleh budidaya tambak air payau. Total produksi perikanan di Sulawesi Selatan meningkat kira-kira 8% pada tahun 2000-2003. Total produksinya sebesar 468.000 ton. Takalar merupakan daerah penghasil ikan terbesar yang memiliki garis pantai yang cukup panjang. Perikanan darat, kecuali budidaya tambak air payau, tidak begitu populer. Ini menunjukkan bahwa permintaan di tingkat propinsi terhadap ikan laut lebih tinggi daripada ikan air tawar.

    Tabel 1-8 Produksi Perikanan di Mamminasata (2003)

    Perikanan Darat Wilayah Adminstratif

    Perikanan Laut Tambak Air

    Payau Tambak Air

    Tawar Tambak Sawah Danau Sungai Rawa

    Total (ton)

    Sulawesi Selatan 354.425 122.571 2.301 3.925 14.252 2.102 6.057 505.633Makassar 17.958 373 0 0 0 0 0 18.331Maros 14.743 9.219 9 16 0 0 0 23.986Gowa 0 60 88 119 0 101 77 444Takalar 39.544 7.540 0 0 0 0 0 47.083

    Mamminasata 72.244 17.192 96 135 0 101 77 89.844Persentase terhadap Propinsi 20,4% 14,0% 4,2% 3,4% 0,0% 4,8% 1,3% 17,8%

    Sumber: Laporan Statistik Perikanan, Sulawesi Selatan, 2003.

    Produk ikan laut sangat beragam, misalnya ikan terbang, tuna, cakalang, cumi-cumi, kepiting dan lain sebagainya. Ada peraturan do Kota Makassar yang membatasi penangkapan ikan laut dalam rangka konservasi sumberdaya kelautan melalui penetapan berbagai aturan dan program pendukung, meskipun penerapannya tidak efektif. Budidaya tambak air payau dilakukan secara sangat intensif di Maros dan Takalar. Produksi ikan mujair (mozambique tilapia) adalah yang paling populer, menyumbang sekitar 33,8% dari produksi tingkat propinsi.

    Tabel 1-9 Produksi Budidaya Ikan Air Payau (2003)

    Wilayah Administratif Mujair Bandeng Balanak

    Kakap Putih Lainnya

    Total (ton)

    Sulsel 3.073 59.128 201 82 3.668 66.151 Makassar 5 158 7 33 203 Maros 725 5.933 0 229 6.887 Gowa 0 36 0 5 41 Takalar 309 1.796 0 228 2.333

    Total 4 Kab/Kota 1.040 7.923 7 0 495 9.464 Persentase thdp Propinsi 33,8% 13,4% 3,3% 0,0% 13,5% 14,3%

    Sumber: Laporan Statistik Perikanan, Sulawesi Selatan, 2003.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-7

    Budidaya udang berkembang sangat baik di sepanjang pantai barat Sulawesi Selatan, dengan kabupaten Pinrang sebagai pusatnya. Budidaya udang windu cukup aktif di Maros. Belakangan ini, produksi udang mengalami penurunan akibat adanya serangan penyakit. Pemerintah propinsi telah meluncurkan beberapa program pendukung budidaya udang dengan menyiapkan buku petunjuk mengenai pengelolaan budidaya ikan yang baik.4

    Tabel 1-10 Produksi Budidaya Krustacea (Udang, Kepiting) di Air Payau (2003)

    Wilayah Administratif

    Udang Windu

    Udang Jerbung

    Udang Dogol

    Udang Rebon

    Kepiting Lumpur

    Total (ton)

    Sulsel 14.840 1.184 3.185 129 2.092 21.430Makassar 134 7 0 0 30 170Maros 1.830 0 503 0 0 2.332Gowa 15 0 0 0 4 19Takalar 98 79 56 0 0 233

    Total 4 Kab/Kota 2.077 86 559 0 33 2.755Persentase terhadap Propinsi 14,0% 7,2% 17,6% 0,0% 1,6% 12,9%

    Sumber: Laporan Statistik Perikanan, Sulawesi Selatan, 2003.

    Produksi rumput laut meningkat secara signifikan dalam lima tahun terakhir. Takalar memproduksi hampir 5.000 ton pada tahun 2003. Budidaya rumput laut juga terlihat jelas di Maros. Daerah-daerah di luar Mamminasata, seperti Bantaeng, Selayar, Sinjai, dan Mamuju memproduksi 30.000 ton rumput laut pada tahun yang sama. Budidaya rumput laut semakin meningkat, rumput laut tersebut diekspor terutama untuk keperluan bahan baku agar-agar dan bahan campuran kosmetik.

    1.4 Sub-sektor Kehutanan

    Sumberdaya hutan berada di daerah pegunungan Maros dan Gowa seperti ditunjukkan pada Tabel 1-11 di bawah ini.

    Tabel 1-11 Sumberdaya Kehutanan (2003) (Unit: ha)

    Wilayah Administratif

    Hutan Lindung

    Hutan Produksi Terbatas

    Hutan Produksi

    Biasa Hutan PPA Hutan Konversi Total

    Sulawesi Selatan 1.928.597 811.105 203.816 208.301 102.073 3.253.892Makassar 0 0 0 0 0 0Maros 25.817 7.886 25.765 9.041 0 68.509Gowa 24.226 13.445 22.100 3.309 0 63.080Takalar 86 0 3.482 4.696 0 8.264

    Total 4 Kab/Kota 50.129 21.331 51.347 17.046 0 139.853Persentase terhadap Propinsi 2,6% 2,6% 25,2% 8,2% 0,0% 4,3%

    Sumber : BPS, Sulawesi Selatan, Makassar, Gowa, Takalar dan Maros dalam Angka, 2003

    4 Penyusunan Rencana Pengembangan Kawasan Budidaya (Udang Windu), Dinas Perikanan & Kelautan, Prop. Sul-Sel,

    2003.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-8

    Tercatat hampir seperempat dari hutan produksi biasa terkonsentrasi di Maros dan Gowa, dimana produk-produk hutan seperti kayu, damar, rotan dan budidaya lebah madu5 dikembangkan.

    1.5 Sub-sektor Irigasi

    Daerah-daerah irigasi potensial yang ada di propinsi Sulawesi Selatan adalah seluas 503.748 ha, yang mencakup 320.907 ha pada 250 sistem irigasi yang dibangun oleh pemerintah dan 182.841 ha pada 1.287 sistem irigasi pedesaan. Sistem irigasi yang dibangun pemerintah terdiri atas 57 sistem irigasi teknis dengan daerah irigasi potensial seluas 237.657 ha, 132 sistem irigasi semi-teknis dengan daerah irigasi potensial seluas 72.981 ha, dan 61 sistem irigasi sederhana dengan daerah irigasi potensial seluas 10.269 ha.6

    Di Mamminasata, proyek pengembangan wilayah sungai Jeneberang telah dilaksanakan dengan bantuan finansial dari OECF (sekarang JBIC) sejak 1983. Waduk Serbaguna Bili-Bili dibangun pada 1986-1987, diikuti dengan pembangunan dan rehabilitasi sistem irigasi Bili-Bili. Sistem irigasi Bili-Bili terdiri atas tiga sub-sistem yaitu Bili-Bili (yang sudah ada), Bissua (baru) dan Kampili (yang sudah ada).

    Lokasi proyek irigasi Bili-Bili terbentang di daerah hilir Sungai Jeneberang, sebagian besar di Takalar dan Gowa, dan sebagian kecil di Makassar. Luas kotor daerah layanan irigasi tersebut adalah 45.500 ha, sedangkan luas bersihnya adalah 23.602 ha,7 seperti ditunjukkan pada Tabel 1-12.

    Tabel 1-12 Luas Kotor dan Luas Layanan Irigasi Bili-Bili

    Sistem Irigasi Luas Bersih (ha) Luas Layanan Irigasi (ha) Bili-Bili (yang ada) 7.050 2.369 Bissua (yang ada dan baru) 20.000 10.686 Kampili (yang ada) 18.450 10.547

    Total 45.500 23.602 Sumber: (i) Laporan Desain Akhir. Supervisi Desain & Konstruksi Proyek Irigasi Bili-Bili,

    Desember 1999, dan (ii) Studi Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Wilayah Sungai Jeneberang, JICA 2004

    5 Kegiatan budidaya lebah-madu merupakan wewenang Dinas Kehutanan dan produk-produk olahan madu di Maros dipilih sebagai salah satu komoditas unggulan untuk Gerakan Pembangunan Ekonomi Masyarakat (Gerbang Emas), yang disponsori bersama oleh sektor swasta dan pemerintah propinsi.

    6 Studi Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Wilayah Sungai Jeneberang, JICA 2004 7 Menurut kantor proyek irigasi Bili-bili, luas sebenarnya sedikit lebih luas dari itu karena adanya irigasi pompa pada

    blok-blok tersier.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-9

    Gambar 1-3 Sistem Irigasi Teknis yang Ada (Proyek Irigasi Bili-Bili) di Mamminasata

    Luas bersih rata-rata lahan pertanian yang ada di wilayah proyek irigasi Bili-Bili berkisar 0,3~0,5 ha, meskipun 50% petani hanya memiliki lahan kurang dari 0,45 ha.8 Sebagian besar lahan pertanian dimiliki oleh petani. Rasio rata-rata petani yang memiliki lahan berkisar 88% (1993), bervariasi dari 91% di Gowa sampai 73 % di Makassar.

    Pola tanam yang diterapkan di wilayah proyek irigasi Bili-Bili adalah tiga kali tanaman beririgasi setahun, yakni dua kali tanaman padi rendeng dan gadu (200%) dan sebagian tanaman palawija (40%). Palawija yang ditanam terdiri atas kedelai (15%), kacang hijau (10%), kacang tanah (8%) dan jagung (7%). Perkiraan hasil panen padi berkisar 5,5 tons/ha pada musim padi rendeng dan 6,0 ton/ha pada musim padi gadu. Keuntungan kotor dan bersih (diluar biaya tenaga kerja keluarga) diperkirakan sekitar Rp. 13,2 juta/ha (setara dengan US$ 1.833/ha) sesuai dengan hasil studi kelayakan (1999).

    8 Berdasarkan hasil dengar pendapat di Kantor Proyek Irigasi Bili-Bili di bulan Juni 2005.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-10

    2. ISU-ISU SEKTOR PERTANIAN

    2.1 Tren Kebutuhan Produk Pertanian dan Perikanan

    Gambar 2-1 dan 2-2 menunjukkan konsumsi kalori harian per kapita di daerah perkotaan Propinsi Sulawesi Selatan selama periode 1993-2002.

