of 23 /23
IV-1 BAB IV PEMODELAN DAN PENGHITUNGAN CADANGAN ENDAPAN BATUBARA Data dasar yang akan diinput ke dalam Software Minescape Versi 4.115c adalah data topografi, rekapitulasi data lubang bor, patahan, dan data hasil analisis proksimat batubara. Validasi data diberlakukan terhadap rekapitulasi data lubang bor dan data hasil analisis proksimat batubara. Validasi data dilakukan dengan Metoda Analisis Statistik Univarian. Rekapitulasi lubang bor dilihat pada lampiran. 4. 1 ANALISIS STATISTIK UNIVARIAN REKAPITULASI DATA LUBANG BOR Tujuan dilakukannya analisis statistik adalah untuk mengetahui parameter- parameter atau karakteristik populasi endapan dari sampel yang diambil, yaitu dari lubang bor. Analisis statistik yang dilakukan yaitu statistik univarian untuk ketebalan seam batubara. Pada daerah penelitian, berdasarkan tabel rekapitulasi data lubang bor, terdapat 10 seam batubara seperti terlihat pada Tabel IV.1.

Tabel IV.1. Daftar seam batubara Pit 4 KPP-TAJ. · PDF filedalam tabel Stratmodel akan menentukan hubungan antara unit-unit yang dimodel. Digunakan pilihan All dimana pilihan ini akan

  • Author
    buique

  • View
    213

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Tabel IV.1. Daftar seam batubara Pit 4 KPP-TAJ. · PDF filedalam tabel Stratmodel akan...

  • IV-1

    BAB IV

    PEMODELAN DAN PENGHITUNGAN CADANGAN

    ENDAPAN BATUBARA

    Data dasar yang akan diinput ke dalam Software Minescape Versi 4.115c

    adalah data topografi, rekapitulasi data lubang bor, patahan, dan data hasil analisis

    proksimat batubara. Validasi data diberlakukan terhadap rekapitulasi data lubang

    bor dan data hasil analisis proksimat batubara. Validasi data dilakukan dengan

    Metoda Analisis Statistik Univarian. Rekapitulasi lubang bor dilihat pada

    lampiran.

    4. 1 ANALISIS STATISTIK UNIVARIAN REKAPITULASI DATA

    LUBANG BOR

    Tujuan dilakukannya analisis statistik adalah untuk mengetahui parameter-

    parameter atau karakteristik populasi endapan dari sampel yang diambil, yaitu dari

    lubang bor. Analisis statistik yang dilakukan yaitu statistik univarian untuk

    ketebalan seam batubara.

    Pada daerah penelitian, berdasarkan tabel rekapitulasi data lubang bor,

    terdapat 10 seam batubara seperti terlihat pada Tabel IV.1.

  • IV-2

    Tabel IV.1. Daftar seam batubara Pit 4 KPP-TAJ.

    Seam group Seam split Description A A A seam

    B BU B Upper SeamBL B Lower SeamB B Seam

    C CU C Upper SeamCL C Lower SeamC C Seam

    D DU D Upper SeamDL D Lower SeamD D Seam

    Selanjutnya analisis statistic univarian dilakukan terhadap 6 seam saja,

    hal ini disebabkan pada daerah penelitian seam A cenderung menjari dan tidak

    terlalu tebal, sedangkan seam B keberadaannya tidak menerus akibat adanya

    washout. Sehingga yang dianggap ekonomis hanya 6 seam saja. Hasil analisis

    statistik univarian terhadap data ketebalan seam batubara daerah penelitian tertera

    pada Tabel IV.2.

  • IV-3

    Tabel IV.2. Analisis Statistik Univarian Data Ketebalan Seam Batubara

    Parameter Analisis Statistik

    seam N Maximum Minimum Range Int. Kelas Median Mean Modus STD

    CU 23 4.40 0.50 3.90 0.70 3.10 2.71 1.32

    CL 23 2.80 0.15 2.65 0.47 0.80 1.04 0.75 0.69

    C 9 4.50 1.69 2.81 0.67 3.60 3.40 0.81

    DU 1 0.60 0.60 0 0.60 0.60

    DL 1 3.10 3.10 0 3.10 3.10

    D 16 3.35 0.70 2.65 0.52 2.53 2.37 2.95 0.64

  • IV-4

    Gambar 4.1. Histogram ketebalan batubara seam Cupper

    Gambar 4.2. Histogram ketebalan batubara seam Clower

  • IV-5

    Gambar 4.3. Histogram ketebalan batubara seam C

    Gambar 4.4. Histogram ketebalan batubara seam D

  • IV-6

    Selanjutnya menurut persyaratan kuantitatif lapisan batubara dan lapisan

    pengotor BSN, 1999 (Tabel IV.3.), dapat ditentukan seam batubara yang potensial

    untuk dimodelkan untuk selanjutnya dihitung.

