of 30 /30
Taksonomi Bloom VS Taksonomi (SOLO, Fink, Marzano) dalam Pembelajaran Nur Fajriana Wahyu Ardiani ([email protected]) Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana 2013 A. Taksonomi Dalam wikipedia disebutkan bahwa taksonomi berasal dari bahasa Yunani tassein yang berarti untuk mengelompokkan dan nomos yang berarti aturan. Jadi bisa dikatakan taksonomi adalah kaidah/aturan dan prinsip yang berkaitan dengan pengklasifikasian suatu objek tertentu. Taksonomi digunakan dalam banyak bidang, seperti misalnya pada biologi (contoh: untuk mengklasifikasikan jenis-jenis hewan/tumbuhan), manajemen (contoh : untuk menentukan ruang lingkup, cabang-ranting ilmu manajemen, dan batasan ilmu manajemen), fisika (contoh : untuk mengklasifikasikan benda-benda konduktor/isolator), dan lain-lain. Tanpa kita sadari, sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari, kita banyak merasakan manfaat adanya taksonomi. Misalnya ketika kita berkunjung ke perpustakaan dan bermaksud mencari sebuah buku, kita akan mudah menemukan buku tersebut karena buku-buku yang ada di perpustakaan telah diberi nomor dan dikelompok-kelompokkan sesuai

Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

Taksonomi Bloom VS Taksonomi (SOLO, Fink, Marzano)

dalam Pembelajaran

Nur Fajriana Wahyu Ardiani ([email protected])

Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan

Universitas Kristen Satya Wacana

2013

A. Taksonomi

Dalam wikipedia disebutkan bahwa taksonomi berasal dari bahasa Yunani

tassein yang berarti untuk mengelompokkan dan nomos yang berarti aturan.

Jadi bisa dikatakan taksonomi adalah kaidah/aturan dan prinsip yang

berkaitan dengan pengklasifikasian suatu objek tertentu. Taksonomi

digunakan dalam banyak bidang, seperti misalnya pada biologi (contoh:

untuk mengklasifikasikan jenis-jenis hewan/tumbuhan), manajemen (contoh :

untuk menentukan ruang lingkup, cabang-ranting ilmu manajemen, dan

batasan ilmu manajemen), fisika (contoh : untuk mengklasifikasikan benda-

benda konduktor/isolator), dan lain-lain. Tanpa kita sadari, sebenarnya dalam

kehidupan sehari-hari, kita banyak merasakan manfaat adanya taksonomi.

Misalnya ketika kita berkunjung ke perpustakaan dan bermaksud mencari

sebuah buku, kita akan mudah menemukan buku tersebut karena buku-buku

yang ada di perpustakaan telah diberi nomor dan dikelompok-kelompokkan

sesuai dengan isi bukunya. Pemberian nomor dan pengelompokkan buku-

buku sesuai dengan bidangnya tentunya mempermudah pengunjung dalam

mencari buku yang dimaksud. Sebaliknya, seandainya buku-buku tidak

diberi nomor dan tidak dikelompokkan sesuai bidangnya, pasti mereka akan

kesulitan menemukan buku yang mereka maksud.

Begitu juga dalam bidang pendidikan (dalam konteks ini pembelajaran),

taksonomi memiliki andil besar dalam membantu guru untuk

mengklasifikasikan tujuan pembelajaran yang nantinya akan memperjelas

‘akan dibawa ke mana’ peserta didiknya dalam kegiatan pembelajaran. Ibarat

Page 2: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

manusia, manusia mempunyai tujuan-tujuan hidup, dan tujuan-tujuan hidup

ini akan membantu manusia untuk memfokuskan perhatian dan tindakannya.

Dalam pembelajaran, tujuan yang dimaksud mengindikasikan apa yang akan

dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran. Dengan

memahami pengklasifikasian, akan memudahkan guru dalam

mengelompokkan tujuan-tujuan pembelajaran sesuai dengan jenis ataupun

tingkatannya sehingga akan memperjelas tindakan (dalam hal ini kegiatan

pembelajaran) yang akan dilakukan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai

serta penilaian yang akan digunakan dalam pembelajaran. Banyak taksonomi

telah dikembangkan para ahli, di antaranya taksonomi Bloom, taksonomi

SOLO, taksonomi Fink, taksonomi Marzano,dan lainnya. Keempat taksonomi

tersebut (yang akan dibahas pada artikel ini) mempunyai karakter atau ciri

khas masing-masing, meskipun banyak juga kesamaan di antara satu sama

lain.