    Gambar 2-1 Konsumsi Kalori Harian Per kapita untuk Sereal (Daerah Perkotaan) di Indonesia dan Sulawesi

    Selatan

    Gambar 2-2 Konsumsi Kalori Harian Per kapita untuk Sumber Makanan Lainnya (Daerah Perkotaan) di

    Sulawesi Selatan Sumber: Konsumsi Kalori dan Protein Indonesia dan Propinsi (Susenas), 1999 dan 2002, BPS.

    Dari kedua grafik di atas diketahui bahwa konsumsi kalori untuk sereal (nasi) menurun, sedangkan total konsumsi kalori rata-rata harian per kapita meningkat. Kedua grafik di atas menunjukkan bahwa kebutuhan pangan per kapita cenderung meningkat, kecuali untuk sereal, dan tren ini bisa diterapkan di Mamminasata. Konsumsi pangan di Mamminasata akan bervariasi, beralih ke pola konsumsi sedikit nasi dan lebih banyak konsumsi daging, sayuran, buah-buahan, minyak dan makanan olahan siap saji. Tabel 2-1 menunjukkan kecenderungan umum kebutuhan pangan di Sulawesi Selatan dan Mamminasata.

    Tabel 2-1 Tren Kebutuhan menurut Jenis Pangan

    Jenis Pangan Tren Sereal Ikan Daging Telur dan Susu Sayuran Kacang-kacangan/Umbi-umbianBuah-buahan Minyak dan Lemak Minuman Makanan dan Minuman Jadi Total (Kilo kalori/kapita/hari)

    0

    500

    1,000

    1,500

    2,000

    2,500

    1993 1996 1999 2002 Year

    KC

    al.

    National Average South Sulawesi Average

    Average Daily Per Capita Calorie

    Calorie from Cereals

    0

    50

    100

    150

    200

    250

    1993 1996 1999 2002 Year

    KC

    al.

    Fish MeatEggs and Milk VegetablesLegumes/Tubers FruitsOil and Fats Beverage StuffsPrepared Food and Beverages

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-11

    2.2 Gambaran Umum Produk Pertanian

    Propinsi Sulawesi Selatan memiliki sumberdaya pertanian, perikanan dan kehutanan yang melimpah. Sebagian besar komoditas memiliki jenis-jenis penggunaan dan pengolahan seperti ditunjukkan pada Lampiran-II. Namun demikian, tingkat pemanfaatannya masih lebih rendah dari target yang diharapkan propinsi9.

    1) Tanaman Pangan

    Beras merupakan makanan pokok paling penting di Indonesia. Padi hasil panen biasanya dikeringkan dan digiling di penggilingan padi dimana pedagang kota datang membelinya untuk dijual ke konsumen. Kulit padi yang dihasilkan selama proses penggilingan digunakan untuk makanan ternak. Sebagai produk yang siap konsumsi, beras juga diolah menjadi mie dan makanan ringan. Beberapa perusahaan mie yang bahan dasarnya terbuat dari beras sudah beroperasi di Makassar dan Maros.

    Jagung ditanam untuk konsumsi manusia dan makanan ternak. Sekitar 50% dari produksi jagung propinsi diolah menjadi makanan unggas. Di Mamminasata, ada dua pabrik pengolahan makanan ternak (Investasi AS - Japfa Comfeed dan Cargill). Baru-baru ini, Lembaga Keuangan Internasional (IFC) memprakarsai Program Mata Rantai Agribisnis (ALP) untuk jagung/unggas dan kakao bekerjasama dengan PENSA (Program Bantuan untuk UKM di Indonesia Timur). Program tersebut bertujuan untuk memperkuat rantai nilai agribisnis melalui pemberian bantuan teknis kepada para petani jagung dan industri ternak unggas berskala kecil. IFC melaporkan bahwa kerugian pemasaran relatif tinggi akibat proses pengeringan yang tidak tepat serta kehilangan selama proses pengangkutan.

    Ubi Kayu dimanfaatkan untuk berbagai jenis produk olahan, misalnya tapioka, keripik, kanji untuk obat nyamuk bakar, ubi kering untuk makan ternak, glukosa, sirup maltose, alkohol dan aseton. Permintaan ubi kayu sebagai komoditas pangan dan bahan kimia sangat tinggi.

    Kedelai dikenal luas sebagai bahan baku tahu, tempe, susu kedelai dan minyak goreng. Jerami dan polongnya juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik dan makanan ternak. Di Mamminasata, terdapat pabrik pengolahan tahu/tempe dan saus kedelai, sedang pabrik pengolahan minyak kedelai belum ada.

    2) Tanaman Perkebunan/Tanaman Buah

    Kakao (coklat) umumnya diekspor dalam bentuk biji kakao. Di Sulawesi Selatan, terdapat sekitar 20 perusahaan eksportir. Beberapa perusahaan mengolah biji kakao

    9 Pada tahun 2003, Dinas Pertanian Propinsi Sulawesi Selatan meluncurkan Program Pembangunan Agri-bisnis Hortikultura

    untuk sejumlah tanaman pilihan. Rincian kegiatan dan kondisi perkembangannya belum terindentifikasi.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-12

    menjadi mentega kakao berbentuk bubuk. Secara umum, kualitas kakao Sulawesi Selatan dianggap rendah dalam hal cita rasa akibat buruknya penanganan pasca-panen (fermentasi) terhadap varietas asli Malaysia ini di tingkat petani, serta pada proses pengangkutan. Tidak adanya perbedaan harga antara biji kakao hasil fermentasi dan tanpa fermentasi yang ditawarkan oleh para pedagang menyebabkan para petani menjadi tidak termotivasi dalam mengupayakan perbaikan mutu. Pemerintah pusat belum lama ini menetapkan standar nasional untuk para produsen kakao, dan tenaga-tenaga sosialisasi ditugaskan untuk memberikan penyuluhan tentang standar tersebut di tingkat propinsi.

    Budidaya Kelapa dan industri kelapa terpadu direkomendasikan dalam studi yang dilaksanakan oleh Universitas Hasanuddin. 10 Studi tersebut merekomendasikan pengembangan industri kelapa untuk minyak kelapa mentah (crude coconut oil), serat kelapa, sirup kelapa, tempurung kelapa, nata de coco, papan dan berbagai produk sampingan lainnya, secara khusus, di Polewali, Mamuju, Luwu Utara dan Selayar. Studi tersebut juga menyarankan agar membangun industri hilir di Pare-Pare dan Makassar untuk mengolah produk-produk yang diperuntukkan bagi konsumen di perkotaan, seperti asam bebas lemak, jok mobil, karbon aktif, santan beku, tepung, kerajinan tangan dan aneka produk kelapa siap pakai.

    Tebu: Pabrik gula (3.000 ton/hari) terletak di Takalar. Pabrik Gula Takalar hanya beroperasi selama 70 hari atau bahkan 50 hari dalam setahun karena kurangnya pasokan tebu. Dari 6.000 ha lahan perkebunan tebu yang dimiliki, hanya 4.000 ha saja yang ditanami. Tanaman tebu yang mendapatkan air irigasi hanya sekitar 400 ha. Berbagai masalah berakar dari manajemen pabrik gula tersebut. Sebagian petani kontrak ingin beralih menanam jagung karena keuntungan yang diperoleh dari penanaman tebu yang tidak beririgasi tersebut sedikit.

    Markisa merupakan komoditas tradisional di Sulawesi Selatan. Terdapat sejumlah perusahaan skala kecil yang memproduksi jus markisa. Markisa yang diproduksi di Gowa kualitasnya lebih rendah dari markisa Tana Toraja dalam hal keseimbangan antara rasa manis dan asam. Permintaan dalam negeri (ke pulau Jawa) dan ekspor ke negara-negara Eropa, Timur Tengah, dan Australia cukup tinggi (untuk markisa setengah jadi yang isinya dikeruk bersama bijinya).

    Jambu Mete merupakan salah satu produk bernilai tinggi jika diolah secara tepat. Pemanfaatan produk berbahan jambu mete bermacam-macam, antara lain kacang mete, minyak industri yang digiling dari kulit jambu mete, buah jambu mete (cashew

    10 Rancangan Laporan Akhir Cetak Biru Rencana Pengembangan Agroindustri Komoditas Unggulan di Sulawesi Selatan,

    Juli 2004. Pusat Penelitian Universitas Hasanuddin. Menurut Dinas Perindustrian dan Perdaganan Propinsi, perusahaan-perusahaan minyak kelapa terdapat di Bulukumba, Luwu, Polmas, Soppeng, Majene, dan Selayar.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-13

    apple) sebagai makanan ternak dan pupuk organik. Sampai saat ini, sudah ada enam perusahaan pengolahan kacang mete yang beroperasi di Makassar. Meskipun demikian, hanya dua diantaranya yang betul-betul aktif beroperasi. Salah satu alasan mengapa kedua perusahaan tersebut mampu bertahan adalah karena perusahaan-perusahaan tersebut bekerjasama dengan produsen jambu mete sehingga keduanya dapat membeli kacang mete yang belum dikupas dari para produsen tersebut, sehingga biaya pengolahan dapat dikurangi. Kualitas produk kacang mete dalam bentuk produk siap konsumsi umumnya rendah, sementara itu kulit jambu mete dibuang atau digunakan sebagai pupuk organik. Selain itu, beberapa pedagang mengumpulkan jambu mete tanpa kulit dan mengekspornya ke India untuk digiling menjadi minyak industri dan kacang mete yang diolah dengan baik sehingga semakin meningkatkan andil pasar global India.

    3) Produk Peternakan

    Lahan penggembalaan ternak intensif terdapat di Bone, Gowa dan Polmas. Hewan ternak dibawa ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan melalui Pelabuhan Pare-Pare. Kambing dapat menghasilkan berbagai macam produk (kulit dan susu). Ayam dan itik hewan ternak kecil yang dapat menghasilkan daging segar/beku, daging cincang, makanan instan, rempah-rempah, makanan pembuka, dan bulunya dapat dibuat pakaian. Secara khusus, konsumsi daging ternak dan ayam di daerah perkotaan tergolong tinggi, sekitar 8 ton daging per hari dibutuhkan oleh warga Makassar. Namun, pasokan daging baru mencapai 3-4 ton per hari. 11 Ini menunjukkan rendahnya kapasitas produksi di dan sekitar daerah perkotaan, unit produksi berskala kecil, atau sistem pemasaran yang tidak tepat.