    Tabel IV.3. Persyaratan kuantitatif ketebalan lapisan batubara dan lapisan pengotor (BSN,1999).

    Ketebalan Jenis Batubara

    Brown coal Hard coal Minimum lapisan Batubara

    (m) 1,00 m 0,40 m

    Maksimum Lapisan pengotor

    (m) 0,30 m 0,30 m

    Brown Coal adalah dari rank Gambut/Peat sampai Sub-Bituminous. Hard

    Coal adalah rank Bituminous sampai Antrasit.

    Pada daerah penelitian, batubaranya digolongkan sebagai rank sub-

    bituminous sampai bituminous maka ketebalan minimum batubara yang potensial

    untuk dihitung sebagai cadangan adalah 0,4 m dan untuk pemodelannya sendiri

    dilakukan terhadap semua seam. Sehingga seam yang akan dimodelkan sebanyak

    6 (enam) buah, seperti terlihat pada Tabel IV.4.dan Gambar 4.5.

    Tabel IV.4. Daftar seam batubara pemodelan.

    Seam group Seam split Description

    C CU C Upper SeamCL C Lower SeamC C Seam

    D DU D Upper SeamDL D Lower Seam D D Seam

  • IV-7

    Gambar 4.5. Skema pembagian Seam C dan D

    4.2 ANALISIS STATISTIK UNIVARIAN DATA ANALISIS PROKSIMAT

    BATUBARA

    Validasi data analisis proksimat batubara dilakukan untuk menentukan

    rank batubara daerah penelitian; di mana berdasarkan klasifikasi rank batubara

    ASTM dan DIN akan dapat ditentukan rank batubara daerah penelitian.

    Rank batubara menyatakan tahapan yang telah dicapai oleh bahan

    organik dalam proses pembatubaraan. Rank batubara bukan suatu besaran yang

    dapat diukur, melainkan gabungan beberapa parameter analisis proksimat yang

    diukur. Hasil analisis univarian terhadap data analisis proksimat batubara terlihat

    pada Tabel IV.5.

    C

    Cupper

    D

    Clower

    Dupper

    Dupper

  • IV-8

    Tabel IV.5. Analisis Statistik Univarian Data Analisis Proksimat Batubara

    Parameter Analisis Proksimat

    Batubara

    Parameter Analisis Statistik Univarian

    Xmaks Xmin Mean STD

    Total Moisture (TM = %) 5.80 4.60 5.20 0.66Inherent Moisture (IM = %) adb 3.20 2.80 3.00 0.28

    Ash Content (Ash = %) adb 8.20 7.00 7.60 0.84

    Volatile Matter (VM = %) adb 47.80 43.10 45.45 2.35

    Fixed Carbon (FC = %) adb 43.30 37.40 40.35 3.17

    Total Sulphur (TS = %) adb 2.10 0.32 1.21 0.89

    Relative Density (RD = ton/m3) 1.35 1.27 1.31 0.04

    Caloric value (CV=Kcal/Kg) 7322 6357 6839 517.80

    Selanjutnya mengacu pada tabel Klasifikasi Rank Batubara ASTM dan

    DIN (terlihat pada Tabel IV.6) dan tabel hasil analisis statistik univarian terhadap

    data analisis proksimat di atas, dapat ditentukan rank batubara daerah penelitian.

  • IV-9

    Tabel IV.6.

    Klasifikasi Batubara ASTM & DIN (Stach et al, 1975)

  • IV-10

    4.3 SCHEMA

    Schema berfungsi untuk mendefenisikan stratigrafi dan parameter-

    parameter model yang akan digunakan sebagai dasar pembuatan model stratigrafi.

    Defenisi stratigrafi dan model parameter dalam schema dapat diubah-ubah atau

    dapat dibuat dalam berbagai macam rancangan schema yang berbeda-beda.