B. Taksonomi Bloom

Dalam Utari (2011: 2) sejarah taksonomi bloom bermula ketika awal tahun

1950-an, dalam Konferensi Asosiasi Psikolog Amerika, Bloom dan kawan-

kawan mengemukakan bahwa dari evaluasi hasil belajar yang banyak disusun

di sekolah, ternyata persentase terbanyak butir soal yang diajukan hanya

meminta siswa untuk mengutarakan hapalan mereka. Konferensi tersebut

merupakan lanjutan dari konferensi yang dilakukan pada tahun 1948.

Menurut Bloom, hapalan sebenarnya merupakan tingkat terendah dalam

kemampuan berpikir (thinking behaviors). Masih banyak level lain yang lebih

tinggi yang harus dicapai agar proses pembelajaran dapat menghasilkan siswa

yang kompeten di bidangnya. Akhirnya pada tahun 1956, Bloom, Englehart,

Furst, Hill dan Krathwohl berhasil mengenalkan kerangka konsep

kemampuan berpikir yang dinamakan Taxonomy Bloom. Jadi, Taksonomi

Bloom adalah struktur hierarkhi yang mengidentifikasikan keterampilan

mulai dari tingkat yang rendah hingga yang tinggi. Tentunya untuk mencapai

tujuan yang lebih tinggi, level yang rendah harus dipenuhi lebih dulu. Dalam

Page 3: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

kerangka konsep ini, tujuan pendidikan ini oleh Bloom dibagi menjadi tiga

domain/ranah kemampuan intelektual (intellectual behaviors) yaitu kognitif,

afektif dan psikomotorik.

Ranah Kognitif berisi perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti

pengetahuan, dan keterampilan berpikir. Ranah afektif mencakup perilaku

terkait dengan emosi, misalnya perasaan, nilai, minat, motivasi, dan sikap.

Sedangkan ranah Psikomotorik berisi perilaku yang menekankan fungsi

manipulatif dan keterampilan motorik / kemampuan fisik.

Ranah kognitif mengurutkan keahlian keahlian berpikir sesuai dengan tujuan

yang diharapkan. Proses berpikir menggambarkan tahap berpikir yang harus

dikuasai siswa agar mampu mengaplikasikan teori ke dalam perbuatan. Ranah

kognitif ini terdiri atas enam tingkatan, yaitu (1) knowledge, (2)

comprehension, (3) application, (4) analysis, (5) synthesis, (6) Evaluation.

Page 4: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

Sumber : http://www.bppk.depkeu.go.id/webpkn/attachments/766_1-Taksonomi

%20Bloom%20-%20Retno-ok-mima.pdf

Ranah afektif mencakup segala sesuatu yang terkait dengan emosi, misalnya

perasaan, nilai, penghargaan, semangat-minat, motivasi, dan sikap.

Page 5: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

Sumber : http://www.bppk.depkeu.go.id/webpkn/attachments/766_1-Taksonomi

%20Bloom%20-%20Retno-ok-mima.pdf

Ranah psikomotorik meliputi gerakan dan koordinasi jasmani, keterampilan

motorik dan kemampuan fisik.

Page 6: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink
Page 7: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

Sumber : http://www.bppk.depkeu.go.id/webpkn/attachments/766_1-Taksonomi

%20Bloom%20-%20Retno-ok-mima.pdf

Namun ternyata seiring berjalannya waktu, taksonomi Bloom asli ini

mendapat kritikan dari beberapa ahli dan praktisi pendidikan, sehingga

perbaikan akan taksonomi Bloom ini perlu dilakukan. Beberapa alasan

perlunya revisi taksonomi Bloom antara lain :

1. Terdapat kebutuhan untuk mengarahkan kembali fokus para pendidik

pada handbook, bukan sekedar sebagai dokumen sejarah, melainkan juga

sebagai karya yang dalam banyak hal telah “mendahului” zamannya

(Rohwer dan Sloane, 1994). Hal tersebut mempunyai arti banyak gagasan

dalam handbook Taksonomi Bloom yang dibutuhkan oleh pendidik masa

kini karena pendidikan masih terkait dengan masalah-masalah desain

pendidikan, penerapan program yang tepat, kurikulum standar, dan

asesmen autentik.