    4) Produk Perikanan

    Terdapat sejumlah perusahaan penyedia layanan cold storage (penyimpanan beku) di Mamminasata. Sebagian besar adalah eksportir udang dan ikan beku ke negara-negara Eropa, AS, Jepang, China (Hong Kong), Taiwan, Korea, Singapur, Malaysia, Thailand dan Australia. Tuna segar juga diekspor ke Hong Kong dan Jepang. Dilaporkan bahwa sekitar 50% dari total produksi perikanan di Sulawesi Selatan dipasarkan di Makassar, dimana 60% merupakan konsumsi lokal dan 40% diekspor.

    Ikan laut/darat juga bisa diolah menjadi berbagai jenis produk seperti bakso ikan, tepung ikan, ikan asin dan sebagainya. Sebagian kecil produk ikan dan udang laut/darat dialihkan untuk pemeliharaan bibit ikan dan udang dalam bentuk budidaya tambak. Sebenarnya, usaha pembiakan udang dan ikan bandeng terdapat di daerah

    11 Pembangunan Daerah Makassar 2002-2003.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-14

    pesisir pantai Takalar. Meski demikian, aktivitasnya tidak terlalu luas karena lemahnya manajemen dan kurangnya jaringan bisnis. Oleh karena itu, fleksibilitas produksi dan keragaman industri pengolahan di Mamminasata masih tetap rendah. Tidak ada pabrik pengalengan yang memproduksi barang-barang siap konsumsi.

    Ada dua perusahaan pengolahan rumput laut di Mamminasata; satu di Maros dan satunya lagi di Takalar. Karena sebagian besar permintaan ekspor adalah bahan baku untuk agar-agar (gelatin) dan bahan campuran kosmetik, maka metode pengolahannya sangat sederhana (hanya berupa serpihan atau tepung). Dengan demikian, peluang untuk memproduksi barang-barang jadi yang bernilai tambah lebih untuk ekspor sangat terbuka. Usaha rumput laut memberikan hasil yang lebih tinggi (Rp. 300-500.000/kapita/bulan tergantung musim) bagi petani atau nelayan, dan untuk masuk ke bisnis ini cukup mudah. Beberapa produsen mangga di sekitar pesisir pantai Takalar beralih ke bisnis ini, sambil tetap memelihara pohon mangga, meski tidak secara sungguh-sungguh.

    Tahun 2001, Penaksiran Stok Ikan Laut Nasional12 dilakukan di Selat Makassar dan Laut Flores. Survei tersebut mengungkapkan bahwa 72% dari potensi sumberdaya ikan telah terekspolitasi pada tahun 2001, meningkat dari 67% pada tahun 1997. Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa beberapa jenis ikan telah tereksploitasi melebihi perkiraan daya produksinya.

    Juga terdapat isu-isu mengenai prasarana perikanan seperti berikut :

    (a) Terdapat dua tempat pelelangan ikan besar yang tidak memiliki cold storage di Galesong, Takalar (utara dan selatan). Terdapat juga pelabuhan ikan yang relatif baru di bangun oleh pemerintah di dekat pelelangan ikan di utara, namun tidak dimanfaatkan secara intensif oleh para nelayan. Pemerintah propinsi berencana untuk memperbaharui dan menggabungkan kedua pelelangan ikan tersebut dengan membangun cold storage berskala besar.

    (b) Di Makassar, terdapat dua tempat pelelangan ikan (TPI), yakni Paotere dan Rajawali. Karena kapasitas kedua TPI tersebut terbatas, maka pemerintah propinsi berencana untuk membangun TPI baru di Barambong dan telah menyiapkan anggaran untuk studi kelayakan. Meski demikian, rencana tersebut perlu dikaji ulang karena bertentangan dengan rencana peruntukan lahan komersial dan permukiman yang telah dipersiapkan di Barambong.

    5) Kehutanan

    Hasil hutan sangat beragam, misalnya damar dari pohon cemara untuk keperluan

    12 Penaksiran stok ikan di perairan Indonesia, Badan Penelitian Perikanan dan Kelautan di Pusat Penelitian dan

    Pengembangan Oseanologi LIPI, Kementerian Perikanan dan Kelautan Indonesia, 2001.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-15

    industri kimia, perabot bambu/rotan, kerajinan tangan dari kayu, produk dari madu seperti suplemen nutrisi (propolis, royal jely). Meski demikian, kualitas produk dari kayu relatif rendah jika dibandingkan produk dari pulau Kalimantan karena perbedaan jenis tanah dan rendahnya kualitas bibit. Pusat penelitian diharapkan dapat menetapkan sertifikasi yang ilmiah terhadap bibit-bibit yang potensial. Perkembangan industri perabot dari kayu/rotan di Sulawesi Selatan agak lambat karena rendahnya mutu desain dan kualitas, hal ini terutama diakibatkan oleh kurangnya keterampilan dan buruknya peralatan.

    2.3 Isu-Isu yang akan Dikemukakan

    Isu-isu yang perlu mendapatkan perhatian khusus pada sektor pertanian dan perikanan adalah sebagai berikut:

    (1) Tren Permintaan dan Penawaran terhadap Produk Pertanian

    (a) Kebutuhan atas sereal, khususnya padi, menunjukkan tren yang menurun selama dekade yang lalu dan akan terus turun pada dekade selanjutnya.

    (b) Sumber konsumsi protein kelihatannya akan beralih dari sereal ke daging (sapi, dan unggas), ikan, dan susu.

    (c) Kebutuhan atas sayuran, makanan dan minuman olahan meningkat, dan akan terus berlanjut pada dekade selanjutnya.

    (d) Konsumsi makanan di Mamminasata sepertinya mengikuti pola khas daerah perkotaan, pola konsumsi makanan yang beragam menunjukkan perlunya produksi (pasokan) produk pertanian yang juga beragam untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

    (2) Pihak produsen

    (a) Kurangnya fasilitas pasca-panen, terutama tempat pengeringan dan penyimpanan padi, memperburuk mutu hasil panen dan menyebabkan kerugian pada saat panen di sawah.

    (b) Tidak ada sistem pemasaran yang teratur untuk hasil-hasil panen . Sebagian besar produsen menjual hasil panennya kepada para pedagang pengumpul (off-gate) dengan harga yang lebih rendah. (Insentif harga bagi produsen rendah).

    (c) Informasi pasar ke produsen kurang dan harga ditentukan oleh perantara.

    (d) Para petani tidak peduli dengan kualitas buah-buahan, sayuran, dan tanaman perkebunan dan sepertinya puas dengan pendapatan yang biasa-biasa saja.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-16

    (e) Mutu varitas bibit rendah, memandekkan perkembangan unit produksi dan kualitas produk.

    (f) Tidak ada sistem pengembangbiakan ternak yang teratur, dan skala produksi terlalu kecil.

    (f) Perikanan laut bisa diintensifkan hanya jika penangkapan ikan yang berlebihan diatur secara tepat untuk menjaga daya produksi.

    (g) Perikanan darat juga bisa diintensifkan hanya jika budidaya tambak di kelola dengan baik untuk mencegah serangan penyakit yang merusak, dan menjaga pasokan bibit ikan yang cukup dan tepat waktu.

    (3) Pihak manufaktur pertanian

    (a) Pasokan bahan baku tidak cukup. Kualitas bahan baku yang homogen sangat penting, dengan tingkat kontrol mutu yang tinggi dan pengelolaan biaya tenaga kerja yang baik.

    (b) Teknologi pengolahan mandek atau berjalan di tempat, dan sebagian besar produk diolah di tingkat primer. Para pengolah daging skalanya kecil dengan pengelolaan yang kurang higenis. Kurangnya teknologi tepat guna merupakan hambatan utama dalam mengembangkan pertanian dan aquakultur berorientasi ekspor.

    (c) Kurangnya cold chain (sistem pemasaran dengan fasilitas cold storage) merupakan salah satu rintangan dalam pengolahan dan pemasaran ikan dan daging.

    (d) Tingkat pemanfaatan produk sampingan rendah. Sebagian besar produk primer dapat menurunkan lebih dari satu jenis produk sampingan, yang akan memberikan nilai tambah komersil jika diolah secara tepat.

    (e) Berdasarkan hasil observasi di toko-toko ritel di Makassar, kualitas dan desain kemasan produk kurang bagus dibandingkan produk yang sama di pulau Jawa. Hal ini terjadi pada sebagian besar barang-barang konsumen seperti coklat, kacang mete, kacang tanah, jus markisa, dan produk-produk ikan beku.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-17

    3. RENCANA PENGEMBANGAN PERTANIAN UNTUK MAMMINASATA

    3.1 Konsep Dasar Pengembangan Pertanian dan Perikanan

    Konsep dasar pengembangan pertanian dan perikanan di Mamminasata akan difokuskan pada aspek pembangunan sosial-ekonomi, dan juga akan dikoordinasikan dengan sektor lainnya yang mencakup sebagai berikut:

    (a) Meningkatkan pendapatan petani dengan meningkatkan produktivitas pertanian melalui (i) peningkatan hasil panen, (ii) penerapan tata guna lahan intensif, (iii) pengenalan usaha tani campuran dan terpadu dengan budidaya tambak dan ternak, dan (iv) pengembangan dan pengenalan varitas unggul untuk tanaman-tanaman utama.

    (b) Memanfaatkan sumberdaya lahan dan air yang ada, mengubah lahan tidur menjadi produktif.

    (c) Menyediakan bahan makanan secara layak untuk memenuhi kebutuhan perkotaan yang semakin meningkat, dan meningkatkan produksi komoditas ekspor.

    (d) Menyediakan jumlah dan mutu bahan baku yang cukup untuk industri pengolahan berbasis pertanian/perikanan dengan jalan memperkuat hubungan dengan industri-industri tersebut.

    (e) Memperkuat sistem pemasaran, termasuk penyebarluasan informasi pasar kepada para produsen dan memberdayakan asosiasi/organisasinya.

    (f) Mewujudkan perikanan laut/darat yang berkelanjutan melalui peningkatan pengelolaan dan regulasi yang tepat.

    (g) Mewujudkan pertumbuhan yang stabil terhadap nilai tambah, yang akan memberikan andil pada pembangunan wilayah yang seimbang di Mamminasata.