    Suatu schema terdiri dari 9 bagian / form defenisi yang berbeda, pada

    penelitian ini pendefinisian schema tidak mengisi semua form, yaitu form limit,

    fault, dan survey. Hal ini disebabkan tidak adanya data untuk form tersebut.

    Setiap bagian dari form tersebut akan mengatur suatu kumpulan dari parameter

    geologi dan model.

    4.3.1 Form Model

    a. Model Files

    Sebagian besar modeling dalam Stratmodel dilakukan dalam tabel

    Stratmodel. Pinchouts, surface yang dihasilkan dan interpolasi titik-titik data yang

    tidak diketahui ditentukan dalam tabel Stratmodel. Unit-unit stratigrafi yang

    didefenisikan untuk modeling disimpan dalam kolom-kolom tabel Stratmodel.

    Setiap unit yang dimodel membuat beberapa kolom berdasarkan pada pilihan

    model yang dipilih. Jika jumlah dari unit-unit model bertambah maka jumlah

    kolom-kolom tabel pun bertambah.

    Pilihan model yang dipilih untuk schema menentukan komponen-

    komponen unit (roof, floor, thickness dan interburden) yang akan disimpan

    sebagai kolom-kolom dalam tabel Stratmodel. Memodel parting dalam model

    stratigrafi akan menambah jumlah dari kolom-kolom yang didefenisikan dalam

    tabel Stratmodel. Menambahkan suatu trend surface juga akan menambah kolom-

    kolom dalam Stratmodel.

    Tabel Stratmodel akan memodel stratigrafi yang ditentukan dalam schema

    menggunakan data drill hole yang dimasukkan ke dalam tabel dari drill hole

  • IV-11

    object yang disimpan dalam suatu design file. Setiap drill hole yang dimasukkan

    ke dalam sebuah tabel Stratmodel dimasukkan dalam sebuah baris terpisah.

    Table file; nama output table file yang harus diisi. Nama berupa nama yang

    valid untuk sebuah tabel Minescape. Tabel ini disebut sebagai tabel

    Startmodel atau tabel stratigrafi.

    Grid file; nama output grid file yang harus diisi. Nama berupa nama yang

    valid untuk sebuah grid Minescape. Grid ini disebut sebagai grid Startmodel

    atau grid stratigrafi.

    b. Modelling control

    Form modeling control ini terdiri atas beberapa option yang berguna untuk

    mendefenisikan model yang akan dibuat.

    Topography; nama surface yang akan digunakan sebagai permukaan paling

    atas dalam model, yaitu topografi. Tidak akan ada surface atau interval yang

    akan dimodel di atas permukaan topo. Topo surface terlebih dahulu dibuat

    sebagai grid file maupun triangle file di dalam Minescape. Pada penelitian ini

    yang digunakan adalah model topografi dalam bentuk grid file, sebab software

    Minescape akan lebih mudah dalam memodel dan menghitung jumlah

    overburden dengan data topografi yang teratur. Model Option; bagian ini akan

    menentukan surface-surface dan thickness yang akan dimasukkan sebagai

    kolom-kolom dalam tabel Stratmodel. Kolom-kolom surface dan thickness

    dalam tabel Stratmodel akan menentukan hubungan antara unit-unit yang

    dimodel. Digunakan pilihan All dimana pilihan ini akan memodel semua

    interval dan surface yang mungkin untuk Stratmodel. Pilihan ini juga dapat

    memodel kolom-kolom interburden dengan menggunakan trend surfaces.

    Parting; parting yang dimaksud merupakan material waste yang didefenisikan

    di dalam sebuah interval (misalnya dirt bands / lapisan pengotor dalam seam

    batubara). Jika parting dipilih maka kode litologi yang berkaitan dengan

    interval resources dari parting dalam data drill hole harus dimasukkan.

    Parting disimpan sebagai suatu decimal fraction dari ketebalan total suatu

    interval. Jika parting tidak dipilih maka keseluruhan ketebalan interval yang

  • IV-12

    diambil dari data drill hole akan dimodel. Lokasi dari parting dengan cara

    decimal fraction tidak dapat ditentukan. Namun lokasi parting dapat juga

    ditentukan dengan jelas dengan cara mendefenisikan material pengotor

    sebagai suatu unit