2. Adanya kebutuhan untuk memadukan pengetahuan-pengetahuan dan

pemikiran-pemikiran baru dalam sebuah kerangka kategorisasi tujuan

pendidikan. Masyarakat dunia telah banyak berubah sejak tahun 1956,

dan perubahan-perubahan ini mempengaruhi cara berpikir dan praktik

pendidikan. (Anderson, 2010: viii)

Sedangkan Gunawan dan Aggraini, menjelaskan perlunya revisi

taksonomi Bloom asli adalah karena :

Page 8: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

1. Taksonomi merupakan sebuah kerangka berpikir khusus yang menjadi

dasar untuk mengklasifikasikan tujuan-tujuan pendidikan. Sebuah

rumusan tujuan pendidikan seharusnya berisikan satu kata kerja dan

satu kata benda. Kata kerjanya umumnya mendeskripsikan proses

kognitif yang diharapkan dan kata bendanya mendeskripsikan

pengetahuan yang diharapkan dikuasai oleh siswa. Taksonomi Bloom

hanya mempunyai satu dimensi yaitu hanya kata benda. Menurut

Tyler (1994) rumusan tujuan yang paling bermanfaat adalah rumusan

yang menunjukkan jenis perilaku yang akan diajarkan kepada siswa

dan isi pembelajaran yang membuat siswa menunjukkan perilaku itu.

Berdasarkan hal tersebut rumusan tujuan pendidikan harus memuat

dua dimensi yaitu dimensi pertama untuk menunjukkan jenis perilaku

siswa dengan menggunakan kata kerja dan dimensi kedua untuk

menunjukkan isi pembelajaran dengan menggunakan kata benda.

2. Proporsi yang tidak sebanding dalam penggunaan taksonomi

pendidikan untuk perencanaan kurikulum dan pembelajaran dengan

penggunaan taksonomi pendidikan untuk asesmen. Pada taksonomi

Bloom lebih memfokuskan penggunakan taksonomi pada asesmen.

3. Pada kerangka pikir taksonomi karya Benjamin Bloom lebih

menekankan enam kategorinya (pengetahuan, pemahaman, penerapan,

analisis, sintesis, dan evaluasi) daripada sub-subkategorinya.

Taksonomi Bloom menjabarkan enam kategori tersebut secara

mendetail, namun kurang menjabarkan pada subkategorinya sehingga

sebagian orang akan lupa dengan sub-subkategori taksonomi Bloom.

4. Ketidakseimbangan proporsi subkategori dari taksonomi Bloom.

Kategori pengetahuan dan komprehensi memiliki banyak subkategori

namun empat kategori lainnya hanya memiliki sedikit subkategori.

5. Taksonomi Bloom versi aslinya lebih ditujukan untuk dosen-dosen,

padahal dalam dunia pendidikan tidak hanya dosen yang berperan

untuk merencanakan kurikulum, pembelajaran, dan penilaian. Oleh

Page 9: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

sebab itu dibutuhkan sebuah revisi taksonomi yang dapat lebih luas

menjangkau seluruh pelaku dalam dunia pendidikan.

Karena alasan-alasan itulah taksonomi Bloom perlu direvisi. Pada tahun

1994, salah seorang murid Bloom, Lorin Anderson Krathwohl dan para ahli

psikologi aliran kognitivisme memperbaiki taksonomi Bloom. Hasil

perbaikan tersebut baru dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi

Taksonomi Bloom.

Gambar 1. Perbedaan tingkatan kognitif taksonomi asli dengan taksonomi yang direvisi.

Sumber : http://imamahmadi.wordpress.com/2010/04/23/ taksonomi-bloom-yang-baru/

Taksonomi Bloom semula yang terdiri atas dimensi tunggal, pada revisi

taksonomi menggambarkan dua perspektif dalam pembelajaran dan kognisi.