    3.2 Tata Guna Lahan Pertanian Strategis

    1) Asumsi terhadap Pengurangan Lahan Pertanian

    Telah direncanakan bahwa kawasan industri dan permukiman akan dikembangkan untuk urbanisasi dan pengembangan industri di Mamminasata. Sebagian dari lahan pertanian yang ada akan dikonsversi untuk pemanfaatan alternatif. Lahan yang dikonversi untuk tujuan tersebut diperkirakan seperti pada Tabel 3-1 dan Gambar 3-1.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-18

    Tabel 3-1 Pengurangan Lahan Pertanian hingga Tahun 2020

    (Unit: ha)

    Luas Daerah Irigasi (Bili-Bili) Tanaman Campuran

    Padi Sawah Total

    Makassar 100 0 0 100 Maros 0 30 760 790 Gowa 850 390 0 1.240 Takalar 10 30 80 120

    Total 960 450 840 2.250 Sumber: Estimasi Tim Studi JICA

    Gambar 3-1 Pengurangan Lahan Pertanian hingga Tahun 2020

    Pada sistem irigasi teknis Bili-Bili, luas lahan yang harus dikurangi adalah 960 ha. Daerah irigasi semi-teknis, non-teknis dan tadah hujan juga akan dikurangi hingga 1.290 ha. Secara keseluruhan, sekitar 2.250 ha lahan pertanian akan dikonversi menjadi daerah urbanisasi dan industri.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-19

    2) Strategi Peruntukan Lahan13

    Dengan kondisi seperti tersebut di atas, kebijakan pemanfaatan lahan strategis berikut ini harus diterapkan pada (a) proyek irigasi Bili-Bili, (b) lahan pertanian lainnya, (c) proyek irigasi bendung Pamukkulu, d) lahan kering dan, (e) pertanian dataran tinggi. Setiap klasifikasi peruntukan lahan dibahas sebagai berikut.

    (a) Proyek Irigasi Bili-Bili

    Proyek Irigasi Bili-Bili hampir rampung, kecuali beberapa bangunan tersier dan kuarter (sejak September 2005). Manfaat proyek tersebut akan berkurang karena pengurangan daerah irigasi seluas 960 ha. Pengurangan nilai produksi diperkirakan dalam Tabel 3-2.

    Tabel 3-2 Perkiraan Pengurangan Nilai Produksi pada Proyek Irigasi Bili-Bili14

    Estimated Present Condition (2005) Initial Plan toward Full Development in 2008 Future Condition in 2020

    Irrigation Area Type of Crop Area Planted (ha)

    *AnnualProductionValue (Mil.

    Rp.)

    Irrigation Area Type of Crop Area Planted (ha)

    AnnualProductionValue (Mil.

    Rp.)

    Irrigation Area Type of Crop Area Planted(ha)

    AnnualProductionValue (Mil.

    Rp.)

    Reduction inAnnual

    ProductionValue (Mil.

    Rp.)Dry Paddy 2,369 3,993 Dry Paddy 2,369 4,698 Dry Paddy 1,519 3,012 -1,686Wet Paddy 2,369 2,886 Wet Paddy 2,369 3,395 Wet Paddy 1,519 2,177 -1,218Palawija 2,369 1,675 Palawija 2,369 1,675 Palawija 1,519 1,074 -601

    Subtotal 7,107 8,554 Subtotal 7,107 9,768 Subtotal 4,557 6,263 -3,505

    Dry Paddy 10,547 17,777 Dry Paddy 10,547 20,915 Dry Paddy 10,447 20,716 -198Wet Paddy 10,547 12,847 Wet Paddy 10,547 15,114 Wet Paddy 10,447 14,971 -143Palawija 10,547 7,459 Palawija 10,547 7,459 Palawija 10,447 7,389 -71

    Subtotal 31,641 38,084 Subtotal 31,641 43,488 Subtotal 31,341 43,076 -412

    Dry Paddy 10,686 18,012 Dry Paddy 10,686 21,190 Dry Paddy 10,676 21,171 -20Wet Paddy 10,686 13,016 Wet Paddy 10,686 15,313 Wet Paddy 10,676 15,299 -14Palawija 10,686 7,558 Palawija 10,686 7,558 Palawija 10,676 7,551 -7

    Subtotal 32,058 38,585 Subtotal 32,058 44,061 Subtotal 32,028 44,020 -41

    Total 85,223 Total 97,317 Total 93,358 -3,958Annual Production Value/ha 3.61 Annual Production Value/ha 4.12 Annual Production Value/ha 4.12

    *85% less than Full Development Level % Change in Production Value 14.19% % Change in Production Value -4.07%

    Bili Bili Area(1,519ha)

    Kampili Area(10,447ha)

    Bissua Area(10,676ha)

    Bissua Area(10,686ha)

    Kampili Area(10,547ha)

    Bili Bili Area(2,369ha)

    Bili Bili Area(2,369ha)

    Kampili Area(10,547ha)

    Bissua Area(10,686ha)

    Manfaat proyek pada tingkat pembangunan maksimum diharapkan bisa diperoleh pada tahun 2008, dan tingkat tersebut digunakan sebagai dasar perbandingan kondisi pada tahun 2020. Pengurangan nilai produksi diperkirakan sebesar Rp. 4.000 juta atau 4,1% dibandingkan dengan nilai produksi yang bisa dicapai tanpa perubahan peruntukan lahan.

    Untuk menutupi berkurangnya manfaat yang bisa diperoleh sebagai akibat pengurangan wilayah, maka diusulkan untuk menanam dua jenis semaian tanaman pohon (mis. kelapa, mangga, jeruk, limau, jambu mete, lada). Selanjutnya, pola tanam akan diubah dari pola orientasi padi menjadi pola aneka tanaman bernilai tinggi seperti buah-buahan, sayuran untuk memenuhi kebutuhan aneka makanan yang semakin meningkat.

    Gambar 3-2 menunjukkan perbandingan keuntungan bersih per hektar untuk tanaman-tanaman tersebut diatas dengan kondisi lahan beririgasi. Gambar 3-2

    13 Kalkulasi detil menyangkut bagian ini dapat dilihat pada Apendiks-III. 14 Keuntungan bersih per hektar berdasarkan anggaran tanaman terbaru sejak studi kelayakan. Karena sumber data berbeda,

    maka nilai produksi pada tabel juga berbeda dari nilai PDRB yang ditunjukkan pada statistic BPS.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-20

    menunjukkan bahwa sayuran dan buah-buahan lebih menguntungkan daripada padi. Keuntungan tebu kelihatannya tinggi tetapi memerlukan waktu yang lama untuk dipanen.

    0

    3,000

    6,000

    9,000

    12,000

    15,000

    18,000

    1,00

    0 R

    p

    Paddy (Dry) Paddy(Wet)

    Maize Soybean Groundnuts Mungbean Cabbage Carrot Chili Watermelon Sugarcane

    Crop

    Annual Crop: Net Return per Hectare Under Irrigated Condition

    Source: Dinas Pertanian, Perkebunan, and DISIMP Office Gambar 3-2 Keuntungan Bersih Panen per Hektar untuk Tanaman-Tanaman Pilihan dengan

    Kondisi Lahan Beririgasi

    Meski diketahui bahwa padi masih merupakan tanaman penting bagi para petani, namun sedikit perubahan pada pola tanam perlu dipromosikan secara bertahap untuk mencapai keuntungan maksimum dari lahan mereka. Tabel 3-3 menunjukkan hasil simulasi intensitas tanam dengan kondisi lahan beririgasi di Bili-Bili.

    Tabel 3-3 Intensitas Tanam Alternatif Proyek Irigasi Bili-Bili (2020)

    Daerah Irigasi Bili-Bili

    Jenis Tanaman Aneka Tanaman Pertanian Urban

    Beririgasi

    Aneka Pertanian Beririgasi Lainnya

    Padi Sawah 94% 94%Padi Lahan Kering 94% 94%Palawija 40% 45%Sayuran 10% 0%Tanaman Buah Musiman 0% 5%Tanaman Pohon Sepanjang Tahun 1% 1%Total 239% 239%Keuntungan Bersih per hektar Rp. 5,1 Juta/ha Rp. 4,8 Juta/ha

    Tabel 3-3 menunjukkan intensitas tanam di masa yang akan datang untuk menjaga kestabilan unit produksi pada tingkat yang diharapkan sesuai dengan studi kelayakan terhadap Proyek Irigasi Bili-Bili. Perubahan pada pola tanam tersebut akan menjaga tingkat keuntungan yang sama seperti perkiraan sebelumnya pada Proyek Irigasi Bili-Bili.

    Selanjutnya diketahui bahwa dengan kombinasi pola tanam, budidaya tambak ikan di dalam area sawah akan menyumbang banyak bagi peningkatan pendapatan atau keuntungan petani pada lahan beririgasi.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-21

    Berkaitan dengan kebutuhan air irigasi yang berkurang karena intensitas penanaman padi, maka air irigasi yang berkurang tersebut akan dialihkan untuk meningkatkan produksi tebu di Takalar. Saat ini, Pabik Gula Takalar mengalami kekurangan air irigasi meskipun ia memainkan peranan penting dalam menyediakan kesempatan kerja bagi lebih dari 5.000 orang. Jika air irigasi bisa terjamin dan manajemennya dibenahi, maka Pabrik Gula Takalar akan bisa bangkit kembali.

    (b) Lahan Pertanian Lainnya

    Untuk lahan pertanian lainnya yang dialiri irigasi semi-teknis, non-teknis dan sawah tadah hujan, intensitas tanam dan penetapan wilayah berikut ini akan diterapkan menjelang tahun 2020.

    Tabel 3-4 Intensitas Tanam pada Lahan Pertanian Lainnya (2020)

    Lahan Pertanian Lainnya Jenis Tanaman Diversifikasi

    Pertanian Perkotaan Diversifikasi

    Pertanian Lainnya Pertanian Lahan

    Kering Padi Sawah 89% 70% 0%Padi Kering 0% 0% 0%Palawija 40% 55% 37%Sayuran 10% 0% 3%Tanaman Buah Musiman 0% 5% 10%Tanaman Pohon Sepanjang Tahun 1% 0% 20%Total 140% 130% 70%Keuntungan Bersih per hektar Rp. 3,2 Juta/ha Rp. 2,9 Juta/ha Rp. 1,5 Juta/ha

    Intensitas tanam saat ini diperkirakan rata-rata sekitar 130%,15 dan intensitas tanam ke depan akan ditingkatkan sebesar 10% pada aneka lahan pertanian perkotaan tidak beririgasi. Ini akan tercapai dengan menggunakan air pompa dari sumber air terdekat seperti sungai, danau dan kolam, atau pembangunan fasilitas air bawah tanah untuk menutupi kebutuhan air.

    (c) Proyek Bendungan/Irigasi Pamukkulu

    Rencana irigasi teknis di bagian selatan Takalar yakni Proyek Irigasi Pamukkulu telah direncanakan dan diusulkan sebelumnya, dalam rangka meningkatkan intensitas tanam dari 123% menjadi 220% (padi: 200%, palawija: 20%) dengan memperluas daerah beririgasi dari 3.000 ha menjadi 6.430 ha. Jika rencana ini terlaksana, maka akan meningkatkan produksi pertanian di daerah tersebut.

    15 Berdasarkan Laporan Desain Akhir, Supervisi Desain Detil dan Konstruksi Proyek Irigasi Bili-bili, Desember 1999, dan

    Desain Detil Irigasi dan Studi Kelayakan Proyek Bendung Irigasi Pamukkulu.

    Gambar 3-3 Rencana Proyek Irigasi Pamukkulu yang Ada

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-22

    Namun demikian, biaya proyek diperkirakan lebih dari US$11.000 per hektar termasuk konstruksi bendungan dan prasarana irigasi Pamukkulu. Biaya tersebut terlalu mahal. Pemanfaatan alternatif untuk lahan ini harus diperuntukan untuk kebun buah-buahan, peternakan dan fungsi lainnya.

    (d) Lahan Kering

    Terdapat lahan kering yang cukup luas di Mamminasata (sekitar 35.000 ha). Dari luas lahan tersebut, sekitar 3.000 ha akan dikembangkan untuk pemanfaatan produktif. Lahan tersebut akan dimanfaatkan untuk budidaya campuran dengan peternakan (sebagai sebuah lahan peternakan terpadu), dengan mengembangkan irigasi tetes atau irigasi air bawah tanah. Ternak akan menjadi lebih penting sejalan dengan semakin meningkatnya kebutuhan produk unggas/harian per kapita. Tabel 3-5 menunjukkan gambaran pertumbuhan populasi ternak hingga tahun 2020.

    Tabel 3-5 Pertumbuhan Populasi Ternak

    (Unit: ekor) Jenis Ternak 2005 2010 2015 2020 Sapi 136.885 156.414 194.279 214.500 Kerbau 40.963 46.807 58.138 64.189 Kuda 14.754 16.859 20.941 23.120 Kambing 62.972 71.956 89.376 98.678 Babi 8.930 10.204 12.674 13.993 Itik 702.451 802.667 996.981 1.100.746 Ayam Potong 1.344.174 1.535.942 1.907.771 2.106.332 Ayam Kampung 2.389.151 2.730.003 3.390.896 3.743.821 Sumber: Makassar, Maros, Gowa, dan Takalar dalam Angka, 2002, 2003. BPS

    Lahan peternakan dikombinasikan dengan budidaya tanaman dataran tinggi (budidaya campuran) akan menjadi alternatif pemanfaatan lahan pada daerah seperti direncanakan di dalam Proyek Irigasi Pamukkulu. Berkaitan dengan hal tersebut, produksi tanaman untuk makanan ternak perlu dipercepat untuk memenuhi kebutuhan makanan ternak.

    (e) Pertanian Dataran Tinggi

    Pertanian dataran tinggi terbentang di daerah pegunungan Gowa, Maros dan sebagian Takalar. Di daerah ini akan dipromosikan produksi sayuran, tanaman bernilai tambah tinggi (teh, kopi, kapok, vanili, coklat), dan budidaya lebah-madu. Untuk peningkatan produksi, pengembangan dan penyuluhan varitas unggul perlu dipromosikan melalui prakarsa pemerintah, sedangkan petani diharapkan untuk lebih memperhatikan pengawasan mutu di tingkat usaha tani. Irigasi pompa dan sprinkler skala kecil akan meningkatkan unit produksi secara signifikan.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-23

    3) Peruntukan Lahan Pertanian

    Secara singkat, peruntukan lahan pertanian di Mamminasata berikut diusulkan untuk diterapkan.

    Jenis Irigasi Zonasi Intensitas Tanam Luas (ha) Nilai Produksi

    Bersih (Juta Rp.)**Aneka Lahan Pertanian Perkotaan Beririgasi 239% 10.000 50.735

    Aneka Lahan Pertanian Beririgasi Lainnya 239% 9.142 44.117

    Lahan Perkebunan Tebu Beririgasi 100% 3.500 62.767

    Irigasi Teknis *

    Sub-Total 22.642 157.619Lahan Pertanian Perkotaan Beririgasi 140% 5.614 18.185Aneka Lahan Pertanian Lainnya 130% 57.476 164.537Pertanian Lahan Kering 70% 3.000 4.593Pertanian Dataran Tinggi 130-160% 12.400 --Lahan Peternakan Terpadu -- 9.000 --

    Irigasi Semi/Non-Teknis dan Tadah Hujan

    Sub-Total 87.490 187.315 Total 110.132 344.934

    Cat.: *Luas lahan untuk irigasi teknis adalah luas bersih, sedangkan sisanya adalah luas kotor. **Nilai produksi bersih dari pertanian dataran tinggi dan lahan peternakan terpadu tidak dihitung.

    Gambar 3-4 Pemeruntukan Lahan Pertanian tahun 2020

    Nilai produksi bersih dari usulan zonasi tersebut diharapkan sekitar Rp. 345 milyar, 1,5 kali lebih besar dari produksi bersih Rp. 225 milyar pada tahun 2005.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-24

    3.3 Pengembangan Perikanan dan Peternakan

    Produksi perikanan akan ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan warga kota yang semakin tinggi dengan target seperti pada Tabel 3-6.

    Tabel 3-6 Target Produksi Perikanan di Mamminasata

    (Unit: ton) Jenis Perikanan 2005 2020

    Perikanan Laut 76.203 119.410 Tambak Air Payau 18.134 28.416 Tambak Air Tawar 102 159 Tambak Sawah 142 222 Danau 0 0 Sungai 106 166

    Perikanan Darat

    Rawa 81 126 Total 94.767 148.501

    Sumber: Dikalkulasi dari data Sulawesi Selatan dalam Angka 2003, BPS, dan Laporan Statistik Perikanan Sul-Sel, 2003

    Produksi perikanan laut akan menjadi yang terbesar, diikuti oleh tambak air payau. Tapi ternyata, ikan laut lebih populer dari pada ikan darat di Mamminasata. Oleh karena itu, pengembangan perikanan akan memberikan perhatian utama pada perikanan laut.

    Di lain pihak, produktivitas perikanan darat di Maros dan Gowa cukup tinggi seperti terlihat pada Tabel 3-7.

    Tabel 3-7 Unit Produksi Perikanan Darat (2003)

    Wilayah Luas Produksi (ha) Produksi (ton) Nilai (Rp. 1. 000)Produktivitas (Rp. 1.000/ha)

    Makassar 1.360 373 9.929.150 7.301 Maros 8.068 9.219 157.328.030 19.500 Gowa 321 443 4.621.790 14.398 Takalar 4.100 7.540 25.903.800 6.318

    Total 13.849 17.575 197.782.770 Sumber: Sulawesi Selatan dalam Angka 2003

    Produktivitas per hektar di Maros tercatat sebesar Rp. 19 juta. Tingginya produktivitas ini menunjukkan adanya budidaya udang yang intensif di tambak/lahan basah di sepanjang pesisir pantai dan Bantimurung. Sebuah target alternatif untuk perikanan darat akan ditetapkan untuk mencapai tingkat produktivitas yang sama di daerah-daerah lain.

    (a) Pengelolaan Sumberdaya Perikanan

    Karena lebih dari 70% sumberdaya perikanan di daerah pesisir telah tereksploitasi sejak 2001, maka sejumlah besar potensi perikanan dianggap telah tereksploitasi per tahun 2005. Oleh karena itu, pengelolaan sumberdaya perikanan pantai perlu

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-25

    dilakukan untuk mencegah eksploitasi berlebihan dalam rangka menjaga daya produksi perikanan laut secara berkelanjutan (Sustainable Marine Yields atau SMY). Saat ini, perlu dilakukan analisis stok sumberdaya laut yang bisa dipercaya sehingga informasi mengenai SMY di daerah pesisir pantai dapat diperbarui untuk menetapkan pedoman bagi perikanan laut. Selain itu, penegakan hukum yang tepat perlu dilakukan, termasuk perizinan, denda, peraturan mengenai jenis alat tangkap, ukuran jaring, dan musim tertutup.

    (b) Pengembangan Perikanan Lepas Pantai dan Laut Dalam

    Perikanan laut saat ini terbatas hanya pada daerah pesisir pantai saja karena kapal yang dipakai kecil dan sudah tua, akan lebih baik jika mendorong pengembangan perikanan lepas pantai yang terkendali dengan menggunakan kapal moderen. Oleh karena itu, diperlukan beberapa program kredit dan pelatihan untuk perikanan lepas pantai.

    (c) Pengembangan Balai Penetasan di Daerah Pesisir Pantai

    Salah satu isu utama dalam pengembangan perikanan adalah lemahnya pemasaran dan pengawasan produksi. Pendirian beberapa perusahaan penetasan ikan di sepanjang pesisir pantai perlu diprogramkan untuk memproduksi dan menyediakan bibit ikan pada saat yang tepat dan dengan jumlah yang cukup. Oleh karena itu, usaha penetasan ikan perlu diperkuat dan diperluas untuk memenuhi berbagai kebutuhan bibit ikan. Kemungkinan lokasi pengembangan usaha penetasan ikan yang baru dapat dilihat pada Gambar 3-5.

    (d) Peningkatan Kapasitas Perikanan Darat

    Sejalan dengan pengembangan usaha penetasan ikan, akan dilakukan peningkatan kapasitas nelayan perikanan darat untuk budidaya udang dan ikan. Program peningkatan kapasitas memberikan perhatian khusus pada manajemen budidaya tambak yang baik, seperti pemeliharaan kualitas air, pemberian makanan dan pemanenan yang tepat. Pelatihan bagi nelayan akan menghindarkan lingkaran setan bahwa kepadatan ikan dan pemberian makanan yang berlebihan akan menyebabkan resiko tinggi terhadap serangan penyakit.

    Gambar. 3-5 Kawasan Pengembangan Usaha Pembenihan Masa depan

    Hatchery Development Area

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-26

    3.4 Industrialisasi Berbasis Pertanian/Perikanan

    Rencana pengembangan sejauh ini telah dibahas dari sudut pandang produksi. Di pihak lain, sektor pertanian diharapkan dapat menyumbang lebih banyak ke sektor manufaktur melalui pengembangan agro-industri. Kunci utama untuk promosi pengembangan agro-industri adalah:

    a) Perkuatan hubungan antara produksi dan klaster industri pengolahan.

    b) Penetapan sistem pasokan bahan baku yang stabil untuk industrialisasi.