Page 10: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

Dimensi Proses Kognitif

Page 11: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink
Page 12: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

Sumber : http://www.intel.co.id/content/dam/www/program/education/apac/id/id/

documents/project-design/skills/bloom.pdf

Dimensi Pengetahuan

Page 13: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

Sumber : http://www.intel.co.id/content/dam/www/program/education/apac/id/id/

documents/project-design/skills/bloom.pdf

Dengan mempunyai dua dimensi untuk membimbing dalam proses

menyatakan tujuan dan perencanaan serta mengarahkan kegiatan

Page 14: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

pembelajaran menjadi lebih tajam, lebih jelas dalam mendefinisikan asesmen

dan hubungan yang lebih kuat pada asesmen terhadap tujuan dan instruksi.

Bila digambarkan dalam bentuk tabel, revisi taksonomi Bloom tampak seperti

berikut :

Mengingat Memahami Menerapkan Menganalisis Mengevaluasi MenciptaPengetahuan

FaktualPengetahuan Konseptual

Pengetahuan Prosedural

Pengetahuan Metakognitif

Namun demikian, menurut saya revisi taksonomi Bloom belum menjawab

seluruh permasalahan pada taksonomi asli. Salah satunya adalah masih

memberi porsi perhatian yang lebih besar pada ranah kognitif, dibandingkan

ranah psikomotorik dan afektif.

C. Taksonomi SOLO

Biggs & Collis (1982) mendesain taksonomi SOLO (Structure of Observed

Learning Outcomes) sebagai suatu alat evaluasi tentang kualitas respons

siswa terhadap suatu tugas. Taksonomi tersebut terdiri dari lima level, yaitu

prastruktural, unistruktural, multistruktural, relasional, dan extended abstract.

Biggs & Collis (1982) mendeskripsikan setiap level tersebut sebagai berikut.

prastruktural Siswa tidak mengerjakan tugas dengan tepat ; siswa belum benar-benar memahami inti tugas yang diberikan ; siswa menggunakan cara yang terlalu sederhana untuk menghadapi tugas tsb

unistruktural Siswa dapat menggunakan satu penggal informasi dalam merespons suatu tugas (membentuk suatu data tunggal)

multistruktural Siswa dapat menggunakan beberapa penggal informasi tetapi tidak dapat menghubungkannya secara bersama-sama

relasional Siswa dapat memadukan penggalan-penggalan informasi yang terpisah untuk menghasilkan penyelesaian dari suatu tugas

Extended abstract Siswa dapat menghasilkan prinsip umum dari

Page 15: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

data terpadu yang dapat diterapkan untuk situasi baru (mempelajari konsep tingkat tinggi)

Menurut Biggs (1999) respons siswa pada level extended abstract dan

relasional adalah fase kualitatif. Dalam hal ini, siswa merespons suatu

masalah dengan cara mengintegrasikan informasi-informasi yang diberikan

dengan menggunakan pola (pattern) struktural. Sedangkan untuk level-level

di bawahnya merupakan fase kuantitatif. Siswa dalam hal ini melakukan

respons terhadap tugas dengan menggunakan satu atau lebih atau bahkan

tidak sama sekali dari informasi-informasi yang diberikan.

(http://bdksurabaya.kemenag.go.id/file/dokumen/SOLO.pdf)

Bila digambarkan dalam bentuk bagan tingkatan-tingkatan pada taksonomi

SOLO adalah sebagai berikut :

Extended abstract

Relasional

Multi struktural

Uni struktural

Pra struktural

D. Taksonomi Fink

Dr.L. Dee Fink (2003), menghadirkan sebuah taksonomi yang tidak hierarki

atau tidak berjenjang sesuai tingkatan. Taksonomi ini menekankan pada

metakognisi dan juga mengandung lebih banyak aspek afektif.

(www.ucd.ie/teaching). Taksonomi ini kemudian dikenal dengan taksonomi

Fink.

Fink mengembangkan taksonomi ini karena Fink menemukan bahwa ada

sebuah elemen yang hilang pada taksonomi Bloom, karena banyak orang

Page 16: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

lebih fokus pada ranah kognitif. Padahal menurutnya, jenis pembelajaran lain

juga penting termasuk “belajar bagaimana belajar, keterampilan

kepemimpinan, interpersonal, etika, komunikasi, karakter, toleransi,

kemampuan beradaptasi, kemampuan untuk berubah”. Fink mendefinisikan

belajar sebagai suatu bentuk perubahan yang signifikan pada siswa.