    (a) Formulasi Klaster Industri

    Pengembangan industri berbasis pertanian/perikanan merupakan kunci bagi penyediaan lapangan kerja dan peningkatan perekonomian di Mamminasata. Melalui pemanfaatan sumberdaya yang ada di Mamminasata, atau di Sulawesi Selatan secara umum, diharapkan dapat menyusun dan memperkuat klaster-klaster industri. Sebuah konsep pengembangan klaster industri pertanian dapat dilihat pada Gambar 3-6.

    Milk

    Honey

    Cacao

    Vanilla

    Soybean

    Coconut

    Cashew

    Shrimp

    Maize

    Groundnut

    Sugar

    Vegetables

    Fruits

    Coffee

    Seaweed

    Fish

    Cattle

    Goat

    Chicken

    MilkHoney

    Cacao

    Vanilla Soybean

    Cashew

    Maize

    Groundnuts

    SugarFruits

    Seaweed

    Chicken

    Ice Cream Chocolate Bar/Candy Chicken Production Various Juice/BeverageSoy Milk, Tofu, Tempe

    Milk Cacao

    VanillaSugarVegetables

    By-Products

    By-Products

    Cluster Cluster

    Cluster Sugar

    ClusterCluster

    Unorganized / UnclusteredGroup of Products

    Clustering

    Processed into More Value-Added Products

    Gambar 3-6 Konsep Klaster Industri Pertanian

    Melalui pengembangan klaster, akan dikombinasikan lebih dari satu produk atau sekelompok individu untuk memproduksi barang-barang bernilai tambah lebih. Contohnya, produksi susu, gula, vanili, coklat (untuk perencah coklat) dan banyak lagi jenis buah-buahan dan kacang-kacangan yang akan dikombinasikan untuk membangun klaster es krim untuk meransang permintaan positif terhadap bahan-bahan baku komiditas tersebut. Jenis klaster lain adalah sebuah pertalian dengan mekanisasi seperti mesin penabur benih, pemanen dan peralatan lain yang akan menggantikan pekerjaan tenaga kerja terampil. Pengembangan klaster dengan

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-27

    industri kemasan/pengepakan juga direkomendasikan. Boks dari kayu dan/atau plastik untuk pemasaran sayuran dan buah-buahan dapat dengan mudah dikembangkan di Mamminasata.

    Klaster-klaster seperti itu tidak tidak mesti terbatas hanya di wilayah Mamminasata dan Sulawesi Selatan saja. Melainkan, klaster-klaster ini dapat dikembangkan secara lebih luas hingga mencakup seluruh Sulawesi sehingga membentuk klaster Pulau Sulawesi. Upaya-upaya pengembangan jaringan dalam klaster-klaster ini perlu dijabarkan lebih jauh, namun difasilitasi melalui pengembangan jaringan transportasi darat, laut, dan udara. Jika usulan pemindahan fungsi-fungsi pusat pengolahan dari Surabaya ke Mamminasata bisa terwujud, secara bertahap tapi pasti, maka perpindahan tersebut pada gilirannya akan beralih ke Sulawesi Selatan dan Pulau Sulawesi dalam jangka menengah dan jangka panjang.

    Gambar 3-7 Gambaran Klaster Berbasis Kakao di Sulawesi Selatan

    Pengembangan klaster pertama-tama akan dipromosikan untuk pasar domestik dalam rangka mendorong para pengusaha atau klaster industri baru untuk meningkatkan daya saing. Ini secara bertahap akan masuk ke pasar internasional yang berbasis klaster dengan mengoptimalkan pengetahuan dalam bidang pemasaran seperti kualitas yang dibutuhkan, keragaman produk, kemasan yang menarik, manajemen dan lain sebagainya. Sebuah konsep promosi pemasaran produk berbasis pertanian dapat dilihat pada Gambar 3-8.

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-28

    Futu

    re

    Other Parts of Indonesia Foreign CountriesMAMMINASATA

    Pres

    ent Harvested Commodities

    Harvested Commodities

    Domestic Markets International Markets

    Processed into Ready-to-Consume Products

    Domestic Markets International Markets

    Value-Added

    Packaging

    Value-Added

    Marketed as Raw Materials

    Increase Competitiveness

    Advance into Foreign Countries

    Step 1: Effort for Producing the Value-Added

    Step 2: Learning Process in DomesticMarkets

    Step 3: Going into InternationalMarkets by Full Use of LessonsLearned in Domestic Markets

    Gambar 3-8 Konsep Strategi Pemasaran untuk Klaster Berbasis Pertanian

    Sebagai contoh, buah markisa di Mamminasata terkenal karena kelezatannya, dan proses pengolahannya menjadi jus Markisa begitu menjanjikan untuk konsumsi domestik dan ekspor. Proses pengolahannya, uji kualitas, pengisian ke dalam botol, pemberian label, dan pengemasannya harus dimodernisasi sehingga dapat dipasarkan ke wilayah lain di Indonesia dan juga di pasar luar negeri. Karena musim panennya relatif pendek, maka fasilitas pengelolahannya harus juga dapat dimanfaatkan untuk proses pengolahan buah atau produk lainnya. Berkaitan dengan strategi pemasaran, perlu dicatat pula bahwa sebaiknya pasar produk-produk pertanian dibangun di Mamminasata untuk memudahkan pemasaran produk-produk pertanian secara grosir untuk pasar domestik.

    (b) Pasokan Bahan Baku yang Stabil

    Untuk memulai pengoperasian sebuah pabrik pengolahan produk pertanian, maka diperlukan pasokan bahan baku yang konstan dan stabil. Pertanian sangat bergantung pada iklim, oleh karena itu kontrol produksi dan/atau pasokan menjadi perhatian serius. Untungnya, Sulawesi Selatan berada pada posisi yang siap untuk mengambil keuntungan dari kondisi iklim pertanian yang bervariasi di pantai barat dan timur, dan untuk memproduksi tanaman- tanaman yang sama pada musim-musim yang berbeda. Jika ini dapat dikelola dengan baik, maka pasokan bahan baku yang konstan atau berkelanjutan akan terwujud. Gambar 3-9 menunjukkan pola curah hujan tahunan dan masa panen pada sawah beririgasi di pantai barat dan timur Sulawesi Selatan. Mengingat masa panen tersebut, maka

    Gambar. 3-9 Pola Curah Hujan dan Masa Panen Tanaman Musiman (Beririgasi) di

    Sulawesi Selatan

    2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 121

    Note: Harvesting period in the west is based on cropping pattern in Bili BiliIrrigation Project, while in the east on cropping pattern in Salomekko IrrigationSource: Feasibility Study Report on Bili Bili Irrigation Project, and Data fromDISIMP (Decentralized Irrigation System Improvement Project) Office.

    Harvest in WestHarvest in East

    Western Coast of South Sulawesi

    Eastern Coast of South Sulawesi

    Month

    Deg

    ree

    of R

    ainf

    all

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-29

    pasokan bahan baku pertanian yang lebih konstan dan stabil akan terwujud di Mamminasata.

    Keuntungan ini dapat diterapkan tidak hanya untuk tanaman-tanaman musiman (mis. padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, semangka) tetapi juga tanaman-tanaman pohon (mis. coklat, jambu mete, lada, mangga). Untuk pengolahan berbasis perikanan, pengembangan usaha penetasan dan cold storage (penyimpanan beku) juga akan menjamin pasokan bahan baku yang stabil. Pada tahap ini, penguatan pengangkutan laut atau darat antar pulau juga harus dipromosikan untuk mendukung rantai pasokan dan pengembangan klaster.

    3.5 Kontribusi terhadap Pertumbuhan PDRB

    Kerangka ekonomi makro untuk rencana pengembangan ruang Mamminasata telah ditetapkan berkaitan dengan PDRB. Meskipun Bappeda telah memiliki proyeksi tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 5%, namun studi ini merekomendasikan tingkat pertumbuhan rata-rata yang lebih layak sebesar 3%.

    600

    700

    800

    900

    1,000

    1,100

    1,200

    1,300

    1,400

    2005

    2006

    2007

    2008

    2009

    2010

    2011

    2012

    2013

    2014

    2015

    2016

    2017

    2018

    2019

    2020

    Year

    Billi

    on R

    p.

    BAPPEDA 5% Growth Case

    3% Moderate Growth Case

    Gambar 3-10 Kurva Pertumbuhan PDRB dari Dua Proyeksi

    Produksi pertanian seperti diusulkan pada bagian sebelumnya untuk produk pangan/ non-pangan, ternak, hasil hutan dan perikanan secara keseluruhan akan meningkat lebih dari 1,5 kali menjelang tahun 2020 dari angka tersebut pada tahun 2005. Pencapaian ini setara dengan tingkat pertumbuhan PDRB sebesar 3% per tahun untuk sektor pertanian, produktivitas, dan pemanfaatan lahan tidur menjadi produktif. Proyeksi PDRB dapat di lihat pada Tabel 3-8.

    Tabel 3-8 Proyeksi PDRB Sektor Pertanian (Harga Tetap 1993) (Unit: Juta Rp.)

    Kab/Kota 2005 2010 2015 2020 Makassar 74.910 85.597 106.319 117.385 Gowa 273.519 312.541 388.203 428.607 Maros 197.267 225.410 279.978 309.118 Takalar 119.912 137.020 170.190 187.903

    Total 665.608 760.568 944.690 1.043.014 Sumber: Perkiraan berdasarkan data dari Makassar, Gowa, Takalar dan Maros dalam

    Angka, BPS, 2003

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-30

    4. PROGRAM AKSI DAN REKOMENDASI

    4.1 Program Aksi Jangka Pendek

    Berdasarkan strategi pembangunan seperti dibahas sebelumnya, program-program khusus disusun dan direkomendasikan untuk dilaksanakan.

    Program-program aksi jangka pendek yang diusulkan untuk pelaksanaan periode 2006-2010 mencakup program-program seperti terangkum pada Tabel 4-1.

    Tabel 4-1 Program-Program Aksi Jangka Pendek Pengembangan Pertanian

    No. Program Uraian Pelaksana Utama Pendukung

    (S1) Pelatihan Metode Penanganan Pasca Panen Komoditas

    Para produsen harus betul-betul sadar akan kualitas produk dan kecenderungan pasar. Untuk pengendalian mutu di tingkat produksi, program-progam pelatihan mengenai penanganan pasca-panen komoditas perlu disusun dan dilaksanakan untuk kepentingan produsen.