(http://www.vaniercollege.qc.ca/pdo/2013/02/teaching-tip-the-fink-think/). Bila

digambarkan adalah sebagai berikut :

Gambar : Taksonomi Fink

Sumber : http://www.vaniercollege.qc.ca/pdo/2013/02/teaching-tip-the-fink-think/

Adapun dimensi pembelajaran yang signifikan menurut Fink adalah sebagai

berikut : (www.ucd.ie/teaching)

DeskripsiFundamental Knowledge

Memahami dan mengingat

Application Pemikiran yang kritis, kreatif, dan praktis ; pemecahan masalah

Integration Membuat hubungan antara ide, mata pelajaran, orang

Human Dimensions Belajar tentang diri dan mengubah diri ; memahami dan berinteraksi dengan orang lain

Caring Mengenali/mengubah perasaan, minat, nilai seseorang

Belajar untuk belajar Belajar bagaimana bertanya dan menjawab pertanyaan, menjadi pebelajar yang bisa mengarahkan diri sendiri

E. Taksonomi Marzano

Page 17: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

Taksonomi Marzano dikembangkan pertama kali tahun 2000 oleh Robert

Marzano. Taksonomi yang dikembangkan Marzano dibuat dari tiga sistem

dan domain pengetahuan. Ketiga sistem tersebut adalah Sistem Diri (Self-

system), Sistem Metakognitif dan Sistem Kognitif. Pada saat berhadapan

dengan pilihan untuk memulai tugas baru, Sistem Diri memutuskan apakah

melanjutkan kebiasaan yang dijalankan saat ini atau masuk dalam aktivitas

baru; Sistem Metakognitif mengatur berbagai tujuan dan menjaga tingkat

pencapaian tujuan-tujuan tersebut; Sistem Kognitif memproses seluruh

informasi yang dibutuhkan, dan domain pengetahuan menyediakan isinya.

Marzano berpendapat bahwa pengetahuan adalah bahan bakar yang memberi

tenaga pada proses berpikir. Pengetahuan adalah sebuah faktor penting dalam

berpikir. Tanpa adanya kecukupan informasi tentang mata pelajaran, sistem-

sistem yang lain hanya bekerja sedikit sekali dan tidak akan dapat merekayasa

proses belajar dengan sukses. Menurut Marzano pengetahuan dapat

digolongkan ke dalam tiga bagian yaitu: informasi, prosedur mental, dan

prosedur fisik.

Informasi terdiri dari pengorganisasian beragam gagasan, seperti prinsip-

prinsip, penyederhanaan, dan rincian, seperti kamus istilah dan fakta-fakta.

Berbagai prinsip dan penyederhanaan tersebut penting karena hal-hal tersebut

memungkinkan kita untuk dapat menyimpan lebih banyak informasi dengan

usaha yang lebih sedikit dengan menempatkan beragam konsep ke dalam

bebagai kategori. Prosedur Mental adalah berbagai prosedur mental yang

mencakup mulai dari beragam proses yang rumit sampai kepada tugas-tugas

yang lebih sederhana seperti taktik: membaca peta dan lainnya, algoritma :

perhitungan yang panjang dan lainnya; serta aturan-aturan tunggal: aturan

permodalan dan lainnya. Prosedur fisik adalah kemampuan fisik yang

dibutuhkan seperti membaca buku, gerakan mata, dan lainnya.

Proses mental pada Sistem Kognitif dilaksanakan dari domain pengetahuan,

proses ini memberi banyak orang akses informasi dan prosedur dalam ingatan

Page 18: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

mereka dan membantunya memanipulasi dan menggunakan pengetahuan ini.

Sistem kognitif ini terdiri dari empat komponen yaitu : penarikan

pengetahuan, pemahaman, analisis dan penggunaan pengetahuan. Setiap

proses terbentuk dari seluruh proses sebelumnya. Sistem Metakognitif adalah

”pengendalian misi” dari proses berpikir dan mengatur semua sistem lainnya.

Sistem ini menentukan berbagai tujuan dan membuat berbagai keputusan

tentang informasi apa yang dibutuhkan dan proses kognitif apa yang sangat

sesuai dengan tujuan. Kemudian memantau berbagai proses dan membuat

perubahan sebagaimana dibutuhkan. Sistem Diri Sendiri meliputi berbagai

sikap, keyakinan dan perasaan yang menentukan motivasi seseorang untuk

menyelesaikan tugas. Berbagai faktor yang berkontribusi untuk motivasi

ialah: kepentingan, keefektifan dan emosi. Kepentingan adalah tanggapan

seseorang dalam menentukan seberapa penting tugas tersebut untuk dirinya:

apakah yang ingin dia pelajari, apakah yakin bahwa ia membutuhkannya.

Keefektifan mengacu kepada keyakinan banyak orang mengenai kemampuan

mereka menyelesaikan sebuah tugas dengan sukses. Seseorang yang memiliki

keyakinan tinggi akan kemampuan yang dimilikinya dari berbagai sumber

untuk sukses, akan dapat mengerjakan tugas dan mengatasi berbagai

tantangan yang dihadapinya. Emosi memiliki dampak besar terhadap

motivasi, seseorang yang efektif menggunakan kecakapan metakognitifnya

untuk membantu berdamai dengan berbagai tanggapan emosional dan

mengambil keuntungan dari berbagai tanggapan positif.

(Sumber : http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/46857/2011

yum_Tinjauan%20Pustaka%20(BAB%20%20II).pdf?sequence=7)

Page 19: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

Marzano merasa perlu mengembangkan taksonomi ini untuk menjawab

kekurangan pada taksonomi Bloom. Pada taksonomi Bloom menggunakan 3

ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sementara menurut

Gagne (1985) hasil belajar terdiri dari lima golongan kompetensi yaitu : (1)

informasi verbal (2)keterampilan intelektual (3) strategi kogitif (4)

keterampilan motorik (5)sikap. Jika dikaitkan dengan hasil belajar yang

dikemukakan oleh Gagne, maka taksonomi Bloom belum bisa memenuhi

kelima golongan kompetensi tersebut, yaitu pada aspek sikap. Sehingga

taksonomi Marzano hadir untuk menjawab keterbatasan taksonomi Bloom.

Pada taksonomi Marzano terdiri atas tiga sistem : Sistem Diri, Sistem

Metakognitif, Sistem Kognitif. (Sumber : http://repository.ipb.ac.id/bitstream/

handle/123456789/46857/2011yum_Tinjauan%20Pustaka%20(BAB

%20%20II).pdf?sequence=7)

Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa Sistem Diri Sendiri meliputi

berbagai sikap, keyakinan dan perasaan yang menentukan motivasi seseorang

untuk menyelesaikan tugas. Sistem Metakognitif mengatur berbagai tujuan

Page 20: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

dan menjaga tingkat pencapaian tujuan-tujuan tersebut; Sistem Kognitif

memproses seluruh informasi yang dibutuhkan, dan domain pengetahuan

menyediakan isinya.

F. Taksonomi Taksonomi Bloom VS Taksonomi (SOLO,Fink,Marzano)

1. Taksonomi Bloom dengan Taksonomi SOLO

2. Taksonomi Bloom dengan Taksonomi Fink

Page 21: Taksonomi Bloom, SOLO, Marzano, Fink

3. Taksonomi Bloom dengan Taksonomi Marzano

G. Daftar Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Taksonomi

Teaching and Educational Development Institute. Biggs’ structure of the observed

learning outcome (SOLO) taxonomy. The University of Queensland

Tohari. Mengukur Kualitas Pembelajaran Matematika dengan Gabungan Taksonomi

Bloom dan SOLO. http://bdksurabaya.kemenag.go.id/file/dokumen/SOLO.pdf

Utari, Retno.Taksonomi Bloom Apa dan Bagaimana Menggunakannya?

http://www.bppk.depkeu.go.id/webpkn/attachments/766_1Taksonomi

%20Bloom%20-%20Retno-ok-mima.pdf

www.ucd.ie/teaching

Gunawan, dan Anggraini. Taksonomi Bloom- Revisi Ranah Kognitif : Kerangka

Landasan untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Penilaian.

http:// ebookbrowse.com/ra/ranah-taksonomi-bloom

http://www.intel.co.id/content/dam/www/program/education/apac/id/id/

documents/project-design/skills/bloom.pdf