    Produsen (petani)

    Pemerintah

    (S2) Program Studi Kelompok Produsen

    Studi banding secara berkala perlu dilaksanakan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai industri pengolahan pertanian bagi produsen tanaman pilihan. Para peserta diharapkan memahami bagaimana hasil-hasil panen mereka diolah menjadi barang-barang komersial. Ini merupakan ujicoba dalam meningkatkan kesadaran produsen terhadap kualitas produk.

    Produsen (petani)

    Pemerintah/ Perusahaan Manufaktur

    (S3) Program Kerjasama Antar Instansi Pemerintah Daerah

    Untuk memperkuat hubungan antara aspek produksi dan pengolahan, kerjasama antar dinas pertanian, perkebunan, perikanan dan industri, atau program seperti Gerbang Emas harus dilaksanakan secara konsisten. Tujuan program tersebut adalah untuk meningkatkan prakarsa masing-masing dinas seperti yang dilakukan pelaksana program Gerbang Emas tersebut. Agar dapat terealisasi, disarankan agar personil kunci dari masing-masing dinas memimpin lembaga baru tersebut dengan kepemimpinan yang kuat agar tetap fokus terhadap kegiatan-kegiatan antar departemen dalam rangka memperkuat hubungan. Personil kunci lembaga baru tersebut diharapkan menghasilkan kinerja yang efisien dan logis.

    Pemerintah Pemerintah

    (S4) Perkuatan Kapasitas Riset & Pengembangan

    Kapasitas Riset dan Pengembangan varitas benih/semaian tanaman Pertanian dan Perkebunan perlu ditingkatkan untuk mempercepat jumlah dan kualitas produk.

    Pemerintah Institusi Akademik

    (S5) Penaksiran Stok Perikanan Laut

    Analisis stok ikan laut perlu dilakukan dalam rangka menetapkan pedoman dan peraturan yang jelas, kawasan konservasi laut dan musim tertutup atau larangan penangkapan ikan menurut jenisnya sesuai dengan petunjuk dari Komite Stok Perikanan Nasional. Analisis ini kiranya harus dilakukan secara ilmiah oleh sebuah institusi akademik bekerjasama dengan lembaga riset pemerintah sehingga hasil analisis tersebut mempunyai landasan ilmiah yang kuat.

    Pemerintah Institusi Akademik

    (S6) Perkuatan Sistem Pemasaran Perikanan

    Cold storage perlu dibangun di dekat tempat-tempat pelelangan ikan, tempatnya hampir bisa dipastikan di Makassar dan Takalar untuk mengurangi kerugian dan memberdayakan nelayan dalam membuka peluang pemasaran. cold storage baru tersebut diharapkan pula bisa menyerap produksi perikanan yang meningkat.

    Nelayan/ Pemerintah

    --

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-31

    4.2 Program Aksi Jangka Menengah dan Jangka Panjang

    Program-program aksi untuk jangka menengah dan jangka panjang yang diusulkan untuk tahun 2010-2015 atau setelahnya, mencakup program-program seperti pada Tabel 4-2 dan 4-3.

    Tabel 4-2 Program Aksi Jangka Menengah untuk Pengembangan Pertanian

    No. Program Uraian Pelaku Utama Pendukung

    (M1) Program Pengembangan Ternak Terpadu

    Lahan penggembalaan ternak yang dikombinasikan dengan budidaya tanaman dataran tinggi (budidaya tanaman campuran) perlu dikembangkan melalui sebuah pertukaran dengan Proyek Irigasi Pamukkulu. Pemerintah daerah harus melaksanakan kegiatan-kegiatan penyuluhan dalam hal pengembangbiakan ternak seperti sapi perah, kerbau, kambing dan ayam. Upaya ini harus dikombinasikan dengan memberikan perhatian terhadap penurunan tingkat kematian. Untuk pengembangan lahan pertanian konvensional (on-farm), produksi tanaman untuk makanan ternak seperti jagung, ubi kayu perlu diperkenalkan melalui sistem irigasi pompa/tetes/air bawah tanah untuk memenuhi kebutuhan makanan ternak. Terakhir, fasilitas-fasilitas terkait seperti rumah potong, rumah pemerahan susu, peternakan ayam dan lain-lain. Juga, pemanfaatan kulit dan jangat perlu direncanakan untuk jangka menengah dalam rangka peningkatan industri kulit.

    Produsen (petani) /

    Pemerintah

    Lembaga Riset

    Peternakan Universitas/

    Negara

    (M2) Program Perkuatan Hubungan Kerjasama

    Bersamaan dengan program (S2), hubungan kerjasama antara produsen dan pabrikan perlu diperkuat agar pabrikan dapat memperoleh pasokan tetap untuk bahan-bahan baku pertanian sepanjang tahun. Karakteristik unik pertanian dengan variasi produksi musiman perlu diatasi. Hal ini memerlukan studi lebih lanjut mengenai perputaran dan penanggalan panen tanaman pangan untuk memilih dan menentukan tanaman strategis yang akan dipilih. Program ini berfungsi untuk mendukung permulaan pengembangan klaster.

    Pabrikan / Produsen

    Pemerintah

    (M3) Pengembangan dan Promosi Industri Produk Sampingan (By-product)

    Industri produk sampingan perlu dikembangkan. Apabila produk sampingan betul-betul dimanfaatkan sebagai barang komersial, maka nilai ekonomi komoditas utamanya diharapkan menjadi lebih tinggi. Ini bisa meningkatkan harga produk yang akhirnya menjadi insentif bagi para produsen. Studi lebih lanjut mengenai teknik pemanfaatan, pengembangan jaringan pengumpulan, pasar-pasar potensial perlu dilakukan untuk komoditas strategis seperti coklat, kelapa, jambu mete, ikan, udang dan kayu/rotan. Pabrik minyak dari jagung, kedelai, kelapa, jambu mete, kacang tanah dan ikan merupakan salah satu komoditas potensial untuk dikembangkan.

    Pabrikan Pemerintah

    (M4) Pengembangan Teknologi Maju untuk Industri Pengolahan Pertanian

    Teknologi pengolahan yang lebih maju perlu dikembangkan untuk dua tujuan yakni: i) mensasar konsumen dalam negeri melalui produksi barang-barang konsumen akhir (produk-produk siap konsumsi seperti coklat, permen, aneka snack, ikan kaleng dan buah kaleng), dan ii) memproduksi lebih lanjut barang-barang setengah jadi yang saat ini diekspor dan diolah di negara-negara tujuan, daripada mengekspornya sebagai bahan baku. Hal ini memerlukan bantuan teknis dari sektor swasta baik perusahaan dalam negeri maupun asing.

    Pabrikan Pemerintah

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-32

    (M5) Pengembangan Dan Promosi Industri Kemasan/Pengepakan

    Industri kemasan/pengepakan perlu diperkuat agar bisa bersaing secara sehat dengan industri yang sama di luar pulau Sulawesi, terutama di tingkat pedagang pengecer. Khususnya teknologi pengepakan hampa udara untuk produk-produk beku, teknik desain kemasannya merupakan hal yang paling penting. Dengan demikian, diharapkan dapat merangang industri sekitar seperti industri bahan dan kimia yang juga memerlukan bantuan teknis dari sektor swasta, baik perusahaan dalam negeri maupun asing.

    Pabrikan Pemerintah

    (M6) Program Pengembangan Usaha Penetasan Ikan

    Usaha penetasan aneka jenis hasil laut perlu dikembangkan di sepanjang pesisir pantai Mamminasata, antara lain udang windu, ikan bandeng, ikan kerapu, ikan tuna, ikan terbang, kuda laut dan lain-lain. Pada saat yang sama, penggunaan keramba jaring ikan perlu dipromosikan kepada para nelayan darat dalam rangka memperkenalkan praktek budidaya yang tepat.

    Pemerintah Institusi Akademik

    (M7) Studi Pembangunan TPI di Wilayah Mamminasata

    Studi mengenai pembangunan TPI perlu dilaksanakan untuk menaksir skala optimal TPI di Makassar dan Takalar. Untuk prospek jangka panjang, promosi perikanan lepas pantai perlu dipertimbangkan dalam hal kapasitas TPI terhadap kebutuhan di masa yang akan datang.

    Pemerintah --

    Tabel 4-3 Program Aksi Jangka Panjang untuk Pengembangan Pertanian

    No. Program Uraian Pelaku Utama Pendukung

    (L1) Promosi Pelatihan Agribisnis

    Pelatihan agribisnis di seluruh wilayah propinsi, khususnya di Maros, Gowa, Takalar, perlu diperkenalkan kepada generasi muda yang merupakan pewaris lahan pertanian dalam rangka memperkuat daya tawar produsen terhadap para pedagang kota di masa yang akan datang.

    Produsen (petani)

    Pemerintah/ Institusi

    Akademik

    (L2) Program Formulasi Usaha Pertanian

    Melihat kenyataan bahwa para produsen sendiri hanya memiliki sedikit kapasitas dalam hal pengolahan dan pemasaran, maka direncanakan agar mereka bisa dibimbing dalam mengatur Asosiasi Produsen (AP) dengan pengolahan dan pemasaran dasar yang akan dilakasanakan melalui pembentukan Badan Usaha Pertanian. Pada tahap awal, saham para petani di BUP akan dibatasi tetapi bisa ditingkatkan secara bertahap melalui pendapatan mereka. Pusat Informasi dan Pemasaran (PIP) akan dibangun untuk memudahkan pemasaran produk-produk di tempat-tempat strategis di wilayah studi yang dilaksanakan oleh BUP. PIP tersebut akan berfungsi sebagai pusat pemasaran, pelayanan informasi (penyuluhan) dan pembiayaan. Dalam hal pemasaran, PIP akan melakukan riset dan membuka pasar-pasar distribusi grosir sampai ke tingkat pengecer di supermarket, hotel, pasar lokal dan untuk keperluan ekspor.

    Produsen (petani)

    Pemerintah/ Investor Swasta

    (L3) Pengembangan Perikanan Lepas Pantai

    Berkonsultasi dengan para tenaga ahli yang memiliki pemahaman dan pengalaman komprehensif mengenai perikanan lepas pantai, pemerintah daerah harus membentuk komite pengembangan perikanan lepas pantai yang terdiri atas mereka-mereka yang berasal dari institusi akademik. Perlu dilaksanakan studi mengenai berbagai aspek seperti hukum perairan internasional, teknik penangkapan di laut terbuka, teknik pelayaran dengan menggunakan peta laut, peta sumberdaya ikan di laut terbuka dan sebagainya. Juga yang berkaitan dengan program (M7), kapasitas pelabuhan juga perlu dipertimbangkan.

    Pemerintah Institusi Akademik

  • STUDI IMPLEMENTASI RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

    Studi Sektoral (4)PERTANIAN

    4-33

    4.3 Rekomendasi untuk Dilaksanakan

    Berdasarkan tinjauan terhadap rencana-rencana yang ada (misalnya, Rencana Tata Ruang Wilayah Metropolitan Mamminasata, Rencana Tata Ruang Wilayah Pulau Sulawesi, dan Rencana Tata Ruang Kota Makassar 2005-2015), direkomendasikan untuk menguraikan kebijakan dan strategi-strategi yang lebih kongkrit mengenai pengembangan pertanian dan perikanan dan yang berindikasi pada peningkatan-peningkatan pusat, prasarana, pengolahan dan pemasaran pangan. Di pihak lain, terdapat proyek-proyek dan rencana-rencana pengembangan yang sedang berlangsung yang akan dilaksanakan di Mamminasata yang akan berdampak pada pemanfaatan lahan dan air. Karena jumlah penduduk di daerah perkotaan Makassar bertambah, maka permukiman-permukiman, pusat-pusat perdagangan dan industri, dan jalan-jalan baru perlu dibangun. Pada prinsipnya, hal-hal berikut ini perlu dipertimbangkan untuk pengembangan ruang Mamminasata ke depan:

    (a) Pembongkaran saluran irigasi harus dihindari atau dikurangi dalam tata guna lahan di Mamminasata ke depan.

    (b) Nilai produksi yang berkurang karena pengurangan lahan pertanian (kemungkinan besar padi) harus dikompensasikan dengan peningkatan unit produksi pada lahan-lahan yang tersisa dengan menanam tanaman-tanaman bernilai tambah lebih tinggi (misalnya buah-buahan, sayuran, dan tanaman-tanaman pohon industri).

    (c) Pembangunan irigasi teknis pada lahan-lahan baru yang dapat diairi perlu dikaji ulang secara cermat, dengan membandingkan biaya investasi dan laba, dengan memperhatikan bahwa kebutuhan terhadap padi akan menurun.

    (d) Pemanfaatan lahan alternatif untuk penggembalaan ternak, penanaman tanaman pohon dan sebagainya perlu dikembangkan di daerah beririgasi tandus yang secara ekonomi tidak menguntungkan.

    (e) Berkaitan dengan pengembangan agro-industri, Pabrik Gula Takalar perlu mendapat perhatian khusus. Jika langkah-langkah penanganan yang tepat tidak diambil untuk perbaikan manajemen, maka PGT tidak akan mampu bertahan di masa yang akan datang.

    (f) Mendatangkan lebih banyak investasi swasta dalam usaha pengolahan dan pemasaran pertanian dan perikanan, dengan tetap memberikan perhatian khusus pada perlindungan lingkungan di Mamminasata.

  • Lampiran 1

    Luas Produksi Tanaman di Mamminasata Food Crops

    Area and Production Trend of Wetland Paddy1999 2000 2001 2002 2003

    Regency HarvestedArea (ha)Production

    (ton)HarvestedArea (ha)

    Production(ton)

    HarvestedArea (ha)

    Production(ton)

    HarvestedArea (ha)

    Production(ton)

    HarvestedArea (ha)

    Production(ton)

    Yield(ton/ha)

    Makassar 4,139 19,458 2,779 15,962 2,763 14,116 2,172 11,033 2,269 11,468 5.1Maros 39,534 217,973 41,191 226,960 41,377 226,127 41,123 223,325 38,458 212,676 5.5Gowa N/A N/A 45,323 204,681 45,728 206,912 44,724 229,993 48,445 230,209 4.8Takalar 22,620 120,449 23,117 120,449 22,760 119,992 20,466 115,975 20,547 116,198 5.7Total 66,293 357,880 112,410 568,051 112,628 567,147 108,485 580,326 109,719 570,551 5.2

    Area and Production Trend of Dryland PaddyMaros 231 626 205 103 370 196 134 536 132 516 3.9Gowa N/A N/A 630 1,266 540 1,780 517 2,001 615 2,293 3.7Takalar 2,284 8,398 740 3,515 893 4,019 943 2,275 827 2,481 3.0Total 2,515 9,024 1,575 4,884 1,803 5,995 1,594 4,811 1,574 5,290 3.4

    Area and Production Trend of Paddy (Dry and Wet)Makassar 4,370 20,084 2,984 16,065 3,133 14,313 2,306 11,568 2,401 11,984 5.0Maros 39,534 217,973 41,821 228,226 41,917 227,907 41,640 225,326 39,073 214,969 5.5Gowa N/A 8,398 46,063 208,196 46,621 210,931 45,667 232,268 49,272 232,690 4.7Takalar 25,135 129,473 24,692 125,333 24,563 125,987 22,060 120,787 22,121 121,488 5.5Total 69,039 375,929 115,560 577,819 116,234 579,137 111,673 589,948 112,867 581,131 5.1

    Area and Production Trend of MaizeMakassar 103 151 403 598 322 439 205 277 137 185 1.4Maros 4,384 11,972 6,992 17,581 3,765 6,485 2,537 9,417 3,537 11,163 3.2Gowa N/A N/A 32,485 94,540 26,699 93,767 26,478 115,597 25,706 122,905 4.8Takalar 6,188 29,313 5,877 29,079 6,457 32,214 4,850 24,905 5,438 27,325 5.0Total 10,675 41,436 45,757 141,798 37,243 132,905 34,070 150,196 34,818 161,578 4.6

    Area and Production Trend of CassavaMakassar 351 4,740 323 4,409 199 2,683 409 5,515 502 2,462 4.9Maros 2,562 75,703 2,882 42,157 5,168 75,278 3,038 44,161 3,712 51,968 14.0Gowa N/A N/A 12,684 103,087 10,377 193,882 10,071 197,893 9,551 195,722 20.5Takalar 971 12,097 951 11,983 1,387 24,818 864 20,985 1,162 21,167 18.2Total 3,884 92,541 16,840 161,635 17,131 296,661 14,382 268,554 14,927 271,319 18.2

    Area and Production Trend of CowpeaMakassar 24 87 29 105 37 147 37 108 11 44 4.0Gowa N/A 1,351 546 6,600 6,734 6,903Takalar 364 1,274 304 1,414 286 1,135 399 1,585 423 1,675 4.0Total 388 2,712 333 2,065 323 7,882 436 8,426 434 8,621

    Area and Production Trend of GroundnutsMakassar 8 10 4 5 4 5 1 1 4 5 1.3Maros 2,984 2,984 3,257 2,147 2,130 2,528 2,545 3,790 2,752 3,907 1.4Gowa N/A N/A 1,468 2,693 1,859 3,344 1,180 2,109 953 1,574 1.7Takalar 395 486 398 486 348 1,126 249 259 158 164 1.0Total 3,387 3,480 5,127 5,331 4,341 7,003 3,975 6,159 3,867 5,650 1.5

    Area and Production Trend of MungbeanMakassar 10 11 52 61 153 173 267 302 95 108 1.1Maros 1,523 381 576 660 1,833 3,059 1,425 2,280 886 1,063 1.2Gowa N/A N/A 4,655 3,353 7,852 5,653 6,266 4,059 5,511 3,605 0.7Takalar 3,870 2,631 3,981 2,830 3,755 2,677 4,266 2,986 4,688 3,279 0.7Total 5,403 3,024 9,264 6,905 13,593 11,561 12,224 9,628 11,180 8,055 0.7

    Area and Production Trend of SoybeanMakassar 6 10 8 13 14 22 9 12 7 11 1.6Maros 2,093 3,205 691 1,008 670 485 876 1,009 583 759 1.3Gowa N/A N/A 1,299 3,022 722 1,609 378 764 335 623 1.9Takalar 291 383 781 1,017 556 652 412 494 402 497 1.2Total 2,390 3,598 2,779 5,060 1,962 2,767 1,675 2,280 1,327 1,890 1.4

    Area and Production Trend of Sweet PotatoMakassar 30 202 35 235 21 142 42 283 20 142 7.1Maros 253 3,036 165 1,980 288 1,257 248 3,338 241 2,958 12.3Gowa N/A N/A 499 4,602 875 7,499 565 5,173 219 4,984 22.8Takalar 373 3,783 291 4,172 249 4,221 285 8,868 288 8,883 30.8Total 656 7,021 990 10,989 1,433 13,118 1,140 17,662 768 16,967 22.1

  • Estate CropsArea and Production Trend of Coffee

    1999 2000 2001 2002 2003

    Regency HarvestedArea (ha)Production

    (ton)HarvestedArea (ha)

    Production(ton)

    HarvestedArea (ha)

    Production(ton)

    HarvestedArea (ha)

    Production(ton)

    HarvestedArea (ha)

    Production(ton)

    Yield(ton/ha)

    Gowa 2,354 1,501 2,512 1,750 2,639 1,926 2,423 1,916 4,410 1,803 0.4Takalar 6 3 6 3 6 3 6 4 6 4 0.7Total 2,360 1,504 2,518 1,753 2,645 1,929 2,429 1,920 4,416 1,807 0.4

    Area and Production Trend of CacaoGowa 230 69 230 73 256 89 294 103 465 168 0.4Takalar 34 20 34 21 34 22 34 23 34 23 0.7Total 264 89 264 94 290 111 328 126 499 191 0.4

    Area and Production Trend of CandlenutsGowa 1,065 495 1,260 577 1,340 610 1,286 615 1,928 553 0.3Takalar 255 255 255 255 52 255 52 0.2Total 1,320 495 1,515 577 1,595 610 1,541 667 2,183 605 0.3

    Area and Production Trend of CashewnutsGowa 1,157 356 1,656 906 1,844 616 1,656 580 3,003 636 0.2Takalar 1,721 321 1,721 386 1,790 420 1,790 822 1,790 980 0.5Total 2,878 677 3,377 1,292 3,634 1,036 3,446 1,402 4,793 1,616 0.3

    Area and Production Trend of CloveGowa 271 67 271 76 271 79 275 91 418 93 0.2

    Area and Production Trend of CoconutsGowa 1,044 975 1,139 1,081 1,179 1,121 1,222 1,288 1,654 1,343 0.8Takalar 1,697 299 1,697 1,114 1,709 1,217 1,709 1,296 1,712 1,319 0.8Total 2,741 1,274 2,836 2,195 2,888 2,338 2,931 2,584 3,366 2,662 0.8

    Area and Production Trend of CottonGowa 52 16 78 16 47 33,475 262 307 400